Tales of Eternia

Dulu aku inget kalo aku suka sama seri RPG Tales of dari Namco. Mungkin pada awalnya lebih karena ‘legenda’ yang dulu menyelimuti Tales of Phantasia yang dirilis untuk SNES. Bukan karena sistem tempurnya yang real time dan linear. Tapi mungkin lebih karena unsur fantasi yang mewarnai tiap rilisnya.

Intinya, dulu aku ketarik karena enggak begitu tau.

Sekarang karena aku udah tau game-game Tales of kurang lebih kayak apa, aku sampai sekarang jadinya enggak begitu ketarik lagi. Sekalipun rilis-rilis yang baru selalu ada.

Setelah beberapa lama aku enggak mainin dan ngelihat perkembangannya sekarang, entah mengapa tiba-tiba aku merasa bahwa game Tales of terakhir yang kumainin itu berpengaruh lebih besar terhadap keseluruhan seri itu dari yang sebelumnya kukira.

Karenanya, kenangan manis saat aku dulu memainkannya akan kuurai di bawah.

Ya. Yang akan kubicarakan berikut adalah Tales of Eternia, yang pernah dirili dengan judul Tales of Destiny II.

Dunia di langit sana…

Tales of Eternia dimulai saat dua sahabat lama yang tinggal di desa Rasheans (kalo ga salah), si gadis petani Farah Oersted dan si pemburu Reid Hershell, menjumpai cahaya terang yang jatuh dari langit pada suatu siang bolong yang cerah. Cahaya yang jatuh dan meletus di tengah hutan itu ternyata merupakan sebuah kapal yang datang dari dunia lain dan ternyata membawa seorang gadis kecil berkulit coklat berambut ungu yang berbicara dalam bahasa yang tak mereka mengerti. Gadis asing yang kemudian disimpulkan bernama Meredy itu tampak memiliki suatu ketertarikan terhadap Reid, yang disebutnya memiliki apa yang ia sebut sebagai ‘fibriel, fibriel!’. Ia datang bersama hewan peliharaannya yang lincah (sejenis musang…?) yang bernama Kwiki.

Reid dan Farah curiga bahwa Meredy merupakan seseorang yang datang dari Celestia—sebuah dunia lain yang sudah lama terasing dari dunia mereka sendiri, Inferia—tapi selama ini selalu terlihat di langit di tempat mereka tinggal. Antara kedua dunia tersebut, terdapat selaput Orbus Barrier yang memutuskan kontak antara kedua permukaan. Keseluruhan semesta ini disebut dengan nama Eternia, dan dari sanalah nama game ini berasal.

Penasaran karena tak tahu harus diapakan gadis kecil itu, Reid dan Farah, setelah berkonsultasi pada sejumlah orang, akhirnya memutuskan untuk membawa Meredy ke kota akademia Minch, tempat di mana sang sekawan sejak kecil yang ketiga, Keele Zabiel, tengah menuntut ilmu. Mudah-mudahan dengan pergi ke sana mereka bisa menemukan orang yang bisa mengerti ucapannya.

Tapi ternyata Keele tak dapat mereka temukan di Minch. Sebaliknya, mereka malah mendapati kabar-kabar burung yang menyebutkan bahwa keberlangsungan studi Keele di Minch tengah terancam karena sebuah teori ‘tak masuk akal’ yang dikemukakannya. Setelah menemukan Keele di observatorium yang terletak di dekat Minch, barulah Reid dan Farah memahami bahwa dalam penelitiannya, Keele menyimpulkan bahwa jarak antara kedua permukaan Inferia dan Celestia terus mendekat setiap tahun. Suatu saat nanti, kedua dunia tersebut akan ‘bertabrakan’ dan bisa jadi saat itulah yang akan menjadi akhir dari Eternia. Hipotesis berbahaya itulah yang rupanya tak bisa diterima oleh kolega-kolega Keele dan membuatnya terancam dikeluarkan dari sekolah!

Keele yang tertarik dengan kedatangan Meredy berpendapat bahwa Meredy sesungguhnya merupakan utusan yang datang dari Celestia untuk memperingatkan Inferia tentang hal ini. Kenyataan ini mungkin merupakan penegasan dari hasil penelitiannya.

Maka dari itu, mereka berempat akhirnya memutuskan untuk pergi ke benua lain demi menemui salah seorang guru Keele yang telah pensiun (kalau tak salah, namanya Galenos…), yang dapat memberi mereka penjelasan tentang hal ini. Di sebuah kota yang terdapat di atas sebuah pohon (aku kali ini lupa namanya), mereka bukan hanya mendapat konfirmasi tentang hal ini, tapi juga mendapatkan suatu alat penerjemah yang memungkinkan mereka berkomunikasi dengan Meredy.

Meredy menjelaskan bahwa hanya dengan mengamati apa yang terjadi di salah satu dunia, penyebab mengapa fenomena ini terjadi takkan bisa terungkap. Karenanya, disepakati bahwa untuk mengetahui penyelesaian untuk persoalan ini, mereka perlu meminta bantuan dari para Greater Craymel, roh-roh agung yang menguasai unsur-unsur alam di Eternia (Undine, Efreet, Volt, dsb). Sebagian dari Greater Craymel tersebut berada di Inferia, sedangkan sebagian lagi berada di Celestia. Hanya dengan mengumpulkan mereka semua barulah Reid dan kawan-kawannya bisa mengadakan kontak dengan Craymel-Craymel lain yang berada di tingkat lebih tinggi lagi, yang mungkin saja bisa menjelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Meredy saat itu tak banyak menjelaskan betapa kondisi masyarakat di Celestia sendiri sedang genting. Sebuah peperangan tengah terjadi di sana. Karena keadaan, hanya orang seperti dirinyalah yang dapat diutus untuk pergi ke Inferia.

Dewa Jahat (um, lagi…?)

Singkat cerita, salah pengertian terjadi saat kerajaan Inferia menyimpulkan fenomena ini merupakan sebentuk rencana jahat orang-orang Celestia mengingat permusuhan lama yang pernah terjadi antara mereka. Reid dan kawan-kawan dianggap bersekongkol dengan lawan, dan akhirnya harus menemukan jalan keluar dari permasalahan ini sendiri.

Mereka berempat menemukan jalan mereka sendiri ke Celestia, dan akhirnya mengetahui bahwa ancaman-ancaman terhadap nyawa mereka itu serta peperangan yang selama ini berlangsung di Celestia sebenarnya didalangi oleh sesosok dewa jahat (kalau tak salah namanya Nereid) yang dipenjara di dalam Orbus Barrier. Hanya dengan bertabrakannya kedua dunia itu, barulah dewa jahat ini dapat terbebaskan secara sempurna. Lalu mereka juga mengetahui bahwa dewa jahat itu telah mempengaruhi hidup mereka lebih dari yang semula mereka sangka.

Reid akhirnya terpilih sebagai salah satu yang berpotensi untuk mempelajari rangkaian ilmu Aurora Arte yang merupakan satu-satunya harapan untuk menandingi dewa jahat itu. Bekerja sama dengan para Craymel, nasib seluruh Eternia kini berada di tangan mereka.

Seru dsb dan ada OVA-nya loh! (ga penting sih)

Terus terang, ceritanya sendiri sebenarnya tak terlalu mengesankan. Tokoh-tokohnya sendiri tak terlalu mengena di hati (kalah lumayan jauh dibandingin Tales of Phantasia dan Tales of Destiny). Para tokohnya memang nantinya jadi pribadi yang lebih baik sih. Tapi ada kesan klise dsb. yang membuatku malas menceritakannya di sini.

Tapi sisi baiknya adalah gameplay-nya. ToE pada masanya merupakan game yang superseru. Itu game pertama dalam seri ini yang dibuat semi-tiga dimensi. Battle-nya seru dan cepat. Reid yang menggunakan bermacam senjata memiliki banyak arte yang dapat dimanfaatkan. Farah yang berperan sebagai penyembuh bertarung dengan bela diri tangan kosong yang saat itu masih belum terlalu banyak terlihat di seri Tales of. Keele dan Meredy sama-sama istimewa. Mereka pengguna magic dengan Craymel, dan sihir jenis baru dapat mereka lepaskan bila kombinasi Craymel yang mereka simpan di dalam Craymel Cage masing-masing tepat.

Dunianya sangat luas dan banyak tempat yang bisa dikunjungi. Meski tak memenuhi hasrat untuk bereksplorasi, beragam alat transportasi yang bisa digunakan benar-benar memunculkan minat. Mulai dari sihir hovercrat Sylph sampai kapal bajak laut canggih Van Eltia yang nantinya bukan cuma dapat menjelajah di lautan, melainkan juga di langit dan di darat. Semua itu membantu karena ada banyak sekali subquest dan minigame yang dapat dilakukan.

Item yang bisa dikumpulkan ada luar biasa banyak, meliputi senjata, armor, barang antik, dsb. Ini game pertama yang menantang kita untuk mengoleksi semuanya. Lalu ada masak-memasak yang sebelumnya diperkenalkan di versi remake Tales of Phantasia. Kita dapat menjumpai sang koki misterius yang akan memberi kita resep-resep baru di tempat-tempat yang tak terduga. Resep-resep itu dapat menghasilkan berbagai jenis masakan yang nantinya akan membantu dalam perjalanan kita.

Mohon jangan tanya soal voice-actingnya. Dubbing saat game ini pertama dirilis versi Inggrisnya dengan nama Tales of Destiny II (bedakan dari ToD 2!) super-duper JELEK.

Sekalipun demikian, RPG ini cukup menarik perhatian sampai akhirnya diadaptasi menjadi OVA (anime) empat episode yang mencakup kurang lebih sepertiga dari perjalanan Reid dkk (hanya sampai sekitar saat mereka menuju ke Celestia). Walau lebih membahas tentang kisah-kisah sampingan yang enggak penting, entah mengapa OVA ini justru malah lebih mengesankan daripada game-nya sendiri!!!

Mungkin karena dua tokoh tambahan yang nantinya bisa direkrut di Celestia benar-benar karakter tambahan yang enggak penting. Max dan Chat itu benar-benar dua tokoh aneh yang ada cuma karena mereka ada. Heh.

Penutup

Argh. Aku jadi lupa alasan kenapa tulisan ini kutulis.

Dua dunia yang saling berseteru. Elemental-elemental yang mesti dikumpulkan ala ToP. Gameplay yang teramat sangat bagus. Cuma sayang ceritanya masih tak terlalu menonjol.

Tapi segala hal baik yang terpikirkan pada game ini terbawa pada rilis-rilis Tales of berikutnya. Terutama pada Tales of Symphonia yang dengan segera menyusul sesudahnya.

Penilaian

Konsep: B+. Eksekusi: B+. Visual: A-. Audio: B-. Perkembangan: B. Desain: B

Kepuasan Akhir: B+

Iklan
Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: