B Gata H Kei (preview)

Aku malu mengakuinya, tapi dari semua judul baru yang muncul di musim semi ini, inilah judul baru yang pertama kali aku coba tonton. (Jangan tanya aku, aku juga kurang ngeh judulnya ini maksudnya apaan)

Ceritanya tentang seorang cewek remaja cantik bernama Yamada (nama kecilnya belum diungkap) yang entah karena keingintahuannya yang berlebih atau apa, bercita-cita untuk memiliki 100 teman pria untuk berhubungan intim. Tapi ironisnya, ia tidak percaya diri karena merasa bahwa ‘itu’-nya memiliki bentuk aneh. Maka dari itu ia memutuskan untuk ‘melakukannya’ (100 kali) hanya dengan para perjaka saja(!). Tapi masalah lagi-lagi muncul gara-gara karena terus minder oleh bentuk ‘itu’-nya, ia tumbuh menjadi seorang cewek berkesan dingin yang sama sekali ga tau cara berhubungan dengan cowok.

Tentu saja reaksi pertamaku terhadap premisnya adalah “WTF?! Sampah macam apaan nih?!” Tapi begonya aku tetap saja menonton episode pertama itu karena penasaran.

Pokoknya, cerita kemudian bergulir saat pada suatu hari di toko buku ia bertabrakan dengan seorang cowok berpenampilan datar (cowok biasa ini sebenernya punya nama, cuma saking enggak berkesannya dia, namanya sekarang aku lupa) yang kemudian ia pandang cocok untuk dijadikan ‘mangsa’ pertamanya. Untungnya lagi, si cowok ini ternyata duduk bersebelahan dengannya di kelas (semester baru ceritanya baru dimulai). Maka dimulailah segala upaya si Yamada ini untuk ‘menaklukkan’ si cowok yang sejauh ini berakhir dengan hasil mengerikan dan… aduh, aku ga tau kata apa yang tepat. (Sebagai contoh, si Yamada bahkan telat nyadar bahwa proses ciuman biasanya mendahului hubungan seks)

Si cowok malang yang menjadi targetnya ini  ga punya gambaran sama sekali mengenai apa sebenarnya yang sedang terjadi!

Seumur hidup aku ga pernah ngebayangin ada orang yang bisa kepikiran cerita kayak gini. Apa ini realistis? Udah jelas enggak. Apa ini cuma buat lucu-lucuan? Entah ya, soalnya temanya agak terlalu ‘berat’ buat dijadiin lelucon. Bahkan ada seorang reviewer anime profesional yang secara terang-terangan menyebut idenya aja udah terbilang ofensif. Kalopun ada seorang cewek yang bertekad memetik keperjakaan 100 cowok, aku yakin dia ga akan bakal bersifat kayak si Yamada. Kita enggak bisa ketawa karena adegan-adegannya terlalu vulgar. Kita juga enggak bisa serius karena ide ceritanya saja sudah konyol. Jadilah kita dibuat hanya bisa mendesis-desis “Oh my god…” di sepanjang cerita tanpa tahu lagi harus berbuat apa.

(Aku bahkan sampai kepikiran buat menghubungi hotline Pentagon dan meminta mereka meluncurkan ICBM ke studio anime manapun yang memproduksi ini.)

Tapi meski aku mencaci-maki sekarang, aku akan tertap berusaha objektif dan mencoba memahami apa maksud sebenarnya dari pihak yang membuat ini.

Oh tidaaak. Itu berarti aku akan mengikutinya…

Ya sudahlah. Bagaimana nanti saja.

Ah, soal aspek presentasinya… baik visual maupun animasinya tak terlalu menonjol kok. Emang ga jelek sih, tapi juga ga istimewa. Apalagi dengan konsep awal kayak begini.

Iklan

About this entry