Psycho-Pass

Aku pertama tertarik pada Psycho-Pass karena sebuah berita yang aku dengar di masa produksinya. Konon, para produsernya mendoktrin kepada para staf bahwa kata ‘moe’ terlarang untuk diucapkan selama proses pembuatan anime ini berlangsung.

Aku enggak bisa enggak senyum saat ngebaca berita itu. Sebab di masa kayak sekarang, seri yang sama sekali bebas dari fan service dan aspek moe di atas merupakan sesuatu yang lumayan langka.

Alasan lain yang bikin aku tertarik adalah kenyataan kalau seri ini merupakan sebuah ‘drama polisi.’ Holy shi*, aku engga lagi inget kapan terakhir kalinya ada sebuah drama polisi yang pernah kutonton. Apa movie terakhir Patlabor masuk hitungan?

Hal-hal di Kepalamu yang Enggak Bisa Kau Ceritain Ke Orang Lain…

Premis dasar Psycho-Pass itu kurang lebih kayak begini: di masa depan ketika kondisi kejiwaan seseorang sudah bisa ‘dikuantifikasi’ lewat sensor dan monitor-monitor pelacak, segala macam bentuk kejahatan sudah dapat dicegah sebelum terjadi, melalui analisa bioritmik yang akan mengkaji kondisi psikologis calon pelaku. Standar ‘kesehatan mental’ seseorang, dalam artian kecendrungannya untuk berbuat kejahatan atau tidak, adalah apa yang dikenal dengan istilah ‘Psycho-Pass’, indeks koefisien kejahatan, yang indikasinya dilakukan melalui suatu kode warna (atau disebut dalam seri sebagai ‘hue’).

Psycho-Pass mengikuti sepak terjang sekelompok penegak hukum yang beraksi melalui penerapan Psycho-Pass ini. Mereka adalah Unit 1 dari Biro Keamanan Publik di Departemen Kepolisian Tokyo, yang beranggotakan si rekrutan baru, Tsunemori Akane dan kawan-kawannya.

Dilema pertama yang mengejutkan Akane, seorang gadis fresh-graduate yang positif sekaligus cerdas, di hari pertamanya ia bekerja, adalah kenyataan bagaimana Biro Keamanan Publik memperkerjakan dua macam ‘polisi’, yakni: Inspector (‘inspektur’) seperti dirinya dan atasan langsungnya, pria metodis berkacamata, Ginoza Nobuchika; serta para Enforcer (‘penegak’) yang lebih menangani urusan ‘otot’ dalam pekerjaan daripada ‘otak.’

Para Enforcer ini ternyata adalah orang-orang yang dipandang memiliki indeks koefisien kejahatan terlampau tinggi—baik karena stress atau trauma masa lalu—sekalipun belum ada tindak pelanggaran hukum apapun yang secara nyata pernah mereka lakukan. Mereka dipandang sebagai ‘penjahat laten,’ yang bahkan didiskriminasikan dalam masyarakat dan hanya boleh berkeliaran sebatas TKP dan markas kepolisian tempat mereka ditahan.

Baik Inspector maupun Enforcer sama-sama mengaplikasikan pistol-pistol khusus teramat canggih yang disebut Dominator, yang secara otomatis akan melakukan pembacaan Psycho-Pass pada sasaran bidikannya sebelum pelatuknya bisa ditarik, untuk memastikan apakah target bersangkutan cukup mengancam untuk hanya perlu ditembak peluru bius, atau sudah layak mati hingga perlu ditembak peluru dekomposisi. Pistol Dominator ini menjadi semacam ‘pengadilan di tempat’ terhadap para tersangka, dan kinerjanya secara langsung terhubung dengan Sibyl System, jaringan sekaligus basis data berskala nasional yang melandasi kinerja sistem Psycho-Pass ini.

Digambarkan pula bagaimana di latar masa ini, Jepang telah kembali menjadi negara yang mengisolirkan diri bersama tingkat kemajuan teknologi yang telah dimilikinya (kemungkinan, sesudah suatu bencana besar?). Bersama implementasi Sibyl System yang seakan menjamin kesejahteraan tiap orang, sistem pengadilan legal juga telah dihapuskan dan tidak digunakan lagi.

Seiring perkembangan cerita, seperti yang dilandasi dalam adegan pembukanya, fokus Psycho-Pass menyempit pada serangkaian kasus teror pembunuhan aneh yang harus ditangani Unit 1, yang kemudian berujung pada konfrontasi berkepanjangan antara dua orang individu: Kogami Shinya, bekas Inspector yang kemudian turun pangkat menjadi Enforcer, yang menjadi sempai sekaligus pembimbing dekat Akane serta ‘anjing pelacak’ paling tajam di Unit 1; serta Makishima Shougo, seorang pria karismatik yang keberadaannya seakan tak tersentuh oleh Sibyl System.

Old Age Nostalgia

Psycho-Pass diprakarsai oleh kepala sutradara Motohiro Katsuyuki, yang kemudian merekrut penulis naskah Urobuchi Gen yang mengesankan beliau seusai berakhirnya Puella Magi Madoka Magica. Penayangannya pertama kali adalah di blok tayang Noitamina, dari musim gugur 2012 sampai musim dingin 2013, dengan jumlah episode total sebanyak 22.

Seperti kebanyakan karya Urobuchi-sensei, Psycho-Pass berkesan suram, keras, tapi bukan dalam artian jadi sulit dimasuki orang juga. Sebagai ‘drama polisi’, aspek misterinya sebenarnya enggak terlalu kentara. Daya tarik utamanya—pada paruh awal cerita seenggaknya—adalah bagaimana kedua belah pihak, pihak polisi dan pihak penjahat, sama-sama saling mengejar dan menipu satu sama lain. Bagaimana mereka saling berinteraksi, bagaimana mereka saling mempelajari satu sama lain gitu. Aku pribadi merasa sudah lama sekali semenjak ada anime macam begini yang keluar, makanya dalam banyak arti aku benar-benar terkesan.

Di samping itu, dunia futuristisnya benar-benar memikat. Ada cyberspace yang dikunjungi orang secara rutin, ada aplikasi yang memungkinkan orang mengubah tampilan holografik pakaian mereka sesuai kebutuhan, ada dronedrone berteknologi hologram yang bertugas mulai dari menyapu sampai menjaga ketertiban. Rasanya kayak selalu ada hal baru yang bisa kita temui di episode-episode awal.

Format episode setengah jam juga agak kurang cocok dengan bobot ceritanya, yang mau tak mau harus banyak tersampaikan melalui banyaknya adegan dialog. Awalnya memang terkesan bertele sih (semua drama polisi menurutku memang seharusnya punya sedikit kesan ‘bertele’). Tapi begitu aku bisa ngikutin, setengah dari seluruh episode Psycho-Pass buatku kayak ninggalin perasaan ‘kurang, kuraaaang…’ gitu. Kayak, setiap episode dimulai dan kemudian berakhir dengan terlampau cepat.

Singkat kata, Psycho-Pass adalah sebuah anime yang benar-benar keren… yang sayangnya enggak berakhir dengan benar-benar kuat.

Episode-episode penutupnya, meski enggak sampai benar-benar jelek, sayangnya enggak sebaik episode-episode pendahulunya. Kita tetap suka para karakternya, kita tetap suka dengan dunianya, tapi pengharapan kita agaknya malah jadi terlampau tinggi, sehingga akhirnya menjadi agak kecewa dengan apa yang kemudian kita dapatkan.

Jadi, dari awal sampai pertengahan cerita, perkembangan cerita Psycho-Pass bergerak dengan grafik yang terus naik. Melewati titik pertengahan, ceritanya berkembang dengan semakin gila-gilaan. Tapi kemudian, sesudah itu, entah karena keterbatasan durasi dan jumlah episode atau eksekusinya yang memang enggak bagus, kita kemudian tersadarkan bahwa arah perkembangan ceritanya entah pada titik mana sudah jadi ‘aneh’ gitu. Seperti ada hal-hal yang pada akhirnya ‘diputus’ begitu saja tanpa pembahasan lanjut, kayak soal kenapa Makishima Shougo bisa tumbuh jadi karakter antagonis, atau kayak soal bagaimana sistem masyarakat di Psycho-Pass pada akhirnya tetap bisa dipertahanin.

Tapi mencoba memandangnya secara objektif, aku kurang lebih bisa memahami keengganan para pembuatnya untuk ngebuat ‘penghakiman’ terhadap materi cerita yang mungkin sensitif dan subjektif ini (padahal menurutku sih mungkin masih enggak apa-apa), dan sudah cukup bersyukur karena seenggaknya kita dikasih cerita yang tuntas.

Selain Kogami, para anggota lain di Unit 1, yang sama-sama memiliki penilaian Psycho-Pass di ambang batas, terdiri atas:

  • Masaoka Tomomi; veteran paling tua dan berpengalaman di Unit 1, yang sudah bekerja keras di kepolisian bahkan di masa sebelum Sibyl System diterapkan. Dahulu seorang detektif biasa sebelum metode berpikirnya untuk menyamai cara berpikir penjahat membuatnya dipandang Sibyl System sebagai penjahat laten juga.
  • Kagari Shuusei; anggota muda yang suka bercanda, yang sudah diterapkan sebagai penjahat laten semenjak usia lima tahun. Dirinya yang mempertanyakan sikap dan keputusan Akane untuk bekerja di Biro Keamanan Publik.
  • Kunizuka Yayoi; satu-satunya anggota Enforcer wanita di Unit 1, yang selalu berwajah tenang, dingin, dan datar.
  • Karanomori Shion; perempuan ‘dewasa’ yang berperan sebagai analis data dan informasi bagi rekan-rekannya di Unit 1. Lebih banyak beraksi di markas dan di balik layar.

Kesemua karakter di atas benar-benar menarik sehingga agak sayang perkembangan dan backstory mereka tak diceritakan lebih banyak. Mereka semua sama-sama mendapatkan porsi sorotan ‘minimal’ (meski kadang agak terkesan tak nyambung dengan cerita utama), tapi perkembangan karakter dan peranan cerita yang mereka mainkan memang agak terasa tanggung.

Kogami, terutama, menjadi pemicu perkembangan karakter Akane, di samping hubungan ‘saling memahami’ yang dimilikinya dengan Makishima. Sedangkan Akane pun mendapat porsi perkembangannya saat mempertanyakan bagaimana bisa Psycho-Pass miliknya tetap ‘sehat’ sesudah rangkaian kejadian traumatis yang kemudian ia alami.

Seakan semua dongeng telah mati…

Aspek visual Psycho-Pass mungkin sekilas tak terlalu menonjol, ada semacam nuansa suram yang dipertahankan dengan banyaknya pemakaian warna gelap dan abu-abu, tapi memang ada banyak aspek yang membuatnya mencolok. Desain dunia futuristisnya benar-benar menarik, baik itu pada desain bangunan-bangunan besar atau kamar-kamar sempit, dan itu jadi salah satu daya tarik utama seri ini sampai dua pertiga awal cerita. Di samping itu, desain karakter orisinil buatan Amano Akira (manga-ka Reborn!!) memang menghadirkan kesan ‘keren’ (walau desain karakter cowoknya agak berada di ambang batas ‘cantik’).

Kesan keren ini diperkuat dari aspek audionya. Grup band Egoist yang sebelumnya menangani sejumlah lagu Guilty Crown tampil kembali. Lagu tema ‘Namae no Nai Kaibutsu’ merupakan salah satu lagu penutup terkeren di musim yang lalu. Aku agak merasa penjiwaan para karakternya bisa lebih baik dengan naskah yang lebih matang juga. Tapi sekali lagi, dari aspek teknis seri ini sama sekali enggak bisa dibilang buruk.

Aku mau mengaku sedikit: alasan pribadiku tertarik pada Psycho-Pass adalah karena aku enggak bisa enggak sedikit memandang karakter Kogami sebagai karakter ‘pahlawan.’ Aku tahu aslinya dia agak abu-abu, dan gimana obsesinya untuk menghabisi Makishima kemudian menelannya. Tapi di mataku seenggaknya, dia pria keren yang bukan cuma jago bela diri, namun juga intelek dan enggak pernah segan ngabisin waktunya dengan membaca buku. Aku tahu kebanyakan karakter bishonen biasa ditampilkan kayak gini, tapi Psycho-Pass menampilkan sisi itu dengan lumayan wajar gitu, dan di masa sekarang ketika ada sedikit sekali hal yang kayaknya bisa dikagumi, karakter Kogami buatku itu bagaikan ‘angin segar.’

Yah, itu pandanganku aja sih.

Ini seri yang benar-benar menarik kalau kau mengharapkan sesuatu yang beda, atau hanya bila kau sekedar penyuka tema-tema sains-fiksi. Enggak, enggak ada romansa di dalamnya. Tapi ada nilai-nilai kepercayaan dan kesetiakawanan yang beberapa kali diangkat. Sekali lagi, mungkin karena batasan durasinya, ada sejumlah elemen yang terasa enggak tuntas. Tapi kalau kau bisa menerima hal itu, dan enggak keberatan dengan banyaknya adegan percakapan panjang dan datar, mungkin ini sebuah seri yang bisa kau sukai.

(Musim tayang keduanya telah diumumkan, btw. Nanti kalau sudah jelas akan kukabar-kabari lagi.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: