Dragon Quest: Dai no Daiboken

Belum lama ini aku membaca manga Dragon Quest: Dai no Daiboken sampai tamat. Manga yang sebenarnya sudah terbit dan tamat di era 90an–sebelum diterbitkan kembali dalam format bunko– ini terhitung legendaris karena merupakan upaya pertama untuk memaparkan sebuah kisah Dragon Quest ke dalam bentuk manga.

Eh? Kalian enggak tau Dragon Quest?

Itu loh, franchise RPG buatan Enix yang menjadi tandingan terbesar Final Fantasy di Jepang! Franchise ini memang tak menonjolkan keindahan grafis dan inovasi sistem seperti layaknya game-game Final Fantasy. Tapi dengan kesederhanaan presentasi dan sistem permainannya, Dragon Quest dikenal karena memaparkan tema baik versus jahat lewat cerita-cerita yang acapkali menyentuh.

Saking fanatiknya para penggemar, sudah bukan suatu hal aneh jika ada seorang pemain yang karena sedemikian larutnya dalam permainan, sampai bermain berjam-jam dalam satu sesi. Game-game Dragon Quest bahkan sampai dilarang oleh pemerintah untuk dirilis di hari kerja, karena sudah dipastikan akan ada banyak orang yang akan membolos kerja dan sekolah agar bisa mengantri dan membelinya.

Suatu pihak, entah persisnya siapa, kemudian memutuskan untuk mengangkat konsep permainan cetusan Yuji Horii ini ke bentuk manga. Riku Sanjo (yang belakangan dikenal sebagai orang yang menangani naskah Kamen Rider W) dipercaya menangani naskah. Sementara Koji Inada (yang gaya gambarnya sangat mirip desain karakter orisinal Akira Toriyama) menangani artwork. (Catatan: yea, kali ini nama kecil di depan; aku tau ini ga sesuai kebiasaanku, tapi aku selalu menulis ini dalam bentuk yang sesuai materi acuan yang aku dapatkan)

Adventure!

Eniwei, manga yang memiliki nilai sentimentil tinggi buatku ini (karena aku pertama membacanya pas SD) mengisahkan petualangan Dai, seorang bocah misterius yang hidup bersama para monster baik hati di Pulau Delmurin yang terpencil. Ia diasuh oleh seorang monster tua bernama Brass yang bertindak sebagai orangtua baginya, yang mengajarkan tingkah laku dan sopan santun sebagai manusia.

Bagaimana anak manusia seperti Dai bisa sampai ke pulau ini sudah pasti akan dijelaskan kemudian. Tapi petualangan besarnya bermula saat sekelompok pahlawan gadungan mendatangi pulau tersebut demi ‘menculik’ Gome-chan, teman monster Dai yang diduga merupakan seekor golden metal slime, spesies monster terlangka yang ada di dunia. Dai dengan susah payah menyebrangi lautan dan menyusul para penculik itu ke Kerajaan Romos di mana Gome-chan hendak dipersembahkan kepada sang raja. Di saat yang sama, Dai sekaligus membuktikan bahwa dirinya memiliki ciri-ciri untuk menjadi pahlawan yang sesungguhnya. (sosok ‘pahlawan’ yang akan menaklukkan kejahatan memang menjadi tema utama dalam seri-seri Dragon Quest)

Petualangan Dai yang kedua terjadi tatkala pulaunya kedatangan Putri Leona yang berasal dari Kerajaan Papunika. Gadis cantik yang kurang lebih sebaya dengan Dai ini datang ke Delmurin dengan maksud untuk menjalani ritual kedewasaannya. Mereka berdua akhirnya bersahabat, dan Dai menemaninya sebagai penunjuk jalan. Tapi akibat campur tangan sejumlah pihak yang tak bertanggung jawab, segala sesuatunya ternyata tidak berjalan sesuai rencana…

Terlepas dari itu semua, petualangan Dai yang sesungguhnya baru dimulai pada cerita yang ketiga, yang sekaligus menandai awal dimulainya serialisasi manga ini di majalah (kedua bab cerita pendek sebelumnya menuai tanggapan postif yang tak disangka, karenanya manga ini diputuskan untuk diserialisasikan).

Delmurin dikisahkan kedatangan Avan, sang pahlawan legendaris yang jenius, beserta muridnya yang agak tidak bisa diandalkan dan sedikit lebih tua dari Dai, Pop. Avan dikenal sebagai pahlawan karena dirinyalah yang telah menaklukkan Raja Iblis Hadlar, yang beberapa tahun lalu berupaya menguasai dunia. Ia datang ke Delmurin bersama Pop karena mendapat referensi tentang ‘seorang bibit pahlawan’ dari raja Kerajaan Romos sekaligus Putri Leona dari Papunika. Avan berkelana keliling dunia mencari bibit unggul untuk dia latih karena percaya bahwa suatu saat, kejahatan akan kembali mengancam dunia lagi. Tanda-tanda mengenai hal tersebut bahkan sudah muncul dengan berlangsungnya sejumlah keanehan di alam dan semakin mengganasnya monster-monster yang tersebar di seluruh dunia akibat pengaruh sihir jahat dari sang Raja Iblis.

Penggemblengan Dai di Pulau Delmurin bersama Pop harus berakhir singkat karena sesuai perkiraan Avan, Hadlar telah bangkit kembali dari kematian. Raja Iblis tersebut tiba-tiba saja muncul di Delmurin dan menantang Avan bertaruh nyawa. Ia menjelaskan bahwa ia hidup kembali dan kini memiliki tubuh baru adalah berkat kekuatan ‘tuannya’ yang maha dahsyat. Hadlar, yang disebut-sebut sebagai ‘Raja Iblis’ oleh para manusia, ternyata hanyalah pelayan dari Raja Iblis yang sesungguhnya, Vearn, yang bahkan belum melakukan kemunculannya di muka bumi.

Terdesak dan dikejutkan oleh pembeberan ini, Avan kemudian mengorbankan diri demi melindungi kedua muridnya beserta para monster di Pulau Delmurin. Avan digambarkan lenyap tanpa bekas, sementara Hadlar yang terluka parah memutuskan untuk mundur setelah menyaksikan bangkitnya kekuatan misterius yang tak dapat dipahaminya dari dalam diri Dai. Itulah saat Dai akhirnya bisa menggunakan jurus pedang sakti yang Avan wariskan padanya: Avan Strash, yang kemudian menjadi jurus pamungkas andalannya.

Sesudah bangkit dari kesedihan yang mendalam, Dai dan Pop akhirnya sepakat bahwa sebagai murid-murid Avan, sekalipun peluang untuk menang terlihat teramat tipis, mereka tetap harus melanjutkan perjuangan guru mereka. Maka dengan ditemani Gome-chan, mereka kemudian berangkat menuju Kerajaan Romos yang menurut kabar telah menjadi salah satu tempat yang telah diserang.

Dalam perjalanan, Dai dan Pop kemudian bertemu Marm, putri seorang penyembuh yang ternyata adalah murid lainnya dari Avan. Marm mendapat didikan dari Avan dari waktu kecil karena kedua orangtuanya adalah teman seperjalanan Avan dalam petualangan terdahulu untuk menjatuhkan Hadlar. Bertiga, mereka melakukan perjalanan bersama-sama dan berhadapan dengan Enam Jendral yang telah Hadlar utus untuk menguasai dunia dan membinasakan umat manusia: Crocodaine, penguasa monster dan hewan buas; Hyunkel, pemimpin tentara undead; Flazzard, yang menguasai unsur api dan es; Baran, pemimpin pasukan naga; Zaboera, yang mengendalikan pasukan penyihir; serta Myst-Vearn, yang memiliki kuasa atas tentara bayang-bayang yang tak berbentuk.

Setiap kali mereka terdesak, kekuatan dahsyat yang tersembunyi dari dalam diri Dai-lah yang berulangkali menyelamatkan mereka. Kekuatan ini bangkit seiring dengan munculnya tanda segel misterius di dahi Dai, yang belakangan terungkap sebagai tanda bahwa Dai adalah seorang Ksatria Naga.

Dalam cerita-cerita kuno yang nyaris terlupakan, para Ksatria Naga dikatakan sebagai sosok-sosok istimewa yang diutus oleh Langit (‘tenkai’) setiap kali ada ancaman yang dapat merusak keseimbangan antara ketiga dunia. Tapi bagaimana mungkin Dai yang masih anak-anak bisa sampai diutus oleh langit, bila dulu ia muncul sebagai bayi di Pulau Delmurin? Siapa sebenarnya Dai? Apa makna kehadirannya?

Dai dan kawan-kawannya kemudian bertemu berbagai orang dan mendapat berbagai kawan maupun lawan dalam perjalanan mereka keliling dunia. Cerita semakin menarik saat Hyunkel yang sebenarnya adalah manusia juga pernah menjadi murid Avan, serta Baran yang karismatik juga memiliki tanda segel yang sama dengan Dai. Seiring petualangan mereka, asal-usul Dai beserta wujud sebenarnya dari sosok yang berupaya menguasai dunia secara perlahan-lahan semakin terungkap…

Ya, RPG banget, tapi…

Dalam evolusinya, Dai no Daiboken secara perlahan menampilkan elemen-elemen baru yang bahkan belum pernah ada dalam seri game-nya. Tapi inti dasarnya tetap sama, dan penggemar DQ manapun bisa merasakan itu bila membaca manga ini.

Seperti halnya dalam game DQ, pemaparan cerita dalam manga ini seringkali teramat dramatis. Saking dramatisnya, seringkali pembaca dibuat gregetan karena duo pengarang yang membuat ini dengan sengaja begitu melambatkan alur dalam mengisahkan apa-apa yang terjadi, baik melalui penggambaran halaman-halaman yang isinya hanya gambar tanpa dialog, maupun lewat frameframe yang sepenuhnya difokuskan pada dialog meski adegannya sebenarnya bisa dipadukan dengan gerakan (ya, seperti di era Dragon Ball zaman dulu).

Tapi seperti halnya sebuah game DQ pula, Dai no Daiboken berakhir sebagai cerita yang lumayan epic. Dalam rentang 349 bab komik yang menyusun cerita ini, kita bisa melihat perkembangan teramat besar pada plot maupun karakter-karakternya. Lalu dengan tamat yang membentuk full circle, ada kepuasan tersendiri saat akhirnya bisa membaca manga ini sampai tamat. Dai yang polos dan jujur menerima takdirnya sebagai seorang pahlawan, Pop yang sebelumnya pengecut tumbuh menjadi sahabat sejati yang bisa diandalkan, dan hingga menjelang akhirpun, para musuh yang menjadi kawan dengan sengaja diberi waktu untuk menjadi tokoh-tokoh yang simpatik.

Memang Riku Sanjo punya kecendrungan buruk untuk menyelesaikan permasalahan yang berlangsung dengan memasukkan beragam deus ex machina di dalam ceritanya (sekalipun sesudahnya ia selalu bisa memberikan alasan bagus yang koheren dengan plot). Tapi tak bisa disangkal bahwa dengan demikian pula ia menampilkan sejumlah adegan dan perkembangan cerita yang benar-benar keren untuk ukuran shounen manga.

Yah, dengan durasinya yang panjang dan narasinya yang terkadang agak bertele, mungkin ini bukan jenis manga yang akan kurekomendasikan. Tapi dengan temanya tentang kehormatan, kekeluargaan, persahabatan, dan semangat pantang menyerah, aku suka.

Yea, aku suka.

(BTW, the SO guys deserve some credit!)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: