Yankee-kun to Megane-chan

Yankee-kun to Megane-chan karya Yoshikawa Miki (biasa disingkat YanMega) pada dasarnya merupakan seri komedi yang diserialisasikan di Weekly Shonen Magazine terbitan Kodansha. Aku sebenarnya sudah cukup lama tertarik pada seri ini, sesudah seorang teman bercerita tentangnya. Tapi baru belakangan ini saja aku sempat memeriksanya.

Kudengar seri ini pada awalnya menuai perhatian karena Yoshikawa-sensei pernah ‘berguru’ sebagai asisten kepada Mashima Hiro yang membuat Fairy Tail dan Rave, sehingga gaya lelucon mereka berakhir mirip. Tapi seiring dengan waktu, sepertinya seri ini menjadi lumayan terkenal karena keunggulan-keunggulannya sendiri. Meski sejauh yang kutahu belum sampai diangkat menjadi sebuah anime, seri ini pernah diangkat menjadi sebuah drama televisi yang meraih kepopulerannya tersendiri.

Ceritanya sendiri seputar hubungan pertemanan antara dua orang siswa baru di SMA Monshiro, si murid berandal dengan rambut dicat pirang Shinagawa Daichi (a.k.a Yankee-kun), dengan ketua kelasnya yang dikenal pendiam dan mengenakan kacamata, Adachi Hana (alias Megane-chan). Shinagawa adalah seseorang yang sebelumnya berniat untuk menjauhkan diri dari segala aktivitas sekolah. Tapi Adachi, dengan menjadikan jabatannya sebagai ketua kelas sebagai alasan, dengan gigih tak membiarkannya begitu saja.

Pendirian pantang menyerah Adachi untuk membuat Shinagawa masuk sekolah (mulai dari menyatroninya di bilik WC pada saat ia BAB sampai ke menjemput ke rumahnya pagi-pagi sebelum fajar), akhirnya membuat Shinagawa luluh dan bersedia secara teratur mengikuti pelajaran di sekolah. Tapi beragam keanehan yang terdapat pada diri Adachi—kekuatan fisiknya yang dahsyat, kenyataan bahwa dirinya tak bisa berbicara wajar selain dengan Shinagawa, serta fakta mengejutkan bahwa nilai-nilainya sendiri lebih buruk dibandingkan nilai-nilai Shinagawa yang jeblok—akhirnya membuka tabir bahwa Adachi dulunya adalah berandal juga seperti Shinagawa, hanya saja… yang jauh lebih legendaris.

Adachi ceritanya begitu terlarut dalam kehidupan sebagai berandal (yankee) semenjak kecil, sehingga nyaris tak tahu tentang hal-hal mendasar yang selayaknya diketahui orang dalam kehidupan bermasyarakat. Dirinya juga telmi, memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi, serta masih punya kecendrungan untuk mengandalkan kekerasan bila suatu hal terjadi tak sesuai dengan yang diinginkannya. Tapi meski kerap salah paham, niatnya sepenuhnya tulus dan hatinya memang benar-benar baik.

Sehingga akhirnya, dimulailah persahabatan aneh antara Shinagawa dan Adachi. Adachi senantiasa mengganggu Shinagawa untuk setiap hal kecil yang tak diketahuinya. Sedangkan Shinagawa akhirnya tak pernah tega membiarkan Adachi dengan segala kebodohannya. Di samping karena Adachi bila kacamatanya dilepas ternyata memang ‘lumayan cantik’…

Hubungan aneh mereka menarik perhatian banyak orang, dan ujung-ujungnya membangun ulang reputasi sekaligus kepribadian mereka masing-masing.

Kisah Kehidupan SMA Biasa (mungkin)

Sejujurnya, aku merasa bagian awal seri ini agak membosankan karena berfokus pada kekonyolan rutin antara Adachi, Shinagawa, dan berbagai tokoh ‘tamu’ saja. Sekalipun ada adegan-adegan aksi di dalamnya, plot ceritanya lumayan tertebak, dan hubungan antara keduanya juga sebenarnya tak beranjak ke mana-aman. Ceritanya biasanya seputar bagaimana Adachi menyeret Shinagawa ke dalam berbagai masalah dalam upaya membuat diri keduanya bermanfaat. Tetapi begitu cerita memasuki masa kenaikan kelas, segalanya berubah dengan hadirnya tokoh-tokoh baru dan arah cerita yang semakin jelas.

Ceritanya semakin menarik saat Megane-chan memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai kandidat ketua OSIS. Shinagawa tanpa banyak pilihan seperti biasa terpaksa membantunya. Dan jadilah keduanya turut terlibat dalam urusan-urusan kesiswaan yang serius bersama rekan-rekan baru mereka: Chiba Seiya, bekas hikkikomori yang kini menjabat sebagai bendahara; Himeji Rinka, ‘tangan kanan’ Adachi dari masa-masa berandalannya yang menjadi sebagai sekretaris; lalu Izumi Gaku, siswa pintar tapi garang karena sempat menjadi ketua geng motor, yang seperti Shinagawa, terpilih sebagai wakil ketua OSIS. Dan ya, meski sulit dipercaya, jabatan ketua OSIS memang benar-benar berhasil Adachi raih.. .

Aspek paling menakjubkan dari seri ini juga baru terlihat di bagian ini. Sebab tak dapat dipungkiri, terlepas dari segala keanehan, kekonyolan, dan keterlibatan ajaib anggota-anggota geng motor, ceritanya sebenarnya hanyalah seputar kehidupan SMA biasa. Tapi Yoshizawa-sensei benar-benar membuat setiap babnya menjadi begitu seru untuk diikuti. Seiring perkembangan cerita, kita akan mengetahui alasan Shinagawa yang berandalan memilih untuk memasuki Monshiro. Kita akan melihat langsung perkembangan pribadi dan hubungan antara tokoh-tokohnya. Kita juga akan mengetahui alasan mengapa ada begitu banyak siswa ‘aneh’ di Monshiro, dan bagaimana mereka semua ‘diubah’ menjadi orang-orang yang lebih baik. Dan bagusnya lagi, Yoshizawa-sensei memperhatikan aspek berlalunya waktu dalam cerita, sehingga cerita tak pernah sekalipun terasa dipanjang-panjangkan. Tanpa terasa, Shinagawa dkk bahkan digambarkan naik ke kelas 3 dan harus ganti mempersiapkan adik-adik kelas mereka untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan.

Masih belum jelas apakah seri ini akan berakhir pada bab kelulusan, ataukah akan melanjutkan kisah pertemanan Adachi dan Shinagawa sampai ke jenjang perguruan tinggi. Tapi yang pasti, begitu ada penerbit lokal yang melisensinya, kurasa aku akan mulai mengoleksi buku-buku satuannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: