Log Horizon

Musim tayang pertama Log Horizon, yang diadaptasi dari seri novel karya Touno Mamare, dengan ilustrasi oleh Hara Kazuhiro, belum lama ini berakhir dengan total episode sebanyak 25. Ditayangkan pertama kali mulai Oktober 2013 sampai Maret 2014, mesti kuakui kalau secara enggak terduga seri ini menjadi salah satu anime yang paling kuikuti perkembangannya pada musim yang bersangkutan.

Pengarang Touno-sensei sebelumnya dikenal melalui seri kajian-ekonomi-dan-kritik-sosial-yang-entah-gimana-jadi-romantis, Maoyuu Maou Yuusha, yang sebelumnya juga telah dianimasikan. Lalu serupa dengan kasus pendahulunya, seri ini pertama muncul melalui situs online Shousetsuka ni Narou di tahun 2010, sebelum mulai diterbitkan secara cetak oleh Enterbrain pada tahun 2011.

Adaptasi animasinya sendiri dibuat oleh studio Satelight dengan Ishihara Shinji sebagai sutradara, Nemoto Toshizo sebagai penulis naskah, serta musik oleh Takanashi Yasuharu, dan pertama mengudara melalui saluran edukasi NHK-E.

Kenyataan Saat Ini

Log Horizon berlatar di sebuah dunia yang ‘serupa’ dengan dunia MMORPG Elder Tale.

Elder Tale ceritanya adalah game online yang telah sukses secara internasional dengan pemain yang jumlahnya mencapai jutaan. Namun pada perilisan ekspansinya yang kedua belas, Novasphere no Kaikon (‘para pionir Novasphere’), para pemainnya yang sedang login pada saat update itu berlangsung tahu-tahu mendapati diri mereka terbangun di sebuah dunia lain yang teramat mirip dengan Elder Tale yang mereka kenal.

Agak berbeda dengan kasus Sword Art Online, yang secara jelas mengangkat tema-tema teknologi dan virtual reality, fenomena ‘pindah dunia’ di Log Horizon—seengaknya, sejauh animenya berjalan—murni merupakan sesuatu yang ‘ajaib.’ Dalam artian, tak terpahami atau terjelaskan menggunakan logika normal.

Fenomena pindah dunia tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Apocalypse. Lalu cerita Log Horizon sendiri mengikuti petualangan dan perkembangan karakter sang Enchanter, Shiroe, seorang lelaki berkacamata kurus di awal usia dua puluhan yang agak canggung berada di antara orang lain, beserta kawan-kawannya, dalam menjelajahi dunia tak asing namun sepenuhnya berbeda ini.

The Half Gaia Project

Elder Tale dikisahkan sebagai MMORPG yang telah ada cukup lama, dengan cukup banyak pemain yang telah mencapai level cap di Lvl 90. Ini berarti sebagian besar pemain telah memahami mekanisme permainannya, serta telah menjelajahi sebagian besar cakupan dunianya.

Apa yang membedakan Elder Tale dari permainan sejenisnya adalah bagaimana pemetaan game tersebut dibuat berdasarkan pemetaan dunia nyata, melalui sebuah proyek yang disebut Half Gaia. Ini berarti tempat-tempat yang ditampilkan di Elder Tale pada dasarnya merupakan tempat-tempat yang didasarkan pada dunia nyata, dengan skala yang dibuat setengah dari skala aslinya. Sebagai contoh, di Elder Tale, ada kota Akibahara yang menjadi titik awal dari perjalanan Shiroe dan teman-temannya, dan jaraknya ke Susukino di Elder Tale adalah setengah jarak Akibahara ke Susukino dalam dunia nyata. Di saat yang sama, ini juga berarti para pemain Elder Tale di negara yang berbeda juga akan menjelajahi ‘dunia’ yang berbeda (beda server?), tapi dengan sistem permainan yang kurang lebih sama.

Serupa dengan Lineage II, Elder Tale diceritakan menganut sistem class dan subclass. Class Shiroe, misalnya, adalah seorang Enchanter—semacam penyihir yang skillset-nya kebanyakan berisi mantera-mantera buff/debuff dan status effect, di mana kerusakan yang ia berikan kepada lawan terjadi secara tak langsung. Sedangkan subclass-nya, yang lebih banyak berhubungan dengan ‘keprofesian’ dan item creation, adalah Scribe, yang berkemampuan dalam pembuatan kontrak dan dokumen.

Kedalaman sistem permainan di Elder Tale ini juga akan dijabarkan seiring perkembangan cerita. Sebab Shiroe pun mendapati betapa cara melakukan ‘segala sesuatunya’ telah ‘berubah’ semenjak Apocalypse terjadi. Para NPC yang dikenal sebagai People of the Land (daichi-jin, ‘orang-orang daratan’) kini benar-benar adalah manusia hidup yang memiliki rutinitas, kehidupan, tak memiliki pengetahuan apa-apa tentang dunia nyata, dan tak sekedar hanya mengulang-ulang kalimat bila diajak berbicara. Para pemain yang dikenal sebagai Adventurers (bouken-sha, petualang) memiliki kemampuan dan kekuatan yang jauh melebihi People of the Land, dikenal ‘berumur panjang,’ masih bisa membuka layar menu, dan setiap kali mati di field, akan mendapati diri mereka dihidupkan kembali di Cathedral dengan sedikit penalti Exp. Tapi sedikit demi sedikit mereka mulai kehilangan tujuan hidup, dan mulai semakin ragu pula apakah dunia tempat mereka berada sungguh-sungguh masih adalah sebuah permainan.

Dunianya sendiri adalah dunia yang peradaban modernnya telah menjadi puing-puing dan mulai dicakupi berbagai pedesaan dan negara kerajaan yang dijalankan oleh People of the Land. Ada monster-monster, ada event-event. Tapi walaupun telah mengenali semua ini sebelumnya, sudut pandang ‘nyata’ yang kali ini mereka hadapi membuat semuanya terasa berbeda. Ada rasa sakit yang melanda setiap kali mereka terluka. Ada ketakutan nyata yang mereka hadapi kalau melawan musuh. Lalu mereka mesti memikirkan kembali cara bertarung karena tak melulu bisa bebas membuka-buka menu cuma buat melepaskan skill.

Kalian yang memperhatikan mungkin dengan cepat bakal nyadar, kalau apa yang menjadi fokus cerita di Log Horizon (sekali lagi, beda dari di SAO), bukanlah soal menuntaskan permainan. Melainkan soal bagaimana mengatasi keadaan dan permasalahan serta mencoba ‘hidup.’ Shiroe dan kawan-kawannya secara teknis tak perlu lagi takut pada monster berhubung mereka sudah Lv 90. Tapi itu tak berarti semua masalah dengan begitu saja akan bisa mereka atasi.

Tempat Buat Semua Orang

Enggak kayak biasanya, aku masih belum membaca terjemahan novel aslinya (seperti biasa, terjemahan bahasa Inggris sudah bisa ditemukan di Baka-Tsuki). Tapi sesudah kuperiksa, adaptasi anime Log Horizon ini merangkum cerita dari buku pertama novelnya sampai buku kelima.

Shiroe, di awal cerita ditemani dua kawan lamanya, sang Guardian, Naotsugu (seorang pria berbadan besar yang suka makan, ceria, dan punya kecendrungan buat mengatakan hal-hal yang agak nakal), dan sang Assassin, Akatsuki (seorang gadis manis berbadan kecil yang sangat mendalami roleplay-nya sebagai ninja; Shiroe yang ia anggap sebagai tuannya, btw). Lalu mereka bertiga membentuk party bersama untuk mencari petunjuk tentang apa sebenarnya yang menyebabkan Apocalypse terjadi.

Seiring perkembangan cerita, Shiroe dengan kecerdasannya tampil sebagai orang yang memiliki peran semakin vital dalam menentukan nasib para Adventurer di Akibahara. Dirinya ternyata adalah ahli siasat yang dulu tergabung dalam kelompok legendaris Debauchery Tea Party yang pernah menyelesaikan banyak pencapaian sulit di Elder Tale, dan karenanya dikenal oleh berbagai pemain elit. Lalu, menyadari sudah waktunya ia melakukan apa yang ia bisa untuk orang lain saat mendapati adanya pemain-pemain lemah yang ditindas oleh pemain-pemain kuat, ia membulatkan tekad untuk membentuk guild-nya sendiri, Log Horizon, yang beranggotakan awal teman-teman dekatnya, sesudah sekian lama menolak undangan untuk bergabung dalam guild lain.

Sebenarnya, perkembangan ceritanya agak lebih rumit dari itu sih. Aku sendiri enggak begitu yakin soal bagaimana cara terbaik buat mengungkapkannya. Berhubung sisi menarik ceritanya lebih pada world-building-nya, aku enggak pengen menyinggung hal-hal yang bisa menjadi spoiler.

Shiroe di awal cerita, dimintai tolong oleh Marie, kawan lamanya yang mengepalai guild Mikazuki no Doumei (Crescent Moon Aliiance, aliansi bulan sabit) untuk menolong salah satu anggota mereka, Serara, yang terperangkap di Susukino saat Apocalpyse terjadi (berhubung gerbang teleportasi antar kota besar kini padam). Apa yang menjadi misi penyelamatan sederhana ini menjadi awal perkenalan kita atas dunia Elder Tale yang telah berubah ini. Lalu mulai dari sana, ada banyak hal lain tentang dunianya yang kemudian diungkap.

Begitu balik ke Akibahara, ada masalah-masalah sosial yang mereka coba selesaikan. Sesudah itu, datang utusan dari negeri lain yang mengakui kedaulatan pemerintahan(?) para Adventurer. Lalu klimaks anime ini memuncak dengan terjadinya event Kembalinya Sang Raja Goblin yang normalnya takkan terjadi karena alasan-alasan teknis permainan dalam kondisi normal. Masalah-masalah politik, persahabatan, dan sedikit tentang cinta juga mewarnai seri ini.

Apa yang pasti, bagi mereka yang bisa merhatiin, Log Horizon adalah sebuah seri yang bisa bikin kau bener-bener mikir.

Oke, hampir semua anime yang tayang di NHK-E akan bikin kau mikir. Tapi Log Horizon bikin kita mikir lebih dari biasa berhubung subyek materinya adalah sesuatu yang mungkin kau kira sudah kenal.

Ada begitu banyak pelajaran yang bisa kau ambil dari seri ini. Memang terkadang seri ini kayak mengambil arah yang enggak bisa kau tebak, atau mungkin membuatmu agak tak nyaman. Atau malah agak bikin bosan karena bahasan sistem permainannya yang pasti sudah tak asing bagi para penggemar MMORPG.

Tapi kalau kau jeli, kau akan sadar dengan betapa banyaknya hal yang bisa kau ambil.

Kenapa ini terjadi? Apa maksud orang ini? Apa yang bisa dilakukan untuk memutar keadaan? Pertanyaan-pertanyaan kayak gitu berulang dalam kepala selama aku menonton episode-episodenya.

Lalu karakter Shiroe pada saat ia menyelesaikan masalah itu keren. Benar-benar keren.

Dia-lah alasan utama banyak orang yang semula malas-malasan akhirnya menempel dan mengikuti perkembangan seri ini. Sebab, ada benar-benar banyak hal tentang dunianya yang dia eksplorasi dan kembangkan untuk menolong orang.

Shiroe adalah karakter ahli siasat dalam arti sesungguhnya, dan hal itu yang membuat Log Horizon jadi teramat berkesan.

“Kita akan mengubah dunia.”

Membahas soal teknis, studio Satelight, yang telah cukup dikenal dengan tingginya kualitas animasi dan desain dunia latar mereka, memberikan presentasi yang konsisten untuk seri ini. Desain karakternya mungkin agak kurang cocok untuk semua orang. Tapi desain asli dalam novelnya memang seperti itu, dan sebenarnya hasilnya tak buruk-buruk amat. (Walau mungkin itu menyebabkan sebagian orang berdebat tentang daya tarik Akatsuki. Tapi sudahlah, itu enggak penting.) Sedangkan desain dunianya harus aku akui keren dan sedikit bikin aku ingin bisa menjelajahi sendiri.

Audionya juga cukup konsisten. Performa para pengisi suaranya tak buruk. Lagu “Database” yang dibawakan band Man With A Mission (yang dikenal karena topeng wolfman yang selalu mereka pakai, dan mereka tampil sebagai cameo pada adegan pidato Putri Lenessia) awalnya terdengar sebagai lagu yang aneh buatku. Tapi sepupuku dan sahabatku di luar dugaan menjadi orang yang suka. Sedangkan lagu penutupnya, “Your Song” yang dibawakan Yun*chi menjadi lagu yang benar-benar pas dengan nuansa menggantung sebagian episodenya. Aku benar-benar suka lagu itu. (Sekalipun kadang ia mengenakan kostum aneh mengingat dirinya bernaung di label yang sama dengan Kyary Pamyu Pamyu, Yun*chi buatku termasuk figur yang benar-benar menarik.)

Jadi dari kualitas presentasi, kurasa seri ini tak terlampau menonjol, tapi juga agak di atas rata-rata.

Mengingat ini diadaptasi dari seri novel yang agak beda dari normal, sejak awal dramatisasi seri ini mungkin takkan cocok dengan sebagian orang sih. Tapi nampaknya itu hal yang enggak bisa dihindari. Di samping itu, masih ada sejumlah misteri yang belum terselesaikan sampai akhir cerita. Ditambah dengan adanya perkembangan cerita penting yang beneran tiba-tiba pada episode terakhir.

Tapi secara umum, ini satu seri yang benar-benar tetap akan aku rekomendasikan, terutama bagi mereka yang mencari anime yang bisa memberikan ‘sesuatu.’

Setelah sekian lama, ini sempat menjadi salah satu seri yang secara murni bikin aku menunggu tiap minggu. Aku sudah lama sekali enggak menemukan seri yang membuatku merasa begitu.

Season keduanya sudah diumumkan akan tayang pada musim gugur tahun ini.

Ada bagian yang mungkin kau suka, ada bagian yang mungkin kau enggak suka. Tapi kalau kau bisa mengikutinya hingga akhir, ada kemungkinan kau bakal memahami apa-apa sebenarnya yang hendak disampaikan oleh pengarangnya.

Penilaian
Konsep: B-; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: A; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A

Iklan

About this entry