Hataraku Maou-sama!

Hataraku Maou-sama!, atau yang dikenal juga sebagai The Devil is a Part-Timer!, sebenarnya adalah salah satu anime komedi paling berkesan tahun lalu. Pertama muncul pada bulan April 2013 (jadi, musim semi? Judulnya kira-kira berarti ‘bekerja keraslah, Raja Setan!’) dengan animasi buatan White Fox dan Hosoda Naoto sebagai sutradara, seri ini didasarkan oleh seri novel buatan Wagahara Satoshi dengan ilustrasi buatan 029 (baca: Oniiku), yang pertama diterbitkan oleh ASCII Media Works pada Februari 2011.

Aku pertama tahu tentang seri ini dari sepupuku.

Ini kayak… salah satu seri yang dari awal aku tahu sebenarnya bagus, tapi aku pada awalnya enggak begitu ketarik karena aku udah bisa ngebayangin kalo ini bagus. Kalian tahu saat-saat ketika kalian tahu sesuatu itu bagus tapi kalian enggak ketarik karena merasa enggak terlalu ‘perlu’ sehingga akhirnya enggak melakukan apa-apa terhadapnya? Jadi pada saat sepupuku cerita tentangnya, aku hanya bisa menanggapi dengan tertawa kering, sembari berjanji dalam hati kalau suatu waktu ntar aku pasti bakal melihat juga.

Namun kenyataannya, sesudah kuperiksa sendiri berbulan-bulan kemudian, aku mendapati bagusnya seri ini jauh melebihi bayanganku, baik secara teknis maupun konten. Karenanya, aku beneran kaget sendiri.

Bentar, apa kalian ngerti maksudku?

Khatsu-Dhom

Aih, aku malas menjelaskan tetek-bengeknya.

Tapi intinya, seri ini berkisah tentang bagaimana Raja Iblis (Maou) Satan Jacob (aku masih enggak percaya kalau ini namanya) yang berupaya menguasai tanah ajaib Ente Isla, harus melarikan diri melalui portal ke dunia lain seusai kekalahannya di tangan sang Pahlawan (Yuusha), Emilia.

Dengan ditemani jenderal terpercayanya, Alciel, keduanya mendapati diri mereka terdampar di Tokyo zaman modern, dan mereka syok setengah mati bukan hanya dengan segala modernisasi dan teknologi dan peradaban, tapi juga karena kekuatan sihir yang begitu mereka andalkan nyaris tak dapat ditemukan di dunia ini. Tanpa kekuatan sihir tersebut, otot-otot besar yang sebelumnya dibanggakan Maou menyusut menjadi tulang kurus kering, tanduknya hilang, dan keduanya menjadi nyaris tak ada bedanya dari manusia biasa.

Memanfaatkan sedikit kekuatan sihirnya yang masih tersisa untuk memanipulasi pikiran dan mengumpulkan informasi (sesudah sejumlah keributan terkait pakaian dan bahasa asing), Maou Satan dan Alciel memutuskan untuk sementara menyembunyikan identitas (berganti nama menjadi Maou Sadao dan Shiro Ashiya), blend-in di antara kerumunan, dan mencari cara untuk bertahan hidup.

Payung di Tengah Hujan

Ceritanya, sederhananya, kemudian mengikuti keseharian Maou dan Ashiya dalam mencari uang.

Maou, yang sebelumnya jadi pemimpin di antara mereka, merasa jadi yang bertanggung jawab dalam mencari pemasukan. Maka ia kemudian mencari nafkah dengan bekerja paruh waktu di restoran waralaba yang sudah terkemuka, MgRonalds (pelesetan jelas-jelas dari McDonalds). Maou merasa bahwa dunia ini bekerja melalui sistem korporat. Lalu karenanya, untuk bisa mengembalikan kejayaan mereka yang hilang, ia memutuskan untuk memulainya dari anak tangga yang benar-benar bawah.

Ashiya, sebaliknya, kemudian ‘menjaga benteng’ dengan menangani segala urusan rumah tangga di stronghold baru yang berhasil mereka dapatkan. Keduanya kini tinggal di sebuah kamar apartemen sederhana dan tak terlalu luas yang dikelola seorang wanita paruh baya gemuk—dan maksudku bener-bener gemuk—bernama Shiba Miki, yang berbaik hati menampung dua pendatang malang ini.

Tentu saja, mungkin agak susah ngebayangin kayak gimana perkembangan ceritanya dari sana. Tapi ceritanya itu beneran berkembang dan perkembangannya itu benar-benar bagus, lengkap dengan unsur-unsur aksi dan romansa, sampai bahkan bisa dikatakan keren.

Pada suatu ketika, dalam perjalanan pulang pergi ke tempat kerja, Maou menolong seorang perempuan cantik di pinggir jalan. Tapi saat keduanya bertemu lagi, si perempuan memojokkannya dengan maksud membunuh. Ternyata perempuan itu tak lain adalah sang Pahlawan, Emilia, yang ternyata menyusul Maou dan Ashiya yang kabur melalui portal, dan kini menggunakan nama Yusa Emi, dan bekerja sebagai petugas call center di perusahaan telekomunikasi Docodemo (yang jelas pelesetan dari DoCoMo).

Dendam membara yang Emi miliki terhadap Maou atas kematian ayahnya kembali berlanjut di dunia ini, tapi… Emi terkejut karena sang Maou ternyata telah berubah menjadi sosok yang tak ia duga. Ditambah lagi, keduanya kini senasib dan sama-sama tak bisa pulang ke Ente Isla.

Situasi diperumit dengan kehadiran siswi SMA manis yang jadi teman sekerja Maou, Sasaki Chiho, yang jelas-jelas memendam rasa suka padanya. Belum lagi mulai terjadi serangkaian keanehan yang menandai kedatangan pihak-pihak lain dari Ente Isla yang datang menyusul mereka. Ditambah lagi, walau soal yang ini tak langsung terlihat, ada kemungkinan juga kalau Maou dan Ashiya bukan pendatang pertama (ataupun terakhir) yang Shiba pernah tampung dari Ente Isla…

Segala Sesuatu Bermula Dari Nol

Sekalipun apa yang ditampilkan adalah materi komedi, satu hal yang membuat seri ini keren adalah penyampaiannya yang benar-benar serius. Enggak ada lelucon yang sengaja dibuat.  Semuanya benar-benar situasional. Mimik muka dan nada para karakternya itu serius. Jadi sekalipun ada muka kocak yang mereka tampakkan, terlihat betapa sungguhannya mereka dalam hal tersebut, dan itu yang membuat segalanya jadi semakin lucu.

Eksekusi dan perkembangan cerita di seri ini benar-benar bagus.

Ceritanya enggak pernah benar-benar terkesan konyol (walau kalau diceritakan ulang mungkin akan terkesan demikian). Setiap perkembangan baru yang terjadi dapat dipandang sebagai sesuatu yang mengancam yang benar-benar jadi bahan pikiran para karakternya, sekonyol apapun bagi kita kedengarannya.

Bicara soal teknis, paruh pertama episode awal yang menampilkan hal-hal fantasiyah di Ente Isla benar-benar memukau, dan itu menjadi kontras yang lumayan mencolok pada saat mereka pindah dunia. Tapi bahkan pada versi penayangan televisinya, kualitas teknisnya sampai akhir sama sekali tak mengalami penurunan kentara.

Secara visual, segitiga-segitiga berwarna yang menjadi kekhasan artwork di novelnya muncul kembali di seri ini. Ada permainan frame konsisten yang mencolok di mata. Lalu saat ada adegan-adegan aksi dan sihir (ya, ada adegan-adegan seperti ini di dalamnya), semuanya terwaktu secara baik dan enak dipandang mata.

Jadi secara umum, kualitas teknis seri ini benar-benar bagus, walau memang ada kesan kayak dibuat secara bertahap (ditambah fanservice tersamar, yang jujur saja, sempat membuatku terkesan).

Band Nano Ripe membawakan ketiga lagu penutup seri ini, dan mungkin kalian sudah tahu tentang nada-nada agak sendu yang jadi khas mereka. Nuansa lagu-lagunya cocok dengan nuansa keseharian yang seri ini bawa, dan di samping itu cocok juga dengan penggambaran karakter Chiho sebagai satu-satunya yang berbeda dari para temannya yang berasal dari dunia lain. (Chiho-chan jadi kayak semacam maskot bagi seri ini btw.)

Ini bukan jenis seri yang bakal meledak atau bikin kamu ‘wow.’ Tapi ini jenis yang… bikin kamu mengernyit sesaat, tapi akhirnya bisa membuatmu terus menempel dari awal sampai akhir.

…Berhubung seri novelnya masih berlanjut, belum ada penyelesaian yang benar-benar tuntas terhadap ceritanya (para karakter masih tak bisa balik ke Ente Isla). Tapi para animatornya memberi episode terakhir yang menutup cerita ini secara baik.

Sou desu yo nee…

Sebenarnya, satu kejutan lagi yang benar-benar enggak kusangka dari seri ini adalah bagaimana di balik keseharian sederhana Maou dan Ashiya, tersembunyi hal-hal kayak dendam, kecurigaan, intrik-intrik politik, pengkhianatan, yang semuanya kayak teramu dengan baik dengan semua kesalahpahaman yang terjadi.

Nantinya akan ada semakin banyak karakter lain yang berperan, seperti Lucifer, Cretia Bell, Emeralda Etuuva, Albertio Ende, dan sang archangel Sariel; dan mereka ‘bercampur’ dengan orang-orang ‘biasa’ kayak Suzuki Rika yang merupakan teman sekantor Emi dan Kisaki Mayumi yang menjadi atasan langsung Maou di MgRonalds.

Situasinya kayak… jadi jauh lebih normal dari yang mungkin kau sangka, dan mungkin itulah hal paling keren di seri ini.

Soalnya, di sanalah terdapat sisi berat yang seri ini bawa, yakni soal pergeseran moral yang Maou dan Ashiya entah bagaimana alami begitu mereka pergi dari Ente Isla. Ingatan mereka tak hilang. Kekuatan mereka sedikit-sedikit masih bisa digunakan. Tapi di dunia ini, entah bagaimana mereka tahu-tahu saja berubah menjadi orang-orang pekerja keras dan baik. Mereka sendiri tak memahaminya. Tapi meski serba kekurangan, mereka merasa nyaman berada di dunia ini, sekalipun kesempatan untuk bisa kembali ke Ente Isla terbuka beberapa kali di sepanjang cerita. Dan itu jadi suatu hal yang sulit sekali diterima ataupun dipahami oleh mereka-mereka yang mengenalnya sebelumnya.

You know, ada nilai moral soal profesionalitas dan kerja keras yang seri ini bawa. Itu mengingatkanku akan sedikit cuplikan dari Book of Five Rings karangan Miyamoto Musashi yang pernah kubaca. Dalam bab pertamanya disinggung soal betapa pentingnya menjadikan sifat jujur sebagai bagian dari hidup. Jujur dalam artian segalanya, dalam hal apapun. Seolah dikatakan, cuma dengan kejujuran orang nanti akan bisa bertambah kuat.

Dan yah, aku keingat akan hal tersebut saat melihat kesungguhan Maou dalam bekerja, ataupun dalam melakukan hal-hal lain.

Dengan nilai-nilai produksinya yang tinggi, aku tak tahu apa mungkin seri ini bakal ada sekuelnya. Tapi enggak salahnya berharap ‘kan?

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A-

Iklan

2 Komentar to “Hataraku Maou-sama!”

  1. This one is hilarious 😀 But I lost mine. Do you have it ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: