Red Line

Aku menonton movie anime Red Line (kadang ditulis juga Redline) di acara INAFFF 2010 yang diselenggarakan di jajaran bioskop Blitz Megaplex tempo hari (sekalinya dalam setahun kamu bisa menonton sebuah film berkualitas di bioskop nyaman pada akhir pekan dengan harga tiket hanya 20.000). Anime ini diproduksi oleh studio Madhouse dan ditangani oleh sutradara Takeshi Koike.

Sebenarnya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang anime ini sampai kemarin. Aku kebetulan hanya pernah tahu namanya disebut-sebut di beberapa artikel di Net saja (seri anime Iron Man di musim gugur ini disebut-sebut berakhir kurang begitu bagus karena sebagian besar sumber daya Madhouse terlanjur tersita di Red Line). Aku semula berniat nonton sesuatu sekelas B-movie yang enggak butuh banyak mikir seperti Alien vs Ninja, tapi tiket yang kudapat malah untuk tontonan anime lagi. Aku sama sekali tak membayangkan anime ini bakal ‘jelek.’ Tapi aku memang sempat ragu dengan kualitas ceritanya. Makanya, sejujurnya aku terkesan karena anime ini ternyata lebih menghibur dari yang aku kira.

LOVE

Berlatar jauh di masa depan, Red Line merupakan ajang balap-balapan mobil antar planet yang diadakan 5 tahun sekali. Ajang ini memiliki kepopuleran gila-gilaan dan tayangannya sangat dinantikan oleh seluruh penduduk galaksi. Satu-satunya tujuan yang harus dicapai oleh para pembalap ialah mencapai garis finis terlebih dahulu. Untuk selebihnya, tak ada peraturan sama sekali. Masing-masing peserta bisa melengkapi mobil mereka dengan nitro, kemampuan berubah bentuk, kekuatan sihir, peluncur roket, dsb. demi menghalangi lawan mendahului mereka.

Ya, jadi kau bisa bayangkan setting ala Star Wars, beragam mobil berbentuk/berkemampuan aneh, beserta pengemudi-pengemudi mereka yang terdiri atas alien.

Tokoh utama ceritanya adalah cowok bernama ‘Sweet’ J.P. (aku lupa nama belakangnya) dengan mobilnya, Transam. Ceritanya, dia jatuh cinta pada pembalap lain (cewek) bernama Sonoshee ‘Cherry Boy Hunter’ McLaren yang menjadi salah satu pembalap unggulan dengan mobilnya, Crab Sonoshee.

J.P. ini sebenarnya memiliki masa lalu agak suram karena pernah dipaksa bekerjasama oleh mafia pasar taruhan untuk ‘mengatur’ hasil pertandingan. Situasi ini dialaminya sebagai konsekuensi dari keterlibatan mekaniknya, Frisbee, yang terancam nyawanya seandainya J.P. tidak menggantikannya masuk penjara. Karena keduanya berasal dari masyarakat kelas bawah, Frisbee awalnya melakukan ini agar bisa mendapatkan cukup uang untuk membangun mobil. Karena itu, neski J.P. beberapa kali nyaris menjangkau garis finis, kerusakan mesin (yang dipicu Frisbee) biasanya menggagalkannya di saat-saat terakhir.

Tapi sesudah kegagalannya di babak pendahuluan Yellow Line, J.P. secara tak terduga lolos ke babak berikutnya karena Red Line tahun ini rupanya diadakan di Roboworld, sebuah planet yang pemerintahan militeralistiknya menolak tegas diadakannya ajang ini karena khawatir rahasia-rahasia persenjataan mereka lolos ke pihak luar dalam liputan pertandingan yang berlangsung. Mereka mengancam akan mengambil tindakan ‘tegas’ (bersenjata) bagi pembalap manapun yang ikut serta. Karena itu, dua pembalap yang sebelumnya sudah lolos memilih untuk mengundurkan diri, membuka tempat untuk ikut sertanya J.P. dan seorang pembalap lain.

Tanpa sepengetahuan yang lainnya, J.P. sebenarnya menyimpan suatu kenangan masa lalu tentang Sonoshee yang terkait cita-cita gadis itu untuk memenangkan Red Line. Karena itu untuk sekali ini, J.P. berpikiran untuk tak mengambil ‘tawaran pekerjaan’ yang biasa dari mafia dan menyelesaikan balapan sampai akhir, tanpa menyadari bahwa Frisbee sebenarnya masih ‘terikat.’

Red Line tahun ini dengan segera menjadi ajang paling kontroversial dibandingkan yang pernah terjadi sebelumnya. Pihak media menyerbu Roboworld dari wilayah-wilayah netral. Kerusuhan massal berlangsung di kalangan pekerja yang kesemuanya ingin menonton dan bertaruh di Red Line. Pihak panitia mengkonfrontasi pemerintahan secara langsung. Sabotase-sabotase berlangsung terhadap sistem persenjataan planet. Dan puncaknya adalah kebangkitan bioweapon raksasa yang masih tak stabil bernama Funky Boy (aku enggak bercanda, memang itu namanya!), yang keberadaannya dengan keras telah berusaha disembunyikan pemerintah Roboworld dari perhatian dunia internasional…

The End

Red Line semula memberi kesan aneh karena kecondongannya ke arah gaya barat. Tapi film ini keren kok. Terutama bila mempertimbangkan pendekatan gaya anime-nya menjelang paruh akhir yang teramat sangat berlebihan.

Sepanjang cerita, kita disuguhi beragam karakter dan elemen menarik yang sayangnya tak mendapat porsi perkembangan lebih banyak dari yang diperlihatkan di cerita. Tapi kesemuanya dipresentasikan dengan benar-benar keren, sehingga meski peran masing-masing enggak sepenuhnya jelas apa—selayaknya film-film The Canonnball Run di tahun 80an, mereka tetap hadir secara berkesan. Visualnya yang ‘ramai’ sangat memikat sehingga kita benar-benar harus ‘membuka mata’ supaya sempat menikmati semuanya (terutama bila menyangkut desain-desain alien). Audionya, terutama musik latar yang kebanyakan bernuansa tehcno, benar-benar menjadi faktor yang menghidupkan banyak hal. Tempo dan fokus ceritanya cepat dan tak bertele-tele, sehingga mereka-mereka yang belum siap menyimak bisa jadi akan kesulitan mengikutinya di beberapa bagian. Tapi hal tersebut merupakan kekurangan minor dibandingkan semua kelebihannya kok.

Pada akhirnya, ini memang sebuah anime dengan inti cerita garing dengan perkembangan cerita konyol yang enggak akan cocok dengan semua orang. Tapi ini anime dengan inti cerita garing yang sangat menghibur. Menjelang garis finis, aku ingat jelas bagaimana seisi bioskop senyap dan semua pasang mata sepenuhnya tertuju pada layar. Aku cukup puas karena telah bisa menontonnya hingga akhir.

(andai aku juga sempat menonton versi live action Tokikake yang ditayangkan pada festival yang sama)

(oya, buat peringatan, ada beberapa adegan nudity minor tapi agak mencolok)

(lupa lagi, kau bener-bener mesti perhatiin siapa-siapa saja seiyuu-nya, mungkin kau akan terkejut)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: A++; Audio: S; Perkembangan: B-; Eksekusi: A+: Kepuasan Akhir: A+

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: