Utsuro no Hako to Zero no Maria

Utsuro no Hako to Zero no Maria karya Eiji Mikage, dengan ilustrasi yang dibuat oleh Tetsuo ini, merupakan seri ranobe yang belakangan kuikuti di situs Baka-Tsuki.

Mulanya, aku tak terlalu berminat membacanya, karena premis ceritanya yang begitu enggak jelas. Aku benci segala premis cerita yang enggak jelas. Tapi ada daya tarik lebih yang seri ini miliki pada sisi intrik dan misteri. Lalu karena aku merasa aku sudah lama tak membaca cerita-cerita kayak begini, tanpa kusadari tahu-tahu aku sudah membaca habis terjemahan dari ketiga bukunya yang sudah tersedia.

Judulnya sendiri kurang lebih berarti ‘kotak kehampaan dan Maria-nya Zero (ke-nol).’ Judulnya secara tak langsung mengindikasikan isinya yang enggak jelas. Lalu waktu aku bilang premis ceritanya enggak jelas, yang kumaksud adalah ceritanya beneran enggak jelas.

Tokoh-tokohnya bisa dikatakan ‘sakit’ dengan cara yang serupa dengan ‘sakitnya’ tokoh-tokoh TYPE-MOON. Masing-masing episode cerita ini berlangsung dalam suatu setting yang sedemikian terbatas, sampai-sampai kau kadang merasa yang kau baca bukan ranobe, melainkan sebuah visual novel. Jadi kalau kau tak suka cerita-cerita bernuansa gelap dan psychotic kayak begini, kusarankan kau cepat-cepat menjauh.

Eh, tapi meski ceritanya ‘sakit’ dan ‘psychotic,’ tingkat ‘sakit’ dan ‘psychotic’ tak sampai sejauh itu sih…

Tapi mungkin justru karena tingkatannya yang setengah-setengah itulah maka cerita ini bisa cukup berbahaya.

Yang pasti, cerita yang sepenuhnya seputar remaja ini mengangkat tema-tema supernatural, obsesifitas, delusi-delusi aneh, dan segala unsur gelap dan rumit lain yang tak semua orang sukai. Jangan baca ini bila kau merasa tak bisa menerima hal-hal di atas.

Kotak

Inti cerita Hakomari adalah konflik seputar Kotak.

Pada suatu hari, kelas Kazuki Hoshino kedatangan seorang murid baru. Murid baru itu adalah seorang cewek sangat cantik bernama Aya Otonashi. Tapi di hari pertama kemunculannya di kelas, cewek itu sudah membuat pernyataan mencengangkan: bahwa satu-satunya hal yang menarik perhatiannya di sekolah itu hanya satu, yakni Kazuki Hoshino sendiri. Dengan kata lain, Kazuki-lah satu-satunya alasan mengapa Aya pindah sekolah kemari.

Pernyataan yang biasanya diartikan sebagai pernyataan cinta oleh kebanyakan orang itu sebenarnya adalah pernyataan perang. Meski tak mengungkapkannya ke orang banyak, Aya memandang Kazuki bertanggung jawab akan suatu ‘kejahatan’ di masa lampau. Aya muncul sebagai murid pindahan untuk membuktikan bahwa Kazuki-lah pelaku ‘kejahatan’ itu.

Dengan kata lain, Aya Otonashi tampil sebagai musuh Kazuki Hoshino. Dan inilah yang menuai persoalan bagi Kazuki.

Kazuki ceritanya adalah seorang cowok lemah lembut dengan tampang baik hati yang dalam hidup ini sebenarnya hanya menginginkan satu hal saja: agar kehidupan normalnya dapat terus berlanjut sebagaimana biasa. Pada perkembangan cerita lebih lanjut, akan diperlihatkan betapa jauhnya Kazuki rela berusaha demi mempertahankan kehidupan normalnya ini. Obsesi Kazuki terhadap ‘kehidupan normal’ ini bisa dibilang mencapai tingkat yang lumayan disturbing.

Pada pertengahan buku pertama, motif Aya memusuhi Kazuki terjelaskan lewat dugaannya bahwa Kazuki adalah seorang pemilik Kotak. Dugaan bahwa Kazuki memiliki Kotak itulah ‘kejahatan’ yang dengan sekuat tenaga ingin Aya buktikan.

Apa sebenarnya Kotak yang Aya maksud?

Kotak yang Aya maksud adalah kotak-kotak ajaib yang bisa didapatkan dari sebuah sosok semi-gaib misterius bernama 0 (baca: zero). o ceritanya membagi-bagikan Kotak-kotak tersebut kepada individu-individu tertentu sebagai bentuk ujiannya terhadap umat manusia. Kotak ini memiliki kekuatan untuk mengabulkan permintaan sang pemilik sampai ke taraf yang sesuai dengan tingkat keyakinannya, sekalipun dengan dikabulkannya permintaan itu kenyataan yang dikenal oleh orang bersangkutan akan sampai terdistorsi.

Melalui Aya, Kazuki kemudian memperoleh ingatan sesungguhnya yang membuatnya tersadar bahwa ia, beserta semua orang dalam kehidupannya, telah secara terus menerus mengulangi hari yang sama sampai belasan ribu kali.

The Repeating Classroom

Siklus aneh yang telah berlangsung lebih lama dari rentang hidup manusia normal inilah yang tengah berusaha Aya putuskan. Aya, di samping sang pemilik Kotak yang menyebabkan fenomena ini, merupakan satu-satunya orang yang masih mempertahankan ingatan mengenai apa-apa yang terjadi pada setiap siklus. Kejadian-kejadian dalam satu hari yang terus berulang ini lambat laun menjadi siksaan bagi Aya.

Karena Kazuki pada beberapa kesempatan sempat memperlihatkan indikasi bahwa iapun mengingat apa yang terjadi pada siklus-siklus yang telah lalu, Aya curiga bahwa Kazuki-lah biang kerok dari fenomena ini. Maka Aya ingin menuntut agar Kazuki menghentikan fenomena ini dan membuat dunia kembali menjadi normal.

Tapi mengapa Aya juga bisa mempertahankan ingatannya? Keistimewaan apa yang ia miliki hingga bisa turut terjebak dalam situasi ini?

Identitas asli Aya yang sesungguhnya rupanya adalah Maria, seorang gadis yang kehilangan segala yang dimilikinya akibat permohonan yang diajukannya pada Kotak-nya sendiri. Maria rupanya pernah diberi Kotak oleh 0, dan kemudian menggunakan Kotak-nya tersebut, karena hubungan keluarganya yang kurang baik, untuk mengubah dirinya menjadi orang yang dapat memenuhi pengharapan-pengharapan orang lain. Dengan demikian, tanpa disadarinya, secara tak langsung Maria kemudian diubah menjadi manusia yang memiliki fungsi yang sama seperti Kotak.

Sebagai Kotak, Maria kemudian kehilangan keterikatannya terhadap dunia. Segala yang dulu dimilikinya lenyap. Ia kehilangan harta benda, identitas, dan bahkan keluarga dan teman-temannya. Lalu pada saat yang sama, karena dirinya menjadi Kotak, di dalam diri Maria kemudian tertanam sifat self-sacrifice yang begitu besar, tersembunyi di balik eksterior-nya yang dingin, yang membuat Maria sedemikian tidak sudi melihat orang lain menderita—sekalipun orang menderita bersangkutan sebenarnya tidak pantas untuk dikasihani.

Maria diubah menjadi seseorang orang yang makna keberadaannya semata-mata adalah demi orang lain.

Tujuan akhir Maria yang sesungguhnya adalah mendapatkan Kotak yang baru, agar ia bisa mengajukan permohonan untuk mendapatkan kembali segala miliknya yang telah dihilangkan akibat permohonannya yang sebelumnya. Karenanya ia mengejar-ngejar orang-orang yang memiliki Kotak, karena yakin bahwa dengan demikianlah ia akan bisa berjumpa dengan 0 kembali.

Di sisi lain, Kazuki sendiri pun terungkap sebagai suatu kasus langka, di mana ia merupakan satu-satunya orang yang pernah menolak tawaran Kotak dari 0. Kecintaan Kazuki yang begitu mendalam terhadap kehidupan normal rupanya telah membuatnya merasa bahwa Kotak yang dapat memutarbalikkan kenyataan merupakan sesuatu yang sama sekali tak ada artinya.

Konsekuensi yang didapatnya dari penolakannya tersebut adalah bahwa sekalipun tak memiliki Kotak, ia menjadi seseorang yang bisa mengingat secara bawah sadar keberadaan Kotak serta pertemuannya dengan 0, dua hal yang sebenarnya tak mungkin bisa diingat oleh orang-orang yang sama sekali tak ada kaitannya dengan urusan Kotak ini. Penolakan tersebut sekaligus menarik perhatian 0 terhadapnya, dan membuat 0 secara aktif memberikan Kotak pada orang-orang di sekeliling Kazuki.

Dengan demikian secara tidak langsung membuat kehidupan Kazuki bagaikan neraka.

Kazuki dan Maria pada akhirnya berkerjasama dan sepakat untuk tidak tunduk pada kemauan 0.

Dalam penyelidikan lanjutan mereka akan siapa pemilik Kotak yang sesungguhnya, mereka kemudian memutuskan untuk melibatkan orang-orang terpercaya di sekeliling Kazuki: Mogi, gadis yang dicintai Kazuki; Daiya, sahabat Kazuki yang bengal namun cool; Kokone, sahabat perempuan Kazuki yang ceria dan feminin; serta Haruaki, sahabat Kazuki yang bersumpah akan berada di pihaknya dalam keadaan apapun.

Namun meski teka-teki kelas berulang itu akhirnya terpecahkan, rangkaian ujian yang dipersiapkan 0 bagi Kazuki rupanya tak berakhir begitu saja…

Agak Susah Diikuti

Banyak detil dari cerita ini susah diikuti. Serius. Ada juga pengulangan dari tema-tema pengorbanan, kehilangan ingatan, permainan psikologis, dan sebagainya, yang semakin membuat beberapa bagian dari cerita ini sukar dicerna.

Itu tak masalah sih. Mengingat cerita ini sendiri tak begitu realistis. Dan memang tak banyak hal yang bisa kita dapatkan dari mengikuti seri ini, selain pemahaman lebih lanjut akan sejauh mana orang bisa menyimpang semata-mata karena pola pikir yang berbeda. Sangat minimnya peranan orang dewasa dalam cerita ini juga sama sekali tak membantu. Tapi anehnya, mungkin karena sisi imajinatifnya, aku tak dapat membenci cerita ini untuk suatu alasan.

Cerita ini nyaris sepenuhnya diceritakan dari sudut pandang pertama Kazuki, dan setiap kalimat yang dapat menjadi petunjuk bagi pemecahan misteri senantiasa ditandai secara khusus. Satu hal yang cukup mengejutkan dari cerita ini adalah betapa segala sesuatu benar-benar kerap tak seperti yang terlihat. Jadi yah, ada sedikit pembelajaran teknis soal menulis yang kudapat dari mengikuti cerita ini.

Pada akhirnya, meski sangat menarik, cerita ini bukanlah sesuatu yang perlu ditanggapi dengan teramat serius.

Hmm, apa nanti bakal ada anime-nya ya?

Iklan

5 Komentar to “Utsuro no Hako to Zero no Maria”

  1. Barusan nemu ini cerita. Sependapat. Membingungkan. Tapi aku nggak akan give up gitu aja sih, soal.a aku udh terlanjur penasaran sm cerita ini

  2. wah, memangnya kenapa? katanya nggak begitu ‘sakit’? Mencurigakan anda ini.. haha XD

  3. kakak baca seri ke 2 sama ke 3 nya dimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: