Nekomonogatari (White)

…Aku enggak tahu membahas soal ini baiknya dari mana.

Latar waktunya seusai liburan musim panas, pada hari pertama dimulainya caturwulan baru. Tokoh utama kali ini adalah Hanekawa Tsubasa, dan bukan Araragi Koyomi. Sesudah suatu pertemuan kebetulan di tengah jalan dengan si roh anak perempuan yang dulu tersesat, Hachikuji Mayoi, Hanekawa, karena suatu alasan, kemudian berpapasan dengan seekor harimau raksasa yang bisa berbicara di tengah jalan…

Eniwei, demikianlah garis besar pembuka cerita Nekomonogatari (Shiro) (‘cerita kucing, sisi putih’) yang konon menjadi pembuka dari ‘season’ kedua seri novel Monogatari karya Nisio Isin. Adaptasi anime untuk ‘season’ kedua ini sudah dikonfirmasi dan akan ditayangkan pada pertengahan tahun 2013 ini.

Sedikit penasaran sesudah menonton (dan kemudian membaca) Nekomonogatari (Kuro) di akhir tahun lalu, aku coba membaca terjemahan bahasa Inggris dari novel ini (dibikin oleh CanonRap dari Quality Mistranslations, ada tautannya di Baka-Tsuki, meski dia merendah soal kualitas terjemahannya, dia serius layak dipuji). Lalu terus terang saja, sesudah menamatkannya, aku beneran mesti bilang kalau ini mungkin cerita Monogatari paling keren yang pernah kubaca sejauh ini.

Hitam-Putih

Meski rentang waktu latar cerita antara keduanya agak jauh, Nekomonogatari (Shiro) diterbitkan langsung sesudah Nekomonogatari (Kuro), menegaskan hubungan yang ada antara keduanya serta menggambarkan klimaks dari cerita yang mengisahkan tentang Hanekawa.

Setelah segala foreshadowing yang diberikan dalam bab-bab yang telah lalu, segala teka-teki yang ada tentang masa lalu, maksud, dan kepribadian Hanekawa yang sedikit demi sedikit semakin membingungkan akhirnya terjawab lewat cerita yang dituturkan oleh dirinya sendiri.

Hasilnya benar-benar keren kok.

(…Seenggaknya, cara bertuturnya dia enggak bertele-tele dan enggak sering keluar jalur kayak Araragi. Meski bahasan-bahasan konyol masih tetap ada sih.)

Seiring perkembangan cerita, Hanekawa, beserta sahabatnya(!) sekaligus pacar Araragi, Senjougahara Hitagi, kemudian menerima kenyataan bahwa harimau tersebut merupakan jenis keanehan baru yang kemungkinan berasal dari diri Hanekawa, seperti halnya siluman kucing Black Hanekawa yang masih terpendam di dalam dirinya sampai titik ini.

Namun di samping harimau itu, ada hal-hal aneh lainnya juga.

Araragi tak masuk ke sekolah dan dirinya juga tak bisa dihubungi. Ada sesuatu yang nampaknya telah terjadi saat akhir liburan musim panas, yang tak seorangpun dari mereka ketahui. Hachikuji juga tengah mencarinya (sesuatu yang terkait dengan tas punggungnya yang tertinggal). Lalu pada suatu titik, Araragi rupanya sempat memanggil bantuan adik kelas mereka yang menyimpan tangan monyet, Kanbaru Suruga, untuk sesuatu yang masih belum terjelaskan.

Tanpa Araragi, ataupun mentor mereka, Oshino Meme, di sisinya, akhirnya tiba waktunya bagi Hanekawa, persis seperti apa yang sering dikatakan Oshino, untuk menghadapi sekaligus menuntaskan masalah-masalahnya sendiri… karena ‘setiap orang pada akhirnya hanya akan bisa diselamatkan oleh diri mereka masing-masing.’

Satu hal yang benar-benar menarik dari novel ini adalah premis ‘keanehan’ yang melanda Hanekawa selama ini. Bukan hanya karakterisasinya yang benar-benar dalam. Yang membuatku beneran takjub adalah sekalipun narasinya kerap terkesan enggak serius dan benar-benar kayak sering breaking the fourth wall (“Kalau bekerja sama, Sengoku pun akan bisa kita kalahkan! | “Bukannya sudah disebut kalau pada titik ini kau masih belum tahu dia siapa?”), ceritanya itu… beneran membuat terenyuh.

Masalahnya Hanekawa itu… benar-benar gila.

Aku ngerasa pemaparannya bakalan agak susah dipahami dalam adaptasi anime-nya nanti. Jadi aku beneran terkesan sama gimana Nisio-sensei bisa sampai terpikir mengolahnya.

Di waktu yang sama, aku kurang lebih juga jadi ngerti kenapa di seri ini Senjougahara jadi tokoh cewek pertama yang diperkenalkan. Aku jadi paham soal kenapa alur penceritaan seri Monogatari dibikin maju-mundur. Soalnya bersama Hanekawa, di cerita ini kita sebagai pembaca turut menyatukan petunjuk-petunjuk tersamar yang sebelumnya sudah tersebar dalam seluruh rangkaian cerita Monogatari sampai sejauh ini.

Tentu saja ini jadi klimaks yang benar-benar kena.

(Oya, episode kali ini bertajuk Tsubasa Tiger, btw.)

Araragi tentu saja muncul menjelang akhir buku ini. Tapi apa-apa sebenarnya yang telah dia alami, atau tepatnya, apa-apa sebenarnya yang telah terjadi padanya, menjadi porsi cerita dua buku berikutnya.

Belum ada karakter baru yang menonjol lagi yang muncul pada titik ini (Gaen Izuko, sesosok perempuan yang berlawanan dengan Hanekawa, sungguh-sungguh ‘mengetahui segalanya’, muncul. Tapi kelihatannya dia belum berperan besar di titik ini). Tapi kedua adik Araragi, Araragi Karen dan Araragi Tsukihi, serta seorang ‘tokoh lama lain’ muncul dan berperan kembali. Lalu di samping itu, karena diambil dari sudut pandang Hanekawa sendiri, kita mendapatkan penjelasan menyeluruh tentang fenomena apa sesungguhnya Black Hanekawa yang menjadi duri dalam daging selama ini, beserta apa peranannya terkait orang-orang lain di sekeliling mereka.

“…Tapi itu enggak berarti ini sesuatu yang enggak bermakna.”

Setiap cerita yang dipaparkan dalam Monogatari selalu berakhir dengan membuatku agak berpikir. Tapi sejauh ini belum ada yang membuatku berpikir sedalam seperti sesudah aku membaca Nekomonogatari (Shiro).

Ceritanya itu… beneran membuat terenyuh, dan bagi beberapa orang yang gampang simpati, beneran bisa ngebuat sedih. Soalnya situasi yang dipaparkan di dalamnya kayaknya bisa dihubungkan dengan sesuatu yang pernah dialami kebanyakan orang.

Kamu tau, kayak: kamu enggak ngerasa salah, dan di mata orang lain, di mata kebanyakan orang, kamu emang kayaknya enggak salah. Tapi pada saat ditarik dalam jangka panjang, kamu lalu tiba-tiba disadarkan akan adanya sesuatu yang beneran enggak beres yang ternyata disadari oleh cuma segelintir orang gitu.

Orang kebanyakan enggak bisa ngeliat. Tapi kamu dan cuma kamu seorang ngerasain.

Kamu kayak… jadi diingatkan buat introspeksi dan mempertanyakan kembali segala sudut pandang dan asumsi yang sebelumnya kau punya.

Lalu pada saat kamu sadar, bisa-bisa semuanya udah telat.

Baca ini beneran kayak bikin kamu akhirnya ngeh soal berbagai makna yang terselubung dalam animasinya. Soal pilihan gaya visualnya, soal pilihan lagu-lagunya, hal-hal kayak gitu.

Ini beneran salah satu light novel paling memuaskan yang pernah kubaca.  Sayang aja kayak butuh… sekitar enam buku lain, untuk bisa bikin kamu ngerasain dampaknya.

Iklan

One Comment to “Nekomonogatari (White)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: