Tentang… Genshiken Nidaime [Review]

Sekeras apapun kau berusaha lari, lambat laun kau harus menghadapi kenyataan. Pelajaran itu dulu aku peroleh dari seri-seri macam Genshiken (walau yang paling keras ngegaplok soal itu, sejauh ini, masih Me-Teru no Kimochi).

Genshiken berawal dari seri manga buatan Kio Shimoku. Seri ini diserialisasikan di majalah bulanan Afternoon keluaran penerbit Kodansha.

‘Genshiken’ merupakan kepanjangan dari Gendai Shikaku Bunka Kenkyuukai, atau ‘komunitas peneliti budaya visual modern.’ Dalam hal ini, Genshiken merupakan satu dari sekian banyak circle, atau klub, di Universitas Shiiou yang menjadi latar cerita ini (universitas ini merupakan referensi terhadap Universitas Chuuo yang beneran ada).

Ceritanya, Genshiken merupakan klub di mana para tokoh utama seri ini tergabung. Klub ini menempati posisi agak aneh. Klub ini menampungi para anggota yang otaku, namun statusnya ‘terpisah’ dari klub manga dan klub anime yang juga ada di universitas yang sama. Karenanya, timbul sejumlah keenggakjelasan soal kegiatan dan maksud sesungguhnya dari klub ini. Itulah yang jadi tema seri ini pada awalnya.

Manga Genshiken sendiri pertama keluar pada tahun 2002. Manga ini lalu ‘berakhir’ serialisasinya pada bulan Desember tahun 2006. Tapi, seri ini kemudian berlanjut dengan ‘musim keduanya,’ Genshiken Nidaime, pada Desember tahun 2009, dan masih berlanjut hingga saat postingan ini aku bikin. (Walau demikian, penomoran manganya melanjutkan penomoran seri yang lalu.)

…Kalau dipikir, serialisasi seri ini sebenarnya lumayan sejalan dengan kehidupan kuliahku. Tapi, mending kita enggak bahas soal itu.

Adaptasi anime Genshiken Nidaime dibuat oleh Production I.G.. Anime ini keluar tahun 2013 dengan durasi 12 epsiode.

Meski ceritanya masih nyambung, Genshiken Nidaime merupakan seri yang lumayan berbeda dibandingkan ‘musim’ pendahulunya. Tema-tema yang diangkatnya beda dan tokoh-tokoh sorotannya berbeda pula. Beberapa tokoh lama masih hadir kembali sih. Latar ceritanya juga masih sama. Gaya ceritanya pun masih mengikuti ensemble cast. Tapi, bila seri Genshiken pertama mengeksplorasi kecenderungan dan cara berpikir para otaku, Nidaime lebih terasa seperti seri drama (komedi situasi?) yang lebih umum.

…Oke. Drama yang penuh dengan referensi anime di mana-mana. Jadi, mungkin enggak seumum itu juga.

Akhir Segala Tesis

Daftar anggota yang telah keluar (wisuda) pada musim ini meliputi:

  • Sasahara Kanji, tokoh utama pertama pada musim sebelumnya (character arc-nya berakhir saat dia jadian dengan ketua Genshiken saat ini, Ogiue Chika). Kini bekerja sebagai editor (manga) di sebuah penerbit.
  • Kousaka Makoto, cowok tampan yang saking otakunya sampai-sampai terlihat seperti orang normal. Kini bekerja sebagai programmer (game dewasa) di sebuah perusahaan software.
  • Kasukabe Saki, pacar Kousaka. Satu-satunya anggota non-otaku. Dahulu karena satu dan lain hal (Kousaka), ikut terseret dalam kegiatan-kegiatan Genshiken.
  • Kageyama Mitsunori, anggota berbadan besar dan agak gagap. Kelihatannya dia telah move on dari dilema menggambarnya dan kini bekerja kantoran seperti orang kebanyakan.
  • Tanaka Soichirou, pacar ketua Genshiken sebelum Ogiue, Ohno Kanako, yang ahli merancang dan menjahit kostum-kostum untuk cosplay. Kini sudah lulus dan hendak memulai usahanya sendiri.

Sedangkan daftar anggota baru yang kini masuk antara lain:

  • Susanna Hopkins, salah satu karakter lama dari musim sebelumnya, teman lama Ohno dari Amerika yang pindah untuk kuliah ke Jepang. …Dia orang bule berbadan mungil yang menggunakan kutipan dialog berbagai anime terkenal sebagai bentuk ekspresi perasaannya. (Iya, dia punya masalah komunikasi.)
  • Yoshitake Rika, seorang fujoshi yang merupakan maniak era Sengoku. Dia sebenarnya agak lebih tua dari tampangnya. Tipe orang yang bisa seketika bertindak begitu mendapat ide.
  • Yajima Mirei, sesama fujoshi berbadan besar yang memiliki kompleks akan ukuran dan bentuk badannya. Meski begitu, dirinya termasuk yang paling level-headed di antara para anggota baru.
  • Hato Kenjiro, yang bisa dibilang merupakan karakter sentral untuk anime ini. Dia fujoshi yang sebenarnya adalah cowok yang telah melakukan crossdress dan perawatan diri ekstrim menjadi cewek yang benar-benar cantik. (Jadi, secara teknis, dia sebenarnya fudanshi.) Ketertarikannya terhadap yaoi, sekalipun dirinya cowok, beserta pertanyaan tentang seksualitasnya, menjadi tema yang terus berulang di sepanjang seri ini.

Karakter favorit(?) fans, Madarame Harunobu, juga tampil lagi sebagai karakter sentral. Secara berkala, dia akan muncul di ruang klub Genshiken sekalipun telah wisuda.

Jadi, salah satu plot utama Genshiken Nidaime adalah penyelesaian cinta terpendam Madarame terhadap Saki. Madarame tahu bahwa Saki pacaran dengan Kousaka. Tapi, karena telah sekian lama tak mengungkapkan perasaannya, ditambah bagaimana Saki perempuan non-keluarga pertama yang benar-benar diperhatikannya, Madarame jadi sulit melangkah. Ini kemudian berdampak pada hubungan Madarame dan Hato, saat Madarame mengizinkannya menggunakan kamar tempat tinggalnya, yang tak jauh dari kampus, sebagai tempat ganti baju dan dandan.

Singkat cerita, itu… uh, menjadi fokus baru seri ini.

Jadi… karena mengangkat tema macam ini, mungkin kalian ngerti kenapa seri Nidaime ini sempat agak mengalienasi sejumlah penggemarnya. Enggak semua orang nyaman bicara tentang karakter-karakter trap, tahu.

Terlepas dari itu, dua karakter utama lain, Ogiue dan Ohno, selaku sesama anggota lama yang masih aktif, masih mendapat porsi cerita bagian mereka juga. (Walau enggak sebanyak Madarame dan Hato.) Ohno menghadapi dilema dengan tertahannya kuliahnya. Ditambah lagi, dirinya masih belum dapat tempat kerja sekalipun kuliahnya memasuki masa-masa akhir. Di sisi lain, Ogiue (yang tampil jauh, jauh, jauh lebih dewasa dan moe dibanding di musim sebelumnya) berhadapan dengan keharusan memasukkan karya comiket seiring resiko-resiko hidup sebagai mangaka profesional.

‘Hige to Boin’ Bukanlah Istilah Bahasa Jerman

Kalau kalian tanya pendapatku… terus terang, aku juga enggak yakin kenapa aku memaksakan diri mengikuti seri ini. Mungkin aku punya alasan-alasanku pribadi? Tapi, alasan-alasan itu bahkan sulit aku jabarkan sendiri.

Pastinya, bukan karena komedinya.

Juga, jelas, bukan karena dramanya. (Sekalipun bagus, dramanya adalah jenis yang bisa bikin kau bingung dan enggak nyaman pada beberapa titik).

Aku juga enggak bisa bilang aku suka para karakternya.

Aku kayak… entahlah. Aku merasa kayak berkewajiban mengikutinya saja.

Nidaime mengangkat dua sisi kehidupan otaku yang di season sebelumnya kurang tergarap: 1. Sisi para fujoshi penyuka yaoi. 2. Sisi saat kamu akhirnya mesti balik menghadapi dunia nyata dan melanjutkan hidup. Itu dua hal yang, kalo kupikirin lagi sekarang, sebenernya enggak akan pernah bisa kau hindarin. (Percayalah, selama kau otaku, kau enggak bisa lari dari fujoshi penyuka yaoi. Pengalamanku dengan adikku telah membuktikannya.)

Dari dulu, cerita Genshiken—bagi yang bisa nikmatin—bisa bikin kau terenyuh dengan cara-cara yang enggak sepenuhnya enak. Lalu, meski bernuansa komedi, dan eksperimen Shimoku-sensei dengan ekspresi-ekspresi wajah para karakternya tetap terbawa ke versi animenya, titik-titik terenyuh itu tetap ada. Tapi, sekali lagi, itu cuma bagi kalian-kalian yang bisa nikmatin.

Terlepas dari semuanya, seperti adaptasi-adaptasi anime Genshiken yang telah lalu, kualitas teknis anime Genshiken Nidaime masih benar-benar bagus. Suka apa enggak kau terhadap musiknya, enggak bisa disangkal visual seri ini masih keren. Nuansa kampusnya beneran kuat. Lalu, interior ruang klubnya masih punya kedetilan memukau seperti sebelumnya.

Lalu, enggak seperti sebelumnya, aku kali ini bahkan bisa menikmati lagu pembuka dan penutupnya. (Soundtrack anime Genshiken yang dulu bisa kusuka cuma lagu opening ‘Kujibiki Unbalance’ dari band Ever17 yang vokalisnya Momoi Haruko.)

Lalu damn. Terus terang, aku baru nyadar. Ternyata ketiga seri TV animenya dibuat oleh studio beda-beda! Bahkan OVA-nya dibuat studio yang beda lagi! Staf dan sutradaranya kelihatannya berbeda-beda juga!

Enggak aneh kesanku terhadap animenya selama ini agak campur aduk!

Yang benar-benar keren… kesan detil-detilnya itu konsisten gitu. Mungkin juga karena ini udah lama, tapi kalau aku enggak membandingkan daftar seiyuu-nya, aku kayaknya bahkan enggak akan sadar kalau para pengisi suaranya ganti.

Manganya sendiri masih aku perhatikan dari waktu ke waktu. Perkembangan ceritanya masih saja suka susah ditebak.

Adaptasi anime ini sendiri berakhir tak lama sesudah cerita tentang festival kampus. Ceritanya mencapai klimaks saat Madarame akhirnya berhasil mengungkapkan perasaannya pada Saki.

Episode terakhir sesudah itu merupakan cerita original yang tak ada di manga, yang dibuat untuk memberi penuntasan buat animenya. Lewat episode ini, mesti kuakui, ceritanya terselesaikan lumayan baik. Referensi-referensi terhadap poin-poin cerita lalu malah lebih banyak dari yang kukira.

Terus terang, Genshiken Nidaime merupakan judul yang untuk selamanya sulit kurekomendasikan. Ini jelas bukan seri untuk semua orang. Bahkan para fans lama Genshiken mungkin takkan suka season ini. Tapi, kalau ada yang bertanya, seri ini bisa jadi topik diskusi menarik.

(Oh iya. Aku lupa soal Kuchiki Manabu, anggota Genshiken sampingan yang kerap membuat situasi awkward. Pengisi suaranya kali ini, secara mengesankan, ternyata adalah Fukuyama Jun.)

Penilaian

Konsep: X; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B

Kalau Sekedar Mengukur Dari Moe, Edit Maret 2019

Serialisasi manga Genshiken Nidaime berakhir pada Agustus 2016. Tamatnya lumayan bagus. (Belum jelas apa Genshiken Sandaime akan ada atau tidak.)

Bagi yang penasaran, kelanjutan cerita di manga memaparkan kesudahan pernyataan cinta Madarame sesudah festival. Terungkap bagaimana Madarame mengalami moteki, yang mana sejumlah perempuan karakter berbeda mengungkapkan ketertarikan mereka terhadap Madarame pada saat yang sama.

Madarame dan Hato secara efektif menjadi tokoh utama.

Cerita sempat jadi berlarut-larut di arc Madarame Harem ini. (Anggotanya mencakup Hato, Sue, Keiko adiknya Sasahara yang kini bekerja di klub kabaret, Angela Burton temannya Ohno dan Sue.) Tapi, sesudah dialog sangaaaaat panjang antar mereka dalam acara wisata ke Kyoto, cerita berakhir memuaskan dengan bagaimana Madarame, dengan didukung Saki dan teman-teman lama yang kembali ngumpul, menyatakan perasaan pada Sue.

Oh. Kucchi pun akhirnya lulus.

Tamatnya lumayan bagus.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.