Kizumonogatari – IND (003)

Mungkin karena sudah lama semenjak aku menonton animenya, aku membaca terjemahan beberapa bab awal Bakemonogatari untuk memastikan nuansa yang kudapat tepat. Saat itu aku nyadar ada detil lumayan banyak dari ceritanya yang kulupakan. Lalu saat itu juga aku mengerti desas-desus soal bagaimana Nisio-sensei menilai tak ada seorangpun penggambar doujin yang bisa mendapatkan ekspresi muka Senjougahara secara tepat.

Senjougahara Hitagi adalah salah seorang heroine dengan pribadi paling kompleks yang aku tahu. Sehingga jadinya masuk akal bila sebagian besar penggemar seri sebenarnya masih tak terlalu memahami cara berpikirnya. Saking lamanya ia dianiaya oleh situasi keluarganya, ia menjadi orang yang secara alami memusuhi dan mencurigai segala sesuatu di sekelilingnya, sama sekali tanpa keseganan untuk mencelakakan demi melindungi dirinya sendiri. Dan sebagai dampak kehilangan perasaannya akibat insidennya di bab satu, sikapnya agak campur aduk berkenaan perasaannya terhadap Araragi.

Ah, eniwei, ini terjemahan bab ketiga Kizumonogatari yang akhirnya beres, dan Senjougahara sama sekali tak muncul di novel ini.

Mudah-mudahan bisa dinikmati.

——————————————————————-

003

Kemudian—

Kemudian, dengan ingatan itu masih segar di kepala, pada malam harinya…

Malam harinya…

Seluruh kota sudah gelap dan aku mengelilinginya dengan berjalan kaki. Tidak ada alasan jelas mengapa pada siang harinya aku mengitari sekolah tanpa menggunakan sepeda, tapi ada alasan jelas mengapa kali ini aku berkeliling kota tanpa menggunakannya.

Jadi sebenarnya, aku punya dua sepeda.

Satu jenis sepeda untuk perempuan yang biasa kupergunakan saat berangkat ke sekolah—sedangkan satunya lagi adalah sepeda gunung, yang merupakan favoritku.

Aku suka menggunakan sepeda yang satunya lagi sekalipun hanya untuk sekedar iseng, tapi pada saat ini aku tak bisa menggunakannya. Jika sepeda yang digembok dengan kuat di lorong masuk rumahku sampai menghilang, maka kenyataan aku keluar rumah akan sampai ketahuan oleh keluargaku.

Tak seperti di masa lalu, sekarang aku sudah dibebaskan oleh keluargaku untuk melakukan apapun yang kumau.

Kau bahkan bisa mengatakan bahwa aku cenderung diabaikan belakangan.

Kenyataannya adalah, tak seperti kedua adik perempuanku, aku tak punya jam malam atau larangan keluar pada malam hari (walau kelihatannya kedua adikku pada akhirnya akan melanggar juga), tetap saja ada saat-saat tertentu ketika aku tak ingin keluargaku tahu bahwa aku sedang keluar malam.

Misalnya, pada saat aku keluar rumah buat membeli buku-buku porno.

“………”

Yah, soal itu…

Aku tahu kedengerannya buruk, tapi kenyataannya adalah aku bisa jelaskan!

Aku… sama sekali tak bisa melupakan celana dalam Hanekawa!

…Apa aku baru saja menggali lubang kuburku sendiri?

Tapi memang kenyataannya begitu.

Walau aku bilang aku takkan melupakannya seumur hidup, aku benar-benar tak mengira citranya akan terbakar sedemikian jelas dalam ingatanku.

Bahkan sesudah Hanekawa pergi, celana dalamnya belum sekalipun menghilang dari ingatanku. Aku sudah berpikir begini saat itu, tapi sesudah 10 jam sesudahnya, dengan ini bisa kukonfirmasikan bahwa, secara pasti, seandainya saja ada orang yang mengimplantasi retinaku, orang tersebut pasti akan mulai berhalusinasi tentang celana dalam Hanekawa.

Sial.

Walau kita berbicara banyak sesudahnya, apa yang meninggalkan kesan terbesar tetaplah celana dalam itu, sebenarnya arti kenyataan ini apa sih? Mungkin ini memang sebuah kenyataan yang bertahan sementara, tapi aku lalu coba menunggu untuk beberapa waktu dan tetap saja satu-satunya yang bisa kuingat hanyalah celana dalam!

Sekalipun dirinya orang baik…

Sekalipun Hanekawa orang yang begitu baik!

Kenyataan itu semakin memperbesar rasa bersalah yang mungkin sebenarnya tak perlu kutanggung.

Perasaan itu menyiksaku.

Hanekawa orang baik, tapi terhadapnya aku memendam sesuatu yang mendekati nafsu binal…

Apa yang menjadi permasalahan, sebenarnya…

Pertanyaan sudah berapa lama aku tak melihat celana dalam secara langsung. Meski ini sekolah yang mengkhususkan untuk persiapan ujian, separuh populasi Sekolah Menengah Naoetsu tetaplah gadis-gadis SMA. Ada juga siswi-siswi yang mengenakan rok-rok pendek karena mengikuti gaya, jadi ada beberapa kesempatan ketika aku sempat melihat sekilas, tapi untuk menyaksikan celana dalam seorang gadis dengan begitu jelas dan begitu sempurna… aku sungguh-sungguh, hal semacam itu bahkan tak pernah kualami semasa SMP.

Mengingat kembali sampai masa SD… tunggu, kalau sejauh itu rasanya tak perlu dibahas.

Jadi begitu, yang tadi memang adalah kali pertama dalam hidupku…

Kesannya, bagaimana mengatakannya ya, seperti komik-komik komedi cinta dari tahun 80an.

Kukira Hanekawa sama sekali tak punya hubungan apa-apa denganku, siapa sangka sebuah ‘flag’ bisa sampai terpicu dengan cara seperti itu.

Sial.

Kejadian tadi keterlaluan.

Aku yakin anak-anak perempuan tak sampai dilanda perasaan seperti ini saat mereka melihat pakaian dalam anak-anak laki-laki.

Ini tak adil!

Hmph, walau sebuah ‘flag’ sampai terpicu, bila memikirkannya secara seksama sekarang, sebenarnya yang terjadi barusan hanyalah kami yang saling berpapasan.

Aku bahkan tak bisa dikatakan menemuinya.

Hanekawa pada saat ini pastinya bahkan lupa telah berbicara denganku pada siang tadi.

Dengan begitu, ini rasa bersalah yang sebenarnya tak perlu kutanggung… kupikir aku pastilah orang berpikiran sempit.

Meninggalkan bahasan soal itu… setelah makan malam aku berpikir mungkin sebaiknya aku melakukan sesuatu soal apa yang kurasakan ini. Pikiran bahwa sesudah ini untuk beberapa lama, salah, untuk seumur hidupku aku harus hidup dengan menanggung gejolak rasa bersalah ini membuat bulu kudukku berdiri.

Dirinya orang baik.

Sekurangnya, dirinya seorang ‘teman.’

Karena itu aku tak tahan—ketahananku sebagai seorang manusia jelas-jelas sedang menurun.

Hal semacam ini malah jadi kukhawatirkan.

Jadilah, sesudah pemandangan di luar jendela kamarku menjadi gelap, aku menggantung plat bertuliskan ‘Sedang Belajar’ di depan pintu kamarku dan secara diam-diam menyusup keluar rumah.

Semua demi mendatangi toko buku besar satu-satunya di kotaku untuk membeli buku-buku nakal.

Misi berjalan sukses, dua buku koleksi foto telah berhasil dibeli, dan aku sedang berada dalam perjalananku pulang ke rumah.

Tentu saja aku tak akan melakukan tindakan tidak jantan(?) dengan membeli buku-buku normal bersama buku-buku nakal. Kalau hanya sekedar itu, aku langsung saja membeli dua buku yang memang aku inginkan. Aku memang orang seperti itu. Jika Hanekawa adalah seorang ketua kelas di antara ketua kelas, aku adalah seorang lelaki di antara lelaki.

Yah, aku memang memastikan tak ada siapapun yang kukenal berada di toko itu dulu sih.

Singkat cerita.

Rencananya adalah aku menulis ulang ingatanku dengan membaca buku-buku nakal. Teknik yang sama dengan apa yang kupikir Hanekawa hendak lakukan padaku saat mengejarku siang tadi. Waktu itu kupikir menulis ulang ingatanku dengan cara seperti itu tidaklah mungkin (walau sekarang kupikir Hanekawa memang tak punya maksud demikian), tapi menulis ulang hal mesum dengan hal mesum lain kupikir merupakan sebuah rencana yang bagus.

Seandainya tak bisa kuhapus, setidaknya bisa kutulis ulang.

Seandainya itu satu-satunya yang sulit kuhilangkan.

Seandainya itu hanya satu dari sekian banyak, kenangan itu pasti bisa memudar.

Antara melihat secara langsung dan melihat dari foto terdapat perbedaan besar, tapi perbedaan itu bisa kuatasi jika mengandalkan jumlah.

Mempertimbangkan situasi yang kuhadapi, dua buku mesum yang kubeli sama-sama berasal dari seri Gadis-gadis SMA: Fokus Pakaian Dalam. Sebagai konsekuensi karena telah membeli buku mesum pada awal bulan Maret, isi dompetku terkuras sebagai akibat pengeluaran ini, tapi itu memang harga yang harus kubayar.

Mungkin lebih baik jika isi kepalaku saja yang terkuras.

Tapi tak ada pilihan lain.

Aku tak bisa memendam pikiran-pikiran kotor tentang Hanekawa lebih lama dari ini.

Rasa bersalah bisa membunuh manusia.

Pepatah bilang rasa bosan-lah yang sesungguhnya membunuh orang, tapi orang juga bisa meninggal dari timbunan perasaan bersalah.

Argh…

Mungkin akan lebih baik seandainya dia menamparku saja…

“Itu… Itu bukan berarti aku butuh kok…”

Tapi di sisi lain, itu juga jadi membuatku berpikir.

Dikatai seperti itu, pada akhirnya aku juga jadi berpikir.

Sejak kapan aku menjadi orang yang seperti ini?

Semasa SMP, aku masih orang normal yang tak punya masalah dalam bicara dengan orang lain—kenyataannya juga sama sewaktu aku masih SD. Itu berarti, sesuatu terjadi pas aku masuk SMA yang membuatku jadi begini, sesudah nilai-nilai pelajaranku mulai bermasalah?

Itu penjelasan yang cukup mudah.

Aku terlalu tergesa waktu itu, aku memilih sebuah SMA kelas atas dan entah bagaimana lulus ujian masuk ke SMA itu, lalu aku mengalami kesulitan mengimbangi pelajaran… dan itu membuatku merasa sulit untuk dekat dengan orang-orang di sekelilingku.

Aku gagal.

Apa memang alasannya cuma itu?

Sekalipun nilai-nilaiku yang terburuk di sekolah, aku tak pernah sampai didiskriminasi atau direndahkan—seharusnya aku punya banyak kesempatan untuk mulai berteman.

Jadi orang yang mencegah semua hal itu pada akhirnya memang hanya aku sendiri.

“Hmm.”

Terkadang aku benar-benar tak mengerti diriku sendiri.

Aku tak ingin punya teman, tapi apa mungkin itu sebenarnya alasan yang kubuat-buat karena tak mempunyai seorangpun?

Semacam cara perlindungan diri?

Teman-teman.

Sekalipun kau tak punya teman, kau masih akan bisa hidup.

Orang-orang yang tak punya teman selalu bisa berkumpul dengan sesama orang-orang yang tak punya teman. Bahkan, ada orang-orang lain yang juga sepertiku. Mengambil contoh yang ekstrim, di antara teman-teman sekelasku sewaktu kelas satu dan dua, ada anak-anak yang tak pernah kulihat mengobrol dengan siapapun.

Jadi sebenarnya itu bukan masalah.

Hidup dengan cara seperti itu juga bisa dilakukan.

Tapi…

“Aku tak mau punya teman, dan aku bahkan enggak pernah mikir buat dapat pacar, tapi kenapa aku masih punya pikiran-pikiran mesum begini?”

Benar-benar misteri.

Celana dalam seutas saja bisa membuat perasaanku liar seperti ini dan ujung-ujungnya menjadi penyebab tak langsung dari pengeluaran uang.

Tapi pada akhirnya, bukannya itu cuma kain?

Di masa lalu aku pernah bertanya-tanya kenapa perempuan bisa-bisanya mengenakan benda kotor itu ke tubuh mereka. Apa itu berarti mereka mesum? Tapi pengertianku ternyata terbalik.

Setelah aku memikirkannya sekarang, bukannya itu bisa dibeli?

….Tunggu, jangan!

Kalau aku sampai membeli itu pasti akan menjadi suatu tindak kejahatan!

Walau itu bukan suatu tindak kejahatan pun, aku yakin itu lumayan mendekati!

Ya ampun—aku benar-benar ingin menjadi tumbuhan.

Andai aku bisa jadi tumbuhan, maka aku pasti tak akan sampai dilanda oleh nafsu ini.

Aku tak mau menjadi batu atau logam, dan aku juga tak bisa membayangkan diriku sampai seperti itu.

Mungkin itu satu lagi pertanda akan betapa sempitnya pikiranku.

“…Whua, sudah selarut ini?”

Meski aku berangkat ke toko buku secara tergesa menjelang jam tutup toko, malam sudah sedemikian larutnya saat aku berjalan santai pas pulangnya—tanpa kusadari, tanggal telah berganti.

Sekarang sudah tanggal 26 Maret.

Sekarang, mulai dari saat ini, Liburan Musim Semi dimulai.

Aku menyimpan kembali ponselku ke saku dan cepat-cepat kembali ke rumah—jarak ke toko buku besar ini sebenarnya terlalu jauh untuk ketempuh dengan berjalan kaki. Bahkan sebenarnya, toko buku besar itu letaknya tak jauh dari sekolahku, aku sedang menempuh jarak yang tak terlalu berbeda dari jarak yang biasa kutempuh dengan menggunakan sepeda.

Jelas-jelas ini memakan waktu.

Bahkan pada kenyataannya, ini terlalu menyita waktu.

Aku tak punya alasan tertentu yang mengharuskanku pulang cepat-cepat, tapi kupikir tetap saja sebaiknya aku tak berlama-lama… ada saja kemungkinan adik-adikku memasuki kamarku tanpa izin.

Adik-adkku akan bisa menebak dari ketidakhadiranku serta dari keberadaan sepeda itu tentang apa yang sedang kulakukan… Begitu-begitu juga intuisi mereka bagus.

Ah, setelah kupikirkan sekarang, aku pernah melihat celana dalam adik-adik perempuanku. Saat-saat mereka keluar dari kamar mandi biasanya mereka hanya mengenakan pakaian dalam, tapi kurasa itu tak masuk hitungan sih.

Mengesampingkan hal itu.

Mengesampingkan pertanyaan apakah aku akan ketahuan keluar malam atau tidak, saat itu sudah benar-benar larut, dan sekelilingku lebih gelap dibandingkan sewaktu aku berangkat tadi. Kurasa akan konyol bila aku tiba-tiba saja sampai tertabrak mobil.

Kurasa wajar bila anak-anak lelaki punya kekhawatiran seperti itu dalam keadaan macam begini, bukan hanya aku, tapi memang tak ada perjalanan yang harus lebih hati-hati ditempuh melebihi perjalanan pulang ke rumah sesudah pembelian buku-buku porno.

Seandainya sesuatu terjadi, maka isi tas kantong yang kau bawa pasti akan diperiksa.

Gadis-gadis SMA: Fokus Pakaian Dalam.

Jika Hanekawa sampai tahu tentang ini, dirinya pasti akan salah paham.

Ini bukanlah seperti yang kau pikirkan…!

Semua ini hanya cara untuk melindungi keperawananmu dariku… aku sama sekali tak berpikiran untuk melakukan sebaliknya!

…Ayunan-ayunan emosional tak berarti ini sebenarnya cukup lucu, bila diperhatikan dari beberapa segi.

Kalau keadaannya segelap ini, maka sepertinya memang berbahaya, tapi ini kota terpencil dengan hanya sedikit mobil, dan seandainya ada mobil, mobil itu akan langsung terlihat dari cahaya lampu sorot yang mendahuluinya.  Pada dasarnya, rasa takut ini sebenarnya tak berdasar—namun demikian…

Sekalipun begitu, bukannya ini agak terlalu gelap?

Berpikir seperti itu aku memandangi langit, dan langsung mengetahui alasannya.

Cahaya lampu-lampu jalan tidak ada.

Nyaris semua lampu jalan, yang ditempatkan secara berselang dalam interval 5 meter, tidak menyala—sebenarnya, ‘nyaris’ bukan kata yang paling tepat, hanya ada satu saja lampu jalan yang menyala.

Apa semuanya rusak?

Belum pernah ada kejadian ketika begitu banyak lampu jalan rusak secara bersamaan sih…. Atau mungkin ada pemadaman? Tapi aneh jika dari semua yang ada tetap ada satu yang masih menyala.

Seraya berpikir soal itu…

Seraya berpikir soal itu, walau kenyataan tersebut tak menggangguku dan aku menerimanya sebagai sesuatu yang memang bisa terjadi, aku terus melangkahkan kakiku ke depan.

Aku memang bilang kalau aku tak punya alasan tertentu yang mengharuskanku pulang cepat, tapi berpikir lebih seksama tentangnya, aku memang punya tujuan untuk kembali ke rumah sesegara mungkin demi secepatnya menggunakan buku-buku yang baru kubeli.

Sebuah tujuan yang kuberikan prioritas melebihi yang lain—

“Engkau!”

Dan itulah mengapa…

“Wahai… engkau yang ada di sana. Engkau.”

Dan itulah mengapa, jika ada yang memanggilku seperti itu, aku hanya akan mengabaikannya dan—engkau?

Apa-apaan cara kuno yang dipakai memanggil orang itu?

Aku bereaksi secara refleks.

Aku menoleh ke arah dari mana suara tersebut berasal—dan selanjutnya, aku kehilangan kata-kata.

Di bawah satu-satunya lampu jalan yang menyala di dekat sana…

Diterangi oleh cahaya lampu jalan—‘perempuan itu’ hadir.

“Beta izinkan… engkau menyelamatkanku…”

Rambut pirang yang tak cocok dengan nuansa kota terpencil ini.

Dirinya mengenakan sebuah gaun cantik—bahkan gaunnya juga terasa tak cocok dengan kota ini. Walau nuansa ‘tak cocok’ kali ini agak berbeda untuk soal gaunnya.

Gaun itu—pastinya dulunya semacam pakaian kelas atas yang elegan, tapi saat ini gaun tersebut hanyalah bayangan yang masih tersisa dari wujudnya yang telah lalu.

Robek.

Kumal.

Seperti helai demi helai dari kain-kain usang.

Seolah, selapis kain pel akan terlihat lebih baik darinya—tapi sebaliknya, itu adalah gaun yang bahkan dalam keadaan begitu masih bisa memancarkan sisa-sisa dari kebesaran asli yang dulu pernah dimilikinya.

“Bisakah engkau dengar beta… Beta bilang, beta izinkan engkau menolongku.”

‘Perempuan itu’ memandangiku.

Tatapan mata tajam nan beku itu membuat sekujur tubuhku terpaku—meski, mengatakannya sesuai kenyataannya, pada saat itu aku tak setakut itu.

Bagaimanapun, ‘perempuan itu’ terlihat letih.

Punggungnya bersandar pada tiang lampu jalan.

Terduduklah dirinya di atas permukaan aspal.

Bukan—terduduk bukan kata yang pas.

Tersungkur mungkin lebih tepat.

Memandangiku menjadi satu-satunya hal yang ‘perempuan itu’ dapat lakukan.

…Salah.

Seandainya ‘perempuan itu’ tidak letih, seandainya ‘perempuan itu’ tidak tersungkur, tetap saja ‘perempuan itu’ tak dapat menjangkauku, hanya memandang.

Sebab kenyataannya, ‘perempuan itu’ tak mempunyai tangan yang bisa dipakainya untuk menjangkau.

Tangan kanannya—putus di bagian siku.

Tangan kirinya—putus di pangkal bahu.

“……..!!”

Dan tak hanya itu.

Bahkan bagian bawah tubuhnya berada dalam kondisi yang sama.

Kaki kanannya—teramputasi pada bagian lutut.

Kaki kirinya—teramputasi pada pangkal paha.

Bukan, bagian kanannya memiliki semacam bekas potongan tajam—bekas itu terlihat jelas. Keadaannya berbeda dari bekas-bekas luka lainnya di tangan kanan, tangan kiri, dan kaki kiri, yang secara keji diputuskan darinya.

Tapi…

Kenyataan seperti apa keadaan bekas-bekas lukanya tidak relevan pada saat ini.

Dengan kata lain, ‘perempuan itu’ sudah tak lagi memiliki satupun tungkai yang tersisa.

Karena alasan itulah—dirinya tersungkur di tiang lampu jalan itu.

Daripada dibilang berada dalam keadaan letih.

Ia hanya tepat digambarkan berada dalam keadaan sekarat.

“He-Hei—kau baik-baik saja?”

Jantungku berdetak kencang seperti bel alarm.

Sejak dulu aku selalu merasa ungkapan itu hanya perumpamaan—tapi kini aku benar-benar merasa seperti itu.

Jantungku berdetak sedemikian kerasnya sampai terasa sakit.

Jantungku—berdetak liar.

Seakan memperingatkanku akan datangnya bahaya.

Seperti bel alarm.

“Akan kupanggil ambulans sekarang!”

Untuk ukuran sampai kehilangan kedua kaki sekaligus kedua lengan, jejak darah yang ada kelihatannya tak banyak.

Tanpa banyak menaruh perhatian bahkan terhadap kenyataan itu, aku merogoh ponselku dari dalam saku—tapi jari-jemariku gemetar, aku tak bisa menekan tombol-tombolnya secara baik.

Oh ya, nomor telepon untuk memanggil ambulans itu berapa ya?

117?

115?

Brengsek, itu nomor yang semestinya kusimpan dalam buku alamatku!

“Ambuulen… beta tak butuh.”

Masih tak kehilangan kesadarannya sekalipun dengan empat luka amputasi itu, dengan nada suara yang kuat dan ekspresi wajah kolot, ‘perempuan itu’ berkata padaku.

Dus… berikan darah engkau pada beta.”

“………”

Jari-jemariku, yang tengah memijit-mijit sebuah angka—terhenti.

Kemudian.

Akhirnya, aku teringat pembicaraanku dengan Hanekawa pada siang tadi.

Sebuah rumor yang tersebar hanya di kalangan anak-anak perempuan.

Apa lagi?

Apa lagi yang dikatakannya waktu itu?

Pas malam hari.

Jangan keluar sendirian saat malam hari.

“…Rambut pirang.”

Rambut pirang.

Rambut pirang—

Disinari oleh lampu jalan, rambut pirangnya terlihat berkilat.

–Dan.

Dirinya tak mempunyai bayangan.

‘Perempuan itu’ berada di bawah lampu jalan yang menyala sendiri di sekeliling, seakan diterangi lampu sorot terang yang berada di atas panggung—dan rambut pirangnya yang disinari lampu jalan itu benar-benar berkilat dan mempesona—namun…

Benar-benar.

‘Perempuan itu’ tak mempunyai bayangan.

Tanpa sedikitpun bayangan keraguan.

‘Perempuan itu’ benar-benar tak memilikinya.

“Nama beta.”

Kemudian—‘perempuan itu’ berbicara.

“Beta bernama Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade… vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin.”

‘Perempuan itu’ demikian berkata.

Dengan pakaian yang sudah kumal itu.

Dan berada dalam keadaan kehilangan empat tungkai badan.

Tetapi, masih seakan menghambakan.

Di dalam kedua bibirnya yang terbuka—aku dapat melihat sepasang taring tajam.

Taring—tajam.

“ ‘Kan beta telan darah engkau dan menjadikannya sebagian dagingku—dus, berikan darah engkau pada beta.”

“…Vampir.”

Aku berkata, sembari berusaha mengatur nafasku.

“Bukankah, semestinya kau abadi?”

“Beta kehilangan terlalu banyak darah. Tak dapat beta menumbuhkan lagi, ataupun mengganti rupa. Bila begini—beta akan tewas.”

“… … …”

“Manusia tak berarti—hendaklah menerima kehormatan menjadi sebagian dagingku.”

Kedua kakiku tak dapat berhenti gemetar.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Aku baru saja terseret ke dalam apa?

Kenapa ada vampir tiba-tiba saja nongol di depanku—terlebih dalam keadaan di ambang maut?

Vampir-vampir yang semestinya tidak ada ternyata benar-benar ada.

Ada vampir yang semestinya hidup abadi kini tengah sekarat.

Apa semua ini… benar-benar nyata?

“H-Hei.”

Aku begitu terguncangnya sampai-sampai tak mampu berbicara, dan perempuan itu tampak meringis ke arahku.

Sebenarnya, itu mungkin ringisan akibat rasa sakit.

Bagaimanapun, ‘perempuan itu’ telah kehilangan kedua kaki dan kedua lengannya.

“Ke… Kenapa? Tidakkah engkau tahu engkau dapat menolong beta? Tidakkah engkau pikir engkau bisa mendapat kehormatan lagi?  Engkau tak usahlah lakukan yang lain—Cukup sodorkanlah leher dan biarkan beta lakukan sisanya.”

“…Darah, kau bilang… kenapa tak melakukan transfusi saja?”

Harus kuakui bahwa aku sama sekali tak tenang saat menanyakan itu.

Aku sama sekali tak tahu soal apa yang sedang terjadi.

Lelucon macam apa ini?

‘Perempuan itu’…  Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade mungkin tengah memikirkan hal yang sama juga. Karena itu tak ada respon.

Bukan.

Mungkin sebenarnya dia sudah tak memiliki tenaga untuk memberi respon lagi.

“Kau… Butuhnya berapa banyak?”

Pertanyaan kali ini lebih spesifik, karena itu dia menjawabnya.

“…Untuk sementara, dengan seluruh darahmu beta akan sanggup lalui darurat ini.”

“Begitu. Seluruh darahku… hei!”

Kalau begitu aku akan mati dong!

Tapi buru-buru kutelan tanggapanku.

Sepasang matanya, tengah memandang ke arahku.

Kedua matanya yang beku itu.

Itu adalah—sepasang mata yang tengah mencari makanan.

Aku tak bercanda—ini kukatakan secara serius.

Dirinya sebentar lagi mati.

Dan dirinya tengah berusaha agar tetap hidup—dengan memakanku.

Dirinya tidak sedang mencari bantuanku.

Dirinya hendak memangsaku.

Dirinya hanya sedang berusaha bertahan hidup dengan cara-caranya sendiri.

“… … …”

Oke.

Aku ini ngomong apa? –Apa yang sedang berusaha kulakukan?  Apa—yang sedang kupikirkan dengan memikirkan kemungkinan menyelamatkan perempuan ini?

Apa aku sudah gila?

Wanita ini vampir!

Dengan kata lain, dirinya semacam monster.

Aku tak tahu kenapa ia bisa sampai kehilangan kedua tangan dan kakinya, dan juga kenapa tak lama lagi ia akan mati—bagaimanapun, alasan itu tak berarti.

Kenapa aku harus sampai terseret?

Manusia bijak manapun akan menjauhkan dirinya dari bahaya, bukan?

Apa artinya kita memasuki sarangharimau bila di dalamnya tak ada anak harimau?

Orang di hadapnku ini bukanlah manusia.

Dirinya sosok supernatural.

Hanekawa menggambarkan dirinya dengan cara seperti itu.

“Engkau nantikan apa? …Darah. Beri beta darah. Cepat… cepat, beta bilang. Buat apa melongo, dasar bebal.”

“… … …”

Dia benar-benar tak memiliki masalah meminta hal ini.

Vampir itu berbicara seakan itu hal alami yang selayaknya kulakukan.

Aku mengambil satu langkah mundur.

Tak masalah.

Aku pastinya bisa kabur… Aku yakin aku akan bisa meloloskan diri.

Sekalipun lawannya adalah vampir, sesosok monster.

Jika tangan dan kakinya terpancung, aku pasti akan bisa lari—melihatnya saja, dirinya bahkan tak akan bisa mengejarku.

Aku hanya perlu melarikan diri.

Itulah yang telah kulakukan selama ini.

Dengan itu saja, aku bisa menolak kenyataan ini.

Kemudian.

Dengan satu kaki yang sudah mulai melangkah ke belakang—

“Tidak… Jangan…”

Persis saat itu.

Sepasang matanya—terlihat teramat rapuh.

Seakan kebekuan yang hadir sebelumnya hanyalah kebohongan semata.

“Takkankah engkau… menolong beta?”

“… …. …”

Gaun yang kumal.

Tangan dan kaki yang telah terputus.

Dirinya tak memiliki bayangan sekalipun diterangi lampu jalan, sesosok monster.

Namun—

Kupikir perempuan pirang itu teramat menakjubkan.

Kupikir dirinya sangatlah cantik.

Aku terpesona—dari dasar lubuk hatiku.

Aku tak sanggup mengalihkan pandanganku darinya.

Terlebih lagi, aku tak sanggup menggerakkan kakiku.

Bukan karena aku terpaku, atau karena aku gemetar.

Aku hanya… tak sanggup melakukannya.

“Jangan… Jangaaan.”

Sikap sombong yang sebelumnya ada itu runtuh—dari kedua bola matanya, yang memiliki warna keemasan yang sama dengan rambutnya—air mata mulai berjatuhan dalam tetesan-tetesan besar.

Selayaknya anak-anak.

Dirinya mulai terisak.

“Tidak, tidak, tidaaak… beta tak mau tewas, beta tak mau tewas, beta tak mau tewas! Tolong beta, tolong beta, tolong beta! Tolong, beta mohon, andai engkau tolong beta, ‘kan beta lakukan segala yang engkau katakan!”

Dia mulai menjerit dalam kesakitan.

Tanpa rasa malu.

Seakan aku sudah tak lagi terlihat oleh matanya.

Menjatuhkan dirinya—dia terus menjerit.

“Beta tak bisa mati, tak bisa mati, beta tak sudi hilang, tak sudi lenyap! Tidaaak! Seorangpun, siapapun, siapapun jua…”

Tak ada seorangpun manusia yang sudi menyelamatkan seorang vampir.

Sekeras apapun vampir itu menjerit—hatimu tak boleh tergerak.

Karena kau akan mati, tahu?

Seluruh darah yang kau punya.

Walau aku tak pernah takut untuk mendonorkan darah…

…Aku tak pernah menyukainya.

Aku tak pernah sudi membebani diriku dengan kepentingan manusia lain, apalagi monster, aku tak mungkin sanggup menanggung beban seberat itu.

Coba saja bebani dirimu dengan vampir.

Bayangkan saja seberapa besar tenagamu sebagai manusia akan habis.

“Whaaaaah.”

Air mata yang mengalir—mulai berubah merah seperti layaknya warna darah.

Aku tak mengerti mengapa.

Aku tak mengerti mengapa, tapi itu—mungkin pertanda bahwa kematiannya sudah dekat.

Kematian bagi vampir.

Air mata darah.

“Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf…”

Akhirnya, kata-kata permohonan bantuannya berubah menjadi kata-kata permohonan ampunan.

Karena apa dia meminta maaf?

Kepada siapa dia meminta maaf?

Tapi—aku tak tahan melihatnya begitu.

Memandanginya memohon ampun seperti itu, kepada sebuah sosok yang tak jelas…

Mungkin…

Dia bukanlah makhluk yang selayaknya bersikap demikian.

Dia bukanlah makhluk yang selayaknya bersikap dengan cara merendahkan diri seperti itu.

“Wh… Whaaaaaaaaaa!”

Pada titik ini…

Menjerit seperti itu, aku mulai berlari.

Kupaksakan kakiku yang tak bergerak untuk bisa bergerak—dan membelakangi badan darinya, sekuat tenaga aku mulai melarikan diri.

Aku masih bisa mendengar suara permintaan maafnya dari belakangku.

Apa hanya aku seorang yang dapat mendengar suaranya?

Mungkinkah akan ada orang lain yang terpanggil oleh suara itu dan pergi ke sana?

Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Haruskah aku menolongnya?

…Tak mungkin.

Aku akan mati.

Di samping itu, dia itu monster.

Vampir.

Tak ada keharusan bagiku untuk menyelamatkannya, ‘kan?

“…Aku juga tahu itu!”

Aku.

Kulempari kantong kertas yang kubawa ke tempat pembuangan sampah beberapa jarak dari sana.

Kantong yang berisi dua buku mesum yang terlanjur kubeli.

Ketentuan umumnya adalah kau mengeluarkan sampah dari rumahmu pada pagi hari, tapi memang sampah di sana takkan dikumpulkan oleh petugasnya sampai hari Minggu. Tapi, memilih membuangnya di tempat pembuangan sampah adalah hal yang setidaknya kupikirkan.

Mungkin nanti akan ada anak SMP beruntung yang akan memungutnya.

Memang sayang, tapi aku sudah tidak memerlukannya lagi.

Dalam artian, akan jadi masalah seandainya aku membawanya bersamaku.

Aku akan meninggal dunia tak lama lagi, berapa banyak buku mesum yang kubawa bersamaku tak ada artinya lagi—ah!

Tak ada perjalanan apapun yang memerlukan kehati-hatian melebihi perjalanan pulang sesudah membeli buku mesum—semestinya aku sudah menyadarinya.

Tenagaku sebagai manusia benar-benar sudah habis sekarang.

“… … …”

Kembali ke tiang lampu itu, bahkan dari mataku, tetes-tetes air mata besar mulai bercucuran.

Kedua orangtuaku.

Kedua adik perempuanku.

Aku menghindari hubungan antar manusia, dan pada saat seperti ini, orang-orang yang bisa kuingat hanyalah mereka—dan meski hanya ada empat orang, itu saja sudah cukup untuk membuatku mulai menangis.

Anggota-anggota keluarga yang dengan mereka aku tak mempunyai ikatan yang baik.

Terutama semenjak aku masuk SMA dan nilai-nilaiku memburuk, sebuah jarak yang aneh dan tak terhindarkan mulai terbentuk antara aku dan kedua orangtuaku.

Aku tak tak menyukai atau membenci mereka.

Kurasa keadaannya juga sama bagi mereka.

Jarak itu terbentuk begitu saja.

Sering terjadi saat kita mulai menginjak pubertas.

Aku bisa menerima bagaimana ini terjadi, tapi—seandainya aku tahu hal seperti ini akan terjadi, pastilah kusempatkan berbicara dengan mereka lebih banyak lagi.

Diam-diam menyusup keluar dari rumah, dan tahu-tahu saja berakhir sebagai orang hilang.

Ah… sekalipun aku sudah membuangnya, kedua adikku mungkin akan tetap menebak bahwa aku keluar untuk membeli buku-buku mesum dan suatu kejadian menimpaku dalam  perjalanan pulang.

Itu tak apa.

Dalam keadaan apapun, itu tak akan mendatangkan rasa malu bagi keluargaku.

Kedua adikku, aku benar-benar menyayangi kalian.

“… … …”

Kuhapus air mataku.

Sebenarrnya, memikirkannya lagi, memiliki sedikit orang untuk diingat mungkin lebih baik—jika aku secara asal punya banyak teman untuk diingat sekarang, mungkin waktu yang kumiliki akan terlanjur habis.

Berbicara sebaliknya, mungkin karena aku hanya bisa membangun hubungan sebatas ini saja aku bisa mengambil keputusan ini sekarang, begitu pikirku saat itu.

Kembali ke tiang lampu jalan satu-satunya yang menyala itu.

Vampir pirang itu masih di sana.

Dirinya sudah tak lagi menangis.

Dirinya bahkan sudah tak lagi bersuara.

Dirinya masih terisak-isak.

Seakan-akan dirinya sudah terlanjur menyerah.

“Jangan menyerah, tolol!”

Berteriak seperti itu, aku berlari ke arahnya—aku membungkuk di hadapannya, kemudian…

…secara pribadi, kusodorkan leherku.

“Kamu yang bilang bakal menangani sisanya.”

“…Eh?”

Dirinya—membuka mata.

Keterkejutan memenuhi wajahnya.

“Boleh—bolehkah?”

“Memang kau pikir kau tak bisa, dasar tolol…”

Sial, sial, siaaal…

Kenapa?

Kenapa akhirnya jadinya begini?

“Itu—itu jelas alasannya kenapa, soalnya selama ini aku hidup tanpa pernah benar-benar melakukan apa-apa, selamanya hidup tanpa mikir!”

Aku berteriak.

Aku meneriakkan apa yang sungguh-sungguh kupikirkan.

“Sejak awal aku tak pernah punya alasan buat terus hidup. Aku tak pernah punya alasan buat ngasih prioritas pada hidupku, jadi kalau aku mati, enggak akan ada bedanya buat dunia!”

Hidupku tidak indah.

Juga tidak menarik.

Kalau begitu, lebih baik aku mati agar sosok cantik di hadapanku ini bisa terus hidup.

Itulah kesimpulanku.

Aku manusia yang tak berarti.

Sementara vampir adalah makhluk dengan derajat yang lebih tinggi, ‘kan?

“Dalam kehidupanku yang berikutnya,  aku janji akan sukses. Akan aku pahami apa-apa yang penting, aku akan jadi jago ngebangun hubungan dengan orang-orang lain, aku enggak akan lagi ngerasa bersalah buat setiap hal kecil, aku akan bisa ngelakukan hal-hal tak sengaja tanpa harus kuatir, aku enggak menyesal untuk mendapati segala sesuatuny sesuai kemauanku, aku akan sanggup menyalahkan hal-hal buruk pada orang-orang lain yang memang salah, aku bakal bereinkarnasi jadi orang kayak begitu—dan makanya!”

Aku bilang…

Setidaknya…

Bisa mengatakan itu semua sendiri bisa menjadi kebanggaan si makhluk rendah.

“Akan kuselematkan kau—hisap darahku.”

“… …”

“Semuanya, jangan sisakan setitik pun—hisap saja semuanya.”

“…Te…”

Dia.

Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade—ini hanya asumsi pribadiku, tapi mungkin ini pertama kali dalam hidupnya ia berterima kasih pada makhluk selain dirinya sendiri.

“Terima kasih…”

Rasa sakit yang tajam menyerang leherku—aku tersadar bahwa aku tengah digigit olehnya.

Kesadaranku lenyap seketika.

Kemudian, dengan apa yang masih tersisa dari kesadaranku, barulah aku teringat.

Hanekawa Tsubasa.

Jika aku secara asal punya sesuatu seperti teman, waktu mungkin akan terlanjur habis.

Benar-benar nyaris.

Seandainya teringat tentangnya lebih awal, mungkin aku tak akan sempat melakukan pertolongan tepat waktu—wuih.

Yah, terserahlah.

Meskipun tak berlangsung lebih dari sepuluh menit, walau sangat singkat, meninggal dunia dengan teringat akan pertemuanku dengan Hanekawa—mungkin tidaklah buruk. Tidak, untuk sekali ini, aku sama sekali tak memikirkan soal celana dalamnya.

Beri aku sedikit toleransi soal itu.

Biarkan aku menjadi keren sedikit di akhir, kenapa sih?

Dengan begitu, masa hidup singkat dari Araragi Koyomi, 17 tahun lebih sekian, secara tiba-tiba, tanpa pendahuluan atau tanda-tanda sebelumnya, kemudian berakhir—atau setidaknya, itulah yang seharusnya terjadi.

Iklan

4 Komentar to “Kizumonogatari – IND (003)”

  1. otsukaresama desta!

    Nice job!!

    ditunggu bab berikutnya..

  2. Mantap bung, translasinya apik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: