Monogatari Series Second Season

Monogatari Series Second Season pada dasarnya menceritakan ‘musim’ kedua dari rangkaian novel horor(?) remaja Monogatari buatan NisioIsin. Adaptasi animenya yang khas masih dibuat oleh studio SHAFT. Jumlah episodenya secara total 23 (26, kalau kau menghitung tiga episode ringkasan cerita dari musim sebelumnya yang dinarasikan oleh Araragi Koyomi). Lalu pertama ditayangkannya adalah pada musim panas tahun 2013 lalu.

Mungkin ada sebagian orang yang agak bingung dengan pemberian judulnya.

Buat mereka yang masih belum yakin, ya, ini merupakan lanjutan cerita dari seri Bakemonogatari. Tapi ‘musim’ pertama seri Monogatari enggak cuma terdiri atas Bakemonogatari. Secara menyeluruh, ‘musim’ pertamanya meliputi:

  • Bakemonogatari, yang mencakup cerita Hitagi Crab sampai Tsubasa Cat.
  • Kizumonogatari, yang mencakup cerita Koyomi Vamp.
  • Nisemonogatari, yang mencakup cerita Karen Bee dan Tsukihi Phoenix.
  • Nekomonogatari (Black), yang mencakup cerita Tsubasa Family.

Dengan Kizumonogatari sebagai pengecualian, keseluruhan ‘musim’ pertama di atas pada waktu ini kutulis telah dianimasikan.

Kizumonogatari bertahun-tahun lalu sempat diberitakan akan dimunculkan sebagai film layar lebar. Cuma hingga sekarang kabarnya masih belum ada kejelasannya lagi sekarang baru dikabarkan akan dibagi menjadi tiga film. Tapi kilasan keseluruhan ceritanya (secara komplit, dari awal hingga akhir) telah ditampilkan pada menit-menit pertama Bakemonogatari, yang padanya masih sempat-sempatnya dicantumkan hal-hal enggak penting(?)nya juga.

Terlepas dari semuanya, ‘musim’ kedua ini menuntaskan sejumlah hal tersamar yang masih belum terselesaikan pada ‘musim’ yang pertama. Di saat yang sama, ceritanya juga mengangkat sejumlah pertanyaan baru. Terutama yang menyangkut kemunculan Oshino Ougi, seorang adik kelas di SMA Naoetsu, yang memperkenalkan diri secara terpisah pada Araragi dan kawan-kawannya sebagai keponakan(!?) Oshino Meme.

Snow Drop

Berlatar sesudah liburan musim panas, pada musim gugur dan musim dingin menjelang masa kelulusan Araragi; ‘musim’ kedua ini mencakup:

  • Nekomonogatari (White), yang mencakup cerita Tsubasa Tiger.
  • Kabukimonogatari, yang mencakup cerita Mayoi Jiangshi.
  • Otorimonogatari, yang mencakup cerita Nadeko Medusa.
  • Onimonogatari, yang mencakup cerita Shinobu Time.
  • Koimonogatari, yang mencakup cerita Hitagi End.

Sebenarnya, dalam seri novelnya, ada satu bab lagi, yakni Hanamonogatari yang mencakup cerita Suruga Devil. Namun, berhubung ceritanya berlatar agak jauh sesudah cerita-cerita lainnya di ‘musim’ ini, bab ini kelihatannya bisa dianggap semacam bab peralihan dengan ‘musim’ ketiga yang masih dibahas seri novelnya, dan karenanya diputuskan untuk dianimasikan secara terpisah. (Kali-kali ada yang lupa, cerita-cerita di seri ini tak selalu dipaparkan secara kronologis.)

Bahasan ceritanya sendiri mencakup penuntasan masalah kaii yang melanda Hanekawa Tsubasa dan Hachikuji Mayoi, yang sebenarnya masih berkaitan dengan masalah-masalah yang mereka alami sebelumnya.

Araragi, di akhir musim panas, secara misterius telah menghilang. Sehingga saat kebakaran misterius yang mungkin disebabkan oleh sesosok harimau gaib melanda rumahnya, Hanekawa, dengan dibantu Senjougahara Hitagi, harus mengambil keputusan-keputusannya sendiri demi terselesaikannya masalahnya ini.

Gaen Izuko, perempuan muda yang nampaknya adalah bibi dari Kanbaru Suruga, tampil sebagai karakter baru yang pertama muncul di hadapan Hanekawa, dan nantinya, Araragi. Berlawanan dengan Hanekawa, Gaen secara terang-terangan mengakui kalau dirinya mengetahui segalanya, sehingga ia jadi karakter yang kayak mewakili segala teka-teki ‘bersambung’ yang ada di seri ini. Gaen juga merupakan senior dari Oshino Meme dan dua kenalannya yang lain, Kaiki Deishuu dan Kagenui Yorozu, dalam klub yang mereka ikuti di universitas dulu. Hal ini semakin mengindikasikan kemisteriusan hubungan antara mereka, dan lumayan mengingatkanku akan kata-kata Araragi di pembukaan Kizumonogatari, saat ia menyatakan soal betapa ia tak yakin kapan sebenarnya ‘semua ini’ bermula.

Aku ingin memaparkan poin-poin ceritanya lebih lanjut. Tapi setelah kupikir, (di samping aku malas) kayaknya itu ide yang buruk.

Bukan hanya karena masalah spoiler sih. Selain karena perkembangan cerita di ‘musim’ kedua ini benar-benar enggak ketebak, tapi juga karena kayak ada banyak hal tersirat yang disampaikan selama durasi seri ini yang kerasa kebatas. Separuh waktu yang kupakai untuk mengikuti seri ini lebih banyak digunakan buat menebak-nebak maksud sesungguhnya dari satu cerita itu apa. Lalu kesimpulan yang aku peroleh di akhir cerita ternyata hampir selalu berbeda dari apa yang semula yang kubayangin.

Jadi, kalau kuceritain gitu aja, daya tariknya beneran bisa hilang.

Misalnya, waktu aku pertama tahu kalau buku terakhir yang waktu itu diumumkan buat seri ini adalah Koimonogatari dengan cerita berjudul Hitagi End, apa yang aku bayangin itu berbeda sama sekali, sama sekali, dari apa yang kudapat di anime ini. Aku nyangka ceritanya bakal maksa dengan berlanjutnya cerita ke ‘musim’ ketiga. Tapi ceritanya itu ternyata… bagus gitu. Bukan apa yang aku bayangin atau harapkan. Tapi seenggaknya enggak akan bisa kubilang jelek.

Sebenarnya, agak susah buat ngasih penilaian objektif juga. Soalnya ceritanya yang bersambung ke ‘musim’ ketiga ini sebenarnya masih belum punya ujung yang jelas.

Dramatic Irony

Masuk ke bahasan soal teknis, hal pertama yang kurasain dari anime ini adalah aspek audionya sayangnya enggak sekuat di musim-musim lalu. Haruna Luna yang membawakan OST keren di Fate/Zero dan Sword Art Online membawakan lagu-lagu penutupnya. Tapi entah kenapa, berbeda dari kasus Bakemonogatari dan Nisemonogatari, aku ngerasa lagunya terasa kayak enggak ‘masuk’ dalam cerita. Aku enggak yakin kenapa. (Aku tahu enggak lagi terlibatnya Ryo dari supercell memiliki arti, tapi…)

Mungkin itu hubungannya dengan struktur penceritaannya juga sih. Soalnya… damn. Cerita di seri ini itu kayaknya dipadetin. Dipadetin dalam arti sepadet-padetnya. Kayak dikompres secara luar biasa gitu. Walau enggak ampe kerasa kayak ngebut, tempo ceritanya tetap kerasa kayak terlalu cepat untuk bisa mencerna perkembangannya secara nyaman. Kerasa kayak kita bisa mengikuti apa yang terjadi, tapi enggak bisa sepenuhnya mengerti segala implikasi dan nuansanya.

Satu-satunya pengecualian yang enggak kena efek ini cuma Koimonogatari sih.

Intinya, seri ini kayak semestinya punya jumlah episode sekurangnya dua kali lebih banyak. Bakemonogatari dalam dua buku dituturkan dalam 15 episode. Nisemonogatari yang dua buku juga dipaparin dalam 12 episode. Lalu di sini kita ada lima buku yang mau dipaksain masuk ke dalam 23 episode?

…Sekarang emang udah terbukti bisa sih. Tapi kau bisa bayangin kalo keajaiaban yang dimiliki anime-anime musim sebelumnya itu kayak enggak ada.

Hampir lenyap enggak berbekas.

Sepanjang seri, kita kayak diseret-seret ke dalam monolog yang enggak jelas ujungnya dan padanya kita hampir enggak ngerasain apa-apa sama sekali. Ada kesan lebih berat ke style daripada substance. Bahkan fanservice-nya buatku pun mengecewakan!

Kita mungkin masih ngerasa ingin tahu soal perkembangannya sih. Para seiyuu masih berperan secara baik sih. Demikian pula BGM-nya. Tapi kita tetap jadi kayak enggak ngerasain apa-apa yang harusnya bisa kita rasain. Nekomonogatari (White) yang novelnya kerasa begitu epik aja di sini terasa kayak… ukh.

…Mungkin juga aku ngerasa begini karena udah ngebaca sebagian novelnya sih. Jadinya sadar atau enggak sadar jadi ngasih perbandingan.

Sisi baiknya, ceritanya sendiri menurutku, sekali lagi, emang beneran bagus. Berhubung sebagian besar POV di seri ini diambil dari sudut pandang selain Araragi, kita benar-benar mendapat sudut pandang berbeda akan segala urusan soal kaii ini. Kita dapat insight lebih banyak, kita tersadar lebih banyak hal soal hubungan antar karakter, dsb.

Koimonogatari, seperti yang sudah kusebutkan, menjadi satu-satunya pengecualian dari kecendrungan ini. Itu satu-satunya bagian cerita yang menurutku diceritain secara bener dan jadinya bagus. Aku sempat ternganga karena animasi pembukanya dibikin dengan gaya anime retro dekade 80an dan 90an. Lalu dari segi cerita, Hitagi End menjadi klimaks aneh dengan begitu banyaknya kejutan yang terjadi.

Aku enggak akan merekomendasikan seri ini kecuali kau benar-benar penggemar seri-seri sebelumnya. Tapi kalau kau penggemar baru, mulai dari seri ini bisa saja sih. Masih bisa ada kemungkinan kau jadi tertarik. Sebab masih ada begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab, ditambah hubungan keterikatan yang benar-benar kuat tapi agak terpisah dengan bagian-bagian cerita yang telah lalu.

Mungkin para staf di SHAFT sudah mulai lelah dengan seri ini dan ingin cepat berlanjut ke proyek mereka berikutnya. Tapi kurasa, selama fanbase-nya masih ada, suatu kelanjutan dari anime ini masih bisa diharapkan. Mwahahaha.

Hanamonogatari kabarnya akan ditayangkan pada akhir pertengahan(?) tahun ini btw.

Penilaian

Konsep: A;  Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: X; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+

Iklan

2 Komentar to “Monogatari Series Second Season”

  1. Jujur aku belum baca novelnya sama sekali sebelum selesai nonton per arc nya, jadi kurang tau semampat apa adaptasinya ini. Dan overall aku puas untuk Nekomonogatari sama Otorimonogatari. Itu top two arc favoritku tie, selanjutnya Koimonogatari, kemudian Kabukimonogatari sama Onimonogatari juga tie.

    Tapi mempertimbangkan kalau aku emang lebih tipe yang lebih menikmati visual, walau visual itu bisa merupakan style yang berkontribusi banyak pada substancenya. Kalau lihat begitu banyak metafora visualnya aku sangat suka Otorimonogatari yang visualnya nggak bisa lepas sebagai plot devicenya. Contoh paling stand out kayak poetic imagery Senjougahara atau close up ular putih dengan hanya satu titik warna merah untuk matanya yang muncul berkali-kali, hypnotizing. Untuk Nekomonogatari (Shiro) aku suka kompleksitas karakter Hanekawa yang lagi-lagi NisiOisiN ini seperti paham sekali tentang sisi psikologinya, kurasa sebelumnya aku belum pernah nonton anime yang membahas kerumitan kepribadian seseorang sampai sejauh ini. Dua arc favoritku ini bisa dibilang berbanding terbalik sih, yang satu menceritakan seseorang yang berhasil menghadapi masalahnya dan yang satunya gagal.

    Untuk Koimonogatari sebenarnya aku suka sekali, bisa jadi yang terbaik, tapi lagi-lagi karena masalah visual aku terpaksa menempatkannya setelah Neko dan Otori. Memang kabarnya Shaft selalu melakukan total animasinya duluan dan di akhir kadang malah terlihat kurang maksimal. Nggak seperti misalnya di Otori atau Onimonogatari yang visualnya memuaskan, Koimonogatari kesannya apa adanya (mungkin kecuali mv openingnya yang “aw yay”). Sepertinya aku harus baca novelnya saja untuk Koi ini.

    Sedangkan untuk Kabuki sama Onimono, keduanya aku agak kecewa karena, entah dari materi asal NisiOisiN nya atau penggambaran dari Shaft, keduanya bisa dibilang contoh ideal “style over substance”. Aku masih suka Kabuki karena it looks fun, tapi Onimonogatari jatuhnya overdramatis. Dan keduanya diiringi visual yang menawan seperti waktu Araragu dan Shinobu jalan berdua di tengah alang-alang di Kabuki atau lukisan berjalan waktu Shinobu menceritakan masa lalunya di Onimonogatari.

    Overall series aku menikmatinya sih, walau memang sepertinya, harusnya, bisa lebih baik. NisiOisiN masih tetap unpredictable, overall tulisannya melebihi ekspektasiku sebagai kelanjutan dari Bakemonogatari *jempol*
    Oh iya, setuju sama BGM sama seiyuunya, Shaft in most cases can bring the best in them.

    • Ah, Nekomonogatari dan Otorimonogatari itu emang something else. Bener juga sih. Perkembangan cerita paling menarik emang adanya di dua itu. Mungkin cara aku ngatainnya mestinya kuubah ya?

      Soal metafora visual dan style vs substance, aku dulu ngebandingin versi animasi Hitagi Crab dan Mayoi Snail dengan terjemahan versi novelnya, dan keduanya menurutku punya bobot seimbang. Keduanya sama menariknya gitu. Aku beneran jadi salut ama gmn SHAFT mengadaptasinya waktu itu. Sehingga, pas aku ngelihat animasi Tsubasa Tiger… aku ngerasa hasilnya bener-bener tanggung. Tapi mungkin semua tulisan yang dibuat Nisioisin ujung-ujungnya bakal ngasih efek kayak gitu.

      Kabuki sama Onimono agak disayangkan. Keduanya sama-sama ada red herring soal apa sebenernya yang jadi fokusnya sih, sehingga aku bisa ngerti kalo pengadaptasiannya jadi tantangan. Apalagi keduanya punya cerita yang sama-sama nyambung ke masa lalu.

      Pada akhirnya, aku tetep jadi penasaran buat ngebandingin dengan hasil DVDnya sih.

      Thanks buat komennya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: