Guilty Crown

Aku ingin bicara soal Guilty Crown (harfiahnya berarti ‘mahkota yang bersalah’).

Anime keluaran musim gugur tahun 2011 ini menjadi salah satu judul yang menonjol pada masanya. Bukan hanya karena animasinya yang benar-benar cantik buatan studio Production I.G., tapi juga karena desain karakter yang ditangani oleh Redjuice; serta musik pembuka, penutup, serta insert yang ditangani oleh band pop ternama, Supercell.

Aku takkan mengulas soal Redjuice dan Supercell. Ada lebih banyak orang yang tahu tentang mereka melebihi aku. Yang pasti, mereka terkenal dan diakui memiliki kualitas. Karenanya, keterlibatan mereka dalam sebuah anime seperti ini benar-benar menarik perhatian.

Sutradaranya sendiri adalah Araki Tetsuro (dikenal sebagai sutradara anime Death Note dan High School of the Dead, yang keduanya mesti diakui dieksekusi dengan baik), dan bersama UN-GO (dan kemudian Black Rock Shooter), Guilty Crown mengisi slot tayang Noitamina. Tak seperti kebanyakan seri Noitamina sebelumnya, Guilty Crown terdiri atas 22 episode, yang berarti seri ini sepanjang dua musim tayang.

Alasan aku ingin membahas soal Guilty Crown adalah karena belum lama ini, ada seorang sutradara anime terkenal yang mengatakan bahwa kebanyakan anime zaman sekarang hanyalah tiruan dari tiruan dari tiruan lainnya. Yang seakan menjadikannya media yang telah kehilangan kemampuan ekspresinya. Dan… hal yang terlintas di pikiranku semakin aku mengikuti perkembangan Guilty Crown adalah perkataan sutradara tersebut.

So everything that makes me whole…

Guilty Crown berlatar di masa depan, sepuluh tahun sesudah sebuah bencana mengerikan yang disebut Lost Christmas memporak-porandakan Jepang. Akibat bencana yang sekilas nampak sebagai pandemik virus ini, pemerintah Jepang dibekukan karena dinilai gagal mengatasi situasi. Lalu pemerintahan diambil alih oleh pemerintahan buatan dari Persekutuan Bangsa-Bangsa, dalam bentuk sesuatu yang disebut GHQ (Great Headquarters—mirip dengan situasi pendudukan Jepang seusai berakhirnya Perang Dunia II).

Virus bersangkutan, Apocalypse Virus, tidak jelas media penularannya. Tapi saat seorang terinfeksi, pada tubuh mereka akan terbentuk lapisan permukaan kristal, dan secara perlahan mental mereka akan terkikis sampai mereka nyaris gila. Belum ada obat yang ditemukan untuk menyembuhkan virus ini, meski belakangan ditemukan ada vaksin yang dapat ‘menekan’ gejala-gejalanya.

Cuma, karena sifat penularan virus yang tak jelas itu, timbul semacam paranoia di kalangan masyarakat, yang berakhir pada terbentuknya pasukan khusus Anti Bodies yang tak akan segan membantai siapapun yang bahkan hanya dicurigai terinfeksi virus ini. Pasukan Anti Bodies ini yang kemudian digunakan oleh GHQ untuk menyingkirkan siapapun yang sedikit saja menentang kekuasaan mereka.

Dalam situasi pendudukan itu, timbul perlawanan dari masyarakat Jepang dalam bentuk kelompok perlawanan bawah tanah, Shougisha (diterjemahkan sebagai Undertakers atau Funeral Parlor). Kelompok ini dipimpin oleh pemuda tampan karismatik Tsutsugami Gai.

Seorang remaja sekolah yang kurang pandai bergaul bernama Ouma Shu terlibat dalam semua konflik ini saat berjumpa dengan Inori, gadis manis/pendiam/misterius yang selama ini hanya dikenalnya sebagai vokalis grup musik Egoist yang Shu gandrungi, yang ternyata juga merupakan salah seorang agen Shougisha. Inori ternyata ditugaskan oleh Gai untuk mencuri sesuatu yang bernama Void Genome dari perusahaan Sephirah Genomics, produsen vaksin untuk Apocalypse Virus.

Satu dan lain hal terjadi. Sampai akhirnya, Void Genome yang semestinya Inori serahkan pada Gai malah pecah wadahnya dan kemudian tertanam dalam tangan kanan Shu. Shu kemudian jadi memiliki kemampuan menakjubkan untuk mengekstrak (secara harfiah) Void dari dalam diri orang lain, yakni senjata-senjata dahsyat yang merupakan manifestasi dari kepribadian dan sifat orang tersebut.

Dari dalam diri Inori, Shu mencabut sebilah pedang besar yang memungkinkannya melayang dan menjadikannya tandingan bagi pasukan mecha Endlave yang GHQ miliki.

Departures

Dari sini, segala sesuatunya menjadi rumit.

Tak ada yang tahu bagaimana cara mengeluarkan Void Genome dari tangan Shu. Karenanya, Gai—yang untuk suatu alasan memiliki kemampuan untuk melihat apa bentuk Void yang dimiliki tiap orang—kemudian mendorong Shu untuk bergabung dengan Shougisha.

Sementara Shu sendiri, antara rasa sukanya terhadap Inori dan rasa rendah dirinya sendiri, sebenarnya berada dalam situasi lebih pelik dari bayangannya karena…. (1) masalah pergaulan dengan teman-temannya di sekolah, (2) ada teman sekolahnya yang manis yang naksir padanya, (3) ibu Shu, Ouma Haruka, bekerja sebagai peneliti di Sephirah Genomics, (4) Shu gimanapun juga akan menjadi buruan GHQ, (5) munculnya konflik masa lalu akibat kenyataan bahwa TERNYATA MENDIANG AYAH SHU SENDIRI YANG MENCIPTAKAN VOID GENOME!

Maksudku, perkembangan-situasi-yang-diakibatkan-oleh-kebetulan macam apa iniiiii?

Belum lagi saat seorang pria paruh baya misterius bernama Keido Shuichirou yang menjadi tokoh yang hanya sekedar ‘ada’ di awal seri, tiba-tiba saja melakukan kudeta untuk mengambil alih GHQ, dan untuk suatu alasan menciptakan insiden Lost Christmas kedua di Jepang.

Shuichirou diam-diam dibantu oleh sesosok remaja misterius bernama Yu, yang ternyata memiliki Void Genome juga, yang ternyata merupakan perwakilan dari suatu kelompok berkuasa bernama Da’ath, yang ternyata merupakan secret society paling pertama yang pernah ada di muka Bumi semenjak zaman purba dan menjadi pencipta dari berbagai secret society lainnya sepanjang masa.

Lalu terungkap bahwa Shuichirou ternyata tak lain adalah saingan lama dari Ouma Kurosu, mendiang ayah Shu, yang ternyata adalah penemu pertama dari meteorit yang membawa Apocalypse Virus, yang ternyata pertama menginfeksi Ouma Mana, yang tak lain adalah mendiang kakak perempuan Shu, yang ternyata sebelumnya menyelamatkan seorang anak misterius dari laut saat mereka masih kecil, yang ternyata kemudian tumbuh menjadi Gai, yang ternyata adalah teman masa kecil Shu, yang ternyata menjadi saksi awal hubungan incest antara Mana dan Shu, yang ternyata kenangannya Shu tekan hingga ia sampai lupa, yang ternyata diakibatkan oleh infeksi virus dalam diri Mana yang mengacaukan kepribadiannya dan membuatnya ingin memicu evolusi terkini umat manusia, yang pada akhirnya berhasil digagalkan di saat-saat terakhir berkat Shu dan Gai, sampai kesadaran Mana tercipta kembali dalam diri Inori yang ternyata semacam tiruannya!

Shuichirou ternyata bermaksud melanjutkan keinginan Mana, menjadikan dirinya Eve bagi generasi umat manusia baru, sekalipun Mana sendiri pada awalnya telah memilih Shu sebagai Adam-nya, sehingga Shuichirou membunuh Kurosu atas rasa dengki, karena keturunan Kurosu-lah yang telah dipilih(?) sebagai induk umat manusia baru ini, sekalipun Shuichirou telah bersusah payah untuk menciptakan calon Adam-nya sendiri, yang salah satunya adalah Gai, yang menjadi satu-satunya subjek percobaannya yang lolos darinya, yang kemudian menjadi prajurit anak-anak tangguh, dikenal sebagai pahlawan berkat keterlibatannya dalam perang di Afrika, dan sebagainya.

Oh ya. Shuichirou ternyata adalah kakak lelaki Haruka, dan Haruka ternyata adalah istri kedua Kurosu.

… …

Kurang lebih begitu.

Remember that your strength is no coincidence

Segalanya mungkin memang terdengar menarik. Tapi terus terang, semuanya entah gimana berakhir jadi sangat konyol. Entah karena penceritaannya yang memang hanya kurang bagus, atau memang karena konsep awalnya yang menyebalkan.

Soalnya, sebenarnya, ada banyak subplot bagus muncul di seri ini. Tapi beneran, bersama setiap hal bagus yang muncul di seri ini, selalu muncul juga perkembangan cerita enggak jelas yang merusak segala-galanya. Di adegan flashback ke kenangan masa kecil Shu misalnya, pas kita berhasil dibuat penasaran tentang apa sebenarnya peran Mana yang sesungguhnya, tiba-tiba aja dimunculkan adegan di mana Shu kecil tersipu-sipu saat melihat siluet bentuk badan Mana ketika sinar mentari senja menembus kain summer dress yang dikenakannya. Maksudku, WTF is with that scene?!? Aku bisa memahami kasusnya kalau itu remaja yang lagi puber. Tapi Shu di adegan itu masih anak-anak! Anak-anak! Masa iya di usia 5-6 tahun pikirannya udah terpengaruh ke arah sana?!

Ceritanya kayak digarap… dengan benar-benar seenaknya gitu, dengan ide-ide enggak masuk akal tiba-tiba aja dimasukkan gitu aja. Pas paruh akhir cerita, kayaknya mulai terlihat bahwa staf Production I.G. mulai enggak peduli lagi soal seri ini akan dibawa ke mana. Terlihat dari tata cara penggambaran ekspresi karakternya yang secara terselubung dibuat ‘aneh’ serta pilihan kata-kata dalam dialognya yang mengandung double entendre.

Menyikapi perkembangan ceritanya yang makin ngawur, sesama penulis blog anime, Minoru, pada suatu titik dengan separuh bercanda pernah bilang sesuatu kayak, “Oke. Terus habis ini apa? Episode festival sekolah?” dan ternyata episode yang keluar sesudah ia mengatakan itu betulan mengetengahkan festival sekolah.

Entahlah. Kurasa intinya, Guilty Crown itu udah kayak mimpi basah seorang otaku.

Oya, aku belum bilang ya? Ada mecha-mecha besar bersepatu roda ala Code Geass di dalamnya. Selain episode festival sekolah, ada juga episode pantai dan pemandian air panas. Ada masalah ingatan terpendam. Ada masalah kepribadian ganda. Ada galau remaja. Ada konflik dengan orangtua. Ada adegan seks yang tiba-tiba aja diimplikasikan terjadi. Ada benda besar yang mengancam akan jatuh dari langit. Yah, begitulah.

(Gagal untuk mirip Code Geass, lalu Eureka Seven, lalu Evangelion? Itu yang kumaksud tiruan dari tiruan dari tiruan. Tapi aku beneran malah jadi ga enak karena ampe mikir kayak gini.)

Saking gado-gadonya, segalanya kayak jadi… terlalu kacau untuk bisa kau anggap serius.

Kokuhaku

Dengan demikian, bahasan kita berlanjut ke alasan orang-orang menontonnya.

Terlepas dari orang-orang yang bertahan menonton Guilty Crown karena penasaran soal sampai seancur apa seri ini akan berkembang, aspek presentasi Guilty Crown memang terlalu bagus buat diabaikan.

Serius. Aspek presentasi seri ini memang sekeren itu.

Dari segi visual, aku sudah menyebut soal desain karakternya di atas yang benar-benar mudah disukai (walau desain pakaiannya mungkin agak enggak begitu masuk di akal). Tapi sisa eksekusi anime ini benar-benar bagus. Animasinya sangat halus dengan pergerakan kamera yang bagus. Efek-efeknya mencolok. Desain dunianya keren dan mendetil.  Teknologi mecha Endlave yang digerakkan dengan kesadaran orang dari jarak jauh sangat menarik. Desain latarnya memikat. Lalu, mengingat aku penggemar Shin Megami Tensei, aku benar-benar menghargai kemiripan nuansa yang Guilty Crown tawarkan, melalui segala keajaiban yang Void Genome bawa serta situasi kota Tokyo yang terkena lockdown dan diwarnai kehancuran.

Dari segi musik, kurasa justru di sanalah letak hati Guilty Crown tersimpan.

Sempat ada kontroversi soal bagaimana Ryo dari supercell tak memilih Yanagi Nagi sebagai vokalisnya untuk kali ini—seperti pada Bakemonogatari dan single-single lain mereka sebelum itu. Sebagai gantinya, diperkenalkan seorang vokalis muda baru bernama Chelly. Tapi memperhatikan warna suaranya, bisa dimengerti mengapa ia dipilih untuk menyanyikan lagu-lagu keren yang menjadi soundtrack seri ini.

‘My Dearest’, lagu pembuka pertamanya, mungkin merupakan salah satu lagu paling epik yang pernah kudengar sepanjang masa. Bahkan untuk ukuran lagu-lagu supercell! Mendengarnya semata benar-benar serasa mengaduk beragam emosi, yang seandainya saja berhasil dituangkan ke dalam cerita, pastinya akan berhasil mengubah Guilty Crown menjadi mahakarya.

Lagu pembuka keduanya, ‘The Everlasting Guilty Crown’, merupakan lagu favorit pribadiku karena benar-benar larut dan sesuai dengan sisi keren cerita.

Lalu terlepas dari lagu-lagu pembuka dan penutupnya, musik latarnya ditangani oleh Sawano Hiroyuki yang juga membuat musik latar keren dari Gundam Unicorn! Hasilnya secara garis besar benar-benar keren.

Makanya, kebagusan kemasannya ini benar-benar jadi… timpang dengan kualitas inti ceritanya, dan kualitasnya itu benar-benar turun-naik secara ekstrim di sepanjang seri. Menciptakan semacam hubungan cinta-benci bagi siapapun yang mencoba menontonnya. Pada akhirnya, ceritanya sendiri memang berakhir agak mengecewakan sih. Sekali lagi, karena ceritanya sempat menjadi ‘aneh’ hanya beberapa menit menjelang akhir. Mungkin juga karena luasnya cakupan cerita dibandingkan durasinya yang hanya sebatas 22 episode. Tapi kualitas eksekusinya memang terbilang enggak buruk…

Agak susah membayangkannya bila kau belum melihatnya sendiri.

Eniwei, pada akhirnya, kamu ngamuk sekalipun soal ceritanya, akan ada banyak alasan bagimu untuk mengenang proyek besar Production I.G. ini. Ada banyak hal tentangnya yang memang masih enggak jelas dan mesti diperbaiki. Tapi asal kau enggak berpikir mendalam tentangnya, mengganggapnya semacam b-movie sambil lalu aja, kau masih bisa menikmatinya kok.

Sesering apapun seri ini membuatku muntah, seenggaknya pada akhirnya aku enggak sampai muntah darah.

Lalu, kalau menonton ulang semua dan memperhatikan hal-hal kecil yang seri ini berikan, sering sekali ada bagian-bagian tertentu yang membuatmu agak ‘wow.’

Jadi kayak, kadang aku dibikin mikir, sebenarnya apa sih yang ada di pikiran para pembuatnya? Dan kalau aku menyingkirkan apa-apa yang membuatku kesal dan coba menebak-nebak, mungkin memang Guilty Crown sebenarnya mempunyai lebih banyak hal tersirat dari yang tampak di permukaan.

The Three Ghosts of Pre-Apocalypse

Aku belum paham gimana persisnya. Tapi tim produksi Guilty Crown sebenarnya  telah menyiapkan beragam detil latar dan karakter yang menarik sehubungan dunianya.

Sebagian besar detil ini sepertinya baru akan dipaparkan dan dieksplorasi lebih lanjut dalam game visual novel  Guilty Crown: Lost Christmas. Game ini merupakan semacam prekuel sekaligus spin-offnya gitu, berlatar sepuluh tahun sebelum cerita di seri TV-nya, dan secara mendebarkan tengah dikembangkan oleh Nitroplus. Belum terlalu jelas hasilnya akan seperti apa, tapi Nitroplus sudah lama dikenal sebagai produsen VN dengan cerita-cerita yang gelap tapi berbobot. Jadi kita bisa mengharapkan suatu perbaikan kualitas cerita menyeluruh darinya.

Tokoh utama ceritanya adalah seorang pria misterius yang dikenal sebagai Scrooge, yang melarikan diri dari suatu fasilitas penelitian tertentu, dan bertahan hidup bersama partnernya, seorang gadis cantik yang tak kalah misteriusnya, Carol. Scrooge konon memiliki kekuatan Void Genome yang serupa dengan yang akan dimiliki Shu. Lalu keduanya dikejar-kejar oleh tiga ‘hantu’ yang semakin mempertegas inspirasi dari A Christmas Carol-nya Charles Dickens: Past, Present, dan Yet to Come, yang sama-sama rupawan(?) dan juga sangat misterius.

Hanegaya Jin yang membuat cerita VN Demonbane menjadi penulis skenarionya, dan konon ceritanya akan berfokus pada insiden Lost Christmas. Akan ada film animasi pendek berisi sebuah cerita orisinil yang akan mengiringi peluncuran game ini juga.

Aku punya perasaan cerita VN-nya akan berakhir tragis. Tapi lebih lanjut tentangnya kukabari lagi sesudah semuanya jelas.  Soalnya ceritanya sendiri beneran gelap.

Scrooge adalah seseorang yang kehilangan ingatannya. Lalu Carol ternyata agak mempermainkannya karena diam-diam mengetahui segala sesuatu soal jati dirinya sejak awal. Ada semacam dendam yang Carol miliki terhadap Scrooge. Lalu hilangnya ingatan Scrooge tersebut terkait dengan bagaimana ingatan itu mungkin memang lebih baik tak dia ingat kembali. Pokoknya, semua memang terkait dengan Void Genome tak sempurna yang tertanam di tangan Scrooge, yang membuat jenis Void Genome yang ditariknya dari Carol agak berbeda dari yang ditampilkan Shu.

(Beberapa hal menarik meliputi bagaimana Void Genome Scrooge ‘beracun’ bagi orang lain, karenanya ia hanya bisa menariknya dari Carol. Namun bentuk Void yang bisa Scrooge tarik ternyata bisa berbeda-beda(!) pada setiap waktu, lalu desain karakter Scrooge dan Carol sangat mirip desain Shu dan Inori. Tapi sudahlah dulu soal itu…)

Di samping yang di atas, diterbitkan pula light novel berjudul Guilty Crown: Princess of Deadpool karya Gan Saaku, yang juga penulis dari Nitroplus, yang memaparkan sebuah cerita sampingan yang berlangsung di pertengahan cerita seri TV-nya. Masih terbatas info tentang apa cerita ini, tapi kelihatannya berfokus pada seorang siswi bernama Hinata Hiyori dan teman-temannya dari SMA Meisei. Dipaparkan hadirnya pemilik Void Genome selain yang dikembangkan oleh Sephirah Genomics, dan ada konflik yang kemudian melibatkan mereka dengan kelompok Shougisha…

Info lain soal ini kalau ada akan kutambahkan nanti.

Kebenarannya Ada di Hatimu

Kalau kupikir sekarang, terlepas dari alur ceritanya yang terkadang enggak masuk akal dan tamatnya yang enggak begitu bisa dibilang jelas, Guilty Crown termasuk salah satu anime yang punya porsi perkembangan cerita yang epik lho. Masing-masing episodenya memiliki porsi cerita yang padat dan berarti, dengan eksekusi yang sekali lagi, kalau bukan karena sisi nakalnya (Tsugumi? Ayase?), bisa kukatakan bagus.

…Rasanya aneh, tapi kalau kupikir lagi, seandainya ada upaya untuk meremake-nya ke dalam bentuk movie atau mengadaptasinya ke bentuk novel, ada peluang besar aku akan tertarik. Mungkin masih ada suatu pelajaran tersamar yang akan kau dapatkan bila kau menonton ini kok. Jadi walaupun sampah, seenggaknya masih belum menutup kemungkinan buat didaur ulang.

(Enggak, aku juga enggak tahu buat maksud apa mereka mendesain baju Inori kayak gitu.)

(Asal tahu aja, ceritanya berakhir bahagia. Tapi pada suatu titik tertentu, ada kemungkinan kau enggak akan lagi terlalu peduli.)

Penilaian

Konsep: X; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: X; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: D-

(Nilai X berarti bisa sangat bagus dan sangat kurang tergantung bagiannya, nilai eksekusi mendapat pengurangan karena banyak bagian yang dibuat dengan sangat baik tapi dengan cara yang kurang semestinya.)

Iklan

About this entry