Tentang… (tamatnya) Fullmetal Alchemist

Sesudah tertunda selama nyaris setahun oleh proses apapun yang Elex hadapi dalam menerbitkan buku terakhirnya, akhirnya manga Fullmetal Alchemist karya Hiromu Arakawa tamat juga edisi Indonesia-nya.

Aku enggak yakin sejak kapan persisnya aku mulai menggemari seri ini. Kurasa semenjak aku merhatiin perkembangan anime pertamanya di tahun 2002? Tapi tahu-tahu aku sudah mengoleksi buku-bukunya satu per satu dan akhirnya koleksi-ku lengkap sudah.

Aku yakin semuanya udah tahu gimana cerita FMA. Jadi biar kukomen soal tamatnya aja.

…Memuaskan.

Yah, begitu.

Enggak sampai berkesan secara mendalam, atau membangkitkan rasa sentimentil besar seperti manga-manga lain yang pernah kutamatin sih. Cuma… memuaskan aja. Segala konflik terselesaikan. Para karakter menemukan akhir bahagia mereka. Lalu yang terpenting, semua karakter–termasuk yang sampingan–muncul kembali di buku terakhir dan… tunggu. Aku baru nyadar. Yoki muncul ga ya?

Yah, sudahlah.

Pokoknya gitu deh.

Plot FMA yang luar biasa dan sangat lain dari yang lain ini akhirnya mencapai penyelesaiannya. Mungkin aku akan lebih menggemarinya seandainya aku mengikutinya di usia lebih muda sih. Tapi tetap saja, aku sama sekali tak menyesal telah mengikutinya.

4 thoughts on “Tentang… (tamatnya) Fullmetal Alchemist

  1. minoru says:

    Hoo, akhirnya diterbitin juga vol terakhirnya. Bisa dibilang FMA adalah manga favorit saya pertama, bahkan pas pertama ngikutin bela-belain baca bajakannya dan ya, perasaan saya sangat puas dengan akhir ceritanya yang luar biasa. SIngkat kata, serial FMA gak akan pernah saya lupakan 🙂

    • alfare says:

      Kini dengan berakhirnya FMA, satu-satunya komik shonen yang masih kukoleksi hanya tinggal Naruto saja.

  2. Muhammad Daris Kholishuddin says:

    yah, FMA termasuk salah satu manga shounen favorit saya, seperti minoru, awal2 dulu saya juga bela – belain baca bajakannya, meski gak beli, cuma nyewa, kalo yang dari Elex keluar baru beli.
    Saya juga benar2 puas dengan konklusi ceritanya, meski termasuk cukup sedikit juga ya, cuma 27 volume, tapi rasa2nya euforianya gak bakal ilang semudah itu, buat saya seenggaknya, :)).

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.