Tentang… Kara no Kyoukai

Aku merasa campur aduk waktu pertama kali dengar Kara no Kyoukai dianimasikan.

Kara no Kyoukai, atau biasa disingkat Rakyou (terjemahan kasarnya mungkin adalah ‘Perbatasan Menuju Ketiadaan’, sub-judulnya, ‘The Garden of Sinners’—‘taman para pendosa’ kemudian menjadi judulnya dalam Bahasa Inggris), merupakan seri novel yang ditulis Kinoko Nasu, penulis visual novel legendaris Tsukihime bersama rekannya, Takashi Takeuchi, dalam kelompok Type-Moon.

Terkait novel ini, pengarangnya, Nasu-sensei, pernah menyebut kalau novel tanpa gambar dan suara harus punya cerita yang tiga kali lipat lebih menarik dari versi cerita pada media lain, untuk mengisi ketiadaannya gambar dan suara. Ungkapan kalimat itu yang mendorong aku (sebagai novelis amatir) untuk mencari tahu tentang novel ini.

Memandang Dunia Bulan

Beberapa tahun ke belakang, aku mencari-cari tahu tentang Tsukihime di Internet dan sampai ke salah satu situs fans mereka yang paling terkemuka, The Moonlit World. (EDIT 2019: Situs ini sudah tak aktif dan tak lagi bisa diakses saat aku membenahi postingan ini.)

Di sana, untuk pertama kalinya aku tahu tentang Kara no Kyoukai.

Gambaran kasar cerita langsung kudapatkan waktu itu.

Gamblangnya, seorang cewek bernama Ryougi Shiki, suatu hari terkena kecelakaan dan jatuh koma selama dua tahun. Sesudah ia bangun, ia merasa ada sesuatu yang enggak beres pada ingatannya.

Ha?

Cuma itu satu-satunya reaksiku waktu itu. Sebab kelanjutan penjelasan cerita itu bisa dibilang agak-agak enggak jelas.

Sesudah kecelakaan, Shiki mendapat kemampuan untuk melihat ‘garis-garis kematian’ di tiap benda. Kemampuan yang nyaris sama dengan apa yang dimiliki Tohno Shiki dari Tsukihime. Istlahnya, the Mystic Eyes of Death Perception. Saat ‘garis-garis kematian’ suatu benda dipotong, maka benda tersebut akan hancur. Dan kemampuan itu harus dimanfaatkan Shiki untuk menghadapi berbagai kasus supranatural.

Aku mudah memahami kalau hanya sejauh itu. Hanya saja, cerita ini sama sekali enggak cuma sejauh itu.

Sebelumnya, pernah ada yang bilang kalau cerita ini adalah prototip dari Tsukihime. Rasanya memang demikian pada beberapa segi. Namun ceritanya lalu berkembang menjadi jauh, jauh berbeda, dengan makna yang mungkin saja sedikit lebih dalam.

Pertama, sejalan dengan keyakinan Nasu-sensei, Rakyou punya karakterisasi menarik.

Bila kau sudah mengenal Tsukhime, mungkin kau akan memperhatikan kalau marga Ryougi yang dipunyai Shiki merupakan salah satu marga keluarga yang pernah disebut Tohno Akiha sebagai salah satu musuh alami kaum non-manusia.

Cerita-cerita karya Nasu-sensei memang cenderung berbagi latar. Begitu pula dengan Rakyou dan Tsukihime. Jadi ada sedikit hubungan antar tokoh-tokohnya.

Di Rakyou, ada tokoh pembuat boneka misterius bernama Aozaki Tohko. Tohko dikisahkan tidak lain adalah saudara perempuan si penyihir misterius Aozaki Aoko di Tsukihime, Meski Tohko sangat berlawanan dengan saudara perempuannya yang lembut. Dikisahkan pula, hubungan kekeluargaan di antara keduanya untuk suatu alasan sudah hancur lebur tanpa bisa diperbaiki lagi.

Tokoh lain yang menonjol adalah teman cowok Shiki, mungkin satu-satunya manusia normal dalam cerita, Kokutou Mikiya. Secara tampang, Mikiya cukup mirip dengan Shiki dari Tsukihime. Baik hati, berkacamata, dan agak culun, tapi ia memiliki bakat yang sangat abnormal dalam melakukan investigasi. Bila ingin mencari sesuatu, ia bisa dibilang hampir pasti akan menemukannya. Kemampuannya tersebut yang kemudian membawa Mikiya masuk ke dunia ajaib yang ditinggali Shiki tinggal. Ini pula yang mempertemukannya dengan sang penyihir Tohko, yang kemudian dengan senang hati memperkerjakan Mikiya paruh waktu untuk mengurusi hal-hal enggak jelas.

Lalu ada Kokutou Azaka, adik perempuan Mikiya, yang secara tampang mirip Akiha dari Tsukihime. Azaka juga entah bagaimana telah jatuh cinta pada kakaknya sendiri, sehingga ia teramat membenci kedekatan antara kakaknya dengan Shiki. Pada bab-bab selanjutnya, Azaka memainkan peran dalam cerita dan menjadi murid Tohko dalam belajar sihir.

Keempat tokoh itu menjadi tokoh sentral, dan pada tiap episode mereka bersama-sama berurusan dengan kejadian-kejadian supernatural. Keempat tokoh itu, sesungguhnya, sama-sama punya kelainan mereka masing-masing. Cara pandang mereka terhadap segala sesuatu yang terjadi, dialog-dialog yang mereka lakukan berkenaan dengan makna setiap kejadian, entah gimana menjadi daya tarik utama cerita.

Di samping itu, juga ada soal bagaimana orang-orang berbeda ini bisa sampai bertemu dan dalam keadaan apa. Sebab cerita ini bukan cuma tentang mereka berempat, tapi juga tentang ‘orang-orang bermasalah’ yang mereka hadapi sebagai sumber setiap kejadian ganjil yang terjadi pada tiap bab.

Dalam setiap kasus, keempat tokoh ini akan menguraikan pendapat mereka tentang apa-apa yang tiap tokoh bermasalah alami. Meski omongan mereka aneh, dan cenderung sulit dimengerti, hasil akhirnya tetap berkesan dengan sedemikian menariknya apa yang mereka bicarakan.

Selain karakter, cara penceritaannya juga menarik. Penceritaan novelnya dilakukan dengan gaya minimalis, seperti beragam light novel dan visual novel lain. Hal ini ditambah dengan gaya cerita khas Nasu-sensei.

Dengan mempertahankan deskripsi minim, ceritanya cenderung melompat-lompat dari sudut pandang pertama satu tokoh ke sudut pandang pertama tokoh lain, dan beberapa kali bahkan dari sudut pandang orang ketiga. Alurnya juga maju mundur antara waktu ketika Shiki masih ‘normal’ sebelum kecelakaan dan ketika dia menjadi ‘terganggu’ sesudah kecelakaan.

Jadi, Shiki ceritanya bukan cuma gadis cantik yang bisa melihat garis-gairs kematian. Sesudah kecelakaan yang dialaminya, Shiki merasa ada yang enggak beres dengan ingatannya. Dia tokoh yang agak susah dijelaskan berhubung latar belakang yang melandasi cara hidupnya jauh dari normal.

Soal Adaptasi

Dengan semua keunikan Rakyou, ditambah keskeptisan terkait hasil nimasi Tsukihime dan Fate/Stay-Night, para penggemar sewajarnya ragu saat mendengar tentang versi animasi Kara no Kyoukai yang akan dikerjakan Ufotable. Ceritanya, Rakyou akan dibuat dalam format layar lebar berseri. Tiap episode mengetengahkan satu kasus supernatural dalam seri noveletnya.

Mendengar itu, aku sempat heran dengan bagaimana cerita yang agak sakit ini bisa dibuat nyaman untuk ditonton.

Tapi, dari semua ulasan yang pernah kubaca di Internet mengenai film pertamanya yang baru beredar, semua orang bilang hasilnya luar biasa bagus. Bahkan melebihi versi layar lebar dua animasi yang dinanti waktu itu, yakni Rebuild of Evangelion dan Clannad.

Komentar-komentar seperti betapa Shiki adalah moè(?), adegan-adegan dialog yang khas, sudut-sudut pengambilan gambar yang tak biasa, pertarungan-pertarungan yang sangat seru, brengsek, semua itu membuatku penasaran dan pengen nontoooooon!! Ditambah lagi, pengisi suara Ryougi Shiki adalah salah satu pengisi suara favoritku, Sakamoto Maaya-san (Leaf, Lodoss: Eiyuu Kishinden dan Lunamaria Hawke, Gundam Seed Destiny). Kabarnya ia melakukan gebrakan baru dalam perannya sebagai Shiki, bahkan mungkin lebih baik dari perannya sebagai Kanzaki Hitomi di The Vision of Escaflowne.

Terlepas dari semuanya, cerita ini benar-benar menyegarkan. Membuatmu merasa terbebas karena bisa membuatmu melihat dunia dalam satu sudut pandang berbeda. Bagaimanapun, ini salah satu cerita boy meets girl paling menarik yang pernah kuikuti. Karena itu aku merekomendasikannya.

1 tanggapan pada “Tentang… Kara no Kyoukai”

  1. hmm~~~
    wa jg lagi pengen banget…

    tapi, kita yang hanya penjelajah inet jg dah bisa lihat trailernya di youtube kok ^ ^

    sabar aja ya…

Tinggalkan Balasan ke isacchi Batalkan balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.