Gyaaaarrgh! Ranobe di IND

Semenjak tahun… berapa ya? 2006an? Elex Media Komputindo mulai menerbitkan sejumlah light novel di Indonesia. Di bawah tag ‘J-Novel,’ dengan ukuran sebesar buku saku dan sampul yang menampilkan ilustrasi karakter, tentu saja di pajangan buku-buku ini cukup menarik perhatian.  Aku udah lama menyadari keberadaannya di toko-toko buku sih. Tapi karena enggak ada judul yang menurutku menarik (yang menonjol dari judul-judul yang ada paling God Family (Kamisama Kazoku) dan Stratos 4 aja), baru belakangan ini aku mulai secara serius memperhatikan perkembangannya.

Tunggu, apa tadi aku bilang ‘perkembangan?’ Hm, entah ya. Sebab kalo diliat-liat, pasaran LN di Indonesia untuk suatu alasan rada ga berkembang.

Emang sih, yang namanya tulisan (novel) dari sudut pandang manapun ga akan bisa dibandingin ama gambar (komik). Tapi… LN di Indonesia kayaknya ga berkembang SAMA SEKALI. Padahal jelas bahwa subgenre light novel telah menjadi cikal bakal anime-anime legendaris macam Record of Lodoss War dan Suzumiya Haruhi no Yuutsu. Bakemonogatari, Full Metal Panic!, Kara no Kyoukai, dan bahkan Guin Saga berawal dari format novel ini.

Maka dari itu, aku lalu mikir: apa karena kurangnya promosi ya?

Memang aku ga pernah nemu semacam pamflet novelologi di toko-toko buku sih.

Tapi, setelah aku mulai memperhatikan dan membaca judul-judul yang udah diterbitkan di sini secara langsung (sebelumnya aku cuma numpang baca di situs Baka-Tsuki doang), aku lalu menyadari sejumlah faktor yang gara-gara enggak diperhatikan, kayaknya akhirnya malah berakibat fatal.

Pertama, meski gampangnya light novel itu sebuah novelet yang di tiap babnya ada satu gambar ilustrasi, perbedaan antara light novel dengan novel dalam format standar enggak hanya sebatas itu. Gaya bahasa yang dipake di LN itu… unik, soalnya lebih menekankan pada interaksi antar karakter dan narasi daripada deskripsi keadaan atau eksposisi perasaan. Karena itu yang disebut LN itu cenderung untuk beranjak dari latar-latar umum yang bisa dibayangkan sendiri oleh tokoh dibandingkan latar-latar unik/eksotis yang memerlukan penjelasan tambahan. Masalahnya, jadinya ada semacam perbedaan budaya dan kerangka berpikir antara pembaca sini dan Jepang kan? Situasi dan pola berpikir yang dipaparkan dalam novel-novel yang udah diterbitkan sejauh ini kayaknya ga gampang dimengerti begitu aja oleh pembaca awam. Jadi saja, judul-judul LN yang sudah diterbitkan di Indonesia terkesan tidak terlalu menarik.

Intinya, ada banyak sekali hal yang kayaknya… ga mungkin ga dijembatani tanpa bantuan footnote. Dan yang kumaksud di sini bukan cuma soal istilah-istilah asing yang ga ada padanannya di sini. Melainkan, yah, itu tadi: hal-hal yang berkaitan dengan pola pikir dan budaya.

Di samping itu, ada kesan aneh kalo penerjemahan dan hasil editannya dilakukan secara ‘saklek’ gitu. Bahasa yang dipakai kurang ‘ekspresif’ dan ‘wajar’ gitu. Hasil terjemahan yang kayak gini sih di komik mungkin ga terlalu masalah, mengingat ada gambar yang bisa ngebantu ngejelasin konteks. Tapi buat di LN yang isinya kebanyakan tulisan, dengan ilustrasi yang memampangkan adegan-adegan tertentu aja… wuih, itu kartu mati, bo. Pantesan aja judul-judul yang udah diterbitin sejauh ini ga menarik buat sebagian besar orang.

Kedua, soal bentuk. LN, sesuai namanya, itu dibikin dengan maksud supaya ringan dibaca. Supaya kita berganti halamannya dengan cepat. Buat numbuhin minat orang supaya mau membaca. Tapi tiap kali aku baca judul-judul yang udah diterbitin di sini… gimana ya? Rasanya beda jauhlah dibandingin kalo kita baca terjemahan serupa dalam bahasa Inggris yang dibikin para fans di Baka-Tsuki. Ato mungkin itu karena perbedaan kualitas cerita yang kubaca aja ya?

Tapi soal bentuk itu, ada satu hal yang jelas. Dulu, EMK pernah nerbitin seri Deltora Quest karya Emily apaa gitu yang meski hanya bergambar di sampulnya aja, memiliki format yang serupa LN. Semua buku Deltora Quest itu buatku terasa enak dibaca.  Tapi judul-judul LN yang udah diterbitin EMK sejauh ini? Entah kenapa, rasanya enggak…

Aku juga enggak paham apa alasannya. Karena font mungkin? Ato tata paragraf? Apapun itu, itu juga udah jelas bikin orang males baca.

Hm, aku masi percaya kalo subgenre ini punya potensi sekaligus harapan. Tapi kalo terus gini, kesannya tetap rada suram ya?

Iklan

5 Komentar to “Gyaaaarrgh! Ranobe di IND”

  1. Ajarin aku bikin resensi, dong, Kak..
    Kau nulis review seperti ngomong dengan pembacamu, ya? Ending-nya pun pake nanya-nanya segala?

    LN macem gini kira-kira ada ga, ya, di rentalan. Hmmm.
    *kenapa aku jadi ikut-ikutan ngejepang gini, sih xD*

    • hm, entah ya? mungkin ada, tapi aku juga belum pernah liat langsung. udah lama ga main ke taman bacaan soalnya. ^^

      btw, sesudah memeriksa sisa gepokan LN yang kubeli, ternyata ada 1-2 yang lumayan mending. Jadi beberapa kalimatku di atas mungkin mesti kutarik kembali. kurasa inti masalahnya cuma terletak pada pengeditannya yang masi kurang optimal. yah, itu aja si.

  2. eeh? emangnya ada? buset dah, aku klo ke gramed merem kali ya, aku gak pernah tahu ada LN yang pernah diterbitin di Indo =_=

    • ada. dulu sekali elex (sekali lagi, ELEX!!) pernah nerbitin. cuma ga tau kenapa, yang diterbitin itu BUKAN yang bagus-bagus. pokoknya, judul-judul yang kalo kamu google dalam bahasa inggris belum tentu bakal nemu hasilnya deh.

      penerjemahan dan editannya di banyak edisi juga kerasa kaku, tapi soal ini kayaknya ada hubungannya juga ama faktor budaya.
      beberapa judul menonjol yang pernah diterjemahin (selain novel-novel shoujo): the curse bearer (ga ampe tamat), gun princess (aku lupa judul lengkapnya), serta yang paling mending dari semuanya, edisi lengkap stratos 4: the other sight (tapi judul inipun narasinya ga begitu bagus, karena ditulis ga lain oleh si sutradara anime-nya sendiri).
      soal LN stratos 4, aku akan nulis sesuatu tentangnya begitu buku terakhirnya beres kubaca.

      oya. kadang2 kalo gramedia ngadain fair buku murah, kamu bisa nemuin buku2 ini di tumpukan komik2 lama. harganya biasanya dah murah banget. tapi terus terang aku juga ga akan ngerekomendasiin buat baca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: