Samurai Champloo

Anime terakhir yang kutonton sampai tamat belum lama ini adalah Samurai Champloo.

Yea, aku tau ini anime lama. Aku pernah menonton beberapa episodenya beberapa tahun lalu. Tapi baru beberapa bulan lalu aku tertarik lagi dan akhirnya mau menonton ulang sampai tamat.

Bagi yang belum tahu, Samurai Champloo merupakan buah karya kedua Shinichiro Watanabe sesudah seri Cowboy Bebop yang legendaris. Serupa dengan Bebop yang meramu musik jazz dengan adegan-adegan aksi koboi luar angkasa, Champloo menyelaraskan musik hiphop dengan ganasnya pertarungan pedang ala samurai di penghujung zaman feodal Jepang. Tapi beda dengan Bebop yang rada serius dan berkesinambungan, Champloo bersifat episodik, hampir ga serius, dan bahkan kadang rasa ngasal dalam netapin alur ceritanya. Tapi unsur hiphop yang Champloo usung tetap saja turut mengangkat sisi gelap kehidupan—yang seringkali dikunjungi orang setiap habis khilaf atau membuat keputusan yang salah—jadi jangan harapkan sebuah tontonan yang cocok buat anak-anak.

The sons of a battle cry, a battle cry

Gampangnya, Champloo berkisah tentang perjalanan tiga sekawan, Mugen, Jin, dan Fuu; dalam mencari seorang samurai yang menebarkan aroma bunga matahari. Mugen adalah pria kasar yang gaya berpedangnya kalau di zaman sekarang mengingatkan orang akan break dance. Jin adalah seorang cowok cool pendiam yang gayanya seperti stereotipe samurai kebanyakan. Sedangkan Fuu adalah cewek remaja enerjik yang berhasil mencegah kedua lelaki berbahaya di atas untuk saling membunuh dan memaksa mereka berdua ikut bersamanya dalam menempuh perjalanan panjang nan enggak jelas ini.

Buat kalian yang mikirin ‘samurai yang menebarkan aroma bunga matahari’ ini maksudnya apaan, tenang aja. Soalnya Mugen dan Jin juga berulangkali mempertanyakan hal yang sama sepanjang cerita. Jadi jangan terlalu dipikirin kalo kalian emang blum nonton.

Intinya, Champloo adalah tentang semua petualangan yang tiga sekawan ini alami dalam perjalanan mereka. Ada yang keren. Ada yang kocak enggak jelas. Tapi ada juga yang bisa bikin tercenung karena ceritanya lebih mirip drama kehidupan di ghetto orang negro daripada sebuah anime Jepang. Cakupan ceritanya teramat luas, mulai dari keinginan untuk membebaskan seorang cewek dari jebakan prostitusi, sampai kepada upaya menghadang kedatangan armada kapal laut Amerika Serikat lewat pertandingan bisbol. Perlahan-lahan, masa lalu pribadi ketiganya pun terkuak, dan bagaimana mereka memandang arti perjalanan mereka dan menghadapi masa lalu masing-masing menjadi tema utama terselubung dalam serial ini.

Lagu Empat Musim

Hm, gimana ngejabarinnya ya? Untuk sebuah anime engga jelas yang ceritanya bisa tentang apapun (maksudku di sini adalah beneran APAPUN), Samurai Champloo termasuk bagus. Beneran bagus. Ga mungkin bisa sedahsyat Bebop sih, tapi tetap bagus. Bahkan lima tahun sesudah pertama dibuatpun, kualitas animasinya menurutku termasuk tinggi, dengan gerakan-gerakan rumit nan halus serta warna-warna tajam yang kontras. Karakter-karakter yang mereka paparkan pun menarik meski jumlahnya cuma ‘segitu aja’. Musik yang ditampilin di dalamnya juga enggak usah diraguin.

Jadi apa kekurangannya? Hm, mungkin kenyataan bahwa ini sebuah anime enggak jelas yang kurang memiliki benang merah penyambung. Tapi dengan resep gado-gadonya, sebagai hiburan aja, Samurai Champloo termasuk berkualitas tinggi kok. Sangat direkomendasikan bagi mereka-mereka yang enggak lagi pengen nonton apa-apa secara khusus.

Penilaian

Konsep: A;Visual: S; Audio: A; Perkembangan: D; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: