Kizumonogatari – IND (014)

Masih belum diedit.

—————-

014

Hari berikutnya, tanggal 6 April.

Siang hari.

Dengan kata lain, malam hari bagi vampir, aku dan Kiss-Shot sedang tidur seperti biasa di ruangan dengan jendela-jendela tertutup pada lantai kedua bangunan bimbel terbengkalai itu.

Aku terbangun tiba-tiba.

Tak lain oleh Oshino Meme, yang pada larut malam sebelumnya pada akhirnya tak pulang, dan bahkan tak tampak di sepanjang pertarungan itu—ke mana sikap seriusnya yang keren kemarin menghilang? Hari itu dia tertawa keras dengan kesan main-mainnya yang biasa.

“Selamat pagi, Araragi!”

“…Aku benar-benar masih mengantuk.”

“Sudah, kemari saja.”

Walau kedua mataku masih separuh terpejam, aku diseret keluar oleh Oshino ke lorong. Di tengah semua keributan ini, Kiss-Shot tetap melanjutkan tidur lelapnya, tanpa sedikitpun berbalik dalam tidur.

Benar-benar gadis yang penuh kedamaian.

Sepertinya dirinya hidup tanpa memiliki kecemasan sedikitpun.

“Oshino, ada apa?”

“Hm? Jangan di lorong. Yah, Heart-Under-Blade mungkin takkan bangun. Tapi sebagai penjagaan, aku kita ke lantai atas. Kita ke lantai empat.”

“Lantai empat…”

Sekantuk apapun aku, setidaknya aku bisa mengerti perkataannya sejauh itu.

“Tapi jendela-jendela di sana membuka. Kalau aku kena sinar matahari…”

“Tenang saja. Hari ini hujan.”

“Hujan?”

Sungguh?

Setelah kupikir lagi, memang pada hari-hari terakhir hujan tak turun.

Jika hujan tak turun selama aku hilang kesadaran persis sebelum aku berubah menjadi vampir, maka kurasa ini hujan pertama semenjak libur musim semi dimulai.

Yah, mungkin juga sempat hujan selama aku tidur 12 jam setiap hari pada waktu siang… tapi berhubung aku tak menonton prakiraan cuaca tak mungkin aku bisa tahu.

“Kau bisa santai. Dengan kekuatan pemulihan dirimu, terkena sedikit cahaya matahari juga, itu bukan berarti kau bakalan langsung mati, ‘kan?”

“Ngomong itu sesudah merasakan sendiri gimana tubuhmu melepuh.”

“Ayo pergi.”

Oshino menaiki tangga dengan ceria. Sementara aku mengawasi langkah-langkah kakiku sendiri, aku menyusul dari belakangnya. Nampaknya ruang kelas terdekat di lantai empat tak masalah, jadi Oshino kemudian memilih pintu terdekat.

Begitu membuka pintu yang pegangannya nampak sudah rusak itu, bahkan selintas pandang saja, ruangan yang Oshino pilih tampak rusak dan berantakan tanpa bisa lagi diperbaiki.

Kurasa Oshino bukan jenis orang yang punya banyak keberuntungan.

“Satu, dua!”

Namun, kurasa Oshino sendiri tak pernah merasa dipermasalahkan dengan hal ini, dengan sigapnya dia menarik salah satu kursi terdekat, kemudian duduk di atasnya, dengan kursi mengarah ke posisi yang berlawanan dengannya.

Aku melakukan hal yang sama.

Kurasa, pada intinya aku cuma meniru apa yang dia lakukan saja.

“… Itu.”

Aku menunjuk ke tas perjalanan yang Oshino bawa di tangannya.

Melihatnya, aku langsung sepenuhnya terjaga.

Tas itu, sejauh ini, telah membawa kaki kanan dan kiri Kiss-Shot.

Itu berarti…

“Ya.”

Oshino mengangguk.

“Tebakanmu benar. Di dalamnya ada kedua lengannya Heart-Under-Blade.”

“…Begitu ya.”

Aku… menghela nafas dalam-dalam dan langsung saja merasa lega.

Aku sempat berpikir alasan Oshino masih belum kembali sampai pagi hari adalah karena Guillotine Cutter pada akhirnya tidak sudi mengembalikan kedua lengan Kiss-Shot pada kami, dan itu membuatku khawatir.

Kiss-Shot sendiri, seperti biasa, bersikap seolah tak peduli tentangnya sih.

“Sudah pagi. Mau tidur?”

Kemudian begitu saja, Kiss-Shot waktu itu tertidur.

Dia benar-benar gadis yang penuh kedamaian—hidup tanpa memiliki kecemasan sedikitpun.

Atau mungkin juga dalam hal ini akunya yang terlampau lemah.

Namun, kita di sini sedang membicarakan Guillotine Cutter yang menyebut Dramaturgie dan Episode, yang mengembalikan kaki kanan dan kiri Kiss-Shot masing-masing, ‘terlampau jujur untuk kebaikan mereka sendiri’. Kemungkinan Guillotine Cutter tak memenuhi bagian perjanjiannya kurasa sesuatu yang bisa saja terjadi.

Aku gelisah seperti apapun, aku tak punya pilihan selain mempercayakan urusan ini pada Oshino. Tapi…

“Uhm? Ah, aku tahu kau mau tanya soal apa.” kata Oshino. “Kau ingin tahu apakah Guillotine Cutter benar-benar memenuhi janjinya ‘kan?”

“Yah, sejujurnya, aku memang memikirkannya.”

“Itu sebenarnya kesempatan untuk memperlihatkan keahlianku. Ini bagian dari jasa negosiasi, lho—walau bisa saja kubilang Guillotine Cutter memang enggak berniat mengembalikan kedua lengan ini.”

“Sudah kuduga.”

“Dia menyimpan rasa permusuhan yang lumayan besar—nampaknya. Soalnya enggak seperti dua yang lain, dia bergerak semata-mata atas keyakinannya sendiri.”

“Keyakinannya ya.”

Aku ingat.

Beberapa kali ia mengutarakan hal tersebut lewat kata-katanya sendiri.

“Yang seperti itu yang disebut mentalitas pembela kebenaran, kurasa.”

“Definisi kebenaran bagi tiap orang itu berbeda-beda, asal kau tahu. Kau tak bisa dengan gampangnya membantah kebenaran orang lain—sederhananya, bagimu, dia adalah musuh. Di samping itu, meski dia mengomel ke sana kemari, hasil akhirnya tetap adalah ini.”

Oshino melemparkan tas perjalanan itu ke arahku.

Perlakuan yang kasar.

“Dia mengembalikannya.”

“Itu karena memang itu yang harusnya dilakukannya.”

“Itu karena aku berhasil membujuknya.”

“Dengan cara apa kau membujuknya? Maksudku, dia semacam fanatik ‘kan? Kalau memandangnya secara sekuler, dari sudut pandangku, dia benar-benar seorang fanatik, ‘kan? Bukannya mengembalikan kedua lengan seorang vampir itu tak jauh beda dengan meninggalkan keimanannya sendiri?”

“Itu karena dia pastinya orang yang akan mengerti asalkan kau bicara padanya—karena begitu-begitu juga, dia tetap saja seorang pro.”

“Seorang pro.”

“Persis, seorang profesional.”

Mungkin upayaku untuk mencocokkan fakta-faktanya berkembang agak terlalu dalam, Oshino pada akhirnya mengakhiri diskusi tersebut.

“Gamblangnya, aku memberitahunya bahwa bila kau berhasil mengumpulkan seluruh bagian tubuh Heart-Under-Blade, kau berkeinginan buat bisa kembali lagi jadi manusia—dan bahkan Heart-Under-Blade pun menyepakati hal tersebut.”

“…Dengan kata lain, Guillotine Cutter akhirnya mundur untuk kepentinganku?”

“Sesuatu seperti itu, ya, kurasa.”

Pilihan kata Oshino terasa sedikit hati-hati.

Rasanya seperti dirinya sedang berusaha mengindikasikan sesuatu. Tapi, kalau dipikir lagi, orang ini selalu mengindikasikan sesuatu secara gila-gilaan dalam setiap perkataan yang ia ucapkan. Jadi kalaupun aku mempermasalahkan apa-apa yang dikatakannya ini, mungkin apa yang dikatakannya sebenarnya tak ada artinya juga.

Sikapnya menerawangi orang, mungkin bisa saja memang hanya sikap.

Mungkin memang ada waktu-waktu tertentu ketika kenyataannya memang tak lebih dari itu.

Yah, apapun tujuannya, terkumpulnya seluruh bagian tubuh Kiss-Shot merupakan hal baik. Berbicara secara baik-baik, dengan segini saja, tak ada lagi yang bisa kupermasalahkan tentang dirinya.

Aku bahkan tak mau membandingkannya dengan orang-orang seperti Guillotine Cutter.

Kubuka ritsleting tas perjalanan itu.

Lengan kanan, mulai dari bagian siku sampai ke ujung, kemudian lengan kiri, terpotong dari pangkal bahu—kini telah kupastikan berada di dalam tas itu.

“Yah, setidaknya di akhir dia memilih untuk mempertahankan kehormatan pihak sana—bagaimanapun, dia mendapat peringatan karena menculik Nona KM. Seandainya ini sepakbola, dia pasti diganjar kartu kuning.”

“Kartu merah, kalau menurutku sih.”

“Kartu merah itu kalau Nona KM sampai dibunuh olehnya. Karena itu, seandainya Nona KM pada waktu itu, Episode juga sudah mendapat kartu merah—tapi di sisi lain, pastinya kau juga akan mau membunuh Episode, jadi semuanya akan imbang kurasa, pada akhirnya.”

“Aku tak pernah punya maksud buat…”

Aku tak pernah punya maksud buat membunuhnya, adalah apa yang semula hendak kukatakan. Tapi kalimatku terhenti pada detik terakhir.

Sebab, itu pasti bohong.

Waktu itu aku mengamuk, dan aku tak sanggup menahan diri—salah, aku bahkan tak peduli soal apa-apa yang mungkin bakal terjadi.

Oshino bahkan tak menghentikanku.

Mungkin aku… bahkan telah membunuh Episode.

Keinginan untuk membunuh… benar-benar ada pada waktu itu.

“…Itu, anu…”

“Kenapa? Suaramu sesaat tinggi lalu tiba-tiba jadi rendah begitu. Kau benar-benar bersemangat sekali, Araragi. Apa ada suatu hal baik terjadi?”

Oshino, yang mengatakan ini seolah dirinya sedang berusaha tak menonjolkan diri, kemudian menunjuk ke kedua lengan yang menyembul keluar dari tas perjalanan dengan batang rokoknya yang tak menyala.

“Bagaimanapun, kau telah berhasil mengumpulkan keempat tungkainya. Selamat atas keberhasilanmu, Araragi! Misimu beres. Aku bahagia seakan ini masalah orang lain.”

“Masalah orang lain?”

“Karena ini memang bukan masalahku, ‘kan?”

“… … …”

Hmm.

Ini memang masalah orang lain dari sudut pandangnya sih.

“Kuberi sedikit pujian dariku. Secara praktis—tanpa pengalaman bertarung sedikitpun, seorang pelajar SMA rendahan berhadapan dengan tiga veteran spesialis pemusnahan vampir dan berhasil menang tiga kali berturut-turut—aku benar-benar angkat topi buatmu.”

“Kau tak sedang memakai topi.”

“Itu ungkapan, tahu.”

Oshino mengembalikan rokoknya ke mulut.

…Yang masih saja tak menyala.

“…Ini sebenarnya tak begitu penting sih, tapi Oshino, kenapa rokok itu tak pernah kau nyalakan?”

“Hm? Soalnya, jika rokoknya kunyalakan, bukannya kemungkinan dibuatnya adaptasi anime bakal jadi lebih susah?”

“… … …”

Kenapa juga kau begitu terobsesi dengan adaptasi anime.

Bagiku, itu benar-benar sebuah misteri.

“Ayolah, Araragi. Meski sudah kuucapkan selamat, kau masih memasang wajah murung. Kalau ada tujuan yang berhasil kau capai, semestinya kau senang apapun yang terjadi ‘kan? Entah mengapa kau memancarkan aura yang sama seperti saat pemakaman.”

“Oshino, rasanya, masih ada sesuatu yang kuragukan.”

Aku berkata.

Di samping itu, sebenarnya masih ada satu hal lagi yang sebenarnya masih membuatku resah.

Sampai detik terakhir, aku kebingungan apakah sebaiknya aku menanyakannya atau tidak. Tapi bila aku melihat sikap riang Oshino sekarang, entah bagaimana sekarang terkesan konyol bila sekarang aku memikirkannya.

Aku tinggal menanyakan apa yang ingin kutanya.

Karena pada akhirnya, segala yang tak dijawab pada akhirnya akan tetap tak terjawab.

“Ini tentang Guillotine Cutter.”

“Ya?”

“Oke, aku paham dari segi alur—dalam pertarungan semalam, karena dia ceroboh, sedikit banyak, aku berhasil menang tanpa sampai terluka. Aku paham itu. Tapi Oshino, seperti yang kau bilang. Dengan satu serangan dari seorang anak SMA biasa… aku berhasil mengalahkan orang berbahaya kayak dia. Bukannya, ada sesuatu yang aneh di sini? Bagaimanapun juga, dia orang yang berhasil mengambil kedua belah lengan dari seorang vampir legendaris, ‘kan?”

“Hrm.”

“Tunggu, malah bukan cuma Guillotine Cutter. Bahkan dengan Dramaturgie dan Episode juga kejadiannya seperti itu. Masing-masing, keduanya mengambil kaki kanan dan kaki kiri Kiss-Shot ‘kan? Memikirkan itu, aku, yang kau bilang tak punya pengalaman bertarung, atau sekurang-kurangnya separah-parahnya pernah bertengkar dengan adik-adikku, dilihat dari sudut pandang itu, aku mengalahkan mereka secara mudah—kenapa bisa-bisanya sampai begini?”

Mungkin aku hanya beruntung. Mungkin saja.

Mungkin juga karena faktor kejutan yang kupunya.

Tapi… apa tak ada jawaban lebih masuk akal lain yang ada?

Apa merekanya yang lemah? Atau akunya yang terlampau kuat?

Walau aku bertanya, sebenarnya aku tak terlalu mengharapkan sebuah jawaban.

Itu cuma sekedar sebuah misteri bagiku.

Namun—aku tak yakin persisnya kenapa, tapi aku mendapat kesan kalau Oshino mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut.

Alasan mengapa dirinya bersikap lebih netral dari siapapun yang lain.

Itu karena dirinya adalah orang yang sebisanya berusaha mempertahankan keseimbangan.

“Keduanya.”

Sebagaimana yang kuduga, Oshino mengatakannya.

“Dilihat dari sudut pandang mereka, maka jelas kalau kau yang terlalu kuat—dilihat dari sudut pandangmu, maka orang-orang itu yang terlampau lemah. Karena kau… bukan orang yang bukan siapa-siapa. Kau adalah bawahan langsung dari Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.”

“Tapi, masa iya cuma karena itu.”

“Iya, memang cuma karena itu.”

Dibenarkan olehnya.

Jawaban itu benar-benar dibenarkan oleh Oshino.

“Kalau aku harus memilih alasan mengapa amatiran sepertimu berhasil mengalahkan orang-orang itu, maka pastinya jawabannya itu—yah, tapi tetap saja ada banyak kemungkinan yang membuatmu bisa kalah sih. Itu juga kalau mau dibilang, peluang yang mereka punya bisa jadi lebih besar. Kau memang benar-benar luar biasa, Araragi.”

“Banyak atau sedikit… kau benar-benar sudah membuat kemungkinannya jadi seimbang buatku.”

Keseimbangan itu.

Memberiku keunggulan atas medan, mencegah pertarungan sampai mati—saat Hanekawa kemudian dijadikan sandera, menyusun rencana yang setara dengan keunggulan itu.

Semenjak awal, kau telah mengusahakan sebuah pertarungan yang adil.

Namun…

“Tapi, kalau begitu kasusnya, buatku tetap saja jadinya aneh. Maksudku, kalau aku pikirkan lagi keadaan awalnya, semua ini jadinya aneh.”

“Aneh dengan cara bagaimana maksudmu?”

“Kalau cuma dengan bawahanku saja hasilnya seperti ini, dengan Kiss-Shot dalam keadaan terbaiknya—maka tiga orang itu secara bersama-sama semestinya bisa jadi lawan yang seimbang, ‘kan?”

Kalau soal itu, aku yakin.

Kekuatan Kiss-Shot sebagai vampir dalam wujudnya yang asli, jika aku perkirakan minimumnya, maka jelas tak mungkin berada di bawahku—dan di samping itu, Kiss-Shot memiliki pengalaman 500 tahun.

500 tahun pengalaman.

Pengalaman tempur.

Bahkan saat dihadapkan dengan pedang-pedangnya Dramaturgie, salib raksasa milik Episode, lalu kelihaian menakutkan yang Guillotine Cutter punya—apa benar mungkin bagi mereka untuk mengambil keempat tungkai badan dari Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade?

Aku hanya punya satu kesimpulan.

Sepertinya itu tak mungkin.

Tak mungkin hal seperti itu bisa terjadi.

“Intuisi yang bagus, Araragi—jika dilatih, kau mungkin bisa jadi seorang spesialis yang cukup handal juga.”

Oshino berkata dengan seringai lebar—semula kupikir dirinya tak berniat untuk memberi jawaban secara serius, tapi ternyata tak juga.

Dia melanjutkan pertakaannya dan… dan dia juga menjawab pertanyaanku.

“Kenyataannya persis seperti yang kau bilang Araragi. Masing-masing dari mereka tak mampu menghadapi Heart-Under-Blade sendirian. Jadi mereka mencoba menghadapinya secara bersamaan. Tapi bertiga pun mereka masih belum mampu menandinginya. Alasannya karena…”

“Karena?”

“Karena jika saja seandainya Heart-Under-Blade waktu itu berada pada kondisi prima—bukankah keadaannya bakalan berbeda?”

Saat itu Kiss-Shot sedang tidak sedang berada dalam keadaan prima.

Aku punya ingatan yang sedikit banyak mendukung kata-kata ini.

Aku bisa mengingatnya bahkan tanpa melakukan ini-itu terhadap otakku—Kiss-Shot sendiri yang waktu itu mengatakannya.

Sesuatu soal kesehatannya sedang buruk—atau semacamnya.

Kupikir, itu cuma alasan.

Tapi, seandainya saja itu sebenarnya bukan cuma alasan….

“Jadi—pertarungan antara Heart-Under-Blade dengan ketiga orang itu akhirnya menjadi pertarungan yang seimbang.”

“… … …”

“Yah, terlepas apakah pada akhirnya kau menanyakannya atau tidak, pada akhirnya aku tetap akan menceritakannya padamu—tapi berhubung kau bertanya, Araragi, jadinya lebih gampang buatku untuk menjelaskannya. Terkadang, bahkan kau pun menunjukkan sedikit kecerdasan, ya?”

Sembari mengatakan itu…

…Oshino, dengan santainya mengeluarkan ‘sesuatu’ dari dalam saku kemeja alohanya, dan kemudian ia melemparkannya padaku. Saku kemejanya itu seharusnya menyimpan rokok—makanya kupikir yang ia lemparkan padaku adalah sekotak rokok, tapi ternyata bukan. Sebab bagaimanapun juga, saku kemeja aloha yang dikenakannya seharusnya tak cukup besar untuk menampung ‘sesuatu’ sebesar itu.

Itu, ternyata adalah…

…terbentuk atas gumpalan daging berwarna merah—sebuah jantung.

“Huwaaaaaa!”

Tanpa sadar aku berteriak, dan benda yang sempat kutangkap dengan kedua tangan itu terjatuh ke lantai—aku terpaku sampai sebegitunya.

Aku terpaku, maksudku, aku benar-benar dibuat sampai tak sanggup bergerak.

Sebaliknya, berlawanan dengan keadaanku yang tak mampu bergerak… jantung itu berdetak. Terus berdetak. Mengikuti irama dub-dub dub-dub.

“Itu jantungnya Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.” Oshino berkata. “Tanpa jantung itu, dia bertarung dengan tiga orang spesialis pemusnahan vampir sekaligus—tak heran tungkai-tunkai badannya sampai terpotong.”

“… … …!”

Wajar saja.

Bahkan aku pun bisa paham kalau kekuatan yang dimiliki kaum vampir khususnya adalah darah mereka—tanpa jantung yang menjadi andalan untuk peredaran darah, pantas saja Kiss-Shot bisa sampai kehilangan kaki tangannya secara harfiah.

“… …Dan dia sendiri bahkan enggak sadar.”

“Yap. Dia sendiri berpikir kalau yang mereka ambil cuma kaki dan tangannya saja—bahkan dalam keadaan nyaris terbunuh, pastinya dia sempat memikirkan alasan mengapa keadaannya bisa sampai seburuk itu. Heart-Under-Blade terlalu banyak menaruh kepercayaan terhadap dirinya sendiri—tak pernah sekalipun terbayang olehnya ada orang yang suatu saat akan mampu menarik lepas karpet yang sedang dipijaknya sendiri.”

“Begitu. Jadi itu alasannya.”

Hmm, pikirku.

“Aku sudah menduga kalau dia licik, tapi Guillotine Cutter sampai berhasil secara diam-diam mencuri jantung Kiss-Shot—habis itu, baru ketiganya sama-sama menyerang? Tapi, bisa sampai mencuri jantung Kiss-Shot tanpa yang bersangkutan sendiri sadar saja sudah luar biasa. Kurasa tetap pada akhirnya aku harus memandang dia lebih tinggi.”

“Oh, salah, Araragi.”

Oshino membantah perkataanku.

“Yang mencuri jantungnya bukan Guillotine Cutter.”

“Heh? Maksudmu? Jadi Dramaturgie atau Episode yang mengambil jantungnya, tapi kemudian Guillotine Cutter yang akhirnya memegangnya?”

“Ah, bukan bukan bukan. Bukan Dramaturgie atau Episode juga.”

“Terus siapa?”

Jangan bilang ada spesialis pemusnahan vampir keempat yang nantinya muncul. Pikiran itu saja sudah membuatku bergidik.

Namun, perkataan Oshino berikutnya ternyata adalah:

“Aku.”

“… … … … …. ….”

Kata-kata tak keluar dari mulutku sampai saat itu.

Ada beberapa reaksi yang sempat terlintas dalam pikiranku, tapi tak ada satupun darinya yang kupikir pantas buat situasi ini, dan akhirnya semuanya kutelan dalam-dalam. Pada saat itu, Oshino, tanpa harus diminta, mulai menjelaskan—bahkan dia melakukan gerak-gerik teatrikal yang mirip dengan apa yang dilakukan tokoh-tokoh antagonis dalam pertunjukan-pertunjukan sandiwara sejarah.

“Pada awalnya, aku kebetulan saja sedang lewat—jalan-jalan menyusuri jalan pada malam hari, dan di sana kemudian kulihat sesosok vampir dengan kekuatan sebegitu hebatnya yang pastinya tak asyik lagi. Aku dengan gampang membayangkan kalau ini pasti sang Penakluk Fenomena Ganjil—dan makanya, demi mendatangkan keseimbangan, aku mengambil jantungnya saat itu juga.”

Karena aku sudah menduga semenjak awal kalau sejumlah spesialis pemusnahan vampir juga akan datang ke kota ini—katanya.

“Tanpa dia sendiri sadar—secara diam-diam, jantungnya kuambil.”

“Kau… benar-benar bahkan bisa melakukan hal semacam itu?”

Sesudah mengatakannya langsung, aku sadar akan betapa tololnya pertanyaan itu—betul sekali, sebab aku sudah melihat kemampuan Oshino dengan mata kepalaku sendiri.

Oshino menghentikan serangan dari Dramaturgie, Episode, dan Guillotine Cutter secara sekaligus, dengan pose ceria yang membuatnya mirip seperti orang-orangan sawah berkaki satu.

Sedahsyat itu kemampuan yang Oshino miliki.

Bahkan tindak negosiasi dengan ketiga orang itu—berhasil ia wujudkan.

“Bisa.” Oshino menjawab. “Walau aku takkan bilang itu gampang—sebaliknya, itu pekerjaan yang gila-gilaan susahnya. Khususnya, susah buat mengeluarkan jantungnya tanpa membuat dia sendiri sadar. Dengan membawa salib, bawang, dan air suci, aku kurang lebih berhasil menutupi jejakku. Tapi, tetap saja hasilnya bisa sebaliknya. Walau peluang yang kupunya tak sampai kurang dari 50-50, peluang yang kupunya juga tak lebih dari itu—kemudian, secara tak terduga, dadu yang kulempar memunculkan mereka bertiga.”

“… … Dan Kiss-Shot yang telah kehilangan kaki dan tangannya, berhasil meloloskan diri dengan sedikit sisa hidupnya yang tersisa—dan kemudian, dia bertemu denganku.”

“Dan kemudian, dengan darahmu, dia akhirnya terselamatkan.” Oshino melanjutkan. “Dan kemudian, dirimu pun berubah jadi vampir.”

“… … Begitu rupanya. Makanya… tak heran jika pada akhirnya aku berhasil mengalahkan ketiga orang itu.”

Kurasa…

…daripada mengejutkanku, jawaban Oshino lebih jadi memuaskanku.

Perbedaan potensi yang ada—pada akhirnya menjadi penentu dari segala-galanya.

“Kenyataan kau memberitahu Kiss-Shot tentang bekas bimbel ini sebagai tempat perlindungan, apa itu maksudmu untuk penebusan atau semacamnya? Kau bahkan sampai membuatkan medan pelindung begitu kita ada di dalam…”

“Penebusan? Aku enggak berbuat apa-apa yang sampai perlu ditebus, asal kau tahu. Sebab, keadaan inipun merupakan kesimbangan. Keterlibatanmu telah sekali lagi menggerakkan timbangannya.”

“Timbangan?”

“Bagaimana sang Penakluk Fenomena Ganjil mengangkat seorang bawahan merupakan suatu hal yang tak terduga. Terlalu tak terduga. Sejauh urusanku sih, ceritanya mestinya tamat begitu jantungnya berhasil kuperoleh. Tapi dengan begini, ceritanya jadi disetel ulang.”

“Disetel ulang…”

Setelah Oshino mengataknnya sekarang—tiga orang itu juga mengatakan hal yang sama. Kiss-Shot menciptakan seorang bawahan bagi dirinya merupakan sesuatu yang terlampau tak terduga, seakan-akan dia…

…semacam penganut.

Semacam penganut keyakinan untuk tak menciptakan bawahan…

“Meski begitu, meski segalanya kusetel ulang, Heart-Under-Blade untuk kali ini telah terlampau dilemahkan—dengan satu lawan tiga, ditambah kau, si bawahan, dua lawan tiga, tentu saja keadaannya tetap tak seimbang.”

“… …Lalu, soal yang kau secara kebetulan berpapasan dengan Kiss-Shot yang kebetulan sedang menyeretku, lalu soal gimana kau kebetulan berpapasan pas aku sedang diserang oleh mereka bertiga, itu semua sengaja? Aku enggak bisa enggak ngerasa kalau kemunculanmu waktu itu tak masuk akal—jadi itu alasannya.”

Termasuk fakta bahwa Kiss-Shot memberitahuku soal bangunan bekas bimbel ini.

Termasuk fakta bahwa Oshino telah menyelamatkanku dari mereka bertiga.

Semua itu dilakukannya untuk mempertahankan keseimbangan—jadi itu rupanya alasannya.

“Sebenarnya, semua terjadi berkat kebetulan belaka.” Oshino mengatakannya dengan nada seolah ia mempermainkanku. “Kamu saja yang selama ini beruntung.”

“… … …”

Walau menurutku pribadi alasannya tak mungkin sekedar itu, secara tak terduga, kalau dipikir ulang, mungkin bisa saja alasannya memang benar-benar cuma itu.

Karena kau cuma bisa meninjau sebuah fenomena sesudah fenomena bersangkutan berakhir.

“Itu berarti—cuma dengan memperoleh kembali tungkai-tungkainya semata, Kiss-Shot takkan bisa pulih kembali ke tubuh primanya yang sesungguhnya…”

Walaupun aku memperoleh kaki kanan, kaki kiri, dan kedua belah lengan.

Selama jantungnya tetap tak ada… keadaannya bisa fatal.

“Tentu saja.” Oshino mengangguk terhadap kata-kataku. “Karenanya kau, sesudah ini, harus mengambil jantung itu kembali dariku—karena sekalipun sang Penakluk Fenomena Ganjil memperoleh kembali kedua lengannya, tetap saja kau yang akan memiliki kekuatan vampir terbesar. Dalam ronde keempat, pertarungan antara kau dan aku—seharusnya aku akan bisa mendatangkan keseimbangan dengan itu.”

“…Bertarung… aku, melawanmu?”

Seharusnya.”

“Seharusnya, kau bilang?”

“Padahal aku sudah memberikan tanda-tanda di sana-sini kalau musuh terakhir yang harus kau lawan adalah aku, termasuk dengan mengatai kalau kau payah dalam mengerjakan pekerjaanmu, tetap saja semua sia-sia.”

“Err, tanda-tanda itu masih kurang jelas.”

Pada akhirnya upayanya sama sekali tak efektif.

Kata-katanya terlalu tersamar.

Dan lagipula, aku tak ingat kau pernah mengataiku payah dalam mengerjakan pekerjaan.

Pastinya kau sendiri yang terlalu berlebihan memikirkannya dan kau bahkan tak perlu orang untuk membuatmu sadar akan hal itu…

“Itu bukan lagi maksudku.”

Oshino, kali ini sembari menahan rokok itu dengan malas di mulutnya, hanya dengan pergerakan bibirnya saja, menunjuk dengan rokoknya jantung yang tengah kupegang pada tanganku.

“Begini, itu sekarang sudah kukembalikan padaku, ‘kan?”

“Ha… hah?”

“Kalau kau mau menyebutnya penebusan, maka ya, ini penebusan. Aku benar-benar minta maaf soal apa yang terjadi pada Nona KM. Ini benar-benar tak wajar ada orang biasa yang sampai terlibat semuanya sampai sedalam ini. Karena normalnya—orang-orang melarikan diri dari fenomena-fenomena ganjil. Gadis itu, kurasa sedikit abnormal. Aku tak bisa menjelaskannya dengan bahasa yang baik…”

“… … …”

Hanekawa Tsubasa.

Bukan pengorbana diri—melainkan pemuasan diri.

Bahkan tatkala dirinya nyaris terbunuh oleh Guillotine Cutter… yang dikhawatirkannya tetap adalah aku.

Lalu setelah segalanya berakhir, bahkan tanpa mengatai apapun untuk menyalahkanku, dirinya malah mengatakan hal-hal absurd seperti, “Maaf. Aku tertangkap terlalu gampang. Mestinya aku lebih hati-hati…”

“Kalau aku boleh ngomong secara terbuka di sini…” Oshino bergumam, seakan sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Kebaikan hati sampai sejauh itu justru akan bikin aku merasa enggak nyaman.”

“… Enggak semestinya kau mengatakannya dengan cara itu.”

“Itu sesuatu yang pastinya sempat kau rasakan juga. Apa aku salah?”

Oshino mengatakan itu seakan dirinya bisa sepenuhnya membacaku.

Seperti biasa—sayangnya, kenyataannya memang persis seperti apa yang ia bilang.

Aku sempat mengucapkan hal serupa pada Hanekawa.

Tapi bahkan sesudah dibilang soal itupun… Hanekawa tetap tak berubah.

“…Gadis itu, dia seperti memaksakan kebaikan pada dirinya sendiri, ‘kan? Tentu saja, aku enggak akan serta-merta bilang kalau itu salahnya. Pada kenyataannya, meski aku berhasil menolongnya dengan siasat buatanku, yang menjalankan siasat itu tetap kamu juga—dan aku memang tak merasa aku bisa begitu saja memperbaikinya dengan apa yang terjadi kemarin malam.”

Oshino, hanya saat mengatakan kata-kata itu—dengan cara yang sama seperti kemarin, memasang ekspresi datar.

“Ya ampun, ini benar-benar kegagalan memalukan. Kau bahkan bisa bilang kesalahanku telah mencemar nama baik seluruh Oshino yang ada di Jepang.”

“Kau tak perlu sampai membawa-bawa semua orang bernama Oshino yang ada di Jepang dong.”

“Hahaa. Karena itu, anggap saja jantung itu sebagai pengganti kado hiburan, Araragi. Aku memberikannya dariku sepenuhnya dengan maksud baik.”

“Hadiah hiburan…”

“Pada kondisi sekarang, aku orang yang mempertahankan hubungan-hubungan saling percaya. Dengan ini, keseimbangan—meski mungkin dengan cara agak rumit, saat ini telah terjaga.”

Oshino…

…berkata demikian, lalu bangkit dari kursinya.

“Kaki kanan. Kaki kiri. Lengan kanan. Lengan kiri. Lalu jantung. Dengan ini, Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade telah memperoleh kembali bagian-bagian tubuhnya yang hilang. Dengan kata lain, dengan ini kau juga akan bisa berubah kembali menjadi manusia. Izinkan aku mengucapkan selamat padamu lain waktu—bukannya mestinya kau senang?”

“… … Entahlah. Sejujurnya, perasaanku campur aduk.” jawabku. “Aku merasa kalau semuanya seperti telah direncanakan.”

“Kau terlalu berlebihan memikirkannya. Jika kita berasumsi kalau memang ada seseorang di luar sana yang merencanakan semua ini, maka aku, juga, adalah salah satu yang menjadi bagian rencananya.”

“Kelihatannya enggak demikian, lho.”

“Terlepas dari apakah itu kelihatan apa engga, memang begitu faktanya. Araragi, kau agak terlalu memandangku tinggi sekarang. Bahkan aku pun punya hal-hal yang bisa dan tak bisa kulakukan. Aku punya kecerdasan, tapi aku bukan orang cerdas, asal tahu saja.”

“… … …”

Dirinya rupanya benar-benar orang yang menyebalkan.

“Aku mungkin melerai, tapi aku tak pernah bersekongkol. Oh ya, Araragi, aku tanyakan ini karena sekedar ingin tahu, tapi belakangan, apa kau tak pernah merasa lapar?”

“Hm? Yah—kurasa aku pernah mengatakannya sebelumnya, tapi semenjak aku berubah jadi vampir, mungkin karena faktor keabadiannya, aku tak benar-benar merasakan nafsu makan belakangan.”

“Ah, begitu ya.”

“Ada yang salah dengan hal itu?”

“Adakah? Yah, mungkin semuanya.”

“Semuanya…?”

“Yah, aku cuma merasa sudah waktunya kau mulai merasa lapar seputaran ini. Bagaimanapun, waktu dua minggu telah berlalu lagi—hahaha. Pasti berat buatmu. …Sampai jumpa, Araragi. Sesudah kau berhasil balik jadi manusia dengan aman, pastikan buat enggak bertindak serampangan lagi. Orang-orang yang pernah menemui fenomena ganjil sekali akan cenderung gampang bertemu fenomena ganjil lagi. Jadi berhati-hatilah.

Sembari berbicara—bahkan tanpa mengembalikan kursi yang tadi didudukinya ke tempatnya semula, Oshino berjalan keluar ruangan, meninggalkanku dalam keadaan masih terduduk.

“Hei, memang kenapa—kau jangan bicara seolah sekarang kau mau pergi.”

“Aku memang mau pergi. Pekerjaanku sudah tuntas—hasilnya sepertinya gagal sih, tapi tetap saja, apa yang tuntas tetaplah tuntas, apa yang sudah berakhir tetap saja berakhir. Ah, benar juga, Araragi. Tentang bagian dua juta yenmu dan bagian tiga juta yen Nona KM, dengan total lima juta yen, anggap saja sekarang kita chara.” *chara=impas*

Cha… charai?” *charai=main-main

“Hei, yang seperti itu sih aku. Aku bilang, impas. Menyeimbangkan satu sama lain. Kegagalanku, dan jantung Heart-Under-Blade. Yah, mungkin nilainya sendiri tak benar-benar pas. Tapi anggap saja ini bagian pelayananku yang enggak dipungut biaya.”

“… … …”

“Kau tak perlu melotot seperti itu. Tak ada kerugian apa-apa di sini—mungkin tampangku enggak demikian, tapi sebenarnya aku jenius. Selama bisa mendatangkan keseimbangan, aku tak mau terlalu mempermasalahkan bagaimana caranya. Yah, sampaikan saja salamku pada Nona KM.”

“Kau tetap enggak mau menemuinya?”

“Ya. Bagaiamanapun semuanya juga berakhir tanpa pertemuan—yah, bisa kubilang, aku tak merasa perlu memaksa untuk bertemu dengannya.”

“Yah, kau mungkin benar sih. Walau urusan dengan tiga orang itu telah berakhir, sekalipun kalian bertemu, itu enggak berarti dia bakalan terlibat sesuatu yang aneh lagi, ‘kan?”

“Jangan buat aku memikirkannya. Itu bikin aku canggung, tahu. Di samping itu…”

Di samping itu, Oshino mengatainya sekali lagi.

Sesudah itu.

“Gimanapun, gadis itu membuatku merasa tak nyaman.” katanya. Secara jelas—dengan penuh nada pahit.

“Yah, walau tadi aku bilang mau pergi, untuk sementara waktu aku memutuskan buat berkeliaran lebih lama di kota ini. Jadi kalau suatu saat kau melihatku di jalan, jangan segan-segan menyahut, ya?”

Lalu seakan berubah sikap, Oshino tertawa riang.

“Ngomong-ngomong, kalau kau masih saja merasa berhutang padaku—begini saja, cari dan kumpulkan saja untukku semua kabar burung dan cerita aneh, mitos-mitos fenomena ganjil, yang beredar di kota ini. Bagaimanapun, bidang kekhususanku adalah soal itu. Kuharap kau bisa memaafkanku buat masalah seperti yang satu ini—bukan berarti sejak awal aku menyukainya sih.”

Apa?

Bahkan saat mengatakan ini, dengan kecepatan langkah tak berubah, Oshino membuka kembali pintu dengan gagang rusak, melangkah keluar ke lorong, dan begitu saja, menutup kembali pintunya.

Bahkan kata-kata perpisahan pun tak ada.

Ngomong-ngomong soal itu—rasanya aku memang belum pernah melihatnya mengucapkan kata-kata perpisahan pada siapapun.

Seremeh apapun adegan perpisahannya… Oshino tetap akan selalu menjalaninya dengan tawa riang.

“Yang benar saja.”

Masih merasa berhutang padanya? Yang benar saja.

Tak mungkin aku merasa seperti itu. Terlepas apakah semua ini direncanakan atau tidak, sebagian masalahku berakar darimu juga.

Tentu saja—berkatmu pula aku bisa terselamatkan sih.

Salah.

Seandainya aku mengatakan kalimat itu padanya, kira-kira dia menanggapinya seperti apa ya?

Yang menyelamatkanmu adalah dirimu sendiri—kurasa dia akan mengatakan sesuatu seperti itu.

“…Yah, dengan ini, lengan kanan, lengan kiri, dan jantung, GET!”

Dari Guillotine Cutter, lengan-lengannya.

Dari Oshino Meme, jantungnya.

Setiap bagian yang hilang kini telah terkumpul semuanya.

Setelah sekian lama, waktu pemulihan sepenuhnya dari sang berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin, sang Penakluk Fenomena Ganjil, Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, akhirnya telah tiba.

—————–

Catatan:

Sebenarnya, ada permainan kata pada saat Oshino berbicara soal bagaimana dirinya adalah lawan terakhir. Dia ngatainnya ‘last boss’ = rasubora; ‘payah dalam mengerjakan pekerjaan’ = zubora.

Iklan

4 Komentar to “Kizumonogatari – IND (014)”

  1. Hahaha anticlimatic. Chapter berikutnya kalo ngga salah duel dengan Kissshot ya?

  2. lol…
    ternyata masi ada bab berikutnya,
    klo gitu beta tunggu…haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: