Dragonaut: The Resonance

Berkisah tentang Kamishina Jin, seorang remaja yang hidup ‘sebatang kara’ sesudah seluruh anggota keluarganya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat, yang suatu ketika bertemu dengan seorang gadis misterius bernama Toa yang sebenarnya merupakan jelmaan dari seekor naga. Para naga adalah bentuk kehidupan buatan yang diciptakan oleh manusia untuk menghadapi suatu ancaman apokaliptik dari luar angkasa yang mendekati bumi sesudah menghancurkan Pluto. Masing-masing naga membangun sebuah ikatan mental (‘The Resonance,’ cinta?) dengan seorang manusia yang kemudian menjadi penunggangnya, dan Toa entah sejak kapan telah memiliki ikatan tersebut bersama Jin.

Namun, saat organisasi yang mengakomodasi para penunggang naga (para ‘Dragonaut’ ini) menyadari bahwa Toa bukan salah satu naga mereka, Toa yang dijadikan buruan melarikan diri karena tak ingin menjadi beban bagi Jin. Tak ingin berpisah dari Toa, Jin kemudian memaksa seekor naga lain (jantan) bernama Gio, yang sebenarnya telah membangun(?) sebuah ikatan dengan sahabat lama Jin, Kazuki, untuk mengantarkannya ke luar angkasa. Pada saat yang sama, Tentara Gillard yang berbasis di Mars memulai intervensi untuk memburu Toa juga.

Ini Jelek

Kudengar kebanyakan orang nonton ini karena melihat adanya kemiripan desain karakter dengan Eureka Seven. Tapi perlu dicatat bahwa produsen seri ini adalah pihak yang sama sekali berbeda.

Meskipun konsepnya terdengar menarik, seri ini dieksekusi dengan cara yang benar-benar aneh. Ada banyak sekali karakter yang dibuat tak jelas untuk apa maksudnya, bahkan tampaknya dibuat hanya untuk menawarkan fanservice belaka. Tapi seri ini dengan anehnya malah dibangun dengan suasana yang sepenuhnya serius dan muram. Perkembangan ceritanya begitu tak masuk akal dan sulit dipercaya (bayangin, ada sahabat karibmu melukai perasaanmu sehingga kau sedemikian marahnya sampai kau mengobrak-abik isi kamar; lalu apa selanjutnya yang kau lakukan? Di seri ini, mengubah gaya rambut supaya terlihat lebih menakutkan) . Penyelesaian akhirnya begitu…. begitu konyol sampai membuat mulutmu seketika ternganga. Aku dibuat heran sendiri oleh diriku karena entah bagaimana bisa sampai menonton seri ini ampe tamat.

Kurasa aku penasaran dengan perkembangan bagus apa yang akan seri ini berikan. Tapi nyatanya, perkembangan bagus itu enggak pernah ada. Meski seri ini emang terlihat menarik, aku sangat menyarankan kau meninggalkannya jauh-jauh saja.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A; Audio: B+; Perkembangan: E; Eksekusi: D; Kepuasan Akhir: E

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: