Saikyou Densetsu Kurosawa

Kalian tahu Fukumoto Nobuyuki?

Namanya mungkin belum terlalu terkenal di Indonesia karena komik-komik karya beliau, sejauh yang aku tahu, belum banyak (atau bahkan belum ada?) yang terbit di sini. Tapi kalau nama ‘Kaiji’ disebutkan bersama nama beliau, mungkin sebagian orang akan langsung teringat pada seri legendaris Tobaku Mokushiroku Kaiji, manga tentang judi (ya, judi) yang menghadirkan analisis psikologis dan probabilitas dengan kadar intensitas yang gila. Manga ini sempat meraih penghargaan manga Kodansha pada tahun 1998, besar kemungkinan karena kelihaian beliau dalam menggambarkan secara runut alur sebab akibat dari setiap perkembangan kejadian yang terjadi.

Terus terang, sampai saat aku menulis ini, aku belum pernah mengikuti Kaiji. Aku juga tak tahu apa-apa tentang Akagi, seri tentang mahjong yang menjadi seri terkenal beliau yang satunya. Dan aku bahkan belum tahu apa-apa tentang Fukumoto-sensei sampai aku kebetulan melihat dan tertarik akan judul manga satu ini: Saikyou Densetsu Kurosawa, atau Legend of the Strongest Man Kurosawa, sebuah drama kehidupan yang untuk suatu alasan, sempat membuatku benar-benar penasaran setengah mati.

Seri ini pada intinya berkisah tentang kehidupan seorang pekerja bangunan bernama Kurosawa. Dirinya menjelang usia empat puluh atau lima puluh tahun dan lajang, serta bisa dikatakan sebatang kara. Selama puluhan tahun, ia menjalani pekerjaan yang sama sebagai semacam mandor di sebuah perusahaan konstruksi. Lalu suatu hari ia terbangun dan mulai memikirkan betapa hidupnya selama ini ia jalani tanpa makna.

Sebelum membahas lebih lanjut, perlu diingat bahwa bagi sebagian (kebanyakan?) orang, artwork Fukumoto-sensei itu hancur. Gambar karakter dan latar beliau yang ‘kotak’ dan teramat sederhana sangat… ‘enggak menarik perhatian’ untuk ukuran masa sekarang. Tapi bayangin gini: dihadapkan dengan hal itu sekalipun, ada sesuatu tentang manga ini yang tetap membuatku penasaran, hingga akhirnya aku bahkan sampai membacanya sampai tamat.

Jadi, ceritanya, si Kurosawa ini adalah orang yang benar-benar kesulitan bergaul. Sekalipun dia rajin dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya tepat waktu, dia orang yang sulit berkomunikasi, canggung, dan maksud-maksud baiknya acapkali sangat mudah disalahpahami.

Bagian-bagian awal manga ini (secara agak membosankan) memaparkan persis seperti apa hidupnya. Bagaimana ia agak dijauhi para koleganya karena tingkah polahnya yang dipandang memalukan, bagaimana perasaannya menjadi yang terkucilkan, bagaimana ia merasa iri dengan seorang pegawai lain yang lebih muda dan populer yang seakan memiliki segala yang tak ia miliki, bagaimana ia tak pernah mendapatkan perhatian lawan jenis, bagaimana ia teramat menginginkan kehidupan berkeluarga, serta–yang secara perlahan menjadi titik baliknya–bagaimana ia kemudian bertekad untuk berubah.

Sekalipun plotnya datar, mungkin karena apa yang Kurosawa upayakan begitu terkesan ‘tak mungkin’, aku menjadi semakin penasaran dengan bagaimana seri ini akan berkembang. Lalu meski tak bisa dikatakan radikal, situasi kehidupan Kurosawa pada suatu titik benar-benar mengalami suatu perkembangan yang gila.

Jadi, suatu ketika, dia mengalami suatu masalah dengan segerombolan anak-anak SMP nakal. Dan gerombolan anak-anak SMP berandalan ini parah dalam artian benar-benar parah. Lalu satu hal terjadi menyusul hal lainnya, situasinya berkembang menjadi makin besar, dan meski ia tetap seorang pribadi menyedihkan, di penghujung cerita Kurosawa berakhir sebagai seorang pahlawan.

Manga ini kurasa merupakan drama komedi satir yang menjadi potret sisi suram kehidupan masyarakat Jepang pada masanya. Cara bertutur Fukumoto-sensei begitu… uh, santai dan mudah diikuti. Tapi sama sekali enggak ringan. Enggak. Enggak ringan sama sekali! Pokoknya, situasi kehidupan yang diangkat dalam manga ini begitu pedih dan menyayat hati! (dan jangan kalian bandingin dengan dorama Densha Otoko yang parah itu!)

Aku hingga kini masih enggak yakin apa yang mendorongku mengikuti manga ini. Tapi begitu beres membaca manga ini, aku sempatkan diri memeriksa karya-karya Fukumoto-sensei yang lainnya. Lalu begitu aku memeriksa profil beliau di Wikipedia, dengan segera aku tahu bahwa meski gaya gambarnya kayak begitu, ini jelas-jelas bukan jenis manga-ka yang dengannya aku akan macam-macam.

Sesudah Kurosawa, aku lalu mengikuti Tobaku Haoden Zero, manga bertema judi lain dari beliau yang lebih bernuansa shounen (dan tidak terlalu menyinggung soal bagaimana orang bisa ‘sakit’ kayak di Kaiji). Meski awalnya agak gimanaa gitu dengan premisnya, aku terbiasa kembali dengan gaya gambar Fukumoto-sensei dan mulai larut dalam intrik-intriknya, hingga akhirnya marah-marah sendiri begitu menyadari manga ini berakhir dengan hiatus. (untungnya, telah diumumkan bahwa serialisasi manga ini akan dilanjutkan kembali)

Sedalam itu kesanku terhadap Kurosawa, dan semenjak membacanya, aku benar-benar mulai berpikiran bahwa sudah waktunya aku mulai menyikapi hidupku dengan lebih serius.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: