Baka to Testo to Shokanjuu

Sebenarnya aku kurang suka dengan genre love comedy. Serial love comedy terakhir yang kutonton adalah season pertama Nogizaka Haruka no Himitsu, yang hingga sekarang pun masih tak yakin kutonton karena apa. (Apa aku… telah dicuci otak?)

Eniwei, terlepas dari itu, aku mulai nonton Baka to Testo to Shokanjuu (Orang-orang Bodoh dan Tes dan Makhluk-makhluk Panggilan) mengingat betapa tak ada lagi tontonan menarik di musim yang lalu. Meski semula kubayangkan akan berakhir sebagai tontonan love comedy generik, terlepas dari idenya, harus kuakui kalo aku mulai nonton karena menilai episode-episode awalnya lumayan lucu.

Tapi belakangan kudapati pilihan naluriku ternyata tepat. Sesudah aku menontonnya hingga akhir, BakaTesto bisa dibilang berakhir jauh lebih bagus dari apapun yang semula kubayangkan..

Enggak mungkin ada orang sebodoh itu ‘kan?

Diangkat dari seri ranobe karya Kenji Inoue (kalo ga salah), BakaTesto berlatar di Fumizuki Gakuen, di mana selain lewat proses ujian, evaluasi untuk para murid juga dilakukan melalui metode canggih di mana setiap murid, atas seizin seorang guru, bisa memanggil shokanjuu (summoned beings, makhluk panggilan, itu loh, seperti yang di RPG). Shokanjuu ini lucunya berupa versi chibi dari sang murid sendiri. Shokanjuu digunakan dalam pertandingan adu kekuatan melawan shokanjuu murid-murid kelas lain. Kekuatan shokanjuu seorang murid bergantung pada seberapa baik nilai-nilainya pada hasil ujiannya yang terakhir. Sedangkan aApa yang dipertaruhkan lewat acara saling adu shokanjuu ini tak lain adalah fasilitas-fasilitas ruang kelas.

Murid-murid kelas A, yang memiliki nilai-nilai paling bagus ditempatkan, bersekolah setiap hari dengan laptop(!), layar TV plasma(!), bantal-bantal dan sofa empuk(!), dan beraneka minuman dingin yang selalu siap sedia(!).

Sedangkan murid-murid kelas F, yang notabene secara akademis merupakan murid-murid paling goblok di angkatan mereka, harus bertahan hidup di dalam ruang kelas bobrok dengan papan-papan kardus bekas sebagai meja(!), dan sebotol lem serbaguna untuk memperbaiki barang apapun yang tiba-tiba rusak.

Satu babak ‘perang’ antar kelas ini baru dinyatakan berakhir bila shokanjuu ketua murid dari salah satu kelas dinyatakan KO (jadi ada unsur strategi dan pembagian ‘pasukan’ dalam setiap ‘pertempuran’ ini). Mata pelajaran apa yang menjadi acuan, yang menentukan kekuatan shokanjuu, ditentukan berdasarkan guru mata pelajaran apa yang ‘diseret’ para murid untuk menjadi juri. Kelas yang menang dalam adu shokanjuu ini kemudian diperbolehkan  bertukar fasilitas dengan murid-murid kelas yang kalah. Dengan demikian, kompetisi untuk meraih nilai bagus dalam ujian di antara para murid diharapkan akan tetap terjaga.

Kamu bahkan tetap ngarang jawaban ngawur di soal pilihan berganda?!

Sudah bisa ditebak, inti cerita serial ini adalah tentang betapa para murid bodoh dari kelas 2-F berupaya menjatuhkan kelas 2-A dalam adu shokanjuu demi bisa mengambil alih fasilitas mewah mereka. Di bawah kepemimpinan Sakamoto Yuuji, sang ketua murid yang dulu dikenal sebagai bocah jenius tapi belakangan jadi pemalas, murid-murid kelas F bermaksud menuntut keadilan demi Himeji Mizuki yang bertubuh lemah.

Himeji adalah seorang siswi cantik baik hati yang dengan kecerdasannya dan nilai-nilainya yang bagus, sebenarnya bisa masuk kelas A, tapi akhirnya malah masuk kelas F karena kebetulan ia jatuh sakit di hari pelaksanaan ujian penempatan. Para tokoh lain yang menonjol dari kelas F adalah Shimada Minami, seorang gadis berdada rata yang mengalami kesulitan baca kanji gara-gara kelamaan di luar negeri, sehingga nilainya yang bagus cuma ada di mata pelajaran matematika saja; Kinoshita Hideyoshi, seorang cowok berwajah cantik yang kerap diangankan oleh para jomblo di sekelilingnya sebagai seorang cewek; serta Tsuchiya Kouta, fotografer mesum berbakat ninja yang memiliki database semua cewek cantik yang ada di sekolah, di samping nilai bagusnya dalam mata pelajaran kesehatan.

Tapi yang menginisiasi revolusi ini sendiri dan yang sekaligus menjadi tokoh utama, adalah murid yang katanya merupakan yang terbodoh dari yang terbodoh dalam sejarah Fumizuki Gakuen: Yoshii Akihisa, yang sehari-hari hidup dengan larutan gula dan garam karena kiriman uang saku dari kedua orangtuanya senantiasa ia gunakan untuk membeli game dan majalah alih-alih bahan makanan.

Ceritanya, sebagai murid dengan nilai paling jelek dari yang terjelek, sebagai bentuk hukuman, shokanjuu milik si Yoshii ini dianugrahi kelebihan berupa kemampuan untuk bantu-bantu dalam mengerjakan tugas-tugas fisik. Jadi selain bisa dipakai buat bantu-bantu mindah-mindahin barang, bersih-bersihin di tempat sempit, dsb., berbeda dengan shokanjuu murid-murid lain, apapun yang dirasakan oleh shokanjuu Yoshii juga akan dirasakan oleh Yoshii sendiri. Baik itu jotosan pelampiasan, enggak sengaja keinjek, pegal-pegal habis ngangkut-ngangkutin barang, ataupun luka-luka yang didapat dari acara adu shokanjuu sendiri (kalo enggak mana bisa posisi ini disebut sebagai posisi hukuman ‘kaan?). Hal inilah yang kemudian menjadi keunggulan lebih(?) yang dimanfaatkan oleh Yuuji dan para guru dalam menyelesaikan berbagai masalah yang kemudian terjadi.

Yah, intinya, keluguan/kegoblokan/sifat baik Yoshii itulah yang kemudian menjadi salah satu aset vital yang dimiliki kelas F.

…Yah, oke, mungkin enggak persis seperti itu sih.

Pokoknya inti cerita kemudian berkembang dengan mengisahkan tentang segala upaya Yoshii dan teman-temannya untuk bertahan hidup, menjalin hubungan timbal balik dengan para guru, terjalinnya cinta segitiga(?) antara Himeji, Shimada, dan Yoshii, hingga persaingan abadi mereka melawan kelas A yang tak lain tak bukan dipimpin oleh si cantik pendiam Kirishima Shouko.

Konyolnya, Shouko diceritakan adalah teman masa kecil Yuuji yang rupanya telah lama memendam cinta mati terhadapnya. Sifatnya teramat posesif dan ia akan melakukan hal-hal ekstrim demi menjaga agar Yuuji tak melirik cewek-cewek lain. Yang dengan demikian pula, ironisnya, akhirnya malah menjadikannya sering hang out bersama anak-anak kelas F, yang akhirnya pula semakin menegaskan betapa tak jelasnya mana hal yang penting dalam serial ini dan mana yang tidak…

Satu adegan konyol secara berkelanjutan disusul dengan adegan konyol lain, sehingga akhirnya… uh, ya, begitulah. Kau dapatkan tontonan mingguan yang ga jelek-jelek amat.

Ternyata aku memang orang yang sebodoh itu…

Mengenai kualitasnya sendiri, BakaTesto sebenarnya lumayan aneh. Ada beberapa episode yang emang bisa bikin orang nyengir dari awal sampai akhir, sembari sesekali ngakak. Tapi ada episode-episodenya yang lain yang anehnya terasa datar, yang hanya sesekali membuat kita mengernyit sambil mengejap-ngejapkan mata. Karena itulah sepanjang masa tayangnya aku lumayan skeptis dengan kualitas akhir seri ini.

Apalagi aku hampir tak tahu apa-apa soal proses produksinya. Tapi terlepas dari anomali eksekusinya itu, seri ini dari luar sudah terlihat menawan dengan warna-warnanya yang cerah dan kualitas animasinya yang bagus. Para seiyuu yang menyumbang suara pun jelas terkesan seperti having fun dalam pembuatannya, dengan peran-peran yang sepertinya mereka hayati dengan ‘agak terlalu mendalam.’

Baru sesudah menonton episode finalnya saja aku bisa bilang dengan tegas bahwa aku menyukai seri ini. Eksekusinya ternyata memang cukup bagus, karena sejumah hal kecil yang semula kelihatan ga berarti ternyata bisa diimplementasikan dalam pencapaian konklusi akhir cerita.

Terlepas dari itu, kalau kalian lagi ingin menonton sesuatu yang enggak berguna yang ‘beda’ dari apa-apa yang pernah ada (terutama yang punya komedi agak berlebihan dan lelucon-lelucon yang rada homo) maka judul ini akan kurekomendasikan. Kualitas seri ini telah terbukti dengan disepakatinya pembuatan season keduanya.

Seperti halnya love comedy kebanyakan, kau ga perlu berharap akan menemukan suatu pesan bermakna di dalamnya. (Yah, oke, kecuali mungkin pesan yang menyatakan bahwa ‘nilai sekolah itu bukanlah segala-galanya.’) Tapi aku berani menjamin kau akan menemukan suatu tontonan yang ‘beda.’

Cheers.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: C; Eksekusi: B-; Kepuasan Akhir: B+

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: