Gundam Unicorn OVA 6: Two Worlds, Two Tomorrows

Episode keenam Kidou Senshi Gundam Unicorn yang keluar belum lama ini mencakupi bagian cerita Sora to Hoshi to (The Sky and the Stars, ‘langit dan bintang-bintang’) dari seri novelnya. Aku agak terkejut karena dalam rencana awal, adaptasi anime Gundam Unicorn konon hanya akan mencakup enam episode. Jadi besar kemungkinan, bagian cerita di episode ini semula akan terintegrasikan dalam bab cerita berikutnya.

Eniwei, ini kali pertama aku merasa ada episode Gundam Unicorn yang tak memerlukan banyak pembahasan. Daripada menggugah dengan hal-hal baru, ceritanya lebih berupa penyelesaian terhadap banyak hal lama.

I AM

Inti cerita episode ini adalah reuni kembali Banagher Links dengan teman-temannya di kapal induk Nahel Argama dan konflik tak terhindarkan yang mereka lalui dari persekutuan sementara mereka dengan kelompok Neo Zeon.

Sesudah diselamatkan oleh Full Frontal, Angelo Sauper, dan pasukan Neo Zeon mereka yang lain, Nahel Argama lolos untuk sementara waktu dari kejaran pasukan Federasi Bumi yang secara mengejutkan turut memburu mereka.

Tujuan mereka berikutnya ternyata adalah tempat di mana semua konflik ini bermula, yakni kampung halaman Banagher, koloni luar angkasa Industrial 7, di mana petunjuk selanjutnya untuk membuka kunci Kotak Laplace—sekaligus harapan terakhir mereka untuk bisa selamat—diindikasikan berada.

Tapi konflik-konflik yang dipicu oleh dendam lama, perbedaan ideologi serta cara pandang di antara mereka secara perlahan tapi pasti kemudian memuncak dalam suatu insiden pembajakan kapal.  Saat semua pihak menanti keputusan apa yang akan diambil oleh Otto Midas, kapten Nahel Argama, saat mereka harus melintasi pangkalan Federasi di Luna II, Banagher menyadari hubungan baiknya dengan Audrey dan awak-awak kapal Garencieres semata takkan cukup untuk mencegah apa yang Full Frontal hendak perbuat dengan ambisinya.

Rangkaian peristiwa yang menjurus ke peristiwa fallout antara awak-awak Nahel Argama dengan pasukan Neo Zeon yang menduduki kapal mereka adalah inti cerita episode ini.

Hasil akhirnya itu… kayak saking baiknya sebagaimana yang kuharapkan sampai-sampai enggak ada lagi yang kurasa perlu kuomongin.

Tentu saja, ceritanya pada titik ini sudah agak dalam pembahasannya soal ideologi dan sejarah masa lalu. Jadi ini bukan lagi cerita yang masih akan bisa disukai oleh non penggemar Gundam. Apalagi dengan jumlah adegan tempur yang tak sebanyak sebelumnya (bagaimanapun, ini merupakan episode yang memaparkan kesenyapan sebelum pertempuran terakhir). Tapi, ini tetap bagus.

Beneran bagus.

Karakter yang mengalami perkembangan cerita paling berarti di titik ini adalah Zinnerman, mantan kapten Garencieres yang melepas kemarahan yang telah bertahun-tahun melandanya serta keberpihakannya terhadap Full Frontal demi kepeduliannya terhadap Marida Cruz. Marida sendiri digambarkan berhasil melepas kendali pikiran yang sempat masih melandanya, dan berkat Zinnerman kemudian mampu untuk sepenuhnya memilih jalannya sendiri.

Aku terutama suka dengan bagaimana hal-hal agak ‘dewasa’ dalam ceritanya berhasil disajikan secara bersih sejauh ini. Terutama soal latar belakang masa lalu Marida dan uh, fanatisme Alberto, misalnya.

Lalu ada Riddhe Marcenas, yang kini telah agak berubah perangainya sesudah episode sebelumnya, yang menyusul Banagher dkk ke luar angkasa untuk kepentingan Alberto Vist. Ada satu adegan yang mengangkat alis, saat Alberto dengan cara agak seram secara khusus meminta pada Riddhe untuk bisa menangkap Marida. Tapi sudahlah. Mending soal itu tak terlalu kubahas sampai aku membaca sendiri novelnya.

Perkembangan lain yang menarik adalah tampil kembalinya Martha Vist Carbine secara umum di hadapan Bright Noa serta Ronan Marcenas dalam keterdesakannya untuk mencegah pembukaan Kotak Laplace. Wakil mendiang Daguza Mackle, Conroy Haagensen yang memimpin tim pasukan khusus ECOAS di Nahel Argama, kini tampil secara aktif dalam membantu Banagher dan kawan-kawannya.

Episode ini ditutup dengan peluncuran Banagher dalam konfigurasi MSnya yang terbaru hasil rancangan sahabatnya, Takuya Irei, yakni Full Armor Unicorn Gundam, di area menuju Industrial 7.

Namun, yang tiba-tiba menyusul Nahel Argama dengan kecepatan tinggi dari belakang adalah MS Unicorn Banshee Norn yang dikemudikan oleh Riddhe, yang nampaknya datang untuk membalas kekalahannya yang telah lalu…

Home

Bicara soal mecha, yang menonjol pertama kali adalah MS Rozen Zulu baru yang dikemudikan Angelo Sauper. Aku luput membahas kemunculan pertamanya di episode lalu. Mecha yang teramat imba ini pada dasarnya merupakan sisa Geara Zulu pribadi Angelo yang sebelumnya rusak yang dikombinasikan dengan beberapa suku cadang dari MS Sinanju. MS ini membawa persenjataan bit-bit kabel di tangannya yang membuatnya mampu meluluhlantakkan banyak musuh sekaligus dalam satu sapuan serangan beam dadakan.

Adegan pertarungan di akhir episode sebelumnya mendapat perpanjangan di awal episode ini, jadi aksinya secara lebih jelas bisa kita lihat.

Selebihnya, paling adalah modifikasi Unicorn Gundam dalam persenjataan beratnya, yaitu Full Armor Unicorn Gundam. Dengan skema pendaran hijau yang kini dimilikinya akibat penguasaan Banagher atas psychoframe MS ini, dulu waktu aku pertama melihat desainnya, aku sempat merasa MS ini agak kehilangan keeleganan yang dimiliki versinya yang ‘telanjang.’ Tapi aku salah. Penggambaran Full Armor Unicorn Gundam di anime ini—meski belum sampai beraksi—benar-benar keren.

Konfigurasi ini agak mirip dengan skema konfigurasi RX-78 Full Armor Gundam dari seri yang asli. Ini pada dasarnya adalah Unicorn Gundam yang dipersenjatai secara lengkap dengan bazoka, senapan mesin, pod misil dalam jumlah banyak, ditambah sepasang perisai dan sepasang pendorong tambahan di bagian pinggang belakang.

Banshee Norn yang Riddhe gunakan konon adalah versi MS yang khusus muncul di OVA ini (bagaimana Riddhe kemudian menjadi pilot MS ini kalau tak salah juga agak berbeda dibandingkan di seri novelnya). Perbedaan utamanya adalah bagaimana perangkat Armed Armor BS (yang beam smart gun) di tangan kanan dan Armed Armor VN (yang heat claw, cakar besar) di tangan kiri sama-sama digantikan oleh perisai ekstensif Armed Armor DE. Lalu konfigurasi ini sepertinya diutamakan untuk kecepatan dengan perlengkapan punggung Armed Armor XC.

Akhir kata, cerita Gundam Unicorn kini benar-benar sudah menjelang akhir dan kelihatannya hasilnya akan benar-benar memuaskan.  Mungkin masih akan ada setahun lebih sampai kita bisa melihat episode terakhirnya. Tapi dari gelagatnya sejauh ini, nampaknya aku takkan kaget bila seandainya episode terakhir itu secara khusus dan mendadak dibuat berdurasi dua jam alih-alih satu.

Iklan

5 Komentar to “Gundam Unicorn OVA 6: Two Worlds, Two Tomorrows”

  1. akhirnya dibahas juga ~ ~
    penantian semilenia (halah) akan episode terbayar dengan sangat – sangat lunas..
    prelude yang benar2 sesuai untuk klimaks di episode 7
    perang urat syarafnya bikin tegang..
    aku setuju sih soal di titik ini, penonton awam akan benar-benar kebingungan tentang gambaran ceritanya.. mengingat juga minimnya aksi di episode, membuatku makin susah merekomendasikan seri ini ke orang lain -_-

    pertama kali aku lihat Full Armor, aku lupa dimana.. aku ngerasa ini MS kelebihan beban -_-
    tapi presentasinya di episode ini ternyata memukau >_<
    dan hentakan musik Aimer di penghujung episode itu bener2 klimaks.. sukses membuat kita gigit jari selama setahun ke depan hahaha

    • …Aku ga gitu tau soal gigit jari lho ya. Soalnya dalam setahun terakhir ada lumayan banyak spoiler soal perkembangan cerita dari novelnya yang beredar di web belakangan.

      Sisanya tergantung apa kau berani buat ngebacanya apa enggak sih. (Kayaknya belakangan kau beneran merhatiin banyak hal.)

      • Gwaaa… jelas aku ga mau nyari spoilernya..
        aku pengen nonton dengan kepuasan maksimal >_<

        iya belakangan banyak yang kuperhatiin, dari segi komik juga

        oh ya Katekyo Hitman udah terbt, Nurarihyon juga, minggu depan Beelzebub ama Bakuman terbit di Indonesia..

  2. Eala..belum tamat toh, dibuat dua sekuel? Kayak Harry Potter sadja. Sdh baca spoi ttg isi Laplace sih, tapi tetap berharap ending yang berbeda….kalau bisa dark dikit hahaha…Tapi mmg mkn ke depan dialog2nya juga makin berat..entah apa krn ceritanya dipadatkan. Mgkn kalau jd tv series malah lbh ringan..

    • Perasaan episode terakhirnya udah agak berat deh.

      Aku ngomong gitu cuma karena episode terakhir novelnya dibagi jadi dua buku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: