Ergo Proxy

Ini merupakan salah satu seri paling ‘menyegarkan’ yang muncul pada awal tahun 2000an, tak lain tak bukan karena animasinya yang halus dan latar futuristisnya yang benar-benar dibuat secara total. Genre-nya post-apocalyptic cyberpunk. Udah lama banget ga ada studio yang mengangkat tema ini sejak zaman tahun 90an. Manglobe bener-bener mengambil tindak langkah yang berani.

Terus terang, pada mulanya, aku sama sekali tak begitu tertarik menonton seri ini. Aku cuma setuju kalau seri ini bagus secara teknis saja. Ceritanya sendiri tampak terlalu gelap dan rumit, apalagi dengan mengetengahkan pertanyaan-pertanyaan berbau filosofis yang tak benar-benar jelas maksud dan tujuannya apa. Tapi, semakin aku dewasa, semakin aku bisa memandang seri ini pikiran yang lebih jernih dan objektif.

Ceritanya emang rumit. Tapi penyajiannya enggak selalu segelap yang kusangka. Apalagi dengan soundtracknya yang dinyanyiin monoraul dan Radiohead. Dua band ternama bro! Daya pikat musiknya sulit buat ditolak!

Jadi, yah, aku emang setuju kalo seri ini emang bukan sesuatu yang bisa dinikmatin sama semua orang. Buat ngerti cerita ini juga enggak cukup dari cuma nonton sekali. Tapi aku juga ngerti bahwa itu bukan berarti sama sekali enggak ada hal berarti yang bisa aku ‘dapetin’ dari seri ini.

Makanya, aku coba nonton. ^^

Futuristik

Ergo Proxy bisa dibilang bergenre post-apocalyptic cyberpunk. Berlatar jauuuh di masa depan saat sebagian besar permukaan bumi sudah rusak dan tandus karena suatu sebab. Kehidupan manusia hanya ada dalam kubah-kubah khusus yang diatur sedemikian rupa oleh aturan-aturan totaliter yang ketat. Manusia hidup dengan didampingi android-android pembantu yang disebut ‘autorave’, yang diam-diam sebenarnya turut berperan sebagai pengawas masing-masing individu.

Di kota Romdeau, tersebutlah seorang pemuda bernama Vincent Law. Vincent adalah seorang warga kota kelas bawah yang menjadi imigran dari kubah lain bernama Moskow. Pekerjaannya sehari-hari adalah memburu dan menangkap autorave-autorave liar yang lepas kendali akibat berjangkitnya sebuah virus misterius bernama Cogito, yang entah bagaimana tampaknya membuat para autorave tak lagi berperilaku sebagaimana mestinya.

Vincent ini memiliki nasib yang benar-benar buruk. Dia sering sekali terlibat serangkaian kejadian aneh yang sama sekali tak dapat ia pahami. Terlebih dari itu, ia jatuh cinta pada perwira polisi wanita yang dahulu pernah menangkapnya, Riil Meyer, yang sebenarnya juga merupakan cucu salah seorang tokoh paling berpengaruh di kota tersebut. Intinya, berbeda dari dirinya, Riil merupakan seorang warga kota kelas atas yang seakan-akan berada di luar jangkauan.

Di tengah tekanan hidup yang semakin memuncak, kejadian paling aneh dan memusingkan akhirnya Vincent alami. Suatu hari, sepulang kerja, Vincent mendapati dirinya dikejar-kejar seekor (seorang?) monster.

Dalam pelariannya, monster tersebut membantai segala sesuatu yang menghalangi jalan antara dirinya dan Vincent. Korban dalam jumlah sangat banyak berjatuhan. Kehidupan teratur di Romdeau setelah sekian lama akhirnya ‘rusak’ untuk pertama kalinya akibat kejadian tersebut.

Berhasil meloloskan diri dari monster tersebut, sesampainya di rumah, Vincent kemudian mendapati bahwa autorave pribadinya, Dorothy, yang selama ini bertanggung jawab mengatur hidupnya, rupanya telah hancur mengenaskan secara misterius. Vincent kini turut dikejar-kejar polisi bukan hanya akibat insiden monster itu, tapi juga atas tuduhan utama telah ‘membunuh’ autorave pribadinya sendiri.

Dalam pelarian, Vincent dengan sia-sia berusaha meyakinkan Riil yang mengejarnya bahwa ia sama sekali tak bersalah.

Tapi tuduhan tersebut tak akan dilepaskan begitu saja karena rupanya monster yang mengejar-ngejar Vincent tersebut bukan hanya sekedar ‘monster’ belaka. Monster tersebut adalah Proxy, suatu makhluk hidup misterius yang selama ini diteliti di bawah pengawasan rahasia pemerintah. Pemerintah mengetahui apa sesungguhnya makhluk ini, dan berupaya menangkap kembali Proxy yang telah berhasil meloloskan diri, yang ternyata tak lain dari penyebab berjangkitnya wabah virus Cogito yang menimpa para autorave.

Dengan demikian, muncullah pertanyaan: apa hubungan Proxy dengan Vincent? Apa sebenarnya makhluk yang disebut Proxy itu, dan siapakah Vincent sebenarnya?

Vincent yang menyadari bahwa kehidupannya di Romdeau telah berakhir dengan berat hati memutuskan untuk meninggalkan kota tersebut. Namun Raul Creed, pemimpin Romdeau saat ini, tak mau melepas penyebab aib dalam karirnya begitu saja. Demikian pula dengan Riil, yang akibat keterlibatannya menyadari bahwa ada suatu hal besar yang disembunyikan pemerintahan Romdeau dari para warganya.

Maka dimulailah perjalanan panjang Vincent dalam menemukan jati dirinya sekaligus jawaban atas kejadian-kejadian misterius yang melingkupi dirinya. Ditemani oleh Pino, seorang autorave berwujud anak perempuan yang telah terjangkit virus Cogito, dan nantinya Riil Meyer sendiri, yang dengan enggan harus mengakui ada ketertarikan yang dirasakan olehnya terhadap Vincent.

Aneh, Tapi Bagus Juga

Virus Cogito merupakan virus aneh yang menyebakan para autorave menyadari jati diri mereka sendiri. Dengan kata lain, virus tersebut membuat para autorave ‘berkepribadian’ dan ‘memiliki emosi’ selayaknya manusia, dan tidak lagi hanya menjadi bongkahan logam yang bertindak mengikuti setelan peraturan yang telah ditetapkan. Dengan mengambil gagasan itu sebagai acuan, perbandingan harga kemanusiaan dan harga keteraturan merupakan tema yang berulangkali terungkap dalam seri ini.

Tapi kalau harus bicara soal tema, agak susah untuk mengatakan keseluruhan tema ‘Ergo Proxy’ adalah tentang apa. Seri ini agak terlalu… aneh untuk bisa dijelaskan. Seringkali satu episode memiliki nuansa yang begitu berbeda dari episode sebelumnya, sehingga kau dibuat bertanya-tanya apakah kau masih menonton anime yang sama. Dan ini terjadi berulangkali, bahkan hingga akhir cerita. Meski plot cerita ini ada dan semua teka-teki akhirnya terungkap dan dijelaskan, penjabaran yang dipakai sama sekali enggak lazim dan sulit dimengerti.

Masih bagus sih. Cuma aneh.

Kalau kamu merasa kamu cukup dewasa sebagai manusia dan berkeinginan menonton suatu anime yang ‘beda’ dan bisa membuat kamu sedikit mikir, tontonlah ‘Ergo Proxy’. Emang dibutuhkan banyak kesabaran sih. Tapi hasil akhirnya lumayan seru kok.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Eksekusi: X; Perkembangan: A-; Kepuasan Akhir: B+

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: