Gundam AGE, generasi ketiga, berakhir!

Agen-agen Vagan telah menyusup ke Bumi semenjak peristiwa jatuhnya benteng luar angkasa Downes.

Big Ring telah jatuh oleh meriam energi besar yang tak disangka bisa ada.

Lalu agresi militer besar-besaran yang dipimpin oleh Zeheart Gallette akhirnya berlangsung di seluruh pangkalan Federasi Bumi.

Kio Asuno, putra Asemu dan Romary, dibesarkan tanpa ayah di kota Olivernotes yang damai semenjak Asemu menghilang. Menyadari ketidakmampuan pasukan Federasi dalam menandingi pasukan Vagan, Flit Asuno mengambil alih keadaan dengan mempercayakan pada Kio MS terbaru keluaran AGE System, yakni Gundam AGE-3.

Mengumpulkan sisa-sisa pasukan Federasi yang ada, termasuk pasukan MS Federasi pimpinan Seric Abiss, Flit juga mengajukan penggunaan kembali kapal induk Diva yang selama ini telah diistirahatkan, demi memanfaatkan perangkat AGE Builder yang terpasang padanya. Para petinggi Federasi yang tak mau ambil pusing akhirnya menunjuk perwira Federasi muda Natora Einus yang belum berpengalaman, sebagai kapten baru Diva.

Maka dimulailah perjalanan Kio dan rekan-rekan barunya, menuju pangkalan utama militer Federasi, Rostroulan, di Bumi, untuk selanjutnya ke luar angkasa, demi mempersiapkan serangan balasan terhadap Vagan.

The Upside

Seri Kidou Senshi Gundam AGE akhirnya berakhir dengan total 49 episode.

Generasi pertama memiliki sejumlah episode teramat lemah, namun menghadirkan nuansa dunia yang terbilang kuat. Generasi kedua punya jalan cerita yang terkesan sangat dipadatkan, tapi memiliki adegan-adegan aksi yang konsisten sekaligus perkembangan cerita yang menjanjikan. Generasi ketiga, pada saat dimulai, nampaknya akan memiliki durasi lebih panjang bila dibandingkan dua generasi sebelumnya. Tapi kualitas seri ini pada akhirnya agak…

Eniwei, mungkin ada yang bertanya-tanya soal mengapa aku sudah lama tak menulis soal Kidou Senshi Gundam AGE. Alasannya karena, sebenarnya, aku memang agak kecewa dengan hasil akhirnya. Aku tak sekecewa itu karena sedari awal tak berharap banyak sih. Lalu berhubung aku terpikat untuk terus mengikutinya hingga akhir, aku juga tak akan sampai bilang kalau ini seri yang jelek.

Cuma… bagaimana ya?

Paruh pertama bab ceritanya Kio menarik untuk diikuti. Tak sempurna, tapi beneran menarik buat diikuti. Namun paruh keduanya, mungkin sekitar 13 episode terakhir, ada banyak hal yang agak bikin aku ngangkat alis.

Daripada kekurangan pada tim produksi, kelemahannya lebih pada penulisan naskah oleh Akihiro Hino sendiri, kayaknya (Gimanapun, yang menangani Gundam AGE tetap adalah tim yang sama dengan yang dulu menangani Gundam 00). Sehabis nonton ini, aku sekarang jadi ngerti kenapa kebanyakan RPG bikinan Level-5 punya konsep bagus tapi jarang punya hasil memuaskan. Konsep Gundam AGE bagus. Tapi pengembangan dan eksekusinya beneran kurang. Terutama di bagian akhir. Meski kalau kupikir lagi, hasil akhir ini mungkin agak berhubungan dengan pengembangan game play buat RPG-nya juga sih. Dan dengan hasil segini aku tetap akan bilang kalau Gundam AGE tontonan yang lumayan.

Gundam AGE punya semua elemen cerita yang ada dalam sebuah seri Gundam bagus, tapi nilai-nilai filosofisnya agak enggak ada. Apa ya? Kayak ‘roh’-nya enggak ada gitu. Perasaan yang semestinya bikin kita semangat atau tergugah kalau menonton anime mecha di bagian akhir seri ini itu engga ada.

Titik balik ceritanya buatku—sekaligus bagian terbagus dari babnya Kio—adalah pas episode-episode menuju Pangkalan Bulan. Ceritanya kayaknya beneran udah bakal bagus.

Diva akhirnya terdesak oleh Vagan. Lalu karena tak ingin kakeknya mengorbankan nyawa, Kio dan Gundam AGE-3 akhirnya tertawan.Ada sejumlah tokoh dan mecha baru diperkenalkan pada titik ini, mulai dari Fram Nara (ajudan Vagan yang merupakan adik perempuan Dole, pimpinan Magicians Eight dari bab Asemu—menaruh kecurigaan pada Zeheart atas kematian kakaknya), Leil Light (pilot tangguh yang setia sepenuhnya pada Zeheart), Zanald Beihart (perwira Vagan jahat yang ingin menusuk Zeheart dari belakang), hingga bahkan Fezarl Ezelcant sendiri.  Lalu dipaparkan juga konflik antara anggota-anggota keluarga Asuno, dengan Flit yang terdorong untuk melakukan genosida serta Asemu yang akhirnya muncul kembali.

Asemu diceritakan bertahun-tahun memalsukan kematiannya dan bergabung bersama kelompok perompak Bisidian dengan nama Kapten Ash, demi menjaga keseimbangan kekuatan antara Federasi dan Vagan. Hal ini dilakukannya agar punya cukup waktu menemukan EXA-DB, suatu ‘harta karun’ peninggalan masa lampau yang mampu membalikkan arah jalannya perang.

EXA-DB merupakan basis data superlengkap berkenaan teknologi senjata dan MS dari masa lampau. Alasan mengapa Vagan sebelumnya memiliki keunggulan atas Federasi konon karena mempunya sebagian isi basis data ini.

Subplot tentang EXA-DB yang diperebutkan kedua belah pihak, serta SID, MA raksasa yang nyaris menewaskan Asemu, merupakan tambahan yang benar-benar menarik bagi ceritanya (desain mecha SID beneran keren!). Tapi sayangnya, mungkin karena durasinya atau gimana, subplot ini tak tergali terlalu dalam.

Puncaknya adalah saat teknologi dari AGE System yang terpasang pada Gundam AGE-3 kemudian diimplementasikan bersama teknologi MS Vagan, menghasilkan Gundam Legilis yang sempat dikemudikan oleh Ezelcant sendiri.  Gundam AGE-3 hancur berkat kedahsyatan daya serang yang Gundam Legilis miliki. Tapi Kio terselamatkan berkat pertolongan Asemu dan anak-anak buahnya.

Namun demikian, cara pandang Kio terhadap Vagan telah berubah semenjak masa penawannya di koloni utama Vagan, Second Moon.

Ceritanya benar-benar kayak akan memasuki fase genting gitu. Hanya saja…

The Downside

Ceritanya, dari titik ini agak…

Yah, intinya, bila paruh pertamanya merupakan anime mecha yang solid—dengan suguhan utama berupa aksi mecha di tiap episode—paruh keduanya menyisakan terlalu banyak ‘lubang’ yang gagal ditutup. Plotnya pada akhirnya memang terbukti terlalu disimplifikasi. Visi yang membangunnya serasa tak ada, dengan lebih banyak ‘daftar adegan yang harus hadir’ daripada penjelasan kenapa adegan-adegan itu perlu ada.

Hasilnya? Banyak tokoh yang tidak konsisten karakterisasinya dan perkembangan cerita yang terkesan dibuat-buat.

Memang sudah terindikasi di bab Asemu, dan waktu itu bisa kutolerir akibat keterbatasan durasi cerita. Tapi di bab Kio ini, ketidakkonsistenan karakter Zeheart sudah terlampau banyak. Hubungan kompleksnya dengan Asemu, sikap Zeheart terhadap anak-anak buahnya—yang terakhir ini paling nampak dalam adegan terakhirnya dengan Fram Nara.

Menyangkut Zeheart sendiri, air mataku bahkan sampai keluar di episode 48. Aku kasihan atas perkembangan karakternya, tapi semua karena alasan yang salah.

Cara segala konflik antara Vagan dan Federasi diakhiri pun aneh. Alih-alih Ezelcant atau Zeheart, lawan terakhir yang keluarga Asuno harus hadapi adalah tokoh baru Zera Gins, klon Ezelcant yang secara harfiah benar-benar muncul begitu saja di penghujung—sekali lagi, penghujung—cerita, seakan dengan tujuan semata-mata hanya untuk menjadi lawan terakhir. Pihak Federasi bersama Vagan kemudian harus bekerjasama untuk menyelamatkan jutaan nyawa di Second Moon dari kerusakan yang ia bawa.

Memikirkannya dari sudut pandang seorang pemain RPG, sekaligus mempertimbangkan segala kendala yang mungkin dihadapi dalam masa produksi, aku kurang lebih bisa mengerti mengapa perkembangan ini bisa terjadi. Tapi tetap saja, bagi penonton awam ataupun penggemar Gundam veteran pun, perkembangan cerita di seperempat akhir seri Gundam AGE akan terasa luar biasa aneh. Entah bagaimana hasilnya di versi RPG-nya nanti.

Sebenarnya, hal paling menyakitkan dari semua ini adalah bagaimana Gundam AGE pada akhirnya memperlakukan karakter-karakter perempuannya. Emily di generasi pertama dan Fram sama-sama sempat memperoleh waktu spotlight mereka. Tapi Romary, Lu Anon, kemudian Wendy…  aku enggak enak ngomong begini, tapi apa-apa yang mereka lalui agak dikesankan ‘enggak berarti.’

Meski mengikuti perkembangan karakter Flit dan Asemu dalam rentang waktu puluhan tahun memang menarik, sesuka apapun aku terhadap mereka berdua, aku tak yakin aku akan bisa melalui sebuah perang tanpa terus teringat setengah mati akan keadaan anak istriku sendiri. Maksudku, sebenarnya ini lebih ke soal bagaimana Asemu dipaparkan sih. Tapi Flit pun melakukannya dalam satu adegan flashback tentang Yurin yang bikin aku benar-benar merasa enggak enak terhadap Emily (walau mungkin para pembuat enggak memaksudkannya demikian). Dan perkembangan karakter Kio sejujurnya agak mengecewakanku.

Kenapa hasil akhirnya malah begini, ya?

Apa karena para pembuatnya terlalu self-concious dalam membidik seri ini buat anak-anak?

Kebanyakan porsi adegan yang melibatkan orang dewasa akhirnya disingkirin?

Entahlah.

Gimanapun, cara paling baik menikmati Gundam AGE adalah dengan tahu terlebih dahulu tentang segala kekurangannya. Kemudian kau bisa abaikan semua itu dan nikmati hal-hal bagusnya, mengingat hal-hal bagusnya memang lumayan bagus.

The Barracks

Soal desain mecha, mecha yang tampil di seri ini ada jauh lebih banyak dari bayanganku. Jadi aku sebutkan yang utama-utama saja.

Desain mecha Gundam AGE-3 yang dikemudikan Kio itu keren. Aku suka bagaimana konsepnya mengadaptasi bentuk ZZ Gundam, menghadirkan semacam MS kelas berat. Awalnya wujud ini pun terbentuk sebagai gabungan dua bagian, yakni Core Fighter dan G-Ceptor. Tapi kemudian  sistemnya disempurnakan agar cukup bisa digunakan oleh Kio seorang. Wujud ini dilengkapi dengan senjata laras panjang Sigmaxiss Rifle, yang tenaganya dapat diperkuat dengan cara serupa Photon Ring Ray System memperkuat daya tembak Photon Blaster yang dimiliki oleh Diva.

Ada dua bentuk alternatif yang dimilikinya, yakni Gundam Age-3 Fortress untuk pertempuran darat di Bumi, serta Gundam Age-3 Orbital untuk di luar angkasa.  Age-3 Fortress agak mirip dengan Gundam Virtue dari seri Gundam 00, hanya saja meluncur jauh lebih cepat di atas darat. Bentuk ini tercipta dengan gabungan Core Fighter dengan komponen G-Hopper. Sedangkan Age-3 Orbital terbentuk dengan kombinasi komponen G-Viper, dan memiliki ciri khas kecepatan tinggi serta senjata Sigmaxiss Long Cannon yang menghasilkan tembakan-tembakan sinar yang bisa melengkung.

Gundam AGE-1 Gransa yang digunakan Flit kurang lebih bisa dikatakan merupakan versi full armor dengan Gundam AGE-1 Flat. Kedua lengannya dipersenjatai beam cannon dan seluruh tubuhnya dilindungi lapisan perisai tebal yang sewaktu-waktu dapat dilepas.

Gundam AGE-2 Black Hound yang digunakan Asemu kali ini berwarna hitam dan terlihat jelas diinspirasikan oleh Crossbone Gundam. Di samping mempertahankan kemampuannya untuk berubah wujud jadi pesawat, konfigurasi ini seakan mendukung konservasi energi dengan memakai persenjataan dengan amunisi padat, senjata  tombak di samping beam saber, serta kawat-kawat berkait.

MS massal Federasi kali ini adalah Clanche, yang seperti AGE-2, mampu berubah bentuk jadi pesawat. Jenis MS ini yang menjadi mecha utama pelindung Diva. Meski demikian, jenis baru dari Genoace dan Adele masih digunakan. Seric menggunakan Clanche Custom yang menjadi miliknya sendiri, yang mendapat tambahan binder sekaligus beam cannon. Lalu Obright Loraine, yang kembali ke Diva sesudah bab Asemu, menggunakan  Genoace O-Custom yang merupakan modifikasi lanjut dari Genoace II yang digunakannya dulu, dengan pendorong, pelindung, serta perlengkapan sensor yang lebih kuat dari sebelumnya.

Dari sisi Vagan, Zeheart di awal bab ini mempergunakan Ghirarga yang dikembangkan dari Zeydra miliknya yang lama. Dikembangkan lebih ramping agar mampu memiliki performa lebih baik dalam atmosfer Bumi, MS ini dipersenjatai dengan beam spear dan beam tail sword yang berbentuk menyerupai sabit. Bentuknya lumayan keren, dan kontras dengan bentuk bulky dari AGE-3. Pada upgrade lebih lengkapnya, demi mewadahi kemampuan X-Rounder yang Zeheart miliki, Ghirarga dilengkapi dengan perlengkapan tambahan yang memungkinkannya menggunakan persenjataan bit. Tapi MS ini pun masih belum cukup mampu mewadahi kemampuan X-Rounder Zeheart bila yang bersangkutan tidak menggunakan topeng.

(Agak berbeda dengan bit di seri-seri Gundam era UC, bit dalam Gundam AGE menyerupai ranjau sinar yang mampu meng-homing musuh. Cara kerjanya juga masih belum jelas.)

Fram mempergunakan Fawn Farsia, yang merupakan kembangan lebih lanjut dari Farsia yang sempat dipergunakan Yurin dahulu. MS ini memiliki sistem flower funnel yang lebih fleksibel dan particle bit yang dapat dihasilkan dalam jumlah sangat banyak, bahkan hingga mampu menciptakan medan pelindung. MS ini tak mempergunakan platform seperti halnya Farsia, dan cocok dengan Fram yang konon, sebelumnya tak memiliki pengalaman tempur.

Zanald menggunakan Xamdrag yang menyerupai gorila berekor dengan dilengkapi persenjataan berat. Ini MS dengan konsep agak aneh, tapi aku bisa melihat fungsinya dalam cerita dan memang terbukti ini menjadi salah satu lawan yang paling berbahaya.

Leil yang sangat setia pada Zeheart sebelumnya mempergunakan Wrozzo, yang merupakan MS bawah air buatan Vagan, sebelum ia menggantikan Zeheart menggunakan Ghirarga. Di samping Wrozzo, hadir juga Reganner yang merupakan versi lebih kuat dari Defurse yang digunakan dalam pertarungan terakhir di Ambat. Seperti halnya pendahulunya, ini jelas terinspirasi dari Big Zam. Hanya saja kali ini keduanya tak berperan penting dalam cerita.

Gundam Legilis sebelumnya digunakan Ezelcant, namun kemudian diserahkan ke Zeheart. MS ini juga menjadi MS pertama yang mampu mengimbangi kekuatan X-Rounder Zeheart sepenuhnya. Dilengkapi jenis persenjataan standar MS Federasi, hanya saja dalam versi lebih kuat. Perisainya juga mampu menghasilkan bit-bit dalam jumlah banyak. Bentuk kombinasinya antara MS Vagan dan Federasi memberinya kesan yang menurutku aneh, tapi seenggaknya ada seorang temanku yang menganggap bentuknya keren.

Sesudah Gundam AGE-3 hancur dalam pertempuran melawan Gundam Legilis, Kio memperoleh MS baru Gundam AGE-FX yang memiliki C-Funnel sebagai persenjataan utama. C-Funnel menyerupai sword bit seperti yang dimiliki oleh 00 QuanTT, dan diimplementasikan ke dalam rangkanya menyerupai bentuk sayap dan prostusi pada sendi-sendinya. Seperti kasus Zeheart, AGE-FX juga sepenuhnya mampu mewadahi bakat X-Rounder Kio yang terus tumbuh. Di samping C-Funnel, AGE-FX juga dilengkapi dengan Core Fighter serta senapan Stangle Rifle yang dikembangkan dari Sigmaxiss Rifle. MS ini menggunakan psychoflow sistem yang memungkinkan Kio mengendalikan setiap C-Funnel dengan akurasi tingkat tinggi. MS ini juga memiliki FX Burst mode yang mengurangi tingkat akurasi MS ini, namun sebaliknya meningkatkan secara drastis batas kecepatan yang mungkin tercapai.

(Sebenarnya, soal AGE-FX, aku merasa ada yang benar-benar aneh dengan konsepnya. Dari semua desain MS keren yang ada di Gundam AGE,  untuk suatu alasan, justru mecha utama terakhirnya yang bikin aku kurang sreg. Aku mengerti bagaimana desainnya seakan diturunkan dari Nu Gundam dan V2 Gundam sih. Tapi tetap saja sulit buatku untuk menyukai bentuk AGE-FX. Aku juga merasa bagaimana desainnya bisa diwujudkan oleh AGE System dari Gundam AGE-3 agak tak masuk akal. Maksudku, cara pakainya saja agak terlalu berbeda.)

Salah satu highlight mecha lain di seri ini adalah SID yang menjadi penjaga dari EXA-DB. Bentuknya lebih menyerupai semacam monster mesin dalam film-film futuristik Barat. Tapi aku enggak bisa mengatakan apa-apa lebih dari itu.

Akhir Perjalanan Panjang

Dari segi teknis, Gundam AGE sama sekali enggak mengecewakan. Visual dan audionya cukup keren. Sejumlah lagunya pun benar-benar kusuka. (Gimanapun, aku emang suka suara nyanyian Kuribayashi Minami)

Mengiringi animenya, produk plamo mecha-mechanya juga sudah keluar. Sesudah kulihat, bahkan ada lini khusus untuk versi MS yang disederhanakan yang sepertinya benar-benar ditunjukkan bagi pemula. Aku merasa lini barunya ini menarik, tapi mungkin bukan sesuatu yang benar-benar akan kusebut keren.

Akhir kata, aku tetap masih penasaran tentang seri macam apa yang seri ini berusaha capai. (Paling menakutkan jika hal ini tak dipikirkan sama sekali.) Tapi sudahlah. Mungkin lebih baik jika aku tak mempermasalahkannya lebih lanjut.

Kalau kalian penyuka mecha, enggak ada salahnya kalian memperhatikan seri ini. Ada lumayan banyak hal menarik di dalamnya yang tersebar-sebar dari awal hingga akhir. Seri ini mengecewakan karena tak benar-benar berhasil meramu semua bahan yang telah dimilikinya secara semestinya. Tapi kekecewaan itu bukan dalam jenis yang bikin kau kesal atau gimana kok. Hanya… kecewa saja. Seenggaknya, meski durasi aksinya yang kadang pendek bisa jadi masalah, terlihat betapa adegan-adegan mecha di seri ini dibikin dengan sungguh-sungguh.

Sedikit info tambahan, sesudah kontroversi soal alien di film layar lebar Gundam 00, Gundam AGE sebenarnya menuai sedikit kontroversi serupa dengan hadirnya elemen perjalanan waktu dalam seri manga gaiden Kidou Senshi Gundam AGE Treasure Star. Ada sesuatu soal bagaimana teknologi dari generasi ketiga dibawa ke generasi pertama dan dibuat replika AGE System. Tapi aku juga tak akan terlalu membahas soal itu. Di samping itu, siapa tahu juga seri tersebut tak dipandang canon.

Ada sejumlah seri sampingan lain dari dunia Gundam AGE, tapi detil lebih jauh tentang cerita-ceritanya masih belum aku tahu. (Memories of SID, misalnya?)

Masih belum ada info tentang adanya seri Gundam baru lagi yang keluar. Namun gelagatnya, adaptasi animasi dari Gundam: The Origin, yang setahun lalu telah diumumkan, semestinya sudah mulai berjalan. Info menarik lain akan kukabari.

Sembari menunggu itu, telah diumumkan ada tiga seri anime mecha baru dengan konsep keren yang akan ditayangkan di pertengahan 2013: Valvrave the Liberator, Majestic Prince, serta Gargantia on the Verdurous Planet; yang ketiganya kayaknya enggak mungkin enggak ingin kubahas.

Perkembangan terakhir dari Gundam AGE adalah proyek baru yang akan menjabarkan lebih lanjut hubungan antara Zeheart dan Asemu pada bab kedua cerita. Masih belum jelas formatnya, tapi gelagatnya sejauh ini merupakan film atau OVA kompilasi dengan penambahan adegan-adegan baru. Mungkin hasilnya nanti akan lebih bagus dari yang kukira.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B-

Iklan

2 Komentar to “Gundam AGE, generasi ketiga, berakhir!”

  1. akhirnya dibahas juga..
    apa yang kurasakan juga sama kayak gitu..
    seri ini berakhir dengan apa2 yang nanggung.. tak sesuai dengan harapanku tapi juga nggak sampai bikin aku kecewa berat..

    aku setuju tentang bagaimana seri ini memperlakukan tokoh ceweknya, paling kasihan dengan Romary (aku suka dia, jujur aja)

    tp yah seenggaknya adegan2 aksinya memuaskan, perang pamungkas itu memuaskanku.. dengan beberapa kematian yang lumayan bisa bikin ak bergetar (Seric Albis)..

    yah pada akhirnya ini juga bukan seri yang bakal kurekomendasikan ke orang2 kebanyakan juga sih..

    • Soal itu… ini, sayangnya, kayaknya bakal jadi seri Gundam yang paling enggak akan kurekomendasikan ke tokoh cewek.

      Kalau kupikir, mungkin segala detil tentang tokoh-tokoh sampingan emang disembunyiin detilnya buat porsi side quest di RPGnya? Man, aku beneran penasaran ama review gamenya.

      (Setelah kupikir lagi, sebenernya lumayan banyak bentuk alternatif dari masing-masing Gundam yang belum keungkap juga.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: