Sword Art Online

Jadi ceritanya, ada teman yang menyarankanku membaca light novel ini. Aku sebenarnya agak anti mengikuti segala cerita berbau MMORPG (karena membahas dan membesar-besarkan apa yang terjadi dalam sebuah game menurutku engga penting). Tapi Sword Art Online lumayan mengejutkanku dengan nuansa dunia yang kuat dan  perkembangan cerita yang tak biasa. Awalnya, aku membayangkan sesuatu yang mirip .hack (satu-satunya cerita bertema MMORPG yang agak bisa kuterima gitu). Tapi SAO ternyata jenis cerita yang jauh berbeda dan jauh lebih mudah dicerna dari apapun yang kusangka.

Ranobe karya Reki Kawahara ini berlatar di masa depan yang tak terlalu jauh, saat sebuah konsol game canggih bernama Nerve Gear akhirnya memiliki game ‘layak’-nya yang pertama (maksudnya, game yang bisa dinikmati oleh para gamer hardcore, bukan cuma game gampangan kayak puzzle atau point and click). Game itu adalah VRMMORPG termutakhir dalam sejarah: Sword Art Online.

Nerve Gear ini berbeda dengan konsol game zaman sekarang karena sepenuhnya memanipulasi sistem saraf manusia, menciptakan sebuah virtual reality yang sulit dibedakan dari dunia nyata . Pemain dapat sepenuhnya merasa berada di dalam dunia game. Segala sesuatu yang bisa dirasakan melalui kelima indera adalah sensasi-sensasi yang dihasilkan oleh game itu sendiri.

Kedengarannya keren? Yea, emang keren.

Sedangkan game-nya sendiri, SAO, ceritanya adalah game MMORPG pertama yang mengimplementasikan konsep virtual reality. Seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, diri pemain sungguh-sungguh serasa masuk ke ‘dunia lain’ yang merupakan alam permainan itu sendiri. Tanpa perlu menekan-nekan tombol untuk menggerakkan karakter atau apa. Tubuh fisik pemain sendiri yang serasa akan bergerak. Mereka bisa sampai mencium bebauan di udara dan merasakan tekstur permukaan benda-benda. Tapi kejutan ternyata tak berhenti sampai di sana.

The Castle in the Sky

SAO ternyata sangat berbeda dibandingkan MMORPG lainnya karena lebih menitikberatkan pada pertarungan-pertarungan melee. Yang lazim dikenal sebagai ‘magic’ di dalam RPG hampir tak ada di dalamnya. Para pemain bukan berarti harus bersusah payah belajar kaidah ilmu pedang dari awal. Mereka hanya cukup menempatkan diri dalam posisi kuda-kuda yang tepat, kemudian ‘sistem’ secara otomatis akan menjalankan skill yang hendak dilepas. Dengan demikian, pemain dengan kondisi fisik paling tidak fit sekalipun bisa melepaskan combocombo akrobatik nan brutal asalkan dia mengerti caranya (dan telah mencapai level yang cukup, dan telah meng-equip senjata yang tepat, dan telah mempelajari skill tersebut, dsb. dsb.). Para monster pun bertempur dengan cara serupa. Masing-masing monster memiliki pola-pola serangan tertentu yang harus bisa dibaca agar bisa dikalahkan. Sistem battle yang tidak mengikuti standar konvensional RPG kebanyakan inilah yang menjadi sumber kesulitan bagi banyak pemain pemula.

Yang disebut ‘dunia’-nya sendiri adalah sebuah kastil raksasa dari batu dan baja yang melayang-layang di langit luas yang tak bertepi. Kastil berukuran gila-gilaan ini bernama Aincrad, dan memiliki garis tengah sekitar 10 kilometer untuk lantai dasarnya saja. Secara keseluruhan, Aincrad tersusun atas 100 tingkat yang tertumpuk secara vertikal ke atas. Tersebar di keseratus lantai ini, ada kota-kota besar, kota-kota kecil, desa-desa, sebaran hutan dan padang rumput, bahkan danau-danau. Hanya ada satu set tangga pada setiap lantai yang menghubungkan lantai tersebut dengan lantai di atasnya. Setiap set tangga tersebut tersembunyi di dalam suatu dungeon yang dihuni oleh berbagai macam monster. Meski membutuhkan perjuangan yang tak mudah untuk menemukan dan menaiki tangga itu, begitu ada satu saja pemain yang berhasil mencapai lantai yang baru dan tiba di kota besar yang ada di sana, maka sebuah gerbang teleportasi yang menghubungkan ke lantai-lantai di bawahnya akan terbuka. Dengan demikian, pemain-pemain lain juga akan bisa berpindah ke sana dengan bebas.

Cerita ini berlatar sekitar dua tahun sesudah VRMMORPG ini pertama dibuka. Lantai teratas yang berhasil ditaklukkan sejauh ini adalah lantai ketujuh puluh empat. Di dalam dunia ajaib yang dipenuhi pertarungan-pertarungan pedang ini, terdapat sekitar enam ribu orang pemain yang masih terjebak tanpa bisa kembali ke dunia nyata.

….Uh, sekali lagi kutegaskan. Terjebak.

Tak ada pertolongan apapun dari dunia luar.

Pada hari pertama game dimulai, hanya beberapa jam sesudah server SAO baru pertama dibuka, semua pemain yang baru saja puas mencoba-coba dengan ngeri menyadari bahwa tombol log out tahu-tahu saja telah menghilang dari main menu masing-masing. Mula-mula, mereka mengira bahwa ada semacam glitch atau bug gitu di dalam sistemnya. Tapi saat kesepuluh ribu pemain tersebut kemudian dikumpulkan di kota pertama oleh sang pencipta Nerve Gear dan SAO yang juga merupakan jenius di bidang fisika kuantum, Kayaba Akihiko, dijelaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari permainan. Untuk suatu alasan yang tak seorangpun bisa sepenuhnya pahami, para pemain memang sengaja dibuat agar tak bisa log out dan mulai saat ini, harus menjalani SAO sebagai suatu realitas kedua bagi diri mereka masing-masing. Tak hanya itu, segala upaya untuk melakukan proses revival juga sama sekali takkan bekerja. Kehabisan HP di SAO bukan hanya menandai berakhirnya permainan, melainkan juga berakhirnya kehidupan di dunia nyata. Segala upaya untuk melepaskan Nerve Gear secara paksa sepenuhnya dilarang, dengan ancaman pelepasan gelombang mikro secara otomatis yang dapat melumerkan otak secara langsung. Satu-satunya cara untuk bisa lolos dari SAO adalah dengan menaklukkan lantai keseratus. Barulah dengan itu Kayaba menjanjikan jalan untuk log out

(….Mungkin penjelasanku di atas terdengar kampungan, tapi Reki Kawahara-sensei menjabarkannya dengan lumayan keren.)

Tokoh utama cerita ini adalah Kirito, salah seorang bekas beta-tester yang sesudah semua pengalaman yang dialaminya selama dua tahun terakhir, memutuskan untuk bertahan hidup di Aincrad sebagai soloist. Sampai suatu ketika ia menarik perhatian Asuna, salah seorang yang paling cantik dari sekian sedikit pemain perempuan yang ada di SAO, yang juga merupakan wakil ketua dalam guild terkuat saat itu, Knights of the Blood. Ketenaran yang Asuna miliki sekaligus ajakannya untuk bekerja sama kemudian menuai konflik dengan berbagai pemain lain, yang akhirnya berimbas pada perjuangan setiap orang untuk mencapai lantai teratas. Terlebih saat Kirito terungkap sebagai pemilik unique skill ‘Dual Blade’ yang tak dimiliki orang lain selain dirinya…

Secara garis besar, ranobe ini menawarkan jalan cerita yang lumayan tipikal. Ada seorang cowok payah dalam kehidupan nyata yang ‘terbawa ke dunia lain,’ yang kemudian menjadi hebat dan memikat cewek cantik, diiringi adegan-adegan pertarungan, komedi, dan sedikit fanservice. Singkatnya, mimpi seorang otaku.

Tapi semakin kubaca, tampaknya SAO menampilkan lebih dari itu deh. Bukan hanya nuansa dunia yang sangat kuat (segala logika MMORPG dipaparkan dengan detil di sini), SAO secara akurat berulangkali menampilkan potret sampai ‘seaneh apa’ manusia bisa berubah saat mereka ‘terjerumus’ di bawah tekanan. Tergambar dari bagaimana jumlah pemain yang melebihi 10.000 orang secara perlahan tapi pasti menyusut sampai 6.000 orang karena tiga alasan yang tak berubah: mati di dalam game, mati dibunuh pemain lain(!), atau mati bunuh diri. Terkadang penggambarannya memang bisa terasa berlebihan sih. Tapi nuansa berat yang dipaparkannya tak pernah benar-benar sampai terasa out-of-place.

Narasinya yang teramat runut dan tidak ngejelimet juga menjadi nilai plus. Dengan resep seperti ini, tak mengherankan betapa website seri ini sudah mencapai lebih dari satu juta hit meskipun seri ini masih terhitung relatif baru.

Ah, kayaknya aku udah bercerita terlalu banyak. Cukup sekian dulu deh.

Iklan

10 Komentar to “Sword Art Online”

  1. eh aku juga baca. Wah ternyata banyak jg orang indonesia yg baca…

  2. […] dan sedikit fanservice. […]

    Wait, what? Bukannya ada H-scene-nya, yah? ^^;;

    • Scene itu dimasukkan dalam bab ‘terpisah’. Dan lagipula scene itu engga seeksplisit H-scene kebanyakan kok. Eh, bukan itu intinya ya? ^^;;

      BTW. Blogmu menarik.

      • Tetap aja itu masih satu kesatuan dalam cerita, sekalipun emang agak ditutup-tutupi para penerjemahnya di Baka-Tsuki. Tapi sebenarnya juga nggak apa-apa sih kalau cuma ditulis fanservice aja, mengingat ini (chapter “16.5”) dihilangkan di versi paperback novelnya. Terjemahan yang beredar di internet pun juga nggak memasukkan chapter ini langsung ke dalam cerita. 😕

        BTW juga, terima kasih pujiannya. Mas/Mbak juga produktif dalam menulis.

      • bukan. aku cuma kurang kerjaan. mungkin. entahlah. aku juga enggak tau. eniwei, jangan segan buat komen. thanks juga.

  3. hmm… review yang bagus.
    saya juga baru baca ranobe yang satu ini, setelah direkomendasikan teman saya, yang juga Translator fansub saya.
    btw, chapter 16.5 ada di baka-tsuki. cari aja.

    • aku tau chapter 165 ada di baka-tsuki!!! >_<
      trims buat komennya. aku jarang berinteraksi ama kawan yang aktif di dunia fansub, jadi komen ini jadi kayak semacam kejutan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: