Ginga Kikoutai Majestic Prince

Mungkin ada hubungannya dengan besarnya budget untuk animasi CG-nya. Tapi bagiku dan beberapa orang lain, salah satu pertanyaan terbesar yang melanda umat manusia di dekade 2000an adalah: “Apa di dunia ini enggak ada orang bisa bikin anime mecha yang rame kayak dulu?!”

Apa yang aku maksud di atas itu seri-seri yang ‘rame’ ya. Atau dengan kata lain, seru.

Code Geass: Lelouch of the Rebellion memang seru, tapi itu bukan seri yang bergenre mecha sepenuhnya. Eureka Seven dan sekuelnya, Eureka Seven AO, memang memuaskan dan punya bagian-bagian yang keren. Tapi ada juga bagian-bagian abstrak yang bagi sebagian orang bakal susah dipahami. Kalau soal kedua seri Aquarion yang lebih mengetengahkan cinta, itu enggak usah ditanya. Lalu seri-seri lain yang belum kusebutkan, termasuk sejumlah seri Gundam, selalu kayak punya elemen-elemen yang sebaliknya malah bisa bikin orang malas.

Belakangan aku nyadar, mungkin aku merasa kayak gitu lebih karena bias nostalgia pribadi aja sih. Tapi perasaan tersebut anehnya terobati begitu mengikuti Ginga Kikoutai Majestic Prince (‘ginga kikoutai’ kira-kira berarti ‘armada berzirah angkasa raya’) yang usai tayang beberapa waktu lalu.

Majestic Prince agak menyerupai anime-anime super robot yang menjamur di dekade 70an dan 80an. Ada pihak baik yang jelas, ada pihak jahat yang jelas, lalu ada sejumlah misteri yang menambah bumbu dalam cerita. Lalu sebagian besar durasinya secara konsisten menampilkan apa sebenarnya yang diinginkan semua penggemar mecha: adegan-adegan aksi antar robot-robot raksasa yang seru dan keren.

Seri ini diangkat dari seri manga Majestic Prince (tanpa tambahan embel di awal) karangan Ayamine Rando (yang menangani cerita) dan Niijima Hikaru (yang menangani gambar). Agak unik untuk kasusnya, seri ini diserialisasikan di media online HERO’s (bisa coba dilihat di heros-web.com). Kayaknya ini juga menjadi seri pertama  dari majalah tersebut yang diangkat menjadi anime.

Seperti yang pernah kusebutkan dalam postingan lain, aku pertama tertarik dengan Majestic Prince karena Ayamine-sensei sebelumnya menangani seri manga GetBackers yang dulu kuikuti dengan lumayan setia. Versi animenya juga menandai kembalinya Hirai Hisashi sebagai desainer karakter, yang sebelumnya dikenal dengan desain-desain karakternya yang rupawan di seri Gundam SEED. Sutradara dan penulis skenarionya sendiri masing-masing meliputi Motonaga Keitaro, Yoshida Rieko, serta Shimo Fumiyuki. Musiknya yang pas diaransemen oleh Watanabe Toshiyuki.

Animasinya sendiri dikerjakan melalui kerjasama antara studio Dogakobo dan Orange, dan pertama ditayangkan pada paruh awal tahun 2013.

Downloaded Emotions

Aku belum tahu detilnya. Tapi cerita anime Majestic Prince kelihatannya lumayan berbeda dibandingkan versi manganya.

Garis besar ceritanya kurang lebih seperti ini.

Tahun 2110, umat manusia telah melakukan penjelajahan ke titik-titik terjauh tata surya untuk menemukan sumber-sumber daya alam baru. Namun penjelajahan mereka terkendala bersama kemunculan ras makhluk asing misterius bernama Wulgaru yang mulai menyerang pos-pos penjelajahan Bumi di luar angkasa dengan teknologi mecha mereka yang asing dan canggih.

Suatu proyek militer bernama kode MJP (kependekan dari Military Joint… Protocol?) yang dicanangkan oleh organisasi GDF (Global Defense Force) kemudian dimulai untuk mengujicoba lima mecha eksperimentasi baru AHSMB (Advanced High Standard Multipurpse Battle device) yang akan dikirim ke garis depan pertahanan melawan Wulgaru. Mereka yang akan menjadi pilot dari mesin-mesin ini adalah lima siswa ‘gagal’ dari sekolah militer Garanceries yang tergabung dalam Team Rabbits dan…

Aaaargh. Intinya gitu deh!

Pokoknya, seri ini memaparkan petualangan remaja 16 tahun Hitachi Izuru dan kawan-kawannya sesudah mereka dengan agak dipercepat ‘diluluskan’ dari sekolah mereka untuk dikirim ke berbagai misi di garis depan. Selain Izuru yang agak kekanakan dengan cita-citanya untuk menjadi ‘pahlawan’ dan memiliki hobi menggambar komik, Team Rabbits terdiri atas:

  • Asagi Toshikazu; paling tua di antara teman-temannya, tapi memiliki masalah asam lambung yang terkait rasa gugup dan percaya dirinya.
  • Kugimiya Kei; seorang gadis kurus tinggi yang memiliki kegemaran membuat kue-kue yang teramat sangat manis,
  • Irie Tamaki; seorang gadis bertubuh pendek namun sangat well endowed yang memiliki pengharapan teramat besar untuk mendapatkan cowok; tapi kecendrungannya untuk menyatakan cinta secara langsung pada setiap cowok ganteng yang ditemukannya sejauh ini membuatnya selalu ditolak.
  • Suruga Ataru; seorang anak berkacamata yang menjadi maniak permesinan dan senjata.

Keberhasilan mereka memutar keadaan dalam suatu upaya evakuasi di misi pertama mereka kemudian melejitkan status mereka menjadi semacam selebriti di Bumi. Sebagai pasukan militer pertama yang memperoleh kemenangan atas mereka, Team Rabbits kemudian menjadi sumber harapan baru untuk terlindunginya Bumi dari ancaman Wulgaru, dengan nama seleb mereka Majestic Prince.

Blast Off!

Sekilas, ceritanya mungkin terdengar kayak sesuatu yang enggak serius. Kenyataannya memang lebih banyak begitu sih. Tapi para staf yang menanganinya berhasil memasukkan sejumlah hal… mendalam sehingga ceritanya terasa lebih berarti dari yang kusangka: rasa takjub Izuru dan kawan-kawannya sesudah mereka berhasil melakukan apa yang disangka tak mungkin; kenyataan mereka adalah anak-anak yang dimodifikasi genetiknya dan sekaligus dihapuskan ingatan masa lalunya; serta betapa mereka sama-sama sudah tak punya kerabat lain di Bumi dan hanya bisa saling menggantung pada satu sama lain.

Sebagian besar durasi episode-episodenya memang ringan. Ada banyak percakapan konyol, biasanya dengan melibatkan sisi-sisi aneh masing-masing. Tapi sisi konyol tersebut tak pernah sampai overdosis. Lalu seiring makin banyaknya episode, perasaan bahwa ‘sesuatu yang salah mungkin bakal terjadi’ secara berangsur semakin kuat.

Singkat kata, konsepnya simpel. Tapi eksekusinya bisa dibilang beneran baik.

Visualnya termasuk sederhana untuk ukuran-ukuran anime zaman sekarang. Malah, sampai agak mengingatkanku akan anime-anime mecha dekade 90an. Tapi lebih banyak sumber daya untuk animasinya jelas digunakan untuk adegan-adegan mecha, yang kadang-kadang secara keren berlangsung begitu rumitnya sampai kita kebingungan dengan apa-apa yang tengah terjadi sebelum klimaksnya berakhir.

Desain karakter Hirai-san yang mengadaptasi desain asli dari Niijima-sensei terlihat lebih disederhanakan dibandingkan di Gundam SEED. Memang kalah mengesankan, dengan jumlah kebutuhan goresan garis lebih sedikit. Tapi itu mungkin untuk memudahkan kerja para animator. Stasiun luar angkasa Star Rose dan kapal induk Godinion yang menjadi markas GDF juga digambar dengan simpel. Tak banyak detilnya yang masuk ke latar belakang. Tapi soal mecha-mechanya, semua mecha yang tampil di sini dan segala adegan terkait dengannya dibikin jadi benar-benar keren!

Plot maupun karakterisasi Majestic Prince memang tak istimewa. Ceritanya memang tak sampai masuk ke detil soal banyak hal: seperti soal pembentukan aliansi antar negara-negara untuk melindungi Bumi ataupun urusan selebritas Team Rabbits. Tapi hal utama yang difokuskan, yakni para karakter dan aksi mechanya, secara konsisten terpapar dengan baik.

Yah, ini yang paling kumaksud dengan ‘rame’ sih.

Ada seorang gadis misterius bernama Teoria yang menarik sesuatu dalam diri Izuru (yang membuat Kei gundah sehubungan perasaan yang dipendamnya terhadap Izuru). Ada seorang pangeran bernama Jiart yang secara khusus menetapkan Izuru dan AHSMB miliknya sebagai buruannya. Lalu ada teka-teki tentang sifat AHSMB sebenarnya, yang agak dicirikan dengan bagaimana kepribadian beberapa karakter berubah setiap kali dikemudikan.

Aku enggak pengen nge-spoiler lebih banyak.

Tapi intinya, Majestic Prince adalah jenis anime yang mulai kau ikutin karena ‘lumayan’ dan ‘enggak jelek’, tapi ujung-ujungnya bakalan kau tuntaskan karena emang ke sana-sananya jadi makin rame. Pertempuran terakhirnya intens. Soundtrack-nya berkesan. Lalu para karakternya lambat laun memang bisa agak kau sayang.

Pit Crew

Kayak biasa, kita beralih ke bahasan soal mecha.

Setiap AHSMB terdiri atas dua bagian: bentuk mecha humonoid ramping yang dimiliki kelima unitnya di bagian dalam, serta bagian zirah dan arnamen yang menjadi bagian luar. Perbandingan paling mudahnya, kesemuanya terstruktur seperti Gundam Virtue/Nadleeh di seri Gundam 00. Tapi bentuk luar semuanya pada akhirnya berbeda-beda, dengan fungsi utama berbeda-beda pula, dan kelimanya dibedakan oleh warna yang menjadi semacam kodenya.

Red 5 dan Blue 1 yang masing-masing dikemudikan oleh Izuru dan Asagi mirip dengan satu sama lain sebagai mecha serbaguna, walau Blue 1 lebih terspesialisasi untuk pertempuran-pertempuran jarak dekat. Aku beneran menyarankan agar kalian mencari sendiri bentuk desain-desain mechanya di Internet karena hasilnya beneran keren. Aku enggak bisa bicara banyak soal arnamen karena arnamennya ada begitu beragamnya.

Team Rabbits beraksi lewat kerjasama. Karenanya Purple 2 yang dikemudikan Kei berperan penting dalam urusan sensor dan telekomunikasi. Kei yang mengatur rencana pergerakan teman-temannya sesuai dengan komando yang diterimanya dari Izuru. Bentuk Purple 2 sendiri ramping dengan semacam lingkaran logam yang di tengahnya. Persenjatannya minim, dengan hanya satu tembakan sinar dan sepasang gatling, tapi memiliki medan perisai yang cukup kuat.

Tamaki dengan Rose 3 menggerakkan mecha paling besar dibandingkan AHSMB lainnya, dengan pendorong bertenaga besar dan senjata kelas berat. Rose 3 didesain untuk menjadi pion yang menyerbu masuk ke formasi musuh dan mengacaukannya. Kalau aku boleh menyebut, desainnya lumayan mengingatkan pada R-3 Powered dari seri Super Robot Wars.

Gold 4 yang dipakai Suruga adalah mecha spesialis serangan jarak menengah dan jauh. Fungsinya khusus sebagai sniper dan support, walau pilihan arnamen yang dapat digunakannya terbilang sangat bervariasi.

Pada pertengahan seri, Team Rabbits kedatangan anggota baru Kuroki Ange (yang kurang jelas apakah ia lelaki atau perempuan) yang mengemudikan Black 6, yang dikhususkan untuk pertempuran jarak dekat dan menengah. Berbeda dari AHSMB yang dirancang agar beroperasi dengan mendukung satu sama lain, Black 6 dengan persenjataan beratnya kelihatannya dibuat untuk mampu beraksi sendiri dengan menangani banyak lawan sekaligus.

Berbeda dari AHSMB lainnya yang memiliki pit crew masing-masing untuk urusan perawatan dan perbaikannya di tengah pertempuran (seperti tim mekanik di balapan Formula 1; kru Izuru terdiri atas sebuah tim mekanik gabungan yang kelihatan paling normal, kru Asagi terdiri atas sebuah keluarga yang kelihatannya telah menjalani bisnis ini turun-temurun, kru Kei terdiri atas sekelompok perempuan feminin yang membuat Kei merasa ‘harus berjuang lebih keras,’ kru Tamaki terdiri atas sekelompok lelaki otaku gemuk yang tak tertarik dunia 3D, dan kru Suruga adalah sejumlah lelaki berotot yang sama-sama maniak senjata seperti dirinya), Black 6 seolah dibuat agar sanggup ditangani dan diperbaiki oleh Ange seorang diri.

Lalu kontras dengan desain mecha AHSMB yang rumit (dan sekaligus memudahkan untuk mengikuti perkembangan apa yang terjadi dalam pertarungan), mecha-mecha Wulgaru terlihat lebih seperti lipatan kertas dengan bentuk permukaan yang organik. Kesemuanya digambarkan mampu beraksi dengan teramat efektif, dengan kecepatan, kapasitas menyerang, dan kemampuan bertahan yang jauh melampaui teknologi yang dimiliki di Bumi.

Seiring perkembangan cerita, terungkap pula bahwa ras Wulgaru adalah suatu ras humanoid aristokratik yang berasal dari suatu tata surya lain, yang secara teratur ‘memanen’ gen dari makhluk-makhluk hidup di planet-planet lain untuk ‘memperkaya’ gen mereka sendiri, tapi dengan membawa kerusakan dan penghancuran ke manapun mereka pergi.

Semakin memuncaknya perang, para Jendral Wulgaru tampil dengan mecha-mecha berbentuk sederhana, tapi sama-sama menonjol dibandingkan lainnya dan enak dilihat.

…Aku sebenarnya ingin sekali mendeskripsikannya. Tapi entah mengapa malah susah.

Eniwei, Jenderal-Jenderal Wulgaru selain Jiart meliputi: Garukie, ‘kaisar’ Wulgaru yang sejauh ini belum maju ke medan perang; Klein, seorang pemarah berwujud anak-anak yang mechanya sangat cepat sekaligus berdaya tahan besar; Lada, seorang pengecut?; Lumez, yang diam-diam membantu Jiart dalam membangkangi perintah Garukie; Dolgana, yang setia dan menggunakan mecha kekar teramat tangguh; serta Lutiel yang merupakan satu-satunya Jenderal perempuan dengan mecha bersayapnya yang berbentuk burung.

Dorongan genetik dan naluriah menjadi tema berulang dalam seri ini. Ini tercermin pada bagaimana masing-masing AHSMB digerakkan oleh sesuatu bernama JULIA System yang bereaksi terhadap ‘naluri’ masing-masing pilotnya. Izuru dan kawan-kawannya harus terlebih dahulu menghadapi kelemahan dan rasa takut mereka sendiri sebelum mampu menggerakkan AHSMB mereka secara penuh.

Ada sejumlah hint di sepanjang cerita menyangkut bahaya yang dapat dibawa oleh teknologi AHSMB ini. Sampai akhir, memang tak sampai banyak diungkap. Tapi ini jadi suatu hal teramat keren saat kesetiap AHSMB digambarkan dapat berubah menjadi sesuatu yang ‘lebih’ lagi. (Serius, entah kenapa aku malah enggak kepikiran soal Evangelion pada titik ini.)

Aku Membayangkan…

Panitia produksi anime ini sudah mempertimbangkan untuk mulai membuat season kedua. Memang ceritanya memuncak dengan duel penentuan antara Izuru dan Jiart, dalam pertempuran besar-besaran untuk menghancurkan gerbang dimensi yang digunakan Wulgaru, tapi memang ada sejumlah teka-teki menggantung yang masih tersisa; seperti soal jati diri Komandan Simon Gato dan lainnya.

Aku pribadi menantikan saat ketika sorotan mulai lebih banyak diberikan ke manganya. Tapi sudahlah dulu soal ini.

Aku seriusan puas dengan seri ini.

Mungkin memang tak meninggalkan kesan semendalam sejumlah seri lain. Tapi aku enggak akan menyangkal gimana Majestic Prince menjadi anime mecha yang paling bisa kunikmati dalam sepuluh tahun terakhir.

Sebenarnya masih ada aspek menarik lainnya yang bisa kubahas. Tapi karena tak tergali secara mendalam, aku tak begitu tahu mengungkapkannya baiknya bagaimana.

Kalau ada yang merasa kurang sreg dengan karakterisasinya, kusarankan untuk coba diikuti dulu. Ada daya tarik tertentu pada seri ini yang beneran lebih dalam dari yang terlihat.

Para karakternya yang paling sampingan sekalipun memiliki peran. Memang terkesan dibuat-buat, tapi tetap menyenangkan melihat hubungan antara satu dan lainnya. Lalu Izuru yang kekanakan bisa berubah menjadi sangat keren saat ia mempertaruhkan nyawa dalam memimpin dan melindungi teman-temannya untuk membawa mereka meraih kemenangan.

Kalau kalian suka tontonan mecha, seri ini bisa jadi sesuatu yang benar-benar akan kau kenang.

Penilaian

Konsep: C; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi A; Kepuasan Akhir: A-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: