Kizumonogatari – IND (013)

Belum kuedit.

———————————-

013

Guilotine Cutter.

Pria dengan gaya rambut berbentuk landak yang berpenampilan seperti pendeta katolik.

Memiliki mata sipit yang membuatnya terlihat seperti orang yang tenang.

Seorang manusia.

Seorang manusia—penyangkal fenomena-fenomena ganjil.

Seorang manusia—penghapus fenomena-fenomena ganjil.

Dirinya tak membawa senjata.

Seorang spesialis pengusiran vampir yang mengandalkan kekuatan iman.

Kiss-Shot menyebutnya sebagai paus dari sebuah ‘agama baru’, sekaligus komandan bayangan tim rahasia yang melayani umbra divisi keempat dari kesatuan penjagaan khusus kegelapan.

Episode yang setengah vampir menyebutnya sebagai seorang biarawan yang licik. Bahkan Kiss-Shot nampak memiliki kewaspadaan sampai tingkat tertentu terhadapnya.

Inilah… Guillotine Cutter, yang telah mencuri kedua belah lengan Kiss-Shot.

“Oh, kau benar-benar berlari sampai kemari. Usahamu sangat layak dihargai! Namun, kenyataan kau tak berubah wujud menjadi kabut merupakan pertanda kalau kau masih belum mahir melakukan ini.”

Guillotine Cutter berkata… dengan nada bicara yang terlalu sopan—sembari menyipitkan mata saat melihat kedatanganku.

“… … …!”

Aku tak sanggup berkata-kata.

Tak ada kata apapun yang bisa kuucap.

Kami kini berada… di lapangan olahraga SMA Swasta Naoetsu.

Di tempat yang sama di mana, pada penghujung bulan lalu, aku bertarung dengan Dramaturgie, dan di mana aku bertempur dengan Episode persis pada malam sebelumnya—Guillotine Cutter telah menantikan diriku.

Dia merangkul di sebelah lengannya tubuh dari Hanekawa Tsubasa.

Tangannya yang tak membawa senjata apapun…

…kini tengah mencengkram leher Hanekawa secara erat.

“A… Araragi…”

Keadaan Hanekawa… untuk saat ini masihlah aman.

Dirinya tak terluka, dan dirinya tak sampai dibuat tak sadarkan diri.

Tentu saja.

Alasannya karena… Hanekawa tengah dijadikannya sandera terhadapku.

Jika keadaannya tak aman, maka keberadaannya di sini takkan berarti.

Untuk saat ini.

“Ma… maaf, aku…”

“Mohon agar kalian tidak seenaknya mengobrol di hadapanku.”

Tiba-tiba saja, Guillotine Cutter menambahkan sedikit tekanan pada jari-jemarinya yang mencengkram Hanekawa.

Guillotine Cutter dengan mudah memaksa Hanekawa untuk tetap diam.

Terbatuk, dari dalam tenggorokan Hanekawa, ada sedikit udara yang terdorong keluar.

“H-Hei! Hentikan!”

Kupikir, memprovokasinya saat ini bukanlah ide yang bagus. Tapi karena aku tentu saja tak tahan berdiam diri, secara alami, aku berteriak.

“Ya?”

Dengan nada bicara yang teramat sangat tenang, Gullotine Cutter bersuara.

“Adakah sesuatu yang mungkin kau perlukan, wahai Tuan Monster?”

“Hanekawa… dia… dia perempuan.”

“Aku bukanlah orang yang suka membedakan perlakuan antara jenis kelamin.”

“Tapi… dia… cuma orang biasa.”

“Tepat sekali. Sebab jika tidak demikian, maka tentu dirinya takkan kujadikan sandera.”

“Jang…”

Aku…

Aku tak tahu lagi bagaimana caranya aku bisa berbicara.

“Jangan… jangan lakukan sesuatu yang menyakitinya…”

“Menyakitinya? Maksudmu, sesuatu yang seperti ini?”

Dengan tangan masih menempel di pangkal lehernya, Guillotine Cutter secara perlahan mengangkat tubuh Hanekawa. Seolah-olah kini Hanekawa tergantung dari leher.

“U… Uuugh!”

Hanekawa—meringis dengan menahan sakit.

Sedangkan sebagai tanggapan, Guillotine Cutter…

“Dirimu mengesalkan.”

…menurunkan lengannya dan membiarkan kaki Hanekawa menjejak bumi.

Namun, Hanekawa masih tak diizinkannya untuk hanya sekedar batuk. Tak bisa kubayangkan tindakan macam apa yang akan Guillotine Cutter lakukan bahkan sebagai tanggapan atas sebuah reaksi psikologis.

Aku—begitu saja—tiba-tiba menjadi lemas.

“Kau… kau…”

Semenjak awal, aku sama sekali tak ada maksud untuk meremehkan.

Pastinya, aku sama sekali tak meremehkan kata-kata peringatan yang telah Episode dan Kiss-Shot berikan padaku—namun, seperti biasa, tetap tak ada apapun yang berhasil aku pahami.

Guillotine Cutter.

Mungkin pada saat aku mengetahui dirinya hanya ‘manusia’ sebagian diriku merasa lega. Karenanya, mungkin aku menjadi sedikit lengah. Sebab setidaknya, dirinya tidak memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan manusia, atau keabadian yang dimiliki vampir dan separuh vampir—kukira tingkat kesulitan yang akan kuhadapi telah berkurang.

Namun, yang terjadi malah sebaliknya.

Orang ini mengambil sandera tanpa pikir panjang sama sekali.

“Ini, kali ini, sepenuhnya salahku.”

Oshino.

Kembali ke puing-puing gedung bimbel, saat Kiss-Shot baru saja akan bangun—sesudah memberitahuku soal penculikan yang telah menimpa Hanekawa, dirinya mengatakan itu dengan ekspresi sungguh-sungguh menyesal.

Ini bukan lagi saat baginya untuk bersikap main-main.

“Segalanya masih baik-baik saja sampai kemarin; aku bahkan sudah sekalian melibatkan Nona KM dalam kontrak pada malam harinya. Tapi tetap saja di akhir, aku salah perhitungan. Masalah Episode melempar salibnya ke Nona KM, itu masih termasuk bagian dari pertarungan. Tapi, biasanya, manusia yang hidup di dunia ini, terutama mereka-mereka yang ada dalam situasiku, beneran takkan sampai sudi melibatkan orang normal…”

“Tunggu, jadi itu alasan kau selama ini menghindari Hanekawa?”

“Bukannya aku sengaja menghindarinya. Pastinya, aku memang berharap agar kami enggak perlu sampai bertemu. Dia bicara denganku saja kurasa lebih baik jangan. Soalnya, aku juga sebenarnya enggak menginginkan keterlibatan orang normal, enggak terbatas pada Nona KM saja. Aku enggak akan berusaha mencegahnya, tapi aku enggak akan mengusahakan agar itu sampai terjadi juga—prinsipku selama ini memang begitu. Namun, Guillotine Cutter…

Dia seakan tak ragu sama sekali, kata Oshino.

“Sedikitpun dia enggak gentar—semua upayaku berakhir sia-sia. Aku salah total dalam membaca bakat dan kemampuan dari pihak musuh kita.”

“…Tapi kenapa Hanekawa—maksudku, mestinya dia tak tahu apa-apa soal tempat ini, ‘kan?”

“Bisa jadi selama ini dia mengawasi. Mungkin—pas pertarunganmu dengan Episode. Atau bahkan semenjak pertarunganmu dengan Dramaturgie. Aku sudah mencoba menghindari itu dengan bernegosiasi dengan ketiga orang itu secara terpisah—tapi kayaknya aku tetap kalah cepat tanggap dalam hal ini.”

Seperti halnya saat bagaimana Hanekawa secara diam-diam sempat mengawasiku dari balik gedung sekolah.

Seperti halnya saat bagaiamana Oshino diam-diam mengawasi pertarunganku dari suatu tempat.

Guilotine Cutter juga—sebenarnya secara diam-diam turut mengawasi.

“Meski kau dikuntit, medan pelindungnya masih akan bekerja. Tapi Nona KM kan bukan tinggal di sini—lambat laun kalau kau bersabar kau pasti bakalan bisa menemukannya juga.”

“… … …”

Hanekawa meninggalkan medan pelindung ini sesudah berpisah denganku.

Sudah jelas Guilotine Cutter menemukannya dalam perjalanannya pulang.

Atau bahkan, mungkin orang itu menculik Hanekawa dengan menungguinya di rumahnya sendiri.

“…Apa yang harus kulakukan?”

Aku bertanya pada Oshino.

“Brengsek, sekarang apa yang mesti kulakukan?!”

Anehnya—aku tak bisa menemukan kata-kata untuk bisa menyalahkan Oshino.

Apa tindakanku sekaranglah yang merupakan hal terpenting untuk saat ini.

Tapi tak ada gagasan apapun yang muncul dalam kepalaku.

“Kesepakatannya masih belum berubah, Araragi. Kau dan Guillotine Cutter akan berhadapan satu lawan satu. Jika kau yang menang, Araragi, Guillotine Cutter akan mengembalikan kedua lengan Heart-Under-Blade. Sebaliknya, kalau dia yang menang, kau mesti memberitahunya tempat persembunyian Heart-Under-Blade.”

“…Lalu bagaimana soal Hanekawa?”

“Hanekawa tak dihitung dalam kesepakatan. Kurasa, Guillotine Cutter memandangnya sebagai alat yang mungkin bisa dia manfaatkan—salah, sebagai senjata.”

“Senjata…?”

Seperti halnya kedua pedang panjang Dramaturgie.

Seperti halnya salib raksasa milik Episode.

Sebagai senjata pilihannya, Guillotine Cutter akan menggunakan… Hanekawa.

Guillotine Cutter dalam hal ini telah dipersenjatai Hanekawa.

“La-lalu tempat dan waktunya?”

“Ditentukan olehnya. Tempatnya masih sama seperti biasa, lapangan olahraga SMA Swasta Naoetsu—kenyataan dia memilih tempat itu adalah bukti bagaimana dirinya telah mengawasimu sejauh ini. Lalu waktunya adalah malam tanggal 5 April.”

“Eh?”

“Dengan kata lain: malam ini.”

Itu penetapan waktu yang terkesan sangat tergesa. Tapi bila memikirkannya dari sudut pandang Guillotine Cutter, meski memuakkan, aku tak bisa tak mengerti.

Hanekawa tak lebih dari orang biasa.

Di samping itu, tak sepertiku yang bodoh, Hanekawa murid teladan—bahkan aku pun akan khawatir bila harus keluar rumah malam-malam. Seandainya untuk satu malam saja dirinya tak pulang ke rumah, aku yakin kedua orangtuanya pasti akan menghubungi polisi.

Guillotine Cutter hendak menuntaskan segalanya sebelum hal itu terjadi.

Cara kerjanya mungkin memang busuk. Tapi tak bisa kusangkal, Guillotine Cutter tetap seorang profesional.

Dia akan membereskan urusannya sebelum suatu kehebohan terjadi—tapi ini bukan berarti keselamatan Hanekawa dijamin olehnya sih.

Sebaliknya, aku sedikit berpikir kalau Guillotine Cutter takkan bebas membiarkan begitu saja Hanekawa yang terlanjur memiliki pengetahuan tentang seluruh situasi ini.

Bagaimanapun—soal keinginan menghindari kehebohan itu, bagiku, nampaknya itu sesuatu seharusnya bisa kumanfaatkan.

“Tepat sekali.”

Demikian Oshino berkata.

“Semangatnya seperti itu dong, Araragi.”

“Oshino…”

“…Aku mengatainya seperti apapun, yang terjadi memang salahku. Karenanya, kuberi kau satu petunjuk lagi buat kali ini. Sebuah rencana buat menyelamatkan Nona KM. Jika kau bisa melakukan itu, pastinya kau akan bisa menaklukkan Guillotine Cutter.”

“…Bahkan dengan Hanekawa sebagai sandera pun?”

“Ya.”

Oshino mengangguk.

“Pertama—lupakan semua soal tokoh-tokoh utama komik-komik Gakuen Inou Batoru.”

Oshino melanjutkan.

“Sehabis itu, tanggalkan kemanusiaanmu.”

Sudah tak banyak lagi waktu yang tersisa.

Sudah tak banyak lagi waktu yang kupunya untuk hanya khawatir.

Karenanya, sesudah Oshino mengucapkan kata-kata itu, aku tak punya banyak pilihan selain mengaikuti strategi yang diajarkannya padaku. Resiko menyiapkan sebuah strategi sebelum pertarungan—dalam hal ini, resiko jika aku menjadi gugup dan kebingungan seandainya strategi itu gagal—terlepas dari semuanya, untuk kali ini resiko itu akan kuambil.

Meski kini sudah pertarunganku yang ketiga lagi, tetap saja tak ada apapun yang bisa kumanfaatkan dari pengalaman yang kuperoleh.

“Berhubung Dramaturgie dan Episode sudah terlanjur pulang ke kota mereka masing-masing—sebenarnya sangat menyebalkan bagiku untuk menjadi lawanmu sendirian. Kalau tak ada sandera yang bisa kupergunakan, akan sangat susah bagiku untuk menandingimu, bukan?”

Guillotine Cutter mengatakan semua itu tanpa sedikitpun ekspresi getir maupun penyesalan.

Dengan pandangan matanya yang sipit itu, dirinya tersenyum, seakan tengah menghibur dirinya sendiri.

“Keduanya benar-benar terlalu jujur, bahkan buat kepentingan mereka sendiri. Dramaturgie telah mengembalikan kaki kanan Heart-Under-Blade, dan Episode telah mengembalikan kaki kirinya. Mungkinkah ini yang mereka sebut sebagai kode etik kehormatan? Murahan sekali.”

“… … …”

“Dengan kata lain, Heart-Under-Blade pastinya telah pulih sesuai keadaannya itu. Hei, bekas bocah manusia, bawahannya Heart-Under-Blade, jika aku melawanmu secara langsung, maka jelas tak mungkin bagiku untuk melukaimu.”

Mau bagaimanapun juga, aku tak punya tubuh yang abadi—itulah yang sedang dikatakannya padaku.

Itulah yang dikatakannya padaku tanpa kegetiran sama sekali.

“Apa… Apa yang akan kaulakukan terhadap Hanekawa?”

“Aku takkan melakukan apa-apa sama sekali. Asalkan, kau juga tak melakukan apa-apa sama sekali.”

Guillotine Cutter dengan cepat menjawab.

“Seandainya kau ingin aku melakukan sesuatu terhadap gadis manusia ini, aku akan melakukannya lho—selalu memudahkan karena taktik tawanan selalu bisa dipakai untuk mereka-mereka yang baru menjadi bekas manusia. Dengan vampir sejati sebagai lawan, siasat ini takkan berguna—atau mungkin bila sanderanya adalah bawahan sang vampir sendiri, mungkin ceritanya akan berbeda? Mau coba? Kau yang akan kujadikan sandera pertama buat Heart-Under-Blade?”

“…Jangan bercanda.”

“Aku sangat serius.”

Dengan cepat…

Seakan dirinya menggunakan tubuh Hanekawa sebagai tameng, Guillotine Cutter mengarahkan tubuh Hanekawa kepadaku.

Seakan—tubuhnya tak lebih dari alat.

Seakan—tubuhnya benar-benar adalah alat.

“Aku tak mempunyai tenaga super seperti yang dimiliki oleh kalian, tapi aku masih punya tubuh yang terlatih. Kalau hanya seorang gadis saja—aku masih bisa membunuhnya dengan mudah.”

“Guh…”

Kurasa bisa jelas kulihat kalau Guillotine Cutter memiliki tubuh yang terlatih.

Kenyataan itu terlihat jelas dari bagaimana ia menangani Hanekawa dengan hanya satu tangan sejauh ini—namun yang telah Guillotine Cutter tempa sejauh ini sebenarnya bukanlah badannya, melainkan kekuatan tekadnya.

Secara mental, dirinya terlampau kuat.

Dalam situasi seperti ini—tak ada satupun celah yang ia perlihatkan.

“Secara kebetulan juga, aku takkan membunuhnya dengan cara yang akan memberinya waktu untuk bisa pulih kembali, seperti halnya yang terjadi dengan Episode—akan kuremukkan otaknya dengan sekali serang. Jika kuhancurkan organ kompleks seperti otak seorang manusia, bahkan dengan darah bawahannya Heart-Under-Blade sekalipun, pemulihan sempurna sudah takkan lagi mungkin, bukan begitu?”

“…Kau masih menyebut dirimu manusia?”

“Oh tidak. Aku ini Tuhan.”

Guillotine Cutter…

…dengan satu tangan di hadapan dadanya, dengan lantangnya menyatakan diri.

“Sudah menjadi ketetapan bahwa orang-orang sepertimu yang menentangku sudah selayaknya tak ada. Atas nama Tuhan, atas namaku sendiri, aku bersumpah—aku takkan membiarkan makhluk sepertimu ada.”

“… … …”

“Walau seandainya kau bersedia menjadi rekanku, seperti halnya Dramaturgie dan Episode, mungkin layak bagiku untuk membiarkanmu hidup?”

“… …Aku menolak.”

Bahkan sebelum sadar dengan apa yang ingin kukatakan, aku sudah menjawab.

Mendengar undangan itu keluar dari mulutnya saja sudah membuatku merinding.

Tuhan apanya.

Di mataku juga, kau tak lebih dari seekor monster.

Oshino Meme saat ini mungkin sedang mengawasi apa-apa yang tengah terjadi seperti yang telah dilakukannya selama ini—namun bagaimanapun juga, dirinya tak bisa melibatkan diri. Ini pertarungan satu lawan satu—itulah hasil negosiasi yang telah diusahakannya.

Dia tak punya pilihan selain menutup mata terhadap keadaan si sandera.

Ada juga kemungkinan keluarnya Kiss-Shot untuk menolongku. Tapi aku tak mau mengambil resiko terbunuhnya Kiss-Shot oleh Guillotine Cutter sesudah keadaan sampai ke titik ini—keadaan Kiss-Shot masih jauh dari sepenuhnya pulih.

Lalu, seandainya saja Kiss-Shot memang bisa menang, jika begitu tetap saja kedua lengannya takkan bisa ia peroleh kembali. Jadi keadaannya akan serba salah bahkan bagi dirinya juga.

Maka dari itu…

Aku… sekarang, tak mempunyai pilihan selain memberikan prioritas tertinggi pada nyawa Hanekawa.

“Begitu ya.”

Tanpa menunjukkan rasa kecewa sedikitpun, Guillotine Cutter mengangguk.

“Jujur saja, kupikir tak mungkin makhluk baru sepertimu akan bisa mengalahkan Dramaturgie dan Episode. Asal tahu saja, keduanya secara tak terduga benar-benar menyedihkan.”

“Kau enggak pantas bicara begitu… kau tak keluar semenjak awal itu karena kau hendak memakai dua orang itu buat mengujiku ‘kan? Jadi begitu giliranmu tiba, kau tinggal memilih siasat yang cocok untuk dipakai melawanku!”

Oshino memang menjalankan negosiasinya dengan tiga orang itu secara terpisah. Tapi yang pada akhirnya menentukan giliran pertarungan masing-masing tidak lain adalah mereka bertiga.

Dramaturgie menjadi orang pembuka, Episode bilang giliran berapapun tak menjadi masalah baginya. Namun Guillotine Cutter—semenjak awal memang berkeinginan menjadi pemukul terakhir.

“Bukannya aku sengaja berpikir terlalu dalam tentang ini. Hanya saja, Episode memang menyerahkan soal urutan pertarungan itu padaku, yang menjadi atasannya, dan soal Dramaturgie… dia ingin menjadi pemain pertama karena berkeinginan untuk mendapat bayarannya. Ah, tidak… kalau kupikir sekarang, Dramaturgie sempat mencoba membuatmu menjadi temannya, bukan? Maka dari itu pastinya ia berpikir bahwa kau mungkin bisa saja terlanjur dikalahkan oleh Episode atau aku sebelumnya. Yah, tentunya, bukannya aku tak berpikir seperti yang kau bilang, tapi pada akhirnya, seandainya salah satu dari mereka yang berhasil memusnahkan Heart-Under-Blade, tetap saja di akhir yang diakui jasanya adalah nama gerejaku.”

“… … Jadi pada dasarnya kau cuma ingin jalan mudah.”

Pastinya yang menawarkan bayaran buat nyawa Kiss-Shot itu sebenarnya kamu juga.

Tapi kalau begitu, apa tujuannya?

Jika tujuan Dramaturgie adalah untuk mendapatkan semacam bayaran atau undangan, maka bagi Episode, bayarannya baginya pasti menempati posisi nomor dua sesudah perasaannya sendiri—itulah alasan kenapa dia tak mempermasalahkan urutan gilirannya—dan karena itu, kira-kira tujuan Guillotine Cutter sendiri apa?

Dalam hal ini, kurasa sudah jelas.

Motivasinya pasti keyakinan dan keimanannya sendiri.

“Yah, buatku, memang tak masalah. Aku bukanlah orang yang enggan bekerja keras—demi memperbaiki dunia ini, aku tak akan melewatkan kemudahan satupun.”

Obrolan santai ini sudah terlampau panjang, kata Guillotine Cutter.

Memang, dirinya termasuk orang yang banyak bicara.

Mungkin banyak bicara memang sudah menjadi sifatnya—lidah yang lepas kurasa hal baik, aku bisa mengatakan kalau itu pertanda bahwa dirinya tengah ceroboh.

Ada dua cara mengalahkan seorang musuh yang posisinya di atas angin.

Yang pertama adalah menang dengan membiarkannya menjadi ceroboh, atau menang dengan membuatnya menjadi tegang.

Aku berpikir seperti apapun, buat kasus ini aku cuma bisa membuat Guillotine Cutter menjadi ceroboh.

Aku berhasil mengalahkan Dramaturgie dan Episode dengan cara ini.

Dan lalu…

Guillotine Cutter, sekarang, kini tengah ceroboh.

Sekalipun tak ada celah yang diperlihatkannya, kini dirinya tengah ceroboh.

Ada peluang bagiku untuk menang.

Namun, agar aku bisa melakukan itu…

Agar aku bisa melakukan itu, aku tak punya pilihan selain menanggalkan kemanusiaanku.

“Hanekawa.”

Kuabaikan kata-kata Guillotine Cutter, kemudian kupanggil Hanekawa, yang masih dengan erat digenggam olehnya.

“Semua akan baik-baik saja.”

Hanekawa tak bisa menjawab.

Alasannya karena dirinya tengah dicekik.

Hanekawa hanya bisa… menontonku.

Aku melanjutkan perkataanku.

“Aku pasti akan menyelamatkanmu.”

“…Menyusahkan sekali.”

Guillotine Cutter berkata dengan nada suara teramat tenang.

“Aku tak akan cukup melenakanmu dengan semua sandiwara teman masa sekolah ini. Tuhan, dalam artian aku, bersabda… kini sudah waktunya kita mulai.”

“Mulai, ya?”

Aku berkata, menghadap Guillotine Cutter.

“Memang aku bisa apa? Selama kau pakai Hanekawa buat sandera, aku tak bisa apa-apa. Dan lagipula, aku tak punya niat sedikitpun buat melakukan apa-apa. Aku sepenuhnya bakal menyerah terhadap kemauanmu—dalam situasi seperti ini, sama sekali tak punya arti.”

“Tuhan, dalam artian aku, mensabdakan ini—begitu pertarungan dimulai, kau harus mengangkat kedua belah tanganmu dan berkata, ‘Aku menyerah’. Dengan kata lain, pertarungan kita akan tertuntaskan persis pada saat akan dimulai.”

“Aku mengerti.”

Aku mengangguk tanpa keraguan.

Aku bahkan tak punya alasan untuk ragu.

“Kalau begitu, lepaskan Hanekawa sekarang.”

“Itu akan terlalu enak bagimu—tak mungkin aku akan melakukannya. Pelepasan sandera hanya akan dilakukan seusai pertarungan berakhir. Apa aku tampak seperti orang bodoh yang melepaskan senjatannya di tengah pertarungan?”

Apa itu juga… merupakan sabda Tuhan?

Jangan bercanda.

Hanekawa adalah senjata?

Dia… berbeda.

Dia berbeda dari kau… ataupun aku.

Kau bukan orang yang akan kubiarkan menyentuhnya!

“Araragi!”

Pada titik itu, Hanekawa… menjerit meski tengah dicekik.

Pada saat lehernya sewaktu-waktu seperti akan bisa dipatahkan.

Pada saat dirinya tengah diancam akan dilumatkan otaknya.

Bagaimanapun juga, dirinya menjerit.

“Jangan pedulikan aku!”

“Enggak mungkin aku berbuat begitu!” Aku balas berteriak.

Dan itulah… yang kemudian menjadi sinyal tanda dimulainya pertarungan.

Tentu saja, Guillotine Cutter tak bergerak—dirinya tak perlu melakukan apa-apa. Dirinya hanya membuka sedikit kedua matanya yang tipis—dan tinggal tertawa yang banyak terhadapku.

Dirinya menyuarakan tawa yang keras.

Tanpa berkeinginan mendengar tawanya—aku terus berteriak.

“Sudah kubilang, aku tak sudi kembali lagi jadi manusia bila aku sampai harus memanfaatkanmu!”

Karena itu, aku…

“Sebab jika aku tak bisa bertemu lagi denganmu, maka takkan ada artinya buatku berubah lagi jadi manusia!”

Aku tak perlu sampai mengangkat tanganku.

Pada saat pertarungannya dimulai, pada saat itu pula pertarungannya berakhir.

Keadaannya berkembang persis seperti yang Guillotine Cutter bilang.

“… …Eh?”

Hanya saja, yang menang, itu aku.

Kusingkirkan tubuh Guillotine Cutter dengan sekuat tenaga—lalu pada waktu bersamaan, aku merengkuh tubuh Hanekawa darinya.

Segalanya sederhana.

Segalanya begitu sederhana… dan mudah.

“Ka-kau—apa-apaan…” Guillotine Cutter merintih. “Jangan bilang… inilah kekuatan kaum vampir…”

“Salah. Ini kekuatan persahabatan!”

Namun, jarak antara aku dan orang itu tetap sedikit lebih dari sepuluh meter.

Guillotine Cutter tak mengizinkanku untuk mendekatinya lebih dari itu—bagaimanapun, sekalipun aku melemparinya dengan alat roller atau bola peluru, aku tak punya cukup keyakinan akan bisa mengenainya tanpa melukai Hanekawa yang digunakannya sebagai tameng.

Karenanya—tanpa sedikitpun bergerak…

…tanpa bergerak, jarak itu kudekatkan.

Aku mengubah wujud tubuhku.

“Enggak ada satupun jagoan di Gakuen Inou Batoru yang punya pemampuan kayak begini.”

Tak mungkin hal seperti ini ada.

Itulah yang si penjahat yakini.

Sebagaimana Dramaturgie mengubah tangannya menjadi sepasang pedang melengkungkuubah kedua lenganku menjadi tumbuhan, dan aku menjulurkannya ke depan sejauh mungkin. Mempertimbangkan banyak hal, pada akhirnya aku tak bisa menemukan bayangan pas untuk ‘memanjangkan tubuh’ dalam waktu singkat, maka dari itu aku mengubah bayangannya dengan menggantikan tubuhku dengan tumbuhan.

Bagaimanapun, gagasan soal tumbuhan sudah jadi keistimewaanku.

Karena setiap hari aku berpikir betapa enaknya jika aku bisa hidup sebagai tumbuhan.

Pastinya, aku tak pernah membayangkan diriku menjadi seekor monster—walau pada akhirnya gambarannya kurang lebih menjadi seperti itu.

Aku berpikir bahwa sekalipun kami berdua sama-sama vampir, tetap tak mungkin bagiku untuk melakukan apa-apa yang Dramaturgie lakukan—namun Oshino membantah hal tersebut.

“Kau bisa lari menysuri dinding, kau bisa lompat sejauh 20 meter.” Kemudian akhirnya dia bilang. “Kau juga pastinya akan bisa mengubah wujud badanmu—teorinya sama saja. Kepiting menggali lubang untuk meniru cangkang, kau tak harus terlalu terpaku pada bentuk tubuh manusia. Ini jurus yang pasti tak disangka oleh Guillotine Cutter yang mengira kau masih baru—karena itu, bayangkanlah suatu bentuk yang bukan manusia, dan kau tinggal ubah wujud badanmu.”

Aku tak mungkin bisa melakukan itu, jawabku.

Tapi Oshino kemudian mengatakan ini.

“Lalu, apa kau bisa mengabaikan Nona KM?”

… … … …

Dia benar-benar orang yang menyebalkan.

Kedua lenganku yang tumbuh tidak seperti pedang, tetap lebih seperti pohon-pohon besar, tak jauh berbeda dari pepohonan berusia tua yang ditemukan di pulau-pulau terpencil. Batang-batangnya bercabang selagi tumbuh, terlebih lagi, masing-masing cabang itu mengikuti kemauanku dan aku berhasil membuat masing-masing darinya meliuk sesuai yang kumau.

Untuk menghantam dada Guillotine Cutter.

Untuk melumpuhkan lengan Guillotine Cutter.

Aku bahkan berhasil memperoleh Hanekawa kembali.

Di satu sisi, mungkin aku bisa bilang kalau bayanganku mewujud dengan agak terlalu berlebihan.

Pastinya ini… sudah sama sekali tak serupa bentuk seorang manusia.

Aku telah menanggalkan kemanusiaanku.

Pada akhirnya, sepertinya aku pikir aku takkan mampu meniru Dramaturgie lebih karena aku masih belum menanggalkan kemanusiaanku—daripada karena aku masih belum kehilangan akal sehatku sebagai manusia.

Bagi diriku yang berkeinginan untuk bisa berubah kembali menjadi manusia, itu memang sesuatu yang pastinya takkan kulakukan, pikirku.

Aku tak bisa membayangkan diriku sebagai sesuatu selain seorang manusia.

Tapi prasangka itu… pada akhirnya, tetap tak lebih dari sebuah prasangka.

Karena pada kenyataannya, aku memang telah terlanjur menjadi seekor monster.

Begitu saja, kuhempaskan Guillotine Cutter ke tanah lapangan olahraga, membelitnya—akhirnya aku berhasil membuatnya tutup mulut. Aku tak tahu apakah yang dikatakannya memang benar kata-kata Tuhan atau bukan, tapi aku tak mau mendengar satupun kata-katanya lagi, jadi kusumpal mulutnya dengan akar belukar—dan akhirnya kubuat ia pingsan.

Tentu saja, aku tak membunuh.

Aku masih harus memperoleh kedua lengan Kiss-Shot kembali—di samping itu, jika aku melakukan hal semengerikan itu, itu semua karena salahmu.

Salahmu…

Aku sampai berpikir mungkin tak apa-apa jika aku tak bisa lagi kembali menjadi manusia.

“…Huff.”

Kupulihkan wujud kedua lenganku.

Seketika keduanya kembali ke bentuk lengan manusia kembali.

Apapun yang sampai kubayangkan, tetap saja keduanya lengan yang telah kulihat dan pakai selama 17 tahun… yang perlu kulakukan hanyalah mengingatnya saja. Karena aku sampai dibayangi ketakutan bahwa jika ini gagal, aku akan sampai harus memotong kedua lenganku sendiri, aku merasakan kelegaan luar biasa saat wujud kedua tanganku kembali.

Pada saat bersamaan, segera kutarik Hanekawa ke arahku.

“Hanekawa, kau baik-baik saja?”

Memeluk Hanekawa, aku memeriksa lehernya—bekas jemari Guillotine Cutter masih tampak, tapi tak ada pendarahan dalam. Jika begitu, maka semestinya bekas-bekas cekikan itu akan hilang sendiri. Lebih dari itu, sepertinya Hanekawa tak terluka.

Aku lega…

Benar-benar lega.

Ini membuatku bahagia lebih dari apapun.

“Ah… Ah, err, Araragi.”

Hanekawa, dengan keras, mendorongku menjauh dengan kedua belah tangannya. Aku tak tahu apa yang hendak dilakukannya, tapi nampaknya dia menginginkan agar aku menjauh.

“To-tolong lepaskan aku.”

“Ah… oke.”

Kulepaskan kedua tanganku dari bahunya, dan Hanekawa mengambil jarak dariku.

Sesudah kami sedikit menjauh…

“Um… Ha-Hanekawa…”

“Araragi… um, te-terima kasih.” Hanekawa mengucapkan itu dengan suara pelan, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Tapi… t-tolong jangan lebih dekat dari ini. J-jangan kemari. Jangan sentuh aku, maksudku.”

“…Eh?”

Sesudah… apa yang baru dilihatnya, mungkinkah Hanekawa menjadi takut?

Karena aku telah menyeretnya ke dalam semua ini?

Karena aku telah nyaris membuatnya terbunuh?

Atau karena bagaimana enganku berubah wujud—membuatnya terguncang?

Diriku yang telah menanggalkan kemanusiaanku… semengerikan itulah?

Mungkin… tapi, aku, pikir…

“Oh, b-bukan. Bukan itu.”

Hanekawa salah tingkah.

Sembari membetulkan bawahan roknya yang berantakan, ia kemudian berkata:

“Sekarang ini aku tak pakai dalaman.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: