Kizumonogatari – IND (005)

005

Dramaturgie.

Episode.

Guillotine Cutter.

Itulah nama orang-orang yang mengambil bagian-bagian tubuh Kiss-Shot—-kurang lebih seperti itu.

Sekurangnya, Kiss-shot pernah mendengar tentang ketiga orang ini sebelumnya—namun demikian, tetap agak sulit memahami keadaannya bila hanya sebatas ini.

Pria bernama Dramaturgie mencuri kaki kanannya.

Pria bernama Episode mencuri kaki kirinya.

Pria bernama Guillotine Cutter mencuri kedua belah lengannya.

Ketiga pria tersebut masing-masing mencuri bagian tubuh tertentu.

Itulah alasan mengapa dirinya berada dalam keadaan sekarat—-seandainya dirinya tak menghisap darahku, maka sudah tentu ia akan tewas.

Sekalipun tubuhnya berkekuatan abadi…

Tapi tetap saja dia akan mati.

Tentang ini, dirinya sendiri adalah orang yang paling mengerti.

Dirinya pada waktu itu—sebenarnya sudah punya kesiapan untuk mati.

Dengan nyawa masih tersisa, menggunakan tubuh yang penuh luka, ia berhasil lolos dari ketiga orang itu—dengan cara yang sama sekali tak mudah.

“Kenapa…”

Aku, di tengah penjelasannya itu, jadi tak bisa menahan diri untuk bertanya.

“Kenapa mereka mencuri bagian-bagian tubuhmu?”

“Beta seorang vampir. Kalian, para manusia—hmm, engkau bukan lagi termasuk salah satunya—bagaimanapun, beta merupakan apa yang para manusia sebut sebagai monster.”

Kiss-shot mengatakannya dengan nada yang tegas.

“Mengusir monster bagi manusia merupakan suatu hal yang diharuskan.”

“…”

“Ketiga orang di atas memiliki keahlian khusus dalam mengusir vampir—bagian mata pencaharian mereka tak lain adalah untuk membunuh beta. Mereka insan-insan yang secara khusus menangani pengusiran vampir, pernahkah engkau dengar tentang mereka sebelumnya?”

Semestinya—-pernah.

Dalam menghadapi makhluk-makhluk seperti vampir, mereka tampil sebagai lawan yang seimbang.

Memikirkannya baik-baik, kurasa aku sebenarnya tak benar-benar tahu tentang mereka—tapi di sisi lain, kalau hanya mendengar saja, kurasa aku pernah.

“Jadi—tujuan kita mengalahkan mereka?”

“Ucapan tolol macam apa itu! Bukankah itu sama saja dengan mencari maut? Walau kenyataan beta kehilangan seluruh tungkai badan menyakitkan hati, kekuatan pemulihan yang beta punyai tak tersisa banyak—dalam situasi begini, bagaimana mungkin beta sanggup bertarung?”

“Jadi begitu ya.”

“Maka dari itu…”

Kiss-Shot dengan teramat alami melanjutkan perkataannya.

“Beta cukup utus engkau saja untuk menghadapi tiga orang itu—dan mendapatkan tungkai-tungkai beta kembali.”

“Heh…?”

Aku kehilangan kata-kata.

“O, oke …. Tapi apa bakal bisa segampang itu?”

“Hmm, nampaknya beta lupa jelaskan ke engkau, seandainya engkau memang ingin kembali menjadi manusia, beta akan memerlukan seluruh kekuatan beta terpulihkan kembali. Singkatnya, beta perlu kembali ke wujud beta yang seutuhnya. Untuk itu, tungkai-tungkai badan beta akan diperlukan.”

Aku sama sekali tak bermaksud buruk, tapi memang nada suaraku jadi terdengar seperti mencari-cari alasan.

“Kemampuan atletikku enggak buruk tapi juga enggak bisa dibilang bagus; tubuhku enggak lebih dari yang bisa kamu lihat sekarang. Aku juga belum pernah berkelahi sebelumnya… Jadi, yah, masalah utamanya, bukannya nanti malah aku yang bakalan ‘terusir’ oleh mereka!”

Aku—saat ini adalah seorang vampir juga!

Peluang terjadinya hal di atas sebenarnya lumayan besar.

Alasannya karena, mereka yang menjadi lawanku adalah tiga orang yang mengkhususkan diri dalam pengusiran vampir—terlebih lagi, seandainya mereka mengampuni nyawaku yang dulu pernah menjadi manusia, mengingat mereka memperoleh tungkai-tungkai badan Kiss-Shot melalui pertarungan, akan sulit membujuk mereka untuk menyerahkan tungkai-tungkai itu begitu saja.

“Dasar tolol, itu keadaan saat engkau masih seorang manusia.”

Kiss-Shot berujar dengan letih.

“Engkau yang sekarang adalah pembantuku—bahkan pada tingkatan paling rendah dan dalam keadaan paling rapuh sekalipun, engkau dengan mudah masih bisa membunuhku sekarang.”

“…? Maksudnya, walau kau seorang vampir, kau sebenarnya termasuk lemah?”

“Salaah!”

Aku membuatnya marah.

Ternyata benar, dia memang orang yang gampang naik darah.

“Engkau mencapai kesimpulan itu hanya berdasar apa yang baru engkau dengar! Biar beta jelaskan, di kalangan kaum vampir, beta merupakan salah seorang yang terkuat! Beta bahkan menyandang julukan sang Penakluk Fenomena Ganjil.”

“Penakluk Fenomena Ganjil…”

Saat ini, sesumbar hebat itu tak tercermin sama sekali.

Dan lagi, ‘fenomena ganjil’ itu maksudnya apa?

Hal-hal seperti makhluk jadi-jadian begitu?

Hmm, lebih baik soal itu tak kupermasalahkan.

“Hmm, tapi walaupun keadaanmu yang sekarang tak sekuat aku… walaupun aslinya kau lebih kuat dariku, tapi ketiga orang itu, dalam keadaan kekuatan penuh, tetap berhasil mengambil tungkai-tungkaimu saat kau berada dalam wujud utuh ‘kan? Kalau gitu…”

“Beta dibokong oleh ketiga orang itu! Meremehkan mereka—benar-benar meremehkan. Orang-orang setingkat mereka, mereka bekerjasama sekalipun, sebenarnya tetap tak sanggup menjadi tandingan beta!”

“Hah…”

“Jadi pada dasarnya…” Kiss-Shot, dirinya, secara arogan berkata. “Selama pertarungannya satu lawan satu, ketiga orang itu juga takkan menjadi tandinganmu sama sekali! Sejujurnya, ini pekerjaan mudah! Tantangan semudah ini pasti bisa engkau atasi demi kembali jadi manusia, tanpa banyak masalah.”

Aku benar-benar tak merasa teryakinkan dengan omongan tak berdasar ini.

Tapi karena omongan itu—aku kembali berkeliaran di kota kecil ini pada malam hari.

Kali ini waktunya tak lama sesudah matahari terbenam. Akhirnya aku bisa meninggalkan gedung bimbel terbengkalai itu—dan akhirnya bisa kupastikan sebenarnya aku berada di mana.

Lokasi gedung bimbel itu terletak di tepi kota terpencil tempat aku tinggal—tapi walau begitu, bagaimana gedung bimbingan belajar terbengkalai ini bisa ada, di wilayah ramai dengan banyak bangunan seperti ini, merupakan sesuatu yang sama sekali tak kumengerti.

Mungkin tempat ini kalah pamor oleh bimbingan belajar besar yang terletak di depan stasiun, dan jadinya terpaksa tutup.

Sebagai pilihan terakhir untuk dijadikan tempat persembunyian, Kiss-Shot, orang ini, benar-benar menemukan tempat seperti ini.

Selanjutnya aku segera menelepon rumah.

Untungnya, adik perempuanku-lah yang mengangkat telepon. Adik perempuan yang lebih tua. Abangmu ini sedang memakai liburan musimnya untuk melakukan perjalanan pencarian jati diri, jadi tolong bilangin itu ke yang lainnya, aku menyuruhnya begitu saja seperti itu.

Adik perempuan yang lebih tua menerimanya tanpa banyak masalah.

…Hanya saja, jadinya, aku membuat adik perempuanku mengira bahwa kakak mereka adalah jenis orang yang sewaktu-waktu bisa meninggalkan rumah begitu saja hanya untuk melakukan pencarian jati diri.

Sial. Aku benar-benar jadi merasa tak berguna.

Kemudian, nyaris seketika adik perempuan yang lebih kecil mengirimiku pesan teks singkat.

Kedua adik perempuanku yang masih SMP itu sama-sama tak memiliki ponsel, jadi ia menggunakan komputer di ruang keluarga untuk mengirimiku pesan itu.

“Untuk Abang. Terkadang dalam hidup orang memang akan kehilangan arah. Tapi kalau sudah tenang, coba pikirkan lagi baik-baik, di manakah Tyltyl and Mytyl dulu menemukan si Burung Biru Kebahagiaan?”

…. …. ….

Aku jadinya malah diceramahi oleh adik perempuanku sendiri.

Dikirimi pesan teks macam itu, dan terlebih, dibuat menghabiskan lebih banyak isi batere ponselku lagi, sikap mereka terus terang agak membuatku marah.

Tapi, bagaimana aku bisa mengisi ulang tenaga ponselku? Alat pengisi baterenya ada di rumah dan jelas-jelas aku tak bisa pulang. Satu-satunya pilihanku adalah membeli alat pengisi baru di toko swalayan.

Rasanya tak mungkin masih ada listrik di puing-puing bimbel ini, jadi kurasa aku mesti membeli yang alat yang berjenis batere.

Andai saja semua urusan ini bisa beres sebelum isi batere ponselku habis, mungkin masalah ini bisa kuabaikan.

“Mereka bukanlah tandingan beta… pada awalnya mereka bukan tandingan beta. Karena itu, semestinya mereka bukan tandinganmu pula.”

Yah, kalau begitu… ini hal mudah, ‘kan?

Walau pada awalnya hanya separuh dari semua itu yang kupercaya, kekuatan yang kumiliki sebagai vampir memang sungguh-sungguh nyata—tapi soal mengujinya, kurasa itu akan melibatkan sebuah penjelasan panjang yang harus kusiapkan seandainya aku ditangkap lalu diinterogasi akibat tindak kejahatan perusakan sarana umum.

Yah.

Tempat ini semenjak awal memang sudah puing-puing ‘kan, jadi mungkin takkan masalah jika kerusakannya sedikit bertambah.

Pokoknya sesuatu seperti itu.

“Tapi—rasanya ada sesuatu yang terlewatkan.”

Aku merasa kalau aku telah sedikit terbuai oleh kata-kata Kiss-Shot.

Ditambah lagi—aku merasakan ketegangan yang semakin bertambah seiring berlangsungnya percakapan ini.

“Kalau begitu, tiga orang itu ada di mana?”

“Tak tahu.”

“Kau bilang kau tak tahu…”

“Kekhawatiran yang berlebihan itu tak berguna dan tak diperlukan. Berjalan-jalan saja di luar, kelak musuh-musuh kita akan menemukanmu juga—bagaimanapun pihak sana adalah ahli-ahli pengusir vampir. Mencari seorang vampir bagi mereka semudah mengangkat telapak tangan.”

“Begitukah?”

“Ehm. Membuang-buang waktu di sini juga tak mengapa. Pada malam hari, saat kekuatan para vampir tengah aktif-aktifnya, bila mereka keluar—mereka bagaikan serangga yang tertarik pada cahaya, mereka pasti akan mendekatkan diri mereka pada engkau.”

“…”

“Saat ini, untuk menemukan beta, mereka pasti tengah berkeliling di kota ini. Lakukan saja apa yang engkau anggap baik dan bisa dijamin kalian akan saling berjumpa pada malam ini juga.”

Kukuku.

Kiss-Shot tertawa tanpa peduli dan bersuara dengan cara sedikit aneh.

Yah, kenyataan aku tak harus sampai mencari mereka memang benar-benar membantu. Walau istilahnya pencarian orang, aku tak tahu apakah sesudah jadi vampir aku masih pantas disebut ‘orang’, jadi aku tak yakin apakah hal itu sesuatu yang benar-benar bisa kulakukan.

Tapi—aku juga mulai merasa kalau aku tak lagi terlalu memperhatikan cepatnya perkembangan semua ini. Apa tak sebaiknya aku sesekali mempertanyakan ulang apa yang baru kudengar? Apakah kenyataan aku telah menjadi vampir benar-benar merupakan suatu fakta yang sudah tak terbantahkan lagi, misalnya.

Tanpa sadar, aku turut jadi memikirkan hal-hal lain… apakah aku benar-benar bisa kembali lagi menjadi manusia?

Bisakah ada yang memastikan bahwa Kiss-Shot sama sekali tak berbohong?

Hanya memanfaatkanku untuk mendapatkan kembali tungkai-tungkainya, misalnya—sama sekali tanpa merasa puas dengan sekedar melihatku sebagai makanan. Seperti caranya menggunakan kata-kata, ia memanfaatkanku sebagai pengganti kedua belah kaki dan tangannya yang hilang…

Salah, kalau soal itu, Kiss-Shot semenjak awal sudah bilang bahwa yang dikatakannya itu bukanlah perintah, melainkan ancaman.

Kenyataannya adalah aku bisa saja tak meminjamkan tenagaku untuknya.

…Tapi untuk mencegahku berpikir bahwa apa yang kulakukan sekarang adalah tindakan yang tak berguna buatku—ia menggunakan alasan untuk mengubahku kembali menjadi manusia sebagai suatu kebohongan.

Sebagai suatu umpan, dan karenanya ia berbohong.

Dengan menggunakan alasan untuk mengubahku kembali menjadi manusia.

Bisa saja sebenarnya jalan pikiran Kiss-Shot seperti itu.

“…”

Tidak.

Dengan aku yang telah diubah menjadi pelayannya, perempuan itu tak perlu bersusah payah berbohong seperti itu. Bukankah dengan memerintahku saja itu akan cukup?

…Hmm.

Tidak juga.

Saat ini perempuan itu berada dalam keadaan di mana dirinya tak bisa menggunakan kekuatannya sebagai vampir—karena itu, bila dirinya tak berbohong, maka dirinya tak akan bisa membuatku sampai menurut?

Yah, itu bukan sesuatu yang tak mungkin…

Di permukaan, dirinya kini terlihat seperti anak berusia sepuluh tahun. Tapi pada kenyataannya kau sama sekali tak bisa memperlakukannya seperti anak berusia sepuluh tahun.

Mengingat kembali ke saat wujudnya masih asli, ekspresinya terlihat seperti benar-benar cerdas.

Sekurangnya, dirinya terlihat seperti telah hidup 500 tahun.

Pemikirannya sama sekali tak lamban.

Juga.

Aku tidak menanyakan hal-hal paling kunci kepadanya.

Aku hanya memikirkan soal bagaimana aku bisa kembali menjadi manusia, dan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan penting—aku lupa bertanya pada Kiss-Shot, bagaimana ia bisa tiba di kota kecil terpencil di Jepang seperti ini?

Kurasa monster memiliki kecendrungan yang menarik dengan soal-soal seperti ini.

Tapi bukannya vampir merupakan jenis monster yang berasal dari Barat?

Apa mungkin trio pemburu itu sebenarnya justru didatangkan kemari oleh Kiss-Shot juga?

“…Hmm.”

Memandangnya seperti bagaimanapun, kurasa yang kupunya benar-benar hanya spekulasi.

Apapun yang Kiss-Shot rencanakan, aku, saat ini, masih belum mempercayainya—tapi untuk sekarang aku lakukan saja apa yang ia mau.

Inisiatifnya benar-benar ada pada kendalinya dia.

Pertama-tama, akan aku dapatkan tungkai-tungkai badannya kembali dulu. Sisanya, kuserahkan bagaimana nanti.

Sekalipun memang ada kepalsuan pada kata-kata Kiss-Shot, aku tak bisa memikirkan bagaimana ceritanya soal tiga spesialis pengusir vampir itu merupakan suatu kebohongan.

Mengikuti apa yang Kiss-Shot katakan, aku menjadikan diriku sendiri sebagai umpan, berjalan di suatu tempat yang tak memiliki banyak persimpangan—aku kemudian mendapati diriku sampai di suatu pertigaan jalan, kemudian pada saat itulah…

…aku…

‘Cara berpikir vampir bernama Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, sekalipun dirinya telah hidup selama 500 tahun, pada kenyataannya ternyata masih lamban.’  Itulah yang pada saat itu aku pikirkan.

Selama aku menghadapi mereka satu lawan satu, maka ketiga orang itu takkan menjadi tandinganku—walaupun itu yang dikatakannya, apakah ada bukti yang bisa membenarkan kata-kata itu?

Ditambah lagi, kamu juga sebelumnya kalah oleh mereka bertiga, bukannya kamu tadi juga bilang begitu?

Aku dengan cepat semakin merasa kalau—otakku pastinya telah lumpuh.

Tapi—semuanya sudah terlanjur terlambat.

Tidak, mungkin malah sebenarnya tepat waktu.

Satu detik sebelum situasi ini terjadi—adalah saat persisnya aku menyadari berapa besar kemungkinan situasi ini benar-benar bisa terjadi.

Lakukan dengan baik dan aku akan bisa membereskan semuanya malam ini—adalah apa yang Kiss-Shot katakan.

Tapi memikirkannya dengan hati-hati sekarang—mungkin justru aku yang pada malam ini akan dibereskan…

Dalam bentuk kematianku yang kedua.

“Bagaimana ini…”

Pertama, biar aku mulai dari sebelah kananku.

Sesosok raksasa dengan tinggi melebihi dua meter—masing-masing tangannya membawa sepasang bilah tajam berlekuk berukuran sangat besar, sedang berjalan menuju arahku.

Dengan badannya yang sebesar itu—jins yang dikenakannya kurasa bisa dipakai sebagai kantong tidur, lalu kemeja yang dikenakannya, bila dibuka, mungkin berukuran lima kali lebih besar dari semua kemeja yang aku punya.

Lalu untuk menahan rambutnya yang berantakan, poni rambutnya ditahan dengan seutas ikat kepala.

Seorang pria dengan otot penuh massa, wajah serius, lalu mulut terkatup rapat—menjinjing pedang-pedang berlekuk itu, melirik ke arahku.

Sesuai dengan karakteristik yang sebelumnya kudengar.

Pria ini pastilah—Dramaturgie.

Orang yang mencuri kaki kanan Kiss-Shot.

“Hm—hmhm.”

Lalu di sebelah kiriku.

Sama sekali tak dapat dibandingkan dengan Dramaturgie, seorang pria sangat langsing sedang berjalan ke arahku—sebentuk wajah yang terkesan naif, tapi dengan sorot mata yang terarah padaku dan teramat, sangat tajam.

Jika aku makai ungkapan, ‘sorot matanya saja bisa membunuh.’ mungkin aku sudah terbunuh sekarang. Sorot matanya benar-benar setajam itu.

–Sepasang mata yang menyipit, seragam sekolahan berwarna putih, memperhatikannya baik-baik, dirinya terlihat masih muda—tapi di atas salah satu bahunya ia memanggul sebentuk salib raksasa, dan benda itulah yang mengacaukan kesan muda yang dimilikinya.

Seakan dibuat tanpa keterampilan khusus, sebentuk salib seperti halnya yang sering kau lihat dalam bentuk seutas kalung perak, hanya saja diperbesar sampai lima puluh kali lipat; apa yang dibawanya adalah sebuah kriya perak seperti itu.

Salib itu berukuran tiga kali lebih besar dari ukuran manusia normal, mungkin sekitar tiga kali lebih berat; sebentuk salib raksasa itu dipanggul olehnya seperti itu seakan itu hal mudah.

Salib ini bukanlah sebuah harta keramat, melainkan sebuah senjata. Kalau sebatas itu saja bisa kupikirkan dengan mudah.

Seorang pria, seakan dirinya mencoba menatapku sampai berlubang, tersenyum ringan—dan dengan bahu memanggul salib raksasa itu, berjalan ke arahku.

Sesuai dengan ciri-ciri yang aku dengar.

Orang ini—pastilah Episode.

Dia yang mencuri kaki kiri Kiss-Shot.

“Apa yang mesti kulakukan…”

Lalu dari belakangku.

Aku tak tahu semenjak kapan, tapi dengan jubah seperti yang dimiliki pendeta meliliti badannya, dibandingkan dua pria lainnya, seorang pria yang terlihat lebih baik-baik—mengikutiku kemari. Dengan gaya rambut yang membuatmu teringat akan landak, dengan gaya rambut yang seakan memancarkan bahaya, anehnya aku merasa keteganganku mengendur. Aku tak bisa melihat emosi apapun dari sepasang matanya, yang tak dapat kupastikan apakah tertutup atau terbuka. Tapi setidaknya, berbeda dari dua pria di depanku, yang membawa sepasang pedang dan sebentuk salib, pria ini benar-benar tak terlihat membawa senjata apapun—walau aku tahu dirinya telah mencuri lebih banyak dari Kiss-Shot dibandingkan dua orang lainnya. Seorang pria yang berpenampilan seperti pendeta, dengan wajah yang darinya tak bisa kurasakan tanda-tanda bahaya—tanpa membawa apapun pada kedua belah tangannya, secara alami melangkah ke arahku.

Sesuai dengan penggambaran yang sebelumnya kudengar.

Pria ini pastilah—Guillotine Cutter.

Sosok yang mencuri lengan kanan dan lengan kiri Kiss-Shot sekaligus—pria yang telah mencuri kedua belah lengannya.

“—Kalau begini sekalian saja aku tak melakukan apa-apa!”

Para spesialis pengusir vampir.

Dramaturgie, Episode, Guillotine Cutter.

Ketiga orang itu, dengan menjadikanku sebagai titik pusat, kemudian berkumpul.

Persis seperti percabangan ke tiga arah.

Tak ada jalan untuk lari—seperti tikus yang telah terperangkap dalam sebuah kantong.

“Ah, wah, wah. Cukup tenar juga.”

Yang pertama membuka mulut adalah pria yang memanggul salib raksasa di punggungnya—Episode.

Persis seperti penampilannya, nada suaranya terdengar berantakan.

“Ini bukan Heat-Under-Blade, bukan? Kalau begitu ini siapa?”

“■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■ ■■■■■■”

Mengabaikanku yang tergencet di tengah, menanggapi kata-kata Episode, si pria berotot—Dramaturgie, menjawab.

Tapi aku tak bisa sepenuhnya memahami kata-katanya.

Mungkinkah dirinya bahkan lupa tentang kehadiranku?

“Tidak, Dramaturgie.”

Si pria mirip pendeta di belakangku—Guillotine Cutter, berkata.

Nada suaranya terdengar licin.

“Jika kau berurusan di negara ini maka sudah selayaknya kau menggunakan bahasa yang digunakan di negara ini. Itu merupakan sesuatu yang teramat mendasar.”

“….”

Tentu saja, aku ingin sekali menoleh ke belakang. Tapi itu berarti membuatku memunggungi Dramaturgie dan Episode, jadi pada akhirnya aku sama sekali tak bergerak.

Guillotine Cutter masih bersikap sama seperti dua yang lain, dan, mengabaikanku—melanjutkan perkataannya.

“Yah, tapi, ini persis seperti yang kau katakan, Dramaturgie. Mungkin saja… tidak, pastinya, remaja ini adalah bawahannya Heart-Under-Blade.”

“Sungguh!” Secara tak senang, Episode mengatakan itu. “Bukankah vampir saat itu berkeyakinan untuk tak membuat pengikut?”

“Dulu, aku dengar dirinya pernah membuat satu.”

“■■■ …, mungkin, kita telah memaksanya sampai ke batasnya, dan tak memiliki pilihan lain, sampai harus membuat pengikut sebagai pengganti kaki tangannya.”

Dramaturgie, kali ini, menggunakan bahasa Jepang dalam berbicara.

Karena wujudnya yang penuh otot, kupikir dirinya tipe lawan yang hanya menonjol dari kekuatan fisik… tapi kenyataannya adalah dirinya yang pertama bisa menyimpulkan keadaanku yang sebenarnya.

“Kalau begitu itu apa artinya?” Episode tersenyum ringan dan berkata. Ia menggerak-gerakkan salib raksasa yang ada di bahunya. “Menyembunyikan kekuatan sesungguhnya, dalam keadaan harus segera menemukan keberadaan Heart-Under-Blade, kita tak punya pilihan selain bertanya pada anak ini?”

“Sepertinya begitu.”

Sesudah mendengarkan omongan keras Episode, Dramaturgie dengan ringan menganggukkan kepala. Demikian juga dengan Guillotine Cutter.

“Asal bocah tanggung ini kusingkirkan, akan bisa kudapatkan hadiah di tempat Heart-Under-Blade berada.”

Dirinya mengatakan itu dengan mudah.

Apa mungkin mereka bisa melepaskanku karena aku dulunya manusia?

Setidaknya aku bisa melakukan sedikit pengamatan berarti.

Orang-orang ini—semenjak awal, mereka telah memperlakukanku seakan aku tak ada artinya di depan mereka.

Mengabaikanku.

Sepenuhnya menolak memandangku sebagai suatu makhluk hidup.

Keberadaanku—sama sekali tak setara dengan mereka.

“Ehm.”

Guillotine Cutter mengatakan itu.

“Kalau begitu, apa yang sekarang kita lakukan? Seperti apa yang Episode bilang, jika bocah ini benar tahu tentang tempat Heart-Under-Blade berada, maka keadaannya bisa menyusahkan.”

“Serahkan padaku.” Episode berkata sambil tertawa. “Kita bunuh dia sampai ke tingkat tak ada lagi efek samping yang bakal tersisa.”

“Jangan. Aku saja yang melakukannya.” Dramaturgie berkata. “Aku yang paling pantas untuk tugas ini. Akulah yang paling memahami vampir di antara kita.”

“Aku juga tak masalah bila harus melakukannya.” Guillotine Cutter dengan mulus menyatakan pendapatnya. “Kalian berdua pasti lelah.”

“Jangan—jangan seenaknya mengatakan apa yang kalian suka!”

Aku…

…mengumpulkan segenap keberanianku—kemudian berteriak.

Aku tidak menghadap seorangpun dari ketiga orang ini.

Tanpa bertemu mata dengan seorangpun dari mereka, aku berteriak.

“Kalian, kalian semua bicara apa sih! Kalian—kenapa kalian semua seenaknya bicara soal ingin menyingkirkanku… Aku manusia, kalian semua, apa kalian sebegitu sudinya membunuh?”

“…..”

“…..”

“…..”

Setidaknya, apa yang kulakukan berhasil menciptakan sejenak yang diisi kesunyian.

Apa kata-kataku berhasil sampai ke mereka?

Tapi—kalau hanya itu.

Kata-kataku mungkin sampai, tapi makna yang kuharapkan tidak.

Tak ada seorangpun—yang memberikan reaksi.

“Kalau begitu kita pakai cara yang sama seperti biasa.”

Tiba-tiba saja, Dramaturgie mengatakan itu.

“Oke. Siapa tercepat, dia yang menang.”

Episode mengatakan itu.

“Itu boleh juga. Kompetisi setara, itu akan berdampak terhadap Skill Up masing-masing dari kita.”

Guillotine Cutter juga berbicara.

Kemudian—para spesialis pengusir vampir ini…

Ketiga orang ini, nyaris pada waktu yang sama—aku melihat gerakan mereka bertiga menyerbu ke arahku yang berada di tengah pertigaan itu. Aku sudah tahu kemampuan penglihatan seorang vampir terbilang elit.

Bisa melihat dalam kegelapan, lalu penglihatan dinamis mereka juga hebat—tapi.

Walau aku bisa melihat semuanya, apa yang harus kulakukan?

Dalam situasi ini, pada akhirnya apa yang harus kulakukan?

“Hm… ahahahahaha!”

Seluruh gerakanku—mungkin menjadi yang paling tolol dalam situasi ini. Secara instan, aku menutupi kepalaku dengan kedua belah tangan—bergelung menjadi bola, lalu berjongkok begitu saja di tempat. Lupakan saja soal menyerang, apa yang kulakukan bahkan tak bisa disebut berlindung. Hanya sebuah posisi untuk meloloskan diri dari kenyataan.

Tidak.

Tentu saja akan terjadi.

Bagaimana bisa aku salah mengerti?

Inilah kebiasaan buruk yang seorang tokoh utama dalam komik, film, dan game tak boleh miliki—

Seorang siswa SMA normal, bagaimana caranya dia menghadapi sejumlah spesialis pengusir vampir?

Memang ini apaan? Seri Tempur Sekolahan?

Cara aku bisa menang gimana?

Terus kenapa kalau aku bisa memecahkan tembok-tembok beton?

Terus kenapa kalau kemampuan melompatku meningkat, dan kini aku bisa bergerak lebih cepat?

Apa yang bisa kulakukan dengan kekuatan-kekuatan ini?

Itulah alasannya kenapa aku tak pernah terlibat perkelahian sebelum ini—selama ini aku pernah tak punya lawan untuk dihadapi! Aku juga tak pernah punya pengalaman dalam berkelahi sebelumnya.

Apa—sial!

Membuang nyawaku sekali.

Lalu sekarang nyawa baru yang telah diberikan Kiss-Shot.

Terus kenapa—ya, hargai kehidupan dong!

“—-“

………..!

………., ………

Tapi…

Meski aku menanti—berapa lama aku menanti pun, serangan ketiga orang itu sampai akhir tak menyentuhku.

Mungkinkah mereka tiba-tiba saja jadi ketakutan?

Mungkinkah karena aku saking tak bergunanya, ketiga orang itu merasa bosan dan akhirnya pergi? —Tunggu, itu tak mungkin.

Ketakutan apanya? Ketiga orang itu sepenuhnya memandangku dengan rendah.

Aku mengangkat mukaku yang telah kukubur di antara lututku, secara perlahan mengangkatnya ke atas.

Lalu…

“… … Ha, ha.”

Aku mendengar tawa santai itu.

“Di tengah wilayah pemukiman… mengayun-ayunkan pedang, memakai salib untuk membuat kerusakan, berbuat kekacauan, kalian ini bersemangat sekali…”

Ada… orang asing lain yang menangkap pedang-pedang itu dengan tangan kosong, menggunakan jari telunjuk, jari tengah, jari manis, serta kelingking, dirinya menjepit kedua belah pedang raksasa Dramaturgie.

Kemudian dengan menggunakan telapak kaki kanannya, ia menginjak salib raksasa Episode seakan itu bukan apa-apa.

Terakhir, ia merentangkan tangan kirinya dan dalam sekejap menghentikan gerakan cepat Guillotine Cutter—siapa sebenarnya orang ini?

Cuma seorang om-om yang kebetulan lewat.

Berdiri di atas satu kaki, dia melanjutkan kalimatnya dengan berkata:

“…Ada hal menyenangkan terjadi, ya?”

Catatan:

Enggak seperti di kebanyakan negara lain (termasuk Indonesia), pengiriman pesan teks lewat hape di Jepang lazimnya dilakukan berbasiskan email daripada teknologi SMS lewat jaringan GSM. Karenanya ‘adik perempuan yang lebih kecil’ (Tsukihi) tanpa masalah mengirimi pesan ke Koyomi lewat komputer (Internet).

‘Ceramah’ yang Tsukihi berikan dalam pesan teksnya berkaitan dengan dongeng “Burung Biru Kebahagiaan’ (The Bluebird of Happiness). Dongeng itu enggak gitu dikenal di Indonesia, tapi pernah disebutin di beberapa LN lain macam Suzumiya Haruhi.

Sedikit curhat, bab ini termasuk yang agak susah diterjemahin.

Iklan

2 Komentar to “Kizumonogatari – IND (005)”

  1. huaaaaa!!! makasi bgt kakak sudah terjemahin LN Kizumonogatari, sankyuu…!! ^^
    abisnya penasaran bgt sama the little vampire Oshinobu itu…
    ditunggu yang ke 6 nya kk 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: