Mikakunin de Shinkoukei

Mikakunin de Shinkoukei (‘tersamar dan belum pasti’), atau yang juga dikenal dengan judul Engaged to the Unidentified (‘dijodohkan pada yang tak dikenal’, dengan ‘tak dikenal’ di sini dalam artian ‘tak dikenal’ kayak di ‘benda terbang tak dikenal’ alias UFO, atau ‘makhluk misterius tak dikenal’ kayak di UMA), termasuk salah satu anime yang kuikuti perkembangannya pada musim dingin tahun 2013-2014 lalu.

Pada dasarnya, ini seri yang sejenis dengan drama ‘keseharian’ yang studio Dogakobo sering buat, seperti Yuru Yuri dan GJ-bu. Tapi untuk suatu alasan, seri satu ini menjadi sedikit lebih populer dari perkiraan. Mungkin berkat karakterisasinya? Lalu buatku pribadi, ini sesuatu yang begitu beres kau tonton hingga akhir, yang terlintas di pikiran adalah “Kok ini jadi bagus ya?”

Singkat kata, ini seri yang daya tarik awalnya semula agak enggak jelas. Namun berkat kemanisannya, akhirnya ini jadi salah satu yang lumayan kuperhatikan hingga akhir.

Bener. Pasti karena kemanisannya. Enggak mungkin karena alasan lain.

Seri ini diangkat dari seri manga 4 kotak berjudul sama karya Cherry Arai, yang diserialisasikan di majalah Manga 4-Koma Palette terbitan Ichijinsha. Majalah ini bergenre seinen, dan dari desain karakternya pun kau bisa agak menebak kalau seri ini lebih ditargetkan buat cowok.

Tapi kalo kau seorang cewek dan kau mencoba melihat ini, meski rada-rada aneh dari awal, begitu berakhir kau pun mungkin bakal terkesan.

Jumlah episodenya 12 dan sutradara yang menanganinya adalah Fujiwara Yoshiyuki.

Chiffon Cake dan Custard

Agak berlatar di musim dingin, Mikakunin pada dasarnya bercerita tentang keseharian baru gadis remaja normal Yonomori Kobeni sesudah mengetahui kalau dirinya ternyata telah dijodohkan semenjak kecil.

Kobeni adalah gadis manis yang sangat terampil dalam pekerjaan rumah tangga. Namun dirinya sering merasa rendah diri bila dibandingkan dengan ibunya, Akane, yang orangtua tunggal dan super sibuk; serta kakak perempuannya, Benio, yang cantik, terkenal, berprestasi, dan sekaligus menjabat sebagai ketua dewan siswa.

Perjodohan ini, singkatnya, diatur oleh kakeknya, yang merupakan sesosok figur dalam keluarga mereka yang kelihatannya teramat berkuasa dan kemauannya takkan pernah bisa dilawan. Dengan maksud untuk memperdekat hubungan, si tunangan ceritanya akan mulai tinggal bersama keluarga Yonomori; dan hal ini begitu tiba-tiba dan mendadak hingga mengejutkan mereka semua.

Tunangan Kobeni ternyata adalah seorang cowok tinggi, berwajah enggak jelek, tapi teramat pendiam dan sangat tidak ekspresif bernama Mitsumine Hakuya.

Pada suatu hari di awal musim dingin itu, Hakuya datang dengan ditemani oleh adik perempuannya, Mashiro. Meski Mashiro kelihatannya masih belum genap sepuluh tahun, dari pembawannya, kelihatannya ia bisa lebih diandalkan ketimbang kakaknya, dan dirinya pun akan ikut tinggal bersama mereka.

Meski Kobeni sendiri tak lagi ingat, berdasarkan penuturan kakak serta ibunya, rupanya dirinya pernah bertemu dengan Hakuya sewaktu kecil. Hakuya-lah yang dulu menyelamatkannya pada sebuah kecelakaan yang pernah dialaminya di masa silam.

Sebagaimana yang kemudian dijelaskan oleh Mashiro, Hakuya juga semenjak awal selalu meyakini kalau dirinya akan menikah dengan Kobeni. Sehingga kenyataan kalau Kobeni tak ingat—walau ibunya dan kakaknya jelas-jelas ingat—dan ditambah lagi kalau ini adalah ketetapan kakeknya, membuat Kobeni berpikir, walau ia sendiri masih belum yakin tentang hal ini, mungkin ada baiknya dijalani saja dulu.

Bahkan Benio, kakak Kobeni yang biasanya memanjakannya dan super overprotektif sampai ke taraf akan memanfaatkan kekuasaannya untuk memastikan tak ada siswa cowok yang berani mendekati adiknya, mengakui kalau dirinya pun takkan bisa mengalahkan Hakuya dalam hal ini. (…Walau alasan sebenarnya ia bersedia mengalah mungkin adalah prospek bisa mendapatkan Mashiro sebagai adik ipar. Dirinya punya semacam imouto fetish yang kelihatannya sudah terbiasa Kobeni hadapi, tapi belakangan terbukti membuat Mashiro ngeri.)

Maka, uh, dimulailah kehidupan baru Kobeni bersama Hakuya dan Mashiro. Tapi seiring berjalannya waktu, ada sejumlah hal enggak biasa yang Kobeni dapati terkait tunangan dan calon adik iparnya tersebut…

…Ano, Eto, Doushio…

Ada beberapa cara menangani adaptasi manga 4-kotak, dan Mikakunin termasuk jenis yang mencoba membuat ceritanya ‘mengalir.’

Genre utamanya komedi sih. Tapi tetap ada suatu plot terkait perasaan Kobeni dan perkembangan hubungannya dengan Hakuya yang terus maju, sekalipun sebagian besar waktunya diisi dengan berbagai lelucon yang terutama terkait dengan kepolosan Mashiro dan usaha kerasnya untuk bersikap dewasa, serta perilaku-aneh-tapi-teramat-sedikit-diketahui-orang Benio.

Di samping keluarga Benio sendiri, satu-satunya yang mengetahui soal perilaku anehnya hanyalah sahabat(?) dekatnya, Kashima Nadeshiko, sang wakil ketua dewan siswa, yang takkan segan-segan melakukan berbagai tindakan tegas untuk membuat Benio ‘normal’ kembali.

Sehari-hari di sekolah, Benio bahkan seakan dipuja-puja oleh hampir semua siswa yang lain. Ini suatu kenyataan yang begitu sulit untuk bisa Mashiro terima, sampai-sampai yang bersangkutan yakin kalau ada sesuatu yang abnormal tentang Benio. Atau sekurangnya yang bersangkutan menggunakan hipnotis untuk mempengaruhi pandangan orang terhadapnya.

…Tapi, yah, sebagaimana yang kusebutkan di atas, ada sejumlah hal enggak biasa juga tentang diri Hakuya dan Mashiro sendiri. Seperti bagaimana Mashiro ikut bersekolah bersama Kobeni dan Hakuya misalnya, dan enggak ada seorangpun di sana yang menganggapnya aneh. (Benio sendiri sih tak mempermasalahkannya. Bahkan hal tersebut dengan senang hati ia terima.) Lalu kenyataan kalau Hakuya dan Mashiro berasal dari pegunungan.

…Pegunungan yang dimaksud di sini benar-benar adalah pegunungan.

Keluarga mereka nampaknya sangat berkuasa. Tapi tempat asal mereka seakan terkucil dari peradaban. Mereka kelihatannya belum terbiasa dengan berbagai prasarana kehidupan moderen. Lalu Mashiro yang seumur hidupnya sebelumnya hanya pernah memakan masakan Jepang menjadi begitu tertarik untuk mencoba kue-kue dan makanan barat.

Sedikit demi sedikit, kebenaran tentang jati diri Hakuya dan Mashiro mulai terkuak. Terutama sesudah kunjungan dari ibu mereka, Mitsumine Shirayuki, yang luar biasa awet muda.

Lalu situasi di antara mereka juga terus berkembang: dari rahasia pertunangan yang semula hanya diketahui oleh sahabat Kobeni, Momouchi Mayura yang sopan dan pandai; sampai ke kejutan yang dibawa oleh Suetsugi Konoha, sekretaris dewan siswa yang juga memuja Benio, dan karenanya heran dengan sejumlah keanehan yang Kobeni dan Mashiro sembunyikan. Segalanya jadi agak gawat dengan kemungkinan semua itu bakal terungkap oleh Ouno Niko, sahabat dekat Konoha yang begitu semangat untuk bisa dapat berita bagus untuk klub korannya.

Sampai saat semuanya berakhir, aku serius mesti mengakui penulisan naskah yang dibuat oleh Shimo Fumihiko termasuk berhasil.

Kayak, ini bukan hasil yang biasa kuharapkan dari seri macam begini.

“Are wa Tada no Hentai desu.”

Membahas soal teknis, ini termasuk seri yang lumayan ‘berwarna’, dengan nuansa-nuansa cerah yang cukup nyaman dipandang. (…Aku tahu kalo hal tersebut seakan sudah menjadi ciri khas Dogakobo, tapi aku tetap merasa perlu menyebutkannya.) Walau sekilas kelihatan biasa, desain karakternya termasuk yang enak untuk dipandang. Bentuknya fungsional saat diperlukan dalam cerita. Hal ini terutama terlihat dalam penggambaran berbagai ekspresi mereka, mulai dari raut wajah cemas yang kadangkala Kobeni perlihatkan sampai senyuman maut yang Benio pancarkan. Kurasa cukup banyak yang bakal terkesan dengan interaksi antara Mashiro dan Benio yang digambarkan di animasi lagu pembukanya. Itu hasil arahannya beneran gila.

Ada beberapa frame yang sifatnya fanservice. Tapi jumlahnya termasuk minim.

Beneran minim. Pokoknya, enggak sampai merusak cerita.

Lalu dari segi audio… mengatakan kalau para seiyuu-nya berperan baik mungkin cukup kali ya?

Mengingat sifatnya sebagai hasil adaptasi komik 4-kotak, ada lumayan banyak bagian yang cukup sepi dari BGM, dan suara yang terdengar hanya dari percakapan antar karakter saja. Bagian-bagian ‘senyap’ ini agak lebih banyak dari yang kuduga, tapi enggak pernah sampai mengganggu penyampaian cerita, dan lagi kelihatannya itu bukan suatu hal yang bisa dihindari. Sisi baiknya, mengingat ceritanya adalah pencampuran sisi serius dan sisi komedi, bagian-bagian senyap ini kayak bersifat netral dan dengan mudah bisa dilanjutkan dengan perpindahan adegan maupun lagu penutup. (Mungkin perlu kusinggung kalau sisi ‘aneh’ yang cerita ini punya mungkin memang agak terlalu aneh buat selera sebagian orang…)

Ah, dan bicara soal lagu-lagunya, baik penutup maupun pembukanya sama-sama lagu yang ceria. Kau jadi enggak gitu ngemasalahin sisi-sisi agak berat yang cerita ini bawa, dan bisa menantikan kelanjutannya dengan senyuman.

Kesimpulannya, ini seri keluaran Dogakobo yang benar-benar lebih berhasil dari sebelum-sebelumnya. Aku cukup terkesan dengan ceritanya. Tamatnya romantis. Dan sampai akhir enggak ada adegan-adegan aneh yang terjadi sekalipun kedua tokoh utamanya jadi tinggal serumah. Hei, bahkan ada beberapa aksi keren yang sempat ada di episode terakhir.

Enggak kayak biasanya, aku masih belum sempat memeriksa materi asalnya. Tapi ini kayak, salah satu kasus di mana aku kayaknya ga akan terlalu mempeduliin.

Yea, ini termasuk salah seri yang sememuaskan itu.

(Omong-omong, di credits episode terakhirnya, ada satu nama yang teramat menarik perhatian yang muncul.)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B+; Audio: B; Perkembangan: B; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

 

Iklan

4 Komentar to “Mikakunin de Shinkoukei”

  1. hoo baru sadar yang bikin sama kayaq dengan GJ-Bu
    pantesan feeling pas nontonnya sama

    • Aku sendiri baru merhatiin keluaran-keluaran Dogakobo belakangan, terutama sesudah GJ-bu dan Majestic Prince. Yang sebelum-sebelumnya jarang kuperhatiin.

  2. menurutku, ini salah satu dari sedikitnya anime winter 2014 yg buat aku tertarik. btw, ulasannya mantap gan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: