Heavy Object

Belakangan ini aku benar-benar disibukkan ama kerjaan, jadi enggak sempat punya waktu luang untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan (kecuali, mungkin, main Deus Ex). Bolak-balik ke luar kota ini membuatku benar-benar enggak sempat menulis sesering sebelumnya. Tapi berkat teknologi smart phone zaman sekarang, aku masih sempat berkunjung ke Baka-Tsuki sekalipun di dalam kendaraan. Dan ketertarikan sementaraku akan hal-hal sains fiksi dan futuristis (sekali lagi, mungkin karena Deus Ex), langsung menarik perhatianku terhadap salah satu judul baru yang belum lama ini diterjemahkan di sana: Heavy Object, yang ditulis oleh Kamachi Kazuma.

Aku pertama tahu tentang Heavy Object justru dari manganya. yang diilustrasi Inue Shinsuke dan diterbitkan oleh ASCII Media Works. Waktu itu, mungkin karena aku-nya yang sedang berada dalam mood kurang pas, aku tak terlalu menikmatinya. Dan minatku terhadapnya semakin berkurang karena mengiranya sebagai sesuatu yang diadaptasi dari semacam game bishoujo.

Pas baca versi light novel-nya, karakter-karakternya pada awalnya mungkin memang tak terlalu menarik. Tapi pemaparan dunia masa depan di dalamnya yang dilanda peperangan berkelanjutan secara global, di mana masing-masing pihak bersaing dalam mengembangkan senjata Object mereka sendiri-sendiri, secara perlahan menarik perhatianku. Aku nyadar bahwa membawa pemaparan dunia ini dalam bentuk manga agak kurang nyaman, mungkin terutama karena keterbatasan jumlah halamannya. Ditambah lagi genre ceritanya aksi sci-fi, dengan detil teknis dan situasi yang lumayan banyak, jadi kamu ngerti pemaparan dunianya apa enggak akan berpengaruh besar terhadap kemampuan menikmati cerita. Durasi per babnya relatif panjang, dan aku jadi kaget sendiri saat mendapati bahwa jumlah buku yang diterbitkan dalam seri ini memang belum banyak.

Makanya, aku jadi terkesima sendiri saat mendapati diriku menikmati cerita ini. Kurasa juga karena aku sudah lama tak mengikuti cerita macam begini, dan kebetulan saja yang ini lumayan cocok denganku.

“Padahal… Padahal selama ini aku merendahkan kalian!”

Object, yang menjadi inti cerita-cerita dalam seri ini, adalah peralatan perang. Yah, kasarnya, ini sebutan untuk mecha bulat berkaki setinggi 50 meter(!) yang sama sekali tidak humanoid. Lebih detilnya, ini jenis senjata revolusioner hasil kulminasi segala teknologi umat manusia yang mengubah paradigma peperangan di muka bumi untuk sekali dan selama-lamanya.

Jadi, yang namanya Object ini alat-alat perang berukuran sangaat besar, dan dikendalian secara manual oleh individu-individu yang dinilai memiliki kecocokan khusus dengannya yang disebut Elite. Satu Object dikendalikan oleh seorang Elite. Dan satu Object saja memiliki cukup banyak firepower dan daya tahan untuk meluluhlantakkan puluhan tank, pesawat, dan kapal perang dalam waktu singkat. Lapisan perisainya yang dibentuk secara khusus bahkan tahan terhadap letusan dan radiasi dari senjata-senjata nuklir.

Dengan kehadiran Object di medan perang, peperangan yang sebelumnya merupakan bentrokan antara banyak manusia melawan banyak manusia lainnya berubah menjadi bentrokan antar hanya sesama Object. Yang namanya ‘tentara’ tidak lagi perlu terjun secara langsung ke lapangan. Mereka yang setiap saat berdiam di pangkalan dan berkontribusi mengurusi Object saja sudah bisa disebut ‘tentara’ atau bahkan ‘pahlawan’. Bahkan sampai ada keyakinan bahwa hancurnya Object yang dimiliki salah satu pihak saja sudah cukup untuk memastikan kekalahan pihak tersebut, dan karenanya pertempuran lebih lanjut tidak diperlukan lagi.

Meski begitu, apa benar demikian?

Heavy Object berkisah tentang pengalaman sejumlah… orang, yang karena perkembangan keadaan, jadi harus menghadapi Object dengan mengandalkan kekuatan mereka sendiri.

Jadi begitu. Aku semula agak hilang minat dengan konsep mecha-nya yang terlalu enggak seimbang. Tapi langsung jadi tertarik lagi saat nyadar bahwa inti cerita Heavy Object bukanlah tentang mecha lawan mecha. Melainkan tentang perjuangan manusia lawan mecha dalam situasi-situasi yang benar-benar berat sebelah dan nampak tak mungkin. Yea, persis seperti Metal Gear Solid. (Atau Mission Impossible digabung dengan MacGyver, terserah kamu.)

Ceritanya dibuka di tengah padang Alaska yang bersalju, dengan perkenalan kita terhadap kedua tokoh utama: seorang pelajar magang yang mendalami teknologi Object bernama Qwenser; bersama rekan sebayanya, Heivia, seorang keturunan keluarga terhormat yang turut serta dalam ketentaraan sebagai analis lapangan hanya untuk menjaga nama besar keluarganya saja. Qwenser juga sebenarnya mendalami Object karena meyakini pekerjaan sebagai desainer akan membuatnya cepat kaya. Bagaimnapun, latar belakang kehidupannya biasa-biasa saja.

Namun segala sesuatunya berubah saat di luar bayangan mereka, Object pihak mereka benar-benar dikalahkan dalam pertempuran. Lalu Object pihak musuh tak menghiraukan pernyataan pengibaran bendera putih mereka dan mulai melakukan pembantaian besar-besaran di markas tempat mereka diposisikan.

Dihadapkan pada situasi di mana mereka semua bisa mati, Qwenser lalu mengambil keputusan untuk menyelamatkan nyawa Elite pihak mereka, seorang gadis mungil manis yang mereka sebut sang Tuan Putri (dia sebenarnya punya namanya sendiri sih, tapi dia lebih sering disebut dengan panggilan ini), dari tawanan musuh. Keputusan ini dipandang kontroversial karena para Elite memang dilatih untuk menjadi ‘umpan’ untuk menyelamatkan anggota-anggota pasukannya yang lain, yang nyawanya tidak lagi dipandang berarti sesudah Object yang mereka kemudikan hancur.

Bersama Heivia, yang menjadi satu-satunya yang sependapat dengan keputusannya, Qwenser dengan perbekalan yang benar-benar seadanya kemudian berangkat untuk melakukan apa yang sebelumnya dianggap tidak mungkin.

Lalu, yah, anggap saja gara-gara tindakannya, paradigma peperangan di muka bumi jadi berubah lagi.

“Tidak! Cukup! Aku tak mau kembali ke medan perang lagi! Tidaaak!”

Aku tak mau memberi spoiler tentang apa selanjutnya yang terjadi, tapi perkembangan umumnya kurang lebih bisa tertebak. Terlepas dari besarnya pencapaian yang mereka lakukan, Qwenser dan Heivia justru semakin jauh dari cita-cita semula mereka dengan dijadikannya mereka tim khusus yang menangani misi-misi terkait Object bersama sang Tuan Putri serta commanding officer mereka, seorang perempuan cantik sekaligus Japanophile bernama Froleytia.

Dari segi karakter, seri ini mungkin tak terlalu istimewa. Tapi peran yang mereka mainkan cukup untuk plotnya kok. Sesudah diselamatkan, sang Tuan Putri mulai suka terhadap Qwenser. Tapi Qwenser sendiri (sejauh yang kubaca) tak pernah jelas bagaimana perasaannya terhadap dirinya, karena sikapnya yang benar-benar sikap seorang akademisi (Ia bersikeras bahwa keputusan yang diambilnya di Alaska murni karena alasan strategis, meski narasi cerita mengindikasikan tidak sepenuhnya demikian). Heivia sebagai analis memegang peran sebagai foil terhadap ide-ide Qwenser, dan adegan-adegan saat keduanya berinteraksi benar-benar menarik. Hal menarik lainnya adalah bagaimana Qwenser dan Heivia sama-sama bukanlah orang-orang yang terlatih sebagai prajurit, dan sebagian besar kesulitan yang mereka lalui benar-benar adalah berkat kenekatan dan ‘kemampuan kepepet’ semata. Froleytia dan sang Tuan Putri beberapa kali dimasukkan dalam situasi fanservice, tapi sebagai karakter mereka tak pernah sampai menjadi terlampau aneh atau unlikable kok.

Apa yang membuat Heavy Object istimewa adalah porsi detil dalam ceritanya. Meski tak pernah sampai memaparkan deskripsi dunia yang berkepanjangan, segala sebab dan akibat berkenaan situasi yang dalam cerita dipaparkan dengan demikian runut dan sederhana. Informasi situasional cerita ini banyak, meliputi soal medan pertempuran yang dihadapi serta spesifikasi Object, tapi tak pernah sampai berlebihan. Karena sesudah seluruh inti informasi tersampaikan, Kamachi-sensei tak pernah membuang-buang waktu untuk segera memasuki adegan-adegan aksi yang banyak dipenuhi oleh tembak-menembak dan letusan. Heh, bahkan inti peperangan yang tengah melanda dunia sampai sejauh yang kubaca belum pernah diceritakan secara jelas.

Ceritanya benar-benar berbasis pada ‘misi’, dengan sedikit referensi terhadap dongeng-dongeng dunia yang terkenal. Situasi-situasi yang Qwenser dan Heivia hadapi sepertinya akan selalu gila dan di luar perkiraan. Tapi justru itu yang membuat ceritanya seru dan bahkan untuk suatu alasan terkadang konyol dengan nasib mereka yang sebenarnya patut dikasihani.

Aku benar-benar salut terhadap orang-orang Baka-Tsuki yang sudah susah payah menerjemahkan ranobe ini. Sesudah membacanya sendiri, aku tak bisa tak merasa tingkat kesulitan penerjemahannya dari bahasa Jepang lumayan tinggi.

Iklan

3 Komentar to “Heavy Object”

  1. Deus Ex 1 atau Human Revolution? Anyway, trims atas rekomendasi bacaannya. Lumayan untuk ngisi liburan 😀

  2. aku masih berfikir akan baca ii atau nggak..
    bagaimanapun minatku terhadap bacaan light novel masih kurang

    P.S. pantas kunanti2 kok ga ada tulisan baru, ternyata sibuk luar biasa, 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: