Kikou Shoujo wa Kizutsukanai

Terkadang, kau ngikutin sesuatu bukan karena kamu suka, tapi karena apa yang kamu ikutin tersebut kamu anggap menarik. Kamu mengikutinya karena sisi menariknya itu membuat kamu merasa pengen tahu.

Cuman, sekali lagi, kamu enggak suka.

Seri Kikou Shoujo wa Kizutsukanai, atau yang juga dikenal sebagai Unbreakable Machine Doll (‘boneka mesin yang tak dapat dirusak’), buatku kurang lebih juga kayak gitu.

Seenggaknya, versi animenya.

Kayak cukup banyak seri anime zaman sekarang, anime ini diangkat dari seri light novel karya Kaitou Reiji dengan ilustrasi buatan Ruroo. Seri ini sudah memiliki 12 buku yang terbit di bawah label MF Bunko J semenjak November 2009. Adaptasi animenya berjumlah 12 episode dan dibuat oleh studio Lerche, yang kelihatannya lumayan spesialis dalam memainkan teknik-teknik animasi CG. Adaptasi anime ini nampaknya akan dilanjutkan melalui seri OVA. Tapi soal itu aku belum tahu lebih lanjut.

Biasanya, untuk seri-seri adaptasi macam begini, aku akan memastikan diri untuk memeriksa media novel aslinya juga. Cuma untuk suatu alasan, bahkan sesudah membaca beberapa bab novelnya, aku tetap kurang bisa menyukainya. Padahal tema, plot dan latarnya menurutku cukup menarik. Apa masalahnya ada di karakterisasi? Apa karena para karakter dipaksakan punya quirk dan kalimat-kalimat khas mereka masing-masing?

Terlepas dari semuanya, Unbreakable Machine Doll buatku menarik karena ini seri berbasis aksi yang lumayan banyak dibumbui elemen-elemen misteri. Aku memaksakan diri mengikuti animenya karena benar-benar ingin tahu ceritanya akan dibawa ke mana.

Rahasia-rahasia yang Tak Boleh Diungkap

Berlatar di suatu versi alternatif dari awal abad kedua puluh, Unbreakable Machine Doll mengisahkan pengalaman-pengalaman sang tokoh utama, Akabane Raishin, selama ia mendalami ilmu Machinart di Walpurgis Royal Academy of Machine Arts di Liverpool(?), Inggris.

Machinart ceritanya merupakan suatu bidang ilmu baru yang belum lama ditemukan, yang mengkombinasikan ilmu sihir dan teknologi untuk aplikasi-aplikasi militer. Produk dari bidang ilmu ini adalah automata, boneka-boneka mesin ‘hidup’ yang ditenagai oleh rangkaian sihir dan dispesialisasi untuk kepentingan pertempuran.

Selama bersekolah di sana, Raishin juga menjadi salah satu peserta Night Party, suatu turnamen pertempuran eksklusif berformat battle royale yang diikuti oleh 100 murid terbaik di akademi tersebut, yang mana pemenangnya akan diberikan gelar Wiseman, ‘dalang boneka’ terbaik yang dimiliki Akademi.

Raishin sebenarnya terlibat dalam acara ini karena tergerak oleh suatu alasan pribadi. Di masa lalu, seluruh keluarganya yang mendalami Machinart terbunuh oleh suatu pihak misterius. Lalu ia menjadi murid pindahan di Akademi Walpurgis dan berambisi meraih gelar Wiseman karena meyakini pelakunya adalah seseorang di sana.

Raishin sebenarnya telah dipandang tak berbakat oleh keluarganya, dan kemampuannya sebagai dalang masih patut dipertanyakan. Namun dirinya ditemani oleh Yaya, automaton berbentuk seorang gadis remaja yang merupakan salah satu dari trilogi Setsugetsuka (perlambang salju, rembulan, dan bunga), tiga automaton mahakarya Karyuusai Shoko, pembuat boneka Jepang yang paling termahsyur.

Sesudah pembantaian yang menimpa keluarganya, Shoko-lah yang menolong Raishin dan kemudian, dengan dukungan pemerintahan, menjadi sponsor kehadirannya di Akademi Walpurgis, dengan syarat Raishin juga bertindak sebagai bagian dari militer Jepang.

Selama di sana, Raishin terlibat berbagai kasus yang menimpa orang-orang di sekitarnya, yang membawanya sedikit demi sedikit pada kebenaran di balik insiden yang telah menimpa keluarganya.

“Yaya wa kawaii.”

Aku enggak bisa menyangkal kalau aku beneran suka ide dan tema cerita seri ini. Balas dendam, permesinan sihir, latar di Inggris, intrik antar aristokrat, misteri pembunuhan, konflik antar kelas sosial; hal-hal kayak gitu ada di seri ini. Lalu terus terang aja, aku enggak mungkin enggak tertarik. Hal-hal kayak gitu belum pernah kutemui di LN manapun sebelumnya. (Oke, mungkin apa yang ada di Madan no Ou to Vanadis lumayan mendekati. Tapi adaptasi animenya masih belum akan muncul dalam waktu dekat.)

Ke sananya aku mungkin memang jadi enggak menyukai seri ini sedalam yang aku harap. Tapi tetap ada sejumlah adegan tertentu yang membuatku terkesan. Adegan saat Raishin pertama terbangun dari tidurnya di kereta, yang disusul adegan saat Yaya dengan tenaganya semata menghentikan kereta tersebut saat terlempar ke luar jalur. Membandingkan dengan apa yang ada di novelnya, keduanya tereksekusi lebih bagus dari yang kukira.

Untuk sisanya, aku enggak bisa bicara banyak sih. Eksekusi kebanyakan adegan-adegan aksinya bahkan agak mengingatkanku pada animasi-animasi CG yang berkesan ‘percobaan’ seperti yang pernah kulihat di Zegapain.

Aku sadar ini bukan salah para animatornya. Tapi cerita asli di novelnya memang punya kesan mencampuradukkan hal-hal yang main-main dengan hal-hal yang serius. Seperti soal bagaimana Yaya—dengan cara-cara yang agak menakutkan—selalu terobsesi untuk menjadikan Raishin suaminya. Atau bagaimana Frey, yang menjadi salah satu lawan yang harus Raishin hadapi dalam Night Party, berusaha (secara konyol) untuk menyiapkan jebakan-jebakan yang bisa membunuh Raishin agar ia tersingkir.

Mungkin juga karena masalah pada versi terjemahan yang aku baca. Tapi hal-hal di atas enggak tersampaikan secara sepenuhnya dengan baik bahkan di novelnya. Konteks situasinya serius. Tapi apa yang terjadi atau diucapkan itu begitu aneh sehingga kau jadi enggak jadi menanggapi apa yang terjadi secara serius (“Tingkat kemesumanmu sebesar Big Ben!”).  Jadi kau bisa bayangkan kayak gimana berantakannya saat itu ditranslasikan ke bentuk anime.

Tapi sekali lagi, seri ini buatku menarik karena bahkan dalam menghadapi hal-hal ini, pada beberapa bagian para animatornya memang ‘berhasil.’ Shimono Hiro yang mengisi suara Raishin memperlihatkan sikap serius dalam berbagai situasi konyol dengan begitu keren. Kayak, dia menghadapi apa-apa yang normalnya membuat karakter utama di seri-seri lain bilang “Apaaa?!” secara datar dan masih bisa membuat adegannya terlihat wajar.

Entahlah. Buatku itu cukup luar biasa.

Akhir yang Menggantung

Adaptasi anime ini hanya mengadaptasi cerita dari tiga buku pertamanya saja, yakni Facing “Cannibal Candy”, Facing “Sword Angel”, dan Facing “Elf Speeder”. Jadi tentu saja kau juga sebaiknya jangan berharap bakal tahu siapa pembantai keluarga Akabane begitu kedua belas episode ini berakhir. Adaptasinya lumayan setia. Jadi kau juga bisa bayangkan gimana plotnya dipadatkan dengan pengaturan tempo agak berantakan, yang tentu saja jadi ditutup dengan akhir yang menggantung.

Aku terus terang jadi mikir, apa tujuan dibuatnya adaptasi-adaptasi anime ini sebenarnya semata-mata adalah untuk mempromosikan novel-novelnya?

Tapi walau enggak bagus, hasil akhirnya enggak seburuk yang kusangka. Aku terkesan dengan gimana semua cerita dari ketiga buku di atas bisa masuk dalam cerita, dan cerita pada masing-masing buku sama-sama dibuat empat episode. Aku suka lagu pembukanya. Itu jenis lagu yang semula kuanggap biasa tapi bisa kuhargai belakangan. Animasi pada lagu penutupnya juga mengesankan, walau lagunya memang agak-agak aneh. Kalau kau perhatikan dengan baik, ada tiga variasi dari penutup itu yang dibawakan di sepanjang seri.

Lalu asal kau enggak terlalu mempermasalahkan fanservice-nya, konsepnya menurutku memang keren. Enggak mengherankan bagaimana seri novelnya memiliki penggemarnya tersendiri, dengan bagaimana pada setiap buku Raishin dan Yaya harus berhadapan dengan lawan-lawan baru.

Karakter bu guru Kimberley yang mengawasi Raishin adalah karakter yang aneh dengan proporsi tubuh seksi dan segala kemisteriusannya. Tapi intriknya memang jadi menarik saat terungkap bagaimana dirinya terlibat dalam jaringan informasi Nectar, yang seakan menggambarkan betapa banyaknya kepentingan yang bermain di Walpurgis.

Lalu tentu saja ada tokoh bertopeng Magnus, murid terbaik di Akademi yang diindikasikan merupakan kakak kandung Raishin, Akabane Tenzen, sekaligus pelaku pembantaian keluarga Akabane. Magnus yang teramat kuat memiliki kemampuan untuk menggerakkan banyak boneka sekaligus—yang salah satu di antaranya menyerupai Nadeshiko, mendiang adik perempuan Raishin yang meninggal dalam pembantaian tersebut.

Ada isu-isu soal bagaimana sebagian boneka yang disebut ‘banned doll’ dibuat dengan menggabungkan mekanisme Machinart dengan bagian-bagian tubuh manusia. Ada isu-isu soal percobaan terhadap manusia dan pengambilan organ.

Intinya, ada begitu banyak hal yang terjadi. Karenanya aku penasaran. Soalnya di atas kertas, semuanya kelihatannya begitu seru.

Maware Maware

Aku masih belum menjadi penggemar seri ini. Tapi ini salah satu kasus ketika ada sesuatu yang menarik dan kita jadi ingin tahu berkembangnya bakal sejauh mana.

Kurasa aku memang punya semacam hero complex yang membuatku sedang ingin melihat gimana—kayak yang lirik lagu penutupnya ungkapkan—tokoh-tokoh baik mengalahkan tokoh-tokoh jahat. Mungkin juga cuma akunya saja yang butuh pengalihan dari segala urusan ‘abu-abu’ yang kutemuin di dunia nyata. Makanya aku terkesima dengan deretan judul LN aksi MF Bunko J yang konon bakal dianimasikan tahun ini, dan Unbreakable Machine Doll menjadi yang pertama dari deretan tersebut.

Aku enggak merasakan apa-apa sesudah mengikutinya. Jadi jelas ini bukan judul yang akan aku rekomendasikan. Aku bahkan enggak merasakan ketertarikan apa-apa terhadap semua tokoh ceweknya. Padahal Charlotte Belew adalah seorang tsundere yang memiliki naga.

Tapi kurasa aku bakal ngerasa enggak nyaman kalau misalnya aku sampai enggak nonton.

Jadi, yah, kau tahu maksudku.

…Bisa jadi aku seorang penggemar misteri yang lebih besar dari yang kukira.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B-; Audio: B+; Perkembangan: C; Eksekusi: C; Kepuasan Akhir: C+

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: