Gasaraki

Aku pertama mendengar tentang Gasaraki dari sebuah artikel lama di majalah Animonster. Artikel tersebut seputar Ryousuke Takahashi, satu dari dua sutradara besar studio animasi Sunrise yang sama-sama dikenal sebagai ‘bapak genre real robot.’  Takahashi-sensei terkenal berkat seri Votoms-nya yang legendaris. Lalu pada saat artikel itu dibuat, kebetulan yang lagi agak banyak disorot adalah karya terkini beliau waktu itu, yakni Gasaraki.

Serupa dengan Votoms, Gasaraki juga mengetengahkan robot-robot humanoid kasar yang dapat disebandingkan dengan tank. Karena lebih menyoroti perkembangan karir beliau sebagai sutradara, artikel tersebut seingatku tak membahas tentang anime itu sih.  Tapi ada beberapa bromide ilustrasi Gasaraki tersebar di foto-foto beliau. Lalu, entah apa yang menyambarku, tetapi memandangi ilustrasi-ilustrasi itu–yang pada dasarnya hanya menggambarkan kedua tokoh utama, Gowa Yushiro dan Miharu, dalam pakaian pilot TA mereka–aku langsung ngerasa, “Suatu saat, aku MESTI nonton anime ini!”

Dalam tahun-tahun berikutnya, lewat Internet aku kemudian tahu bahwa Gasaraki bukanlah anime yang bisa dibilang ‘ngetop.’ Ada banyak pujian yang diberikan oleh para kritikus yang telah menontonnya. Tetapi anime tersebut sama sekali bukanlah anime populer yang dikenang banyak orang. Dari kesan yang kudapat, Gasaraki adalah salah satu dari sekian banyak anime dengan jalinan cerita suram dan rumit yang keluar sesudah kesuksesan Neon Genesis Evangelion. Tapi masa iya dengan segala reputasinya, tak ada sesuatu di dalamnya yang membuatnya berbeda?

Sesudah berkesempatan menontonnya sendiri, aku terkesima karena Gasaraki ternyata sama sekali tidak ‘segelap’ bayanganku. Jalinan ceritanya memang pelik. Tapi yang paling mengejutkan, secara teknis, Gasaraki juga bahkan tidak bisa dikatakan sebagai sebuah anime  ‘bagus.’

Ada satu keistimewaan Gasaraki yang membuatnya menonjol dibandingkan anime-anime lain sih, yaitu konsep ceritanya yang unik  dan sama sekali belum pernah ditiru bahkan hingga saat ini: drama politik yang diwarnai unsur mecha dan supernatural. Alasan inilah yang menjadikan Gasaraki teramat berkesan bagi sebagian orang yang sanggup menikmatinya, terlepas dari segala kekurangan yang dimilikinya.

Kilasan Berita Mancanegara

Premis cerita Gasaraki agak sukar dijelaskan. Penyampaiannya sedikit abstrak. Narasinya lebih banyak diberikan melalui interaksi orang-orang di sekitar tokoh-tokoh utama (alih-alih dari sudut pandang kedua tokoh utama sendiri), serta dari siaran-siaran liputan berita(!) yang menjabarkan perkembangan situasi perpolitikan dan perekonomian di dunia. Pergantian adegan-adegannya yang seringkali tiba-tiba pun ternyata tidak selalu bersifat kronologis.

Kita diperkenalkan pada Yushiro, anak lelaki termuda keluarga konglomerat Gowa yang masih berusia remaja. Yushiro diwajibkan oleh ayah dan kakak-kakaknya untuk menjalani suatu ritual tarian Noh misterius yang sepertinya diturunkan padanya secara turun-temurun. Tarian ini bernama Tarian Gasara, dan selama tarian ini dilangsungkan, berbagai staf terpercaya keluarga Gowa memantau bacaan-bacaan energi dan gelombang elektromagnetik dari sekeliling panggung.

Tarian ini rupanya adalah suatu ritual untuk memanggil suatu entitas kuno berkekuatan tak hingga bernama Gasaraki dari dimensi lain, yang rupanya telah menjadi ambisi berkepanjangan keluarga Gowa. Tapi sesuatu yang salah terjadi saat ritual berlangsung. Mental Yushiro secara misterius terhubung dengan mental seorang gadis yang belakangan diketahui bernama Miharu, yang menghalangi Yushiro menuntaskan ritual ini. Upaya keluarga Gowa berakhir dengan kegagalan, dan Yushiro serta merta ditanyai tentang apa sebenarnya yang terjadi selama ritual berlangsung.

Dengan segera kita bisa melihat ada sesuatu yang tak wajar dalam hubungan antara Yushiro dan anggota-anggota keluarganya yang lain. Ia tidak hanya disikapi dengan ‘dingin’ oleh kedua orangtua dan kakak-kakaknya. Yushiro yang sangat pendiam memiliki sikap penurut aneh yang tidak pernah membangkangi sisa anggota keluarganya yang ambisius. Hanya Misuzu, adik Yushiro sekaligus satu-satunya anak perempuan di keluarga Gowa, semata yang memandang dan menyayangi Yushiro sebagai keluarga. Tapi Mizusu pun dikucilkan dari segala urusan keluarga, dan senantiasa bertanya-tanya tentang proyek apa sebenarnya yang tengah dilakukan oleh ayah dan kakak-kakaknya.

Melalui kilasan kawat berita stasiun-stasiun televisi, segera diketahui bahwa sebuah ledakan misterius dahsyat telah terjadi di gurun pasir Belgistan, sebuah negara republik di Timur Tengah, pada waktu yang kurang lebih sama dengan upacara Yushiro. Meyakini ledakan tersebut diakibatkan oleh pengujian semacam senjata pemusnah massal, pihak PBB memasang sanksi ekonomi bagi Belgistan dan dengan segera melakukan intervensi militer sesudah pihak Belgistan melakukan pembangkangan secara nyata terhadap tuntutan-tuntutan mereka.

Tapi di luar dugaan semua pihak, pasukan gabungan PBB yang dikirim ke Belgistan diluluhlantakkan oleh persenjataan mutakhir baru yang semestinya hanya dimiliki secara eksklusif oleh konglomerasi keluarga Gowa: eksoskeleton bipedal yang disebut Tactical Armor. Dari sini cerita mulai bergerak, dengan dikirimnya unit pengujian TA keluarga Gowa (yang di dalamnya termasuk Yushiro) secara langsung ke medan tempur Belgistan untuk menyelidiki apa yang terjadi. Tindakan ini kemudian menjadi awal dari konfrontasi dua pihak besar yang dari masa lampau, yang sama-sama sangat berkuasa dan selama berabad-abad telah mengendalikan sejarah dunia dari balik bayang-bayang.

Puppeteers

Detilnya agak sulit diikuti. Jadi biar aku katakan saja apa yang terjadi: apa yang berawal dari sebuah ‘dinas lapangan’ berujung pada sebuah skenario perpolitikan besar untuk menjatuhkan kedaulatan Jepang sebagai negara.

Keluarga Gowa sebagai penguasa perekonomian Jepang memegang peranan utama di dalamnya. Tapi merekapun diceritakan hanya sebagai salah satu faktor yang harus dipertimbangkan oleh pihak-pihak lain yang berkepentingan. Dalam hal ini, Nishida, seorang pria buta berkuasa yang dengan semangat patriotismenya yang tinggi berupaya melindungi negaranya dari kehancuran total di tengah krisis ekonomi dan sosial yang melanda dunia. Krisis global ini dipicu oleh organisasi misterius yang disebut Symbol, rival keluarga Gowa yang muncul ke permukaan semenjak berakhirnya krisis di Belgistan sekaligus organisasi di mana Miharu yang kehilangan masa lalunya bernaung. Symbol dengan kekuasaannya yang besar berhasil menciptakan bencana kekurangan pangan di seluruh dunia dan kemudian mendorong militer Amerika Serikat untuk mematuhi keinginan mereka dengan menyerang instansi-instansi pemerintahan Jepang.

Motivasi dilakukannya semua ini berhubungan dengan pusaka boneka raksasa yang disebut Kugai yang dimiliki oleh konglomerasi Gowa. Kugai yang menyerupai zirah raksasa ini entah persisnya berasal dari mana, tapi pastinya merupakan landasan penciptaan teknologi Tactical Armor. Lalu dari Kugai yang selama ini diteliti tersebut, tersekresi zat yang diperlukan untuk menciptakan Mile One, jaringan otot buatan yang menjadi kunci untuk menggerakkan TA.

Tapi ini semua tak berhubungan dengan persaingan senjata saja. Semuanya akhirnya benar-benar kembali pada upacara mistis yang selama ini berusaha dilakukan untuk memanggil Gasaraki, yang ternyata hanya dapat dijalankan oleh orang-orang yang disebut Kai. Dalam hal ini, orang-orang seperti Yushiro dan Miharu, yang dapat mensinkronkan keadaan mental mereka dengan Mile One dan selama berabad-abad telah dimanfaatkan oleh orang-orang di sekeliling mereka demi mewujudkan cita-cita ini sekaligus menciptakan pertumpahan darah.

Ini agak sulit dipahami, tapi diimplikasikan bahwa sikap pendiam introvert yang dimiliki oleh Yushiro dan Miharu terbentuk akibat tahun-tahun didikan panjang yang ‘merendahan’ mereka sebagai manusia. Didikan yang mereka terima semenjak kecil menanamkan pada mereka pikiran bahwa tak ada arti lain dalam hidup mereka selain menjadi Kai. Ditambah lagi, kondisi ketidakpahaman mereka atas bakat yang terkandung dalam diri mereka sendiri, sekaligus rasa bersalah yang timbul sesudah pertumpahan darah terjadi seakan menciptakan kenyataan yang darinya mereka tak lagi bisa kembali.

Barulah sesudah Yushiro dan Miharu bertemu satu sama lain dan ingatan akan kehidupan lampau mereka kembali, Yushiro menemukan pula tekadnya untuk memegang kendali atas nasibnya sendiri.  Menemukan keterikatannya dengan Miharu, keduanya akhirnya berupaya mencegah tragedi masa lalu terulang di zaman ini. (Yah, jadi walau kedua tokoh utamanya remaja, tak ada angst sama sekali di dalamnya. Dan sekali lagi, semua ini hanya sebatas diimplikasikan.)

Ceritanya benar-benar rumit, dan terus terang, menurutku lebih enak jika dibaca daripada ditonton dalam bentuk anime. Tokoh-tokohnya banyak. Meliputi saudara-saudara Yushiro: Gowa Kazukiyo, anak sulung yang ambisus dan telah berhasil merebut kekuasaan dari ayahnya sendiri; Gowa Kiyoharu, pebisnis sekaligus negosiator ulung; serta Gowa Kiyotsugu, ilmuwan brilian yang menjadi pencipta TA. Lalu ada Meth, petinggi Symbol yang menjadi satu-satunya orang selain Yushiro yang nampak peduli terhadap Miharu. Kemudian Phantom, pemimpin tertinggi Symbol yang diimplikasikan merupakan seorang Kai yang telah hidup selama ratusan tahun. Belum lagi ada teman-teman Yushiro dari unit eksperimentasi TA tempatnya bergabung, yang kemudian mengambil keputusan-keputusan mereka sendiri dalam mendukung Yushiro.

Adegan-adegan aksinya ada, tapi sama sekali tak banyak. Yang secara konstan bertahan adalah ketegangan sepanjang seri yang tergambar dalam nuansa kekacauan atau kehancuran yang sepertinya dapat terjadi sewaktu-waktu. Tapi itupun hanya terasa oleh mereka-mereka yang mengerti apa yang berlangsung dalam seri ini, dan terus terang, seri ini sayangnya bukan sesuatu yang dapat dipahami dalam sekali tontonan bagi sebagian besar orang.

Nuansanya dari awal sampai akhir dipertahankan datar. Bukannya menyeret penontonnya agar ‘masuk,’ tapi malah seakan sengaja menempatkan mereka di luar panggung cerita agar mereka dapat menilai sendiri secara objektif perkembangan-perkembangan cerita yang terjadi. Pemaparan ceritanya melalui kilasan-kilasan berita televisi menjadi paralel dari ketegangan politik yang berlangsung di tahun 90an, saat Perang Teluk masih terjadi dan sekaligus menjadi wujud kecemasan dunia internasional akan memuncaknya Perang Dingin antara negara-negara adikuasa di dunia. Para karakter diceritakan memiliki masa-masa gila dan labil mereka masing-masing, tapi penggambarannya tak pernah sampai mendalam. Semuanya tersaji dalam bentuk ‘khusus untuk orang cerdas’ dan tak pernah sampai ada adegan-adegan pertumpahan darah secara berlebihan atau terlampau tak manusiawi.

Izaiyo, izaiyo

Memang sayang Gasaraki tak dikemas dalam bentuk yang lebih ngepop. Sekalipun semua elemen dasar yang diperlukannya itu ada (Apa lagi? Remaja galau, ritual supernatural, konflik-konflik militer, organisasi rahasia ingatan masa lalu).  Tapi memang seakan ada pesan terselubung yang berupaya disampaikan pembuatnya (yang mungkin sama sekali enggak ada hubungannya dengan kesimpulan yang tersaji di akhir cerita), yang bisa jadi akan terdistorsi seandainya Gasaraki dibikin dengan cara begitu.

Atau bisa jadi karena ide konsepnya memang gila, sehingga para pembuat membuat anime ini masih dengan mindset trial-and-error karena memang masih belum menemukan cara terbaik untuk mewujudkan konsep ini. Menurutku pribadi, Gasaraki memang lumayan terasa seperti wujud eksperimentasi belaka.

Berbicara soal hal-hal teknis, Gasaraki tetap merupakan anime lama yang dibuat di dekade 90an. Jadi meski temanya menarik, idenya memang bakal lebih kena di masa lalu dibandingkan masa sekarang. Lalu meski tak sampai terkesan kolot, memang ada sejumlah elemen seri ini yang tak terbawa secara baik ke masa sekarang, seperti masih banyak digunakannya layar CRT serta minimnya penggunaan telepon genggam. (Anime ini keluaran tahun 1998 ngomong-ngomong, 25 episode, semasa dengan Turn A Gundam, jadi mungkin kenyataan tersebut memang agak aneh.)

Dari segi animasi, Gasaraki sebenarnya termasuk salah satu yang terbaik di masanya. Tapi… gimana ya mengatakannya? Mungkin ada kendala anggaran, jadi kualitas animasinya seakan tak merata di keseluruhan seri. Ada sejumlah frame adegan yang teranimasi secara keren. Di episode-episode penting, seperti di Belgistan ataupun dalam bab masa lalu, latarnya bisa kau lihat dibuat dengan detil. Tapi pada episode-episode sisanya, terutama yang banyak dipenuhi percakapan dan tak banyak diisi kejadian penting, semuanya benar-benar terkesan seadanya.

Baik Yushiro maupun Miharu memiliki desain karakter yang menarik. Hanya saja sebagian besar tokoh lainnya agak… terlampau datar. Yang kumaksud di sini benar-benar datar. Mereka jelas berperan, tapi kau takkan sampai mengingat tampilan atau bahkan nama mereka. Entahlah, mungkin mereka cuma kurang ciri khas saja.

Desain mekanikalnya, di sisi lain, benar-benar layak dipuji. Aramaki Shinji berhasil membuat desain mecha paling real robot yang pernah ada sampai sejauh ini. Para pilot TA hanya bisa bergerak dengan bantuan navigasi dari pusat komando gitu, dan mereka mesti mengenakan baju khusus dan mengonsumsi zat-zat khusus yang bukan hanya membantu mereka secara visual, tapi juga memantau sinyal-sinyal biologis mereka. TA-pun benar-benar digambarkan sebagai suatu tank versi mutakhir, yang punya kaki, bisa ganti-ganti artileri, dan bahkan bisa melompat dan memanjati dinding; membuatnya sangat fleksibel dalam segala medan, baik di perkotaan maupun di medan belantara.

Memang disayangkan adegan-adegan aksi mecha-nya tak bisa lebih banyak. Aku sendiri agak gimanaa gitu karena episode-episode awal di Belgistan yang dipenuhi persenjataan perang perlahan digantikan intrik antar karakter dan misteri masa lalu. Tapi seenggaknya elemen mecha tersebut tak pernah benar-benar hilang sampai akhir seri kok.

Soal audio, sama seperti nuansa serinya, sebagian besar pengisi suaranya mempertahankan nuansa berat dan datar dalam peran-peran mereka. Karena ceritanya benar-benar digerakkan oleh dialog, porsi musik latarnya benar-benar minim. Yang lebih banyak ada adalah suara-suara ambience dari latar, yang meski hadir tanpa disadari, setidaknya berhasil menciptakan roh tradisi dan kemistisan Jepang yang seri ini usung.

Tapi lagu tema seri ini, Love Song, yang dibawakan oleh Tane Tomoko benar-benar patut mendapat perhatian. Awal-awalnya mungkin agak terasa aneh karena instrumentasinya. Tapi ini lagu indah yang dengan kuat menggambarkan perasaan rindu dan saling mengasihi yang tersirat antara Miharu dan Yushiro. Terlebih sesudah jalan cerita Gasaraki mulai bisa kau mengerti. Sesuatu yang menurutku benar-benar menjadi sesuatu yang pas sebagai penutup seri dan menjustifikasi alasanku menyukai mereka berdua.

Kesimpulan akhirnya, aku menulis ini lebih karena merasa masih belum ada lagi anime lain yang punya nuansa seperti Gasaraki seperti sekarang. Di samping karena aku menyukai Yushiro dan Miharu. Mengingat keduanya benar-benar tokoh-tokoh yang simpatik. Tapi sepanjang menonton ini, aku seakan dipaksa buat mikir. Soal… yah, hal-hal yang tak pernah sungguh-sungguh kuperhatikan sebelumnya. Kondisi perpolitikan dan ekonomi dunia nyata, soal harga diri. Dan meski Gasaraki di balik kerumitannya, sebenarnya masih menyederhanakan begitu banyak hal, agak sayang rasanya bila aku berhenti mikirin hal-hal ini hanya karena seri ini tamat.

Yeah, kurang lebih begitu.

Karena aku secara pribadi, di balik semua kehambarannya, ada begitu banyak emosi yang seri ini nekat coba usung.

Penilaian

Konsep: X; Visual: B+; Audio: B; Pengembangan: A-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B+

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: