Chaos;Head

(Ini adalah versi edit ulang dari ulasan sebelumnya dalam rangka menyambut penayangan anime Chaos;Child yang menjadi sekuel seri ini.)

Chaos;Head mungkin anime paling aneh yang pernah kutonton dalam sepuluh tahun terakhir.

Aku semula tertarik karena mengira ini drama suspens misteri macam Higurashi no Naku Koro Ni. Seperti halnya Higurashi, ada rangkaian pembunuhan misterius bernuansa horor di dalam Chaos;Head, ada karakter-karakter cewek manis, lalu tokoh utama cowoknya juga memiliki sifat yang lumayan menonjol. Tapi dalam perkembangan cerita… yah, sebut saja Chaos:Head berakhir menjadi makhluk yang lumayan berbeda.

Dari desain karakternya yang termasuk bishoujo, aku langsung sadar bahwa anime ini pasti diangkat dari sebuah game. Aku belakangan mengetahui pengembangannya dilakukan melalui kerjasama Nitroplus dan 5pb.. Chaos;Head adalah game yang menjadi judul pertama dari rangkaian VN science adventure mereka yang kemudian disusul Steins;Gate dan Robotics;Notes.

Versi anime dari Chaos;Head ini berjumlah 12 episode, disutradarai oleh Ishiyama Takaaki, dipenai Inoue Toshiki, dengan musik ditangani oleh Abo Takeshi. Produksinya dilakukan oleh studio animasi Madhouse dan seri ini pertama tayang pada cour terakhir tahun 2008.

Aku Ingin Berjumpa Denganmu

Chaos;Head berkisah tentang seorang remaja SMA bernama Nishijou Takumi.

Takumi tinggal di Shibuya. Dia… memiliki kecendrungan buat jadi hikkikomori. Dia tinggal sendirian. Dia sangat rendah diri. Dia sama sekali tak merasa nyaman berada bersama orang lain. Bicaranya juga gagap.

Takumi sepanjang hari menghabiskan hampir seluruh waktunya secara online di depan komputer. Dia datang ke sekolahnya hanya untuk memenuhi kuota kehadiran minimal untuk bisa naik kelas yang pembagian harinya bahkan sudah dia jadwal. Takumi biasa online baik dari rumahnya maupun dari warnet yang sering dikunjunginya. Sekali lagi, dia cuma datang ke sekolah seperlunya saja.

Lalu dalam kesendiriannya, Takumi sering berhalusinasi tentang Orgel Seira-tan, tokoh dari seri mahou shojo Blood Tune yang figurinnya sejak dulu ia koleksi dengan setia. Pada awal cerita, berbagai halusinasi /delusinya tersebut sudah mencapai tingkatan sedemikian ekstrimnya, sampai-sampai Seira-tan seolah menjadi nyata. Takumi sampai bisa mendengarnya berbicara dan bahkan kerap terlibat percakapan dengannya. Status Seira-tan di kamar Takumi (di semacam boks trailer yang dimodifikasi menjadi sebuah kamar di atap salah satu gedung milik keluarganya) sudah hampir jadi seperti istrinya, dengan bagaimana halusinasi akan Seira-tan kerap berakhir dengan bagaimana ia memeluk Takumi dan memuji-muji tentang betapa ia begitu hebat.

Tapi kehidupan monoton Takumi seakan berakhir saat pada suatu waktu, ketika sedang chatting bersama sobat online-nya, Grim, di chatroom yang biasa mereka gunakan (cerita ini berlangsung di masa ketika Internet sudah merambah, tapi penggunaan smart phone belum), Takumi yang hampir tak pernah ke mana-mana kemudian diberitahu Grim untuk waspada terhadap rangkaian kejadian aneh yang belakangan berlangsung di sekitar tempat tinggalnya. Rangkaian kejadian ini pada dasarnya adalah kematian-kematian (pembunuhan?) aneh yang metode pelaksanaannya tak terjelaskan oleh akal sehat. Entah dimulai siapa, rangkaian insiden ini tahu-tahu mulai dikenal secara luas dengan sebutan rangkaian kegilaan New Generation.

Selepas perginya Grim, tiba-tiba muncul seorang pengunjung asing yang tak Takumi kenal di chatroom. Pengunjung tersebut menggunakan nama Shogun. Lalu tanpa banyak basa-basi, Grim mulai memposting tautan-tautan berisi gambar-gambar foto yang konon berhubungan dengan rangkaian insiden tersebut. Terdorong rasa penasaran, Takumi membuka salah satu tautan. Lalu di sana Takumi melihat foto seorang pria yang tewas di sebuah gang dengan sekujur tubuh tertancap pasak-pasak logam.

Tak kuat dengan hal-hal yang guro, Takumi berusaha melupakan kejadian ini dan menegaskan bahwa urusan ini sama sekali tak berhubungan dengan dirinya.

Namun esoknya, sepulang sekolah, sesudah ia mangkal di warnet—dalam upaya menyingkirkan gangguan Nishijou Nanami, adik perempuannya yang setahun lebih muda—Takumi mencoba mengambil jalan pintas menuju rumah. Namun tanpa sadar, ia melewati gang yang ternyata sama persis dengan yang dilihatnya di dalam foto.

Bukan hanya itu.

Anehnya, Takumi juga melihat sendiri jasad pria yang dilihatnya, dalam kondisi baru tewas oleh pasak-pasak logam di sekujur tubuh.

Bukan hanya karena menjadi yang pertama menemukan TKP, Takumi langsung panik karena menyadari betapa tak masuk akalnya semua ini. Bagaimana mungkin foto yang dibukanya kemarin bisa menampilkan sesuatu yang baru terjadi hari ini? Apa yang sedang terjadi? Apa mungkin foto yang dilihatnya hasil rekayasa?

Di tengah kepanikannya, Takumi kemudian menyadari bahwa ternyata ia tak sendirian di gang itu. Tak disadarinya di awal, ternyata hadir seorang gadis berambut pink, yang mengenakan seragam sekolah yang sama dengan Takumi, yang dengan wajah sedikit terciprat darah, kemudian memandang Takumi dan dengan suara halus berkata kalau ia sudah lama ingin berjumpa dengannya.

Mengira nyawanya terancam karena mengira gadis itulah pelaku yang sesungguhnya, Takumi langsung lari tunggang-langgang. Ia lari secepatnya menuju rumah trailernya dan sebisa mungkin ingin percaya ini semua lagi-lagi hanyalah bagian dari halusinasinya.

Namun esok hari, di sekolah, betapa herannya Takumi saat mendapati bahwa gadis berambut pink kemarin ternyata duduk sekelas dengannya!

Namanya adalah Sakihata Rimi. Sikapnya riang dan akrab, dan ia benar-benar nampak kebingungan dengan segala reaksi Takumi yang seolah takut terhadapnya. Berdasarkan kesaksian Misumi Daisuke, teman sekelas Takumi yang agak playboy sekaligus satu-satunya teman sekolahnya yang masih mau berbicara dengannya, mereka bertiga rupanya telah lama bersahabat. Daisuke heran soal bisa-bisanya Takumi lupa terhadap Rimi. Daisuke bahkan menyimpan foto mereka bertiga di dalam ponselnya.

Tersadar dengan penyakit delusinya yang mungkin sudah mencapai batas yang keterlaluan, ini adalah awal mula ragunya Takumi terhadap segala ingatan dan persepsinya atas dunia.

Mata Itu, Mata Milik Siapakah Itu?

Tema yang diangkat Chaos;Head tak lain tentang delusi dan persepsi terhadap realita. Temanya sendiri dipaparkan lewat pribadi Takumi yang sedikit demi sedikit merasa seolah akan kehilangan kewarasannya. Takumi terutama diresahkan dengan bagaimana pada waktu-waktu tertentu, ia kerap merasakan tatapan seseorang atas dirinya, sekalipun dirinya sedang mengurung diri di dalam kamarnya yang notabene tertutup dan tak berjendela.

Dalam gamenya, daripada pilihan-pilhan dialog tradisional yang akan menentukan percabangan cerita mana yang akan kita lalui, ada suatu sistem yang disebut Delusional Trigger yang secara bertahap akan membentuk pribadi Takumi. Ada tiga kemungkinan yang dapat kita pilih dalam bagian-bagian cerita ketika suatu delusi/halusinasi berpotensi untuk Takumi alami, yakni:

  • Khayalan yang condong ke arah kekerasan.
  • Khayalan yang condong ke arah sesuatu yang, uh, nakal.
  • Tidak berkhayal dan tetap berpijak pada realita.

Kemungkinan mana yang kita ambil dipicu dengan memilih (atau tidak memilih) salah satu dari dua ‘gelombang’ yang akan muncul di layar seiring terdengarnya suatu bunyi khusus.

Mana yang terbaik? Yah, itu tergantung pada apa yang sedang terjadi pada waktu itu. Pastinya, alasan adanya sistem ini terungkap belakangan dalam cerita kok.

Gamblangnya, sehubungan tema supernatural yang diangkatnya, Chaos;Head sebenarnya punya cerita yang lebih bersifat sains fiksi ketimbang misteri. Makanya, perkembangan ceritanya sempat pada satu titik benar-benar membuatku kecewa sebagai penggemar misteri. Namun begitu, meski tak seberkesan yang kau harap, cerita Chaos;Head menurutku masih termasuk bagus. Ada tema-tema persahabatan dan penerimaan diri yang tak kusangka. Lalu ada twist yang menurutku keren menjelang penghujung cerita.

Meski kurang seimbang elemen-elemennya, versi anime Chaos;Head lumayan berhasil memaparkan rute utama gamenya. Eksekusinya mungkin memang bisa lebih baik. Tapi ceritanya setidaknya berakhir lumayan tertuntaskan.

Ceritanya sendiri berkembang dengan semakin bermunculannya kejadian-kejadian aneh yang Takumi sukar bedakan nyata atau tidaknya.

Terkait kehadirannya di TKP, sosok Takumi terekam CCTV. Karena itu, Takumi sempat didatangi pasangan detektif Ban Yasuji dan juniornya, Suwa Mamoru. Keduanya terlibat penyelidikan resmi kejadian-kejadian New Generation yang dilakukan polisi. Lalu saat menanyai Takumi sebagai saksi, keduanya samar-samar merasakan ada hal tertentu yang Takumi sembunyikan.

Di jalanan Shibuya, Takumi berpapasan dengan Aoi Sena, seorang siswi berandalan di sekolahnya, yang dengan cepat menyadari kalau Takumi bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Meski semula takut terhadap Sena, Takumi kebingungan saat Sena–yang belakangan terungkap adalah putri seorang ilmuwan–tiba-tiba menjelaskan perihal teknologi rekonstruksi visual kepadanya.

Tak lama sesudah itu, Takumi didekati teman sekolahnya yang elegan bernama Kusunoki Yua, yang Takumi sulit percaya akan mau berteman dengan orang seperti dirinya. Yua tak dinyana mendekati Takumi sebenarnya karena juga mencurigai keterlibatannya dalam insiden New Generation. Lalu meski kekurangan bukti, ia mengajukan teori yang sulit Takumi bantah soal bagaimana Shogun sebenarnya adalah Takumi sendiri.

Rumor tersebar bahwa lagu-lagu yang dibawakan vokalis FES dari band indie Phantasm sebenarnya mengandung ‘ramalan’ untuk setiap insiden New Generation di dalam lirik-liriknya. Identitas asli FES ternyata adalah seorang adik kelas bernama Kishimoto Ayase. Namun lagi-lagi terjadi hal-hal ganjil saat Takumi mendatangi konsernya.

Kegilaan New Generation terus terjadi. Ada kabar tentang orang-orang hilang. Lalu di jalanan, muncul kesaksian tentang kumpulan massa yang tak diketahui asal muasal maupun tujuannya.

Ketika keanehan-keanehan semakin memuncak, seorang siswi pindahan bernama Orihara Kozue memaparkan ramalan aneh tentang sebuah bencana besar yang akan menimpa Shibuya, dan bagaimana dirinya—serta orang-orang lain seperti dirinya—sebenarnya telah didatangkan ke sana untuk mencegahnya.

Semakin kesulitan melihat kenyataan, Takumi didorong untuk mempercayai Rimi, yang menjadi faktor konstan yang terus bersikeras kalau ia akan selalu berada di pihaknya.

Cepat Temukan Pedangmu

Bicara soal teknis, Chaos;Head lumayan… menengah?

Visualnya punya ciri khas, tapi tak benar-benar bisa dibilang bagus.

Meski ceritanya cenderung suram, tetap ada nuansa keju yang kentara. Fokus ceritanya kerap melompat. Ditambah lagi, dengan desain karakternya yang warna-warni, jadinya ada semacam… ketimpangan antara warna-warni ini dengan kesuraman yang dicoba dihadirkan.

Baru belakangan aku sadar kalau pihak pengembangnya juga mungkin masih mencari-cari nuansa yang pas untuk gamenya. Makanya juga game ini bisa sedemikian berbedanya dibandingkan game-game science adventure yang menyusulnya. Lalu kesan percobaan itu pun jadinya ikut terbawa ke animenya dengan cara yang kurang optimal.

Dengan kata lain, tak ada yang benar-benar menonjol dari segi visual maupun audio pada seri ini. Desain karakternya adalah desain karakter yang sangat bergaya VN, dengan proporsi anatomi yang kurang pas kalau kau tipe yang memperhatikan baik-baik. Jadi mungkin itu akan terkesan kurang menarik bagi sebagian orang. Tapi audionya lumayan. Serius. Audionya lumayan. Dalam arti kayak tak bagus, tapi bisa gampang melekat dalam kepala.

Susah menjelaskannya. Tapi intinya, hasil akhir Chaos;Head menurutku termasuk lumayan bisa dinikmati.

Cerita utamanya yang terkesan rumit sekali lagi sebenarnya sederhana. Chaos;Head pada dasarnya tentang bagaimana berbagai pihak yang semula terpencar akhirnya bersatu untuk menentang rencana jahat Norose Genichi, direktur perusahaan iptek Nozomi.

Nozomi-lah yang rupanya menjadi dalang di balik semua yang terjadi. Melalui kerjasama rahasia dengan suatu partai politik sekaligus suatu aliran kepercayaan tertentu, Nozomi rupanya telah menjadikan seluruh Shibuya sebagai lahan percobaan untuk suatu senjata misterius baru bernama Noah II yang dapat mendatangkan korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya.

Ada banyak hal di dalamnya yang sempat membuatku aneh. Tapi aku tetap aku terkesan dengan bagaimana semuanya menyatu di akhir. Memang terasa ada beberapa hal yang luput terjelaskan, tapi mungkin lebih baik aku bahas soal itu sesudah menuntaskan gamenya. Terlepas dari berbagai kelemahannya, ceritanya terus berkembang secara seru dengan momentum yang terus terjaga. Jadi sekali lagi, hasilnya enggak bisa kubilang jelek.

Ada sesuatu tentang bagaimana Takumi yang semula begitu rendah diri jadi bisa bangkit berkat dukungan dari para perempuan di sekelilingnya. Ada sesuatu tentang ini yang… tak benar-benar bisa aku sukai, tapi tak bisa aku benci juga.

It’s weird.

Dirinya memang menyedihkan. Tapi aku merasa kalau aku bisa jadi kayak dia seandainya berada dalam posisinya.

…Mungkin juga aku merasa kayak gini karena aku pun pernah mengalami masa-masa sulit membedakan kenyataan dan khayalan. Tapi sudahlah soal itu.

Anggap saja itu bagian dari sejarah gelap pribadiku. (Di sini juga ada Gero-tan.)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B-; Audio: B+; Perkembangan: A-; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B+

(Pelakunya adalah si suster dan polisi junior. Shogun adalah Nishijou Takumi yang asli, dan Takumi yang kita kenal adalah manusia yang diciptakan dengan kekuatan Gigalomaniac yang kemudian mewarisi ingatan yang asli.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: