Air Gear

Aku punya sahabat seorang arsitek yang punya kecendrungan aneh buat menarik perhatian orang lewat karya-karyanya dia. Dia memulai biro arsiteknya sendiri dari nol, jadi sekarang ini dirinya belum terlalu dikenal. Tapi gambar-gambar yang dia bikin ngasih efek kayak gitu, terutama ke orang-orang dari luar negeri.

Lalu ceritanya, sekitar sepuluh tahun lalu, di awal-awal dekade 2000an, beberapa gambar yang dia bikin menarik perhatian beberapa orang yang kemudian mengundang dia buat bergabung ke dalam sebuah online art forum rahasia(?) yang namanya enggak akan kusebutkan, berhubung aku juga masih enggak yakin apa ini forum beneran ada apa enggak. Intinya, forum tersebut sesuatu yang mungkin mirip Deviant Art, tapi aksesnya konon dibatasi hanya untuk orang-orang tertentu. Mencari lewat search engine pun enggak bisa. Di sanalah, dia kemudian berkorespondensi dengan sejumlah orang, yang entah kebetulan atau enggak, salah satunya adalah Oh! Great (nama aslinya konon adalah ‘Ogure Ito’), manga-ka yang karyanya akan kubahas sekarang.

Enggak. Aku serius enggak bercanda.

Bahkan sampai beberapa tahun lalu, Ogure-sensei secara random masih secara berkala (namun jarang) mengirimi sahabatku e-mail untuk memamerkan link ke karya-karya terbarunya dia. (Soal sahabat arsitekku itu, gambar-gambarnya sebenernya ga memukau. Tapi bagi orang-orang yang ngedalamin art, di dalamnya mereka sering menemukan ‘sesuatu’ di dalemnya gitu.)

Waktu itu, Ogure-sensei baru mulai naik daun sebagai manga-ka lewat seri bela diri Tenjho Tenge. Beliau masih belum terlalu dikenal secara luas. Tapi, yea, dia mulai menarik perhatian di barat berkat desain-desain karakter ceweknya yang beneran seksi—serta jalan-jalan cerita buatannya yang filosofis(?) dan enggak semudah itu dipahami orang.

Ini terjadi di masa ketika anime dan manga lagi mulai booming-nya di dunia. Jadi ya, Ogure-sensei orang yang sebenarnya lumayan prolific.

Lalu seiring dengan hiatus-nya Tenjho Tenge untuk beberapa lama, para penggemar beliau tiba-tiba saja langsung “Haaaah?!” saat diumumkan bahwa beliau memulai serialisasi baru di majalah Weekly Shonen Magazine-nya Kodansha, lewat karya barunya, Air Gear.

You gotta grab the sky!

Secara visual, Air Gear itu keren loh.

Aku tahu memang ada banyak hal aneh dan enggak masuk akal di dalam ceritanya. Apalagi kalau kau pertama mengenal seri ini melalui versi anime-nya. (Segala aspek aneh ini kayaknya udah jadi ciri khas pengarangnya) Tapi kalau kau membaca sendiri manga-nya, perasaan ‘keren’ tersebut benar-benar kerasa.

Buat kali ini aku mulai dari artwork-nya dulu deh.

Dalam Air Gear, Ogure-sensei banyak memaparkan pemandangan perkotaan dengan gedung-gedung pencakar langit yang dipadu dengan adegan-adegan akrobatis para karakternya gitu. Keahlian beliau dalam menggambar proporsi sekaligus perspektif membuat panel-panel gambar buatannya di sini benar-benar memukau.

Walau masih terkesan agak seenaknya dalam mendesain karakter (ke-suka-suka-annya beliau dalam mendesain karakter agak mengingatkanku pada pendekatan yang Kubo Tite gunakan dalam Bleach), beliau agak men-tone down keseksian para karakternya di sini. Sehingga meski ada nudity dan segala macamnya di dalamnya, adegan-adegan tersebut masih tak menyamai apa yang terdapat pada Tenjho Tenge kok.

Uh, maksudku, dibandingkan pada Tenjho Tenge, daya tarik visual para karakternya sudah bukan hanya dari keseksian mereka belaka.

Sial, kenapa kalo aku ngatainnya kayak gitu, kesannya malah jadi tambah parah ya?!

Yah, pokoknya gitu deh.

Di samping itu, Level Comics telah melakukan kerja lumayan bagus dalam mengeditnya. Dan lagi, ini bukan jenis seri yang fanservice-nya ditonjolkan segitunya sampai-sampai perbedaannya terlalu kentara.

Beralih soal ceritanya, Air Gear berlatar di masa depan yang enggak terlalu jauh saat sebuah olahraga ekstrim baru yang bernama Air Trek (disingkat AT) mulai banyak digunakan. AT pada dasarnya itu kayak semacam sepatu roda ‘bermesin,’ yang memungkinkan para penggunanya menggapai kecepatan-kecepatan yang lebih tinggi gitu. Memakai AT, para penggunanya (yang dikenal dengan istilah Storm Riders) bisa sampai memanjat dinding, melakukan lompatan-lompatan tinggi, dan pada tingkatan yang lebih ekstrim memanipulasi gelombang udara serta elektromagnetik.

Air Gear mengetengahkan soal bagaimana seorang remaja SMP (walau ini agak sukar dipercaya kalau menilai dari tinggi badan dan perkembangan tubuh mereka) bernama Minami ‘Ikki’ Itsuki dan teman-temannya  di SMP Higashi, kota Shinonome, memasuki dunia AT yang digambarkan mendebarkan dan penuh misteri ini.

Ikki ceritanya adalah seorang anak yatim piatu yang karena suatu alasan, tinggal bersama empat bersaudari Noyamano, yang terdiri atas: Rika (paling tua, usia dua puluhan, melakukan berbagai macam pekerjaan untuk menghidupi mereka), Mikan (tomboi, kuat, seenaknya, sudah SMA), Ringo (berkacamata, alim, seusia dengan Ikki), dan Ume (masih SD, suka boneka, seleranya agak aneh). Noyamano bersaudara ini sempat disebutkan merupakan kerabat jauh dari orangtua Ikki, walau kenyataan sebenarnya tak pernah benar-benar dijelaskan secara eksplisit (di dalam komiknya).

Ikki dari waktu ke waktu sering memperhatikan aksi seorang Storm Rider perempuan yang sering dilihatnya di kota. Nama Storm Rider tersebut adalah Simca, dan ia dikenal dengan julukan ‘Tsubame.’

Meski sudah lama tertarik dengan AT, Ikki belum pernah terpikir untuk benar-benar menekuninya. Tapi saat geng yang dipimpinnya di sekolah, East Side Gunz, diserang habis-habisan oleh Skull Saders, tim AT yang dikenal sering berbuat kerusakan. Barulah sesudah itu ketertarikan Ikki terhadap AT memuncak dan ia terdorong untuk mencobanya sendiri.

Pada waktu yang sama, kemudian terungkap bahwa Ringo, Mikan, dan Ume selama ini merupakan anggota terkini dari tim AT legendaris, Sleeping Forest, dan mereka kemudian meminjamkan AT pada Ikki agar ia bisa melihat sendiri dunia malam yang selama ini mereka sembunyikan darinya…

Don’t be afraid…

Air Gear gampangnya mengisahkan berbagai pengalaman Ikki selama ia menekuni AT.

Aturan di dunia Storm Riders menegaskan bahwa setiap tim AT memiliki emblem yang dengannya, nama, keanggotaan, serta wilayah kekuasaan tim tersebut dipertaruhkan. Ikki di awal cerita lebih banyak beraksi dengan menggunakan emblem Sleeping Forest yang dipinjamkan Ringo dan kawan-kawan. Tapi belakangan ia memutuskan untuk membentuk tim AT-nya sendiri, Kogarasumaru, yang beranggotakan anggota-anggota gengnya yang lama (Kazu, paling cepat; Buccha, babi hitam; Onigiri, babi putih; Agito/Akito, ikan hiu; belakangan anggota perempuan Adachi Emiri juga turut bergabung).

Untuk itu, ia perlu memperlihatkan keahliannya sendiri dalam menggunakan AT dalam suatu ajang yang disebut Parts War, di mana tim-tim AT saling berseteru dengan satu sama lain, mempertaruhkan berbagai hal yang dimiliki tim, mulai dari wilayah, anggota, suku cadang AT, dan sebagainya.

Detilnya agak ribet untuk dibahas di sini. Maksudku, bukan cuma soal hal-hal teknisnya, kayak gimana tingkatan sebuah tim AT dan penghargaan yang mereka terima gampangnya banyak ditentukan oleh performa mereka di ajang Parts War ini. Tapi kayak, dunia AT ini lebih dari sekedar ‘main-main’ belaka begitu.

Aku ngerti narasi Ogure-sensei mungkin agak terlalu avant garde buat bisa membuat orang memahaminya. Tapi dalam Air Gear, aku ngerasa beliau berusaha ngangkat hal-hal yang sebenarnya menurut beliau lumayan berarti. Menjadi Storm Rider bukan cuma soal kesenangan. Tapi ini juga kayak ada hubungannya dengan filosofi dan cara hidup. Ada kode etik yang dijaga. Ada semacam keyakinan yang diyakini. Hal-hal kayak gitu deh.

Ogure-sensei kemudian mengeksplorasi hal tersebut lebih jauh dengan pembeberan asal-mula AT serta seberapa besar dampak yang ditimbulkannya terhadap dunia. Terungkap bahwa ada suatu komponen AT yang disebut Regalia dan ada posisi yang disebut Raja bagi mereka-mereka yang telah diakui Road-nya di dunia AT.

Road (harfiah berarti ‘jalan’) itu kayak… trik AT apa yang seorang Storm Rider dalami. Bisa juga dijabarkan sebagai intepretasi terhadap jati dirinya sendiri. Ikki, misalnya, pada awal cerita mendalami Wing Road yang memungkinkan AT-nya ‘menunggangi’ permukaan-permukaan yang normalnya tak bisa dilewati (termasuk aliran udara!), dan ini kayak menggambarkan bagaimana Ikki merupakan wujud personifikasi dari ‘hilangnya kekangan’ serta ‘kebebasan.’ Lalu orang yang paling ahli dalam suatu Road dipandang sebagai ‘penguasa’ Road tersebut, dan karenanya digelari Raja (King). Melengkapi gelar seorang Raja, terdapat Regalia yang menjadi simbol kekuasaan Raja tersebut yang sekaligus memungkinkan peningkatan performa AT-nya dalam mewujudkan Road yang diwakilinya.

Lalu di atas semua itu, ada Regalia dari semua Regalia yang menjadi sasaran perebutan semua orang: Air Gear, yang diyakini hanya akan dianugrahi pada Sky King, yakni dia yang memenangkan suatu pertandingan antar tim AT terbesar Gram Scale Tournament yang ditandai dengan membukanya Menara Trophaeum di kota Shinonome.

…Pada titik ini, ceritanya yang dari sananya sudah agak susah dipercaya memang menjadi lebih susah dipercaya lagi sih.

Agak mirip dengan cerita Tenjho Tenge, ada pengungkapan bab masa lalu agak panjang yang berujung pada pengkhianatan dan harapan terpendam. Konflik masa lalu yang melibatkan tim legendaris Sleeping Forest itu kembali mencuat di masa kini dan kini melibatkan Ikki dan kawan-kawannya. Cerita kemudian berhubungan dengan sisa-sisa suatu konspirasi masa lalu, hasil-hasil eksperimentasi terhadap manusia, hingga bahkan sampai ke munculnya kekuatan militer dari negara-negara asing. Pada satu titik bahkan sempat muncul robot raksasa. Damn, aku juga masih belum ngerti bangunan apa Menara Trophaeum sesungguhnya. Intinya, ada bangunan jam dibangun di atas bekas fasilitas penelitian kan? Tapi buat apa/ngapain/siapa sih yang kepikiran ngelakuin itu?!

Semuanya jadi… aneh, man.

Tapi karena lucu dan gambarnya keren dan desain para karakter ceweknya seksi, aku enggak ngerasa ada orang yang bener-bener ngemasalahin.

Hei, bahkan ada presiden Amerika yang up-to-date di dalamnya!

Meski durasinya lumayan lama, dengan hiatus beberapa kali, (serialisasinya di Weekly Shonen Magazine milik Kodansha kalau enggak salah, dari 2002 sampai akhir 2012, pas 10 tahun?) dengan total buku sebanyak 37 (mestinya terjemahan lokalnya tamat dalam waktu dekat ini), Air Gear tetap berakhir dengan cara yang agak enggak terbayangkan kebanyakan orang.

Yah, di samping karena agak sulit memahami apa sebenarnya yang terjadi di akhir cerita, ada juga sedikit kesan kalau Ogure-sensei beberapa kali kayak mentok soal dengan cara gimana seri ini mau diakhiri.

Menjelang puncak final GST, Ikki akhirnya dari Wing Road mewakili Road baru, yakni Hurricane Road dan bergelar Storm King. Tapi, kerennya, finalnya, para petarung utamanya tak memakai Regalia milik mereka sama sekali dan bahkan kayak…

Sial. Nanti spoiler.

Intinya, aku terkesan ama gimana Ogure-sensei kayak membantah perkiraan (pengharapan?) sebagian besar pembacanya. Dan kayak berusaha menekankan kembali, apa sebenarnya yang dia anggap penting.

…Mungkin.

Yang Hilang Cuma Sepatu

Ampe sekarang aku enggak bener-bener yakin aku dulu ngikutin Air Gear karena apa.

Heh, aku bahkan ga tau apa aku bisa disebutin ‘ngikutin.’ Rasanya kayak, itu semua terjadi gitu aja.

Jadi, sebagai penutup, apa yang perlu dibahas ya?

Air Gear itu lebih banyak kayak semacam ekspresi diri Ogure-sensei ketimbang sebuah manga shonen?

Itu manga shonen yang karena banyak muatan rumitnya, akhirnya malah jadi diterbitin sama Level Comics begitu dilisensi di sini?

Ini kayak, seri yang ngasih kau banyak alasan buat tertarik padanya. Tertarik doang, belum nyampe suka. Lalu cuma mereka yang mau sedikit ngedalamin aja, sembari bertanya-tanya soal apa sebenarnya maksud pembuatnya, yang mungkin bakal nemu hal-hal kecil menarik sesungguhnya yang seri ini punya. Dan hal-hal kecil menarik tersebut sebenarnya banyak.

Tapi mungkin juga aku merasa begini karena bukan Sumeragi Kururu yang akhirnya dipilih. Atau juga karena tamatnya yang bukan harem ending. Mungkin.

Iklan
Tag: ,

2 Komentar to “Air Gear”

  1. ah pada akhrnya fb udah ga bs komen disini

    btw aku menyayangkan gimana pada awalnya ini lebih ke pertarungan trik demi trik yang sangat kreatif tapi akhir2nya malah jadi kebanyakan actionnya, tapi ini mungkin emang cuma aku ya..

    dan ya, aku juga ngerasa kenapa nggak Kururu yang dipilih #plak

    btw satu volume lagi dan akhirnya tamat :v

    • Iya. Aku juga jadi ngerasa pemaparan soal apa yang bikin trik-triknya keren malah jadi enggak terlalu kejelasin. Tapi keliatan banget ide-ide yang udah dicurahin ke dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: