Clannad

Pada suatu hari, aku membuka profil seiyuu favoritku, Midorikawa Hikaru, di Wikipedia dan mendapati bahwa sekalipun dirinya jelas-jelas otaku mecha seperti aku (sedemikian suka ia terhadap game-game Super Robot Wars, ia tak berkeberatan bila harus mengerjakan dialog-dialog ekstra tanpa dibayar), anime favoritnya ternyata adalah Clannad.

‘Apa?! Apa itu Clannad?’ Demikian pikirku waktu itu.

Apapun itu, yang jelas itu bukan anime mecha.

Seistimewa apa sih Clannad sampai-sampai bisa menarik perhatiannya dari anime mecha sebagai pilihan anime favoritnya? Karena penasaran, aku juga mulai mencoba menontonnya. Ada sekitar 20an episode, produksi tahun 2000an. Setelah aku menontonnya sendiri, baru aku memahami mengapa Midorikawa-san bisa sedemikian suka.

Dango, dango, dango, dango, dango daikazoku…

Gampangnya, Clannad adalah anime bishojo yang diangkat dari visual novel berjudul sama. Agak berbeda dari kebanyakan seri pada genre ini, alih-alih percintaan, Clannad lebih berfokus pada hubungan kekeluargaan dan persahabatan, sehingga serial ini memiliki nuansa khas tersendiri yang ramah dan menghangatkan hati..

(Ya, ini sebuah ‘moe anime’, tapi dalam konteks yang agak baik. Kata ‘clannad’ sendiri konon artinya pertalian keluarga gitu dari bahasa Celtic Irlandia, tapi aku ga yakin.)

Yah, inti ceritanya sendiri adalah tentang kehidupan seorang murid SMA berandalan yang sangat setiakawan bernama Okazaki Tomoya yang pada suatu ketika mendapati jalan hidupnya mulai berubah semenjak berkawan dengan seorang gadis bernama Furukawa Nagisa.

Nagisa adalah seorang gadis bertubuh lemah yang sempat tinggal kelas selama setahun karena sakit. Di masa ketika ia akhirnya bisa masuk sekolah kembali dan mendapati sebagian besar temannya telah tak lagi seangkatan dengannya, terjalin hubungan antara dirinya dan Tomoya, dan juga dengan beragam tokoh lain dalam kehidupan mereka.

Seiring dengan perkembangan yang terjadi, Tomoya kemudian bersumpah untuk membantu Nagisa mewujudkan cita-citanya membangkitkan kembali klub teater sekolah mereka yang kini sudah bubar, sebelum berlangsungnya festival musim panas.

Seperti yang bisa ditebak, sebagian besar tokoh dalam seri ini adalah cewek. Tapi cukup meski menonjolkan keimutan sebagai daya tarik, Clannad tak pernah sampai menampilan fanservice dalam kadar yang rada vulgar. Di balik nuansa ceritanya yang ringan, acapkali komedik, dan sering terkesan seperti dongeng, Clannad menampilkan drama kehidupan berbobot antara tokoh-tokoh yang lumayan nyata. Kayak bagaimana Tomoya memperbaiki hubungan dengan bapaknya, atau bagaimana Nagisa yang begitu terbebani oleh besarnya kasih sayang kedua orang tuanya.

Sebenarnya, arti terpenting yang seri ini miliki adalah bagaimana ia mengingatkan kembali akan betapa besarnya arti sebuah keluarga bagi pertumbuhan setiap orang sebagai insan. Aku tak begitu tertarik dengan seri kelanjutannya, Clannad After Story karena sepertinya sedih. Tapi aku sangat tertarik dengan spin-off-nya, Tomoyo After: It’s a Wonderful Life yang menjadikan seorang tokoh lain (Sakagami Tomoyo) sebagai heroine-nya.

Dengan adegan sedih dan komedi yang bergulir dengan teramat mulus, seri ini kudapati benar-benar menghibur.

….Sedikit tambahan, ternyata ada temanku yang merasa enggak puas sama pendapatku ini! Pada akhirnya, dia malah memberiku segepok episode Shuffle! agar aku punya bahan perbandingan. Tapi, meski seri Shuffle! yang diberikannya itu masih belum kutonton, kupikir, pendapatku tentang Clannad sudah dipastikan takkan berubah.

Penilaian

Konsep: A. Eksekusi: B+. Visual: S. Audio: A. Perkembangan B.  Kepuasan Akhir: A

Iklan

About this entry