Shiki

Pengarang manga Fujisaki Ryu kerap kali menampilkan ide-ide aneh dalam karyanya. Tapi pada saat dia serius dan membatasi kecendrungannya untuk berbuat… uh, aneh (yang emang rada ga ketulungan…), dia bisa menghasilkan hal-hal yang lumayan luar biasa.

Shiki, karya terbarunya, yang bab-bab barunya kayaknya muncul secara bulanan, adalah salah satu kayak gitu. Sama halnya dengan waktu membuat Houshin Engi, kali ini FujiRyu mengadaptasi karya tulis yang sebelumnya udah ada. Dalam hal ini, novel horror berjudul sama yang dibuat oleh Ono Fuyumi.

Di tangan FujiRyu, kisah Shiki tidak hanya divisualisasikan lewat gaya penokohannya yang khas (FujiRyu SANGAT GEMAR memasukkan tokoh-tokoh ANEH ke dalam karyanya), dengan pengalaman beliau membuat komik-komik yang rada seram, Shiki menjelma menjadi suatu drama psikologis suspense yang ringkas, padat, dan secara menakjubkan, efektif. Beliau jelas membatasi keanehan yang kerap ditampilkannya di sini. Seperti biasa, beliau masih mengandalkan teknik komputer dalam membuat karyanya. Tapi dengan mengombinasikan latar-latar suram dari foto-foto hitam putih dengan desain karakternya yang ‘hidup’, setiap panel gambar di Shiki menghasilkan kesan kuat yang ngasi efek lumayan mendalam. Memang tulisannya banyak dan tempo ceritanya lambat. Tapi itu cocok bila mempertimbangkan ini jenis cerita kayak apa. Jadi jangan bayangkan sesuatu kayak High School of the Dead.

Soal ceritanya sendiri, Shiki berlatar di sebuah desa terpencil bernama Sotoba pada pertengahan tahun 90an. Sotoba merupakan sebuah desa di tengah gunung yang secara harfiah, benar-benar hampir tak memiliki apa-apa di dalamnya. Tak ada pertokoan, tak ada stasiun kereta… yang ada hanya hutan pohon fir luas yang mengelilinginya secara rapat. Kebetulan saja mata pencaharian utama sebagian besar penduduk desa ini (kalo ga salah) adalah mengelola hutan pohon fir dan menjadikan kayunya papan nama buat orang-orang mati (itu loh, papan bertuliskan nama orang yang berfungsi kayak batu nisan itu…). Suatu kenyataan yang rada menyeramkan yang mungkin jadi salah satu faktor mengapa desa ini tak banyak didatangi orang.

Di pertengahan suatu musim panas yang menyengat, terjadi serangkaian kematian mendadak di desa berpenduduk seribu-an orang tersebut. Serangkaian kematian yang anehnya terus berlanjut untuk waktu yang lama…

Cerita dibuka dengan keluhan-keluhan seorang siswi SMA bernama Shimizu Megumi soal betapa terpencilnya Sotoba. Ia sangat berharap begitu lepas SMA ia bisa melanjutkan di suatu universitas di kota. Ia sama sekali tak peduli dengan ‘hal-hal remeh’ yang dibicarakan orang-orang seolah merupakan hal besar, seperti rusaknya patung Jizo di pinggir jalan serta kematian beruntun beberapa orang tua yang tak dikenalnya yang dianggapnya teramat wajar mengingat mereka memang sudah tua.

Hanya ada dua hal yang menarik bagi Megumi-chan di Sotoba. Yang satu, adalah adalah rumah besar di puncak bukit yang selama ini dibiarkan kosong, yang bernama Kanemasa. Yang kedua, adalah murid cowok pindahan dari kota bernama Yuuki (Koide) Natsuno yang diam-diam ditaksirnya.

Natsuno-kun ini sebenarnya membenci Megumi. Ia memandang Megumi (yang diam-diam suka menguntit dirinya lewat jendela kamar) sebagai jenis yang paling parah dari para penduduk desa yang selalu saja mengharapkan terjadinya ‘drama.’ Tapi ia mengakui bahwa ada satu persamaan yang seolah menghubungkan mereka berdua: mereka sama-sama berkeinginan untuk meninggalkan Sotoba.

Natsuno berada di Sotoba karena ikut kedua orangtuanya pindah. Ayah dan ibunya sebenarnya tak pernah menikah, dan itu alasan mengapa marganya agak rancu, dan mungkin alasan mengapa mereka pindah ke tempat yang tak banyak dihuni orang. Terlepas dari itu, Natsuno berusaha keras menjalani kehidupan yang normal sembari memendam keinginannya untuk tiba-tiba cabut.

Sampai suatu ketika… Shimizu Megumi tiba-tiba saja juga meninggal, dan seisi desa benar-benar menjadi gempar.

Meski sekelas, Yuuki Natsuno sebenarnya tak merasa pernah dekat Megumi. Jadi menghadiri pemakamannya pun, ia merasa tak berkewajiban. Tapi perasaan aneh apa yang melandanya… saat ia duduk di dekat jendela kamarnya pada malam hari? Kenapa meski jelas-jelas sudah meninggal, Natsuno masih juga merasakan kehadiran Shimizu Megumi dari balik jendela kamarnya?

Shiki menampilkan banyak sekali tokoh. Banyak tokoh berarti hanya ada sedikit pengembangan karakter. Tapi semua tokoh di Shiki memiliki kepribadian yang menarik dan peranan mereka tersendiri kok, sehingga mereka tidak terkesan ‘ada di sana hanya karena mereka ada.’

Sudut pandang penceritaannya pun berpindah-pindah dari satu tokoh ke tokoh lain. Tapi secara garis besar, ada dua sudut pandang utama yang diambil. Pertama dari sudut pandang Yuuki Natsuno. Kedua dari sudut pandang Ozaki Toshio, sang dokter kepala di klinik desa, yang setelah berulangkali dibangunkan dari tidur akibat panggilan telepon yang menyebutkan bahwa ada orang yang telah meninggal, mulai berusaha keras menyingkap tabir dari apa sebenarnya yang tengah terjadi.

Meski seiring berjalannya cerita, terlihat jelas bahwa biang kerok semua ini adalah keluarga Kirishiki yang baru pindah ke Kanemasa, Shiki tak kehilangan daya tariknya karena lebih menekankan pada intrik dan konflik antar penduduk daripada misteri itu sendiri, dan juga sejumlah pertanyaan mendasar tentang apa arti kemanusiaan.

Meski kadang perlu perhatian lebih untuk bisa diikuti, Shiki benar-benar karya yang bagus kok. Seandainya diterbitin di sini, kayak biasa, aku pasti bakal ingin koleksi.

Ah, iya. Bishonen-nya juga sebenarnya banyak(?). Tapi soal itu mungkin sebenarnya tak perlu kusebutkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: