Outbreak Company

Outbreak Company: Moe Shinryakusha dibuat berdasarkan seri novel karya Sakaki Ichirou dengan ilustrasi yang dibuat oleh Yuugen. Pertama terbit oleh Kodansha di bawah label Kodansha Ranobe Bunko semenjak Desember 2011, adaptasi animenya dibuat oleh studio Feel dengan jumlah episode sebanyak 12 dan pertama ditayangkan pada musim gugur tahun 2013.

Waktu aku pertama kali tahu tentang seri ini, kesan pertamaku berasal dari nama pengarangnya. Aku kurang begitu tahu tentang karya-karya beliau yang belakangan. Tapi aku tahu tentang Scrapped Princess yang sempat dianimasikan oleh Bones. Di pertengahan awal tahun 2000-an aku sempat lumayan menyukainya. Scrapped Princess punya ide cerita yang menarik, dan perkembangan yang lumayan bikin terkesima pada beberapa bagian.

Makanya, waktu aku dengar tentang premis Outbreak Company, tentang seorang otaku hikkikomori yang dipekerjakan pemerintahan Jepang untuk mempromosikan budaya moe ke dunia lain, aku langsung punya perasaan kalau mungkin ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Studio yang berada di balik produksinya belum pernah aku perhatikan sebelumnya. Namun aku punya perasaan kalau hasil akhir seri ini enggak akan buruk.

…Dalam artian, kayaknya, seri ini takkan sesampah kelihatannya. Dan kenyataannya ternyata memang sama sekali enggak.

Omelette Rice

Outbreak Company mengisahkan tentang pengalaman-pengalaman seorang remaja drop out SMA bernama Kanou Shinichi yang pada suatu hari secara iseng mengikuti suatu proses lamaran kerja online yang agak misterius. Shinichi ceritanya memang memiliki ‘garis keturunan’ seorang otaku, dengan orangtua yang masing-masing bekerja sebagai penulis ranobe dan sekaligus ilustrator galge, dan ia menjadi pemurung yang mengurung diri di kamar tatkala pernyataan cintanya untuk seorang sahabat masa kecilnya ditolak mentah-mentah karena ia dipandang menjijikkan selaku otaku.

Tapi terlepas dari semuanya, mungkin dari penjabaran tokoh utamanya aja kalian sudah ada bayangan seri ini kira-kira bakalan kayak apa.

Shinichi ternyata lulus seleksi pekerjaan itu. Lalu pada saat wawancara kerja, tahu-tahu saja dirinya telah dibius dan dibawa secara rahasia oleh perusahaan Amutech (yang sebenarnya merupakan kedok untuk JSDF) ke sebuah dimensi lain, melalui worm hole yang dikisahkan suatu hari tiba-tiba muncul begitu saja di kedalaman belantara Aokigahara, ke dunia ajaib di mana Kekaisaran Suci Eldant terletak.

Tugas Shinichi selama di Eldant adalah menjadi ‘misionaris’ yang akan menyebarkan budaya moe di sana—sehubungan bedanya budaya dan bahasa yang ada di Eldant, lalu para penduduk di sana, yang terdiri atas manusia, demi-human, serta elf; hanya memperlihatkan reaksi mencolok terhadap produk-produk anime, manga, dsb. dari Akibahara. Lalu suatu konflik ditakutkan bisa pecah apabila hubungan baik antara dua negara tetangga baru ini tak terjalin secepat mungkin.

Mizugi no Mokushiroku

Outbreak Company sejak awal tampil sebagai anime yang lagi-lagi mengetengahkan soal budaya otaku. Ada seorang temanku—dan kuyakin juga ada orang-orang lain—yang menjadi tak tertarik mengikutinya karena temanya ini. Mungkin karena bosan atau gimana. Tapi terus terang, it’s not that bad. Pada beberapa bagian—yang mungkin bahkan bisa bikin terkesima orang-orang yang menganggap diri mereka otaku sendiri—seri ini bahkan bisa dibilang bagus.

Seperti yang bisa dilihat dari sejumlah key visual-nya, latar dunia Eldant di mana sebagian besar seri ini berlangsung itu kelihatan benar-benar enak dilihat. Arsitektur istana di ibukotanya menurutku benar-benar keren. Maksudku di sini itu benar-benar keren setara level JRPG yang meledak di pasaran.

Ceritanya memang enggak pernah berkembang jauh-jauh dari tempat-tempat yang ada sih; dalam hal ini istana Eldant, sekolah yang dibangun Shinichi, serta rumah besar yang dipercayakan oleh penguasa Eldant, Pertalka Anne Eldant III pada Amutech. Tapi tempat-tempat yang ada itu dioptimalkan sebaik mungkin. Cukup baik sehingga kita sebagai penonton bahkan takkan kesulitan membayangkan denah interior masing-masing tempat dengan berkhayal dikit.

Oya, soal ceritanya sendiri, menyinggung sekolah yang kusebut di atas, situasinya enggak sepelik itu sih. Tapi aku mesti mengakui kalau perkembangannya memang menarik. Rupanya sebagian besar penduduk di Eldant itu buta huruf, dan ada pembagian kasta yang lumayan dominan di sana. Untuk misinya, Shinichi tak punya pilihan selain sekalian saja mengajarkan mereka membaca. Tindakannya ini, kayak situasi di mana pendidikan mulai diberlakukan di koloni-koloni jajahan gitu, dengan segera memicu kontroversi.

Jadi walau seri ini masih mengetengahkan lelucon-lelucon soal ukuran dada, pakaian renang, dan sejumlah hal lain terkait fanservice, Outbreak Company sudah bisa kuterima sebagai seri yang lebih dari lumayan semata-mata karena itu.

Si Shinichi sendiri… sebenarnya dia bukan karakter yang menarik-menarik amat sih. Dirinya itu sangat otaku. Tapi enggak terlalu kelihatan. Pastinya dia bukan jenis karakter yang langsung bikin kamu kimochi warui. Aku juga enggak yakin kenapa aku ngerasa perlu ngomentarin begini. Tapi kesannya kayak… seperti apapun kesan awal kamu terhadap seri ini, suka apa enggaknya kamu tetap bakal tergantung pada sejauh mana kesukaan-kesukaanmu sejalan dengan kesukaan-kesukaan Shinichi!

…Oke. Itu kedengeran aneh. Tapi aku serius merasa begitu.

Sebagai contoh. Ada dua heroine utama di seri ini. Yakni Pertalka yang kusebut di atas dan pelayan pribadi yang ditugaskan mengurusi Shinichi, maid half-elf Myucel Foaran. Dari segi desain karakter, keduanya memiliki ukuran dada di bawah ukuran ideal seleraku! Tapi itu enggak berarti aku enggak bisa menghargai mereka!

Sama seperti soal tema kesetaraan derajat yang seri ini angkat, menonton Outbreak Company mengingatkanku akan betapa pentingnya kita menghargai pendapat dan cara pandang orang lain sekaligus menerima perbedaan-perbedaan di antara kita!

Cuma karena temanku yang suka kappa itu jauh lebih suka pettanko ketimbang cewek-cewek yang lebih berisi, itu enggak berarti aku mesti membenci dia karena terus-terusan ngungkit soal ukuran dada tiap kali kami ngomongin soal cewek!

…Oke. Sebenernya, itu alasan bagus juga buat membenci dia sih.

Tapi intinya, itu enggak berarti aku jadi enggak bisa menghargai daya tarik cewek-cewek dengan ukuran dada yang lebih kecil. Dan mungkin itu yang jadi alasan kenapa Outbreak Company menjadi salah satu seri yang lebih kuhargai pada musim lalu.

Terlepas dari semuanya, hal paling seru dari seri ini adalah pada bagaimana kamu bisa menebak-nebak berbagai referensi yang seri ini buat terhadap seri-seri anime lain. Ada banyak sekali seri-seri yang Amutech impor ke Eldant yang agak dipelesetkan judulnya, baik dalam bentuk poster pajangan maupun jajaran buku di rak di latar belakang. Lalu yang bikin aku terkesan adalah betapa luas cakupan genre yang dipilihnya. Menjelang akhir penayangan, bahkan ada satu referensi yang benar-benar tak kusangka yang tiba-tiba saja muncul.

Pada setiap episode, ada profil karakter yang disampaikan yang membeberkan apa seri anime atau manga serta karakter favorit mereka. Koganuma Minori, perwira JSDF perempuan yang ditugaskan dalam pengawalan Shinichi, sebenarnya adalah fujoshi yang menyukai BL. Dan walau agak merinding, aku enggak bisa enggak ketawa saat kemudian terungkap dia berhasil mempengaruhi Garius En Cordbal, ksatria Eldant sekaligus sepupu Pertalka yang bishonen dan berkesan awal dingin dan serius, untuk mulai tertarik pada BL juga.

Kau memang enggak bisa berharap banyak pada perkembangan ceritanya, mengingat Outbreak Company memang bersifat komedi. Tapi perkembangan apa yang ada itu memang menarik. Visualnya bagus. Audionya lumayan. Seri ini memang terkadang membawa kita pergi ke tempat-tempat aneh. Tapi seenggaknya kita selalu bisa balik dengan selamat.

Kalau kau jenis orang yang merasa sudah mengikuti perkembangan budaya visual Jepang ini sejak lama, maka ada kemungkinan kau bisa menikmati Outbreak Company. Dua belas episode untuk seri sejenis ini biasanya durasi yang pas. Tapi aku enggak bisa enggak berharap untuk sekali ini durasinya lebih panjang.

(Apa? Apa saya enggak ada komentar soal Myucel? Apa kamu minta aku komentar soal desain baju maidnya?)

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: B+; Perkembangan: C+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B

Iklan

One Comment to “Outbreak Company”

  1. aku juga penyuka pettanko…..

    …… bagus sih, meski perkembangannya ketebak, tapi tetep aja menarik 🙂
    awalnya aku sama sekali ngeremehin anime ini -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: