Tsuritama

Tsuritama adalah drama remaja sains fiksi galau tentang persahabatan, memancing, dan penyelamatan dunia.

Dibuat oleh A-1 Pictures pada awal tahun 2012, aku beneran enggak bisa menjelaskannya lebih dari itu.

Desain karakternya dibuat oleh Atsuya Uki, animator yang sebelumnya sempat meraih nama melalui hasil karya independennya, Cencoroll. Nampaknya, beliau agak terlibat dalam penggagasan konsep ceritanya; dan makanya ‘keanehan’ khas dia lumayan kental di seri ini. Atau sial, mungkin itu semua memang cuma efek gaya gambar? Keanehan itu sebenarnya yang juga menjadi daya tarik utama cerita. Tapi lebih lanjut soal itu agak susah dijelaskan.

Lebih lanjut soal itu, desain karakternya sendiri sederhana. Luar biasa sederhana, tapi cukup punya daya tarik dan enak dilihat dengan caranya mengekspresikan perasaan. Sedangkan keanehan yang aku maksud di sini adalah… singkatnya, hal-hal aneh yang bikin kamu buka mulut dan bilang “Haaaah?”

Enoshima-don

Yuki adalah seorang remaja lelaki yang hidup berpindah-pindah dengan dibesarkan sendirian oleh Keito, neneknya, yang meski senantiasa ceria, sebenarnya mengidap suatu penyakit. Di awal cerita, mereka baru saja pindah ke Enoshima, sebuah kota pelabuhan yang lumayan dikenal karena usaha perikanannya.

Ada masakan khas Enoshima. Ada tarian rakyat khas Enoshima. Lalu ada pula legenda yang disimpan kuil setempat soal seekor naga yang pada zaman kuno pernah menimbulkan kekacauan di wilayah sana, yang kekacauannya akhirnya teratasi lewat bantuan seorang dewi yang membantu para nelayan memancing naga tersebut ke luar air.

Pada hari pertamanya di sekolah, Yuki—yang galau, dan pada awal cerita sangat rentan terhadap panic attack—disapa oleh seorang teman sekelasnya yang aneh yang bernama Haru, yang bukan cuma mengaku sebagai alien, tapi dengan sok kenal dan sok akrab juga mengajak Yuki memancing. Lalu bukan cuma itu. Dengan alasan bahwa dirinya seorang alien yang baru datang ke bumi dan belum punya tempat tinggal, saat bertemu Keito, Haru juga ditawarkan untuk ikut tinggal bersama Yuki.

Karena dipaksa-paksa, Yuki akhirnya menyerah dan menuruti keinginan Haru untuk memancing. Namun mengingat keduanya masih pemula, Misaki, sang pemilik toko peralatan memancing, memperkenalkan keduanya pada Natsuki, seorang cowok lain teman sekelas keduanya yang jutek, yang ternyata adalah pangeran memancing Enoshima dan telah memiliki kemampuan yang setara dengan kemampuan seorang pemancing profesional.

Lalu sesudah cukup banyak friksi yang berhubungan dengan kecurigaan Natsuki akan keseriusan Yuki dan Haru, Natsuki akhirnya bersedia mengajari keduanya soal memancing. Maka dimulailah pengalaman memancing Yuki; yang secara perlahan mendewasakan dirinya, sampai kelak tiba waktunya dia akan bisa menyelamatkan Bumi.

Sementara itu, seorang murid baru lain bernama Akira Yamada (suku kata ‘ma’ pada namanya agak dipanjangkan); yang senantiasa mengenakan sorban, berdarah India, dan ke mana-mana selalu ditemani bebeknya yang bernama Tapioca, senantiasa secara diam-diam mengawasi mereka dari jauh…

Duck!

Kalau premis ini belum terdengar cukup aneh, maka tenanglah. Ceritanya berkembang ke arah yang sedikit lebih aneh lagi.

Sedikit. Dengan cara yang agak tertebak. Sebab fokus utama Tsuritama semenjak awal adalah drama kesehariannya. Tentang pelajaran-pelajaran memancing Yuki. Tentang pelajaran-pelajaran hidup yang Yuki dapat tentang cara berhadapan dengan kenyataan dan menghadapi orang. Tentang bagaimana Natsuki mengatasi rasa marahnya terhadap keluarganya sendiri. Tentang bagaimana Haru menemukan teman-teman sejati. Lalu tentang bagaimana Yamada dan Tapioca…

Hmm. Aku enggak tahu mereka ngapain.

Eniwei, secara umum, visualisasinya menarik. Segala aspek keanehan di sini beneran menarik dan agak bikin kamu penasaran lebih lanjut. Visualisasinya sepenuhnya dua dimensi dan agak bergaya kolase gitu. Dengan warna-warna yang enggak kaya, tapi terang dan mencolok. Tapi kalau diperhatikan lebih jauh, deti yang ditampilkan di dalam frame-nya, terutama yang berkaitan dengan kapal-kapal layar dan peralatan memancing, bisa lumayan banyak. Dan pergerakan kameranya bisa mengesankan secara dinamis saat Yuki dan kawan-kawannya harus mengerahkan segenap daya dan kemampuan mereka dalam memancing.

Ini serius. Jika ada satu hal yang Tsuritama secara luar biasa berhasil lakukan, itu adalah bagaimana seri ini hanya dalam durasi 12 episode bisa membuat kegiatan memancing terlihat begitu menarik.

Terlepas dari segala urusan soal alien, Bermuda Syndrome, dan organisasi rahasia(?) pelindung Bumi-nya (yang ditampilkan dengan gaya sains fiksi yang sangat retro, sekitar tahun 60-70an), segala aspek lainnya berkenaan anime ini dipertahankan realistis. Beneran realistis. Segala urusan memancingnya, hubungan antar orangnya, dan bahkan sikap orang-orang pantainya.

Enggak. Enggak ada cinta di dalamnya. Sayangnya. Meski ada sejumlah karakter cewek manis di sini. Semuanya  adalah tentang galau masa remaja, memancing, alien, dan memancing. Adegan-adegan galaunya secara khusus terungkap lewat penggambaran rol-rol video yang mewakili cara ingatan Yuki bekerja.

Ini jenis seri yang hanya bisa kau sukai secara lambat-lambat.

Berhubung kita bisa tahu bahwa ini jenis seri yang akan berakhir bahagia, tak ada lagi perkembangan cerita mengejutkan di sepertiga akhir ceritanya sih. Makanya  episode-episode penutupnya mungkin agak kalah menarik dibandingkan episode-episode awal.

Aku sendiri mesti agak berjuang buat menyelesaikannya. Meski aku juga mesti mengakui kalau aku agak sibuk belakangan.

Drama kesehariannya juga tak bisa dikatakan istimewa atau bagaimana. Tapi berbobot. Yah, seenggaknya untuk ukuran seri-seri dorama Jepang yang dulu kukenal. Meski ditampilkan dengan visualisasi yang komedik dan ringan, tema-tema yang diangkat itu tema-tema psikologis yang sebenarnya lumayan ‘dalem’ bila dikaji.

Cuma masalahnya, kalau kau bukan penggemar tema-tema drama macam begini, kau akan kesulitan menikmati Tsuritama. Aku juga sejujurnya bukan. Makanya, aku sendiri agak heran dengan bagaimana aku bisa mengikuti Tsuritama dari awal hingga akhir.

Ini benar-benar sebuah anime yang aneh.

Kalau kau menontonnya pada waktu dan suasana hati yang tepat, ini jenis anime yang efeknya adalah membuat perasaanmu menjadi sedikit lebih baik.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B-; Audio: B-; Perkembangan: C+; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: C+

Iklan

2 Komentar to “Tsuritama”

  1. Oh ya. Mereka-mereka yang tak tahan tema-tema persahabatan emosional antar cowok (if you know what I mean) enggak kurekomendasikan menonton ini. ^^

  2. Salah satu seri yang bisa benar2 kunikmati musim kemarin, 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: