Dragon Quest

(Tiba-tiba kepengen nulis sesuatu yang gampang tentang game)

Game-game Dragon Quest (atau dikenal juga sebagai Dragon Warrior sampai tahun 2005 di Amerika Utara), terutama di dekade 80-90an, merupakan saingan terbesar seri Final Fantasy dalam pangsa pasar RPG di Jepang. Franchise ini yang pertama membuka genre RPG konsol dan ‘menetapkan’ dasar-dasar permainan RPG pada konsol-konsol game rumahan. Sekalipun demikian, berlawanan dengan seri Final Fantasy buatan Squaresoft pada masa itu, game-game DQ secara internasional tak bisa dikatakan pernah ‘meledak’.

DQ cenderung memiliki pendekatan cerita dan sistem permainan yang mempertahankan ‘tradisi’ yang sudah terbangun. Gaya sistem permainan dan alur ceritanya nyaris tak mengalami berubah dari satu game ke game lainnya. Visualnya pun biasanya sederhana, sehingga sekilas pandang, daya tariknya tak begitu terlihat. Ini sama sekali berlawanan dengan game-game FF yang senantiasa menawarkan inovasi pada setiap judulnya yang baru. Tapi kesederhanaan ini yang mungkin justru menjadi daya tarik DQ yang paling utama.

Game Dragon Quest pertama, Dragon Quest, dibuat oleh develepor Enix (sebelum mereka bergabung dengan Squaresoft dan membentuk Square-Enix) dengan Yuji Horii sebagai penggagas. Beliau saat itu sekaligus berperan pula sebagai perancang permainan, penulis utama skenario, sekaligus sutradara utama. Sebagai bagian dari tim tetap yang untuk waktu lama selalu terlibat dalam pembuatan game-game utama seri ini (Armor Project), beliau ditemani juga oleh Akira Toriyama (pembuat manga terkenal Dragon Ball) selaku perancang karakter dan monster, serta Koichi Sugiyama yang mengkomposisi efek suara dan musik.

Ketenaran Toriyama-sensei saat itu menjadi salah satu faktor utama yang membuat Dragon Quest (yang dibuat untuk konsol Famicom 8-bit) laku keras. Ide dasarnya seperti game PC lawas Ultima. Tetapi antarmukanya yang enggak ngejelimet, jalan ceritanya yang sangat mudah dimengerti, serta pembangunan suasananya yang benar-benar kuat turut berkontribusi terhadap kesuksesan game ini dan kelanjutan serinya.

Aku sedikit malas mengulas seri ini karena harus mengurusi pergantian bermacam nama dan istilah seiring dengan remake dari game-game DQ lama. ‘Britanifikasi’ dari game-game DQ merupakan salah satu hal buruk yang pernah dialaminya. Jadi untuk tulisan ini, seenggaknya sampai aku mengedit lagi, aku akan menggunakan nama-nama asli yang pertama digunakan dalam versi-versi game yang paling pertama.

Dragon Quest (1986)

Game paling pertama di dalam seri. Ceritanya sangat sederhana.

Berlatar di tanah bernama Alefgard, kita bermain sebagai keturunan sang pahlawan legendaris, Loto (kita dapat menamai tokoh ini sendiri), yang mesti menyelamatkan Putri Lora dari cengkraman Dragonlord, yang telah menculiknya dan mengancam perdamaian seluruh dunia. Sesudah membebaskan sang putri dari gua yang dijaga seekor naga, kita berkeliling ke kota-kota lain demi mengumpulkan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk menjangkau kastil Dragonlord yang terletak di tengah danau dan mengalahkannya. Sebagian dari peralatan-peralatan ini meliputi perangkat persenjataan kuno yang Loto tinggalkan serta Bola Emas yang membentuk jembatan pelangi ke istana tersebut. Sesudah mengalahkan Dragonlord, sang tokoh utama berpergian ke tanah-tanah lain bersama sang putri dan tak pernah terdengar lagi.

Tak banyak yang bisa dikatakan tentang game ini, apalagi jika kita membandingkannya dengan RPG-RPG zaman sekarang. Sistem pertarungannya berbasiskan giliran dan kita hanya mengendalikan satu karakter tanpa rekan seorangpun(!). Pertarungan-pertarungannya pun berupa duel di mana kita hanya berhadapan dengan satu musuh pada satu waktu. Kontrolnya pun, yang versi Famicom/NES maksudku, masih membuat canggung. Tetapi game ini menjadi landasan paling mendasar dari genre RPG pada masa-masa berikut.

Dragon Quest II: Akuryou no Kamigami (1987)

Dengan subjudul berarti Pantheon of Evil Spirits, atau ‘panteon roh-roh jahat’ (buat yang enggak tahu: ‘panteon’ itu kurang lebih berarti ‘susunan kedewaan,’  kayak struktur dewa-dewi Yunani kuno), sekuel ini berlatar persis satu abad sesudah game yang pertama.

Kita bermain sebagai pangeran dari Kerajaan Lorasia yang merupakan salah seorang keturunan Loto. Perdamaian dunia kini kembali terancam oleh aksi si penyihir jahat Hargon yang telah menyerang negeri tetangga Moonbrook, dan kita mesti berkelana keliling dunia untuk mencari cara untuk menelusuri jejak Hargon dan menghentikan rencananya menguasai dunia. Kita nanti akan dibantu oleh sepupu kita, pangeran dari Kerajaan Cannock, yang meski tak kuat secara fisik, didukung oleh kekuatan sihir oleh membantu kita. Lalu sesudah membebaskannya dari kutukan, sepupu kita yang satunya, putri dari Moonbrook, juga akan ikut bergabung dalam perjalanan sebagai anggota tim yang ketiga. Sesudah mendapatkan kapal, ketiganya dapat berlayar ke Alefgard dan bertemu cucu Dragonlord yang memberi petunjuk tentang lima segel tersembunyi yang diperlukan untuk mengalahkan Hargon. Kelima segel tersebut membentuk Rubiss Charm (‘jimat Rubiss,’ Rubiss adalah nama penjaga dunia yang membantu kita dalam perjalanan) yang memungkinkan kita memecahkan ilusi Hargon dan berhadapan dengannya. Tetapi meski Hargon berhasil dikalahkan, dengan sisa kekuatannya yang terakhir, ia menjalankan ancamannya dengan memanggil kembali sang penghancur, Sidoh, yang menjadi lawan terakhir kita untuk menyelamatkan dunia.

Meski tak ada banyak peningkatan dari segi grafis, DQ II memperluas game pertama dengan berbagai kemajuan dari segi teknis. Kini kita tak lagi bertempur seorang diri; dan dunia yang kita jelajahi secara umum lebih luas. Ada kapal yang dapat kita gunakan untuk menjelajahi lautan (dunia game sebelumnya memang amat sangat terbatas…) dan sejumlah elemen baru ditambahkan untuk mengimbangi aspek strategi yang ada dengan bertambahnya rekan. Buat masanya, semua penambahan ini benar-benar keren. Tentu saja, game ini juga sukses besar seperti pendahulunya.

Dragon Quest III: Soshita Densetsu e… (1988)

Salah satu game paling terkenal dari konsol Famicom klasik. Game ini secara drastis memperluas cakupan permainan menjadi sesuatu yang jauh melebihi dua game sebelumnya. Subjudulnya kurang lebih berarti ‘dengan demikian, memasuki legenda…’

Kita bermain sebagai anak Ortega, pahlawan dari Kerajaan Aliahan. Bertahun-tahun sebelumnya, Ortega dikisahkan menghilang dalam duel terakhirnya melawan Baramos, raja iblis jahat yang bermaksud menguasai dunia. Kini, bertahun-tahun sesudahnya, Baramos muncul kembali, dan kita dipercaya oleh sang raja sebagai satu-satunya orang yang sanggup melawannya. Sesudah berkeliling dunia dan mengumpulkan enam bola suci yang diperlukan untuk membangkitkan burung legendaris Lamia, sang tokoh utama dan kawan-kawannnya terbang ke kastil Baramos di tengah pegunungan dan berhasil mengalahkannya. Namun Zoma, penguasa Baramos sekaligus raja iblis yang sesungguhnya, tiba-tiba menyerang dengan menciptakan lubang ke Dunia Kegelapan. Di Dunia Kegelapan, kita harus mengumpulkan artefak-artefak yang diperlukan untuk menjangkau kastil Zoma sekaligus membebaskan Rubiss yang telah dikutuk menjadi batu. Kita juga kemudian mengetahui bahwa Dunia Kegelapan sebenarnya tak lain adalah Alefgard, yang tak lain merupakan latar tempat berlangsungnya kejadian-kejadian dari dua game sebelumnya. Di kastil Zoma, kita sekali lagi berhadapan dengan Baramos yang telah menjadi zombie. Dalam konfrontasi terakhir, Zoma pun akhirnya berhasil dikalahkan berkat kekuatan Bola Cahaya pemberian sang Ratu Naga. Tapi dengan kematian Zoma, portal yang menghubungkan kedua dunia tertutup, dan para pahlawan tak bisa pulang ke Aliahan lagi. Namun sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya, sang pahlawan kemudian dianugrahi gelar Loto, yang legendanya akhirnya diwariskan secara turun temurun…

DQ III membuat gebrakan dengan menyuguhi ‘latar cerita’ yang sesungguhnya lebih besar dari yang semula terlihat. Berbeda dengan sebagian besar game DQ lain, seluruh karakter yang kita mainkan ditentukan pertumbuhan statistiknya melalui kombinasi sistem ‘kelas’ dan ‘sifat.’ Ada serentetan pertanyaan yang diajukan pada pada saat kita baru memulai permainan, dan jawaban kita atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menentukan ‘sifat’ tokoh utama kita (apakah dia pemalas, pemberani, dsb.), yang kemudian mennetukan seperti apa dia akan berkembang. Anggota-anggota tim kita (yang kini dapat berjumlah sampai empat) pun diciptakan dengan sistem serupa! Tapi keseimbangan status mereka dan mantera-mantera yang mereka pelajari ditentukan pula oleh job masing-masing (penari, ksatria, dsb.) yang nantinya dapat kita ubah di  di kuil Dharma. Hadir pula untuk pertama kalinya medal system di mana kita dapat mencari medal-medal kecil yang tersebar di dunia untuk dikumpulkan dan diserahkan pada Medal King, yang sebagai gantinya akan memberi imbalan berupa berbagai hadiah. Bersama pembeberan besar bahwa kisah ini ternyata berlatar sebelum dua game paling pertama, instalasi ini kemudian membentuk bagian terakhir yang disebut sebagai ‘Trilogi Loto.’

Ini game yang kekerenannya benar-benar melebihi masanya. Aku dulu memainkan versi Gameboy Color, dan hingga kini aku masih tak percaya betapa aku bisa menikmatinya, terlepas dari grafisnya yang paspasan. Tak mengherankan jika game ini dikenang sebagai salah satu RPG konsol terbaik sepanjang masa. Salah satu game yang direkomendasikan bila tertarik dengan RPG-RPG konsol klasik.

Dragon Quest IV: Michibikareshi Monotachi (1990)

Masih pertama kali muncul di konsol Famicom, DQ satu ini menampilkan pendekatan baru dengan mencoba menghadirkan penekanan lebih pada segi cerita. Game ini dibagi ke dalam sejumlah segmen bab yang masing-masing memiliki tokoh-tokohnya sendiri-sendiri. Pada bab terakhir, barulah semua alur cerita yang terpisah akan menyatu, dan baru kita akan memahami inti cerita yang sebenarnya. Subjudulnya kurang lebih berarti ‘orang-orang yang ditunjukkan jalan.’ (‘the chosen ones,’ diterbitkan ulang di NDS dengan judul ‘chapters of the chosen‘)

Bab pertama mengisahkan tentang Ragnar, ksatria dari Kerajaan Burland, yang menyelidiki kasus anak-anak hilang. Tapi kasus ini ternyata berkembang melebihi bayangannya saat mengetahui penculikan ini berkaitan dengan rencana untuk membunuh sang Pahlawan Legendaris yang didesas-desuskan akan muncul. Bab kedua mengisahkan tentang Arena, putri dari Kerajaan Santeem,  yang bosah dengan kehidupannya dan ingin melihat dunia bersama dua pendampingnya, Brey dan Cristo. Tapi sesudah berhadapan dengan lawan misterius, sepulangnya ke negeri asal, mendapati kastil mereka secara misterius berada dalam keadaan sepi dan terbengkalai. Bab ketiga berkisah tentang Torneko, pedagang yang tengah mengembangkan bisnisnya di Endor, tapi kemudian berkelana sesudah mendengar kabar tentang keberadaan senjata-senjata legendaris. Bab keempat berkisah tentang sepasang gadis kembar pasangan penari dan peramal dari Monbaraba, Manya dan Minea,yang menyelidiki kematian ayah mereka. Barulah pada bab kelima kita bermain sebagai sang Pahlawan sendiri, yang setelah kehancuran desa elf tempat ia disembunyikan, kemudian bersatu dengan tokoh-tokoh lainnya dalam mengungkap apa sebenarnya yang tengah terjadi. Selanjutnya terungkap bahwa sosok misterius bernama Deathpisaro tengah berupaya membangkitkan kembali Esturk, sang panguasa kejahatan. Tetapi sesudah mengagalkan rencana tersebut dan mengalahkan Esturk kembali, para tokoh utama mengetahui tentang asal usul Deathpisaro dan kaitannya dengan Rahasia Evolusi yang telah ditemukan oleh ayah Manya dan Minea. Bersama-sama, para tokoh utama kemudian mencapai kastil Zenithia di langit demi mencapai dunia kegelapan dan mengalahkan Deathpisaro sekali lagi sebelum semuanya terlambat.

Penambahan jumlah karakter yang dapat dimainkan menjadi perkembangan terbesar yang DQ IV hadirkan. Fitur caravan (kereta kuda) diperkenalkan sebagai tempat di mana karakter-karakter kita ditempatkan selama mereka tak aktif. Hanya di peta dunia dan tempat-tempat tertentu saja caravan dapat kita bawa, sehingga kita harus berhati-hati dengan anggota-anggota tim yang kita pilih untuk memiliki tim dengan daya tempur seimbang. Fitur baru lain yang game ini perkenalkan adalah fitur AI yang mengatur anggota-anggota tim kita selama bertarung, serta penggunaan skill (jurus) yang dimiliki oleh anggota-anggota tertentu, yang memungkinkan kita melakukan berbagai hal mulai dari mencuri barang sampai mengalihkan perhatian lawan.

DQ satu ini dikenang sebagai DQ pertama yang memberi penekanan pada porsi cerita. Petualangannya yang benar-benar lain daripada yang lain lumayan meninggalkan kesan yang mendalam. Sayang buatan ulangnya di konsol PSX tak pernah tuntas diterjemahkan…

Dragon Quest V: Tenkuu no Hanayome (1990)

Game kelima yang hadir di konsol Super Famicom yang lebih baru, memungkinkan peningkatan drastis dari segi kualitas presentasi serta durasi permainan. Subjudulnya kurang lebih berarti ‘pengantin langit.’ (bride of heaven‘, dirilis ulang di NDS sebagai ‘Hand of the Heavenly Bride’)

Cerita dimulai saat tokoh utama masih berusia kanak-kanak. Ia dikisahkan untuk suatu alasan telah lama berkelana bersama ayahnya, seorang jagoan pedang bernama Papas. Game ini mengisahan perjalanan kehidupan sang tokoh utama dari masa anak-anaknya yang keras sampai ia tumbuh dewasa dan terlibat dalam pencarian Sang Pahlawan, demi mencegah penguasa kegelapan Mildrath menyebrang dari dunia kegelapan dan menguasai dunia.

Ini adalah satu-satunya cerita game DQ yang sampai akhir takkan bisa ku-spoiler. Ceritanya benar-benar luar biasa bagus, dan bahkan mempermainkan sejumlah konvensi yang ditetapkan dalam game-game DQ sebelumnya. Kelak, sang tokoh utama bisa menikah di dalamnya, dan ceritanya akan berubah sesuai dengan keputusan-keputusan yang kita ambil. Tapi ceritanya masih belum berakhir di situ. Pokoknya, perjalanan sang tokoh utama meliputi perjuangan untuk membalas dendam, pencarian cinta yang hilang, pencarian sang pahlawan, upaya pembangkitan kembali dewa naga, dsb.

Pokoknya, ceritanya benar-benar luar biasa, dan layak menjadi DQ favorit Yuji Horii. Paling baik kau memainkannya tanpa tahu apa-apa tentang ceritanya sebelumnya. Soalnya, ceritanya benar-benar menyentuh dengan cara yang tak kau sangka.

Dari segi permainan, aspek karavan kembali. Tapi untuk mengatasi keterbatasan jumlah anggota tim yang ikut dengan kita, sang tokoh utama memiliki kemampuan untuk menjinakkan berbagai monster yang kemudian dapat menjadi rekan-rekan seperjalanannya. Ini merupakan fitur baru yang benar-benar luar biasa pada masanya, yang setauku kemudian menjadi cikal bakal subseries Dragon Quest Monsters. Dan memang diperlukan, karena di sebagian besar cerita, sang tokoh utama akan berkelana sendirian dan baru mempunyai banyak rekan menjelang akhir.

Game ini sempat dibuat ulang untuk beberapa kali. Tapi kusarankan untuk memainkan versi-versi awal untuk SNES-nya, karena keseimbangan permainan di versi yang baru (terutama NDS) kudengar agak bergeser.

Franchise ini pula yang pertama membuka genre RPG konsol dan ‘menetapkan’ dasar-dasar permainan RPG pada konsol-konsol game rumahan.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: