Gantz

Manga aksi sains fiksi Gantz karangan Oku Hiroya berakhir belum lama ini.

Aku agak skeptis kalau seri ini bisa dilisensi. Jadi mungkin ada perlunya juga kalau ini kusempetin dibahas. (Kalau kupikir, dalam rentang waktu antara tahun 2012-2013 ini, ada banyak banget seri manga populer dan panjang yang akhirnya berakhir. Mungkin dalam beberapa bulan ke depan, bahkan Naruto pun akan menyusul sebagai salah satunya.)

Ketenaran Gantz sempat mencuat beberapa kali di sepanjang masa serialisasinya. Pertama, di tahun-tahun awal waktu manganya baru mulai terbit (di majalah Weekly Young Jump milik Shueisha, di awal banget dari dekade 2000an). Kedua, pada tahun-tahun saat adaptasi animenya mengudara (yang dibuat Gonzo di tahun 2004, dua season, dengan total 24 episode, dengan Itano Ichiro yang terkenal berkat adegan-adegan mecha beliau sebagai sutradara). Ketiga, saat dua film layar lebar live action-nya dibuat pada tahun 2011.

Gantz pertama-tama mencolok karena  cara Oku-sensei membuatnya. Daripada menggambarnya begitu saja, sesudah membuat name per halaman, beliau menciptakan model 3D dari para karakter dan latar belakangnya menggunakan komputer. Sesudahnya baru beliau menambahkan tone, render, balon kata serta efek suara. Prosesnya memang ribet dan enggak gampang, tapi dengan begitu beliau kayak menciptakan semacam kedinamisan sekaligus konsistensi antar panelnya gitu. Terutama terkait latar dan rincian permesinan yang rumit.

Teknik ini kurang berhasil pada manga beliau sebelumnya, Zero One. Tapi dalam implementasinya di Gantz, hasilnya sama sekali enggak buruk.

Ngomong-ngomong soal itu, aku termasuk orang yang pertama tahu tentang Gantz dari animenya. Saat animenya diumumkan, orang-orang di forum yang dulu kudatangi ramai membandingkannya dengan versi manganya. Berhubung aku belum pernah dengar tentangnya waktu itu (Internet waktu itu belum semudah sekarang), aku tentu aja nanya kalau seri ini tentang apa. Terus konyolnya, enggak ada satupun jawaban jelas yang kuterima dari orang-orang yang di sana.

“Pokoknya ada orang-orang mati, terus pake baju item, bawa senjata, terus ngeburu alien! Pokoknya gila gitu deh!”

Reaksi yang kudapat intinya kira-kira kayak gitu.

Tapi pada waktu itu, ada dua hal yang seenggaknya berhasil kutangkap: Satu, ceritanya eksplisit. Ini jenis cerita dengan tingkat kekerasan dan seksual lumayan tinggi (walau versi manganya kudapati enggak seheboh dengan apa yang dulu temen-temen forumku omongin). Dua, alur ceritanya sendiri emang beneran gila.

Dieeeee! Dieeeeee! Dieeeeee!

Aku enggak terlalu mau masuk ke detil. Tapi intinya, ada dua orang sahabat lama, Kurono Kei dan Katou Masaru, yang terlibat dalam kecelakaan kereta bawah tanah gara-gara berusaha menolong seorang pemabuk. Kurono adalah seorang siswa SMA yang entah karena situasi antar anggota keluarganya atau gimana, tumbuh jadi seorang egois yang agak brengsek. Sedangkan Katou adalah teman lama Kurono yang tinggi besar dan dahulu begitu mengagumi sosok pemberani Kei semasa kecil (suatu hal yang agak enggak kebayang kalau ngelihat keadaan Kurono sekarang).

Keduanya mestinya tewas dalam kecelakaan itu. Tapi entah bagaimana, beberapa saat kemudian, mereka mendapati diri mereka malah berada di sebuah kamar apartemen di bilangan Tokyo (Tokyo Tower terlihat di kejauhan dari jendela). Mereka bukan cuma berada di ruangan itu bersama sekelompok orang lain yang tak mereka kenal—yang kelihatan sama bingungnya soal kenapa mereka semua bisa tiba-tiba berada di ruangan itu. Di ruangan yang kosong dari perabotan itu, yang ada hanya sebuah bola hitam logam besar yang belakangan mereka ketahui disebut Gantz.

Singkat cerita, semua orang di ruangan itu telah meninggal sebelumnya dalam berbagai keadaan. Lalu mereka semua diberikan kesempatan kedua untuk hidup, dengan syarat mereka menjadi budak Gantz dalam sebuah permainan(?) untuk membasmi alien-alien yang telah masuk ke Bumi…

Aku enggak mau masuk terlalu jauh. Soalnya ada begitu banyak hal tersirat yang Oku-sensei hadirkan dalam premis ceritanya sendiri.

Kurono dan Katou dulu akrab semasa SD. Namun kini mereka sama-sama SMA, dan telah tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang begitu berbeda. Ada cewek cantik berdada besar bernama Kishimoto Kei yang muncul di kamar apartemen Gantz dalam keadaan telanjang. Baru belakangan sesudah diperhatikan, dirinya ternyata telah menyilet pergelangan tangannya sendiri selagi mandi untuk bunuh diri. Ada politisi yang baru meninggal karena sakit. Ada… anjing yang enggak tahu kenapa ikut dipanggil. Ada yakuza. Ada korban-korban yakuza. Ada selebriti. Ada biksu. Lalu tentu saja, ada orang-orang ‘biasa,’ seperti seorang nenek bersama cucunya, atau sepasang suami istri bersama anak mereka yang masih kecil.

Semua orang hidup dengan masalah-masalah mereka sendiri-sendiri. Lalu saat masalah bersama muncul dan secara nyata mengancam mereka semua, sifat dan pribadi mereka yang sesungguhnya kemudian tampak ke permukaan. Terutama dengan rangkaian hal gila, yang kayak keluar langsung dari sebuah film sains-fiksi horor, yang kemudian secara terus-menerus harus mereka hadapi.

Cerita semakin berkembang dengan dibeberkannya fakta-fakta terkait Gantz di masa lalu. Muncul orang-orang seperti si anak SMP sombong Nishi Junichiro dan si super serba bisa Shion Izumi yang ternyata sudah tahu sebelumnya tentang Gantz. Lalu muncul pula indikasi bahwa cakupan pengaruh Gantz mungkin tak sebatas hanya di Tokyo semata…

You need, like, a break…

Salah satu sisi bagus Gantz adalah bagaimana semua ini bisa ditampilkan blak-blakan secara apa adanya gitu.

Gantz kayak punya salah satu narasi komik paling objektif yang pernah kutemuin. Kita enggak bener-bener dikasih tahu soal apa sesuatu itu salah atau benar. Oku-sensei seakan bilang kalau semua terserah kita mengintepretasikannya gimana. Sebab berhubung gaya gambarnya demikian, kita enggak pernah bener-bener tahu apa isi pikiran Oku-sensei saat maparin semua ini.

Seakan-akan kayak, di hadapan kematian, kedudukan manusia ataupun dari mana mereka berasal sebenarnya sama saja. Jadi kalau begitu, pada keadaan demikian, apa sesungguhnya yang membedakan kita?

Tapi terlepas dari sisi-sisi nakal beliau, Oku-sensei kelihatannya kayak orang yang memang peduli terhadap apa-apa yang terjadi di masyarakat. Karya lain beliau, Me-teru no Kimochi, yang beliau serialisasikan di tengah-tengah masa serialisasi Gantz, adalah karya yang kayak menyampaikan isi pikirannya dia.

Jadi, daripada mengungkapkannya secara blak-blakan melalui perkataan atau tindakan para karakternya. Oku-sensei memaparkan apapun yang mau disampaikannya lewat penggambaran nasib akhir para karakternya. Tapi itupun dipaparkan kayak sebagai hasil logis dari tindakan-tindakan yang mereka peroleh sendiri. Kayak, ‘dia sebelumnya kayak gini, sehingga enggak aneh kalo akhirnya dia mati.” gitu. Ada hal-hal enggak disangka yang kerap terjadi di luar perkiraan semula. Soalnya segalanya kayak di luar pakem cerita yang biasanya. Kadang hasil akhirnya bisa terkesan kejam. Tapi mungkin karena itu juga Gantz jadi sesuatu yang bisa diterima oleh orang-orang dari berbagai kalangan.

Salah satu kelemahan Gantz mungkin adalah begitu sedikitnya hal yang sepertinya diceritakan dalam satu babnya. Karena itu orang bisa penasaran dan merana setengah mati saat menunggu kelanjutan ceritanya. Apalagi dengan beberapa kali hiatus agak panjang yang sempat terjadi dalam serialisasinya.

Sekali lagi. Perkembangan ceritanya itu benar-benar gila. Saking serunya, seorang penggemar cowok yang sudah kecanduan bisa dibikin hampir engga peduli sama hal-hal seksi yang secara berkala Oku-sensei suka tampilkan.

Adegan-adegan aksinya itu intens dan enggak ketebak gitu. Berhubung ceritanya berbasis karakter, setiap karakter yang tampil (meski dia karakter sampingan), kayak selalu punya sisi yang sebelumnya enggak ditampilkan gitu. Kita enggak bisa bayangin skenario gimana seorang tokoh bakal mati. Tapi kita enggak bisa bayangin skenario gimana tokoh yang sama bakal bisa bertahan hidup juga.

Sama kayak adegan-adegan aksinya, ceritanya juga terus berkembang gitu. Kurono dan Katou enggak selamanya jadi tokoh utama. Gantz itu jadi kayak kumpulan potongan kehidupan dari berbagai orang.

Lucunya, sebagai cerita berbasis karakter, kita justru tak dibeberkan tentang nasib para karakternya sesudah cerita berakhir. Di satu sisi, ini agak mengecewakan. Tapi di sisi lain, aku ngerasa kayak Oku-sensei juga lagi berusaha bilang, kalau justru ini yang para karakternya paling anggap berarti.

Last Kiss

Mungkin perlu kusebutin, walau alur dan premis yang dihadirkan serupa, apa-apa yang ditonjolin dalam setiap versi cerita Gantz itu sebenarnya agak berbeda. Versi manga-nya terasa netral. Tapi latar cerita dalam animenya, misalnya, terasa suram dan nihil.

Bicara soal animenya sendiri, animenya kayak lebih menitikberatkan pada tema post-humanismenya. Kayak, soal hakikat kematian dan makna apa yang bisa ditemukan sesudahnya gitu. Adegan saat permesinan dan teknologi asing Gantz beraksi tentu saja menjadi daya tarik utamanya. Lalu adegan-adegan aksinya, walau agak diulur-ulur, harus diakui tergambar dengan teramat sangat luar biasa keren. Efek-efek senjata yang disediakan oleh Gantz tergambar secara jelas kayak gimana. Demikian pula dengan cakupan sesungguhnya dari  kerusakan yang dihasilkan.

Maksudku, jadi walau awal ceritanya kurang lebih sama, tema cerita di manga dan animenya sebenarnya berbeda gitu. Makanya enggak kerasa aneh saat akhir ceritanya dibikin berbeda. (Kasus yang lazim, berhubung saat animenya dibuat, serialisasi manganya secara lamban masih terus berlanjut.)

Omong-omong, cerita di animenya berakhir tak lama sesudah babak pertempuran melawan alien patung Buddha. Di versi ini, ceritanya mengambil jalurnya sendiri, dan secara keren berujung pada bagaimana Kurono membangkangi perintah Gantz dan membuat dirinya diburu oleh rekan-rekannya yang lain.

Ah, soal film layar lebarnya. Ceritanya, terutama pada film kedua (yang mengambil subjudul Perfect Answer), mengambil arah yang berbeda sama sekali. Kadar muatan moral dan kemanusiaan yang dihadirkan dalam anime dan manganya agak berkurang (mungkin malah nyaris hilang?). Mungkin aku perlu membahas ini secara terpisah. Tapi sebagai tontonan aksi sains fiksi yang dipenuhi efek khusus dan CG, walau agak mengecewakan karena karakterisasinya berbeda jauh dari konsep asalnya, kedua film ini termasuk keren.

Masih ada beberapa seri novel tentang Gantz yang kayaknya masih bisa kubahas. Cuma sayang tentangnya aku belum tahu terlalu banyak.

Aku nulis ini karena, seriusan, ini salah satu manga seinen yang menurutku patut diingat. Mungkin akunya saja yang belakangan sibuk. Tapi kayaknya pada saat manganya berakhir akhir Juni lalu, enggak ada seorangpun yang kukenal yang membicarakannya.

Tapi ya sudah deh.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: S; Audio: A; Perkembangan: C+; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-

Catatan: Perkembangan cerita di versi anime agak terlalu lambat, dan tak beranjak sejauh di manganya.

Iklan

4 Komentar to “Gantz”

  1. tunggu.. seingatku aku bikin status soal tamat serial ini dah..

    ak blm nonton versi animasi dan film keduanya yang Perfect Answer -___-

  2. bahas Ghost Hound juga dunk, Admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: