(Neo) Granzon & Shuu Shirakawa

Ini ga penting sih, tapi beberapa hari lalu, setelah sekian… tahun(!), akhirnya aku berhasil ngalahin true final boss dari Super Robot Wars 3 di SNES: Neo Granzon yang dikemudikan Shuu Shirakawa. Karena aku seorang gamer veteran, aku ga lagi kaget dengan kenyataan kalo game-game zaman dulu itu seringkali lebih susah dari game-game zaman sekarang. Tapi buset, kemunculan orisinil Neo Granzon ini, sekaligus taktik yang harus dipake buat ngalahin, bener-bener hampir di luar nalar. Apalagi SRW 3 itu game strategi, di mana orang biasanya enggak musingin soal keterampilan jemari tangan dan dengan begitu merasa enggak akan berhadapan dengan game ‘susah.’

Para penggemar game-game SRW (terutama seri SRW OG) pastinya tahu Shuu itu siapa. Ilmuwan muda yang sangat jenius nan misterius ini tak pernah menunjukkan secara jelas apakah ia sebenarnya kawan atau lawan di game-game SRW di mana ia tampil (bersama tentunya, pemuda buta arah berdarah panas yang senantiasa memburunya, Masaki Andoh). Hanya di beberapa game tertentu saja ia mengungkapkan(?) jati dirinya yang sesungguhnya beserta wujud sejati dari mechanya, Granzon. Game-game tersebut sejauh ini meliputi Super Robot Wars 3, Super Robot Wars Alpha Gaiden, dan Super Robot Wars Original Generation Gaiden (a.k.a OG 2.5). Pola kemunculannya pun sama, yakni sesudah bergabung dengan pihak pemain dan membantu kita menaklukkan bos-bos terakhir dari pihak antagonis, ia tiba-tiba saja tertawa, membangkitkan kekuatan Volkruss alias Shiva yang tersembunyi di dalam Granzon, kemudian berkata bahwa ia akan membunuh kita semua dan menghancurkan dunia. Ha ha ha ha ha ha!

…Enggak jelas? Sangat.

(Sedikit lebih banyak tentang kejelasan motifnya disinggung dalam Super Robot Wars EX, tapi aku sendiri masih belum tahu banyak soal ini, selain seperti halnya Ingram, Shuu pun selama ini dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu)

Stage di mana ia tampil sebagai bos terakhir ‘asli’ ini, selain di Alpha Gaiden, biasanya baru bisa didapatkan sesudah kita sebagai pemain menyelesaikan sejumlah kriteria khusus. Untuk kasus SRW 3, mencapai tahap terakhir permainan dengan jumlah putaran (turn) yang seminimal mungkin—suatu hal yang sebenernya enggak gampang bila mempertimbangkan rute-rute percabangan skenario SRW 3 yang enggak gampang ditebak.

Eniwei, soal Neo Granzon sendiri, ada beberapa alasan yang membuatnya menjadi lawan tangguh yang keterlaluan. Pertama, dia ditemani oleh sepasang replika Valcion. Kedua, ia memiliki serangan MAP yang sama dengan yang Dikastis miliki. Ketiga, ia memiliki I-Field yang menjadikan serangan-serangan beam yang menyusun sebagian besar persenjataan utama kita menjadi tak berpengaruh. Keempat, ia memiliki senjata jarak jauh apaa gitu (Distortion Beam?) yang berbasiskan amunisi, berjarak sekitar tujuh kotak, bisa ditembakkan sekitar tiga puluhan kali, yang sekali kena telak akan langsung menyingkirkan unit sasaran dari peta. Lalu kelima (ya, masih ada lagi), Neo Granzon memiliki tingkat defense dan jumlah HP yang gila-gilaan untuk ukuran game itu (enam puluh sekian ribu). Soal defense, karena Neo Granzon secara harfiah akan dikeroyok oleh pasukan kita, nilai Morale-nya dengan cepat akan mencapai batas maksimum (200) dan membuat tingkat serangan dan pertahanannya menjadi gila-gilaan.

Inilah alasan utama kenapa aku sempat berhenti memainkannya! Kupikir, mana mungkin kita bisa ngalahin monster kayak gini sih?! Ini enggak masuk akal! Mestinya aku enggak terlalu berfokus pada jumlah turn dan menghabiskan sebagian waktuku di stage-stage terdahulu untuk meningkatkan level pasukan! Soalnya di stage terakhir ini, bila kita mati, kita enggak berkesempatan mengulang pertempuran dengan nilai EXP yang enggak ilang kayak di stage-stage sebelumnya.

Lalu pada suatu hari, sepulang kantor, ada sesuatu dalam kepalaku yang tiba-tiba nyala. Ini emang kedengaran aneh sih, tapi entah mengapa tahu-tahu saja terpikir olehku gimana cara ngalahinnya.

Kuncinya yang pertama adalah dengan menguras energi dan amunisinya. Jaga jarak! Buat dia enggak bisa lagi ngelepasin serangan MAP dan distortion beam! Saat energi-nya juga akhirnya terkuras (berondong dia dengan beam!), serangan dahsyat miliknya yang lain yang menghabiskan 100 EN juga tak bisa digunakan! Bukan hanya itu, I-Field miliknya tak dapat lagi dipergunakan dan Neo Granzon jadi tak bisa bergerak!

Yah, saat mencobanya emang enggak segampang itu. Bisa bertahan hidup dari sekali tembakan Distortion Beam itu aja sudah untung. Apalagi membuat unit-unitku bertahan dari TIGA PULUH tembakan. Lalu energinya akan pulih sekitar 30 EN sesudah setiap giliran, jadi secara rutin dia mesti ditembaki dengan beam agar ia tak lagi bergerak, mengingat konsumsi energi untuk setiap kali penggunaan I-Field kalo enggak salah adalah 25 EN. Bila dia enggak bisa bergerak, dia enggak bisa melakukan serangan melee-nya yang berjarak satu kotak, dsb. dsb.

Meski langkah Neo Granzon akhirnya berhasil kumatikan, dengan unit-unit yang masih tersisa, aku tetap sempat ragu apa dia masih mungkin dikalahin. Soalnya, bahkan sesudah 30 turn berlalu dalam stage inipun, angka HP-nya masih terbaca ????. Jujur saja, aku mulai ngeri. Padahal I-Field miliknya sudah kuhilangkan dan aku berondong dia dengan serangan-serangan terkuatku pada setiap putaran. Tapi kenapa kayaknya dia masih belum bakal mati juga?!

Baru belakangan aku nyadar bahwa saat Morale-nya mencapai 200 itu, nyaris semua serangan yang pasukanku punya hanya akan menghasilkan kerusakan sebesar satu HP! Ini bahkan termasuk serangan-serangan yang paling kuat seperti Hi Mega Launcher milik Zeta Gundam! Dari semua unitku yang masih tersisa saat kumainin, kusadari yang bisa menghasilkan kerusakan yang agak mending hanya senjata-senjata funnel, seperti yang dimiliki Nu Gundam, Sazabi, dan Jagd Doga. Qubeley Mk. II adalah pengecualian, karena secara mengejutkan funnel-nya juga hanya mengurangi satu HP.

Tapi setelah perjuangan nan panjang dan melelahkan selama dua jam, akhirnya HP Neo Granzon berhasil kukuras dan akhirnya dia berhasil kukalahin. Sekalipun tamatnya enggak bagus-bagus amat, rasanya capek dan memuaskan.

Aku kemudian membuka FAQ untuk memeriksa apa-apa yang telah kulewatkan. Lalu dengan sedih aku mendapati bahwa yang namanya serangan-serangan MAP tak akan memberi efek pada penambahan Morale.

Noooo! Seandainya aku tahu itu sejak awal, aku akan lebih mengandalkan serangan-serangan MAP seperti Cyflash dan Psycho Buster daripada menyerang dia dengan serangan-serangan kuat secara langsung!

Tapi ya sudahlah. Yang penting aku menang.

Iklan
Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: