Kizumonogatari – IND (002)

002

Alasannya adalah karena aku tak pandai berteman.

Aku yakin aku sempat mengatakannya sebelumnya.

Mengingatnya lagi, kejadiannya hari Sabtu, tanggal 25 Maret, persis sebelum dimulainya liburan musim semi, di siang hari sesudah upacara penutupan caturwulan—pada waktu itu, aku sedang berjalan-jalan di wilayah sekeliling sekolahku, SMA Swasta Naoetsu.

Aku juga tak sedang terlibat kegiatan ekskul apapun.

Aku benar-benar hanya berjalan-jalan, sama sekali tanpa kerjaan.

Tapi aku sama sekali tak sedang gembira atau berdebar dalam menyambut liburan musim semi besok.

Dibebaskan dari semua kegiatan dalam masa liburan seperti libur musim semi, atau masa liburan lain seperti libur musim panas atau musim dingin, atau bahkan mungkin Minggu Emas, merupakan sesuatu yang akan disambut gembira oleh sebagian besar murid sekolah; tapi berhubung ini aku, dan walau aku senang caturwulan ketiga dari masa sekolahku berakhir dengan hadirnya liburan ini, di waktu yang sama, aku merasa liburan ini agak terlalu panjang, jujur saja.

Apalagi karena tak ada pekerjaan rumah yang perlu dikerjakan selama liburan musim semi.

Untuk suatu alasan, aku jadi merasa tak betah di rumah.

Kejadiannya begitu saja—upacara penutupan berakhir, kami mengambil kartu rapot masing-masing di kelas, lalu seisi kelas bubar sampai tahun ajaran baru dimulai lagi; tapi aku benar-benar merasa tak ingin pulang ke rumah, dan meski demikian, tak ada tempat lain yang benar-benar ingin aku datangi juga, dan akhirnya aku malah berkeliaran secara mencurigakan di seputaran sekolah seperti ini.

Benar-benar tanpa ada yang bisa kukerjakan.

Rasanya lebih seperti menghabiskan waktu daripada menghabiskan waktu luang.

Sejujurnya, meski setiap hari aku berangkat ke sekolah menggunakan sepeda, sepedaku juga masih berada di tempat parkir sepeda—seakan menjadi perwujudan keenggananku untuk pulang.

Lalu kegiatan jalan-jalan santaiku benar-benar santai.

Aku tentu saja tak melakukannya dengan niatan untuk olahraga atau apa.

Jika aku perlu menghabiskan waktu, maka mungkin ada kegiatan lain yang lebih berguna yang bisa kulakukan di dalam sekolah; tapi sekalipun aku sedang tak merasa ingin pulang, aku sebenarnya merasa tak ingin kembali ke sekolah juga—nomong-ngomong soal siang hari sesudah upacara penutupan, benar-benar masih ada banyak orang yang sedang mengikuti kegiatan ekskul.

Aku kurang suka orang-orang yang bekerja terlalu keras.

Yah, aku tak seantusias itu soal kegiatan ekskul yang berlangsung di sekolahku sih. Kecuali saat tahun lalu, ketika ada murid baru raksasa mirip monster yang baru bergabung di sekolah kami tahun itu, yang entah bagaimana secara tak sengaja turut serta dalam klub bola basket perempuan; apa yang terjadi berikutnya kemudian diringkas dengan ungkapan-ungkapan seperti “Keikutsertaan saja memiliki arti!” bila urusannya menyangkut klub-klub olahraga.

Jadi intinya, aku hanya sedang berjalan-jalan di sekeliling wilayah sekolah seperti itu, lalu walau tak ada niatan, aku mulai berpikir bahwa mungkin sudah waktunya aku kembali ke tempat parkir sepeda dan pulang ke rumah—bagaimanapun, aku lapar—dan secara mengejutkan, kudapati ada orang lain yang juga tengah berada di sana.

Mengingat sekarang liburan musim semi, mungkin agak susah menetapkan apakah aku seorang siswa kelas dua atau kelas tiga, tapi untuk sekarang, biarlah kukatakan bahwa siswi populer yang seangkatan denganku—Hanekawa Tsubasa, saat itu tengah berjalan di hadapanku.

Aku sedang bertanya-tanya soal apa yang sedang dilakukannya dengan kedua tangan di belakang kepala; walau kenyataannya, dia sedang merapikan kepangan rambutnya. Kepangan selang-seling memanjang yang merapikan rambutnya yang panjang. Walau gaya rambut kepang bukan sesuatu yang lazim dilihat belakangan, dirinya membiarkan poninya lurus.

Dirinya juga masih berseragam sekolah.

Sama sekali tanpa pembedaan. Panjang roknya sepuluh sentimeter.

Rok hitam.

Dan dirinya masih mengenakan sweater seragam di atas blusnya.

Turut menjadi bagian dari seragamnya pula adalah kaus kakinya yang putih dan sepatu sekolah yang dikenakannya.

Penampilannya benar-benar mencerminkan citra seorang murid teladan.

Dan yah, dia memang seorang murid teladan semenjak awal kok.

Seorang murid teladan dari sananya, seorang ketua murid dari sananya.

Aku berbeda kelas dengannya semasa kelas satu dan dua, yang mungkin menjadi alasan mengapa ia tak tahu tentangku; tapi aku pernah mendengar tentang dirinya yang memiliki pembawaan selayaknya ketua kelas.

Karena apa yang kudengar tentangnya barulah sebatas rumor, walau mungkin kebenarannya hanya setengah, mungkin pada kenyataannya dirinya memang memiliki bawaan untuk menjadi ketua kelas.

Aku yakin dia jenis orang yang masih akan menjadi ketua kelas, termasuk nanti sesudah kami naik ke kelas tiga.

Dan nilai-nilainya bagus-bagus.

Mungkin aneh jika aku mengekspresikannya begini, tapi Hanekawa Tsubasa adalah gadis yang benar-benar pintar, saking pintarnya sampai nyaris abnormal. Mendapatkan nilai sempurna dalam setiap ujian baginya merupakan suatu hal lumrah. Dan itu karena, bila orang lain yang mengambil tes akan terkejut mendapati diri mereka di peringkat pertama, dalam kasus Hanekawa Tsubasa, dia selalu menjadi peringkat teratas dalam dua tahun terakhir ini.

Mereka yang bersekolah di sekolah elit swasta seperti SMA Naoetsu, seperti diriku, akan langsung dibuat rapuh dalam sekejap mata, dan hadir hanya sebagai bagian dari ujung berlawanan dari spektrum; perbedaannya benar-benar separah itu.

Hmm.

Jadi, untuk saat itu, perhatianku pada akhirnya teralihkan padanya.

Kurasa, mengingat kami berasal dari kelas yang berbeda, sekalipun aku mengenal dirinya, dan walau aku sendiri jarang melihatnya—aku agak terkejut melihat orang seperti dirinya, berada di tempat seperti ini, sesudah upacara penutupan tahun ajaran usai.

Yah.

Yang namanya kebetulan memang terjadi dari waktu ke waktu.

Kelihatannya dia sendiri baru saja keluar dari gerbang sekolah, dan sesudah memikirkannya baik-baik, mempertimbangkan bagaimana aku sendiri berkeliaran sampai sejauh ini, kehadirannya di sini tak sepenuhnya mengherankan kok.

Tentu saja, Hanekawa tak terlihat mengenaliku.

Dirinya sepertinya sedang berkonsetrasi pada kepangan rambutnya, nyaris seakan tak memperhatikan atau bahkan menyadari aku atau sekelilingnya—yah, sekalipun aku terlihat olehnya pun, kurasa Hanekawa dan aku palingan hanya akan mengangguk pada satu sama lain.

Hahaha.

Atau, murid teladan seperti Hanekawa mungkin malah akan benci pemalas tanpa kerjaan sepertiku.

Gadis yang serius, dan cowok pemalas sepertiku.

Mungkin memang akan lebih baik seandainya ia tak pernah mengenalku.

Kami benar-benar hanya akan saling berpapasan dengan satu sama lain seperti ini.

Walau aku berbicara seperti ini, pada kenyataannya tak ada alasan bagiku untuk sampai berbalik dan lari.

Akupun pada akhirnya hanya terus berjalan dengan kecepatan yang sama, seolah berpura-pura kalau aku tak menyadarinya—dan jika masing-masing dari kami mengambil lima langkah lagi, maka kami berdua dengan aman akan melewati satu sama lain; atau sesuatu semacam itu.

Aku…

Mungkin tak akan pernah melupakan momen ini seumur hidupku.

Tiba-tiba saja—ada angin bertiup dari arah depan.

“Ah…”

Yah.

Aku tahu-tahu telah mengucapkannya tanpa sadar.

Bagian depan dari rok sepuluh senti berlipat agak panjang milik Hanekawa telah tertiup ke atas.

Normalnya, seorang gadis akan segera mendorong kembali bagian itu secara refleks—tapi pewaktuannya agak buruk, karena kedua tangannya sedang terangkat ke belakang, masih mengurusi kepangan rambutnya dengan cara yang rumit. Seandainya kau melihatnya dari posisiku, Hanekawa tampak seperti sedang berpose, dengan sepasang tangannya terlipat di belakang kepala. Seperti itulah pemandangannya.

Itulah situasinya berkenaan roknya.

Segala sesuatu di baliknya menjadi terlihat.

Bukan karena mencolok—lebih karena, mengingat itu pakaian dalam yang elegan, keadaannya seakan kau tak bisa mengalihkan perhatianmu karena keindahannya.

Tampilannya bersih dan putih murni.

Bukan karena menjurus atau apa; hanya saja porsi yang terlihat lumayan besar. Jarak antar sisinya cukup lebar, dan kainnya lumayan tebal—bukan karena menjurus atau apa, tapi pengertian macam itu bisa menandakan minimnya rasa ketertarikan terhadap lawan jenis.

Namun, aku masih mengingat jelas kilau menyilaukan dari warna putihnya itu.

Dan permukannya sama sekali tak polos.

Ada pola latar belakang putih terenda pada bagian tengahnya—mungkin dalam bentuk susunan bunga. Simetri polanya dari sisi kiri dan kanan secara menakjubkan menghadirkan keseimbangan. Dan persis di tengah itu semua hadir sebuah pita.

Pita tersebut semakin memperdalam intensitas dari itu semua.

Terlebih lagi, persis di atas pakaian dalamnya itu tampak sebuah pusar yang indah. Roknya telah terlipat sampai sedemikian rupa sampai bagian tubuh satu itu menjadi terkesan agak nakal. Kau bahkan sampai bisa menyaksikan bagaimana keliman roknya terlihat. Aku tak pernah menyangka keliman sebuah pakaian bisa sampai begitu merangsang.

Yah, aku merasa lapisan rok itupun menyegarkan. Seakan itu memiliki keberadaan sakral saat hadir, dan bentuknya memberiku gambaran tentang bagaimana persisnya susunan jenis pakaian yang kita namakan rok.

Dan terbaik dari itu semua, pemandangan rok tertiup ke atas itu indah.

Dan di samping itu, warna putih murni dari pakaian dalamnya benar-benar patut menjadi bahan pembicaraan, bersama bentuk pahanya dan warna biru tua roknya yang kontras sebagai latar belakang membuatnya terlihat luar biasa menonjol. Membandingkannya dengan rok-rok panjang lain yang dikenakan perempuan, rok ini merupakan mahakarya seni anggun yang melampaui segalanya. Lipatan-lipatan yang hadir dalam rok berlipat itu terlihat seperti beludru.

Sebagaimana yang bisa dibayangkan, keadaannya membuat ia seolah sedang memamerkan pakaian dalamnya padaku, dengan kedua tangannya terangkat ke belakang kepala.

Dirinya.

Hanekawa Tsubasa, pada akhirnya tidak bergerak sedikitpun.

Mungkinkah ini sebenarnya terencana?

Ekspresi wajahnya membuka, tatkala ia bertahan di pose itu, pada saat roknya terangkat ke atas.

Kurasa semuanya berlangsung hanya dalam hitungan sedetik.

Tapi aku merasakannya bagaikan satu jam—baiklah, mungkin aku merasa seolah melihat sebuah halusinasi, kilasan peristiwa seakan saat ketika aku mau mati. Apa yang kusaksikan dalam sekejap ini, seakan kualami untuk seumur hidupku, dan ini sama sekali bukanlah sebuah ungkapan yang berlebihan.

Sampai ke titik di mana permukaan bola mataku kering.

Bagian bawah tubuhnya telah merenggut perhatianku.

Aku, tentu saja paham—tentu saja aku paham kalau sopannya aku tanpa suara mengalihkan pandangan ke arah lain.

Karena ini hal normal, bahkan akupun bisa melakukannya.

Seandainya aku sedang menaiki tangga dan ada perempuan di depanku, setidaknya aku akan cukup mempunyai ketahanan mental dan dedikasi untuk mempertahankan arah pandangku ke kedua kakiku sendiri.

Tapi, mengingat aku bukan manusia sempurna, aku akan melihat segalanya dengan mata melotot seperti ini bila berkah-berkah tak terduga seperti ini hadir dengan begitu saja, pada saat-saat aku tak siap.

Seakan wujud sosok Hanekawa telah sampai terbakar ke dalam retinaku.

Seandainya saja aku tiba-tiba meninggal saat inipun, dan bola mataku dicangkokkan untuk orang lain, maka orang tersebut pasti akan berhalusinasi tentang celana dalam Hanekawa untuk seumur hidup mereka.

Sebesar itulah dampaknya bagiku.

Yah, dengan celana dalam seorang siswi teladan, setidaknya.

“… … … …”

Yah…

Sebenarnya sampai sepanjang apa aku akan mendeskripsikan celana dalam seorang siwi teladan?

Sebagaimana yang sudah dikira, kesadaranku kembali saat rok Hanekawa akhirnya kembali jatuh ke bawah.

Sungguh, semuanya benar-benar berlangsung hanya selama sesaat.

Kemudian, Hanekawa…

Dia melihat ke arahku—seakan tengah merencanakan sesuatu.

Dia memandangiku.

“… … umm …”

Woah,

Ini adalah waktu yang buruk untuk berinteraksi dengannya.

Apa yang harusnya kulakukan di saat seperti ini?

“Aku … Aku enggak melihat apapun, oke?”

Aku coba melontarkan sebuah kebohongan yang jelas.

Tapi, Hanekawa mengabaikan kebohonganku yang jelas itu, dan terus saja memandangiku, tampak seolah usai membereskan kepangan rambutnya, meletakkan tangannya ke bawah kembali, dan walau sudah agak terlambat, ia menepuk-nepukkan roknya ke arah bawah.

Walau sebenarnya sudah sangat terlambat.

Dan selama sesaat, ia mengalihkan tatapannya, seakan memandang langit, dan kemudian memandang ke arahku lagi, sembari berkata:

“Ehehe…”

Seperti itu.

Kenapa dia malah bersikap segan?

… Oh.

Kau akan menertawakan ini?

Dia benar-benar seorang perempuan yang beradab—sebagaimana yang sudah kuduga dari seseorang yang sudah menjadi ketua murid dari sananya.

“Kalau sudah terlanjur begini, apa lagi yang bisa kukatakan, ya?”

Tap, tap, tap, drap.

Dengan cara seakan menggunakan kedua lututnya sebagai bantalan, Hanekawa melangkah ke arahku, kedua kakinya terapit pada satu sama lain.

Mendekat dari jarak sepuluh langkah ke jarak sekitaran tiga langkah.

Agak terlalu dekat untuk sebuah jarak.

“Mau dipikir bagaimanapun, rok punya tingkat pengamanan lumayan rendah untuk menyembunyikan hal-hal yang kau tak ingin orang lain lihat. Mungkin… lapisan firewall tambahan seperti legging dibutuhkan kali ya?”

“Ma, mana aku tahu …”

Rasanya mengganggu bila kau mengatakannya dengan konsep seperti itu.

Tunggu, jadi aku virusnya?

Aku tak yakin persisnya apa—apa persisnya yang membuatnya terlihat senang, tapi tak ada siswa Naoetsu lagi yang berada di sekeliling kami.

Hanya ada aku dan Hanekawa.

Itu berarti hanya aku seorang yang barusan melihat pakaian dalamnya.

Kenyataan itu memberiku sedikit kebanggaan sebagai satu-satunya manusia yang menjadi saksi adegan tadi, tapi bukan itu inti yang semestinya kubahas sekarang.

“Tadi aku sedang mempraktekkan semacam Hukum Murphy. Mungkin baiknya dibilangnya begitu ya? Jika kau melipat kedua tangan ke belakang, dan rokmu tiba-tiba saja terangkat sepengetahuanmu, misalnya—bagian belakangnya terlindungi, tapi tanpa disangka ada titik lemah yang akan muncul di bagian depan.”

“Ah … Iya, kurasa.”

Entahlah.

Atau mungkin lebih tepatnya, canggung.

Hanekawa sama sekali tak berniat, atau sekalipun iya, sepertinya ia sedang memarahiku dengan cara yang agak tidak langsung—dibilang begitu, jika kau memperhatikan situasinya baik-baik, dia tak berada dalam keadaan di mana ia bisa membujuk orang, dan kenyataan bahwa aku telah menjadi saksi dari ‘sesuatu yang kau tak ingin orang lain lihat’ dari seorang wanita, sekalipun secara tak sengaja, membuat aku merasa bersalah.

Terlebih lagi, senyumannya itu

Sebaiknya aku tak membiarkan pembicaraan ini berlangsung lebih lanjut.

“Y, yah, soal yang tadi jangan kuatir! Mungkin memang bohong soal tadi aku enggak sempat lihat, tapi bagian bawahnya tadi memang enggak kelihatan banyak kok …”

Perkataan yang satu ini juga bohong.

Bahkan nyaris melanggar hukum, kalau melihatnya baik-baik.

“Uh, um, hm?”

Hanekawa memiringkan kepalanya.

“Kupikir, si gadis akan merasa jauh lebih tenang kalau kau mengatakan kau melihatnya sejak awal.”

“Um, um, aku ngerti ada banyak yang bisa kamu katain, tapi jujur aku tak sedang berusaha menipu atau apa kok.”

“Begitu, jadi kamu tak sedang mencoba menipu.”

“Ya, dan maaf karena tadi sempat membuatmu enggak tenang. Mungkin lebih baik sekalian saja tadi kamu membohongiku.”

Kata-kata dari seorang lelaki yang baru saja berbohong beberapa saat lalu.

“Ini cuma perasaanku, atau memang penjelasan tentang rokku bisa sampai mencapai empat halaman ya?”

“Me, me, memang bisa kok! Sampai detik terakhir tadi, aku menggambarkan sebuah adegan yang indah dan emosional.”

Yang kali ini bukan kebohongan, meski memang agak berbahaya.

“Kalau begitu, sekarang aku pergi ya.”

Dan mengangkat tangan dengan ringan, mengisyaratkan pada Hanekawa bahwa aku tak ingin meneruskan pembicaraan ini lebih lanjut, aku berjalan lebih dulu.

Dengan langkah tergesa.

Aaah, gimana nih!

Hanekawa mungkin sekarang akan pulang dan menyurel teman-temannya soal gimana aku sampai melihat celana dalamnya. Aku tak yakin seorang murid teladan akan melakukan hal seperti itu sih, dan mengingat dirinya seorang murid teladan, aku lumayan yakin dia tak akan. Yah, Hanekawa mungkin tak tahu namaku … tapi kurasa hanya sebatas itu yang akan diketahui oleh sesama siswa dalam satu angkatan.

Menyadari sikapku bisa membuatku terkesan agak terlalu sadar diri, aku memperlambat langkahku, dan kemudian,

“Tunggu sebentar!”

Terdengar suara dari belakang.

Itu suara Hanekawa.

Apa, dia datang mengejarku!

“Akhirnya terkejar juga. Langkahmu cepat juga ya.”

“… Kamu belum mau pulang?”

“Hm? Yah, aku memang mau pulang, tapi kamu sendiri kenapa mau balik ke sekolah, Araragi?”

“… … …”

Ternyata dia tahu namaku.

Eeeeh?

Padahal aku tak punya label nama atau semacamnya, lho!

“… Ah, anu, aku mau mengambil sepedaku.”

“Oh, jadi kamu pulang pergi pakai sepeda, ya?”

“Yah, ya … Jarak ke rumahku lumayan jauh dari sekolah, soalnya …”

Hei, bukan ini yang mestinya kuomongin!

Walau sepertinya dia memang tak tahu bahwa aku pulang pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda.

“ … Kenapa kamu bisa tahu namaku?”

“Eh? Ya, tahu dong. Kita sama-sama satu sekolah, ‘kan?”

Hanekawa mengatakannya seakan itu hal yang lumrah.

Sekolah yang sama, katamu? Kau membuatnya terdengar seolah semua murid sekolah ini berada dalam satu kelas!

“Araragi, mungkin kamu sendiri tak mengenalku, tapi nama Araragi sebenarnya cukup terkenal lho.”

Apa?

Aku langsung bertanya tanpa pikir panjang.

Bukannya namamu yang terkenal?

Dan lagian, aku bisa diibaratkan kayak kerikil di pinggir jalan di SMA Swasta Naoetsu—rasanya bahkan mencurigakan jika teman sekelasku sendiri sampai ada yang tahu nama lengkapku.

“Hm? Kenapa Araragi? Apa ada sesuatu yang salah?”

“… … …”

“Dengan menuliskan ‘a’ dalam bentuk ‘ka’ dari kanji ‘kanou’ yang berarti ‘kemungkinan’, lalu diikuti dua ‘ra’ dari kanji ‘ii ko’ yang berarti ‘anak baik’, dan ditambah ‘gi’ dari kanji ‘jumoku’ yang berarti ‘pepohonan dan semak’, maka kau dapat Araragi. Lalu nama kecilmu adalah ‘koyomi’ dari ‘hoshitsuki no koyomi’ yang berarti ‘kalender tahunan’ ‘kan? Makanya nanamu Araragi Koyomi.”

“… …”

Dia juga bahkan tahu nama lengkapku serta cara penulisan kanjinya!

Kamu pasti bercanda …

Karena kini dia sudah mengetahui wajah dan namaku, seandainya saja dia memiliki Death Note, maka mungkin sekarang aku sudah mati …

Sebenarnya, mungkin aku tetap saja akan mati mengingat kehadirannya di depanku sekarang.

“Kamu —Hanekawa.”

Aku mengatakan itu padanya, sebagai bentuk balasan, sebagai tanda aku pantang menyerah, tanpa memberi anggukan pada kata-katanya.

“Hanekawa Tsubasa.”

“Wuaa!”

Hanekawa terlihat sangat terkejut.

“Aku tak menyangka kamu juga tahu namaku!”

“Satu-satunya orang yang mendapatkan nilai sempurna dalam ujian caturwulan terakhir, olahraga, dan seni rupa itu pasti cuma kamu, Hanekawa Tsubasa.

“Eh? Hei, yang benar dong! Kok bisa kamu tahu sebanyak itu?”

Hanekawa terlihat lebih terkejut lagi.

Sepertinya dia tak sedang berpura-pura.

“Eh, apa mungkin, sebenarnya kamu penguntitku, Araragi? Ah, tapi kalau sejauh itu, mungkin aku yang terlalu paranoid?”

“… Bukan seperti kok.”

Apapun alasannya—sepertinya dia sama sekali tak menyadari bahwa dirinya terkenal.

Dia mungkin berpikir bahwa dirinya ‘normal’.

Kurasa pada dasarnya dia memang gadis normal, hanya saja dia agak lebih serius dibandingkan kebanyakan orang, mungkin?

Di samping itu, kurasa aku sudah bersikap agak enggak sopan dengan memperlakukan seseorang yang terkenal seperti ini—yah, aku memang rapuh, jadi masuk akal saja bila aku menyadari hal ini.

Meskipun begitu, sesudah mengutarakan itu semua, menjelaskan hal ini sebenarnya tak ada gunanya sama sekali …

Dengan selayaknya aku kemudian menanggapi.

“Aku mendengar tentangmu dari teman-temanku yang alien.”

“Eh? Memang kamu punya teman, Araragi?”

“Mestinya kamu tanya dulu apa alien itu beneran ada apa enggak!”

Ah, dalam pertemuan pertama saja sudah dipaksa jadi ‘si pelawak’ seperti ini …

Tapi, yang tadi memang agak tak soan, sekalipun aku sadar kalau dia tak bermaksud buruk.

“Yah, umm,”

Menyadarinya sendiri, sebagaimana yang kuduga, dia jadi terlihat malu sendiri karena telah mengatakan itu.

“Habisnya, kamu terlihat seperti jenis orang yang lebih banyak berkeliaran sendirian, Araragi.”

“Apa orang seperti itu bahkan bisa dikatakan baik?”

Walau aku tahu kali ini pembicaraannya adalah tentangku.

Kelihatannya, Hanekawa benar-benar tak bisa memutuskan.

“Yah, kayak yang kamu bilang, aku memang enggak punya teman. Lagipula kamu terkenal, bahkan sampai bisa mengenali mereka-mereka yang enggak punya teman.”

“Hei, jangan malah bersikap begitu dong!”

Hanekawa menjadi sedikit tersinggung.

Dia tipe perempuan yang akan tertawa malu-malu, bahkan sesudah memamerkan secara berani apa yang ada di balik roknya seperti itu.

“Aku tak suka candaan seperti itu. Tolong, jangan ganggu aku dengan cara begitu lagi.”

“… Baik.”

Aku membenarkan perkataannya begiu saja, karena menyanggahnya hanya akan berlanjut pada pertengkaran.

Ya ampun.

Aku kini berdiri di perempatan lampu merah di depan gerbang sekolah—dan Hanekawa ada di sana bersamaku.

… … …

Kenapa dia malah mengikutiku?

Apa ada barangnya yang tertinggal di sekolah?

“Hei, Araragi.”

Persis saat aku berpikir demikian…

…Hanekawa mengatakan ini.

“Apa kamu percaya kalau vampir ada, Araragi?”

“… … …”

Aku sedang berpikir, Kali ini dia sedang membicarakan apa?

Lalu aku menyadarinya pada saat berikutnya.

Oh ya, seperti dugaanku, pada kenyataannya dia memang malu karena aku sempat melihat celana dalamnya, dalam situasi damai begini.

Alasannya cukup jelas.

Aku memang bukan seseorang yang dikenal, tapi Hanekawa tentunya tahu tentangku—dan bahkan punya gambaran tentang lingkup pergaulanku (soal aku yang tak punya teman).

Lalu dia mungkin telah mendengar beberapa kabar kurang baik tentangku.

Jika begitu, membiarkan orang sepertiku mengamati celana dalamnya dengan begitu mendetil, dengan status dirinya sebagai murid teladan… bukan, mungkin malah tidak aneh jika menyebutnya sebagai kesalahan karena telah membiarkanku melihatnya.

Yang dengan begitu menjadi alasan mengapa ia menyusulku sekarang, kurasa.

Jadi rencananya adalah untuk mengacaukan ingatanku sedemikian rupa agar aku tak lagi teringat tentang pakaian dalamnya lagi; dan karena itu ia tak bisa membiarkan kami berpisah secara cepat, dan ia menyusulku seperti sekarang ini agar kamii bisa berbicara lagi.

Hmph.

Dasar murid teladan naif!

Kenanganku tentang celana dalamu takkan ternodai sekalipun kau kini mengangkat topik aneh seperti vampir!

“Kenapa soal vampir?”

Yah, meski demikian, karena kupikir ini bisa memuaskannya, aku menuruti pergantian subjek pembicaraannya. Ini bukan hal yang enggan kulakukan, terlebih mengingat dirinya telah memperlihatkan celana dalamnya padaku sebelumnya.

“Jadi, belakangan aku banyak dengar kabar. Soal adanya vampir yang berkeliaran di kota, jadi sebaiknya kau tak berkeliaran sendirian di luar rumah pada malam hari.”

“Itu agak enggak jelas … apalagi kabarnya susah dipercaya.”

Aku memberinya pendapatku sejujurnya berkenaan itu.

“Dan lagi kenapa bisa ada vampir di kota terpencil seperti ini?’

“Entahlah.”

“Vampir itu setan dari luar negeri, ‘kan?”

“Aku pikir pengertianmu salah jika menyebutnya sebagai ‘setan’.”

“Kalau kamu mau ngejatuhin vampir, kurasa enggak masalah jika kamu perginya dengan sekitar sepuluh orang, kan?”

“Yah, tentu!”

Ahaha, Hanekawa tertawa.

Cara tertawa yang riang.

… Kesanku terhadapnya sebelumnya sedikit berbeda.

Aku sebenarnya sudah dibuat agak tak nyaman dengan ini semenjak tadi.

Mengingat dirinya murid teladan sekaligus ketua kelas dari sananya, aku mengira kepribadiannya akan lebih kaku.

Sebaliknya, dia ramah, makanya rasanya agak aneh.

“Tadi sudah ada banyak saksi mata.”

“Kesaksian dari saksi mata? Menarik juga. Yakin mereka tak sampai dibayar pakai uang buat ngebikin kesaksian?”

“Yah, tak ada hubungannya dengan uang atau apa kok.”

Hanekawa menjelaskan bahwa kabar itu beredar di kalangan anak-anak perempuan saja.

“Bukan hanya perempuan di sekolah ini—perempuan-perempuan yang suka berpergian di sepanjang jalan ini juga sering membicarakannya. Walau aku mesti tekankan rumor ini cuma tersebar di kalangan perempuan saja.”

“Sebuah rumor yang hanya tersebar di kalangan perempuan ya … rasanya aku pernah dengar sesuatu mirip ini sebelumnya.”

Tapi, seorang vampir?

Kabar burung ini benar-benar sampai sebegitunya ya?

“Katanya sosoknya berupa wanita cantik berambut pirang—yang tatapan matanya saja bisa membuat bulu kuduk merinding.”

“Itu detil yang lumayan jelas. Tapi, memang kamu bisa menilai apakah orang vampir atau bukan cuma dari itu? Mungkin dia manusia biasa, hanya saja rambutnya yang pirang bikin dia kelihatan mencolok?”

Bagaimanapun juga, kami sedang berada di wilayah pinggiran sebuah kota kecil.

Di tepian luar kota.

Kau takkan melihat orang lain yang mencolok selain mereka yang punya rambut coklat.

“Tapi. …”

Hanekawa melanjutkan.

“Aku dengar rambut—pirang panjangnya sampai bisa bercahaya di bawah lampu jalan yang berkilat-kilat.”

“Begitu ya …”

Seorang vampir.

Jika kau memperhatikannya baik-baik, nuansanya memang seperti sebuah kata bermakna kuno, tapi akupun tak tahu detil selebihnya di balik itu. Walau begitu, jika bicara tentang vampir, ada satu hal jelas—mereka konon tak pernah punya bayangan.

Karena mereka lemah terhadap matahari.

Walau begitu, masih ada malam hari.

Kau tak bisa salah menilai seseorang hana karena ada lampu jalan yang berkilat-kilat di dekatmu—di samping itu, bukannya rasanya semakin seperti kebohongan, jika di dalam rumor itu ada semacam latar seperti lampu jalan?

Buat sebuah kebohongan itu rasanya terlalu berlebihan, terlalu murahan.

“Yah, terserahlah.”

Walau aku mengatakan jawaban yang kasar seperti itu, maksudnya bukan untuk menyinggung perasaan Hanekawa, tapi lebih pada caraku menyatakan persetujuanku terhadapnya.

Aku lumayan jago berbicara, dan sekaligus lumayan jago mendengarkan.

“Ya, mungkin rumor itu memang konyol. Tapi akibat rumor itu, belakangan makin sedikit perempuan yang keluar malam, jadi mungkin rumor itu hal baik untuk ketertiban masyarakat.”

“Yah, ada soal itu juga sih.”

‘Tapi terus begini,”

Hanekawa sedikit menurunkan nada ucapannya.

“Seandainya vampir itu benar-benar ada, aku sebenarnya ingin bertemu dengannya.”

“…Kenapa?”

Yang benar saja.

Perkiraanku sebelumnya mungkin salah.

Tentunya, dia menggunakan topik pembicaraan konyol ini untuk menyingkirkan soal celana dalam tadi dari ingatanku—tapi terlepas dari itu, cara Hanekawa berbicara tentang hal ini agak terlalu sungguh-sungguh.

Di samping itu, memikirkannya lagi sekarang, membicarakannya dengan anak cowok sepertiku, yang masih sedang mengenakan seragam sekolah, tentang sebuah ‘rumor yang hanya beredar di kalangan anak-anak perempuan’, rasanya agak sedikit aneh.

“Kau akan mati jika darahmu sampai disedot oleh mereka, lho.”

“Yah, aku bukannya mau mati. Gimana ya, mungkin aku memang tak sampai mau bertemu dengannya. Tapi kupikir mungkin bagus jika semacam—sosok yang melebihi manusia macam dirinya benar-benar ada.”

“Melebihi manusia, maksudnya kayak dewa?”

“Enggak harus dewa, sih.”

Hanekawa terdiam untuk beberapa lama, seolah sedang memilih kata-katanya. Dan akhirnya,

“Sebab kalau enggak, enggak akan ada arti yang keluar darinya, kan?”

Begitu katanya.

Lalu, tiba-tiba …

… lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau.

Tapi Hanekawa, ataupun aku, sama-sama tak bergerak.

Kami sama-sama terpaku di sana.

Lalu aku tak bisa memastikan apakah yang Hanekawa katakan adalah main-main, atau memang sesuatu yang sungguh-sungguh ingin ia sampaikan—keadaannya seolah ada sesuatu saat itu yang menghubungkan kami berdua.

“Oh, ya ampun!”

Dia memperlihatkan kesan bahwa dirinya mengatakan itu cepat-cepat, pada saat aku terpekur dalam pikiranku sendiri.

“Araragi, di luar dugaan kamu mudah diajak bicara, ya. Walau mungkin, karena kelepasan, aku malah mengatakan sesuatu yang bikin kamu merasa aneh.”

“Ah—enggak, bukan masalah kok. Aku enggak keberatan.”

“Rasanya aneh karena kamu gampang diajak bicara, tapi malah tak punya teman. Kenapa enggak nyoba nyari?”

Dia mengajukan pertanyaan itu padaku secara langsung.

Mungkin tidak dengan maksud buruk.

Bukannya aku tak mencari, tapi aku memilih untuk tak punya, tapi, bahkan akupun agak enggan menjawab seperti itu dalam situasi seperti ini.

Karena itu—pada saat itu, aku menjawab begini.

“Alasannya karena aku tak pandai berteman.”

“…Eh?”

Hanekawa—menampakkan sebuah ekspresi datar begitu mendengar itu.

“Maaf, sepertinya aku tak paham.”

“Yah … maksudku, keadaannya begini.”

Oh sial.

Ini enggak akan berakhir baik.

“Begini, jika aku punya teman, maka aku akan harus mencemaskan mereka ‘kan? Jika temanku ada yang terluka, maka aku juga akan terluka. Jika temanku ada yang sedih, maka aku juga akan sedih. Kalau melihatnya begitu, maka sisi lemahnya akan semakin bertambah. Itu yang jadinya malah akan melemahkan kita sebagai orang.”

“… Tapi, kalau mereka senang, bukannya kamu juga ikut senang, lalu kalau mereka bahagia, bukannya kamu juga ikut bahagia, bukannya keadaannya memang seperti itu? Sisi lemahnya memang akan bertambah. Tapi bukannya sisi baiknya akan bertambah juga?”

“Yah…”

Aku menggelengkan kepala.

“Aku merasa dengki pada teman-temanku yang senang, dan aku merasa iri pada saat ada temanku yang bahagia.”

“… … …Manusia memang makhluk yang rendah.”

Hanekawa akhirnya memutuskan berkata.

Biarkan saja aku sendiri.

“Sekalipun segalanya memang seperti yang kamu bilang tadi, maka total semuanya akan kembali ke nol lagi, kan? Tidak ada bedanya apakah kamu punya teman atau enggak. Malah, karena ada banyak hal buruk yang terjadi di dunia ini—pada akhirnya, bukannya ujung-ujungnya bakalan tetap negatif?”

“Jangan bicarakan sesuatu yang rumit.”

Aku membantah apa yang ia katakan tentang diriku yang mudah diajak bicara.

Hanekawa memang mengatakannya seperti itu.

Kurasa kami memang sudah menghabiskan terlalu banyak waktu membahas soal ini—yah, sudahlah.

Tak ada cara untuk meluruskan kesalahpahaman ini dengan mudah.

“Jadi begini, yang aku inginkan adalah menjadi sayuran.”

“Sayuran?”

“Aku jadi tak perlu jalan atau ngomong.”

“Hmm.”

Untuk sekarang, Hanekawa tak membantah perkataanku.

“Tapi itu berarti masih ingin menjadi benda hidup, kan?”

“Hm?”

“Lazimnya, kalau begitu, kamu akan bilang kalau kamu ingin menjadi suatu benda mati, seperti batu atau logam.”

Secara mengejutkan, Hanekawa menjelaskan sesuatu yang sebelumnya tak kusadari.

Aku semula memang ingin sejak awal langsung mengatakan ingin jadi sayuran, tapi tak kusangka aku malah akan langsung disanggah bila memakai cara pengungkapan ini.

Hmm.

Begitu ya—benda mati, ya?

Benar sih, yang namanya sayuran masih bisa dikatakan ‘benda hidup’.

“Aku mau ke perpustakaan sekarang.”

“Hm?”

“Aku jadi merasa ingin ke sana sekarang sesudah bicara denganmu, Araragi.”

“… … …”

Sebenarnya, cara kerja pikiran gadis ini bagaimana sih?

Yah, sebelumnya dia memang bilang kalau dia mau pulang atau semacamnya sih—jadi mungkin semenjak awal dia memang sedang tak punya rencana. Dia juga sedang punya waktu luang sepertiku, jadi apa dia akan menghabiskannya dengan berkeliaran di sputaran sekolah atau dengan pergi ke perpustakaan?

Mungkin di situlah letak perbedaan orang terpinggirkan sepertiku dan murid teladan seperti dirinya.

“Besok, perpustakaan akan tutup karena hari Minggu, jadi aku mesti pergi ke sana hari ini.”

“Hmm.”

“Apa kamu mau ikut, Araragi?”

“Kenapa?”

Aku tersenyum pahit.

Perpustakaan.

Aku bahkan tak tahu ada sesuatu macam perpustakaan di kota ini.

“Memang di sana kamu bakal melakukan apa?”

“Yah, belajar, ‘kan?”

“Uh, yah …”

Kali ini aku yang kehilangan kata-akata.

“Sayangnya, aku bukan jenis orang yang layak dipuji karena bisa belajar sendiri tanpa PR buat dikerjakan selama liburan musim semi.”

“Tapi tahun depan kita sudah menghadapi ujian kelulusan, ‘kan?”

“Baik ada ujian atau enggak … aku sebenarnya agak takut buat lulus. Sekarang mungkin sudah telat sih. Seenggaknya, aku mesti nyoba biar enggak sering datang terlambat di tahun ajaran baru nanti.”

“… Hmm.”

Hanekawa—bergumam, dengan cara yang agak membosankan.

Seakan ia tak sungguh-sungguh bermaksud mengajakku ikut dengannya ke sana.

Tapi Hanekawa tak mengatakan apa-apa lagi.

Aku bertanya-tanya.

Untuk seseoang yang kepribadiannya tak bisa dikatakan termasuk golongan elit kelas atas, dia termasuk seseorang yang agak sulit dimengerti.

Lampu lalu lintas di dekat kami terus berubah warna antara hijau dan merah.

Sekarang warnanya hijau.

Mungkin saat warnanya berubah ke hijau lagi nanti akan menjadi sat kami akan berpisah, pikirku—setidaknya pewaktuannya akan bagus.

Hanekawa pastinya berpikiran seperti itu juga.

Bagaimanapun dia jelas bukan seseorang yang tak bisa membaca keadaan.

“Araragi, kamu punya ponsel?”

“Heh, ponsel, ya, punya.”

“Boleh pinjam sebentar?”

Mengatakan itu, dia mengulurkan kedua tangannya.

Aku tak yakin dengan apa yang hendak dilakukannya, tetapi untuk saat itu aku menuruti perkataannya, mengambil telepon genggam dari sakuku dan menyerahkannya ke Hanekawa.

“Oh? Model baru.”

“Mereka mengganti jenis perlengkapannya belakangan. Yang ini agak terlalu berlebihan buatku; baru juga dua tahun semenjak kali terakhir mereka meluncurkan model baru dan sekarang sudah ada banyak fungsi baru begini.”

“Jangan bicarakan hal menyedihkan beritu pada saat masih muda dong. Kalau kamu terus begitu, nanti kamu akan tertinggal oleh perkembangan zaman lho. Kalau kamu enggak mahir memakai barang-barang digital, maka kamu pasti bakal jadi kesulitan dalam kehidupan kamu sehari-hari.”

“Apa boleh buat kalau nanti sampai begitu; palingan nanti aku bakal pergi menyepi ke pegunungan. Nanti sesudah semua peradaban manusia hancur, baru aku kembali lagi ke kota ini.”

“Sebenarnya kamu berpikiran akan hidup selama apa?”

Hanekawa bertanya seakan syok, bingung kalau-kalau aku sebenarnya semacam manusia abadi.

Persis sesudah mengatakan itu, Hanekawa mulai mengutak-atik ponselku.

Seorang ketua kelas dari sananya, perwujudan dari nyaris semua sifat yang dimiliki seorang murid teladan, dan juga sebagaimana yang bisa disangka dari seorang siswi SMA, jari-jemarinya luar biasa cepatnya dalam menekan-nekan tombol.

Aku sebenarnya tak khawatir soal adanya informasi pribadiku yang terbaca olehnya … tapi tolong jangan seenaknya bermain-main dengan ponsel punya orang dong.

Atau mungkinkah, sesungguhnya dia punya keraguan, dan bertanya-tanya apakah sebelumnya aku sempat mengambil foto roknya dengan kamera ponsel?

Kalau begitu dia pasti akan memeriksa isi ponselku secara menyeluruh.

Aku sungguh ingin menghapus semua keraguanku yang memalukan ini.

Tapi di sisi lain, jika perempuan mencemaskan banyak hal, bukannya hidup mereka justru bakal ribet? Seandainya dia lelaki, maka saat ritsletingnya lupa ditutup, maka kita bisa tinggal menyebutnya seorang Sexy Commando.

… Apa ungkapan itu bakalan bisa dipakai?

“Nih, sudah. Makasih.”

Tak lama kemudian Hanekawa mengembalikan ponsel itu padaku.

“Aku enggak menyimpan gambar-gambar semacam itu, oke?”

Mengatakan itu, Hanekawa…

“Eh?”

… dengan kebingungan memiringkan kepalanya kembali.

“Gambar?”

Hah?

Jadi dari tadi yang dia lihat itu hal lain?

Apa sebenarnya yang dari tadi dia lakukan?

Aku meragukan apakah kecurigaan yang dimilikinya merupakan semacam gen turunan dalam keluarganya, saat Hanekawa mengatakan itu sembari mengarahkan telunjuknya pada ponsel di tanganku, yang masih belum kumasukkan ke sakuku kembali.

“Aku memasukkan nomor dan alamat e-mailku ke dalamnya.”

“Apa?”

“Sayang sekali. Sekarang kamu punya teman!”

Lalu..

…Sebelum aku sempat mengatakan apa-apa, Hanekawa melintasi penyebrangan pejalan kaki—lampu lalu lintas telah berubah warna menjadi hijau tanpa kesadaanku.

Aku sebelumnya sudah berencana berpisah darinya dengan gaya seperti itu, tapi Hanekawa terlanjur mendahuluiku—hah? Dia tak jadi pergi ke perpustakaan? Tunggu, dia memutuskan untuk ke perpustakaan pada saat sedang bersamaku—kurasa tak aneh jika dia merubah ke mana tujuannya semenjak awal.

Hanekawa melambai kepadaku dari seberang jalan, seakan berkata, “Sampai jumpa!”

Aku membalas lambaiannya secara refleks.

Sesudah dia memastikan bahwa aku melambaikan tanganku (mungkin seperti orang bodoh), Hanekawa berbalik, berbelok ke kanan dari arah gerbang sekolah, dan berjalan dengan cara yang menarik—persis pada saat ia berbelok di tikungan, persis itu pula sosoknya tak terlihat lagi.

Untuk memastikannya, aku memeriksa ponselku.

Persis seperti apa yang ia bilang.

‘Hanekawa Tsubasa’ telah tercantum dalam buku alamat.

Lengkap dengan nomor telepon dan e-mailnya.

Aku tak pernah memanfaatkan fitur buku alamat sebelumnya. Aku bisa mengingat semua nomor telepon yang perlu aku ingat—walau sebenarnya ingatanku tak bagus-bagus amat. Yang terbaik bisa aku ingat hanyalah nomor telepon rumah dan nomor ponsel kedua orangtuaku, jadi itu benar-benar bukan sesuatu yang layak dibanggakan. Mengingat nomor-nomor itu saja sudah cukup bagiku untuk menerima dan melakukan panggilan telepon.

Masalahnya hanya, karena aku tak punya banyak teman.

Itulah alasannya.

‘Hanekawa Tsubasa’ ini akan menjadi entri pertama dalam buku alamatku.

“Kenapa sih dia. …?”

Caranya bersikap benar-benar di luar pemahamanku.

Teman?

Teman, katamu?

Apa dia benar-benar bisa disebut itu?

Di samping itu, apa yang akan orang katakan tentang seorang gadis muda, yang berbicara untuk pertama kalinya dengan anak lelaki sebayanya yang setidaknya tahu namanya, dan kemudian memberikan informasi kontaknya pada anak lelaki tersebut dengan begitu mudah—atau mungkin, sebenarnya memang aku yang ketinggalan zaman dengan semua ini?

Aku tak mengerti.

Meski begitu—lebih dari sekedar tak mengerti, ada satu hal yang kupahami.

Hanekawa Tsubasa.

Murid teladan dari sananya—seorang ketua kelas dari sananya.

Jauh dari kepribadian seseorang dari golongan elit atas—

“…Dia lumayan luar biasa sebenarnya, ya?”

Seorang ketua kelas dari sananya.

Hanekawa Tsubasa.

Berpapasan dengan seorang gadis sepertinya sesudah upacara penutupan tahun ajaran berakhir, tak lama sesudahnya—walau aku masih dalam keadaan menyambut liburan musim semiku, itu bukanlah inti dari semua ini.

Sekalipun mungkin itu memang sebuah pertanda …

… pertanda itu seakan tak kurasakan sama sekali.

—————————————————————————–

Catatan Kaki:

soal tahun ajaran

Tahun ajaran baru di Jepang dimulai pada musim semi. Jadi berakhirnya caturwulan ketiga sebelum liburan musim semi menandai berakhirnya pula sebuah tahun ajaran.

Minggu Emas

Terjemahan harfiah. Anggap saja liburan nasional yang berlangsung selama seminggu di Jepang.

firewall

Semacam sistem pengamanan pada komputer yang digunakan untuk melindunginya dari virus yang masuk melalui Internet

legging

Celana ketat, lazimnya dipakai perempuan. Istilah yang lazim dipakai untuk menyebutnya di Jepang itu ‘spats.’

Hukum Murphy (Murphy’s Law)

Semacam sebutan untuk pepatah yang intinya: ‘selama ada peluang yang memungkinkan sebuah kesalahan terjadi, maka suatu saat kelas, kesalahan itu pasti terjadi’. Biasanya dipakai untuk membahas urusan-urusan ilmiah di mana ada variabel yang mungkin pada suatu waktu tidak memenuhi ketentuan nilai yang diharapkan. Aku juga enggak tau si Murphy ini siapa.

Death Note

‘Buku catatan maut’ dari komik berjudul sama karya Ohba Tsugumi dan Obata Takeshi, punya kekuatan magis untuk membunuh orang dengan menuliskan nama korban sembari membayangkan wajahnya. Komiknya di sini sudah diterbitkan sampai tamat oleh mnc.

Sexy Commando

Ini referensi terhadap sebuah komik Shonen Jump yang tak terlalu dikenal di Indonesia. Agak gaje, jadi lebih baik digoogle sendiri.

Tantangan penerjemahannya benar-benar langsung terasa di bab ini. Sori karena ada beberapa paragraf yang aku benar-benar enggak yakin maksudnya apa.

Iklan

4 Komentar to “Kizumonogatari – IND (002)”

  1. …Penggambaran pakaian dalam yang amat sangat mendetail 😀

    Keep up the good work bro!

    • Aku mikir kalo inti buku ini cuma ada di adegan itu doang. OTL
      Eniwei, proses ni alih bahasa dari bahasa Inggris mulai gila. Mestinya aku ngedalemin bahasa Jepang aja. O… TL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: