Kizumonogatari – IND (010)

Ini bab yang secara enggak terduga ternyata panjang. Bagian cerita yang ini lumayan menarik.

Sori perlu waktu lama buat melanjutkan.

—————-

010

“…Dengan kata lain, setiap kali dia memakan salah satu bagian tungkainya yang tercuri nanti badan anak ini akan tumbuh?”

Hanekawa… dengan cara seperti itu, memperlihatkan pemahamannya.

Tanggalnya adalah 1 April. Persis sesudah matahari terbenam. Kiss-Shot masih tertidur lelap. Kaum vampir memiliki siang dan malam terbalik. Walau keadaannya untukku tak jauh berbeda, rasanya aneh kalau aku mengajak Hanekawa yang murid teladan keluar pada jam-jam larut malam. Jadi aku mencoba bertahan dan bangun tidur lebih awal.

Sebuah medan pelindung rupanya telah didirikan di puing-puing gedung bimbel ini.

Setidaknya, itu yang Oshino katakan.

Aku diberitahu bahwa medan itu bukan cuma menyembunyikan keberadaan aku dan Kiss-Shot. Medan tersebut juga akan menyulitkan siapapun oang biasa menemukan jalan mereka kemari tanpa bantuan seorang pemandu. Untuk alasan ini, aku membuat janji temu dengan Hanekawa agar ia datang ke wilayah sekitar sini dulu. Kemudian barulah sesudah matahari tenggelam aku pergi menemuinya.

Hanekawa tiba tepat di tempat dan waktu yang telah dijanjikan.

Dengan mengenakan seragam sekolahnya yang biasa.

“Yo.”

Hanekawa menyalamiku dengan tangan terangkat.

Sikapnya yang terbuka membuatku tak lagi merasa canggung.

Jarak antar individu yang lumayan enggak resmi ini dengan cepat membuatku santai.

“Jadi, kau udah bawa apa yang aku minta?

“Nih. Kayak yang kau lihat.”

“Sip. Makasih. Kalo gitu, jalannya lewat sini.”

Kemudian—aku menuntun Hanekawa ke puing-puing bangunan bimbel itu.

Tanah pribadi, dilarang melintas.

Kami menembus pagar kawat di mana papan bertuliskan itu tertera (bahkan pagar yang mengitari puing-puing bangunan bimbel tersebut, sesuai dengan gambarannya sebagai bangunan terbengkalai, dipenuhi lubang di sana-sini), kemudian kami memasui bangunan.

Oshino sedang keluar untuk urusan negosiasi, dan Kiss-Shot sedang tidur. Aku sudah membicarakan soal keinginanku membawa Hanekawa kepada Kiss-Shot, dan kelihatannya Kiss-Shot tak terlalu mempedulikannya. Karena bahan pembicaraan kami yang pastinya bakal rumit, aku semula ingin mengajak Hanekawa berbicara di ruang kelas lain. Tapi Hanekawa bersikeras ingin melihat rupa Kiss-Shot seperti apa.

Karenanya, untuk urusan berbicara dengan Hanekawa tersebut, aku akhirnya memilih ruangan yang sama di lantai dua tempat aku biasa menghabiskan waktu. Di sudut ruangan, Kiss-Shot sedang asyik bermalas-malasan. Tempat inilah yang akhirnya menjadi latarnya. Tak perlu kusebut bahwa papan-papan kayu telah dipaku ke jendela-jendela ruangan ini, sehingga bahkan cahaya bintang pun tak dapat masuk. Dengan mata vampirku, kegelapan ini tak memberiku masalah. Tapi mata Hanekawa normal, jadi aku mengeluarkan senter—yah, walau benda itu sendiri dan termasuk yang lain sebenarnya dipersiapkan oleh Hanekawa juga sih.

Kemudian, sesudah sedikit basa-basi (bagaimanapun, semenjak libur musim semi dimulai, belum sekalipun aku berhubungan dengan koran atau televisi), aku berbicara dengan Hanekawa sampai pagi menjelang. Selama itu, Hanekawa menyimak perkataanku dengan seksama, terlihat sangat tertarik dengan apa yang kubahas.

Murid teladan.

Rasa ingin tahunya akan hal-hal yang tak diketahuinya mungkin jauh di atas rata-rata.

Aku ceritakan padanya segala yang bisa kuceritakan.

Aku tak ingin menyembunyikan apapun darinya.

Sekalipun sekarang tanggal 1 April, aku tak ingin berbohong sedikitpun padanya.

Kemudian, saat aku usai berbicara tentang ‘pertumbuhan’ badan Kiss-Shot, Hanekawa…

“…Jadi dengan kata lain, setiap kali anak itu memakan salah satu lengan atau kakinya yang dicuri, maka badannya akan tumbuh?”

…mengatakan itu.

“Walau mungkin agak aneh menyebut vampir berusia 500 tahun sebagai ‘anak itu,’ kenyataannya memang itu yang terjadi, kan?

Humph.

Cara pemahaman yang boleh juga.

Persis, demikian aku mengangguk.

“Kaki kanan… dari lutut, dia tumbuh maju sekitar dua tahun… oke, jadi begitu sisa tungkai-tungkainya bisa diperoleh kembali, kurasa dia akan bisa kembali berubah ke wujudnya yang semula… yang terlihat sekitar 27 tahun, kurasa.”

“Hmm…”

“Kalau membandingkannya seperti Freeza, dengan kaki kiri dan kedua lengannya, dia seperti masih menyimpan dua perubahan wujudnya buat diperlihatkan nanti.”

“Ah, itu ungkapan yang gampang dipahami.”

Sembari berbicara, Hanekawa terus mengamati Kiss-Shot, yang kini mendengkur di atas tempat tidur darurat yang telah Oshino buat.

Meski dirinya vampir, sekilas Kiss-Shot benar-benar terlihat tak lebih dari seorang gadis kecil berusia 12 tahun yang manis. Gambaran diriku dan dirinya bersama-sama berada dalam sebuah bangunan terbengkalai seperti ini bisa memberi kesan yang agak berbau kriminalitas.

Aku cuma bisa berdoa agar Hanekawa tak sampai memandangku dengan cara begini.

“Kalau begitu, semuanya memang salahku ya… mungkin.”

“Eh? Apa?”

“Soal bagaimana kau jadi bertemu vampir, Araragi.”

“…”

Kenapa kau berpikir begitu?

Walau aku bilang aku sudah mengatakan semua yang dapat kubilang, tanpa maksud untuk menyembunyikan apa-apa, bahkan akupun tak setolol itu. Aku yakin aku tak mengatakan apa-apa soal celana dalam Hanekawa dan buku-buku nakal yang sempat kubeli.

Namun sumber kekhawatiranku ini ternyata melenceng dari perkiraan.

“Bukannya ada yang bilang kalau siapa saja yang menyebut nama sang iblis, maka dia akan muncul? Pepatah ini kalau enggak salah secara umum berlaku buat cerita-cerita hantu. Berucaplah tentangnya, maka suatu keganjilan akan terjadi. Datang dari sisi dunia yang lain.”

“Hmmm? Tapi, aku ‘kan enggak pernah…”

Ah.

Tunggu dulu.

Hari itu—saat aku pertama mendengarnya dari Hanekawa.

Kami membahas tentang vampir.

Lalu malamnya, aku keluar malam-malam sendirian, dan…

“Enggak. Ini konyol. Kalau memang begitu kejadiannya, vampirnya mestinya muncul di depan kamu, bukan aku. Soalnya yang pertama menyebut tentangnya ‘kan kamu.”

“Enggak selalu mesti begitu. Cuma, peluang kejadiannya saja yang meningkat. …Di samping itu, bahkan di depan mataku sendiri… kalau cuma soal ‘muncul’ saja, sekarang juga sudah muncul, ‘kan?”

“Hm?”

“Diri Araragi sendiri.”

Ah.

Benar juga.

Saat ini, aku seorang vampir.

Begitu ya—di separuh perjalanan menuju tempat pertemuanku dengan Dramaturgie, alasan mengapa di tempat dan waktu tersebut aku secara tak terduga berpapasan dengan Hanekawa, mungkin, sebenarnya berhubungan dengan kenyataan soal telah ‘meningkatnya peluang’ itu.

Selalu ada alasan mengapa suatu fenomena ganjil bisa terjadi.

Lalu alasan mengapa aku menjumpai vampi…

“Kita bisa juga memandangnya seperti ini. Suatu kabar atau rumor akan selalu mendahului munculnya sebuah keganjilan. Maka justru karena adanya kabar maka suatu keganjilan akan bisa bangkit. Kurasa, itu juga sejenis dengan bagaimana cara cerita-cerita rakyat bisa tercipta.”

“Mereka ada karena dikabarkan ada dan kabar-kabar tentang mereka ada karena mereka ada. Itu enggak jauh beda dengan kamu lebih suka mana yang muncul duluan, telur atau ayam.”

“Hmm? Aku pribadi suka telur.”

Leluconnya enggak tersampaikan.

Tawanya enggak meledak.

“…Kau benar-benar tahu segalanya.”

“Bukannya aku tahu segalanya. Aku cuma tahu apa yang aku tahu.”

“Begitu ya.”

Aku menggangguk.

Dengan cepat kukembalikan percakapan ke jalurnya yang semestinya.

“Mengesampingkan semua kabar dan sebagainya, Hanekawa, kemarin kau bilang kau sengaja berkeliaran karena memang berharap bertemu vampir.”

Dan maka dari itu… aku marah.

Hari ini, tentunya, dia tak melakukan hal-hal seperti itu sih.

“Tapi buat apa kau melakukan itu? Kamu ngomong sesuatu soal keberadaan yang derajatnya lebih tinggi… iya kan? Apa kamu sengaja pakai bahasan itu cuma buat basa-basi, atau…”

“Begini, bukannya aku sengaja mencarinya sih. Itu sama saja dengan aku meminta sesuatu kepada bulan. Dengan suatu cara, gimana ya mengatakannya. Aku tak yakin harus bagaimana ngomongnya. Tapi apa kau enggak pernah merasa berharap suatu perubahan terjadi dalam hidupmu, Araragi?”

“Perubahan?”

Dalam kasusku, daripada terjadinya sebuah perubahan dalam hidup, rasanya lebih seperti ekologiku yang berubah.

Sebagaimana yang kusangka, rasanya tak tertahankan.

Walau dirinya seorang murid teladan, bahkan ada saat ketika Hanekawa pun tak tahu cara menjelaskan suatu hal. Aku jujur saja merasa agak terkejut.

Tunggu, karena dia juga manusia, mestinya ini suatu hal yang wajar.

Karena bahkan buat aku yang telah menjadi vampir, masalah-masalah yang kupunya tak kunjung teratasi juga.

Bahkan, mungkin malah bertambah.

“Kurasa itu cuma dorongan buat lari dari kenyataan, pada akhirnya.”

“Kalau aku, aku malah ingin bisa kembali ke kenyataan.”

“Kau pasti bisa. Aku yakin.”

Demikian Hanekawa berkata.

Kata-kata yang sebenarnya tak memiliki jaminan apapun di baliknya. Tapi itu kata-kata yang tetap membuatku senang bagaimanapun juga.

“Meskipun, walau aku sendiri bilang aku mau membantu—kalau masalahnya masalah monster begini, enggak banyak yang pada akhirnya bisa kubantu, ya?”

“Itu sama sekali enggak benar.” kataku.

Aku menunjuk dengan jemari, ke bawaan yang telah Hanekawa bawakan, yang dikumpulkannya ke dalam satu tas ransel besar.

“Walau itu isinya cuma baju ganti dan lainnya, aku serius berterima kasih karena kau sudah membawakannya.”

“Eng-enggak apa-apa kok. Cuma segini saja.”

Hanekawa tersipu.

“Mengesampingkan itu, bagaimana kalau kau ganti baju saja sekarang? Kelihatannya bajumu yang sekarang sudah tak layak pakai lagi.”

“Uhm…”

“Waktu aku melihatmu dalam keadaan begitu, tentu saja aku terkejut. Eh, aku baru sadar. Kenapa kau tak pinjam saja baju ke orang bernama Oshino itu?”

“Dia cuma punya kemeja aloha…”

“Kemeja aloha juga enggak apa-apa ‘kan?”

“Kalo cuma LOHAS doang, maka iya, memang enggak masalah sih.”

Aku cuma dengan seenaknya mencoba melontarkan kata yang mirip.

Sejujurnya, aku sendiri enggak tahu apa kepanjangan LOHAS.

Tapi, mengesampingkan juga hal itu, maka jelas pergerakanku terbatas selama aku mengenakan pakaian ini. Kayaknya bakal berguna juga seandainya aku bisa memakai kekuatan penciptaan seperti yang dimiliki Kiss-Shot, tapi jelas tak mungkin aku tahu cara memakai hal sepert itu.

“Oh, begitu ya? Hmmm.”

Walau…

…jelas-jelas, aku tak bisa begitu saja berganti pakaian di depan seorang gadis. Soalnya, kalau mau berganti pakaian, maka aku bakal perlu melepas bawahanku juga….

“T-tapi kita enggak buru-buru kok. Menurutku.”

Ah.

Baru sekarang aku sadar.

Tanpa berpikir, kemarin malam aku meminta Hanekawa untuk ‘membawakanku satu stel pakaian ganti’ …Tapi bukannya itu berarti, bukan cuma baju atasan dan celana, tapi pakaian dalam juga akan termasuk?

“… … …”

Umm…

Ummm…?

“Y-yah, gi-gimanapun, kalau cuma mengganti baju atasan aja.”

Mencoba berpura-pura tenang, aku mengulurkan tangan ke apa isi tas ransel yang telah Hanekawa bawakan. Hm, pengemasannya sempurna… dirinya bukan cuma mempersiapkan pakaian… jadi kubuka ritsleting, dan langsung kulihat apa yang kucari telah disiapkan di atas pakaian ganti tersebut.

Maksudku, celana dalam ganti yang telah dipersiapkannya untukku berada dalam posisi paling atas.

“Kalau ukuran M masih masuk untukmu ‘kan, Araragi?”

“Uh, i-iya…”

“Karena aku enggak tahu kau lebih suka yang berbentuk ‘v’ atau boxer, aku siapkan saja kedunya.”

“… … …”

Kau tak seharusnya mempermasalahkan hal seperti itu.

Tunggu… salah, aku minta maaf. Bagaimanapun, ini semuanya terjadi karena salahku. Pasti kepalaku sedang tak bekerja dengan baik. Jika Hanekawa demi aku sampai harus pergi membelikan celana dalam v atau boxer ganti, tentunya dia pasti sempat mereka malu…

“Hm? Ada apa? Bukannya tadi kau mau ganti baju, Araragi?”

“Iya. Baru mau.”

Aku berkata begitu, kemudian mengeluarkan sehelai kaos polos dari bawah celana dalam itu. Kulihat dari sisi manapun, kaos itu sepenuhnya masih baru. Tidak hanya itu, tanpa memasukkannya ke dalam kantong terpisah, Hanekawa dengan sengaja telah memotong label harganya, dan bahkan sesudah membelinya, Hanekawa mencucinya sekali, dan kemudian mengeringkannya dan menyetrikakannya sebelum membawanya untukku.

Kau… benar-benar tak harus sampai segitunya.

Aku jadi bertanya-tanya apa dia bersikap begni karena mengasihaniku.

Untuk sementara, aku melepas atasanku yang sudah usang, kemudian memasukkan lenganku ke lubang lengan dari kaus yang baru.

Aku melakukannya, dan…

“Tunggu sebentar.”

Hanekawa tiba-tiba menyela.

Mendengar suaranya, gerakanku terhenti, namun, oh tidak, kini aku setengah telanjang…

“Benar juga. Aku sempat memikirkannya kemarin juga. Tapi Araragi, sepertinya tubuhmu secara fisik juga mengalami perubahan.”

“Hm?”

Sesudah Hanekawa mengatakannya, baru aku sadar.

Bukankah tubuhku sekarang terlihat sedikit lebih… berotot?

Tunggu, bukan cuma sedikit. Aku kini bahkan memiliki otot-otot perut yang terbentuk dan menonjol.

“Firasatku benar.” Hanekawa mengulang. “Kemarin, saat melihatmu dari belakang, aku tak sepenuhnya yakin apa itu kau Araragi. Karena postur tubuh dan bentuk ototmu berubah. Aku dapat kesan kalau kau tambah langsing, atau tepatnya, padat.”

“… …”

Kau sebenarnya sehebat apa sampai bisa mengenali murid cowok yang baru beberapa kali kau ajak ngomong hanya dengan melihat sosoknya dari belakang?

Jujur saja, itu agak mengusikku.

“Mmh. Munya munya.”

Tiba-tiba saja, nampaknya Kiss-Shot terbangun.

Omong-omong, sesudah dirinya ‘tumbuh,’ bahkan pakaian dan gaya rambut yang dimillikinya ikut berubah. Jika dengan penampilan sepuluh tahun dirinya mengenakan gaun penuh pita dan renda dengan gaya rambut di-bob, kini dengan penampilan 12 tahun, gaun yang dikenakannya memiliki desain yang lebih dewasa dengan rambut yang sedikit lebih panjang.

“Menjadi vampir telah mengubah penampilan dikau, berkat kekuatan regenerasi yang terus mengusaha agar engkau tetap berada dalam kondisi engkau yang paling sehat.”

“Eh?”

“Zzz.”

Tidur.

Segera sesudah mengucapkan itu, dirinya segera tertidur lagi.

Aku tak tahu apa dirinya tengah terjaga atau terlelap…

Tapi walau begitu, bukankah apa yang baru dikatakannya merupakan hal baik?

Bisa jadi. kini, sesudah aku berubah menjadi vampir, aku tak perlu khawatir soal kuku yang bertambah panjang. Aku tak perlu mempermasalahkan kapan aku perlu mandi.

Aku tak yakin apa aku bisa mengetahui semuanya hanya dalam kurun waktu seminggu, tapi kurasa rambutku juga semestinya tak ikut tumbuh.

Lalu, ada juga itu.

Maksudku, bentukan otot-otot yang kupunyai saat ini.

Ini berarti, seandainya aku mau berusaha lebih lanjut, aku bisa saja membentuk tubuhku hingga seperti Dramaturgie, berotot kekar, dan aku juga bisa mengubah bagian-bagian tubuhku menjadi senjata.

“…Dia tertidur.”

“Hm, saat bangun dia memang tak terlihat sehat.”

“Itu… karena usianya 500 tahun.”

“Itu menurut pengakuannya sih.”

“…Tapi, meski sudah melihatnya sendiri, aku masih sulit buat percaya.”

Lalu sesudah berkata demikian, Hanekawa menambahkan “Permisi.” dan mulai menyentuh-nyentuh tubuh bagian atasku. Perlahan tangannya mengusap perutku, kemudian naik ke permukaan dadaku.

Usap.

Usap.

…Sial, aku jadi sedikit terangsang!

Aku merasa seperti sedang dijadikan sasaran sebuah lelucon buruk.

“…Kalau menilai dari sentuhan saja, saat ini kau hampir tak ada bedanya dari manusia. Tapi, entah bagaimana, sepertinya kau yang sekarang terlihat lebih lentur.”

“… … …”

Oh, jadi perbuatannya sepenuhnya karena rasa ingin tahu saja.

Yah, mungkin kenyataannya memang begitu.

“…Tadi kau bilang hampir tak ada bedanya dari manusia. Hanekawa, apa jangan-jangan, kamu pernah memegang-megang tubuh orang lain sebelumnya?”

“Eh? Oh, enggak, aku, tak pernah…”

Gugup, Hanekawa dengan cepat melepaskan sentuhan tangannya dari badanku. Walau agak terlambat, dirinya nyata-nyata tampak agak malu.

“Benar juga. Aku malah mempermasalahkan sesuatu yang tak semestinya. Enggak baik. …Bisa kau tolong cepat pakai baju?”

“O-Oke.”

Kupakai bajuku.

Meski ukurannya M, rasanya agak longgar. Tapi, yah, bukan berarti aku punya masalah dengan kaos yang agak kedodoran.

Di samping itu, aku suka kepolosan yang kaos ini punya.

“Hm. Kelihatannya cocok.”

“Ah. Makasih. Nanti, sesudah semua masalah ini beres, uangnya pasti akan kuganti.”

“Enggak masalah kok. Aku masih punya uang simpanan hadiah tahun baruku yang telah kutabung semenjak kecil.”

“Jangan pakai simpanan-simpanan kayak gitu!”

Aku bisa saja melunasi uangnya, tapi aku takkan bisa mengganti kenangannya!”

Kebaikan hati gadis ini benar-benar tak berdasar.

Kalau aku dengan seenaknya meminta bantuan padanya, bisa saja suatu hal tak disangka nantinya malah terjadi.

“Ada dua baju atasan, aku mengemasnya di bagian agak bawah. Kalau buat celana, jins saja tak apa-apa?”

“Ya. Buatku yang terpenting asal mudah bergerak saja.”

“Aku coba mengukur ukuran pinggang dan panjang cuma dari melihat saja. Jadi kalau celananya ketat atau kependekan, kasih tahu saja. Nanti aku belikan yang baru.”

“… …”

Sekalipun celananya ternyata ketat atau kependekan, aku kemudian bersumpah untuk terus bertahan.

Demikian aku berpikir.

Sekalipun aku tak bisa mencoba celananya di sini, kupikir ada baiknya aku memeriksa sisa bawaannya yang lain, jadi aku mengaduk-aduk tas ransel itu hingga ke dasar…

…dan…

…di sana, aku menemukan sebuah kantong kertas.

Kantong kertas berukuran agak besar… yang berasal dari toko buku.

Di dalamnya, tampak ada sepuluh buku yang berada di dalamnya.

“…?”

Aku mencoba mengeluarkannya, dan…

“Ah, itu hadiah.” Hanekawa bilang. “Kemarin, kau membeli buku tentang Aikido, ingat? Kau meninggalkannya di depan gerbang sekolah. Kalau aku menduga berdasarkan pembicaraan kita kemarin, itu persiapan untuk melawan orang besar itu ‘kan?”

“Yah, semacam itu.”

Hanekawa menyebut Dramaturgie sebagai ‘orang besar itu.’

Wow, gadis ini bernyali juga.

“Pada akhirnya, aku merasa buku teks bisbol yang sekalian kubeli waktu itu pada akhirnya malah lebih berguna sih.”

“Ah, soal buku yang lagi kau baca waktu itu.”

“Memang ada yang penting?”

Ya, Hanekawa menganggukkan kepala.

“Hmm. Melakukan persiapan untuk menghadapi pertarungan sengit memang benar sih. Aku cuma merasa ada suatu kesalahan pemahaman yang kau punya di sini, Araragi.”

“Yah, aku tahu maksudmu. Maksudmu, kemarin aku agak serampangan, begitu?”

Itu karena malam sebelumnya, Hanekawa juga menonton.

Gaya bertarungku yang sama sekali tak keren itu.

Gaya bertarung yang menyerahkan segalanya pada untung-untungan itu. Gaya bertarung yang intinya adalah ‘semuanya akan kupikirkan gimana nanti.’

“Benar sih. Kalau cuma dengan membaca buku petunjuk saja kita bisa langsung menguasai sesuatu, maka enggak akan ada masalah apapun yang akan orang punya di dunia.”

“Ah, bukan, bukan. Maksudku bukan soal itu, Araragi.” Hanekawa berkata. “Soalnya, baik aikido maupun bisbol merupakan sesuatu yang memang dilakukan oleh manusia ‘kan?”

“…? Um, dalam kasus Dramaturgie, melakukan jurus kuncian dan pitingan ke dia jelas terbukti enggak berguna sih. Eh, tunggu, berhubung kemampuan pemulihan yang dia punya tak besar, jika waktu itu aku mencoba mematahkan tangannya, mungkin bakal tetap ada dampaknya ya.”

“Hm. Bicaramu mulai sadis. Tapi, maksudku juga bukan itu. Maksudku, bukan soal pada apa yang bisa atau tidak bisa dilakukan terhadap sasaran. Tapi, apa yang kau sendiri bisa lakukan. Seperti… kemampuan-kemampuan tertentu yang cuma kau sendiri yang punya.”

“Eh?”

“Aikido itu ilmu bela diri yang dilakukan oleh manusia. Bisbol juga cabang olahraga yang dilakukan oleh manusia. Tapi sekarang ini, kau memiliki kekuatan yang jauh melebihi batas kekuatan manusia, Araragi. Jadi seandainya kau menggunakan aikido atau bisbol, sebaliknya, itu bukannya malah jadi membatasi kekuatan yang kau punya?”

“Ah. Aaaaah!”

Benar juga.

Buatku yang sekarang, sebuah bola bisbol terasa terlalu ringan.

Bola besi buat tolak peluru sedikit lebih baik. Tapi aku baru merasa pas sesudah memegang alat roller.

Karena seluruh parameterku naik secara bersamaan, jadinya aku malah kesulitan untuk menyadarinya sendiri. Tapi buatku yang sekarang, segala teknik dan jurus yang dapat dilakukan oleh manusia, pada akhirnya mungkin memang cuma akan berakhir sebagai batasan saja.

“Karena itu, menurutku, apa yang seharusnya kau baca sekarang, seharusnya adalah ini.”

Berkata demikian, Hanekawa membuka kantong kertas yang kukeluarkan dari ransel, dan memperlihatkan isinya kepadaku.

Isinya buku-buku komik.

Terlebih lagi, semuanya bergenre gakuen inoue batoru.

Tokoh-tokoh utama lelaki yang semuanya mengenakan seragam sekolah.

“… … …!”

“Aku sudah mencoba mencari, tapi aku tak bisa menemukan komik yang tokoh utamanya seorang vampir. Jadi aku coba memilih cerita-cerita yang para tokoh utamanya adalah anak-anak cowok yang bisa menggunakan ESP.”

“Ka-Kau memilih…?”

“Mungkin dengan begini…” Hanekawa membuka salah satu halaman, memperlihatkan seorang lelaki yang terlihat seperti tokoh utama berlari menapaki dinding. “…Kau yang saat ini mestinya juga bisa melakukan gerakan-gerakan yang meniadakan hukum-hukum fisika.”

“Haa….”

Aku tentu saja terkejut.

Tapi tunggu, bukannya ide ini secara tak terduga sebenarnya bukan ide yang buruk?

Sebaliknya, ini mungkin malah brilian.

Dramaturgie bilang kalau aku tak kehilangan akal sehatku dari semasa aku masih menjadi manusia. Kata-katanya seakan menyiratkan bahwa sepertiku, dirinya dulunya pun adalah seorang manusia. Dan sepanjang pertarungan itu, seperti yang telah kuceritakan, karena aku masih bergerak berdasarkan kerangka berpikirku sebagai seorang manusia, aku mengalami kesulitan-kesulitan yang semestinya tak kualami.

Mengingat tanpa bantuan apa-apa aku sudah bisa melakukan salto ke belakang, mungkin tak aneh pula jika kini aku bisa berlari menyusuri dinding.

“Itu… pemikiran yang benar-benar bagus.”

“Aku sudah mencoba membacanya sendiri. Ceritanya lumayan menarik kok.”

“Hmmmm.”

Ini komik yang judulnya belum pernah kudengar. Tapi Hanekawa benar soal bagaimana ceritanya terlihat menarik.

“Buku-buku yang secara pribadi akan kuusulkan sih bergenre romansa. Tapi memikirkan lagi tentang tujuannya, aku merasa buku yang bakal memberi dampak secara cepat ya komik. Karena mengingat dengan gambar akan lebih mudah bagi ingatan.”

“Aku setuju.”

“Bagaimanapun, silakan coba lihat-lihat apa yang ada dulu sebagai referensi. Dan juga, aku pikir tetap paling baik kau memilih sendiri mana yang kira-kira cocok dengan seleramu.”

“…Terima kasih.”

Namun… saat kami membicarakannya semalam, aku tak sempat memberitahu Hanekawa kalau aku nantinya masih harus berhadapan dengan Episode dan Guilltone Cutter. Tapi semua persiapan yang telah dilakukannya ini…

Seperti yang kuduga, Hanekawa sama sekali bukanlah orang biasa.

“Nih. Kartu buku yang bisa kau pakai bila saat kau membutuhkannya tiba.”

“Semua persiapan yang telah kau lakukan ini benar-benar terlalu hebat.”

“Hmm? Kau lebih suka kalau kukasih dalam bentuk uang?”

“Jangan uang!”

Tunggu, aku ini lagi ngomong apa!

Bagaimanapun… aku benar-benar bersyukur dan berterima kasih atas semua perhatian yang telah diberikan Hanekawa. Kartu buku itu juga termasuk.

Yah, soalnya, aku tak benar-benar bisa dibilang punya uang.

Uang yang sebelumnya kupunya kuhabiskan terlalu banyak untuk membeli buku.

“Kau benar-benar sudah sangat membantuku, Hanekawa. Suatu saat nanti aku benar-benar mesti membalasmu.”

“Jangan begitu. Aku cuma bisa melakukan sebatas ini saja.”

“Ini saja… sudah lebih dari cukup.”

Jujur saja, semua bantuannya ini meringankan hati.

Seandainya Hanekawa memilih untuk berpaling dan mengabaikanku… entah bagaimana keadaanku sekarang.

Aku tak bisa menyebut Oshino seorang teman. Lalu Kiss-Shot malah adalah alasan kenapa aku mengalami semua ini. Terlebih, seorang vampir.

Aku tak pernah menyangka mempunyai orang yang bisa diajak bicara bisa meringankan bebanku sampai sejauh ini.

Tunggu. Hanekawa bukan cuma sekedar orang. Hanekawa adalah teman.

“Serius. …Terima kasih.”

“Tak masalah. Dalam setiap saat sulit, kita semua mempunyai kedudukan yang setara. Jadi kalau ada hal lain yang kau ingin aku lakukan Araragi, katakan saja. Tapi memang ini yang terbaik yang bisa kulakukan untuk sekarang ini sih.”

“Ya. Mulai sekarang, aku akan mengandalkanmu.”

“Bagus. Nah, sekarang, ayo kita bereskan ruangan ini.”

Ruangan itu benar-benar berantakan, seperti yang Hanekawa bilang.

Bagaimanapun, gedung ini memang sebuah bangunan terbengkalai, ‘kan?

Tapi begitu mengatakannya, Hanekawa sendiri telah mulai beranjak. Hei, tunggu dulu, aku tak mau memaksamu membantuku sampai segini!

“Jangan repot-repot. Tempat ini sudah kayak begini semenjak awal.”

“Justru karena itu kau harusnya tak membiarkannya berantakan. Segala tempat yang bisa dibereskan hendaknya dibereskan. Hmm? Apa ini?”

Hanekawa memungut sesuatu dari sudut ruangan.

Untuk sesaat aku tak sama sekali tak punya bayangan mengapa benda seperti itu bisa berada di sana. Tapi segera semuanya kemudian menjadi jelas. Itu jelas-jelas merupakan kantong besar dari toko buku. Tapi itu bukan kantong yang Hanekawa bawa, dan itu bukan pula kantong hasil belanjaku kemarin, yang berisi buku aikido, bisbol, dan musik klasik.

Tapi, itu sebuah kantong yang dengan serta-merta kukenali.

Iya.

Itu kantong berisi dua buku mesum, yang semestinya sudah kubuang pada hari pertama liburan musim semi.

“Munya munya.”

Di belakang kami, Kiss-Shot kembali mengigau dalam tidurnya.

“Beta lupa katakan. Kantong kertas yang engkau bawa malam itu terlihat penting. Makanya saat beta menemukannya tergeletak di pinggir jalan, beta sekalian saja bawakan pada saat kita kemari.”

“Ka-kamu…!”

“Zzz.”

Dia tertidur lagi.

O-oh… Hanekawa mengamati isi dari kantong itu.

Seorang siswi SMU sedang mengamati buku mesum yang menampilkan siswi SMU.

“Coba kita lihat. Kalau tak salah kau bilang kau bertemu vampir saat baru kembali dari toko buku, ‘kan? Pada tanggal… 25 Maret? Pada malam hari sesudah kau berpapasan denganku?”

“…!”

Gila!

Kekuatan intuisi yang dimilikinya sungguh luar biasa!

E-eh, tunggu, apa saat ini kau sedang melakukan kesalahpahaman besar yang paling tak kuharapkan sekarang ini!?

“Ehehehe.”

Hanekawa mengangkat wajahnya, kemudian menatapku dengan seringai yang seakan menutupi seluruh wajahnya.

Cahaya lampu senter yang menyorot dari bawah wajahnya benar-benar membuatnya terlihat seperti sebuah makhluk ganjil.

Kemudian, Hanekawa mengambil salah satu buku dari dalam kantong. Lalu ia membukanya di salah satu halaman. Lalu di halaman tersebut, secara mengerikan, sebuah skenario yang teramat luar biasa konyol bertuliskan ‘Sajian Istimwa: Ketua Kelas Berkacamata!’ disodorkan ke depan mukaku.

Hanekawa, dengan getaran suara yang teramat lembut, berkata.

“Hei. Ini apa?”

Catatan:

Freeza: tokoh antagonis di Dragon Ball yang menjadi musuh pertama yang mendorong Goku untuk mengakses wujud Super Saiya.

LOHAS: …Lifestyles of Health And Sustainability. Sudahlah. Ini apa sama sekali enggak penting. Kaitannya dengan pangsa pasar yang ditujukan bagi konsumen yang peduli terhadap lingkungan hidup.

Kartu buku: Hmm, ini agak susah menjelaskannya. Yah, bayangin lembaran stempel yang kau dapat dari supermarket-supermarket setiap melakukan belanja dengan nilai tertentu, dan nantinya bisa ditukar dengan hadiah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: