Kamen Rider the NEXT

Kalau boleh berpendapat, daur ulang dari franchise Kamen Rider klasik dalam bentuk film-film layar lebar merupakan upaya daur ulang (remake) paling nekat yang pernah kulihat. Aku benci film yang pertama (Kamen Rider: The First) karena telah mengacaubalaukan citra kepahlawanan Kamen Rider lewat melodrama sok romantis yang maksudnya enggak jelas. Bukannya aku nganggap produsernya enggak bikin filmnya dengan sungguh-sungguh. Cuma, gimana ya? Ada kesan kalo mereka nyoba maksain khayalan seenaknya mereka ke dalam citra yang sudah lama terbangun, hingga akhirnya malah terkesan merusak.

Sekalipun demikian, saat aku menonton film keduanya (Kamen Rider: The Next), aku merasa mulai mendapat pemahaman akan gambaran Kamen Rider macam apa yang ingin disampaikan pembuatnya. Filmnya secara keseluruhan masih saja terasa hambar dan tak berkesan. Tapi aku harus mengatakan kalau aku lebih suka film yang kedua daripada yang pertama.

Serangkaian pembunuhan…
Dua tahun sesudah akhir film yang pertama, sejumlah pembunuhan sadis yang selalu diiringi rekaman nyanyian idola terkenal Chiharu menggemparkan masyarakat. Hongo Takeshi, kini bekerja sebagai guru IPA di sebuah SMA, menjadi terlibat dalam misteri ini saat berusaha membantu Kikuma Kotomi, salah seorang siswi di kelasnya, yang ternyata merupakan sahabat dekat Chiharu.

Kotomi menyatakan bahwa semenjak hubungan telepon terakhirnya dengan Chiharu, di mana sang idola secara misterius menyatakan bahwa dirinya sebentar lagi akan mati, Chiharu tak pernah lagi berhasil Kotomi hubungi sekalipun Chiharu sendiri masih sering terlihat tampil di berbagai media. Merasa ada kejanggalan di balik semua ini, terlebih dengan semua pembunuhan mengerikan yang terjadi, ia bersama Hongo berupaya menyingkap kebenaran di balik apa yang sesungguhnya terjadi.

Upaya mereka ini (tentu saja) mempertemukan kembali Hongo dengan organisasi rahasia jahat Shocker—orang-orang yang dulu bertanggung jawab atas perubahan yang dialami tubuhnya. Kini diwakili oleh seorang wanita yang disebut Chainsaw Lizard sekaligus enam orang Shocker Rider yang merupakan tiruan dari wujud lain Hongo, Hongo kembali harus berhadapan dengan mereka sebagai jati dirinya yang satu lagi: Kamen Rider.

Tak disangka, perjuangannya rupanya mendapat pertentangan dari kakak Chiharu sendiri, yakni Kazami Shiro, yang seperti halnya Hongo dulu, rupanya telah diubah oleh Shocker menjadi manusia super: Kamen Rider V3. Kini, berdua dengan Chainsaw Lizard, nampaknya Kazami akan menjadi rintangan Hongo yang terberat.

Distopia
Hal menarik pertama tentang film ini adalah bagaimana citra kepahlawanan Kamen Rider benar-benar diobrak-abrik. Jangankan menjadi pembela kebenaran, Hongo Takeshi beserta rekannya, Ichimonji Hayato, sesudah menghancurkan salah satu markas Shocker dua tahun sebelumnya, digambarkan dalam film ini seakan hidup dalam pelarian. Jelas terlihat bahwa mereka berusaha untuk tak menonjolkan diri dengan cara hidup mereka masing-masing. Hongo, yang dulu ilmuwan berprestasi, kini cuma menjadi guru SMA. Sedangkan Ichimonji melewatkan hari-harinya dengan minum-minum di ‘klub kabaret’ langganannya. Ini jelas bertentangan dengan cara hidup kedua Kamen Rider tersebut dalam serial TV orisinal, yang secara nyata memperlihatkan bahwa mereka memang mengadakan ‘gerilya’ terhadap Shocker.

Dunia dalam film ini sendiri notabene digambarkan suram dan gelap. Hongo secara terang-terangan dilecehkan oleh murid-muridnya. Sementara semua rangkaian pembunuhan itu terjadi, orang-orang secara luas digambarkan hampir tak peduli. Kehampaan yang terasa akibat kekayaan melimpah beberapa kali menjadi tema, bersama dengan tindakan-tindakan jahat yang didorong oleh rasa iri dan dengki. Dunia seperti inilah yang ingin Shocker hancurkan, dan kita jadi sedikit banyak merasa simpati terhadap tujuan mereka.

Lewat latar seperti inilah, para produser tampak berusaha menarik keluar semacam nuansa horor dalam mengenalkan V3. Suatu hal yang, bila dipikir-pikir sekarang, sebenarnya cukup selaras dengan tema serial TV Kamen Rider V3 yang memang merupakan salah satu seri Kamen Rider ‘tergelap’ yang pernah ada.

Tak ada masalah dengan hal ini. Hanya saja ada sedikit kesan kalau mereka terlalu larut dalam pembuatan sisi horor itu hingga akhirnya malas membuat penjelasan yang tuntas dari segi cerita.

Ada kekecewaan lain yang datang dari pengenalan V3. V3 di sini menurutku terkesan seperti seorang pahlawan yang ‘maksa’. Dia enggak sampai dicuci otak seperti Hongo dalam film pertama. Tapi di sini terlihat bahwa ia agak plin-plan. Motivasinya lemah. Ia dipilih dari sekian banyak orang untuk menjadi prajurit super Shocker, dll dll dan entah gimana menjelang akhir ia mau saja bekerja membantu para Kamen Rider. Pokoknya, beda jauh sekali dibandingkan kesan orisinilnya sebagai sosok yang digerakkan oleh dendam.

Enggak puas
Aksinya keren sih. Jauh lebih keren dan banyak dibandingin film pertama. Kebut-kebutan dengan sepeda motor. Pertarungan para Rider bersama. Tamatnya juga lumayan berkesan.

Tapi jangan harap kau akan puas dari segi cerita. JANGAN.

Penilaian
Konsep: A-. Eksekusi: B. Visual: A. Audio: C. Perkembangan: B-. Desain: A. Kepuasan Akhir: B-

Iklan

2 Komentar to “Kamen Rider the NEXT”

  1. Cukup bermurah hati juga rupanya. Bagiku kedua Kamen Rider the movie ini cuma dapat nilai C.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: