Fenomena Hatsune Miku

Jadi, sekitar tiga minggu lalu, aku menghabiskan suatu sore bersama dua teman baikku yang sebenarnya lebih ‘maniak’ daripada aku. Salah satu dari mereka adalah pemerhati produk-produk ‘mainan.’ Sedangkan yang satunya lagi adalah pemerhati artwork. Ceritanya, aku baru beres kerja, dan kebetulan saja mereka sedang berada di tempat yang tak jauh di kantorku. Sehingga aku sekalian diajak hang out sama mereka.

Sembari menunggu kedatanganku, ceritanya mereka mengobrol soal perkembangan tren budaya visual Jepang. Aku enggak inget gimana kejadiannya, tetapi pembicaraan akhirnya berujung ke soal bagaimana karakter-karakter pettan (berdada rata) menjadi tren zaman sekarang. Maksudku, secara kasar, bagaimana karakter-karakter (perempuan) yang muncul dalam seri-seri anime sekarang sengaja dibentuk ke arah ‘imut’ (loli) alih-alih ‘seksi’ atau sekedar ‘cantik.’

Semula aku mengira bahwa itu dampak dari meluasnya pengaruh Touhou Project secara internasional. Buat yang belum tahu, Touhou Project adalah seri game tembak-tembakan danmaku independen buatan tim Shanghai Alice yang hanya dikomandoi satu orang, yakni ZUN. Kita memilih satu dari beberapa karakter yang ada dan menggerakkannya dalam satu layar bergerak sembari menghindari tembakan musuh (dalam jumlah banyak) dan balas menembak. Seri ini teramat dikenal karena jalinan ceritanya yang secara mengejutkan bagus dan cast karakternya yang sebagian besar terbentuk atas cewek-cewek muda nan imut (err… loli; berdada rata; bahkan ada lagu terkenal yang bercerita tentang ke-dada rata-an ini—‘pettan, pettan tsurupettan’).

Tapi temanku yang pemerhati mainan itu menyatakan bahwa seperti halnya fesyen dan musik, memang ada siklus tren dalam hal  desain karakter. Dia lalu bercerita ke soal bagaimana dia pernah menemukan gambar skema perbandingan karakter-karakter anime perempuan populer dari masa ke masa. Dia menjelaskan bagaimana ukuran dada karakter perempuan secara umum ‘berkembang’ dari kecil menjadi besar pada tahun 70-an, mengecil pada era 80-an, membesar pada paruh awal tahun 90-an, mengecil kembali pada paruh akhir 90-an untuk membesar lagi menjelang tahun 2000-an, sampai mengecil lagi hingga sekarang.

Meski aku pribadi sulit mempercayainya, tapi pembicaraan ini kemudian berlanjut ke bagaimana tren ini bertahan lebih lama akibat sejumlah faktor eksternal lain yang muncul pada dekade ini. Kejutan terbesar buatku adalah saat bagaimana temanku yang suka mainan itu bercerita bahwa kepopuleran karakter maskot Hatsune Miku dari seri program synthesizer suara Vocaloid terjelaskan lewat faktor-faktor ini!

Miku ternyata merupakan kombinasi ultimate dari

  • Rambut twin-tail
  • Pettan
  • Kneesocks
  • Ketiak
  • Lengan baju kebesaran

Yang tak lain merupakan faktor-faktor populer yang ada dalam karakter-karakter anime/manga/game dalam 6-7 tahun belakangan ini! Jelas saja pada saat pertama dimunculkan karakter Miku ini langsung meledak. Hal serupa dapat dikatakan pada karakter Black Rock Shooter yang dibuat oleh artis grup musik Supercell, yang secara langsung ataupun tidak memang terinspirasi oleh desain Miku.

Ada satu hal menarik lain yang temanku yang suka mainan itu katakan. Dia bilang, desain karakter di seri Lucky Star kurang lebih menjadi ‘ramalan’ akan archtype karakter apa saja yang akan populer dalam tahun-tahun ke depan. Dan tanpa dapat kusangkal, ‘ramalan’ yang ditampilkan di seri tersebut secara garis besar terbukti benar. Banyak elemen karakter populer yang lagi dan lagi bisa kita temukan di berbagai seri. Mulai dari chococornet yang direferensikan di mana-mana, yang bahkan menyaingi roti melon yang dengan enggak jelasnya dipopulerkan Shakugan no Shana. (argh, jangan harapkan aku ngasi contohnya yang jelas juga dong)

Mendengar semua ini, dalam sekejap saja aku merasa putus asa karena mengira trend zaman sekarang ternyata digerakkan oleh alasan-alasan konyol. Kesukaan individualis tiap individu sepertinya tergeser oleh pengaruh kesukaan massa. Cara pandang pemirsa tidak lagi bisa dikatakan objektif, dsb. dsb.

Tapi parahnya, siang tadi, aku berdiskusi kembali dengan temanku yang pemerhati artwork itu. Lalu tiba-tiba saja dia berkomentar betapa kalau dia pikir-pikir lagi sekarang, berbeda dibandingkan sebelumnya, belakangan entah mengapa dirinya memang lebih menyukai karakter-karakter pettan dibandingkan karakter-karakter berdada besar. ‘C-cup adalah ukuran maksimal!’ katanya.

Mengingat-ingat kembali preferensi karakterku sendiri belakangan, sialnya entah mengapa aku tak bisa tak sependapat…

Iklan

5 Komentar to “Fenomena Hatsune Miku”

  1. bagh..!
    sampai mempertimbangkan ukuran dada(c-cup)..
    kwkwkww

    sepertinya kita punya hobi yang sma..
    LoL
    (loud of lough)

    mampir balik yha ke blog ku..
    dsana sudah ku taruh penampilan dekstop anime ku yang terbaru,,
    tentunya dengan miku (vocaloid) jga,,
    hehhe
    *suka miku jga saya.,.
    tapi yang paling di suka si megurine luka ny..
    hhehe

    btw, salam kenal yah..
    ^^

    *jgn lupa commentny..
    hhehehe8

  2. Hm, saya cukup setuju mengenai perubahan fenomena perubahan desain karakter, meski bahwa ukuran dada yang menjadi penentu agak… memprihatinkan. Saya tidak mendengar penjelasannya, tapi menurut saya evaluasi ukuran dada per dekadenya itu kurang benar, setidaknya bias berdasarkan data yang terbatas. Saya rasa lebih baik melihat dari sudut pandang lain yaitu berdasarkan anime dan karakter yang populer pada saat itu.

    OK, kembali ke Hatsune Miku. Saya tidak setuju bahwa desain karakternya yang menyebabkan dia populer. Itu membantu, tapi tidak mungkin dia mampu mencapai kepopuleran setinggi ini jika dia bukan merupakan Vocaloid pertama. Vocaloid merupakan sebuah hal yang jenius. Singkatnya: program ini membuat semua ‘komposer potensial’, mereka yang hanya mampu membuat lagu namun tidak mampu menemukan orang untuk menyanyikannya, menjadi komposer dengan suara dari Hatsune Miku. Satu hal menyambung ke hal yang lain, banyaknya lagu dan music video membuat para penikmat musik non-komposer pun tertarik ke Hatsune Miku, kemudian muncul banyak fanart bertebaran, lebih banyak fans lagi tertarik, dan seterusnya.

    • Err… penilaiannya memang dilakukan berdasarkan anime dan karakter yang populer pada saat itu. Makanya buatku hasilnya agak mengejutkan.

      Aku pernah denger bahwa desain Miku menjadi salah satu faktor yang membuat Vocaloid meledak. Tapi aku berdoa bahwa apa yang kamu katakan tentangnya itu benar.

      • Hm, kurang tepat jika saya menanyakan kepada anda yang merupakan pihak kedua, tapi saya tertarik akan argumentasi tersebut.

        Karakter apa saja yang digunakan untuk argumentasi tersebut?
        Sepengetahuan saya, di era 70-an anime yang populer di kalangan otaku adalah seri World Masterpiece Theathre, sehingga karakter-karakternya adalah gadis muda seperti Anne atau Heidi. Di era 80-an karakter yang populer adalah Nausicaa, Lum, dan Lynn Minmay. Saya melihat mereka sebagai cenderung proporsional. Di era 90-an yang populer adalah Rei, Asuka, dan Sakura Kinomoto. Rei dan Asuka saya bilang juga cenderung proporsional.

        Mungkin saya kurang jeli dalam melihat, namun saya tidak mempersepsikan adanya suatu tren dalam ukuran dada. Jika adapun, itu hanya merupakan satu bagian dari tren tipe karakter itu sendiri.

        Kembali mengenai Miku, setelah dipikir saya sepertinya tidak bisa memungkiri desain karakternya menjadi elemen penting dalam kepopulerannya melihat kepopuleran dari Black Rock Shooter, namun apa yang saya sebutkan jelas memberinya nilai lebih yang sangat dibanding karakter-karakter lain yang memiliki desain sejenis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: