Gundam Unicorn OVA 2: The Second Coming of Char

Episode kedua seri OVA Mobile Suit Gundam Unicorn dengan cepat membawa kita kembali ke adegan terakhir di episode sebelumnya.

Sistem NT-D yang tersembunyi mendadak aktif. Sebagian besar persenjataan MS Kshatriya berhasil dilumpuhkan hanya dengan menggunakan beam saber. Sehingga pilot as Sleeves, Marida Cruz, akhirnya terpaksa ditarik mundur–yang dengan demikian menyelamatkan pasukan khusus ECOAS milik Federasi Bumi dari ancaman kehancuran yang mungkin terjadi. Kini, sesudah kehancuran koloni tempat tinggalnya, Indusrial 7, Banagher Links yang telah dipercaya untuk menggunakan RX-0 Unicorn Gundam demi melindungi teman-temannya kini berada di kapal induk Nahel Argama milik pihak Londo Bell.

Namun jati diri Audrey Burne sebagai putri faksi pemberontak Federasi Neo Zeon, Mineva Zabi, terungkap saat Nahel Argama tiba-tiba diserang kesatuan tempur pimpinan lelaki bertopeng Full Frontal. Nahel Argama menjadi bulan-bulanan akibat kelihaian Full Frontal dalam menggunakan MS-nya, Sinanju. Namun sifat oportunis Alberto Vist menyelamatkan mereka semua, saat ia dengan diam-diam mengumpankan Banagher sekaligus Unicorn Gundam sebagai pengalih perhatian.

Episode kemudian ditutup pada jam-jam terakhir menjelang penyerbuan bersama ke persembunyian Neo Zeon di asteroid Palau. Pihak ECOAS yang menumpangi Nahel Argama bermaksud untuk merebut kembali Unicorn Gundam yang disebut-sebut menjadi ‘kunci’ ke Kotak Laplace. Sementara di sisi lain, Riddhe Marcenas, pilot MS terakhir yang masih tersisa dari Nahel Argama, memutuskan untuk mengikuti kata hatinya dan meloloskan Audrey demi mengembalikan keseimbangan kekuatan antara pihak manusia-manusia Bumi dan pihak manusia-manusia luar angkasa.

“Apa begitu cara orang dewasa bersikap?!”

Sesudah episode pertama yang begitu memukau, mereka yang mengikuti episode kedua ini mungkin akan merasa ada sedikit penurunan kualitas dari segi cerita. Meski tetap keren, adegan-adegan pertempuran mecha tidak sebanyak yang ada di episode sebelumnya. Tapi hal tersebut dimaklumi mengingat episode ini bukan hanya membahas lebih banyak tentang situasi perpolitikan yang ada, melainkan juga sekaligus memperkenalkan kita pada serangkaian tokoh baru beserta kepribadian dan konflik mereka masing-masing. Sebagai gantinya, kita disuguhi konflik antar karakter serta perang urat saraf pada saat tokoh Full Frontal tampil ke permukaan.

Kapten Nahel Argama Otto Midas beserta pilot MS Riddhe Marcenas kali ini mendapatkan peran lebih aktif. Otto digambarkan sebagai kapten kapal berkemauan keras yang ternyata tak sepenuhnya kompeten. Sedangkan Riddhe digambarkan sebagai pribadi idealis yang masih berupaya menemukan jalan hidupnya sendiri. Riddhe secara mengejutkan bahkan mendapatkan banyak fokus dari segi perkembangan karakter. Porsi karakternya di episode ini kurang lebih sebanding dengan apa yang Banagher lalui di episode pertama, hanya saja dalam rentang waktu yang relatif lebih singkat.

Lebih banyak tentang jati diri Audrey juga terungkap. Di balik usianya yang masih muda, Audrey rupanya berupaya menanggung dosa masa lalu keluarganya yang telah memulai Perang Satu Tahun. Inilah alasan mengapa ia merasa begitu terbebani oleh pencarian Kotak Laplace. Adegan saat ia menghadapi komandan ECOAS, Daguza Mackle, yang berhasil mengungkap identitasnya, adalah adegan terkeren bagiku di episode ini.

Letnan Angelo Sauper yang begitu mengidolakan Full Frontal, beserta MS-nya, Geara Zulu, juga diperkenalkan untuk pertama kalinya. Ia digambarkan sebagai pemuda flamboyan yang temperamennya mudah terusik setiap kali ada yang menyinggung kebesaran Neo Zeon ataupun Full Frontal. Ya, dia seorang cowok cantik. Tapi kadar ‘kecantikannya’ masih berada dalam batas toleransi sebuah anime Gundam kok (enggak kayak di Gundam 00?).

Sejujurnya, aku agak terkejut mengapa tokoh seperti ini ada. Maksudku, aku tak menyangka sang pengarang novel asli, Harutoshi Fukui, yang biasa mengisi novelnya dengan cowok-cowok ‘tangguh,’ akan kepikiran untuk membuat tokoh semacam ini. Tapi setelah mengingat bagaimana dulu ada tokoh-tokoh macam Glammy Tod dan Masyhmre Cello, kurasa sedikit referensi terhadap tokoh-tokoh macam ini tak ada salahnya dibuat. Setidaknya, untuk menampilkan nuansa yang mengingatkan seri ZZ Gundam, yang elemen-elemen latarnya cukup banyak memberi pengaruh pada episode ini. (Sikap memujanya terhadap Full Frontal memang terkesan agak erotis…)

Bintang sesungguhnya dari episode ini tidak lain adalah Full Frontal, pria misterius yang disebut-sebut sebagai sosok kelahiran kembali sosok legendaris Char Aznable. Teka-teki terbesar yang episode ini ajukan adalah apakah dirinya benar-benar Char atau bukan, mengingat yang bersangkutan terakhir dikabarkan menghilang dalam Perang Neo Zeon kedua yang berlangsung beberapa tahun sebelumnya. Pembawaan, suara, dan karateristik fisiknya persis sama dengan Char, bahkan sampai ke bekas luka pedang di wajah yang Amuro goreskan padanya.

Beberapa karakter baru lain yang tampil ialah Mihiro Oiwakken, perwira wanita yang menjadi petugas komunikasi di Nahel Argama. Karakter ini benar-benar mengingatkan akan tokoh Frau Bow dalam seri Gundam yang pertama. Lalu ada wakil kapten Otto yang aku lupa namanya (maaf, maaf!). Dia cukup menarik karena hubungannya  yang tidak akur dengan Otto menjadi sedikit comic relief dalam episode ini.

The Beast of Possibility

Sebenarnya, dari segi mecha, meski porsinya bertambah sedikit, episode ini masih cukup memuaskan kok.

Ada semakin banyak hal tentang Unicorn Gundam yang diperlihatkan. Terlepas dari kemampuan mobilitas dan manuvernya yang luar biasa, MS ini dilengkapi I-Field yang melindunginya dari berbagai persenjataan beam. Semula, kupikir I-Field ini hanya akan aktif dan melindungi keseluruhan tubuh MS pada saat sistem NT-D aktif. Tapi ternyata I-Field ini turut bekerja secara otomatis setiap kali perisai khusus yang dibentuk untuk Unicorn Gundam digunakan! Aku langsung mikir, “Kereeen!”

Buat yang belum tahu, I-Field merupakan medan pembungkus partikel Minovsky yang menjadi partikel pembangun paling mendasar dari senjata-senjata sinar. Dalam bentuk terkompresi, I-Field menjadi apa yang membentuk bagian mata pedang dari beam saber dll. Bila dipadatkan, partikel-partikel ini bukan hanya mampu menghambat transmisi sinyal gelombang radio (seperti partikel GN di Gundam 00), melainkan sampai bisa membelah ikatan-ikatan antar partikel. Sifat menghambat komunikasi itulah alasan mengapa keberadaan partikel Minovsky menjadi faktor penting dalam pertempuran-pertempuran mecha di era UC.

Di samping perisainya yang ternyata keren, senjata standar untuk MS ini adalah senapan beam magnum yang ternyata mampu menghasilkan keluaran yang setara dengan sebuah mega-particle cannon. Daya hancur mengerikan ini sepertinya referensi langsung terhadap kekuatan beam rifle Gundam-nya Amuro yang (pada masanya) disebut-sebut cukup untuk menenggelamkan sebuah kapal induk. Susunan cartridge di punggungnya ternyata adalah amunisi cadangan (jadi bukan stok udara), dan aku terus terang saja penasaran soal bagaimana cara mereka memproduksinya.

Sedikit teka-teki lain ada pada pengendalian otomatis yang dimilikinya. Sistem NT-D-nya yang misterius, konon pada saat berhadapan dengan lawan Newtype, akan melepaskan segala pembatas, ‘menyalakan’ kerangka psychoframe, dan memungkinkan Unicorn Gundam dikendalikan hanya dengan pikiran belaka. Segala kemampuannya akan menjadi berlipat ganda. Tapi beban pengendalian rangka raksasa ini akan terlalu besar bagi mental sang pilot. Karena itu  masa pengaktifan sistem ini dibatasi hanya selama lima menit. Sesudah lima menit tersebut, Unicorn Gundam akan memasuki tahap ‘pendinginan’ yang membuatnya berada dalam kondisi lemah untuk berbuat apa-apa. Tapi apa iya cuma itu? Ada indikasi bahwa pada saat-saat tertentu, Unicorn Gundam akan bereaksi secara otomatis terhadap serangan tanpa kesadaran sang pilot. Tapi masih belum jelas apakah hal ini adalah akibat efek teknologi psychoframe atau karena adanya program tersembunyi lain di dalamnya (seperti ALICE di Gundam Sentinel?)

Terungkap pula bahwa pengembangan Unicorn Gundam menjadi bagian dari sesuatu yang disebut Project UC, yang dikatakan sebagai semacam upaya restrukturisasi terhadap EFSF (Earth Federation Space Force?). Pengembangan MS ini rupanya dilandasi dari data pengembangan sebuah MS lain yang beberapa tahun sebelumnya telah dibajak pihak teroris. MS yang dibajak itu ternyata tidak lain adalah Sinanju!

Memiliki keserupaan menarik seperti Zaku Custom milik Char dulu, Sinanju pun bergerak tiga kali lebih cepat dibandingkan MS produksi massal Geara Zulu(padahal kita membicarakan teknologi yang sudah berkembang lebih dari sepuluh tahun semenjak masa 0079!). Sesuai pula dengan gaya bertarung Char, Full Frontal pun menggunakan MS ini untuk bergerak dengan kecepatan-kecepatan sangat tinggi dan menyerang lawan-lawannya pada jarak jauh dari sudut-sudut lemahnya. Tapi dalam pertarungan jarak dekatpun, Sinanju pun kuat. Kemampuannya memainkan beam saber secara efektif didukung dengan kemampuan manuvernya yang tinggi. Di episode ini kita bisa melihat bagaimana Sinanju dengan lincah ‘melompat’ dari satu asteroid ke asteroid lain, dan menyerang lawan-lawannya dengan teramat ganas.

Aksi Geara Zulu ataupun mecha-mecha ESFS lain sayangnya tak banyak ditampilkan. Tapi kita melihat lebih banyak aksi pasukan MS ReZEL yang di dalamnya Riddhe menjadi anggota. MS Delta Plus kembangan Hyaku Shiki yang selama ini kunanti-nanti, meski belum sampai digunakan di medan perang, juga telah melakukan kemunculannya. (Aku berniat membeli model kit MS ini, tapi belum apa-apa stoknya sudah habis di tempat langgananku. Terus terang saja kenyataan ini masih membuatku syok. Argh, tak ada pilihan selain menunggu sampai diproduksi lagi.)

Soal adegan-adegan pertarungannya sendiri, sayangnya tak banyak yang bisa dikatakan kali ini. Mengingat porsinya jauh lebih sedikit dibandingkan segala ketegangan yang berlangsung di episode 1. Sisi pertentangan ideologi dalam cerita lebih banyak ditonjolkan. Lalu ada banyak–banyak sekali–referensi terhadap seri-seri Gundam terdahulu. Sehingga mungkin mereka-mereka yang bukan penggemar Gundam era UC akan sedikit ‘kehilangan arah’ di beberapa bagian.

Karena sebagian besar episode ini berlatar di luar angkasa, sebenarnya tak banyak yang bisa kukatakan soal desain latar. Desain interior Nahel Argama untuk suatu alasan terkesan lebih keren dibandingkan sebelumnya. Maksudku, dibandingkan kemunculannya di ZZ Gundam, suasana di dalam kapal benar-benar dibuat lebih hidup dan nyaman. Area penuh sampah angkasa di mana bentrokan dengan Full Frontal terjadi, karena itu bekas medan perang, tak banyak yang bisa kukatakan soal itu. Tapi bila ada satu latar yang sebenarnya mencengangkan, maka itu adalah bagian dalam asteroid Palau, yang sayangnya hanya muncul pada menit-menit akhir. Sepertinya tempat tersebut akan menjadi medan konflik baru di episode berikut. Tapi soal itu, tentunya kita masih harus melihat nanti.

Licht Meer

Dengan banyaknya dialog, episode kali ini bertempo jauh lebih cepat dibandingkan yang sebelumnya. Pada saat yang sama, alurnya juga menjadi lebih sulit untuk diikuti. Kesan seri ini juga kembali seperti anime-anime Gundam lama di era saat Yoshiyuki Tomino masih menjadi sutradara. Tamat episode ini lebih menggantung, dan kurasa ada beberapa bagian dari novel aslinya yang sengaja dilewat. Tapi meski begitu, episode ini tetap memikat dan seru kok. Visualnya tetap enak dipandang (apalagi yang versi BD) dan musik orkestra latar yang dikomposisi Hiroyuki Sawano semakin keren dalam membangun suasana.

Dan ya, cerita yang disampaikan di episode ini memang cuma segitu. Tapi masa penantian untuk episode ketiga konon takkan se-lama yang episode ini. (Aku ngeliat episode ini aja nyadar bahwa proses editing-nya pasti gila-gilaan)

Dan ya lagi, Alberto dengan segala kelicikannya memang benar-benar tokoh yang brengsek.

Iklan

2 Komentar to “Gundam Unicorn OVA 2: The Second Coming of Char”

  1. Banagher mungkin pilot MS paling kaya di era UC 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: