GJ-bu

Belakangan ada yang bertanya soal apa ada anime harem yang enggak ada fanservice-nya.

Jawabannya, sebenernya ada. Bahkan salah satunya keluar belum lama ini.

GJ-bu, yang diangkat dari seri light novel buatan Araki Shin, diadaptasi ke bentuk anime oleh studio Dogakobo dan baru mengudara awal tahun ini.

Ini termasuk salah satu seri yang tak terlalu terdengar pada masa tayang musim semi tahun 2013. Tapi pada saat aku mencoba mengikuti perkembangannya, aku lumayan terkejut karena hasilnya jauh lebih berkesan dari bayangan. Meski merupakan tipikal seri yang bercerita tentang ‘menghabiskan waktu bersama teman-teman dekat di suatu ekskul tertentu sepulang sekolah,’ GJ-bu agak berbeda karena daripada karakter yang semuanya cewek, ada satu karakter utama berjenis kelamin lelaki di dalamnya.

Memang jadinya secara efektif bergenre harem. Tapi sekali lagi, sama sekali enggak ada fanservice di dalamnya. (Aku juga sebenarnya masih belum sepenuhnya percaya ama hal ini.)

Enggak ada episode pantai atau kolam renang.

Enggak ada adegan salah masuk ruang ganti/toilet.

Enggak ada adegan terpeleset dan menimpa orang secara enggak sengaja. (Atau sebenernya ada cuma sayanya lupa?)

Sekilas, premis seri ini jadinya sempat mengingatkanku pada Seitokai no Ichizon. Terutama dengan bagaimana keduanya sama-sama seri yang merupakan ‘rangkaian adegan 4-kotak dalam bentuk prosa.’ (Hei, kalau kupikir, Seitokai no Ichizon juga tak punya kadar fanservice yang kentara.)

Makanya, aku semula mengira kalau aku akan biasa-biasa saja terhadap GJ-bu. Tapi sekali lagi, aku terkejut karena GJ-bu lebih bagus dari yang kukira. Ada suatu hal bagus yang disampaikan secara tersirat dalam seri ini. Enggak terlalu mengandalkan elemen-elemen keotakuan kayak Seitokai no Ichizon, walau mungkin enggak akan terlalu menarik perhatian penggemar di luar lingkup genre ini juga.

Class Hierarchy

GJ-bu bercerita tentang keseharian Shinomiya Kyoya di sebuah klub ekskul tertentu bernama GJ-bu (Klub GJ, dengan GJ kependekan dari ungkapan ‘Good Job’) yang maksud dan tujuan kegiatannya lumayan misterius.

Kyoya ceritanya adalah anak lelaki baik-baik yang selalu sopan dan baik hati, dan ceritanya ia menjadi anggota setelah ‘diculik’ oleh para anggota lainnya untuk dijadikan anggota baru.

Amatsuka Mao adalah ketua klub yang berbadan mungil, berambut coklat tebal, dan bersifat agak kekanakan. Ia dengan gampangnya mencantumkan julukan ‘Kyoro’ untuk Kyoya, dan menjadikannya semacam sasaran pelampiasan rasa iseng dan bosannya (hobinya menggigit Kyoro bila marah).

Turut menjadi anggota bersama mereka adalah Amatsuka Megumi, adik perempuan Mao yang seangkatan dengan Kyoya, yang sangat lembut, feminin, tenang, dan baik hati (dan berpenampilan lebih dewasa daripada Mao), serta memiliki hobi merajut dan membuatkan teh serta kue bagi para anggota lainnya; Sumeragi Shion, teman seangkatan Mao yang kalem dari sebuah keluarga penuh prestasi, merupakan seorang pemain catur jenius, yang hobinya bermain catur dengan seorang juara misterius melalui Internet; serta Kirara Bernstein, seorang murid keturunan luar negeri dengan bahasa Jepang terbata-bata, yang berbadan paling besar dibanding yang lain, hobi memakan daging, dan punya semacam kemampuan misterius untuk berkomunikasi dengan kucing.

Mungkin kalian mikirin pemaparan sifat karakternya ini maksudnya apaan. Dan terus terang, aku juga merasa kalau cuma tahu sebatas gini doang memang enggak cukup buat menarik perhatian soal seri ini.

Tapi eksekusinya bagus. Beneran bagus. Ada suatu kenyamanan tertentu dengan berbagai tingkah dan keseharian mereka, walau apa-apa yang terjadi mungkin enggak selalu bisa dibilang ‘menarik’ buatmu.

Maksudku, agak langka buat anime-anime jenis kayak gini, ada perkembangan karakter tersamar yang dialami oleh Kyoro dan kawan-kawannya. Ada teka-teki berkelanjutan soal sebenarnya Klub GJ ini maksudnya buat apa. Tapi lambat laun di penghujung cerita, kalian mungkin bakal dapat gambarannya—walau mungkin enggak akan terlalu yakin soal bagaimana cara mengungkapkannya lewat kata-kata.

Ruang klub GJ-bu yang menjadi latar utama seri ini memiliki rak-rak komik dan bacaan, sebuah komputer yang biasanya digunakan oleh Shii, sebuah meja kotatsu di tengah ruangan yang biasanya menjadi tempat mangkal, deretan sofa yang diduduki Kirara sembari makan, lemari dengan berbagai barang bekas aneh, serta dapur yang biasanya menjadi tempat Megu mengasyikkan diri dalam membuat berbagai macam hidangan.

Itu jenis ‘tempat nyaman’ yang bisa bikin orang mau berkali-kali balik lagi. Jadi kurasa aku mengerti juga daya tarik apa yang membuat seri novelnya punya penggemar.

Belakangan anggota bertambah dengan masuknya Kannazuki Tamaki, seorang gadis agak mungil (meski tak semungil Mao-buchou) yang kegemarannya untuk ngemil tanpa menjadi gendut kerap membuat Megu gemas. Tamaki masuk sebagai anggota baru di pertengahan seri saat pergantian tahun ajaran, dan seperti Kyoro, dirinya juga jadi korban penculikan para sempainya. (Sepertinya ada kriteria tertentu yang Mao miliki dalam memilih anggota-anggota potensial.)

Turut meramaikan cerita, adalah Mori, pelayan setia keluarga Amatsuka yang serba bisa dan sering mengantarkan barang ke ruang Klub GJ; Shinomiya Kasumi, adik perempuan Kyoro yang ceria dan masih duduk di bangku SMP; Amatsuka Seira, teman sekelas Kasumi sekaligus adik perempuan Mao dan Megu yang anggun dan dewasa (dan kelihatannya menyimpan semacam kepribadian ganda yang memusuhi Kyoro karena kedekatannya dengan kakak-kakaknya); serta Geraldine Bernstein, adik perempuan Kirara (yang tak kalah kuatnya dari kakaknya) yang menjadi teman sekolah Kasumi juga sesudah pindahan dari luar negeri.

Terinspirasi oleh kegiatan yang kakak-kakak mereka lakukan sepulang sekolah, Kasumi dkk terinspirasi untuk mendirikan Klub GJ di sekolah mereka sendiri. Klub GJ Divisi SMP atau yang kerap disebut Chuto-bu ini yang menjadi fokus seri novel spin-off berjudul GJ-bu Chuto-bu, yang pada saat ini kutulis masih berlanjut.

Kyaa! Kyaa!

Ngomongin soal teknis, meski enggak sampai bisa dibilang memukau, GJ-bu merupakan salah satu seri paling menarik di masanya. Kualitas animasinya terbilang bagus, dengan desain-desain karakter imut dan penggunaan warna-warna cerah.

Fujiwara Yoshiyuki yang menjadi sutradara kelihatannya piawai membuat seri-seri dengan tema-tema kayak gini. Eksekusi ceritanya beneran bagus. Kerap ada jeda selama sekitaran semenit selama para anggota mengerjakan urusan mereka masing-masing dan baru berbicara kemudian, dan itu berlangsung dengan begitu wajar, tanpa kerasa terlalu motongin durasi episode.

Apa yang menurutku paling menarik adalah penggambaran adegan-adegannya sih. Awalnya kukira cuma aku; tapi semakin aku memperhatikan opening dan closing-nya (yang cukup sering berubah), makin aku yakin kalau orang-orang yang nganimasiin seri ini benar-benar jago. Ada semacam pewaktuan yang pas untuk setiap adegan. Jadinya ini bukan cuma seri komedi yang mengandalkan desain karakter dan isi percakapan. Latar cerita, mimik para karakter, dan sebagainya, walau enggak sampai segitunya, termasuk menarik dan enak untuk dilihat juga. Faktor nuansa beneran berperan dengan kuat di seri ini, dan mungkin itu yang membuatnya istimewa.

Naskah yang ditangani oleh Koyasu Hideaki punya bagian lemah pada beberapa bagian—tepatnya bagian-bagian yang sudah enggak bikin ketawa, lalu malah bikin jadi canggung buat bereaksi. Tapi kemungkinan cerita di novelnya memang kayak gitu. Jadi kalau sudah begitu kurasa apa boleh buat.

Soal audio, seri ini dihiasi lagu-lagu yang juga lebih bagus dari yang semula kebayang. Sekali lagi, semua opening dan closing patut diperhatikan. Mungkin enggak akan terlalu kelihatan berhubung ceritanya kayak gitu juga sih, tapi pengisian suara para karakternya juga termasuk lumayan.

Sebagai tambahan , ilustrasi dan desain karakter awal seri ini yang sekilas-biasa-saja-tapi-kalau-diperhatikan-ternyata-keren dibuat oleh Aruya. Desain karakternya adalah jenis yang lumayan seimbang elemen-elemennya, dan enggak terlalu berat ke gaya gambar untuk selera tertentu.

My Samurai Master

Kedua belas episode GJ-bu kelihatannya secara efektif telah merangkum kesepuluh buku novelnya, yang diterbitkan antara tahun 2010 dan 2012 di bawah label Gagaga Bunko milik Shogakukan. Ceritanya secara pas mencakupi masa dua tahun pertama selama Kyoro menjadi anggota GJ-bu semenjak ia masuk SMA, dan diakhiri dengan upacara kelulusan Mao, Shion, dan Kirara. (Adegan di mana kini ia mesti bekerja keras sebagai murid-murid kelas tiga bersama Megumi entah kenapa bagus.)

Meski dikisahkan datang dari Canada, sebenarnya tak benar-benar jelas kakak-beradik Kirara dan Geraldine berasal dari mana. Seperti pada kebanyakan anime, bahasa Inggris yang mereka gunakan itu aneh. Tapi intinya, mereka orang asing. Jadi sudahlah.

Kayak biasa, yang kayak gini mendingan jangan terlalu dipermasalahkan.

Sisanya, GJ-bu adalah seri tentang keseharian dan hal-hal biasa yang mungkin bakal disukai oleh orang-orang di luar penggemar genre ini. Soalnya, kayaknya, ada suatu hal ‘lebih’ yang tersirat di dalamnya. Ada suatu perkembangan yang dialami oleh Kyoro dan teman-temannya, yang mungkin engga bisa dibilang bagus, tapi juga enggak bisa dibilang jelek juga. Kyoro yang awalnya lembek secara berangsur mulai punya pendirian, Shion yang awalnya canggung dengan hal-hal yang orang lain normal perlahan mulai terbuka, dsb. Gimanapun, hal-hal ini yang membuatku jadi ketarik ama seri ini.

Engga pernah jelas persisnya karena apa (maksud sebenarnya Klub GJ adalah mendorong para anggotanya untuk mengembangkan diri?). Tapi ada kepuasan dan rasa sayang tertentu sesudah menonton.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B-; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: