Boku wa Tomodachi ga Sukunai

Mengikuti nasihat salah satu kenalanku di web, aku mencoba membaca beberapa bab yang sudah diterjemahkan dari LN Boku wa Tomodachi ga Sukunai (‘aku tak punya banyak teman’) di situs Baka-Tsuki. Garis besar ceritanya tentang sekelompok orang yang tak pandai bergaul di sebuah SMA Katolik yang kemudian memutuskan membuat ekskul Neighbours’ Club, perkumpulan terselubung orang-orang yang tak punya teman. Ceritanya ditulis oleh Hirasaka Yomi, dan ilustrasinya dibuat oleh Buriki.

Aku awalnya agak malas mengikutinya, karena ini seri yang lagi-lagi mengisahkan soal seorang cowok yang karena satu dan lain hal, terseret ke dalam sebuah situasi harem. Tetapi sesudah berjuang melewati bab prolognya yang membuatku mengernyit, ternyata ceritanya lumayan menghibur kok.

‘Aku juga ingin punya teman!’

Tokoh utamanya adalah seorang murid pindahan bernama Hasegawa Kodaka. Gara-gara satu-satunya ‘warisan bule’ yang diterimanya dari ibunya yang orang Inggris adalah rambutnya yang pirang, ia kerap disalahpahami sebagai berandalan sehingga mengalami kesulitan bergaul. Lalu  saat Kodaka tanpa sengaja mendapati Mikaduki Yozora, teman sekelasnya yang manis tapi jutek, sedang berbicara dengan seorang teman khayalan, satu dan lain hal terjadi. Lalu jadilah Yozora menyeret Kodaka untuk mendirikan Neighbours’ Club, sebuah klub yang bertujuan untuk memahami bagaimana cara untuk bisa berteman.

Tanpa disangka, tokoh pertama yang bergabung bersama mereka adalah si gadis kaya serba sempurna, Kashiwazaki Sena. Meski disegani  semua orang hingga menjadi idola sekolah, ternyata Sena sebenarnya juga tak punya teman. Lalu dengan segera Kodaka menyadari bahwa Yozora dan Sena sama sekali tak bisa akrab, dan alasan mereka tak bisa berteman adalah permasalahan yang teramat parah dengan kepribadian mereka.

Tapi bagaimanapun, hubungan telah terjalin, dan Kodaka mengalami banyak pengalaman bersama teman-teman(?) barunya ini dalam upaya memahami makna sesungguhnya dari persahabatan.

‘Dasar REALFILL!’

Selain Yozora (yang hobi melecehkan dan mempermainkan orang) dan Sena (yang tak bisa tak memandang rendah orang-orang ‘normal’), orang-orang aneh yang bergabung dengan mereka sedikit demi sedikit semakin banyak. Mulai dari adik perempuan Kodaka yang masih SMP, Hasegawa Kobato, yang berkepribadian gothic; Kusunoki Yukimura, murid lelaki bertampang sangat cantik dan mengidolakan Kodaka agar menjadi ‘jantan;’ Takayama Maria, gadis jenius berusia sangat muda yang menjadi guru pembimbing klub; serta Shiguma Rika, adik kelas merangkap penemu yang menyembunyikan kepribadian agak mesum.

Karakter-karakter yang muncul di cerita ini memang agak stereotip, tapi eksekusi penceritaannya terhitung bagus kok. Aku tak bisa tak tertawa di beberapa adegan, dan aku tak tahan untuk berpikir ‘MOE!’ tiap kali Sena berkaca-kaca sesudah dijahati Yozora. Ini memang bukan jenis seri yang biasa kuikuti sih, tapi aku menjadi mengerti mengapa temanku itu excited saat mendengar seri ini bakal dianimasikan.

Yah, kayak biasa, enggak sebaiknya kita terlalu berharap. Tapi kita emang dibuat susah untuk tak bersimpati pada tokoh-tokohnya sih.

Iklan
Tag:

2 Komentar to “Boku wa Tomodachi ga Sukunai”

  1. Memang setelah beberapa volume seri ini mendadak berubah ke arah harem. Tapi entah kenapa saya yang biasanya sangat anti terhadap genre ini malah semakin jatuh cinta dibuatnya. Mungkin karena saya merasa harem kali ini bukanlah harem mainstream dan ada kemiripan dengan Bakemonogatari.

    Dan memang saya nggak bisa berharap banyak dengan adaptasi animenya. Well, tergantung siapa studionya sih <_<

    • Hoo. If you say so. Kalo gitu begitu anime-nya keluar, aku juga akan coba mengikutinya. Kuasumsikan ini ga akan lebih jelek dari BakaTesto.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: