08/12/2017

No Game No Life Zero

Pada suatu akhir pekan, sepupuku mengajak nonton film layar lebar No Game No Life: Zero (juga ditulis No Game No Life: 0 )di bioskop CGV.

Sebenarnya, kami sama-sama lagi kesulitan uang. (Sori, itu juga salah satu alasan aku jarang nulis belakangan.) Tapi, kami tetap memilih menonton karena, yah, ini NGNL. Mungkin tayangnya akan lebih sebentar dibandingkan Thor: Ragnarok. Makanya, perlu diprioritaskan. Terlebih, aku masih trauma dengan gimana aku enggak kesampaian menonton film layar lebar Mahouka beberapa bulan lalu. Di samping itu, sejumlah review yang aku baca sudah menyebut kalau kualitas movie ini bagus.

No Game No Life: Zero mengangkat cerita dari buku keenam dari seri novelnya yang dikarang Kamiya Yuu. Ceritanya memaparkan masa lalu dunia Disboard (sebagaimana dikisahkan oleh sang dewa permainan, Tet) dan karenanya diberi embel-embel ‘zero’ di judulnya. Dengan kata lain, sifatnya prekuel dan enggak sepenuhnya melanjutkan cerita di seri TV. Ceritanya enggak berfokus pada kakak beradik Sora dan Shiro. Meski demikian, pengetahuan tentang seri aslinya tetap akan membuatmu lebih bisa menikmatinya.

No Game No Life: Zero masih diproduksi studio animasi Madhouse. Para staf seri TV-nya kembali hadir untuk menangani. Ishizuka Atsuko kembali memberikan kerja bagus sebagai sutradara. Fujisawa Yoshiaki menangani musik. Naskahnya sendiri kembali ditangani oleh Hanada Jukki. Suzuki Konomi juga kembali buat membawakan lagu penutupnya.

Mestinya, aku enggak rugi kalo aku sempetin nonton ini ‘kan?

“Saat aku masih muda, aku percaya kalau enggak ada permainan yang enggak mungkin dimenangkan.”

Berlatar 6000 tahun sebelumnya, para dewa (yang kini dikenal dengan sebutan Old Deus) masing-masing mewakili satu ras di Disboard. Lalu, mereka mengadakan perang dengan satu sama lain, yang lambat laun semakin menghancurkan dunia. Tanah runtuh, langit terbelah, hujan beracun, bintang-bintang sirna, makhluk-makhluk buas menyebar, dan dunia seakan mengalami malam yang tiada akhir.

Umat manusia di dunia ini diyakini telah punah. Mereka tak punya keistimewaan khusus. Karenanya, mereka selalu terjebak di tengah adu kekuatan antara ras-ras lain yang lebih kuat. Tapi, kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Di bawah tanah, menyembunyikan diri dari bahaya hujan, dipimpin seorang pemuda bernama Riku, komunitas mereka terus bergulat untuk bertahan hidup.

Singkat cerita, Riku selama ini bekerja mengumpulkan informasi. Sekalipun telah sampai mengorbankan nyawa sejumlah orang, Riku ingin memahami jalannya perang. Tujuannya? Agar dia bisa menemukan cara untuk menghentikannya.

Riku berusaha melengkapi peta dari apa yang masih tersisa dari dunia, lalu memastikan posisi masing-masing pihak ada di mana. Bersama komunitasnya, mereka secara berkelanjutan telah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mengungsi dari satu bahaya ke bahaya lain.

Dalam salah satu kesempatan, saat menjelajahi peninggalan salah satu kota Elf, Riku berjumpa dengan suatu manusia buatan Ex-Machina berbentuk seorang gadis muda, yang kemudian Riku namai Shuvi.

Para Ex-Machina ini bekerja dengan prinsip hive mind. Tapi Shuvi, Ex-Machina satu ini, telah diasingkan dari kesadaran bersama tersebut karena telah dianggap cacat. Alasannya? Karena Shuvi telah berusaha memahami emosi manusia. Shuvi agaknya ingin mengerti rahasia di balik ketangguhan manusia untuk bertahan hidup.

Shuvi kemudian ditampung Riku. Kemudian, dengan keistimewaan-keistimewaan yang Shuvi punyai, keputusan Riku tersebut menjadi awal bagaimana ia memahami latar belakang sesungguhnya di balik perang, dan langkah-langkah yang bisa diambil untuk selamanya menghentikannya.

Asal Aku Bersama Kamu…

Bicara soal teknis, film layar lebar ini seriusan bagus. Visualisasi dunianya benar-benar keren. Pemandangan latar dunia fantasi yang suram beneran keren. Lalu, meski enggak banyak, adegan-adegan aksinya juga wah. Ini diimbangi juga dengan penataan audio yang beneran pas. Kualitas keluaran Madhouse kadang mengalami naik turun aneh, tapi kamu enggak perlu ragu soal yang satu ini.

Satu yang patut disinggung adalah performa Matsuoka Yoshitsugu sebagai pengisi suara Riku. Mempertimbangkan gimana beliau juga berperan sebagai semacam narator, akting beliau di sini seriusan bagus. Ada kayak kombinasi kepercayaan diri, keputusasaan, serta kesedihan dan pengharapan yang berhasil dia gabungin gitu. Mungkin buat selamanya dia bakal dikenal sebagai Kirito dari SAO, tapi kemampuan akting beliau jauh lebih luas dari itu.

Kalian juga mungkin ingat gimana visual seri TV NGNL punya saturasi warna yang khas. Satu hal mencolok yang aku perhatikan adalah gimana saturasi warna itu enggak gitu kelihatan di film ini, sejalan dengan nuansa dunianya yang lebih suram.

Di akhir, aku nyimpulin dua hal sesudah nonton film ini.

  • Meski enggak nampilin ketegangan adu siasat yang aku harapkan dari seri TV-nya, film layar lebar ini tetap bagus.
  • Meski enggak sedalam yang aku harapkan (dan terus terang, nuansanya beda jauh dari seri TV-nya), aspek emosi dari film ini, kalo kamu bisa menikmatinya, terbilang menyentuh.

Jadi, singkat kata, yup, ini direkomendasikan. Apalagi kalau kalian sudah jadi penggemar NGNL sebelumnya.

Kelemahannya ada sih. Mungkin kalian ingat gimana NGNL, bahkan dengan semua kebagusannya, punya fanservice yang sangat berbahaya. Baik itu dari soal adegan maupun desain karakter. Aspek tersebut enggak sepenuhnya sirna di prekuel ini. Aku bahkan di satu titik sempat heran dengan gimana hal ini lolos sensor.

Daripada ‘bagus atau enggak,’ menurutku ini lebih ke kasus ke ‘cocok atau enggak’ sih. Emang mesti diakui, bahkan dengan kebagusan pemaparan dramanya, kita kadang jadi susah menanggapi serius pas kekonyolan-kekonyolan ini muncul. Kalo ngambil istilah pergamean, jadinya lumayan immersion breaking.

Di samping itu, pembangunan dunianya minimum banget. Rasanya kita diperlihatkan hanya segelintir dari keadaan menakjubkan dunia di ambang kehancuran. Ras-ras lain hanya ditampilkan sekilas. Mereka juga berperan hanya secara terbatas pula. Porsinya hanya sebatas ‘cukup’ untuk membawakan plot. Ini mungkin akan terasa gimanaa gitu buat kalian yang suka melihat dunia-dunia fantasi.

Tapi, serius, kalau kalian terlanjur benar-benar suka seri TV NGNL, aku lumayan menyarankan kalian buat melihat NGNL 0. Selama kalian enggak keberatan dengan semua keanehan NGNL (yang emang udah ada dari sananya), film layar lebar ini ngasih insight lumayan mendalam tentang dunia maupun kepribadian para karakternya.

Aku enggak sepenuhnya suka konsepnya, dan aku juga enggak sepenuhnya puas dengan penyelesaian ceritanya. Tapi, sekali lagi, bahkan dengan semua keterbatasan materi aslinya, eksekusi animenya beneran brilian. Aku perlu ngasih pujian semata karena itu.

Lain Kali, Aku Pasti Menang

Terlepas dari sisi-sisi konyolnya, dengan semua drama dan tragedi yang terjadi, NGNL 0 lebih berhasil menekankan pentingnya kegigihan dan perjuangan dibandingkan seri TV-nya. Berbeda dari Sora dan Shiro, Riku dan Shuvi bukanlah sosok-sosok jenius. Mereka hanya sekedar nekad (seriusan nekad) dan pantang menyerah. Ini konsisten bahkan saat mereka dihadapkan pada tantangan-tantangan yang kayaknya enggak mungkin bisa dilewatin.

Di samping itu, semua batasan soal penyelesain konflik lewat permainan (dan tanpa kekerasan) yang Tet atur masih belum ada. Jadi, ada kekejaman sekaligus kematian sekaligus sihir sekaligus senjata-senjata pemusnah massal di sana-sini.

Yea, film ini jadi punya sisi yang agak sadis.

Meski demikian, sekali lagi, itu jadinya memperkuat pesan(?) yang seri ini mungkin punya.

…Aku masih kurang sepenuhnya puas dengan penyelesaiannya sih. (Gimanapun, aku penggemar Liar Game!) Tapi, hasilnya tetap bisa aku terima sekaligus aku hargai.

Ini rada enggak nyambung, tapi mungkin kalian ingat kasus pembajakan menyangkut film ini tempo hari? Aku seriusan marah saat mendengar berita itu. Bila aku sampai ketemu orangnya, aku (dan banyak teman lain) bahkan sampai bersumpah buat nonjok mukanya.

Tapi, agaknya, kasus itu lebih konyol dari yang aku kira. Aku semula ngira itu kasus pembajakan di mana ada yang bawa kamera, terus diam-diam ngerekam buat disebarin di web. Tapi, yang sebenarnya terjadi, yang bersangkutan ternyata sekedar melakukan livestream.

Well, yeah. Prinsipnya secara teknis tetap sama sih, tapi tetap saja, aku lumayan terdiam saat mengetahui ini.

Riku dan Shuvi—dan sekaligus juga Shiro dan Sora—sanggup bertahan karena mereka sadar dengan batasan mereka masing-masing. Tapi, apa kebanyakan orang bahkan tahu soal batasan-batasan mereka sendiri?

Yah, artikel ini (silakan diklik) lumayan mengulas kasus itu secara baik sih. Jadi mending enggak usah kita singgung lagi.

Akhir kata, maaf udah lama ga nulis! Nanti aku nyoba nulis lagi. Mwahahaha.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: B; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A-

Iklan
31/10/2017

Isekai wa Smartphone to Tomo ni

Isekai wa Smartphone to Tomo ni, atau yang juga berjudul In Another World With My Smartphone (‘di dunia lain bersama ponsel pintarku’), adalah seri yang agak anomali.

Isekai Smartphone berawal dari seri web novel yang dikarang Fuyuhara Patora dari tahun 2013. Mulai tahun 2015, seri ini diterbitkan resmi oleh Hobby Japan dengan ilustrasi buatan Usatsuka Eiji. Pada awal tahun ini, tahu-tahu saja seri ini diadaptasi ke bentuk anime oleh Production Reed. Sutradaranya Yanase Takeyuki. Naskah ditangani oleh Takahashi Natsuko. Musik dikomposisi oleh Exit Tunes. Jumlah episodenya sebanyak 12 dan animenya pertama tayang pada musim panas tahun 2017.

Masih di sekitar awal 2017, seri ini juga mulai diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan format e-book oleh J-Novel Club. Terjemahan mereka beneran bagus. Dari forum JNC-lah, aku mulai benar-benar tahu tentang Isekai Smartphone.

Jadi, Isekai Smartphone termasuk salah satu dari sekian banyak seri bertema isekai yang menjamur dalam tahun-tahun belakangan. Tak hanya itu. Seri ini konon dipandang sebagai salah satu contoh seri isekai yang paling generik. ‘Generik’ dalam artian enggak terlalu jelek tapi juga enggak terlalu bagus.

Sangat biasa.

Semua yang lazim ada dalam suatu seri isekai ada di seri ini. Ada tokoh utama cowok yang imba. Ada dunia lain. Ada harem yang terdiri atas cewek-cewek cantik. Yah, kalian tahu.

Makanya, saat animenya diumumkan, ini sempat mengherankan banyak pihak. “Wut? Di antara begitu banyak seri isekai di luar sana, kok malah seri ini yang dipilih buat jadi anime sih?” Soalnya, ada banyak pilihan seri isekai lain yang jauh lebih mencolok. Seperti Kumo desu ga, nani ka?, misalnya. Atau Desumachi. (Produksi anime Desumachi sudah diumumkan btw, tapi kabar-kabar kemajuan proses produksinya sejauh ini agak bikin fansnya harap-harap cemas. …Di samping itu, Tate Yuusha no Nariagari, seri isekai lain yang sudah menarik simpati banyak fans, juga sudah dikerjakan proyek adaptasinya.)

Bahkan di forum JNC yang aku sebut di atas, saat perusahaan mereka masih belum lama berdiri dan mereka masih sedang mencari judul-judul baru untuk dilisensi, pendiri JNC menyatakan bahwa Isekai Smartphone menjadi seri yang ‘disodorkan’ padanya. Seolah pihak penerbit aslinya kelihatan yakin sekali dengan seri ini. Dengan kata lain, di negara asalnya, seri ini lumayan populer dan punya basis fans kuat.

Semula, aku juga bukan penggemar Isekai Smartphone. Bahkan dari semenjak terjemahan bahasa Inggris WNnya tersedia dikerjakan fans, aku tidak menaruh perhatian terhadapnya. Namun, semenjak animenya diumumkan, aku mulai penasaran.

Alasan pertama: aku memperhatikan kalau yang memproduksi animenya adalah Production Reed. Aku langsung mengerti kalau hasilnya ternyata tidak wah. Dalam benakku, mereka studio ‘tidak besar’ yang sebelumnya mengerjakan seri-seri sederhana macam Onsen Yousei Hakone-chan dan Niji-iro Days. Meski begitu, aku simpati. Isekai Smartphone seolah menjadi langkah terobosan mereka dalam menangani proyek-proyek lebih besar.

Belakangan aku tahu, Production Reed ternyata tidak sepenuhnya baru. Mereka ‘reinkarnasi’ Ashi Productions, studio sangat veteran yang dulu menangani sejumlah anime terkenal macam seri mahou shoujo legendaris Magical Princess Minky Momo, seri Macross 7 yang masih menjadi seri Macross terpanjang sejauh ini, dan anime super robot lawas dan serius Dancouga. Sebelum tampil kembali sebagai Production Reed di tahun 2015, Ashi Productions rupanya ‘mati suri’ lumayan lama semenjak proyek Dancouga Nova mereka di tahun 2007.

Alasan kedua: meski tanggapan sebagian besar orang terhadapnya animenya lumayan negatif, ternyata ada sejumlah kenalanku yang benar-benar menyukainya. Bahkan sepupuku, yang mendalami seluk-beluk ilmu perfilman, menjadi salah satunya. Aku terus mikir, pasti ada sesuatu tentang anime ini yang menarik perhatian dia ‘kan? Tapi apa?

God’s in His Heaven, all’s right with the world!

Isekai Smartphone berkisah tentang remaja lelaki bernama Mochizuki Touya yang tersambar petir pada suatu hari saat pulang sekolah, lalu mendapati diri dihidupkan kembali oleh Dewa di suatu dunia lain. Alasan dia dihidupkan di dunia lain itu karena sudah jadi ketentuan kalau dirinya tak bisa dihidupkan lagi di dunianya yang semula.

Dewa menawarkan untuk memberi kompensasi pada Touya karena telah mematikannya tanpa sengaja. Karena tak merasa perlu apa-apa yang khusus, Touya kemudian sekedar meminta agar smartphone-nya masih bisa ia gunakan di dunia lain tersebut. Entah terkesan dengan kesederhanaan Touya atau bagaimana, selain memungkinkan smartphone-nya ditenagai kekuatan sihir agar tetap bekerja (dan bisa tersambung ke Internet(!) meski Touya tidak diperbolehkan memposting apa-apa), Dewa kemudian sekalian memberi Touya berbagai keistimewaan lain yang tidak langsung tampak. (Belakangan diketahui itu termasuk afinitas ke semua elemen sihir, peningkatan kemampuan fisik, serta kekuatan sihir laten yang sangat besar.)

Sekalian, Dewa memasukkan info kontaknya ke dalam ponsel Touya agar Touya bisa langsung menghubunginya seandainya ia perlu apa-apa.

Touya lalu mendapati diri berada di wilayah pinggiran Kerajaan Belfast, di mana dia kemudian bertemu bermacam orang dan tanpa sengaja terlibat dengan bermacam urusan konyol sekaligus serius. Berkenalan dengan teman-teman baru, dia mulai bekerja sebagai petualang. Dia mulai belajar tentang sihir. Dia mulai membantu-bantu orang. Berbekal fitur-fitur smartphone-nya yang sudah canggih dan diperkuat, dia juga mencoba menciptakan berbagai barang dan masakan dari dunianya lama agar bisa dipakai di dunianya yang baru.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Brunhilde (Yang Penuh Tawa dan Air Mata)

Cerita Isekai Smartphone lebih digerakkan oleh karakter. Ceritanya ringan dan lumayan bernuansa komedi. Meski ada elemen aksi dan petualangannya, Isekai Smartphone sebenarnya lebih dekat ke cerita keseharian. Di dalamnya, Touya mengetahui beragam hal baru tentang dunianya yang baru.

Isekai Smartphone tidak memiliki struktur plot yang perlahan-lahan membangun konflik. Ceritanya lebih seperti rangkaian cuplikan adegan keseharian yang saling terhubung dan berkesinambungan. Agaknya, hal ini juga yang sempat mematikan minat sebagian orang.

Kalau aku ceritain begini, kedengarannya emang kurang menarik. Dalam bentuk anime, bahkan dengan genrenya yang komedi, jadinya tetap aneh. Tapi, kalau kau coba menepis semua pengharapanmu, dan bersabar dengan bagaimana ceritanya dituturkan, ada hal-hal tertentu tentang Isekai Smartphone yang bisa membuatmu terkesan.

Ada dunia baru yang diperkenalkan. Ada hal-hal baru yang dipelajari. Ada teman-teman baru yang dikenal. Seperti yang bisa diharapkan dari suatu seri isekai, Touya serba bisa. Tapi, Isekai Smartphone juga punya sisi konyol konsisten yang jarang dipunyai seri-seri sejenisnya. Kesan akhirnya lumayan unik.

Terlepas dari itu, mereka yang sudah dikonfirmasi(?) termasuk dalam harem Touya (meski dia sendiri sama sekali semula tidak merencanakan hal ini) meliputi:

  • Elze Silhoueska; onee-chan dari pasangan gadis kembar Silhoueska yang sama-sama berambut perak. Dia salah satu orang pertama yang Touya kenal ketika baru tiba di dunia baru. Berambut panjang, memiliki bawaan bersemangat yang mendahulukan bertindak sebelum berpikir. Meski begitu, terkadang dia bisa tiba-tiba saja merasa rendah diri. Elze memiliki kemampuan Null Magic bernama Boost yang meningkatkan untuk sementara parameter-parameter fisiknya. Elze beraksi dengan sepasang gauntlet raksasa yang digunakannya bersama ilmu bela diri. Dirinya tidak memiliki afinitas dengan elemen-elemen sihir lain. Dalam perkembangan cerita, Elze berstatus sebagai tunangan ketiga
  • Linze Silhoueska; yang lebih muda dari pasangan gadis kembar Silhoueska, sekaligus yang lebih pendiam. Berbeda dari kakaknya, Linze memiliki afinitas elemen yang konvensional, dan karenanya beraksi dengan mengandalkan serangan-serangan sihir. Linze-lah yang mengajari Touya tentang sihir di dunia ini (ada enam elemen, dengan sihir non-elemen Null Magic yang bersifat pribadi dan menjadi kemampuan khusus penggunanya, yang ternyata bisa digunakan sepenuhnya oleh Touya). Linze juga yang mengajari Touya soal cara menulis dan membaca. Elemen-elemen yang Linze kuasai meliputi cahaya, api, dan air. Dalam perkembangan cerita, Linze berstatus tunangan kedua
  • Kokonoe Yae; gadis samurai yang datang dari negeri Eashen yang jauh di timur (yang nuansanya sangat mirip Jepang, dan karenanya, Touya juga kerap disangka berasal dari sana.). Bersenjatakan sepasang katana. Yae sedang dalam perjalanan untuk mengasah kemampuan berpedangnya. Yae sempat ditolong kelompok Touya saat kelaparan sesudah bekal perjalanannya hilang. Yae berbicara dengan cara sedikit aneh. Makannya juga banyak. Meski Yae tidak berbakat sihir, Touya belajar banyak soal ilmu bela diri darinya. Dalam perkembangan cerita, Yae berstatus sebagai tunangan keempat
  • Yumina Urnea Belfast; putri mahkota Kerajaan Belfast yang menjadi teman Touya sesudah Touya secara kebetulan menolong ayahnya. Memiliki sepasang mata berbeda warna yang salah satunya memiliki kemampuan untuk membaca ‘sifat’ masing-masing orang (kemampuan ini, bagian Null Magic-nya, ternyata tidak ada hubungannya dengan warna matanya yang berbeda). Dari ‘penglihatannya,’ Yumina kemudian memilih Touya untuk menjadi calon suaminya. Berbeda dari teman-teman Touya yang lain, Yumina lebih muda beberapa tahun, tapi sifatnya justru yang paling dewasa. Mulai ikut tinggal bersama Touya sebagai petualang, dengan mengandalkan sihir sekaligus kemampuan memanah. Elemen-elemen sihir yang dapat digunakannya mencakup tanah, angin, dan kegelapan. Dalam perkembangan cerita, Yumina berstatus sebagai tunangan pertama (Semenjak pertama berhubungan, Touya kerap dibujuk secara tidak langsung oleh ayah Yumina untuk bersedia mengambil alih mahkota kerajaan.) Yumina juga tidak berkeberatan dengan poligami karena memang itu kebiasaan para raja di dunia ini. (Keluarga Yumina saja yang tidak lazim.)
  • Sushie Urnea Ortlinde; adik sepupu Yumina yang kebetulan sempat ditolong Touya dalam suatu kesempatan terpisah. Anak perempuan dari saudara laki-laki sang raja. Masih anak-anak. Belum banyak berperan di anime ini, tapi aku sebutkan saja karena dia termasuk yang ditonjolkan dalam animasi penutupnya. (Dalam perkembangan cerita di novelnya, Sushie menjadi tunangan keenam Touya karena sedikit isu politik yang melibatkan suatu negara lain.)
  • Leen; gadis mungil yang ternyata berusia ratusan tahun dan merupakan kepala suku peri di negara tetangga Kerajaan Mismede. Memiliki penampilan gothic loli, senantiasa ditemani seekor boneka beruang ‘hidup’ yang dinamainya Paula. Dari Leen, Touya belajar Null Magic Program yang memungkinkannya mengendalikan benda-benda. Leen juga adalah guru penyihir kerajaan di Belfast, Charlotte, dan menjadi tertarik dengan Touya semenjak mengetahui tentangnya. Dari Leen, Touya mengetahui lebih banyak tentang keberadaan puing-puing kuno. Belakangan, Leen menjadi duta besar baru bagi Mismede untuk Belfast. (Dalam perkembangan cerita di novelnya, Leen menjadi tunangan kedelapan)

Selain mereka, Touya juga jadi berteman dengan para pembesar Belfast, dengan keluarga pemilik penginapan tempat mereka dulu menumpang (sebelum mereka punya rumah mereka sendiri di ibukota), dengan pengusaha pakaian yang maniak dengan desan pakaian baru, dengan seorang pemilik toko senjata, dengan pemimpin Kerajaan Mismede yang dihuni beastmen, lalu belakangan… dengan manusia buatan bernama Cesca yang mengakui Touya sebagai pewaris sejumlah artefak kuno yang melayang-layang di angkasa.

Jumlah tokoh yang diperkenalkan seri ini lumayan banyak. Di luar dugaan, kesemuanya juga banyak berperan dalam keseharian Touya.

Pulau-pulau Babylon

Membahas soal teknis, anime Isekai Smartphone mengangkat cerita dari sekitar buku pertama sampai ketiga dari seri novelnya. Dari segi alur, adaptasi ceritanya, secara mengesankan, lumayan setia dengan novel. Yang enggak aku sangka, cerita-cerita sampingan yang ada di novel-novelnya (meski tidak semua) ternyata juga ikut diadaptasi. Penempatannya lumayan mulus. Terasa bagaimana cerita-cerita sampingan itu menyatu dengan cerita utamanya.

Sisi buruknya, cerita utamanya enggak berkembang sejauh yang aku harap. Beberapa karakter yang tampil di animasi pembuka luput terjelaskan peranannya. Ada beberapa benang alur yang berakhir tak terselesaikan. (Seperti soal monster-monster Fraze/Phrase, yang sempat disinggung mungkin akan mendatangkan hancurnya dunia.) Kalau dipikir, keputusan ini masih wajar sih. Cerita-cerita sampingan itu memang lumayan memaparkan kekhasan seri ini. Meski begitu, adaptasi anime ini tetap berhasil mengemas ceritanya agar berakhir di titik yang enak. Dalam artian, tanpa menutup kemungkinan ceritanya masih berlanjut.

Soal visual, kualitasnya tidak istimewa, tapi tetap bisa menarik. Pemilihan warnanya yang beragam lumayan selaras dengan nuansa cerah yang seri ini bawakan. Meski tidak sampai detil, penggambaran berbagai latar tempatnya juga terbilang indah dan beragam. Ada puing-puing ibukota lama (yang di bawahnya mereka pertama menemukan monster berbahaya penyerap sihir Fraze/Phrase secara tanpa sengaja), ada kota petualang Reflet tempat Touya pertama kali tiba, ada ibukota Belfast yang lokasinya benar-benar enak. Meski tidak berat di soal perjalanan, nuansa perjalanan yang seri ini punya lumayan terasa.

Animasinya juga biasa saja sih. Mungkin malah ada yang akan menganggapnya sangat kurang. (Ada sedikit proporsi badan aneh, ada adegan menebas yang dibikin tak mencolok, ada gerakan pertarungan yang bisa dibikin jauh lebih baik.) Tapi, sepupuku sempat menyinggung bagaimana dia terkesan dengan cara adegan-adegannya dibawakan. Dengan kata lain, kalau soal menyampaikan narasi, seri ini sebenarnya enggak punya kekurangan. (Meski, narasi yang dibawakannya memang enggak istimewa sih.)

Mungkin perlu kusinggung, seri ini juga punya beberapa karakter… uh, maskot. Jadi, meski ada fanservice-nya (serta beberapa dialog yang agak menjurus), ada juga semacam aspek imut dan lucu yang seri ini punya. Selain beruang Paula yang sudah aku sebut di atas, juga ada Kohaku, harimau putih kecil yang sesungguhnya adalah White Monarch, salah satu dari empat makhluk sihir terkuat yang berkuasa di alam. Dalam perkembangan cerita di novel, agaknya, jumlah karakter-karakter maskot ini juga terus bertambah.

Bicara soal audio, kesan Isekai Smartphone lebih campur aduk. Musik pembuka dan penutupnya tak buruk. (Lagu penutup “Junjou Emotion” bahkan dinyanyikan bergantian oleh para heroine.) Para seiyuu juga secara umum juga berperan dengan baik. (Kecuali Touya, tapi nanti aku bahas lebih lanjut soal itu.) Tapi, musik latarnya… sebagian ada yang pas dan sebagian lagi enggak. Secara umum, semuanya enak didengar sih. Aku suka dengan penekanannya terhadap alat-alat musik tiup. Namun di beberapa bagian, tetap terasa ada yang agak aneh.

Intinya, dari segi teknis, menurutku lumayan terasa bagaimana Production Reed masih meraba-raba cara terbaik dalam menjalankan usaha mereka. Tapi, serius, hasil akhir Isekai Smartphone menurutku enggak buruk.

Aku masih aneh dengan segmen-segmen komedi di peralihan adegan-adegannya sih. Tapi, kalau menyangkut soal ceritanya sendiri, meski mengikuti detil-detil yang terasa enggak penting agak susah, aku lambat laun berhasil dibuat penasaran soal kelanjutan ceritanya.

Yea, aku jadi penasaran dengan seri-seri novelnya!

Mengingat suatu anime belakangan diproduksi sebagai ‘iklan’ untuk seri aslinya, bisa dibilang misi para produsernya sebenarnya sukses.

Slime Tidak Populer Dengan Wanita

Sesudah mengikuti Isekai Smartphone, aku jadi sedikit mikir: apakah kunci sukses tidaknya kita di dunia sebenarnya ditentukan oleh seberapa dekat kita dengan ‘dia yang berkuasa’? Tapi, dari sini, kita ada dua pertanyaan. Satu: siapakah yang berkuasa? Dua: bagaimana cara kita bisa dekat dengannya?

Kalau mikir ini lebih jauh, aku jadinya kepikiran soal agama.

Yah, Terlepas dari itu, kayak biasa untuk kasus-kasus begini, meski versi anime tetap punya sisi-sisi baiknya, versi novel Isekai Smartphone masih lebih bagus ketimbang animenya.

Perbedaan paling kentara terdapat pada pribadi Touya sendiri. Meski Touya nyata-nyata emang orang baik—dan alur animenya hampir sama persis dengan yang di novelnya—versi novelnya secara umum diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Lalu, monolog internal Touya inilah yang membuat versi novelnya jadi beneran menarik.

Ceritanya enggak pernah jadi sangat bagus. Tapi, apalagi untuk ukuran novel isekai, versi novel Isekai Smartphone seriusan termasuk gampang dimasuki dan dinikmati. Meski kesan permukaannya datar, reaksi internal Touya terhadap segala sesuatu benar-benar kocak. Iya, aspek romansanya agak maksa. (Dan menarik gimana aspek ini jadi ditonjolkan di animenya.) Tapi, dengan segala kesederhanaannya, ini bacaan fun yang di dalamnya ada saja hal unik yang terjadi. Perlu disinggung elemen per-game-an yang biasa ada di suatu seri isekai juga sama sekali absen di seri ini.

Ngomong-ngomong, Fuyuhara-sensei konon mengetik novel ini menggunakan smartphone-nya juga. Aku seriusan heran gimana orang bisa sampai kayak gini.

Eh? Soal smartphone-nya?

Oh. Iya. Smartphone itu beneran berperan dalam cerita. Dengan menggabungkan dengan Null Magic, Touya jadi menemukan berbagai cara pemakaian kreatif untuk fitur-fitur dan aplikasi ponselnya.  Awal-awalnya memang enggak menonjol. Tapi makin ke sana, jadi makin bagus.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: C+; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

02/10/2017

Anime Baru Musim Gugur 2017

Maaf (sangat) telat. Maaf belakangan ga nulis. Kesehatanku menurun. Soal pekerjaan bermasalah. Lalu aku sedang dilanda ketidakpastian soal masa depan.

Terlepas dari itu, jumlah seri baru di fall kali ini mungkin enggak banyak, tapi seri-seri baru yang keluar terbilang unik. Pastinya, banyak nama sutradara baru yang bermunculan.

Mungkin ini musim yang bagus untuk mengejar ketertinggalan seri-seri lama?

Kayak biasa, daftar ini enggak bisa diandalkan.

Akan diupdate berkala apabila perlu.

Mahou Tsukai no Yome (Wit Studio)

Seorang gadis muda bernama Hatori Chise menjadikan dirinya budak karena berbagai kesedihan semasa hidup. Chise lalu dibeli oleh Elias Ainsworth, pria misterius berdarah manusia sekaligus peri yang juga seorang penyihir. Elias rupanya telah memilih Chise untuk dijadikan murid sekaligus pengantinnya. Maka dimulailah kehidupan bersama mereka, yang sebenarnya dilandasi keinginan Elias untuk mencegah Chise meninggal dunia.

Dikenal juga dengan judul The Ancient Magus’s Bride, ini proyek unggulan Wit Studio selama beberapa tahun terakhir yang juga sempat dibuat OVA. Cerita OVA-nya berdiri sendiri, jadi kalian tak perlu melihatnya dulu untuk bisa mengikuti seri TV ini. Certanya diangkat dari manga buatan Yamazaki Kore di majalah Monthly Comic Blade dan Monthly Comic Garden. Seluruh staf dari OVA akan kembali, dipimpin Naganuma Norihiro sebagai sutradara. Ceritanya menakjubkan dalam artian fantastis. Ada banyak hal ajaib dan karakter-karakter menarik. Kualitas teknisnya kelihatannya menjanjikan. Tapi, mungkin ini tipe seri yang memerlukan alasan pribadi dari kalian sebelum bisa diikuti. Kudengar ini salah satu seri paling dinanti di musim ini

Anime-Gataris (Wao World)

Asagaya Minoa, pelajar baru di SMA Swasta Sakaneko, diundang ke Klub Penelitian Anime oleh teman sekelasnya, Kamiigusa Arisu yang kaya raya. Minoa lama-lama menjadi penggemar anime juga berkat perbincangan dengan berbagai sempainya (yang notabene orang-orang aneh). Bersama, mereka berusaha mencegah klub mereka dibubarkan, mengabaikan kehancuran dunia, serta membicarakan soal anime di manapun mereka berada.

Ini seri orisinil baru dari studio yang relatif baru pula. Genrenya komedi. Tokohnya banyak dan juga beragam. Morii Kenshiro yang pernah terlibat di Gakumon! dan Wake Up Girl Zoo! yang akan menyutradarai. Naskahnya ditangani Hirota Mitsutaka (Sweetness & Lightning). Aku pribadi belum yakin ini akan dibawa ke mana, tapi gelagatnya sejauh ini termasuk kuat. Mungkin bakal ada kejutan-kejutan enggak disangka dalam ceritanya.

Blend S (A-1 Pictures)

Sakuranomiya Maika memiliki tatapan tidak suka yang alami di wajahnya. Lalu suatu hari, ia diterima kerja di suatu kafe di mana para pelayan wanitanya diberikan atribut-atribut tertentu. Manajer kafe tersebut kemudian memberi Maika atribut “Do S” (kesadisan ekstrim) sebagai pelayan. Maka dari itu, Maika jadi harus belajar menjadi lebih dominan dan agresif.

Masuyama Ryouji yang pernah terlibat dalam The IDOLM@STER dan Gurren Lagann Parallel Works yang akan menyutradarai, dengan Zappa Go (Nakaimo, Koihime Musou) yang menangani naskah. Kikuya Tomoki (Eromanga Sensei) akan menangani musik. Ini berawal dari seri tamu di majalah Manga Time Kirara Carat yang dikarang Nakayama Miyuki. Intinya, ini seri komedi tentang orang-orang yang bersikap tidak sesuai tampang luar mereka. …Aku lumayan kesusahan menilai seri-seri seperti ini.  Iya, desain karakter-karakternya manis.

Shoujo Shuumatsu Ryokou (White Fox)

Peradaban telah berakhir. Mesin-mesin telah mati. Kota-kota telah berubah menjadi labirin-labirin lapuk. Sebagian besar umat manusia telah meninggal dunia. Tapi dua gadis, Chito dan Yuuri, masih berkelana, keliling dunia, menggunakan motor traktor Kettenkraftrad kesayangan mereka. Bersama, mereka berusaha bertahan hidup di tengah dunia dingin yang semakin suram.

Dikenal juga dengan judul Girl’s Last Tour, ini seri post-apocalyptic menghangatkan hati yang diangkat dari seri manga karya Tsukumizu di majalah digital Kurage Bunch. Desain karakternya imut dan ada banyak pemandangan latar menarik penuh detil di dalamnya. Ozaki Takaharu (Persona 5 the Animation – The Day Breakers) yang akan menyutradarai. Fudeyasu Kazuyuki (Monmusu) yang akan menangani naskah. Musik ditangani Suehiro Kenichiro (Re: ZERO). Sejauh ini, kualitas teknisnya kayaknya benar-benar kuat.

Dies irae (ACGT)

Pada suatu hari, Fujii Ren tiba-tiba berkelahi dan nyaris saling bunuh dengan sahabatnya, Yusa Shirou, karena alasan yang berakhir tak terungkap. Dua bulan kemudian, pada bulan Desember di kota Suwahara, Ren yang sudah keluar rumah sakit mulai dihantui mimpi-mimpi ganjil tentang guilotin. Serangkaian pembunuhan sadis terjadi di jalanan, mengingatkan Ren akan kata-kata Shirou sebelum ia menghilang. Semua misteri ternyata berhubungan dengan ritual yang dicanangkan kelompok Nazi Reichskanzlei pada penghujung Perang Dunia II, yang dilakukan demi mendatangkan Order of 13 Lances untuk menghancurkan dunia.

Diangkat dari visual novel dewasa yang dikembangkan Light, perlu disinggung kalau anime ini diproduksi berkat upaya pengumpulan dana yang Light canangkan, yang berujung menjadi salah satu crowdfunding paling sukses di Jepang (target 30 juta yen, terkumpul 96,5 juta). Kudo Susumu (Mardock Scramble, Coppelion) yang akan menyutradarainya. Naskahnya akan ditangani Masada Takashi yang juga menangani naskah untuk gamenya. Yonao Keiji juga kembali untuk mengkomposisi musik. Buat yang belum tahu, ini pada dasarnya cerita aksi yang penuh elemen chuunibyou. Tapi, pemaparannya dibuat sedemikian rupa sehingga ujung-ujungnya malah berakhir lumayan keren. Common route untuk visual novel-nya dalam Bahasa Inggris tersedia secara gratis di Steam. Seri ini dikabarkan berjumlah 18 episode. Dua belas episode pertama akan disiarkan, sedangkan sisanya akan tersedia lewat stream.

Code: Realize – Sousei no Himegimi (M.S.C)

Seorang gadis bernama Cardia mengurung diri di sebuah rumah besar di tepi kota London. Dalam tubuhnya, tersimpan racun berbahaya yang bisa meluluhkan apapun yang kulitnya sentuh. Satu hari, keterasingannya terusik saat Pasukan Pengawal Kerajaan tiba-tiba datang dengan maksud untuk menangkapnya. Saat itulah, Arsène Lupin, pencuri budiman, datang untuk menolongnya. Bersama, mereka melakukan perjalanan untuk menemukan ayah Cardia yang mungkin memnyimpan jawaban terhadap kondisinya.

Didasarkan pada game bernuansa steampunk keluaran Idea Factory dan Design Factory, seri ini menghadirkan berbagai karakter terkenal lain seperti Abraham Van Helsing dan Victor Frankenstein sebagai lelaki-lelaki tampan yang menjadi kawan-kawan seperjalanan Cardia. Sori, aku belum tahu banyak tentang gamenya. Yamamoto Hideyo yang menyutradarai Strike the Blood yang akan menyutradarainya. Harada Sayaka (STARMYU) yang akan menangani komposisi seri. Studionya masih baru, jadi belum banyak yang bisa aku komentari. Gelagatnya sejauh ini tidak akan jelek, walau mungkin tidak sampai bagus juga.

Just Because! (PINE JAM)

Musim dingin tiba. Waktu yang para siswa kelas tiga punyai di SMA sudah semakin sedikit. Semua orang di kelas kini hanya tinggal menunggu kelulusan. Tapi, di masa inilah, Izumi Eita kembali ke kota kelahirannya setelah meninggalkannya selama empat tahun. Reuninya dengan teman-teman lamanya mengubah banyak hal di hari-hari terakhir menjelang kelulusan mereka.

Seri drama ini adalah anime orisinil keluaran studio PINE JAM yang masih relatif baru. Seri ini menonjolkan desain karakter buatan mangaka Himura Kiseki (yang belum lama ini terkenal berkat Getsuyoubi no Tawawa). Di samping itu, PINE JAM berhasil menarik perhatian di musim lalu lewat Gamers!, sehingga gelagat seri baru ini termasuk kuat. Kobayashi Atsushi (Girls & Panzer) akan memulai debut sutradaranya lewat seri ini. Kamoshida Hajime (The Pet Girl of Sakurasou) yang menangani naskahnya. Yanagi Nagi akan memproduksi musiknya.

Inuyashiki: Last Hero (MAPPA)

Inuyashiki Ichirou adalah kepala rumah tangga berusia lanjut yang telah bekerja keras, tapi dipandang sebelah mata oleh keluarganya sendiri. Dia tidak dihargai di rumah maupun di tempat kerjanya. Tubuhnya menua lebih cepat dari usianya. Lalu, dia pun didiagnosa mengidap penyakit mematikan. Tapi… semua berubah saat suatu UFO tanpa sengaja menabraknya di taman, dan membangun ulang tubuhnya dari awal.

Diangkat dari seri manga seinen serius karangan Oku Hiroya (pengarang seri aksi sains fiksi Gantz), kau bisa mengharapkan banyak komentar sosial sekaligus aksi-aksi menakjubkan. Sejauh ini, key visual-nya kelihatannya berhasil mengadopsi gaya visual Oku-sensei yang khas. Satou Keiichi (Tiger & Bunny, GANTZ:O) menjadi sutradara utama. Yabuta Shuhei (Highschool of the Dead, Attack on Titan) akan menjadi sutradara seri. Naskahnya akan ditangani Seko Hiroshi (Ajin, Kotetsujou no Kabaneri). Berhubung seri manganya sudah tamat, ditambah dengan kualitas animasi MAPPA yang dikenal mumpuni, bakal ada lumayan banyak pengharapan untuk seri ini. Berhubung sifat ceritanya, ini mungkin bukan seri yang cocok untuk semua kalangan.

Imouto Sae Iireba Ii (SILVER LINK)

Hashima Itsuki adalah novelis dan juga “Pygmalion zaman modern” yang bekerja siang dan malam karena terobsesi menciptakan sosok adik perempuan yang sempurna. Dia dikelilingi seorang penulis cantik dan jenius yang jatuh hati padanya, teman kuliahnya yang bagaikan kakak perempuan, sesama teman penulis, seorang akuntan pajak yang sadis, editornya sendiri; dan mereka semua diurusi oleh Chihiro, “adik tiri laki-laki” Itsuki, yang menyimpan suatu rahasia besar.

Diangkat dari seri novel komedi karangan Hirasaka Yomi (pengarang Haganai)… yah, kalau kalian kenal pengarangnya, mungkin kalian bisa menebak kira-kira seperi apa perkembangannya. Sutradara andal Oounuma Shin (WATAMOTE, Anne-Happy) yang akan menangani produksinya dengan dibantu Tamamura Jin (Rakudai Kishi no Chivalry). Musik ditangani Kikuya Tomoki (Hentai Ouji to Warawanai Neko). Naskahnya akan ditangani oleh Hirasaka-sensei sendiri. Kalau kalian tidak keberatan dengan tema ceritanya, kualitas produksinya sejauh ini terbilang meyakinkan.

Konohana Kitan (Lerche)

Kokohana-tei adalah hotel dengan pemandian air panas yang terletak di kota penginapan yang terletak di batas antar dunia. Yuzu, seorang pekerja baru, bergabung bersama gadis-gadis siluman rubah lain dalam mengelola penginapan tersebut. Bersama-sama, mereka berusaha menyembuhkan keletihan jiwa para tamu yang datang.

Diangkat dari manga karya Amano Sakuya, yang diserialisasikan di majalah Comic Yuri Hime S milik Ichijinsha sebelum diserialisasi ulang di Comic Birz milik Gentosha, kudengar ini lumayan ditunggu oleh penyuka seri-seri ringan dan manis semacam ini. Okamoto Hideki (Da Capo II, Nagasarete Airantou) akan kembali menyutradarai setelah sekian lama, dengan Yoshioka Takao (WATAMOTE, Ikki Tousen) menangani komposisi seri.  Aku masih belum tahu banyak tentang seri ini, tapi karakter-karakternya yang manis dan nuansa dunia lainnya menjadi daya tariknya yang terbesar.

Ousama Game The Animation (Seven)

Seluruh siswa di suatu kelas SMA yang sama, berjumlah 32 orang, pada suatu hari memperoleh pesan yang sama lewat ponsel dari seseorang yang menyebut dirinya “Raja.” Pesan tersebut berisi perintah yang wajib dituruti oleh semua murid di kelas tersebut, dengan resiko kematian sebagai hukuman bila tidak dipenuhi. Awalnya, hal tersebut terkesan main-main. Tapi, saat orang-orang benar-benar mulai terbunuh dan perintah-perintah yang diberikan semakin keji, Kanazawa Nobuaki dan kawan-kawannya berusaha mencari cara untuk bertahan hidup.

Juga dikenal dengan judul King’s Game, ini diangkat dari seri novel ponsel karangan Kanazawa Nobuaki (iya, pengarangnya menggunakan nama yang sama dengan nama karakter utama) terbitan Futabasha yang sempat menarik perhatian bertahun-tahun silam dari tahun 2009. Ada adaptasi manga, live action, dan pembuatan sekuel dan prekuel segala. Ceritanya, setahuku, sebenarnya lumayan mengandalkan shock value dan kurang bisa dikatakan bagus. Karenanya, ada harapan kalau versi anime ini akan memberi perbaikan pada ceritanya. Sasaki Noriyoshi (Ojisan to Marshmallow) yang akan menyutradarainya. Konuta Kenji (Haitai Nanafa, Daiya no Ace) yang akan menangani komposisi seri. Jujur saja, gelagatnya sejauh ini lebih meyakinkan dari keluaran-keluaran Seven yang terdahulu. Ini menarik buat para penyuka thriller.

Houseki no Kuni (Orange)

Jauh di masa depan, suatu bentuk kehidupan baru yang dikenal sebagai “houseki” (permata) telah terlahir. Mereka harus berhadapan dengan kaum “tsukijin” (orang-orang bulan) yang menyerang mereka karena hendak mengubah mereka menjadi hiasan. Masing-masing houseki karenanya mendapat peran dalam pertempuran. Namun Phos, seorang houseki yang berharap bisa ikut bertarung, tidak mendapat peran. Kongo, manajer mereka, di luar dugaan kemudian menyuruhnya menjadi editor suatu majalah sejarah alam.

Ini seri yang sulit kelihatan daya tariknya sebelum kalian melihatnya sendiri. Diangkat dari manga buatan Ichikawa Haruko, yang diserialisasikan di majalah Afternoon milik Kodansha, premisnya mungkin aneh, tapi perkembangan ceritanya benar-benar menarik. Berhubung Orange yang menganimasikannya, kualitas animasinya juga diharapkan bagus. Dikenal juga dengan judul Land of the Lustrous. Sutradaranya adalah Kyougoku Takahiko (Love Live!, GATE). Naskahnya akan ditangani Ono Toshiya (Gatchaman Crowds, Subete ga F ni Naru). Beberapa tahun lalu juga sempat keluar adaptasi OVA-nya yang diproduksi Studio Hibari. Serius, kalian mending melihatnya sendiri. Nuansa fantasinya lebih menarik yang aku kira.

Boku no Kanojo ga Majime Sugiru Shoujo Bitch na Ken (Diomedea, Studio Blanc)

Karena terlanjur naksir, remaja SMA bernama Shinozaki Haruka akhirnya menyatakan perasaannya pada ketua kelasnya yang cantik dan sangat serius, Kosaka Akiho. Di luar dugaan, Kosaka menerima perasaan Shinozaki. Tapi, berhubung Kosaka orang yang sangat serius, ia berusaha mempelajari berbagai cara agar hubungan mereka awet. Hal ini berujung pada bagaimana Kosaka dengan polosnya mempraktekkan berbagai tips soal menjalin hubungan yang sebenarnya nakal.

Juga dikenal dengan judul My Girlfriend is Shobitch, ini diangkat dari seri manga karya Matsumoto Namiru. Iya, ini seri komedi berbahaya yang agak aneh. Nagayama Nobuyoshi (Hinako Note) akan tampil sebagai sutradara untuk seri ini. Naskahnya akan ditangani Shirane Hideki (Kill Me Baby, Date A Live). Kelihatannya, ini akan jadi jenis seri yang lumayan menonjol di satu bagian, tapi kurang menonjol di bagian lain.

Netoju no Susume (Signal.MD)

Morioka Moriko, seorang perempuan lajang berusia 30 tahun, memutuskan keluar dari perusahaannya akibat stres kerja. Ujung-ujungnya, dia malah menjadi NEET. Muak dengan dunia nyata, dia mulai menggandrungi permainan-permainan MMO di mana dia bermain sebagai karakter lelaki bernama Hayashi. Sampai suatu ketika, Hayashi berkenalan dengan Lily, karakter perempuan sangat menawan bagaikan bidadari. Berkat Lily, Moriko mulai menemukan tempat berada sekaligus semacam kepuasan dalam hidupnya. Sampai ketika Moriko tanpa sengaja berkenalan di dunia nyata dengan Sakurai Yuta, seorang pebisnis tampan, yang lagi-lagi mengawali semacam perubahan dalam hidupnya.

Juga dikenal dengan judul Recovery of an MMO Junkie atau Recommendation of the Wonderful Virtual Life, ini diangkat dari manga karya Kokuyorin yang diserialisasikan lewat aplikasi Comico. Studio animasi Signal.MD selama ini mungkin kurang menonjol. Kualitas teknisnya juga mungkin tidak wah. Tapi, ada sesuatu tentang seri ini yang lumayan berkesan. Yaginuma Kazuyoshi (Bokurano) akan tampil sebagai sutradara untuk seri ini. Komposisi serinya akan ditangani oleh Fudeyasu Kazuyuki (Gochiusa, Denkigai). Noto Mamiko yang handal yang akan mengisi suara tokoh utamanya.

Black Clover (Studio Pierrot)

Di dunia di mana sihir merupakan segalanya, Asta dan Yuno adalah dua anak lelaki yatim piatu yang ditelantarkan di pintu gereja pada hari yang sama. Yuno memiliki bakat sihir yang luar biasa, sementara Asta terlahir tanpa bakat sedikitpun. Sesudah mereka menginjak usia 15 tahun, keduanya menerima grimoire masing-masing yang memperkuat sihir yang mereka miliki. Sesudah sedikit konflik, Asta kemudian menerima grimoire langka yang memberinya kekuatan anti-sihir. Persaingan mereka dalam keksatriaan untuk menjadi Raja Penyihir di masa mendatang pun dimulai.

Diangkat dari seri manga shonen karya Tabata Yuuki yang diserialisasikan di Weekly Shonen Jump, ini seri aksi untuk cowok yang sebenarnya sangat generik, tapi sama sekali enggak jelek juga. Menilai kasus Naruto, Bleach, dan One Piece, mungkin adaptasi seri ini bakal panjang. Tapi, kalau melihat gelagat My Hero Academia, mungkin juga enggak. Sutradara muda Yoshihara Tatsuya (Monmusu, Yatterman Night) akan menyutradarai. Fudeyasu Kazuyuki (Gochiusa, Milky Holmes) yang akan menangani komposisi seri. Potensinya sejauh ini terlihat lebih menjanjikan dari dugaan.

Two Car (SILVER LINK)

Miyata Yuri dan Meguro Megumi adalah sepasang gadis remaja yang mengikuti kejuaraan balap motor sespan di Pulau Miyake, suatu pulau kecil dan terpencil sekitar 200 km di selatan pusat Tokyo, tapi masih termasuk wilayah Tokyo Metropolitan. Meski kepribadian mereka bertentangan, mereka saling melengkapi selama balapan. Bersama, mereka menghadapi berbagai tim balap motor sespan lain dari seluruh Jepang dengan kepribadian mereka masing-masing.

Dikenal juga dengan judul Two Car: Racing Sidecar, ini sekilas terlihat seperti tipikal anime tentang gadis-gadis manis yang melakukan suatu kegiatan. Tapi, kalau kau perhatikan baik-baik, ada banyak detilnya yang benar-benar menarik. Tamura Masafumi (Ange Vierge) yang akan menyutradarai. Naskahnya akan ditangani Takayama Katsuhiko (Hanbun no Tsuki ga Noboru Sora, Ga-Rei: Zero). Musiknya akan ditangani Takahashi Ryo (ACCA, Oshiete! Galko-chan). Menurutku, ini seri yang sulit diperkirakan bagus tidaknya. Meski begitu, ada banyak hal yang patut dilihat di dalamnya.

Garo – Vanishing Line (MAPPA)

Seorang pria tangguh bernama Sword datang ke Russell City yang makmur dengan maksud untuk menyelidiki suatu konspirasi yang dapat mengguncang dunia. Petunjuk yang dimilikinya hanya kata kunci misterius “El Dorado.” Sword bersimpangan jalan dengan Sophie, seorang perempuan yang mencari kakak lelakinya yang menghilang sesudah meninggalkan kata-kata kunci yang sama. Mencari jejak adik perempuannya sendiri, Sword bersama Sophie terseret dalam perang bayangan yang tersembunyi di balik El Dorado.

Vanishing Line akan disutradarai oleh Seong Ho Park (Terror in Resonance, Yuri!!! on Ice), yang akan memulai debutnya sebagai sutradara lewat seri ini. Naskahnya akan ditangani oleh Yoshimura Kiyoko (Dogs: Bullets & Carnage, Riddle Story of Devil). Musiknya akan ditangani monaca. Seri ini menarik karena punya nuansa yang sangat mirip dengan anime-anime aksi keluaran Gonzo di seputaran tahun 2007. Meski menjadi bagian waralaba seri tokusatsu aksi horor supernatural dewasa Garo, kelihatannya kau tak perlu tahu tentang pendahulunya untuk menikmati seri ini. Grup musik JAM Project juga kembali terlibat dalam membawakan lagunya. Kelihatannya ini bisa menjadi seri aksi yang benar-benar solid.

Infini-T Force (Tatsunoko Productions, Digital Frontier)

Sosok jahat Z yang misterius ingin menghancurkan semua semesta kecuali satu. Tapi, untuk melakukannya, suatu benda khusus diperlukan, yang ternyata jatuh ke tangan seorang gadis bernama Kaido Emi. Empat orang pahlawan legendaris dari dunia-dunia berbeda kemudian bersatu demi melindungi Emi dan menghentikan rencana jahat Z.

Seri animasi CG ini dibuat untuk memperingati ulang tahun ke-55 dari studio Tatsunoko. Seri ini istimewa karena akan menyatukan empat pahlawan dari seri-seri klasik Tatsunoko, yakni ksatria luar angkasa Tekkaman (yang orisinil, bukan yang dari seri Tekkaman Blade yang lebih terkenal), manusia robot Casshern, ninja canggih Gatchaman (yang orisinil, bukan yang dari Gacthaman Crowds), dan Polymar yang bisa mengubah bentuk badan. Penyutradaraannya akan ditangani Suzuki Kiyotaka dengan naskah ditangani Ono Toshiya. Desain konsep karakternya yang baru ditangani oleh mangaka Oh! great. Bagaimanapun hasilnya, karena nostalgia masa kecil, aku benar-benar berminat terhadap seri ini. Sejauh ini, kabarnya interaksi antar karakter (dan aksinya) menjadi apa yang ditonjolkan.

Kujira no Ko-ra wa Sajou ni Utau (J.C. Staff)

Di dunia yang diselimuti pasir, seorang bocah bernama Chakuro hidup di atas kapal raksasa Paus Lumpur yang mengambang melintasi lautan pasir. Chakura dan kawan-kawannya belum pernah menjumpai siapapun dari dunia luar, dan mereka bercita-cita agar suatu hari bisa menjelajahinya. Suatu hari, puing-puing sebuah kapal terdampar ditemukan, dan di dalamnya, Chakura menjumpai seorang gadis.

Dikenal juga dengan judul Children of the Whales, seri ini diangkat dari manga shoujo karya Umeda Abi yang diserialisasikan di majalah Monthly Mystery Bonita milik Akita Shoten. Sapuan warna yang digunakan dalam penggambaran latarnya benar-benar indah. Kualitas teknisnya terbilang benar-benar menjanjikan. Ishiguro Kyouhei (Shigatsu wa Kimi no Uso, Occultic;Nine) yang akan menyutradarainya. Yokote Michiko (Shirobako) yang akan menangani naskahnya. Musiknya ditangani oleh Tsutsumi Hiroaki (Kuromukuro, Orange, Ao Haru Ride). Kurasa, seri ini terutama menarik bagi kalian yang suka anime karena ingin melihat tempat-tempat yang beda. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Urahara (Shirogumi Inc., EMT Squared)

Beberapa tahun dari sekarang, kota-kota besar yang ada di dunia akan hancur oleh serbuan makhluk-makhluk planet lain. Target makhluk-makhluk itu yang berikutnya adalah… distrik Harajuku di Tokyo yang terkenal! Hanya tiga gadis toko pencari harta karun, Suda Rito dan kawan-kawannya, yang bisa menyelamatkan Harajuku. Tapi, sebelum itu, mereka terlebih dahulu harus berperan sebagai anggota PARK Harajuku: Crisis Team.

Urahara diangkat dari komik web PARK Harajuku: Crisis Team yang dibuat lewat kerjasama Patrick Marcias, Tanaka Mugi, dan Crunchyroll. Dengan warna-warninya yang terang dan cerah, desain dunianya yang penuh hal aneh, serta pakaian-pakaian para karakternya yang modis, bisa jadi ini adalah anime paling… uh, ‘ajaib’ di musim ini. Iwasaki Yasunori akan berperan menangani musik. Animator pendatang baru sekaligus peraih penghargaan, Kubo Amika, akan berperan sebagai sutradara, membantu Arakawa Masatsugu (Nurse Witch Komugi) sebagai sutradara kepala. Takahashi Natsuko (Renai Boukun, Kenka Banchou Otome) yang akan menangani naskah. Selain itu, anime ini menandai debut penyanyi terkenal Haruna Luna sebagai pengisi suara (dia berperan sebagai tokoh utama). Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Buat kalian yang mencari info tentang adaptasi anime dari LN fantasi Saredo Tsumibito wa Ryuu to Odoru: Dances With Dragons, itu secara mendadak ditunda sampai pertengahan 2018. Semoga saja enggak ada masalah besar di produksinya.

Sebagai tambahan, DYNAMIC CHORD yang dikerjakan Studio Pierrot menjadi seri anime otome lain musim ini. Diangkat dari game bernuansa dunia rock band keluaran honeybee, ini jenis seri yang memperkenalkan berbagai karakter tampan yang terbagi dalam empat grup band terpisah. Kesemua band yang saling bersaing tersebut ceritanya bernaung di bawah label rekaman Dynamic Chord. Aku masih kurang tahu tentang seri ini, tapi kelihatannya lumayan. Musiknya mungkin mencolok.

Juuni Taisen: Zodiac War keluaran Graphinica menjadi seri yang mungkin menarik perhatian. Ini diangkat dari seri novel buatan Nisio Isin (Monogatari, Medaka Box) yang diilustrasikan Nakamura Hikaru (Arakawa Under the Bridge, Saint Young Men). Ceritanya tentang Turnamen Dua Belas kedua belas yang dihadirkan setiap dua belas tahun sekali, yang mana dua belas ksatria pemberani yang mewakili masing-masing dari dua belas shio melakukan pertarungan hidup mati melawan satu sama lain. Ringkasnya, katanya ini seperti Fate/stay night dengan suasana Monogatari. Ini seri yang sangat aneh, tapi gelagatnya sejauh ini meyakinkan. Salah satu sutradara favoritku, Hosada Naoto (Hataraku Maou-sama!), yang ternyata akan menyutradarai.

Sengoku Night Blood yang dikembangkan dari waralaba game otome keluaran Marvelous, Kadokawa, dan Otomate, juga akan tayang. Produksi animasinya dilakukan Typhoon Graphics, yang belakangan menarik perhatian dengan One Room dan Room Mate. Ringkasnya, ini fantasi romansa di zaman Sengoku (Negara Berperang) yang mana para karakter dalam keenam kubu juga punya sisi manusia serigala (Uesugi, Takeda, Sanada, Date) atau vampir (Oda dan Toyotomi). Iya, si gadis yang menjadi tokoh utama konon punya keistimewaan yang bisa mengubah jalannya perang. Jumlah karakternya terbilang banyak. Kikuchi Katsuya (The Royal Tutor) yang akan menjadi sutradara.

RoboMasters the Animated Series yang mengisahkan tentang anak-anak kuliahan yang ikut dalam dunia kompetisi robot juga akan tayang. Ini diproduksi lewat kerjasama Cina dan Jepang. Yamamoto Yasutaka (Jitsu wa Watashi wa…) yang menjadi sutradara. Naskahnya ditangani Yamashita Kenichi (D.Gray-man Hallow). Seri ini tidak menonjol, tapi patut diperhatikan oleh kalian yang berminat terhadap robotika. Produksinya ditangani Dandelion Animation Studio.

UQ Holder! Magister Negi Magi! 2 juga akan tayang. Meski disebut sebagai sekuel manga komedi aksi Negima, ini cerita dengan karakter-karakter berbeda yang lumayan berdiri sendiri. Produksinya akan dilakukan oleh J.C. Staff. Buat yang belum tahu, ceritanya mengetengahkan Konoe Touta, cucu bocah penyihir Negi Springfield (tokoh utama seri sebelumnya), dan berlatar berpuluh tahun kemudian. Touta ingin meninggalkan desanya dan mengunjungi space elevator di kota. Tapi sebelum itu, ia harus bisa mengalahkan gurunya, sang vampir abadi, Evangeline. Akamatsu Ken, pengarang manga aslinya, juga akan membantu untuk komposisi seri. Suzuki Youhei yang akan menyutradarainya. Meski enggak sangat terkenal, seri ini punya basis penggemar lumayan kuat.

Akan ada juga Kino no Tabi – the Beautiful World – the Animated Series, reboot dari seri drama klasik bertema perjalanan Kino’s Journey, yang dibuat berdasarkan seri novel populer karangan Sigsawa Keiichi. Ceritanya tentang Kino, seorang petualang muda yang berkelana menggunakan sepeda motornya yang bisa berbicara, Hermes. Mereka menjelajahi berbagai tempat dan masyarakat, dengan aturan ketat hanya melewatkan tiga hari di satu tempat. Ceritanya punya nuansa dongeng dan parabel yang kuat. Lerche yang akan memproduksi. Secara teknis, kualitasnya akan ada peningkatan. Tapi, ada gelagat nuansa khas dari versi anime sebelumnya akan berkurang. Para penggemar lama tak perlu khawatir karena sebagian cerita dari buku-buku yang lebih ke sini (yang tidak diangkat dalam versi anime sebelumnya) juga akan digarap.

Anime-anime sekuel di musim ini lumayan banyak. Kesemuanya meliputi:

  • Kelanjutan komedi musik klasik gado-gado ClassicaLoid keluaran Sunrise. (Season 2) Kudengar ini lumayan lucu.
  • Kehidupan drama komedi bersama siluman Youkai Apartment no Yuuga no Nichijou (Season 2). Kudengar ini juga lumayan lucu.
  • Blood Blockade Battlefront & BEYOND, musim tayang kedua dari anime aksi supernatural berlatar New York Kekkai Sensen. Ceritanya kudengar akan lebih mengikuti cerita di manganya, yang bisa jadi hal baik sekaligus buruk. BONES yang masih akan memproduksi.
  • Seri permainan kartu Cardfight!! Vanguard GZ. Sori, aku tak mengikuti.
  • ame-con!!, kelanjutan dari seri Rainy Cocoa, yang berlatar di kafe dan menonjolkan pembicaraan cute antar cowok-cowok tampan. Maaf, aku juga tak mengikuti, tapi kudengar latarnya berpindah ke Hawaii?!
  • Seri perjuangan grup idola WUG dari wilayah Tohoku, Wake Up, Girls! Shin Shou, yang kali ini diproduksi tanpa campur tangan sutradara kontroversial Yamakan. Desain karakter dan nuansanya akan berbeda, tapi ini masih karakter-karakter yang sama. Akan ada karakter-karakter baru. Millepensee yang akan memproduksi, menggantikan Ordet. Itagaki Shin yang akan… uh, menyutradarai.
  • Kelanjutan cerita gadis-gadis pahlawan Yuuki Yuuna wa Yuusha de Aru: Washio Sumi no Shou. Kudengar ini akan jadi versi kompilasi dari seri layar lebarnya. (Penanganan yang mirip kasus Gundam Unicorn) Studio Gokumi yang masih memproduksi. Yuuki Yuuna menjadi kejutan di masa tayangnya. Karena itu, sekuel ini juga termasuk yang diantisipasi.
  • Seri komedi enggak serius tentang perjalanan waktu mengkaji sejarah asli dan palsu dengan mesin-mesin tempur aneh Time Bokan: Gyakushuu no San-Okunin. (Semacam season 2 dari Time Bokan 24.) Tatsunoko masih memproduksi.
  • Seri tentang sekolah kompetisi memasak Shokugeki no Souma: San no Sara (Season 3) keluaran J.C. Staff juga akan ada. Membandingkan perkembangan manganya, aku terkesan karena adaptasinya sudah ada secepat ini.
  • Kelanjutan cerita tentang adik perempuan merepotkan tapi cute di Himouto! Umaru-chan R. (Season 2) Semua staf lama di Doga Kobo kembali untuk menangani.
  • Kelanjutan komedi supernatural tentang para pengurus arwah di alam baka dan tangan kanannya yang senantiasa cool, Houzuki no Reitetsu (Season 2). Studio DEEN akan menggantikan Wit Studio dalam memproduksi. Sutradara dan desainer karakternya ganti, walau penulis naskah dan komposer musiknya sama. Perbedaan dengan season sebelumnya pasti bakal ada.
  • Gintama (Season 5) yang masih ada juga. Kali ini akan mengetengahkan bagian cerita Poppori.
  • Kelanjutan seri drama psikologis tentang kehidupan dan kesepian berlatar dunia kompetisi shogi, Sangatsu no Lion (Season 2), juga akan ada.
  • Kelanjutan anime tentang cinta dan nasi, Love Kome (Season 2) juga ada.
  • Musim kedua dari perjuangan gadis idola di Love Live! Sunshine!! (Season 2) keluaran Sunrise.
  • Kembalinya anime komedi tentang para kembar enam tak berguna yang sempat menghebohkan, Osomatsu-san (Season 2). Studio Pierrot kembali untuk memproduksi.

Selebihnya, Sanzigen akan memproduksi Monster Strike: The Fading Cosmos. Seri tentang aplikasi dan hilang ingatan ini ternyata punya basis penggemar kuat.

Versi cowok dari waralaba game sosial bertema idola milik Bandai Namco, The iDOLM@STER SideM, juga akan ada. Yang akan diketengahkan adalah para pemuda yang masuk agensi talenta 315 Production. Yang kudengar menarik dari seri ini (selain para cowoknya) adalah bermacam latar belakang karir berbeda yang sebelumnya dimiliki para tokohnya.

TsukiPro the Animation juga akan ada. Diproduksi lewat kerjasama AZ Creative dan PRA, ini lagi-lagi seri idola yang akan mengetengahkan banyak kelompok, dalam hal ini, empat grup yang berbeda, SOARA, Growth, SolidS, dan Quell, yang bernaung di bawah label yang sama. Motonaga Keitaro (Date A Live) yang akan memproduksi. Yoshida Reiko juga yang akan menangani komposisi naskah. Ini didasarkan proyek idola virtual. Aku benar-benar belum tahu banyak tentang seri ini. Studio animasinya juga masih kurang aku kenal.

Untuk para penggemar anime dewasa yang belakangan ini dibuat, Omiai Aite wa Oshiego, Tsuyoki na, Mondaiji yang bertema soal hubungan guru wanita dan murid lelaki juga akan tayang. Seven kembali akan memproduksi.

Lay-duce juga akan memproduksi seri romansa Itsudatte Bokura no Koi 10 Centi Datta, yang merupakan karya lanjutan dari komite soal pernyataan cinta itu yang dicanangkan Honeyworks. Jumlah episodenya sebanyak enam dan akan mulai ada pertengahan musim nanti.

Tambahan yang terlewat, Evil or Live, yang dibuat berdasarkan komik web Li Xiaonan, juga akan diproduksi Emon. Dikisahkan ada semacam “penyakit” baru yang disebut Net Addiction, yang mengharuskan para penderitanya harus dirawat di suatu fasilitas rehabilitasi yang mirip penjara. Hibiki, pemuda yang dulu pernah menjadi juara atletik, diharuskan masuk ke salah satu fasilitas ini. Di sana, seorang pemuda misterius bernama Shin mendekatinya untuk melibatkannya dalam suatu rencana. Di sana juga ia menjumpai Shiori, kawan lamanya yang perangainya telah sangat berubah. Jumlah episodenya telah dikonfirmasi sebanyak 12.

Dari segi anime pendek, juga akan ada:

  • Seri komedi Ore-tacha Youkai Ningen, yang merupakan semacam penerus dari seri klasik Youkai Ningen Bem. DLE yang akan memproduksi.
  • Komedi romantis bertema minuman beralkohol Osake wa Fuufu ni Natte kara, tentang perjalanan seorang wanita dalam menikmati racikan-racikan cocktail buatan suaminya. Creators in Pack yang akan memproduksi.
  • Sylvanian Families, yang diangkat dari lini boneka buatan Epoch (yang bisa berharga sangat mahal), juga akan tayang. Produksinya dilakukan oleh Shogakukan Music & Digital Entertainment. Aku serius tertarik pada seri ini karena aku suka hal-hal yang lucu. Buat kalian yang suka kelinci, tupai, dan binatang-binatang hutan lain, mungkin kalian juga bakal suka.
  • Penerus spiritual animasi penguin buatan Inggris-Swiss, Pingu in the City juga akan diproduksi Polygon Pictures. Ini mungkin akan lucu.
  • Taishou Chicchai-san, tentang anak yang pindah dari Tokyo di era Taishou untuk masuk kuliah, dan kemudian terlibat persekongkolan yang melibatkan tentara. Studio A-CAT yang akan memproduksi.
  • Dia Horizon, waralaba multimedia terbaru keluaran Square Enix, juga akan mengeluarkan seri anime pendek yang memperkenalkan para karakternya. Mengingat promonya yang keluar tempo hari, lengkap dengan visualisasi fantasinya yang indah, pengumuman tentang seri anime pendek ini sempat membuat sejumlah pemerhati langsung terdiam.

Dari segi film layar lebar, Brains Base akan memproduksi Dance with Devils – Fortuna, yang merupakan film baru dari waralaba game otome yang sudah ada ini. Akan ada DC Super Heroes vs. Eagle Talon yang merupakan komedi dengan bintang tamu enggak terduga. Wit Studio juga akan memproduksi Donten ni Warau Gaiden, yang merupakan film pertama dari cerita lepasan dari seri TV-nya. Lalu, ada film layar lebar sekuel untuk anime renang Free! Take Your Marks. Juga akan tayang film kompilasi Touken Ranbu – Hanamaru ~ Makuai Kaisouroku. (Season 2-nya sudah dikonfirmasi kalau tak salah.). Juga ada film kompilasi drama aksi mecha bernuansa jazz Mobile Suit Gundam Thunderbolt: Bandit Flower, yang mengetengahkan paruh kedua cerita yang kini berlatar di Bumi.

Untuk film layar lebar, kurasa yang paling mencolok adalah film romansa sejarah berlatar awal abad 20 Haikara-san ga Tooru keluaran Nippon Animation yang akan diputar film pertamanya, Fate/stay night Heaven’s Feel: presage flower yang merupakan film pertama dari trilogi baru keluaran Ufotable, serta Godzilla – Kaijuu Wakusei, film aksi sains fiksi produksi Polygon Pictures yang melibatkan Urobuchi Gen, berlatar di Bumi yang telah dikuasai monster jauh di masa depan.

Dari segi OVA, ada episode tambahan untuk Busou Shoujo Machiavellism, episode pertama dari bab penutup Girls und Panzer das Finale, episode tambahan untuk Kabukibu!, dan episode tambahan pula untuk Netojuu no Susume.

Kayak biasa, hal-hal baru akan ditambahkan nanti.

(Sumber dari ANN dan Anime Now!)

27/09/2017

Hundred

Label light novel GA Bunko dimiliki penerbit SB Creative.

Ketika label tersebut berulang tahun yang kesepuluh, mereka memprakarsai adaptasi anime dari sepuluh seri LN-nya.  Sepuluh anime tersebut diproduksi studio-studio berbeda dalam kurun waktu berbeda pula. Kualitasnya beragam, tapi tetap lumayan berhasil mempromosikan judul-judul keluaran mereka.

Tanpa diurut secara khusus, dan kalau aku enggak salah, kesepuluh seri yang diadaptasi tersebut antara lain adalah:

  • Rakudai Kishi no Chivalry (Seri pertama yang diadaptasi. Lebih bagus dari dugaan.)
  • Dungeon ni Deai o Motomeru no wa Machigatteiru Darou ka? (Dikenal juga sebagai Danmachi. Relatif bagus, tapi kurang banyak.)
  • Haiyore! Nyaruko-san (Menarik.)
  • Hundred (Akan dibahas sebagai berikut.)
  • Inou-Battle wa Nichijou-kei no Naka de (Lumayan, punya beberapa adegan yang benar-benar bagus.)
  • No-Rin (Relatif bagus.)
  • Oda Nobuna no Yabou (Lebih bagus dari dugaan.)
  • Saijaku Muhai no Bahamut (Lumayan.)
  • Seiken Tsukai no World Break (Menarik.)
  • Danmachi Gaiden: Sword Oratoria (Seri terbaru yang diadaptasi saat aku menulis ini. Relatif bagus, tapi kurang banyak.)

Di antara semua judul di atas, yang paling menarik perhatianku saat adaptasinya pertama diumumkan adalah Hundred.

Seri ranobe Hundred ditulis oleh Misaki Jun dan diilustrasikan oleh Oukuma Nekosuke (Oukuma-sensei yang juga membuat desain karakter asli untuk Shinmai Maou no Testament). Hundred pertama terbit pada tahun 2012 dan sejauh ini, telah punya buku sebanyak belasan.

Alasan aku tertarik pada Hundred adalah karena sejumlah kemiripan yang Hundred miliki dengan Infinite Stratos, suatu seri populer lain yang diterbitkan penerbit Overlap. Ada persenjataan eksoskeleton yang dipasang di badan (aku akui, sesudah melihatnya sendiri, istilah ‘eksoskeleton’ ini kurang tepat sih). Ada latar dunia yang futuristis. Ada sekolah khusus yang perlu diikuti oleh para karakter utamanya. Ada pihak-pihak yang bermain di belakang layar.

Intinya, ada banyak hal keren di dalamnya yang membuatku tertarik. (Jadi, bukan. Bukan karena fanservice-nya. Walau, berhubung Oukuma-sensei yang merancang, aku memang sedikit tertarik sih.)

Salah satu perbedaan yang Hundred miliki dibandingkan sejumlah seri lain yang ‘mirip’ adalah bagaimana sekolah khusus yang menjadi latar cerita—yakni kapal induk sekaligus kota terapung di tengah laut bernama Little Garden—adalah sekolah campuran untuk cewek dan cowok. Jadi, tidak ada situasi ‘harem ekstrim’ seperti halnya di Infinite Stratos atau di Saijaku Muhai no Bahamut.

Di samping itu, juga adanya ancaman makhluk-makhluk buas misterius bernama Savage terhadap dunia. Monster-monster ini yang konon hanya bisa dilawan menggunakan senjata-senjata istimewa Hundred yang ditonjolkan seri ini.

Anime Hundred pertama keluar pada musim semi tahun 2016. Jumlah episodenya sebanyak 12. Produksinya dilakukan oleh studio animasi Production IMS. Sutradaranya adalah Kobayashi Tomoki. Naskahnya ditangani Shirane Hideki. Lalu musiknya ditangani oleh Naruse Shuhei.

Sebelum dibahas lebih jauh, Hundred sebenarnya bukan anime yang bagus.

Iya, ini sayangnya bukan judul yang akan aku rekomendasikan. Tapi, ada beberapa hal tentangnya yang sempat lama membuatku penasaran.

“Hundred On!”

Yah, singkat cerita…

Kisaragi Hayato, sang tokoh utama (bentuk Hundred: pedang katana dan pelindung lengan), terpilih masuk ke Little Garden karena memperoleh nilai kecocokan tertinggi sepanjang sejarah dalam tes kecocokan dengan Hundred. Tes kecocokan ini dilakukan untuk mencari bibit-bibit Slayer baru yang akan dididik menggunakan perangkat-perangkat Hundred.

Slayer ceritanya adalah istilah untuk orang-orang yang terlatih menghadapi serangan Savage. Mereka dilengkapi perlengkapan Hundred yang khusus digunakan oleh mereka sendiri.

Savage sendiri… bentuk mereka seperti makhluk-makhluk melata buas berukuran raksasa dengan kulit berwarna gelap dan garis-garis neon. Sejauh yang dipaparkan dalam cerita, belum terungkap dari mana asal mereka.

Hayato, ceritanya, adalah seorang remaja dari negara kepulauan Yamato (yang mirip Jepang). Dia dari sejak awal lumayan terlatih dalam ilmu bela diri. Dirinya juga bersedia menerima tawaran beasiswa di Little Garden karena sekalian bisa mendapatkan fasilitas perawatan mutakhir untuk adik perempuannya yang sakit-sakitan, Kisaragi Karen.

Tapi baru masuk, Hayato langsung mendapat masalah dengan para anggota Dewan Siswa. (Karena Hayato membela sejumlah siswi baru yang hendak langsung dikeluarkan karena terlambat mengikuti upacara.)

Dibeking oleh negara adidaya Liberia (mirip Amerika) yang memprakarsai penelitian terhadap Hundred, para anggota Dewan Siswa ini memiliki otoritas tertinggi di Little Garden. Selain mengatur sekolahan, mereka juga mengatur seluruh aspek komando pertahanan di pulau. Mereka dipimpin seorang perempuan berambut pirang bernama Claire Harvey (bentuk Hundred: drone-drone melayang pemancar sinar, yang bila disatukan bisa membentuk meriam raksasa), yang tidak segan memberi Hayato ‘ujian praktek’ langsung saat ia membangkang.

Untungnya, Hayato sebelumnya berkenalan dengan Emile Crossfode (bentuk Hundred: fleksibel, bisa berubah hampir menjadi bentuk apapun), seorang pemuda rupawan yang menawarkan diri menjadi partner sekaligus teman sekamarnya. Meski seangkatan dengan Hayato, dan berkesan lemah lembut, Emile ternyata seseorang yang sangat ahli dalam menggunakan Hundred.

Emile, bersama Hayato dan bakat alaminya, ternyata bisa menjadi lawan yang sepadan bagi Claire dan rekan-rekannya. Mereka sama-sama berhasil menunjukkan kalau Hayato memang seseorang yang layak dipertahankan.

Sampai ketika… Savage tiba-tiba menyerang. Keadaan darurat terjadi. Lalu, para Slayer harus bersatu karena kurangnya orang.

Lalu dalam aksi yang terjadi, Hayato menyadari kekuatannya yang sesungguhnya sebagai Variant. Lalu, ia memahami pula siapa Emile sesungguhnya…

Teman Lama, Teman Baru

Iya, pembuka ceritanya kurang meyakinkan. Iya, ada kesan “Intinya cuma gini doang?!” Lalu, iya, semua bahan yang diperlukan untuk membuat sesuatu yang rame itu ada, tapi entah gimana, semua jadinya… hanya sebatas demikian.

Ada banyak hal menarik yang terus diperkenalkan dan ditambahkan. Ada karakter-karakter menarik (seperti teman-teman Hayato dan Emile, si penembak jitu Fritz Granz dan teman masa kecilnya yang mungil, Latia Saint-Emillion). Ada teori-teori soal asal-usul Hundred dan manusia-manusia Variant. Ada masa lalu yang dibagi bersama dengan para karakternya (semisal, penyanyi idola Kirishima Sakura, yang ternyata pernah mengenal Hayato dan Karen di masa lalu, sekaligus juga pengguna Hundred). Ada misi-misi ke luar sekolah yang dikerjakan bersama pasukan multilateral. Ada campur tangan orang-orang misterius (seperti Judal Harvey, kakak lelaki Claire, kepala Warsiran Research Facility). Ada rahasia-rahasia yang tersembunyi di bawah Little Garden (seperti soal LiZA, yang konon adalah perwujudan adik perempuan Claire).

Tapi janggalnya, semua itu enggak benar-benar berujung ke mana-mana.

Dengan kata lain, di antara sepuluh anime yang diadaptasi dari seri LN GA Bunko di atas, Hundred adalah yang paling tidak menonjol.

Aku sempat susah menerima ini. Kok bisa sih hal ini terjadi?

Tapi, sesudah melihat perkembangan cerita di episode-episode berikutnya, lalu mengerti kalau ini pasti mengangkat cerita dari seri novelnya, aku kurang lebih jadi mengerti bagaimana staf produksi animenya jadi kurang termotivasi.

Sempat ada fans menerjemahkannya. Jadi aku sempat pula memeriksa versi novelnya seperti apa.

Untuk ukuran LN, narasi Misaki-sensei terbilang lumayan. Ceritanya juga cukup ringan untuk dinikmati. Tapi, sesudah diangkat jadi anime, Hundred memang bermasalah. Soalnya, meski punya banyak elemen menarik, struktur ceritanya kayak emang enggak cocok buat dijadikan anime.

Di samping itu…

Disangka… Demikian

Hundred kurasa semula hendak menonjolkan harem love comedy yang serupa dengan Infinite Stratos. But, it just doesn’t work. Berbagai kekonyolan cinta segi banyak itu enggak bisa ditonjolkan karena para heroine sendiri yang memang enggak(!) dalam posisi untuk terang-terangan memperlihatkan rasa suka mereka.

Oke, Hayato memang bukan karakter yang mencolok. Lalu dia juga bukan karakter yang dibenci juga. Dia archtype biasa untuk tokoh-tokoh LN seperti ini. Tapi, kalau bicara soal para heroine-nya…

Emile, sebagai contoh, memiliki identitas asli sebagai Emilia Hermit, teman masa kecil perempuan Hayato dari masa lampau. Dialah karakter perempuan utama di seri ini. Emile ceritanya pernah bertemu Hayato di masa lalu dan diselamatkan olehnya dalam suatu insiden serangan Savage di Kekaisaran Britannia (yang berujung pada berubahnya biologis tubuh mereka akibat virus Savage menjadi apa yang disebut Variant).

Kenapa Emilia menyamar sebagai lelaki? Aku juga… kurang paham.

Tapi, bukan cuma itu. Emilia juga aslinya adalah Emilia Gudenburg, putri ketiga dari Kekaisaran Gudenburg, suatu negara adidaya di dunia, yang telah disusupkan(?) ke dalam Little Garden. Jadi identitasnya dia itu berlapis tiga!

Di mata kita, sebagai penonton, Emile jelas-jelas perempuan (adegan-adegan fanservice yang menonjolkan Emile bahkan sudah ditampilkan sejak awal!). Tapi di depan umum, di dalam cerita, Emile harus menjaga jaraknya dengan Hayato. (Yang berujung pada bagaimana kedekatan antara mereka berdua membuat mereka terkesan homo.)

Hasilnya jadi… sangat… aneh.

Dia bukan karakter yang bisa kita sukai. Dari kepribadian enggak. Dari fisik, uh, entah, mengingat kebanyakan waktu, dia menyamar sebagai cowok. Tapi, dia juga bukan karakter yang akan kita benci juga. Dia sekedar… membingungkan. Lalu karena itu, jadinya kayak enggak punya daya tarik.

Intinya, kesannya jauh berbeda dari situasi Charlotte Dunois di Infinite Stratos yang untuk beberapa lama juga sempat menyamar sebagai cowok. Kasus Charl lebih berhasil. Aku sempat tak berkeberatan saat mengira dia benar-benar cowok (meski curiga). Tapi, aku juga enggak keberatan saat terungkap kalau dia cewek.

Oke. Aku juga bingung bagaimana harus menjelaskannya.

Selain Emilia, heroine berikutnya adalah Claire. Claire di mataku jelas lebih berkesan dibandingkan Emilia. Tapi, karena alasan jabatan dsb., dia pun enggak bisa terang-terangan mendekati Hayato. Dia itu kepala pasukan di sana. Dia enggak bisa berat sebelah kepada salah satu orang di dekatnya. Apalagi, dengan bagaimana dia selalu diikuti oleh kedua bawahannya, Liddy Steinberg, sang wakil seitokaicho pertama (bentuk Hundred: tombak dan perisai) yang tak kalah galak; dan Erica Candle, sang wakil seitokaicho kedua (bentuk Hundred: mirip yoyo dan kawat? Kurang efektif untuk melawan Savage berukuran besar) yang spesialis strategi dan sangat menghormati Claire.

Jadi, yah, kalian tahu maksudku.

Kemarahan yang Sulit Dimengerti

Production IMS pertama dikenal karena memproduksi season dua dan juga movie dari anime Date A Live. Mereka juga memproduksi Inari, Konkon, Koi Iroha yang terbilang mengesankan. Jadi, kalau soal kualitas, mereka sebenarnya bisa mengusahakannya.

Mempertimbangkan yang di atas, aku sempat terpaku melihat bagaimana Hundred memiliki kualitas teknis pas-pasan. Sesudah memikirkannya, aku curiga alasannya karena di kurun waktu yang sama, Production IMS juga mengerjakan proyek orisinil mereka, Active Raid, yang sayangnya, juga berakhir kurang begitu meledak.

Bicara soal kualitas teknis, animasi Hundred itu luar biasa standar. Sangat biasa. Tidak sampai jadi aneh atau jelek sih, tapi jelas enggak sekeren yang sempat aku bayang. Bahkan kalau mau bahas soal fanservice juga, tidak ada apapun tentangnya yang terbilang berkesan.

Tapi, di antara semua hal ‘biasa’ tersebut, ada dua aspek menonjol yang Hundred punya. Satu, aspek audio yang lumayan. Dua, adegan-adegan aksi.

Soal audio, efeknya bisa gede. Aku enggak bilang seri ini punya musik bagus. Mungkin levelnya hanya sekedar lumayan. Tapi, terasa ada perhatian yang diberikan terhadapnya gitu. Seri ini secara total memiliki empat lagu penutup, suatu hal menonjol untuk anime 12 episode dengan tema kayak gini. Ada tema idol yang tiba-tiba diangkat di tengah cerita. Rasanya aneh, tapi lumayan memperkaya nuansa yang seri ini bisa punya. Akting para seiyuu terbilang lumayan.

Lalu, soal aksi…

Jujur, inilah yang akhirnya paling membuatku penasaran soal Hundred.

Adegan-adegan aksinya enggak bisa dibilang bagus. Koreografinya biasa saja. Kebanyakan adegan juga berakhir dengan bagaimana Hayato intinya sekedar berhasil menyalurkan kekuatan terpendamnya. Tapi, pas lagi ada—dan mungkin juga ini cuma aku—selalu kayak ada beberapa detik—hanya beberapa detik—ketika intensitasnya benar-benar terasa.

Aku enggak mengerti bagaimana ini terjadi. Mungkin hanya akting para seiyuu-nya yang sekedar bagus. Intensitas tiba-tiba ini secara konsisten ada sampai menjelang akhir seri. Karenanya, aku sampai terdorong mengikuti perkembangan Hundred sampai tuntas.

Di samping itu, dengan berbagai misteri yang diangkatnya, pembangunan dunianya sebenarnya termasuk lumayan.

Merah Darah Kita

Akhir kata, Hundred kurasa bukan seri yang perlu kau pikirkan terlalu jauh. Di dunia ini ada lebih banyak hal yang lebih berarti untuk kita pikirkan. Tapi, buatku pribadi, ini lagi-lagi contoh soal gimana suatu kegagalan bisa lebih ‘mengajari’ kamu ketimbang suatu keberhasilan.

Karakter-karakter antagonis HundredVitaly Tnanov dan anak-anak buahnya: Krovanh Olfred, Nesat Olfred, Nakri Olfred; anak-anak yatim piatu Variant yang sempat menjadi budak—sebenarnya termasuk menarik secara konseptual. Lalu, kalau membaca versi novelnya, aku percaya ada banyak detil menarik soal dunianya yang bisa kita gali juga. (Semisal: nama masing-masing Hundred, kemampuan-kemampuan istimewa mereka, dan sebagainya.)

Hundred membuatku tertarik karena mengkhayalkan hal-hal ginian dalam lingkup yang konsisten dan logis ternyata sulit.

Oke. Melakukan apapun secara konsisten emang sulit. Jadi, pelajarannya mungkin juga ada di sana.

Man, aku lumayan kecewa saat sadar bahwa Claire bukan heroine utama.

Yah, sudahlah.

Penilaian

Konsep: E; Visual: C; Audio: B; Perkembangan:C-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: C-

25/09/2017

Phenomeno

Maaf lama enggak nulis.

Aku ngalamin sedikit kecelakaan kerja beberapa minggu lalu. Aku sampai perlu beberapa kali ke rumah sakit segala. Lalu sejak itu, kondisi kesehatanku gampang naik turun. (Selama beberapa hari terakhir, aku bahkan terkapar karena diare.)

Sehubungan dengan itu, aku jadi ingin bahas soal Phenomeno.

Phenomeno sebenarnya judul yang sudah lama ingin aku bahas. Keluarnya pertama kali di sekitar tahun 2012. Tapi aku mengalami kesulitan, berhubung minimnya informasi yang bisa kutemukan tentangnya.

Alasan aku ingin membahas seri ini adalah entah karena kebetulan atau bukan, semenjak aku… uh, kena kecelakaan di atas, aku berkenalan dengan semakin banyak orang aneh. Salah satunya, (yang bukan yang pertama, dan juga kuragukan apakah bakal jadi yang terakhir) adalah seorang mahasiswa depresi(?) di kota lain yang berkeinginan untuk bisa melihat hantu.

Aku bukan penggila hal-hal supernatural. Tapi aku mengakui kalau sisi dunia lain itu ada. (Heh, aku bahkan melihat sendiri bagaimana salah satu pembantu di rumahku sempat kesurupan.)

Aku bertanya soal alasan keinginan aneh(?)nya itu ke dia. Lalu mahasiswa itu memberi jawaban ngawang soal gimana dia ingin tahu bentuk ‘mereka’ kayak gimana. Jujur, dari sejumlah pengalaman orang yang pernah aku denger, keinginan kayak gini biasanya enggak berujung ke hal baik. Tapi, aku putuskan buat coba telaah lebih jauh soal keinginannya itu. Akhirnya dia mengakui kalau sekalipun dia punya alasan, alasan tersebut sudah lama ia lupakan pada titik ini.

Phenomeno, atau yang juga dikenal dengan judul Phenomeno: Mitsurugi Yoishi wa Kowagaranai (subjudulnya mungkin kira-kira berarti: ‘Mitsurugi Yoishi tidak mengenal takut’) bermula dari seri light novel yang dikarang oleh Ninomae Hajime. Ilustrasinya dibuat oleh ABe Yoshitoshi (ilustrator orisinil untuk Serial Experiments Lain dan NHK no Youkoso!) yang sangat dikenal dengan nuansa karakternya yang khas. Ini seri horor supernatural yang sudah tamat dalam enam buku. Walau begitu, daripada takut-takutan ala jump scare, ceritanya lebih berat ke suspens.

Kayak, perasaan berat menggantung yang mengindikasikan adanya sesuatu yang ‘salah,’ tapi kita enggak bisa mengungkapkan apa.

Phenomeno mulai dikenal di luar Jepang berkat versi visual novel-nya yang sempat dibuat Nitroplus. Versi ini mengadaptasi cerita dari babnya yang paling pertama. VN pendek ini memang dimaksudkan untuk mempromosikan seri novelnya; sifatnya freeware. Karenanya, meski sama sekali enggak jelek, juga enggak sepenuhnya bisa dibilang menonjol.

Tapi karena VN ini pula, aku jadi pertama tahu tentang seri ini. Kebetulan, sejumlah fans telah membuatkan patch untuk terjemahan Bahasa Inggrisnya. Lalu semenjak menuntaskannya, aku beberapa kali mencari terjemahan lanjutan ceritanya.

Soalnya, aku penasaran dengan hal-hal menggantung yang ada di dalamnya.

Bukan Untuk Manusia

Ringkasnya, Phenomeno dibuka dengan rangkaian pengalaman supernatural yang disaksikan oleh seorang mahasiswa baru bernama Yamada Nagito.

Seperti mahasiswa kenalanku yang aku sebutkan di atas, Yamada adalah orang yang penasaran tentang keberadaan dunia lain. Dirinya penasaran apakah ‘dunia lain’ itu benar-benar ada atau tidak. Dia kerap mempertanyakan apa mungkin berbagai fenomena aneh tersebut sebenarnya diakibatkan kondisi kejiwaan manusia belaka.

Karena memang punya minat terhadap occult, Yamada sejak dulu adalah pengunjung berkala suatu situs web bernama Ikaigabuchi. Di Ikaigabuchi, para ahli soal bidang supernatural konon berkumpul dan Yamada seperti menjadi semacam penggemar mereka. Mereka kerap membedah berita-berita kasus supernatural, membedakan apakah sesuatu benar-benar terjadi atau tidak.

Di awal, si Yamada ceritanya baru pindah ke perkotaan untuk urusan kuliah. Dia berusaha mencari tempat menginap yang kira-kira murah. Lalu sesudah dia berulangkali ‘diganggu’ lewat bunyi-bunyi aneh dan mimpi-mimpi aneh di rumah kontrakannya yang baru, akhirnya dia terdorong untuk mencari bantuan.

Yamada berusaha mengangkat kasusnya di Ikaigabuchi. Bahkan sempat memberanikan diri datang ke acara kopi darat segala. Sayangnya, dirinya secara menyedihkan kurang mendapat tanggapan. Tapi berkat itu, Yamada kemudian berkenalan dengan seorang gadis remaja sangat aneh bernama Mitusurugi Yoishi.

Singkat cerita, Yoishi adalah seorang gadis asosial yang—menurut pendapatku pribadi—kadang tidak jelas apakah dirinya benar-benar manusia atau bukan. Kulitnya pucat. Postur tubuhnya aneh. Dirinya adalah pengunjung berkala Ikaigabuchi seperti Yamada, tapi tidak ada seorangpun anggota lain yang tahu tentang latar belakangnyanya. Ada kabar-kabar aneh tentang dirinya, seperti soal bagaimana dirinya hanya muncul pada saat-saat yang paling ganjil. Hanya saja, Yoishi pulalah satu-satunya orang yang mempertimbangkan masalah si Yamada secara serius.

Episode pertama Phenomeno membahas tentang rumah kontrakan si Yamada yang konon berhantu. Membahas tentang awal mula berdirinya, kasus-kasus yang pernah terjadi di dalamnya, lalu, pengamatan Yoishi saat mendatanginya secara langsung, dan apa yang disaksikannya di sana lewat kemampuannya untuk melihat hal-hal gaib.

Orang-orang Hilang

Karena hubungannya dengan Yoishi, dan juga karena rasa penasarannya sendiri, si Yamada ujung-ujungnya terbawa dalam berbagai kasus lain. Mereka mengunjungi berbagai tempat seram ‘bersejarah’ lain, seperti rumah sakit angker, dsb. Semua kelihatannya agak berujung pada pembeberan soal siapa Yoishi sebenarnya. (Aku juga penasaran dengan jawaban ini.)

Tapi, perkembangannya enggak cuma sampai sana. Berbagai karakter lain yang tergabung dalam Ikaigabuchi juga sesekali diperkenalkan. Lalu menariknya, sebagian dari mereka juga terungkap memiliki situasi dan kondisi pribadi yang tidak kalah janggal.

Seperti yang bisa kau harapkan dengan tema-tema kayak gini, cerita Phenomeno dan cara pemaparannya tidak benar-benar bisa dibilang nyaman. Tidak ada perkembangan karakter mencolok di dalamnya. Juga tidak ada konflik yang benar-benar jelas. Ceritanya buat kebanyakan orang juga kurasa agak membosankan. Tapi, buat yang suka cerita-cerita begini, tetap ada daya tarik aneh soal kasus-kasus yang diangkatnya.

Seperti pada bagaimana pengarangnya mengangkat pola berpikir ‘berbeda’ yang berujung ke hal-hal yang suram dan seram gitu.

Pastinya, cerita ini yang menyadarkanku bahwa kamu enggak perlu bisa melihat sesuatu hanya untuk sekedar tahu bahwa sesuatu itu ada atau enggak. (Seperti halnya dengan listrik, udara, dsb.) Memperhatikan jejak dan dampaknya saja cukup. Tapi masalahnya, kebanyakan orang susah nerima karena merasa susah berpindah sesudah mengakuinya.

Balik ke soal mahasiswa kenalanku tersebut, aku sempat mempertimbangkan buat mengenalkan Phenomeno kepadanya. Bagaimanapun, kelihatannya dia juga pemerhati kebudayan visual Jepang. Jadi harusnya bukan masalah kalau aku membicarakan soal ini dengannya.

Tapi… pada akhirnya, aku berubah pikiran.

Entah ya. Sukar menjelaskannya.

Intinya, aku tiba-tiba tersadar bahwa kalau dia emang jadi bisa melihat ‘mereka’ pun, masalah-masalah yang sedang dia hadapi tetap saja enggak akan selesai.

Lebih baik menunggu sampai dia bosan sendiri dengan topik ini daripada memanas-manasinya.

11/09/2017

Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans (Season 2)

Kalian tahu kalau es krim Cornetto? Ada beberapa jenis tertentu yang enaknya cuma di awal-awal. Sesudah dimakan sampai ke dasar cone, meski masih ada cokelatnya, kadang yang tersisa hanya sensasi kering bikin haus yang beda sama sekali dengan kenikmatan manis di awal.

Apa kita puas sehabis memakannya? Yeah, mungkin masih. Tapi tetap saja, belakangnya sedikit mengecewakan karena enggak seenak bagian depannya.

Aku tadinya mau bahas season kedua Kidou Senshi Gundam: Tekketsu no Orphans segera sesudah animenya tamat. Aku bahkan menyiapkan kerangka tulisannya segala. Tapi begitu beres mengikutinya, kata-kata untuk menjabarkannya kayak enggak bisa keluar. (Ini bahasan season kedua, yo. Bahasan season pertama bisa ditemukan di sini.)

Alasannya mirip perumpamaan es krim Cornetto tadi.

Season dua Gundam IBO berdurasi 25 episode. Penyutradaraannya masih ditangani Nagai Tatsuyuki. Naskahnya masih ditangani Okada Mari. Musiknya masih oleh Yokoyama Masaru yang benar-benar sedang naik daun. Produksi animasinya masih oleh studio Sunrise. Musim gugur tahun 2016, episode pertamanya tayang.

Sambutan para penggemar lumayan antusias.

Dibandingkan seri-seri Gundam terdahulu, Gundam IBO benar-benar enggak biasa. Struktur ceritanya ‘ajaib’ dan susah ditebak. Perkembangannya sedemikian berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Karena itu, buat mereka yang bisa suka, seri ini benar-benar terbilang berhasil menarik fans lama maupun baru.

Tapi semuanya lalu memuncak dengan tamat yang… uh, agak susah dilupain.

Selain itu, musim tayang kali ini punya kesan lebih eksperimental. Aku bisa mengerti kalau ada banyak juga yang jadinya enggak suka dengan season ini.

Sisi baiknya: cerita Gundam IBO berakhir lumayan tuntas. Enggak banyak plot menggantung yang tersisa.  Tapi lebih banyak soal itu mending aku bahas di bawah.

Senang Bisa Kembali

Musim kedua ini berlatar dua tahun (walau ada sumber yang menyebut enam bulan; kayaknya yang bener dua tahun sih) sesudah berakhirnya Pertempuran Edmonton. Musim kali ini mengisahkan bagaimana kelompok Tekkadan pimpinan Orga Itsuka terlibat lebih jauh dalam intrik perpolitikan dunia internasional Gjallarhorn beserta keempat blok ekonomi (African Union, Oceanian Federation, SAU, dan Arbrau) di zaman Post Disaster.

Rinciannya menyebalkan kalau dipaparkan.

Ringkasnya, Tekkadan telah memperoleh kedudukan mereka di Mars. Mereka kini punya cabang di Bumi. Mereka bahkan berperan sebagai konsultan militer untuk perombakan pertahanan di pemerintahan blok ekonomi yang menaungi mereka, Arbrau.

Kudelia Aina Bernstein hidup terpisah dari keluarganya dan bekerja di Admoss Company, mengelola pengolahan dan distribusi bahan tambang strategis halfmetal dengan Bumi. Suatu panti asuhan telah didirikan untuk anak-anak terlantar di Sakura Farm. Kedua adik perempuan Biscuit Griffon, Cookie dan Cracker, sama-sama telah disekolahkan. Tekkadan sendiri secara resmi telah berada di bawah naungan langsung Teiwaz. Mereka kini memiliki kedudukan sejajar dengan kelompok Turbines yang dulu menampung mereka. Singkatnya, masing-masing berupaya membuat kehidupan di Mars jadi lebih baik.

Tapi, seperti yang Atra Mixta kemukakan di awal cerita, dunia sebenarnya masih belum berubah. Bahkan, keadaan mungkin telah bertambah buruk.

Hilangnya wibawa Gjallarhorn membuat kewenangan mereka diragukan. Pemberontakan dan kerusuhan terjadi di banyak tempat. Lalu yang menyedihkan, kemenangan Tekkadan atas Gjallarhorn seakan memperlihatkan pada dunia besarnya potensi yang dipunyai prajurit anak-anak. Akibatnya, semakin banyak anak-anak terlantar yang jadinya dilibatkan di medan perang dan dipaksa menjalani operasi berbahaya Alaya-Vijnana. Jumlah budak human debris bertambah. Mobile suit sekali lagi dikenali nilai militernya. Suatu balapan seolah dimulai untuk memulihkan dan memperbaiki apa-apa yang tersisa dari zaman perang besar.

Cerita dibuka dengan munculnya pihak-pihak yang, ringkasnya, mengajak Tekkadan berantem.

Sedikit demi sedikit, terindikasi ada pihak-pihak tertentu yang bermain di belakang pihak lain. Terkuak keterhubungan antara satu dengan yang lain. Perpecahan di dalam tubuh Gjallarhorn kemudian terjadi, yang ujung-ujungnya mempertaruhkan masa depan seluruh dunia.

Kajian Proklamasi Vingolf

Tokoh utama season sebelumnya, Mikazuki Augus, kembali berperan sebagai tangan kanan Orga. Mika kini mengemudikan MS Gundam Barbatos Lupus, perombakan baru dari Gundam Barbatos yang sudah lama ia gunakan. Meski sebagian saraf Mika telah cacat dalam pertempuran di Edmonton, itu tak menghalanginya menjalankan misi sekaligus latihan-latihan fisiknya secara konsisten.

Mika masih menjadi tokoh sentral, tapi season kedua ini sebenarnya lebih memakai pendekatan ensemble cast. Secara bergantian, berbagai karakter lain juga mendapat sorotan.

Orga kini lebih banyak bekerja di belakang layar. Orga kini mengurusi dunia asing di mana dia harus lebih banyak pakai jas dan menghadapi formalitas. Untuk itu, Orga banyak dibantu Merribit Stapleton untuk administrasi dan Dexter Culastor untuk keuangan.

Eugene Sevenstark mewakili Orga untuk manajemen langsung di Mars. Bersama-sama Eugene, Norba Shino, Akihiro Altland, dan Dante Mogro serta kawan-kawan lain menjaga penambangan halfmetal di Chryse yang dikelola Admoss Company dan melatih anggota-anggota baru.

Di antara anggota-anggota baru tersebut, termasuk di antaranya Hush Middy, yang sempat bingung dengan bagaimana kenyataan Tekkadan berbeda dari bayangannya; Dane Uhai yang berbadan besar dan pendiam; serta Zack Lowe, yang semula terkesan bergabung dengan Tekkadan lebih karena ikut-ikutan.

Di tempat lain, mantan human debris Chad Chadan dipercaya mengurusi cabang Tekkadan di Bumi. Dia dibantu sepeleton anggota Tekkadan yang dikoordinir Takaki Uno. Takaki merasa menempuh hidup baru karena adik perempuannya, Fuka, kini ikut bersamanya.

Chad sendiri heran dengan kepercayaan ini. Apalagi dengan bagaimana orang berlatar belakang pendidikan minim sepertinya jadi berhadapan dengan para pembesar Arbrau, termasuk sang perdana menteri sendiri, Makanai Togonosuke. Mereka turut dibantu seorang pria rekomendasi Teiwaz bernama Radice Riloto yang mengurusi bidang administrasi dan keuangan.

Masalah timbul saat seorang pria asing bernama Allium Gyojan muncul.

Gyojan adalah perwakilan kelompok aktivis Mars garis keras Terra Liberionis. Dirinya diindikasikan adalah pihak anonim yang sekian tahun silam memasukkan nama Kudelia ke pertemuan Noachis July Assembly. Di pertemuan yang memulai segalanya itu, Kudelia menyampaikan pidatonya soal kondisi Mars yang berujung pada berubahnya banyak hal. Gyojan kini ingin memanfaatkan Kudelia yang kini tenar. Untuk itu, Gyojan bahkan mengancam Kudelia lewat hubungan yang dipunyainya dengan Dawn Horizon Corps.

Dawn Horizon Corps adalah kelompok pembajak berskala besar pimpinan Sandoval Reuters. Mereka berbasis di luar angkasa dengan jumlah pasukan yang besar. Mereka tak senang dengan kemajuan Tekkadan. Karenanya, mereka bersedia untuk bersekongkol dengan Gyojan. Tapi, Tekkadan juga tak tinggal diam dengan ancaman ini.

Lewat koneksi ke Gjallarhorn melalui McGillis Fareed, Tekkadan kemudian mendapat cukup bala bantuan untuk berhadapan dengan Dawn Horizon Corps dan Terra Liberionis sekaligus. Tapi yang tak Tekkadan sadari, ini juga menyeret mereka ke dalam pusaran konflik internal  Gjallarhorn, yang dilandasi ambisi besar McGillis untuk menghancurkan tatanan dunia.

Macam-macam Kekuatan

Satu hal yang sempat bikin kaget dari Gundam IBO adalah premis cerita di season ini.

Berbeda dari seri-seri Gundam lain, konflik utama di seri ini timbul bukan karena alasan pribadi para tokohnya. Pemicunya lebih bersifat eksternal. Para tokohnya bahkan sempat dikasih pilihan untuk terlibat di dalamnya apa enggak.

Konflik ini jadi hal paling menarik sekaligus menyakitkan dari seri ini. Ceritanya tragis, tapi dengan cara berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Benar-benar susah mengumpamakan Gundam IBO dengan seri Gundam lain karena ceritanya saking beda sendiri.

Intinya, terjadi perseteruan antara dua pihak paling berpengaruh dalam Gjlallarhorn. Sebagaimana dikisahkan dalam season satu, meski berkuasa di Bumi, kekuatan terbesar Gjallarhorn adanya di luar angkasa. Pasukan di luar angkasa ini terpisah lagi menjadi:

  • Outer Earth Orbit Regulatory Joint Fleet (‘armada gabungan pengelola orbit luar Bumi’) yang kini dipimpin oleh McGillis Fareed, yang ditugaskan di sekitar orbit Bumi.
  • Outer Lunar Orbit Joint Fleet (‘armada gabungan orbit luar Bulan’) atau yang dikenal dengan nama Arianrhod, yang dipimpin oleh karakter baru Rustal Elion. Sempat ditampilkan di season terdahulu, mereka yang ditempatkan di luar orbit Bulan, dengan wilayah pengawasan lebih jauh dari Bumi yang berbeda dari McGillis.

Persaingan hidup mati McGillis melawan Rustal adalah inti konflik sesungguhnya seri ini.

McGillis, karena masa lalu pribadinya, memiliki ambisi untuk menghancurkan tatatan dunia yang sekarang. Sesudah konflik di Edmonton di season sebelumnya, kekuasaan tiga dari tujuh marga Seven Stars yang berkuasa di Gjallarhorn: keluarga Fareed, Bauduin, dan Issue; telah jatuh ke tangannya.

Di belakangnya, McGillis didukung seorang ajudan sangat setia bernama Isurugi Camice yang terlahir di luar angkasa. Kepada McGillis juga, Tekkadan berpihak. Tapi keberpihakan Tekkadan ke McGillis lebih karena alasan balas budi atas bantuannya melalui aliasnya, Montag, dan bersifat give and take, ketimbang karena mendukung ideologinya.

Di sisi lain, Rustal merupakan salah satu pahlawan terbesar yang kini dimiliki Gjallarhorn. Dirinya karismatik, cerdas, dan tangguh. Meski demikian, dirinya hampir tidak bermoral dan cenderung menghalalkan segala cara. Rustal ceritanya telah bisa membaca niat McGillis dan telah pula menduga hal-hal keji yang dilakukannya untuk meraih kekuasaan. Karenanya, Rustal akan melakukan segala yang bisa dilakukannya untuk menghalangi dominasi McGillis.

Di pihaknya, Rustal didukung oleh Iok Kujan, seorang pemimpin Seven Stars lain yang muda dan karismatik, tapi tidak kompeten; serta Julietta Juris, seorang pilot muda dengan asal usul dari luar Bumi yang juga sangat setia terhadapnya. Di belakang layar, di pihak Rustal juga hadir seorang pria bertopeng besi bernama Vidar yang misterius, yang memiliki misi pribadi untuk menghentikan McGillis.

Season 2 Gundam IBO pada dasarnya mengetengahkan adu siasat dan pengaruh antara dua orang ini. Keduanya sama-sama telah menguasai separuh dari organisasi. Keduanya juga menjalankan ‘perang boneka’ terhadap satu sama lain (salah satunya bahkan antara Arbrau dan SAU) sebelum memuncak dengan perang sesungguhnya antara mereka.

Tekkadan dan sekutu-sekutu mereka hanya terseret-seret saja.

Lalu iya, siapa yang baik dan siapa yang buruk jadinya tidak benar-benar jelas.

“Kita tak lagi bisa berhenti kalaupun kita mau.”

Season 2 IBO susah dibicarakan secara netral dan objektif. Karenanya, mending kita bahas soal teknis saja dulu.

Soal animasi, kualitasnya kurang lebih setara dengan musim lalu. Visualnya secara umum masih enak dilihat. Sebagian aksinya juga masih benar-benar seru. Tapi kualitasnya enggak sepenuhnya bisa aku bilang solid. Alasannya karena ada beberapa bagian yang kualitasnya tiba-tiba melemah atau dalam penggambarannya, tidak jelas apa yang baru saja terjadi. Ini terutama terasa dalam adegan-adegan mecha yang berlatar di luar angkasa.

Hmm. Aku juga belum yakin alasannya kenapa.

Penjelasannya mungkin berkaitan dengan konsep latar zaman Post Disaster. Kalian tahu, yang tidak menggunakan senjata-senjata beam? Mungkin cara koreografinya jadi sedemikian berbeda dibandingkan seri-seri Gundam lain. Intinya, dengan gimana pertempuran melee (jarak dekat) jadi lebih harus diutamakan ketimbang tembak-tembakan.

Alasan lain, mungkin juga ada kaitan dengan ceritanya yang jadi harus dibuat sedemikian padat. Rasanya tidak sampai terburu-buru sih. Tapi lumayan terasa gimana durasi untuk adegan-adegan aksi menjadi sangat terbatas.

Penjabaran lebih jauh buat aspek-aspek mechanya terasa kayak lebih diperlukan. Agar kita tahu MS satu ini kemampuannya segimana, MS lain bisa apa, dan sebagainya.

Di sisi lain, dari segi audio, kualitasnya cukup mencolok sih. Nada-nada BGM yang Yokoyama-san susun masih memikat. Ada banyak rentang emosi yang berhasil dihadirkan. Di samping itu, lagu pembuka pertama “Rage of Dust” yang dibawakan Spyair beneran keren. Lagu tersebut juga menandai comeback mereka ke kancah permusikan Jepang. Voice acting-nya pun termasuk solid. (Aku juga termasuk yang suka dubbing bahasa Inggris-nya IBO.)

Hanya saja, kayak sebagian aspek lainnya, ada sejumlah arahan yang jadinya mengundang tanya. Ini terutama terasa menjelang akhir cerita, ketika nuansa seri secara menyeluruh berkesan sendu dan melankolis. Agak susah menjelaskannya sih. Tapi kadang ada bagian-bagian yang terasa mengherankan kenapa dibikinnya demikian.

Tapi tetap saja, kalau ditanya bagus atau enggak, terlepas dari arahan kreatifnya, kualitas teknis IBO selalu lebih condong ke bagus. Meski iya, ada semacam kegajean juga jadinya.

Terlepas dari semuanya, lumayan tercermin bagaimana tim produksinya mengalami keterbatasan. Karenanya, mereka tetap patut mendapat pujian karena berhasil get the job done. Kalau aku tak salah, studio Sunrise juga menangani beberapa proyek lain di waktu yang sama. Mungkin proyek Gundam Thunderbolt yang lumayan memakan cukup banyak sumber daya. Jadi, gimana produksi Gundam IBO (secara argumentatif) masih bisa berakhir  bagus patut dihargai.

Nah, soal pendapatku pribadi: aku sebenarnya enggak punya masalah dengan apa yang diceritakan di seri ini. Dengan kata lain, aku enggak keberatan dengan gimana si A jadi matilah, atau si B jadi bernasib beginilah, dsb. Buatku pribadi, cerita Gundam IBO juga masih terbilang memikat dari awal hingga akhir.

Bahkan soal McGillis, yang di luar dugaan menjadi ‘karakter penggerak’ untuk seluruh cerita di seri ini, terus terang, aku cenderung condong ke pendapat yang menyukai dia. Aku cenderung setuju soal gimana dia salah satu ‘karakter Char’ paling menarik yang pernah diciptakan. Ya, ‘kejatuhan’ McGillis itu sangat menyakitkan. Tapi masa lalunya yang enggak enak, serta bagaimana McGillis sampai sedemikian dibutakan ambisinya sendiri juga sedemikian mirip tragedi masa lalu dan motif misterius Char Aznable di film layar lebar Char’s Counterattack.

(Adegan-adegan aksi menjelang akhir tetap masih kurang memuaskan sih. Enggak sampai jelek, tapi enggak sampai mendebarkan juga.)

Masalah yang sangat aku punya dengan season 2 Gundam IBO  ada pada cara pemaparannya. Pada bagaimana segala sesuatunya ditampilkan dan dijelaskan, terutama di bagian akhir.  Soalnya, entah gimana, pada suatu titik, nilai-nilai cerita yang berusaha disampaikan kayak bisa ambigu atau bahkan melenceng dari semula. Para karakter utama jadi terkesan sengaja disiksa-siksa. Bahkan, bisa-bisa ada yang malah jadi menanggapi kesimpulan ceritanya secara nihilistik.

Aku mengerti ada nuansa ‘abu-abu’ yang mau diberikan. Tapi caranya kayak ada yang… salah gitu? Sesuatu di penyampaiannya menurutku terlalu tiba-tiba dan kurang runut untuk hal sesensitif ini.

Pada akhirnya, meski banyak pengorbanan terjadi—dan aku seriusan enggak keberatan dengan gimana semua pengorbanan dan dendam itu ada—aku pribadi berharap kesannya di akhir bisa lebih dipertegas. Mungkin lebih baik kalau dibuat lebih optimis sekalian.

Aku perhatikan kalau sebagai penulis, Okada Mari-san yang kerap disalahkan dalam hal-hal begini. Tapi garis besar plot Gundam IBO (dan jenis kolaborasi lain seperti ini) kabarnya sudah ditetapkan sutradara dan staf produksi sejak awal. Okada-san hanya sekedar diminta untuk memberikan sentuhan khas beliau saja.

Tapi sudahlah. Apa yang terjadi, sudah terjadi.

Di samping itu, kompilasi layar lebar untuk Gundam IBO sudah diumumkan. Jadi ada kemungkinan kekurangan-kekurangan yang ada sekarang akan diperbaiki dalam film-film layar lebar nanti. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Legenda Agnika Kaieru

Yah, kayak biasa, mari kita singgung sedikit soal mecha.

Tapi sebelum masuk ke pembahasan soal mecha, satu hal yang mungkin luput aku bahas sebelumnya adalah soal kerangka mobile suit. Jadi, sebagai hal baru dalam waralaba Gundam, Gundam IBO memperkenalkan konsep Frame (‘rangka’) yang mendefinisikan sejumlah karakteristik dasar dari berbagai MS yang ada.

Sejumlah kerangka MS yang sudah diperkenalkan di semesta Post Disaster ini antara lain:

  • Gundam Frame, yang memiliki ciri khas berupa keluaran energi sangat besar berkat sepasang (jadi ada dua, bukan yang selazimnya satu) Reaktor Ahab yang bekerja secara bersamaan. Cara produksinya sudah terlupakan sejarah dan hanya ada 72 MS dengan Gundam Frame yang berakhir diciptakan. (Kesemuanya dinamai sesuai nama iblis-iblis Ars Goetia, jadi kalian bisa telusur nama-namanya dalam Wikipedia kalau mau. Tapi sejauh ini, desain yang sudah diungkap belum sampai 10.) Gundam Barbatos dan Gundam Gusion milik Tekkadan adalah contoh MS yang memakai rangka ini.
  • Valkyrja Frame, rangka berbobot ringan yang dikembangkan menjelang akhir Calamity War. Karena baru dikembangkan pada akhir perang, tidak banyak MS dengan rangka ini yang berakhir diciptakan. Salah satu MS dengan rangka ini adalah Grimgerde yang digunakan Montag di penghujung season pertama. Konon memiliki performa sangat tinggi, namun sulit digunakan.
  • Geirail Frame, rangka produksi massal yang konon diciptakan berdasarkan Valkyrja Frame. Memiliki keluaran cukup baik sekaligus tahan lama. Meski demikian, pemakaiannya kini terbatas. Jumlah MS dengan kerangka ini di masa ini konon hanya segelintir. Beberapa contohnya adalah Geirail yang diperkenalkan di musim ini dan pengembangannya, Geirail Scharfrichter, yang dilengkapi perlengkapan berat. Keduanya digunakan oleh para personil tentara bayaran Galan Mossa yang misterius.
  • Graze Frame, rangka MS utama yang kini digunakan Gjallarhorn dan telah diproduksi massal. Terutama dikenal karena fleksibelitas fungsionalnya. Ini adalah jenis rangka yang paling banyak ditampilkan dalam cerita. Konon ini adalah pengembangan lebih lanjut kerangka Geirail. Contoh MS yang menggunakannya adalah Graze yang menjadi dasar, Schwalbe Graze yang memiliki performa lebih tinggi tapi penanganan lebih sulit, dan Graze Ritter, modifikasi terbatasnya yang lebih berorientasi untuk pertahanan.
  • Rodi Frame, rangka MS yang dikembangkan di masa pertengahan Calamity War. Di masa kini, rangka ini yang paling banyak dipakai secara umum, terutama oleh jenis-jenis MS pekerja. Karena termasuk teknologi lama, keluarannya relatif tidak besar. Namun demikian, ada keseimbangan dalam berbagai aspek performanya. Man Rodi yang dipakai Brewers di season terdahulu, Spinner Rodi yang dipakai berbagai pihak, Garm Rodi yang dipakai Dawn Horizon Corps, dan MS produksi massal Landman Rodi yang baru milik Tekkadan, sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Teiwaz Frame, kerangka MS relatif baru yang dikembangkan sendiri oleh Teiwaz, dibuat berdasarkan sejumlah cetak biru yang diperoleh dari masa-masa akhir Calamity War. Meski begitu, MS dengan kerangka ini lazimnya memakai Reaktor Ahab kuno karena teknologinya dimonopoli oleh Gjallarhorn. Pengembangan kerangka ini lambat. Di samping itu, produksi MS yang menggunakan kerangka ini sangat terbatas. Asal usulnya pun terpaksa dirahasiakan. Kerangka ini sangat seimbang dalam segala aspek dan juga mampu menangani segala medan. Hyakuren dan Hyakuri (modifikasi Hyakuren dengan fokus ke kecepatan) milik keluarga Turbines, serta keluaran baru Hekija sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Io Frame, kerangka produksi massal yang berhasil dikembangkan dari teknologi Teiwaz Frame yang diperkenalkan di musim ini. Meski baru sama sekali, ada banyak kemiripan yang dimilikinya dengan Teiwaz Frame, seperti Reaktor Ahab kuno yang terpaksa digunakan padanya. MS dengan rangka ini lebih reaktif dibandingkan Teiwaz. Sensor sensitivitas tinggi juga dilengkapi di kepalanya, dan mudah disesuaikan untuk segala medan. Beberapa MS baru yang diperkenalkan di musim ini, Shiden, serta kustomisasinya, Shiden Custom/Ryusei-Go III/Riden Go sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Hexa Frame, kerangka MS paling banyak diproduksi sesudah Rodi Frame semasa Calamity War. Blok kokpitnya bukan di dada seperti rangka lain, melainkan di punggung, kepala, atau titik lainnya. Kerangka ini menonjol karena mengutamakan keselamatan pilot. Contoh MS yang menggunakan kerangka ini adalah Gilda dan Hugo, yang menyusun pasukan Dawn Horizon Corps.

Untuk lebih rinciannya, aku benar-benar suka desain Gundam Barbatos Lupus, tapi aku susah menjelaskan alasannya. Ada motif serigala yang diberikan padanya. Selama menggunakan MS ini, Mika tidak lagi menggunakan gada besar. Kini, dia sepasang pedang gada di masing-masing tangan. Ini juga masih dilengkapi sepasang senapan pendek yang terpasang di kedua tangan, sekaligus senapan laras panjang yang bisa dilipat. Ada sesuatu pada efisiensi desainnya yang benar-benar keren. Tapi yang membuatnya mengerikan, Barbatos Lupus benar-benar lincah dan teramat cepat.

Gundam Gusion Rebake yang digunakan Akihiro juga telah diupgrade menjadi Gundam Gusion Rebake Full City. Dikembangkan berdasarkan informasi baru dari zaman perang yang diperoleh Teiwaz sekaligus data pertempuran Akihiro sendiri, ini intinya adalah versi yang lebih sangar dibandingkan wujud yang sebelumnya.

Desain MS ini menurutku adalah jenis yang biasanya tidak diberikan ke karakter protagonis. Dilengkapi gunting raksasa yang bisa membelah zirah MS lawan, sekaligus juga subarm (lengan tambahan) yang dengannya, meningkatkan daya serang. Sama seperti Barbatos Lupus, Gusion Rebake Full City seimbang untuk segala keadaan, tapi memiliki titik berat lebih untuk pertempuran jarak dekat. Mungkin tidak terbilang cepat, tapi kekurangan itu diimbangi daya serangnya yang luar biasa besar. Apalagi dengan sensor kepalanya yang masih memungkinkan pertempuran jarak jauh.

Membahas MS produki massal, aku suka desain bulat Landman Rodi yang disesuaikan untuk penggunaan di Bumi. MS ini banyak dipakai oleh Dante, Chad, serta Takaki dan kawan-kawan mereka yang lain. Itu adalah desain MS produksi massal yang paling aku sukai di semesta Post Disaster.

Selain itu, Shiden yang baru juga keren. Ada Shiden Custom yang ditandai dengan tanduk satu dan pertahanan kuat yang dikembangkan untuk Orga, tapi ujung-ujungnya digunakan oleh Eugene. Shiden pada dasarnya adalah peningkatan dari Hyakuren, dengan kemampuan reaksinya yang lebih cepat.

Hekija, yang kemudian dipercayakan pada Hush sesudah ia menjadi pengikut setia Mika, menjadi peningkatan dari Hyakuren yang sesungguhnya. MS prototipe ini termasuk menonjol, tapi sayangnya terasa kurang disorot. Dengan keluaran setara Hyakuren, sekaligus kecepatan yang bisa mendekati Hyakuri, MS ini terbilang sangat lincah dengan banyaknya pendorong di berbagai persendiannya. MS ini dilengkapi persenjataan jarak dekat yang banyak berupa bilah-bilah tajam. Aku merasa bisa suka dengan MS ini andai saja ditampilkan lebih jauh.

Mewakili generasi muda Tekkadan, Ride Mass juga kini sudah mulai lebih aktif sebagai pilot. Dia mewarisi MS Graze Custom dan juga Shiden yang sebelumnya digunakan Shino, menamainya menjadi Riden-Go.

Alasan Shino mewariskan adalah karena kini dia jadi menggunakan MS Gundam ketiga yang Tekkadan peroleh, yakni Gundam Flauros (yang belakangan dinamainya Ryusei-Go juga), yang memiliki kemampuan transformasi untuk mewadahi fitur rail cannon-nya yang sangat mengerikan. MS ini ditemukan secara misterius di wilayah penambahan halfmetal. Tapi penemuan tersebut justru menjadi titik balik banyak hal.

Titik balik tersebut adalah penemuan mobile armor dorman yang belakangan diketahui bernama Hashmal.

Mobile armor (MA) ternyata adalah senjata-senjata otomatis berukuran kolosal yang ternyata diciptakan di masa silam. MA yang ditemukan tersebut ternyata masih bekerja, dan segera menarik perhatian Gjallarhorn, karena rupanya keberadaan MA justru adalah pemicu Calamity War. Semuanya diprogram semata-mata untuk memusnahkan umat manusia(!).

Senjata-senjata otomatis tersebut ternyata sedemikian kuatnya. Dengan teknologi nanomesin, mereka punya kemampuan membuat drone-drone berjumlah banyak yang disebut Pluma, kemampuan melepaskan tembakan beam (yang untuknya masih bisa ditangani dengan lapisan nanolaminate armor di kebanyakan MS!), dan bahkan kemampuan regenerasi!

Mereka seolah tak terhentikan di masa silam sebelum ke-72 Gundam Frame akhirnya diciptakan untuk memburu mereka.

Kemenangan atas Hashmal, yang harus dibayar mahal, berujung pada rekonstruksi Barbatos menjadi Gundam Barbatos Lupus Rex, wujud terkuatnya dalam cerita ini. Banyak yang bilang bentuknya menyerupai War Greymon dari waralaba Digimon, tapi aku pribadi lumayan suka.

Untuk pertempuran jarak dekat, Lupus Rex tidak lagi memerlukan senjata karena cakarnya yang terbuat dari logam komposit (yang sama dengan pedang-pedang Grimgerde) sudah cukup untuk mewadahinya. Untuk serangan jarak jauh, MS tersebut masih bisa dilengkapi senapan. Tapi yang paling mengerikan dari Barbatos yang ini, yang dipadukan dengan kecepatannya, adalah ekornya. Ekor tersebut diambil dari ekor Hashmal yang dapat menyasar musuh-musuh secara otomatis. Lewat sistem Alaya Vijnana, Mika bahkan merasa bisa punya ekor secara alami!

Ekor ini seakan jadi ekuivalen persenjataan bit/funnel di seri-seri Gundam lain.

Dari sisi Gjallarhorn, Julieta Juris dan Iok Kujan sama-sama menggunakan Reginlaze, MS produksi massal termutakhir Gjallarhorn. Bentuknya yang aerodinamis beneran menarik perhatian.

Dikembangkan dari Graze, Reginlaze konon didesain untuk memenuhi kebutuhan MS tipe baru selepas kekalahan Gjallarhorn dalam Pertempuran Edmonton. Baru diproduksi dalam jumlah terbatas, MS ini memiliki output dan daya serang lebih besar dari Graze, dengan lapisan pelindung yang lebih tebal. Meski demikian, strukturnya yang lebih sederhana dengan permukaan-permukaannya melengkung membuatnya relatif mudah ditangani bahkan melebihi Graze. Reginlaze tetap dirancang serbaguna seperti pendahulunya, dan dapat digunakan di berbagai medan dengan berbagai armamen.

Reginlaze milik Iok yang berwarna hitam-coklat gelap merupakan varian untuk komandan yang dikhususkan untuk serangan pendukung jarak jauh. Senjata utamanya adalah railgun jarak jauh yang mengandalkan kemampuan sensorik yang MS tipe ini miliki. Bentuk ini kemungkinan besar dipilih karena perhatian besar para pengikut Iok atas keselamatannya. (Terutama, karena Iok sendiri bukan pilot handal.)

Di sisi lain, Reginlaze milik Julieta dikustomisasi agar memiliki output dan mobilitas yang lebih tinggi lagi. Perlengkapan khusus Reginlaze punya Julieta adalah pasangan senjata jarak dekat prototip Twin Pile, yang memungkinkan peluncuran jangkar-jangkar kawat yang dapat menahan gerakan lawan.

Sesudah kekalahannya dalam konflik melawan MA Hashmal, Julieta mengajukan diri untuk menjadi pilot uji dari Reginlaze Julia, MS prototipe yang merupakan pengembangan lebih mutakhir lagi dari Reginlaze.

Dibangun dengan bentuk luar aerodinamis, Reginlaze Julia memiliki mobilitas dan keluaran sangat tinggi yang mengorbankan berbagai aspek dasar dari pendahulunya. Karena sifatnya yang sangat sensitif, MS ini hanya bisa digunakan oleh para pilot yang benar-benar terampil. MS ini juga dibangun dengan data pertempuran yang diperoleh dari Graze Ein, walau filosofi pengembangannya sangat berbeda mengingat penggunaan Reginlaze Julia yang dikhususkan untuk di luar angkasa. Di samping sepasang senapan mesin dan sepasang bilah pisau di kaki, Reginlaze Julia memiliki senjata andalan pedang cambuk Julian Sword di kedua lengannya, yang dibuat dari bahan serupa Valkyrja Sword milik Grimgerde.

Bicara soal Grimgerde, McGillis tidak lagi bisa memakainya dengan kedudukannya yang baru. MS tersebut kemudian dibongkar hingga ke rangka oleh Perusahaan Montag yang misterius, untuk mewujudkan rancangan kuno bernama Helmwige, menjadi MS baru bernama Helmwige Reincar.

MS bertanduk dan berpedang besar tersebut sangat menonjolkan pertahanan dan dirancang untuk tujuan pengawalan. Secara spesifik, pengawalan untuk menghadapi MA. Isurugi yang kemudian dipercaya sebagai pilotnya. Kehadirannya di medan pertempuran ternyata berperan kunci dalam mengalahkan Hashmal.

(Menariknya, Perusahaan Montag yang digunakan McGillis ternyata didasarkan oleh perusahaan yang pernah ada di sejarah Post Disaster, yang konon dibangun seseorang bernama Clive Montag. Siapa dirinya, dan apa signifikasinya bagi McGillis, masih jadi tanda tanya.)

McGillis sendiri menggunakan MS produksi massal biasa sampai ia berhasil menemukan cara untuk mengaktifkan Gundam Bael. Bael adalah MS pusaka milik Gjallarhorn di markas mereka, Vingolf. MS ini yang dulu digunakan oleh pendirinya, Agnika Kaieru, yang konon mengakhiri Calamity War. Didesas-desuskan bahwa barangsiapa yang bisa mengaktifkan Bael akan berhak untuk memerintah Gjallarhorn. Lalu lambat laun, McGillis rupanya telah menjadi terobsesi dengan MS ini.

Aku dulu sempat mengira kalau Bael akan menjadi final boss untuk Gundam IBO. Ada teori lain yang juga sempat berspekulasi kalau Bael nantinya akan digunakan Mika. Tapi tidak, McGillis menggunakannya secara pribadi di pihak yang sama dengan Tekkadan.

Mirip dengan Grimgerde, Bael menggunakan sepasang pedang berbilah emas yang konon tidak mungkin patah. Warna MS-nya yang keren menurutku selaras dengan desainnya yang sederhana dan konvensional. Dengan kecepatannya yang sangat tinggi dan daya pakainya yang lama, satu MS ini saja ternyata setara dengan sepasukan MS Gjallarhorn. Ini memang kurang berhasil ditonjolkan di animenya, tapi sepasang sayap Bael juga menyimpan electromagnetic cannon dengan daya hancur sangat besar.

Terakhir, MS paling misterius di seri ini adalah Gundam Vidar milik Vidar yang bertopeng. MS ini konon ditenagai bukan hanya oleh dua, tapi oleh tiga Reaktor Ahab (dengan yang ketiga untuk fungsi yang tidak diketahui). Waktu pembuatan dan pengembangannya lama. Karenanya, perlu waktu lama sampai Vidar akhirnya bisa menggunakannya. Keberadaannya juga dirahasiakan untuk waktu lama, sama halnya dengan keberadaan Vidar sendiri.

Gundam Vidar mungkin adalah MS dengan desain paling kompleks yang Gundam IBO hadirkan. MS ini dibuat untuk lincah sekaligus responsif ke segala arah. Kesan akhirnya benar-benar orisinil. Senjata utamanya adalah Burst Saber, bilah-bilah pedang ramping yang dapat diletuskan ke arah lawan dan juga diganti mata pedangnya. Selain senapan untuk segala jarak, MS ini juga dilengkapi sepasang pistol untuk aksi jarak dekat, dan juga pisau Hunter’s Edge yang terpasang di lutut.

Sebenarnya, ada upgrade untuk Gundam Vidar. Upgrade tersebut memberikan zirah tambahan dan juga seakan memberi ‘lapisan’ baru dalam persenjatannya. Tapi takkan kusebutkan di sini karena terlalu berpotensi spoiler. (Walau memang gampang ditebak sih.)

“Kita tak punya waktu untuk ragu-ragu. Tapi selama kamu tidak berhenti, aku juga tidak akan.”

Gundam IBO perlu diakui adalah seri yang memancing banyak komentar. Baik itu dengan latar cerita, karakter, plot, sampai desain mechanya. Ditambah lagi, ada banyak tema yang berusaha diangkatnya. Ada soal hubungan seks remaja (yang digali lewat masa lalu Atra yang ternyata dibesarkan di rumah bordil, sebelum ia bertemu dengan Mika dan Orga) dan juga soal LGBT (lewat karakter Yamagi Gilmerton).

Tapi pada akhirnya… entah ya, rasanya sulit berkomentar apa-apa.

Ada banyak yang berusaha disampaikan. Karenanya, kesimpulan yang bisa kita ambil tak boleh kita tarik dengan tergesa-gesa.

Akhir kata, kalau kamu tertarik pada Gundam IBO, ini seri yang sebenarnya oke. Ini jenis seri Gundam yang bisa menarikmu dari awal dan membuatmu takkan lepas hingga akhir. Tapi ini jelas enggak sempurna. Ada banyak kelemahannya. Akhir ceritanya antiklimaks sekaligus sedih. Adegan-adegan aksinya tidak buruk, tapi kurang memuaskan juga. Sisi bagusnya, seperti yang bisa diharapkan dari naskah Okada-san, adalah aspek dramanya yang sangat berkesan dan juga karakterisasi yang ‘jadi.’ Aku terutama terpaku pada adegan menjelang akhir saat Mika sedemikian mensyukuri segala yang akhirnya mereka—dirinya dan orang-orang tersayangnya—berhasil peroleh.

Jadi menurutku pribadi, bagus enggaknya tamat Gundam IBO, yang kontroversial, sebenarnya ditentukan oleh langkah para produsernya ke depan.

Kalau kelak Gundam IBO memperoleh sekuel (apalagi dengan pembangunan dunianya yang benar-benar bagus, dan belum semua rahasia Calamity War yang terkuak), maka tamat season ini bisa diterima. Tapi, kalau hanya sampai sebatas ini, dan jadinya ada semesta Gundam baru yang langsung diperkenalkan sebagai penggantinya, maka ini akhir yang enggak bagus. Soalnya, berbeda dengan kasus Gundam SEED Destiny, meski banyak kelemahannya, Gundam IBO berhasil kena ke hati banyak orang. Di samping itu, pangsa pasarnya ada, dan tak ada kendala berarti dalam hal produksinya.

Tapi memang jadi tanda tanya sih soal apa yang ada di pikiran Nagai-san sebagai sutradara.

Maksudku, karakter mekanik Yamazin Toka di episode terakhir benar-benar mengindikasikan ada suatu rahasia yang masih tersembunyi! Di samping itu, tiga blok ekonomi lain selain Arbrau juga belum disorot! Bagaimana juga dengan Gundam-Gundam lain yang belum terkuak?

Kalau itu semua berakhir tidak digali, kalian juga bakal setuju kan? Akhir cerita ini jadi benar-benar mengecewakan.

“…Aku tunggu kamu di sana.”

Yah, sebagai penutup, aku singgung sedikit tentang manga gaiden-nya, Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans Gekko. (‘Gekko’ di sini berarti ‘sinar bulan’)

Manga ini diterbitkan bersama oleh Kadokawa Shoten dan Hobby Japan dan diserialisasikan di majalah Gundam Ace. Sebagaimana halnya seri-seri Gundam lain, di manga ini ada berbagai desain MS variasi (MSV, mirip seri Astray untuk semesta Cosmic Era) yang ditampilkan bersama cerita yang menjadi ‘pelengkap’ cerita utama. Manga ini sendiri ditangani oleh Kamoshida Hajime, dengan desain karakter buatan Terama Hirosuke x Dango, serta desain mekanik oleh Gyoubu Ippei.

Garis besar ceritanya adalah tentang Argi Mirage, seorang pemuda dengan tangan kanan prostetik, yang tengah memburu suatu MS misterius tipe Gundam yang ia yakini telah membantai keluarganya. (Desain karakternya, secara aneh, sangat mirip Hush Middy, hanya saja dengan rambut lebih tebal dan mata lebih tajam.)

Bekerja sebagai tentara bayaran, Argi berselisih jalan dengan Volco Warren, pemuda pincang yang menjadi orang kepercayaan Ted Morugaton. Ted adalah pemimpin perusahan rute dagang  Tantotempo di koloni wisata Avalanche 5, yang berhubungan dengan mafia. Dalam insiden di mana nyawa Ted diincar, Volco membujuk Argi untuk bekerjasama.

Argi akhirnya setuju sesudah terungkap kalau Volco ternyata adalah pemilik apa-apa yang masih tersisa dari Gundam Astaroth. MS tersebut adalah salah satu dari 72 Gundam Frame peninggalan Calamity War, yang tengah berusaha dipulihkan Volco. Tidak lama sesudah pertama ditemukan dan dipulihkan sesudah Calamity War, suatu pihak misterius mencuri Astaroth dan mempreteli bagian-bagiannya. Memperoleh kembali bagian-bagian tersebut dan memulihkan Astaroth menjadi seperti seharusnya akhirnya menjadi misi pribadi Volco, yang terus diperjuangkannya… sampai Ted kemudian tewas.

Volco kesulitan mengemudikan Astaroth dengan kakinya yang cacat. Tapi dengan bantuan Argi dan tangan prostetiknya, yang menjalin koneksi saraf yang mendekati koneksi sistem Alaya-Vijnana, Astaroth bisa mereka fungsikan. Dengan menggunakan bagian-bagian MS lain sebagai pengganti bagiannya yang hilang, rangka tersebut menjadi Gundam Astaroth Rinascimento yang menjadi andalan mereka.

Bersama-sama, Argi dan Volco kemudian menjadi pelindung Liarina Morugaton, gadis remaja yang merupakan anak satu-satunya Ted. Mereka juga berusaha menelusuri pelaku sesungguhnya di balik penyerangan Ted, apa kaitannya dengan Astaroth, serta siapa pemilik MS tipe Gundam misterius yang mungkin telah menewaskan keluarga Argi.

Cerita Gekko banyak menyinggung soal dunia mafia, yang animenya baru sebatas singgung lewat grup Teiwaz. Meski Gjallarhorn berperan, mereka tidak banyak tampil. Lalu mirip seperti di seri-seri manga Gundam Astray, yang menjadi antagonis adalah berbagai pihak lain yang berkepentingan terhadap para tokoh utama.

Nuansa ceritanya sangat mirip manga Gundam MSV yang lain. Kadang perkembangannya memang sarat kebetulan. Tapi ceritanya masih terbilang rame.

Sayangnya, belum banyak info lebih jauh soal Calamity War yang diungkap di dalamnya. Jadi walau menarik, ceritanya mungkin masih belum cukup memenuhi rasa penasaran kamu sesudah animenya berakhir.

Tapi kayak biasa, desain-desain mechanya teramat keren. Itu jadi daya tarik tersendiri.  Gundam Astaroth Rinascimento misalnya, adalah MS asal jadi yang dilengkapi senjata di segala bagian agar ‘siap untuk segala situasi.’ Tapi hasilnya kurasa benar-benar keren.

Selebihnya, berikut terjemahan lirik dari “Rage of Dust” di bawah.

Lagi-lagi ini postingan panjang. Terima kasih udah baca sejauh ini.

Maaf juga karena ulasan ini lama. Ada terlalu banyak yang berusaha aku tangani belakangan.

Terlepas dari gimana parahnya keadaan dunia, jangan tunduk hanya karena kalian bintang-bintang kelas enam, guys. Lindungi yang berharga buat kalian. Kalau ada satu makna yang bisa kalian ambil dari Gundam IBO, ambillah itu.

“Rage of Dust”

by SPYAIR

fukai yoru no yami ni

nomarenai you hisshi ni natte

kagayaita rokutousei

marude bokura no you da

 

kurikaesu nichijou ni orenai you ni

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

girigiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

doudatte ii nayandatte

umarekawaru wake janai shi

mureru no wa suki janai

jibun ga kieteshimaisou de

 

afurekaetta rifujin ni makenai you ni

 

nakusenai mono mo nai

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

hirihiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

Agar tak tertelan pekatnya gelap malam

Dia berjuang dengan putus asa

Bintang kelas enam yang bercahaya itu

Bukannya bagaikan kita

Janganlah kalah dengan hari-hari yang terus berulang

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Tak ada artinya bagaimanapun juga

Memikirkannya takkan membuatmu bisa mengulang dari awal

Tak menyukai mentalitas kelompok

Jati dirimu terasa seakan hampir sirna

Janganlah tunduk pada dunia yang absurd

Tak punya apapun, selama masih tak berdaya

Jangan biarkan semua ini berakhir

Karenanya, kamu harus pergi!

Kalau memang berakhir sebagai debu

Sekalian saja jadilah debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Jangan biarkan semua berakhir selama kau tak berdaya!

Karenanya, kamu harus pergi!

Tapi kalau harus berakhir sebagai debu

Jadilah sekalian debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: X; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

28/08/2017

Seiren

Seiren itu aneh.

Aku punya alasan pribadi untuk mengikuti Seiren (judulnya kira-kira berarti: ‘jujur’, ‘kejujuran’, ‘sungguh-sungguh’), tapi cerita Seiren enggak kusangka bakal seaneh ini. Anehnya itu… mengangkat alis gitu. Bikin kamu sedikit enggak nyaman, tapi sekaligus kepikiran di waktu yang sama.

Sedikit info dulu.

Seiren diproduksi bersama Studio Gokumi dan studio pendatang baru AXsiZ. Pertama tayangnya di musim dingin awal tahun 2017. Aku antusias saat Seiren diumumkan. Alasannya, karena produksinya mengusung nama Takayama Kisai.

Jadi, Takayama-san adalah ilustrator sekaligus salah satu pencetus game romantis Amagami. Adaptasi anime Amagami, Amagami SS dan Amagami SS+, sempat menarik perhatian beberapa tahun sebelumnya. Agaknya, kesuksesan itu hendak diulang dengan bagaimana Takayama-san mendesain karakter-karakter di Seiren dan sekalian menangani naskah.

Selain beliau, musik seri ini ditangani Nobusawa Nobuaki. Penyutradaraannya ditangani Kobayashi Tomoki, sutradara Amagami SS+ yang belakangan lebih dikenal sebagai sutradara anime aksi Akame ga Kill!.

Berbeda dengan Amagami, Seiren murni diproduksi sebagai anime. Sifatnya orisinil. Tidak ada game pendahulu yang padanya ini didasarkan.

Sama halnya Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+, Seiren pun mengadopsi format omnibus. Meski karakter-karakter utama yang diketengahkannya sama, seri ini terbagi ke dalam bab-bab berbeda yang berpusar pada karakter perempuan utama yang berbeda pula. Cerita dalam satu bab tidak benar-benar berhubungan dengan bab lain (meski ada banyak hal sama di dalamnya). Jadi begitu memasuki bab baru, cerita seolah berulang dari awal dan mengambil arah berbeda.

Musim pertama Seiren sepanjang 12 episode. Dengan tiga heroine utama, mengikuti formula Amagami SS, masing-masing bab di anime ini mendapat durasi empat episode. Tiap bab juga punya lagu penutup berbeda yang dinyanyikan pengisi suara heroine terkait.

Aku menyebutnya ‘musim pertama’ karena direncanakan akan ada musim kedua kalau anime ini sukses. Tapi itu belum pasti. Lebih banyak soal itu mending aku singgung nanti.

Mungkin perlu disinggung juga. Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+ bisa dibilang romantis dengan sisi-sisi lucu dan aneh. Tapi komedi romantis Seiren itu lebih ke arah… aneh.

Sial. Tetep enggak kepikiran kata lain yang bisa menjabarkannya.

Venison

Seiren berlatar di SMA Kibito, sekolah yang juga menjadi latar Amagami. Bedanya, Seiren berlatar pada masa sembilan tahun sesudahnya. Ada beberapa tempat di Amagami yang bahkan juga dikunjungi lagi di Seiren. Mungkin kau takkan langsung sadar, tapi desain seragam para tokohnya itu beneran sama.

Dengan cerita yang berawal di musim panas (berkebalikan dari Amagami, yang lebih banyak berlatar di musim gugur dan musim dingin), Seiren bercerita tentang pengalaman-pengalaman romantis(?) Kamita Shouichi, siswa kelas dua di SMA Kibito yang dihadapkan pada sejumlah perempuan berbeda saat mulai memikirkan tentang masa depannya.

Shouichi ceritanya adalah adik lelaki Kamita Tomoe, siswi kelas tiga populer yang juga bersekolah di SMA Kibito. Pada tahun sebelumnya, Moe-nee memenangkan juara pertama kontes kecantikan Miss Santa yang diadakan pada Festival Pendiri Sekolah di sekolah mereka. Sifat Moe-nee selalu ramah pada semua orang. Karenanya, berkat hubungannya dengan kakaknya, Shouichi sedikit banyak jadi mulai ikut dikenal di sekolahnya juga.

Di sekolah, Shouichi bersahabat dekat dengan Nanasaki Ikuo, kawannya sejak kecil yang kalem dan pintar (meski dulu sempat dikenal agak liar). Berperan secara konsisten sebagai teman bicara Shouichi, Ikuo juga adalah adik lelaki Nanasaki Ai, salah satu heroine di Amagami yang bisa didekati si tokoh utama. (Untuk kalian yang lupa, Ai itu karakter yang anggota klub renang, gadis cool yang juga salah satu teman dekat Miya, adik perempuan Tachibana Junichi, si tokoh utama. FYI, Junichi juga sempat tampil sebagai cameo di seri ini!)

Karena kegemaran mereka ngegame di game center, Shouichi dan Ikuo juga akrab dengan seorang kakak kelas bernama Araki Tetsuya. Araki-senpai yang tampan banyak dikagumi siswi-siswi di sekolah mereka. Tapi tanpa banyak orang tahu, Araki sebenarnya penyayang binatang. Entah bagaimana, hal itu jadi membuatnya punya sisi kepribadian yang sedikit aneh.

Ada tiga tokoh utama perempuan yang Seiren sajikan (di paruh ini). Masing-masing seolah mewakili angkatan yang berbeda. Sesuai urutan bab mereka, ketiganya adalah:

  • Tsuneki Hikari, teman sekelas sekaligus siswi paling dikenal di angkatan Shouichi. Hikari yang lincah dan memikat menjadi runner up kontes Miss Santa tahun lalu (kalah dari Tomoe, kakak perempuan Shouichi). Sifatnya ceria, senang makan tapi gemar olahraga, dan terkadang keras kepala. Hikari juga diam-diam bekerja paruh waktu sebagai koki dan pelayan di suatu restoran, meski sekolah sebenarnya tidak memperbolehkan. Cerita babnya mengetengahkan bagaimana Hikari dengan enggan mengikuti sekolah musim panas yang juga diikuti Shouichi dan Ikuo. Bagaimana Shouichi tak bisa membiarkan Hikari sendirian lambat laun memunculkan desas-desus tentang mereka. Desas-desus tersebut malah dikompori Hikari sendiri, dan Shouichi akhirnya terdorong untuk bersikap serius tentangnya.
  • Miyamae Toru, kakak kelas dan teman akrab Moe-nee yang diam-diam luar biasa jago ngegame. Meski sering ngegame, nilai-nilai pelajarannya juga terbilang bagus dan ia pun pandai berolahraga. Meski begitu, Toru kerap kesulitan bicara dengan orang kalau tak punya kesamaan. Hal itu ternyata berhubungan dengan suatu pengalamannya di masa lalu. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Toru jadi sering bertukar item dengan Shouichi, Ikuo, dan Araki. Saat Shouichi menjadi partnernya dalam suatu game robot-robotan, Shouichi jadi tertarik lebih jauh dengan kepribadiannya. Toru ternyata pernah akrab dengan Hikari di waktu SMP.
  • Touno Kyouko, adik kelas sekaligus teman sejak kecil Shouichi selain Ikuo. Penampilannya cantik dan manis. Dia murid teladan. Tapi dia juga sangat gemar membaca komik cewek, dan mungkin punya jalan pikiran sedikit kekanakan. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Kyouko meminta Shouichi menemaninya makan pancake, yang kemudian mengawali serangkaian kejadian yang membuat keduanya sama-sama mulai mengkaji hubungan mereka.

“Rasanya luar biasa saat kamu menendangku dari belakang.”

Secara konseptual, Seiren menurutku lebih bagus dari Amagami. Dalam perkembangannya, memang ini terkadang dikesampingkan sih. Tapi tema yang diangkat Seiren sebenarnya tentang menghadapi masa depan. Hal inilah yang kemudian membuatnya jadi bagus.

Daripada langsung fokus ke hubungan dengan para karakter heroine-nya, Seiren sempat terasa kayak seri drama kehidupan yang lebih umum. Jadi bukan cuma pertanyaan soal hubungan cinta saja yang diangkat. Diangkat juga berbagai hal lain seperti sekolah, hobi, minat, dsb. dalam kehidupan para tokohnya. Secara mengesankan, ini tertuang dalam berbagai pikiran Shouichi. Jadi kayak, sesuatu yang selalu membayang-bayanginya secara bawah sadar gitu.

Masalahnya… mungkin ada di visi konsepnya yang belum mateng kali ya?

Awal cerita Seiren menurutku lebih menarik dari dugaan. Secara tersirat, berbagai hal tentang kehidupan para karakternya tercermin dari sikap, kebiasaan, dan cara bicara mereka. Seiren sama sekali enggak kelihatan kayak anime dating sim yang biasa. Nuansanya beneran kerasa begitu berbeda dari Amagami.

Sayangnya, di sepanjang dua bab yang pertama (bab Hikari dan Toru), fokus ceritanya kayak gagal kebangun gitu. Aspek hubungan antar karaternya kurang berhasil terjalin.  Akibatnya, daya tarik di awal tersebut jadi menurun dalam pelaksanaannya. Kualitasnya juga tak pernah benar-benar sampai berhasil menyamai kesan kuat Amagami SS.

Menyakitkannya, ini tuh benar-benar murni masalah naskah.

Masalah ini mungkin bahkan bakal terhindari seandainya Seiren hasil produksi dari satu studio, dan bukan kolaborasi dari dua. Ceritanya enggak jelek, dan bahkan sangat menarik dari banyak segi. Tapi juga belum bisa dibilang bagus.

Di sisi lain, kalau membahas soal teknis sih, animasi Seiren sebenarnya juga punya banyak saat yang terkesan ‘kaku.’ Kualitasnya termasuk biasa. Pengarahannya—soal gimana visualnya dipadu dengan dialog dan musik dalam satu adegan—terkadang kayak masih kurang pas.

Padahal dari segi audio, seri ini termasuk lumayan. Voice acting-nya enggak buruk. Di samping itu, musiknya lumayan dan sejumlah lagu-lagunya juga terbilang enak didengar.

Soal desain karakter Takayama-san, ada yang berpendapat desain karakter Seiren terlalu mirip dengan satu sama lain. (Ketiga heroine sama-sama kurus dan berambut panjang, misalnya.) Aku memang agak merasa beliau terlalu memasukkan selera pribadi beliau di dalam seri ini sih. Tapi aku juga merasa konsep multidimensi yang Seiren usung soal ‘masa depan’ dan ‘kehidupan’ juga agak berperan.

Susah jelasinnya.

Intinya, aku menduga pembagian kerja antara kedua studio menjadi faktor terbesar yang mempengaruhi hasil akhir Seiren. Visi para pembuatnya masih belum menyatu. Jadinya, visi tersebut juga kurang berhasil diterjemahkan saat seri ini sudah harus tayang.

Tapi yang mengejutkan dari Seiren, kualitas teknis dan naskahnya tiba-tiba mengalami kenaikan sekitar pertengahan seri. Para staf seakan menemukan momentum mereka lagi. Seiren jadi punya episode-episode terakhir yang lebih berkesan dari episode-episode awal. Babnya Kyouko ternyata jauh lebih berkesan dibandingkan babnya Hikari dan Toru.

Iya, tetap aja ini terasa aneh karena format ceritanya yang omnibus sih.

Nah, bicara soal itu…

“Aku jadi benar-benar gugup saat membayangkan bisa punya keturunan sama kamu.”

Balik lagi soal cerita, Seiren itu… ceritanya aneh.

Seriusan aneh.

Di atas kertas, memadukan elemen-elemen drama komedi dengan soal cita-cita, impian, sekaligus romansa bukan ide buruk. Tapi untuk Seiren, keanehan ini yang justru jadi kekuatan sekaligus kelemahannya yang terbesar.

Kekuatannya karena… enggak ada anime lain yang mirip Seiren. Bahkan Amagami SS juga enggak!

Kelemahannya karena… yah, Seiren jadi cenderung terlalu datar buat sebagian orang. Agak membosankan. Dan itu sesuatu yang enggak semestinya terjadi buat konsep kayak gini.

Sekali lagi, andai Seiren diproduksi sama satu studio, keanehan yang jadi kelemahannya ini kayaknya bakal langsung disadari dan kemudian diperbaiki. Tapi karena diproduksinya oleh dua, keanehan dalam naskahnya itu kayak baru ketahuan belakangan.

Ringkasnya, selain plotnya kerap mengawang, selalu ada sesuatu yang ‘ajaib’ di dialognya. Pas kamu dengerin pertama kali, awalnya kamu akan biasa-biasa saja. Tapi sedetik berikutnya, pas kamu memikirkannya lagi, reaksi kamu bisa jadi, “Wut? Barusan dia ngomong apa?” karena saking anehnya apa yang diucapkan. Nah, dialog-dialog kayak gini yang jadi kekhasan Seiren. Dan ini konsisten ada di ketiga bab.

Nah, Amagami SS juga punya fanservice yang ‘aneh’ gitu kan? Kamu nanya apa di dalamnya Seiren juga ada apa enggak? Jawabannya: iya, tapi enggak sebanyak Amagami. Cuman, pas ada, keanehan di Seiren itu bisa sekian kali lipat melebihi Amagami. Seiren seriusan patut dipuji karena bisa kepikiran segala macem inuendo kayak gini.

Lalu, soal plotnya…

Satu hal aneh lain tentang Seiren: kalau dalam Amagami misalnya, seorang heroine tidak akan terlalu berperan dalam bab heroine lain. Kalau dalam Seiren, mereka kayak punya peran lebih aktif. Malah kayak bisa ada konflik antar mereka. Jadi, struktur bab yang katanya omnibus tersebut sebenarnya lebih kayak struktur perkembangan cerita di Fate/stay night ketimbang Amagami.

Hal-hal yang dipaparkan di satu bab terus terbangun sampai ke bab berikutnya begitu. (Seperti soal subplot soal cinta terpendam Ikuo.) Tingkat interaksi antar karakter heroine di Seiren emang jadi lebih banyak. (Terutama dengan adanya Hikari.) Lalu kurun waktunya secara kronologis memang Hikari –> Toru –> Kyouko. (Memberi semacam kesan What if? pada masing-masing skenario.) Tapi iya, buat anime yang harusnya romansa kayak Seiren, ini jadi terasa luar biasa aneh.

Sisi baiknya, sekali lagi, adalah gimana bab Kyouko jadi memuaskan sebagai penuntas seri. Ceritanya Kyouko emang berbeda sendiri. Memang terasa seperti ada elemen-elemen cerita yang dicomot dari babnya Rihoko di Amagami SS dan Amagami SS+. Bahkan sampai ada karakter expy dari dua karakter senpai di Klub PKK segala! Tapi kalo aku ditanya akhirnya bagus apa engga, menurutku pribadi, akhirnya termasuk bagus.

Seandainya Seiren dikasih kesempatan lanjut, mungkin saja season keduanya bakal beneran ngejutin.

Legenda Gudang Pompa

Sebagai penutup, ada lumayan banyak karakter yang berperan dalam Seiren. Tapi tiga karakter berikut yang sebenarnya telah direncanakan sebagai heroine untuk season keduanya.

  • Hiyama Miu, siswi pingitan anggota klub renang SMA Putri Sakuragawa Nishi. Masih awam soal berbagai seluk beluk dunia. Dirinya pertama kali diperkenalkan sebagai sesama peserta sekolah musim panas di bab Hikari.
  • Kamizaki Makoto, siswi kelas satu anggota komite disiplin di Kibito. Teman dekat Kyouko. Dirinya tidak terbiasa berkonfrontasi dengan orang. Dia ditampilkan secara menonjol di bab Toru saat hendak mengambil foto di game center. (Ada indikasi kalau dirinya adalah adik perempuan Kamizaki Risa, karakter rahasia di Amagami.)
  • Sanjou Ruise, ketua komite disiplin yang agak galak, sekaligus atasannya Makoto. Dirinya berperan mencolok di bab Kyouko sebagai sosok yang mendorong Klub PKK untuk membuatkan rancangan hiasan.

Selain mereka, juga ada teman-teman dekat Hikari (yang punya hubungan kompleks dengannya). Ada Nagasawa Shiori, teman Moe-nee dan Toru, yang baik hati membantu dalam hal Comima. Lalu ada… dua orang karakter cowok yang seakan menjadi penggemar para cewek cantik di SMA Kibito. (Sayang mereka enggak lebih banyak berperan.)

Selebihnya, para karakter expy: ada Yoshida Mako di sekolah musim panas yang desainnya hampir sama persis dengan Tanaka Keiko, teman dekat Kaoru di Amagami. Lalu dua kakak kelas Uno Koharu dan Tokioka Nao punya sifat dan tampang yang sama persis dengan Yuzuki Ruriko dan Hiba Manaka di Amagami. Mereka bahkan sama-sama jadi anggota Klub PKK?

…Sejujurnya, aku jadi curiga apakah terjadi perubahan naskah secara mendadak menjelang akhir seri.

Akhir kata, Seiren mungkin terkesan membosankan. Tapi kalau kau bertahan, yah, ada hal-hal di dalamnya yang enggak akan kamu temukan di tempat lain.

Kalau kau fans Amagami, kamu enggak bener-bener perlu mengikuti Seiren. Tapi kalau kau sudah jadi fans Amagami saat mengikuti Seiren, ada sejumlah hal menarik yang bisa tiba-tiba kau sadari selama mengikutinya.

Sekali lagi, anehnya Seiren bukan aneh gila kayak di seri-seri komedi kocak kayak Excel Saga atau Nichijou gitu. Melainkan ‘aneh’ yang sekilas kelihatan normal, tapi saat kamu nyadar, lambat laun bikin kamu “Hah? Haah? HAAAAAAH?!”

Itu yang membuatnya jadi menarik.

(Di samping itu, aku lebih dari bersyukur bisa mendengar nyanyian Oku Hanako lagi.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: B-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B+

17/07/2017

Busou Shoujo Machiavellianism

Belakangan, waktuku tersita oleh naskah yang aku lagi kerjain.

Tapi belum lama ini, aku masih sempat mengikuti perkembangan anime Busou Shoujo Machiavellianism.

Juga dikenal dengan judul Armed Girls Machiavellianism (‘Machiavellianisme gadis-gadis bersenjata’; buat yang belum tahu, ‘Machiavellianisme’ adalah suatu paham yang digagas filsuf sekaligus ahli sejarah Niccolò di Bernardo dei Machiavelli pada awal abad ke-16, yang intinya membolehkan—dan mungkin bahkan menekankan—kepalsuan, pemaksaan, manipulasi, dan amoralitas untuk tercapainya suatu tujuan). Ini seri komedi romantis aksi bernuansa ilmu bela diri yang didasarkan seri manga karya Karuna Kanzaki. Ceritanya sendiri dipenai Kurokami Yuuya. Diserialisasikannya di majalah bulanan Monthly Shonen Ace milik penerbit Kadokawa Shoten, dan saat ini aku tulis, serialisasinya masih berlanjut.

Adaptasi animenya sendiri dikerjakan studio animasi Silver Link. Tachibana Hideki yang menyutradarai. Hasil akhirnya, mengingat beliau sebelumnya menangani Chaos Dragon, H2O: Footprints in the Sand, dan BlazBlue Alter Memory, menurutku terbilang bagus. Naskahnya dikerjakan oleh Shimoyama Kento. Musiknya ditangani Mizutani Hiromi dari Team MAX.

Ditayangkan pada musim semi tahun 2017, jumlah episodenya sebanyak 12.

(Sebenarnya, ada cerita panjang soal lisensi anime ini dan beberapa judul lain pada musim bersangkutan, tapi mungkin soal itu enggak usah aku ceritain.)

Bertingkah Seperti Burung-burung Kecil

Sekilas, Busou Shoujo Machiavellianism terkesan punya cerita yang enggak penting. …Tapi kalau dilihat secara menyeluruh pun, cerita seri ini memang sebenarnya enggak terlalu penting.

Seorang remaja SMA santai bernama Nomura Fudou dikeluarkan dari sekolahnya yang lama karena meng-KO 40 orang dalam suatu tawuran hebat. Tapi kemudian, dia pindah ke Akademi Simbiosis Swasta Aichi (apa ini bener terjemahannya?) yang prestisius dan berasrama, yang ternyata secara harfiah dikuasai oleh para siswi.

Alasan anak-anak perempuan menguasai sekolah ini adalah karena mereka semua diizinkan membawa senjata. Senjata beneran. Perguruan Aichi sebelumnya adalah sekolah khusus untuk anak-anak perempuan dari keluarga-keluarga terhormat yang baru pada tahun-tahun belakangan menerima siswa laki-laki. Sebagai langkah untuk melindungi kehormatan para siswi, para siswi diizinkan membawa senjata agar bisa menjaga diri dari para laki-laki.

Lalu entah siapa yang memulai, meski resminya murid-murid laki-laki diterima di sekolah ini, selama bersekolah di perguruan ini, mereka diwajibkan berhenti hidup sebagai laki-laki. Dengan kata lain, mereka semua harus hidup sebagai banci.

Nomura (aksen saat menyebut namanya diberikan pada suku kata pertama) jelas tak bisa menerima aturan ini. Meski mengusung moral yang lurus, Nomura juga menjunjung kebebasan lebih dari apapun. Tapi bahkan sebelum penolakannya, karena prestasinya dalam menghajar 40 orang dalam satu tawuran hanya dengan tangan kosong, Nomura telah menarik perhatian kelompok Tenka Goken (Supreme Five Swords, ‘Lima Pedang Terkuat’).

Tenka Goken adalah kelompok penjaga keamanan yang terdiri atas lima siswi paling kuat di Aichi. Selama bertahun-tahun, mereka menjaga harmoni di perguruan Aichi karena dibolehkan menegakkan aturan dengan membawa pedang sungguhan.

Singkat cerita, meyakini Nomura akan berbuat onar, diprakarsai seorang gadis bertopeng bernama Onigawara Rin yang ternyata menjadi teman sekelas Nomura, masing-masing anggota Tenka Goken memulai langkah-langkah mereka untuk mendisiplinkannya. Sementara di sisi lain, Nomura belakangan mengetahui bahwa untuk memperoleh izin pergi ke luar sekolah, ia perlu melengkapi kartu izin dengan stempel dari kelima anggota Tenka Goken. Karena Nomura ingin memperoleh izin untuk bisa bebas keluar, tanpa dapat dihindari, jalan hidup Nomura dan kelompok ini akhirnya berseberangan.

Namun, meski tak bersenjata apa-apa selain sarung tangan berpelindung yang menjadi andalannya, Nomura ternyata seorang ahli bela diri. Dia telah dididik oleh kakeknya sejak kecil dan digembleng oleh kakeknya untuk menguasai suatu ilmu bela diri tertentu. Hasilnya adalah jurus rahasia yang disebut Madan (‘peluru ajaib’), suatu serangan hentakan telapak dahsyat yang dapat dilepasnya dari kedua belah tangan dari posisi apapun.

Seiring dengan bentrokan demi bentrokan yang terjadi, satu demi satu gadis yang berhadapan dengan Nomura juga lambat laun menyadari kalau dirinya ternyata tidak seburuk yang mereka kira…

Catatan-catatan Skandal

Terlepas dari semuanya, para heroine utama seri ini, yang tergabung dalam Tenka Goken, terdiri atas:

  • Onigawara Rin, gadis berambut hitam pendek yang punya ciri khas berupa separuh topeng oni yang hampir selalu menutupi separuh wajahnya. Rin adalah pemimpin tidak resmi dari Tenka Goken, meski ia berada di kedudukan tersebut lebih karena dirinya yang paling punya inisiatif. Pembawaannya galak. Ia juga selalu lurus dan taat peraturan. Tapi dirinya juga punya sisi rendah diri yang membuatnya terkadang ragu terhadap diri sendiri. Dalam bertarung, Rin menggunakan ilmu pedang aliran Kashima Shinden Jikishinkage-ryuu yang mengutamakan ketepatan bentuk yang dipadukan dengan teknik-teknik pernafasan. Pedangnya berupa katana yang dinamai Onimaru. Adik kelas yang paling dekat dengannya adalah Mozunono Nono, yang kagum terhadap Rin dan menggunakan aliran pedang yang sama, tapi untuk pedang pendek jenis kodachi, meski ia sendiri bersenjatakan baton.
  • Kikakujou Mary, seorang gadis pirang rupawan berdarah campuran Jepang-Perancis. Ke mana-mana, ia senantiasa membawa kamus bahasa Jepang. Ia ahli anggar yang agaknya menggabungkan ilmu pedang konvensional dari Barat dengan ilmu pedang Jepang (aliran Jigen-ryuu?). Dalam bertarung, Mary melancarkan serangan-serangan beruntun yang mengincar titik-titik saraf lawan yang juga dipadukan pengendalian jarak yang lihai. Pedang yang digunakannya sejenis rapier, yang mengutamakan gerakan-gerakan tusukan. Sangat cantik dan anggun meski terkadang pemalu. Dirinya juga bisa bersikap licik saat sedang mau. Adik kelas yang dengan setia mengikutinya adalah si burikko, Chouka U. Baragasaki (bukan nama asli), yang menggunakan senjata cambuk.
  • Hanasaka Warabi, anggota paling senior dalam generasi Tenka Goken saat ini, seorang gadis pendek berambut pirang yang memiliki pembawaan seperti bangsawan. Memiliki seekor beruang peliharaan bernama Kyobo. Sebagai anggota senior, Warabi juga memiliki banyak pengikut serta pengaruh luas. Meski semula berkesan kaku dan tanpa ampun, Warabi bisa menjadi pengertian dan sangat bisa diandalkan kalau sudah kenal. Dalam bertarung, Warabi menggunakan aliran pedang Taisha-ryuu yang menonjolkan serangan kejutan dan gerak tipuan. Pedang yang digunakannya kurasa adalah sejenis nodachi.
  • Tamaba Satori, gadis penyendiri berambut gelap panjang dengan tingkah laku sulit ditebak. Dikenal memiliki perangai sangat aneh dan cenderung berbahaya. Matanya yang membelalak membuatnya pikirannya sulit dibaca. Menaruh rasa permusuhan terhadap Nomura bahkan sebelum mereka pertama berhadapan. (Alasannya ternyata karena ia tak terima bila disamakan dengan Morgan Freeman. Ceritanya panjang.) Dalam bertarung, Satori menggunakan gerakan-gerakan bercabang yang sangat sukar ditebak. Ilmu pedang yang digunakannya sedikit spoiler, tapi pada dasarnya ia merangkai bentuk dan gerakan dari berbagai ilmu pedang lain. Pedang yang digunakannya adalah nihontou polos bergagang dan bersarung kayu, tanpa pelindung tangan. Satori punya masa lalu aneh yang menjadi penyebab ia menjadi seperti demikian.
  • Inaba Tsukuyo, seorang gadis mungil serupa kelinci dengan mata buta yang hampir selalu terpejam. Meski demikian, pendengaran Tsukuyo luar biasa tajam. Hanya dengan mendengar sekelilingnya, Tsukuyo bisa mengintepretasi berbagai kejadian yang terjadi di Aichi. Tsukuyo anggota termuda dari Tenka Goken yang masih duduk di bangku SMP, tapi dirinya sekaligus juga yang paling kuat dengan ilmu pedang paling mengerikan. Gerakan-gerakan kilatnya membuat lawan-lawannya tak mampu berkutik. Ilmu pedang yang digunakannya juga sedikit spoiler. Kalau tak salah, pedang yang digunakannya adalah sejenis tachi. Mungkin karena selalu disegani, diam-diam Tsukuyo terkadang kesepian.

Sebenarnya ada satu heroine lagi, yaitu Amou Kirukiru, seorang gadis jangkung berambut panjang dan sangat cantik yang merupakan murid pindahan seperti halnya Nomura.

Amou di masa lalu dikisahkan berhasil menundukkan Tenka Goken saat mereka berupaya mendisiplinkannya. Dirinya satu-satunya murid di Aichi sebelum Nomura yang tidak bisa Tenka Goken kendalikan. Karenanya, Amou kemudian dikenal dengan julukan Joutei (Empress). Motivasi Amou di sepanjang cerita menjadi tanda tanya besar. Pengetahuannya tentang jurus Madan milik Nomura (dan soal bagaimana aksen diberikan pada suku kata pertama di namanya) mengimplikasikan adanya semacam hubungan masa lalu di antara mereka.

Amou adalah praktisi karate aliran Uechi-Ryu yang menekankan pengerasan tubuh. Setiap gerakan tangannya serupa tebasan pedang. Dalam dirinya telah tertanam teknik Auto Counter yang membuatnya mampu membalas setiap serangan yang ditujukan padanya bahkan secara separuh sadar. Dirinya berperan jadi semacam final boss yang harus Nomura hadapi di penghujung cerita. (Belakangan diimplikasikan Amou terobsesi dengan Nomura karena serangan Nomura bisa memberinya rasa sakit, sesuatu yang sudah lama tak dirasakannya karena sudah lama mati rasa.)

“Buriburi! Buriburi!”

Sekali lagi, Busou Shoujo Machiavellianism itu… aneh.

Garis besar ceritanya enggak penting. Meski ada aksinya, genrenya yang utama sebenarnya adalah komedi romantis. Tapi romansa yang ada di dalamnya enggak bisa dibilang berat juga. Latar ceritanya terkadang sureal. Perkembangan karakternya terkadang mengangkat alis, dan cenderung konyol. Tapi… ada sesuatu tentangnya yang sulit dijelaskan, yang membuatnya berakhir lebih bagus dari dugaan.

Intinya: siapa sih yang nyangka seri tentang cowok yang berantem dengan cewek-cewek semata-mata agar dapet izin buat bisa keluar sekolah akan meninggalkan kesan sedemikian kuatnya tentang persahabatan dan pemahaman jati diri?

It’s weird.

Komedinya, meski benar-benar aneh, sebenarnya lumayan lucu. Jenisnya lebih ke komedi situasi yang lebih berbasis percakapan ketimbang slapstick. Jenis yang lebih mengandalkan interaksi karakter. …Meski memang perkembangan situasinya terkadang absurd.

Walau enggak sampai mengangkat hal-hal pseudo-filosofis seperti berbagai seri bela diri sekolahan lain, di luar dugaan, tetap ada nilai-nilai berbobot yang tersampaikan di ceritanya juga. Ada soal prasangka, ada soal kesetiakawanan. Ada juga soal kerja keras dan pemahaman diri sendiri/penerimaan orang lain.

Iya sih. Ini seri fanservice. Tapi implementasi berbagai elemennya benar-benar efektif. Perkembangan ceritanya juga selalu menarik dan tak selalu gampang ditebak.

Kalau kekurangan, adegan-adegan aksinya lumayan low key sih. Koreografinya sangat sederhana. Sama sekali tidak wah.  Bagaimanapun, ceritanya memang lebih menonjolkan aspek komedi romantisnya. Tapi di sisi lain, seperti ada semacam ‘keaslian’ dalam teknik-teknik bela diri yang digunakan di dalamnya juga.

Makanya, ini aneh.

Awalnya lucu melihat gadis-gadis manis ini melancarkan gerakan-gerakan bela diri yang mungkin saja benar-benar ada di kehidupan nyata. Tapi kalau kau bisa melihat melewati kesan awalnya, kau mungkin bakal ngerasa kalau karakter-karakter di dalamnya itu menarik.

Nomura terutama berhasil mencuri perhatian sebagai karakter utama. Meski lagaknya santai dan semaunya, dia setiakawan dan kuat. Tipe yang tak keberatan bersusah-susah selama itu masih sejalan dengan prinsipnya. Prinsipnya itu yang menggerakkan dia (meski, sekilas, prinsipnya itu kayaknya bener-bener enggak penting) dari awal sampai akhir. Lalu aku terkesan pada gimana dia mengkomunikasikan prinsip itu ke orang lain, menunjukkan posisinya di mana, membuat orang lain ngehargain dia sebagaimana halnya dia juga ngehargain orang lain.

Intinya, dia karakter yang lebih dalam dari yang sekilas terlihat.

Bukti Aku Ada di Sini

Bicara soal teknis, seri ini punya nilai-nilai produksi yang solid.

Visualnya menonjolkan permainan warna-warna cerah dan efek-efek pudar dengan animasi cukup solid. Mungkin kau tak cocok dengan gaya desain karakternya. Tapi secara umum, visual seri ini beneran bagus. Pada setiap adegan aksi, perubahan ekspresi para karakter di luar dugaan menjadi hal yang sangat diperhatikan dan hampir selalu menyiratkan banyak hal.

Dari segi audio, Mizutani-san memberikan good job. BGM-nya keren. Kebanyakan seiyuu-nya juga adalah seiyuu yang belum aku kenal. Tapi kesemuanya menurutku memberikan performa brilian. Mereka berhasil membuat setiap karakter terasa hidup seaneh apapun mereka. Mulai dari tawa khas Warabi sampai nada bicara Satori yang psikopatik, itu juga termasuk teman-teman seasrama Nomura seperti Masuko. Itu lengkap pula dengan nuansa terselubung untuk hal-hal yang semula tak tampak di permukaan.

Aku benar-benar kaget karena sampai dibuat ingin tahu perkembangan seri ini. Soalnya, meski mengetengahkan aksi bela diri, manganya termasuk jenis yang punya dialog banyak. Gimana ya? Jenis yang kesan awalnya sama sekali berbeda dari kesan akhirnya.

Cerita di animenya sendiri berakhir tuntas sih. Kesan akhirnya juga cukup kuat. Tapi yea, manganya masih berlanjut. Ada sejumlah tokoh baru menjelang akhir yang juga sempat ditampilkan sebagai teaser.

Aku tak tahu apa aku akan berkesempatan buat tahu lanjutannya atau tidak sih. Meski animenya terbilang baik, aku tidak melihat gelagat akan dibuatnya season dua soalnya.

Akhir kata, kamu mungkin bisa mendapatkan sesuatu dari seri ini. Mungkin kamu awalnya enggak akan ngerti karena terselubung. Mungkin itu sesuatu yang sederhana dan enggak penting. Tapi itu tetap sesuatu yang bisa kamu ambil.

Ah, pastinya lagu penutup dan pembukanya keren. Terutama lagu penutup “DECIDE” yang dinyanyikan para seiyuu Tenka Goken. Itu lagu yang sederhana, tapi pas banget dengan nuansa seri ini. Aku jadi berharap Tenka Goken sebagai grup musik bakal bisa terus berkarya.

(Uh, buat kalian yang masih bingung dengan arti judulnya, ringkasnya itu tentang bagaimana Nomura menyikapi pendekatan paksa menghalalkan segala cara ala Machiavelli dari para gadis yang mencoba mendisiplinkannya. Perlu kuakui, judulnya sangat menarik perhatian.)

Penilaian

Konsep: C; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A

28/06/2017

Saenai Heroine no Sodatekata Flat

Saenai Heroine no Sodate-kata Flat, atau Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend Flat (‘flat’ di judulnya kerap ditulis dalam lambang notasi musik ‘flat note’ atau mol, ♭) adalah musim tayang kedua anime drama komedi romantis Saekano.

(Bahasan season pertama di sini.)

Ceritanya sekali lagi diadaptasi dari seri light novel karangan Maruto Fumiaki (White Album 2) yang diilustrasikan oleh Misaki Kurehito dan diterbitkan Fujimi Shobo. Produksinya dilakukan studio animasi A-1 Pictures. Sutradara anime ini kembali adalah Kamei Kanta (Oreshura). Naskahnya kembali ditangani oleh Maruto-sensei sendiri. Musiknya kembali ditangani Hyakkoku Hajime. Berjumlah total 12 episode (termasuk episode 0 enggak penting yang menjadi prolog, seperti di season sebelumnya), anime ini tayang pertama kali di musim semi tahun 2017.

Sebenarnya, aku lumayan terkejut pas sekuel ini diumumkan. Enggak biasa ada seri ranobe drama romantis—apalagi yang bertema harem—diangkat jadi anime sampai dua kali.

Kalau kupikir, mungkin ini berhubungan dengan bagaimana seri ranobenya sudah mau tamat. Ceritanya akan tuntas dalam 13 buku (ditambah tiga buku Girl’s Side yang berstatus gaiden), dengan buku terakhir dijadwalkan keluar sekitar bulan Juli ini. Lalu season pertama animenya memang cukup sukses untuk menghadirkan sekuel.

Episode-episode awalnya, kayak season sebelumnya, punya konten cerita yang minim. Sifatnya lebih seperti fanservice yang berkesan filler. Tapi kalau kau mengikuti perkembangannya, menurutku pribadi, ini seriusan salah satu anime drama romansa terbagus yang aku tahu.

Kejantanan yang Patut Dipertanyakan

Buat kalian yang lupa, Saekano bercerita tentang obsesi remaja SMA otaku Aki Tomoya dalam membuat game komputernya sendiri. Ini terjadi sesudah Tomoya terinspirasi pertemuan tidak sengaja dengan Katou Megumi, gadis minim ekspresi yang ternyata adalah teman sekelasnya sendiri.

Sesudah mengumpulkan sejumlah teman (perempuan) berbakat (yang sedikit banyak ternyata punya semacam hubungan masa lalu dengannya), Aki membentuk grup doujin (circle) Blessing Software, yang membidik untuk merilis game indie buatan mereka sendiri di ajang Comic Market (Comiket) musim dingin (Fuyucomi) pada tahun tersebut.

Pada penghujung season sebelumnya—yang mengambil rentang waktu antara akhir musim semi ke awal musim gugur—semua anggota yang mereka perlukan telah terkumpul. Lalu meski dikejar waktu, draft pertama cerita telah berhasil mereka coba masukkan ke bentuk game. Season pertama anime ini kurang lebih mencakup seperempat pertama dari cerita di novelnya, yakni dari sekitar buku 1-4.

Saekano Flat melanjutkan cerita dari latar musim gugur ke musim semi tahun berikutnya. Ajang Fuyucomi menjadi klimaks di pertengahan seri. Musim tayang yang ini kira-kira mencakup… cerita buku 5-7 dari novelnya, tapi lebih banyak soal ini akan kusinggung nanti.

Kalau boleh aku sajikan dalam bentuk poin agar tak terlalu spoiler, bahasan utama musim ini meliputi:

  • Awal mula konflik(?) antara Kasumigaoka Utaha (penulis) dan Sawamura Eriri Spencer (ilustrator). Tomoya tak sadar kalau konflik itu dipicu oleh hubungan yang keduanya punyai dengan dirinya. (Aku dengar ini aslinya salah satu cerita di seri novel Saekano: Girl’s Side.)
  • Pernyataan perang dari dua teman lama Tomoya, Hashiba Iori dan adik perempuannya, Hashiba Izumi. Mereka kini bernaung di bawah circle Rouge en Rouge pimpinan tokoh besar di dunia doujin, Kosaka Akane, yang menjadi saingan grup Tomoya. Mereka juga hendak mengembangkan game yang bertema sama dengan game yang Tomoya dan kawan-kawannya akan buat.
  • Bagaimana draft cerita final buatan Utaha-senpai menjadi dilema pribadi menjelang kelulusannya dari sekolah. Di dalamnya, Utaha ternyata telah memasukkan cerminan perasaan terpendamnya terhadap Tomoya.
  • Tentang sisa ilustrasi yang perlu Eriri buat. Eriri kesulitan menyelesaikannya karena ia jadi membebani diri sendiri dengan pengharapan Tomoya terhadapnya.
  • Kelanjutan Blessing Software seusai berakhirnya Fuyucomi, dan apa rencana mereka ke depan…

Sejujurnya, agak susah menilai Saekano secara objektif. Ceritanya dengan sengaja bernuansa meta (dengan beberapa kali seakan mendobrak ‘tembok keempat’). Di samping itu, konflik yang diangkatnya lumayan multidimensi. Ada soal bisnis, soal pekerjaan, soal karya, soal cinta, soal ideologi, soal persahabatan. Lalu secara konsisten, itu pun masih diselipi bumbu-bumbu komedi yang bisa membuatnya terkesan enggak serius. (Oh, ada juga bumbu fanservice yang banyak. Tapi oke, itu enggak penting.)

Untuk aspek-aspek individu, season ini menonjolkan makin matangnya Tomoya dan Megumi sebagai pasangan sutradara sekaligus produser. Mereka membuat perencanaan, mereka berkomunikasi dengan anggota-anggota tim.

Di bawah bimbingan Utaha-senpai dan Eriri, Megumi dikisahkan juga sudah jadi semakin cantik mirip heroine.

Dipaparkan lebih lanjut juga perkembangan hubungan Megumi dan Tomoya dengan orang-orang di sekeliling mereka. Persahabatan Megumi dengan Eriri. Hubungan ketergantungan Utaha terhadap Tomoya. Berbagai kelemahan Tomoya ditampakkan. Ditampakkan juga bagaimana Tomoya berusaha memperbaiki diri.

Sisi lemah musim ini… mungkin salah satunya pada bagaimana Hyoudo Michiru (yang menangani musik) tak banyak disorot. Bahkan Hashiba Izumi-chan yang bukan (belum) menjadi bagian Blessing Software rasanya kebagian porsi cerita lebih banyak.

Jadi, ada banyak hal di dalamnya yang bisa kau sukai, tapi ada banyak hal yang bisa kau enggak sukai juga.

Buatku pribadi sih, mungkin aku suka semua? Yea, aku agak terganggu dengan bagaimana para ceweknya bisa sedemikian frontal terhadap Tomoya sih. Man, cewek itu nakutin. Tapi secara umum, dan secara teknis terutama, seri ini menurutku masih benar-benar bagus. Pantesan aja basis penggemarnya kuat.

Dibanding season sebelumnya, Saekano Flat menyajikan pusaran konflik yang lebih dalem. Bener kata mereka. Dramatis, tapi enggak bener-bener berlebihan. Lalu bumbu-bumbu komedinya itu! Bahkan dalam kondisi demikian, komedinya masih aja berhasil membuatku ketawa.

Berada di Sisimu Paling Lama

Bicara soal teknis, aku sempat bingung di awal; nuansa cerah penuh warna di animasi pembuka season sebelumnya tergantikan nuansa lebih kelabu. Tapi kemudian aku sadar, nuansa warna-warninya sebenarnya masih ada, hanya saja ditampilkan lewat pemakaian sejumlah filter. Dikombinasikan alunan vokal merdu Haruna Luna, yang kembali untuk membawakan lagu pembuka (kali ini berjudul “Stella Breeze”), kesannya lama-lama beneran bagus. Hal tersebut juga seakan mempertegas nuansa serius yang musim ini bawakan. Cara para heroine ditampilkan dalam berbagai pose dan ekspresi benar-benar bagus. Kerennya, ada tiga versi dari animasi pembuka ini. Masing-masing menampilkan perubahan gaya rambut Megumi sesuai perkembangan cerita.

(Aku tetap agak kecewa enggak ada lagu baru dari Sawai Miku sebagai penutup. Tapi ya sudahlah.)

Terlepas dari pembukanya, visualnya secara umum juga masih tajam. Ada banyak latar tempat menarik yang ditampilkan. (Kalau dipikir, benar-benar seperti di galge?) Para karakternya juga ditampilkan benar-benar ekspresif.

Dari segi audio, Hyakkoku-san dari F.M.F. kembali menampilkan good job dengan membawakan aransemen yang menyerupai nuansa BGM dalam game-game galge populer. Secara umum, ini masih tak beda dibandingkan season lalu. Tapi berhubung banyaknya perkembangan karakter yang terjadi kali ini, hal tersebut layak disebut. Para seiyuu juga memberi performa bagus.

(Aku ingin bahas lebih banyak soal para seiyuu, tapi enggak ada kata-kata bagus terpikirkan. Matsuoka Yoshitsugu sebagai Tomoya masih benar-benar berkesan dengan ekspresi-ekspresi maniaknya. Demikian juga Yasuno Kiyono sebagai Megumi dengan berbagai ekspresi tersamarnya.)

Dari segi eksekusi… Kamei-san menurutku semakin handal mengarahkan cerita. Memang, ada banyak adegan yang sifatnya komedi dan cenderung plesetan (ada satu referensi bagus terhadap seri anime Monogatari produksi studio SHAFT). Tapi adegan-adegan di Saekano Flat jenisnya sangat beragam. Latar ceritanya juga makin banyak. (Terutama perhatikan banyaknya referensi terhadap seri-seri anime keluaran Aniplex di kamar Tomoya.) Lalu beliau berhasil memaparkan kesemuanya dengan benar-benar brilian.

Hasilnya secara teknis beneran bagus.

Dari segi presentasi, Saekano Flat bener-bener enak dilihat.

Hanya saja, kalau eksekusi yang berhubungan soal naskah… agaknya, itu sempat menjadi perdebatan. Maruto-sensei sendiri memang yang menangani naskahnya (agaknya, para penggemar pun kerap lupa soal ini). Tapi ceritanya kudengar berkembang lumayan berbeda kalau dibandingkan versi novelnya.

Jadi, kalau memakai versi novel sebagai acuan, cerita Saekano terbagi jadi dua bagian besar. Pertama, bagian cerita sebelum game mereka, Cherry Blessing, dirilis di Fuyucomi. Habis itu, paruh cerita kedua sesudahnya, ketika grup mereka sedikit banyak sudah meraih perhatian.

Kebanyakan fans novel sepakat bahwa di paruh kedua cerita versi novel inilah, cerita Saekano mengalami penurunan kualitas signifikan, walau nanti jadi bagus lagi ke sananya.

Sesudah Fuyucomi, selepas kelulusan Utaha-senpai, ceritanya ada perkembangan gede yang terjadi. Jalan hidup para karakternya jadi bercabang.  Lalu di novel, ini berujung pada konflik berkepanjangan antara Megumi dan Eriri yang jadi banyak disorot. (Ada sejumlah penggemar sempat berpendapat kalau karakterisasi para tokoh sampai diubah terlalu jauh.) Hanya saja, versi anime ini menghindari potensi konflik tersebut. Entah siapa yang mengambil keputusan, tapi Saekano Flat memilih resolusi lebih sederhana. Akhir ceritanya juga lebih terbuka.

Akibatnya, meski menutup cerita secara rapi, bagian akhir anime ini jadinya enggak sebagus bagian tengahnya. Di samping itu, kesan menggantungnya juga masih sedikit ada. Masih bagus sih. Tapi enggak sememuaskan yang mungkin kau harapkan.

Sakura Diaries

Akhir kata, kurasa Saekano Flat lagi-lagi anime harem yang sebenarnya lebih cocok buat kalian yang sudah dewasa. Hanya saja, porsi dramanya yang bagus membuatnya jauh lebih berbobot dari yang pertama terlihat.

Ada anekdot yang kudengar sempat beredar di sekitar tahun 2015. Konon, awalnya, kalau dilihat dari aspek novelnya saja (sebelum animenya dibuat), urutan popularitas para tokoh utama wanita adalah Utaha-senpai > Eriri > Megumi. Tapi sesudah animenya tayang, kedudukan Megumi langsung melejit di kalangan fans, mengubah urutannya menjadi: Megumi > Utaha-senpai > Eriri.

Dengan kata lain, season pertama anime Saekano setidaknya sukses memberi konteks soal Megumi orang seperti apa. Para penggemar jadi lebih paham apa yang Maruto-sensei maksudkan tentangnya gitu.

Soal ‘konteks’ itulah yang diperkuat lagi di musim ini. Meski situasi ‘berbahaya’-nya masih lumayan banyak, situasi-situasi yang bikin terenyuh masih banyak juga. Kau tahu, bagaimana semua tokoh utama perempuannya punya alasan kuat buat mencintai Tomoya? Hal-hal tersebut digali lebih dalem. Walau segalanya berakhir agak menggantung, tetap puas rasanya melihat bagaimana paruh pertama cerita di novelnya akhirnya tersampaikan.

Yea. Dengan kata lain lagi, terlepas dari hasil akhirnya, ini sekuel yang lagi-lagi terbilang sukses. Yea, aku puas. Ada pelajaran sangat berharga soal ‘berkarya’ juga di dalamnya.

Para produsen mungkin memberi tulisan ‘tamat’ di akhir ceritanya. Tapi sebagaimana yang para karakternya sendiri implikasikan (secara meta di episode terakhir), usaha mereka baru dua pertiga jalan. Mereka baru mau mencapai babak-babak akhir dari ‘cerita’ untuk menggapai cita-cita mereka yang sesungguhnya. Jadi meski kemungkinan diproduksinya lebih kecil dibanding dulu, materi untuk season ketiga sebenarnya masih bisa diperjuangkan.

Hei. Aku pribadi juga berharap animenya ada kelanjutannya.

Ceritanya sudah terlanjur beda dari novelnya sih.

(Buat kalian yang penasaran soal siapa yang akhirnya Tomoya pilih, di buku 12, dia menyatakan perasaannya pada Megumi. Pada akhirnya, mungkin memang Megumi yang paling memahami dia sih.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A-

16/06/2017

Anime Baru Musim Panas 2017

Aku banyak baca light novel ketimbang mengikuti anime dan manga belakangan. Selain pengaturan waktunya lebih fleksibel, membaca LN lebih efektif buat menenangkan pikiran.

Lalu tahu-tahu, tanpa terasa musim sudah mau ganti lagi. Seseorang mengingatkan agar aku mengupdate blog. Kayak musim sebelumnya, ada banyak judul baru. Aku sempat agak panik. Ada beberapa yang menonjol, tapi kurasa ini bukan musim yang bisa dibilang nge-hype. Pastinya, sejumlah studio animasi baru atau minor mulai banyak tampil di musim ini.

Seperti biasa, daftar ini enggak terlalu bisa diandalkan.

Nanti aku sesuaikan kalau ada kabar-kabar lagi.

18if (Gonzo)

Tsukishiro Haruto terbangun di dalam dunia mimpi. Di sana, Haruto melihat gadis misterius bernama Lily, yang belakangan diketahui ternyata hanya bisa dilihat olehnya saja. Fenomena dunia mimpi yang melanda itu rupanya sedang didalami Kanzaki Katsumi, seorang peneliti. Mendengar tentang kemampuan Haruto untuk melihat Lily, sehubungan desas-desus adanya sosok penyihir di dunia tersebut, Kanzaki kemudian meminta Haruto untuk membantu penyelidikannya.

Animator veteran Morimoto Koji (Magnetic Rose, Ai Monogatari) akan mengawasi seri ini dan setiap episodenya akan ditangani oleh sutradara berbeda. Nuansa dan pendekatan per episodenya diyakini bakal beragam. Naskahnya akan ditangani oleh Tomioka Atsuhiro (Zombie-Loan, Ace Attorney) dengan musik dikomposisi Abe Ryuudai. Anime ini bagian dari waralaba multimedia yang dikembangkan GameSamba. Untuk Android, ini adalah game puzzle berjudul 18: Dream World. Meski kesanku terhadap keluaran Gonzo cenderung campur aduk (kadang mereka terlalu eksperimental), seri ini membuatku tertarik. Mungkin karena temanya tentang dunia mimpi.

Koi to Uso (LIDEN FILMS)

Di masa depan, pasangan pernikahan di Jepang ditentukan oleh pemerintah begitu seseorang menginjak usia 16 tahun. Dengan demikian, setiap orang tak perlu lagi bersusah payah mencari jodoh. Semua orang yakin pemerintah bisa mencarikan jodoh yang tepat bagi mereka. Nejima Yukari adalah remaja usia 15 tahun yang biasa-biasa saja. Tapi di dunia di mana kebohongan terlarang dan cinta lebih terlarang lagi, Nejima menyimpan kobaran cinta yang membara di dadanya.

Juga berjudul Love and Lies, ini diangkat dari seri manga drama romansa karangan Musawo Tsumugi. Takuno Seiki (Poco’s Udon World, Sekkou Boys) akan menyutradarai, dengan naskah dikomposisi oleh staf veteran Takahashi Natsuko. Seperti yang bisa ditebak, fokus utama cerita ada pada cinta segitiga antara Nejima dengan gadis yang disukainya dan gadis yang dijodohkan padanya. Ada banyak hal tentang ceritanya yang bikin enggak nyaman. Visualnya juga mungkin kurang berkesan. Tapi banyak juga yang sepakat kalau ceritanya menarik karena perkembangannya kerap… enggak biasa.  Ada lumayan banyak orang merekomendasikan seri ini, walau ini bukan termasuk seri yang menonjol. Belum lama ini, seri ini juga diangkat jadi film live action layar lebar, dengan premis serupa tapi karakter-karakter utama berbeda. (Cinta segitiga di film antara dua cowok dan satu cewek.)

Keppeki Danshi! Aoyama-kun (STUDIO HIBARI)

Aoyama adalah siswa kelas satu yang merupakan striker andalan dari tim sepakbola SMA Fujimi. Dengan kehandalannya, dia bahkan telah mewakili tim U-16 Jepang sebagai pemain tengah. Namun untuk suatu alasan, Aoyama sangat terobsesi dengan kebersihan. Maka dari itu, dia selalu menolak menyerodot atau menyundul bola.

Juga dikenal dengan judul Cleanliness Boy! Aoyama-kun, ini seri komedi(?) yang didasarkan pada seri manga seinen karangan Sakamoto Taku. Ichikawa Kazuya (Monster Strike the Animation, Tantei Team KZ Jiken Note) akan menyutradarai. Naskah akan ditangani Gotou Midori (The Empire of Corpses). Kesan awalnya agak membingungkan, tapi desain karakternya yang dibuat Matsuura Arisa menurutku benar-benar menarik. Kualitasnya sejauh ini kelihatannya bakal solid.

Isekai wa Smartphone to Tomo ni (Production Reed)

Mochizuki Touya, remaja berusia 15 tahun, terbangun sesudah kecelakaan aneh yang melibatkan halilintar. Berhadapan muka langsung dengan Dewa, Dewa meminta maaf karena tak sengaja menewaskan Touya. Tapi Dewa lalu menawari untuk menghidupkan Touya kembali di suatu dunia fantasi, berhubung Touya tak lagi bisa dihidupkan di dunia asalnya. Untuk membantu, Touya diperbolehkan membawa serta smartphone-nya, yang berbagai aplikasi dan fiturnya telah ditingkatkan Dewa dengan kemampuan-kemampuan istimewa.

Diangkat dari seri novel karangan Fuyuhara Patora dan diilustrasi Usatsuka Eiji, ini jenis seri isekai sangat ringan yang lumayan populer di Jepang. Yanase Takayuki (Himegoto, Onsen Yousei Hakone-chan) akan menyutradarainya dengan Takahashi Natsuko (Ore Monogatari!!) menangani naskah. Ceritanya lumayan konyol dengan tawa, air mata, dan lumayan banyak karakter perempuan. Kayaknya ini jenis seri yang bakal tetap diperhatikan sekalipun kualitasnya biasa-biasa saja. Sejauh ini, gelagatnya tak jelek meski juga tak menonjol. Kurasa ini proyek anime seri TV standar pertama yang studionya prakarsai.

Action Heroine Cheer Fruits (diomedea)

Hinano adalah wilayah damai yang mengembangkan pertanian buah-buahan. Tapi pada tahun-tahun belakangan, kota tersebut seakan kehilangan vitalitasnya. Siswi SMA Shirogane Misaki, atas desakan bibinya yang menjabat sebagai gubernur perfektur, kemudian mengumpulkan sejumlah gadis lain. Bersama-sama, mereka membentuk kembali unit idola heroine lokal yang bertahun-tahun silam pernah tenar, demi membangun kota mereka kembali.

Ini seri idol baru yang bernuansa pahlawan pejuang kebenaran. Visual dan konsep karakternya sama-sama kuat. Kusakawa Keizou (Kancolle) yang akan menyutradarainya. Arakawa Naruhisa (Kingdom, Twin Star Exorcists) akan menangani naskahnya. Berhubung ini anime orisinil (dan juga karena kecendrungan aneh dari studionya) kualitas ceritanya sendiri menurutku masih jadi tanda tanya besar. Terlepas dari itu, kombinasi pendekatan ‘pahlawan’ sekaligus pertanian buah sangat potensial. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Fate/Apocrypha (A-1 Pictures)

Pada penghujung Perang Dunia II, keluarga penyihir Yggdmillenia mengkhianati Mages’ Association dan mencuri infrastruktur ritual Cawan Suci dari kota Fuyuki. Berpuluh tahun sesudah itu, ritual Perang Cawan Suci akan kembali dilakukan, tapi para perwakilan Mages’ Association takkan membiarkan pihak Yggdmillenia begitu saja. Memanfaatkan sisa kekuatan alam di Fuyuki, tujuh pasangan Master-Servant tambahan kemudian disiapkan. Perang Cawan Suci Agung antara 14 pasangan Master-Servant tersebut akhirnya akan pecah di Trifas, Eropa Tengah. Namun, karena ini kejadian yang belum pernah terjadi dalam sejarah, banyak insiden tak terduga kemudian terjadi.

Diangkat dari seri novel berjudul sama karangan Higashide Yuichiro yang diilustrasikan Konoe Ototsugu, mengadaptasi konsep populer yang dicetuskan oleh Type-Moon, ini salah satu anime baru paling ditunggu di tahun ini. Staf veteran Asai Yoshiyuki akan menyutradarainya. Naskahnya akan ditangani Higashide-sensei sendiri. Musiknya ditangani Yokoyama Masaru yang benar-benar sudah naik daun. Meski ini mungkin bukan judul pas untuk masuknya penggemar baru ke waralaba Fate, seri ini punya kesan kuat sejauh ini. Terutama karena jumlah karakternya banyak, mudah-mudahan jumlah episodenya cukup untuk menghasilkan penceritaan bagus.

Nana Maru San Batsu (TMS Entertainment)

Koshiyama Shiki, seorang siswa baru yang kutu buku, tak suka menjadi pusat perhatian. Tapi dia diminta jadi peserta Kompetisi Kuis Siswa Baru di SMA Bunzo. Sudah begitu, dia selalu kalah cepat menjawab dari Fukami Mari, teman sekelasnya. Tapi lambat laun, sesudah mengamati Mari, Shiki mulai menyadari ada cara-cara tertentu yang bisa digunakannya untuk menebak jawaban. Wawasan Shiki berkembang saat ia bertemu para anggota Klub Kuis, dan menjumpai Mikuriya Chisato yang menjadi rivalnya.

Juga dikenal dengan judul 7O3X Fastest Finger First, ini diangkat dari seri manga bertema kuis karangan Sugimoto Iqura. Ini seri tak biasa yang sekilas terkesan tak menonjol. Tapi ini punya potensi untuk berkembang jadi menarik kalau kau perhatikan. Oozora Masaki (12-Sai: Chiccha na Mune no Tokimeki) akan menyutradarainya. Kakihara Yuuko (Orange) akan menangani naskah. Musiknya secara mencolok akan ditangani Hyakkoku Hajime (Saekano, K-ON!).

Ballroom e Youkoso (Production I.G.)

Fujita Tatara adalah remaja biasa yang merasa tak punya keistimewaan. Ia kerap diperas berandalan karena tak punya nyali. Hingga suatu hari, ia ditolong seorang pria tampan bernama Sengoku Kaname. Kaname ternyata adalah penari ballroom professional yang sedang mencari murid untuk les. Terpikat pada dunia dansa ballroom, kehidupan Tatara takkan sama lagi.

Juga dikenal dengan judul Welcome to the Ballroom, ini seri olahraga yang mengetengahkan kompetisi dansa profesional. Diangkat dari manga karya Takeuchi Tomo, gaya visualnya yang hiper-realistik mungkin perlu dibiasakan. Tapi sejauh yang aku tahu, ini seri intens dan berdarah panas. Persaingan antar karakternya benar-benar keras. Itazu Yoshimi akan menyutradarai berdasarkan naskah buatan Suemitsu Kenichi. Aku berharap hasilnya bagus.

Battle Girl High School (SILVER LINK.)

Di tahun 2045, dunia telah terkontaminasi penyerang misterius bernama Irousu. Manusia kini terkungkung dan terkurung. Tapi menghadapi makhluk-makhluk ini dengan berani adalah Hoshitsuki Miki dan kawan-kawannya, gadis-gadis remaja biasa di Akademi Putri Shinjugammine, di mana para Hoshimori dilatih untuk menghadapi takdir mereka dalam mengalahkan Irousu.

Anime ini diangkat dari game ponsel yang dikembangkan COLOPL. Akitaya Noriaki (Bakuman, Joukamachi Dandelion) akan menyutradarai. Naskah akan ditangani Kuroda Yousuke (Gundam Build Fighters). Aku masih kurang tahu tentang seri ini. Biasanya, adaptasi dari game seperti ini kurang meyakinkan. Tapi staf produksi di balik yang satu ini terbilang kuat. Mungkin seri ini akan menjadi kejutan? Ada elemen idol di dalamnya yang juga kuat.

Chronos Ruler (project No.9)

Saat manusia menyesal, mereka kerap berharap bisa memutar balik waktu. Namun ketika manusia berharap bisa memutar balik waktu, makhluk-makhluk pemakan waktu akan hadir. Saat makhluk-makhluk pemakan waktu hadir, Victor Alexandervich Putin dan para Chronos Ruler lain juga akan muncul untuk membasmi mereka dengan kemampuan memanipulasi waktu.

Dikenal juga dengan judul Jikan no Shihaisha, ini diangkat dari manga karya ilustrator Taiwan, PONJEA. Matsune Masato (Chaos Dragon) yang akan menyutradarainya. Tapi beliau juga didukung Yokote Michiko (Shirobako, Handa-kun) dan Yoshino Hiroyuki (Seikon no Qwase). Keluaran-keluaran project No. 9 punya kualitas produksi yang tinggi belakangan, dan judul ini pun sama. Adegan-adegan aksinya meyakinkan. Terlepas dari ceritanya nanti, seri ini bisa menonjol berkat adegan-adegan aksinya saja.

Centaur no Nayami (Emon)

Kimihara Himeno adalah seorang gadis centaur remaja dengan kepribadian pemalu dan lembut. Dia berteman dekat dengan Gokuraku Nozomi, gadis naga yang tangguh, dan Naraku Kyouko, gadis bertanduk yang cool. Bertiga, mereka menjalani kehidupan sekolah bersama teman-teman mereka sesama makhluk supernatural dan menghadapi berbagai persoalan remaja.

Juga dikenal dengan judul A Centaur’s Life atau Centaur’s Worries, ini diangkat dari seri manga karya Murayama Kei. Oizaki Fumitoshi (Aokana, Etotama) akan menjadi sutradara umum dengan Konno Naoyuki (togainu no chi – Bloody Curs) yang menyutradarainya secara langsung. Komposisi seri akan ditangani Machida Touko. (Kurasa beliau sibuk musim ini.) Aku merasa aneh dengan keluarnya seri ini sekarang. Tapi secara teknis, seri ini kelihatannya tak ada masalah.

DIVE!! (Zero-G)

Mizuki Diving Club terancam tutup karena masalah finansial. Tapi pelatih mereka, perempuan bernama Asaki Kayoko, berhasil bernegosiasi dengan perusahaan induk pemilik MDC untuk mempertahankan klub lompat indah itu, asalkan tahun depan salah satu anggotanya bergabung dengan tim Olimpiade Jepang. Saat itulah, takdir Sakai Tomoki dan teman-temannya berubah.

Anime ini diangkat dari seri novel remaja karya Mori Eto yang sudah ada lumayan lama, dan sudah diangkat ke bentuk film live action serta manga. Visualnya memang menonjolkan pria-pria muda dengan bentuk fisik berkualitas; tapi ceritanya sendiri kudengar lumayan berbobot. Suzuki Kaoru (Pupipou!) yang akan menyutradarai, dengan naskah yang ditangani Machida Touko (Lucky Star, Endride). Musiknya akan ditangani Hayashi Yuuki (Kiznaiver, Boku no Hero Academia). Gelagatnya sejauh ini terbilang bagus. Seri ini akan tayang di blok Noitamina musim ini.

Made in Abyss (Kinema Citrus)

Jaringan jurang dan gua yang dikenal sebagai Abyss adalah satu-satunya tempat yang belum terjelajahi di dunia. Berbagai makhluk ganjil dan ajaib bisa ditemukan di sana, bersama berbagai peninggalan berharga yang tidak lagi bisa diciptakan di masa sekarang. Cave Raider adalah sebutan bagi para penjelajah Abyss. Seorang anak perempuan yatim piatu bernama Rico tinggal di kota di tepi Abyss. Dirinya bercita-cita untuk bisa menjadi Cave Raider seperti mendiang ibunya. Suatu hari, dalam penjelajahannya, ia menemukan robot yang berbentuk menyerupai anak laki-laki.

Disutradarai Kojima Masayuki (Black Bullet) dengan naskah yang dibuat Kurata Hideyuki (Samurai Flamenco, TWGOK), ini diangkat dari manga karya Tsukushi Akihito. Gaya desain karakternya imut, tapi penggambaran dunia latarnya cukup megah. Ceritanya mungkin akan berkembang ke arah yang aneh. Tapi menurutku, ini bakal jadi seri petualangan yang solid. Musiknya akan ditangani oleh Kevin Penkin (Norn9, Under the Dog). Meski tak menonjol, ada kalangan penggemar tertentu yang cukup menunggu seri ini dengan antusias.

Clione no Akari (drop)

Minori adalah gadis yatim piatu yang kerap ditindas di sekolah. Suatu hari, ia terkena sakit parah. Sesudah suatu hari berhujan, Minori tidak lagi masuk sekolah karena konon dirawat di rumah sakit di kota yang jauh. Dua bulan sesudah itu, dua teman sekolah Minori yang benar-benar peduli padanya, Takashi dan Kyouko, menerima email misterius dari pengirim tak diketahui. Email itu memberitakan tentang suatu festival musim panas di kota tetangga…

Seri ini diangkat dari novel web berilustrasi karangan Natural-Rain. Ishikawa Naoya dari Ishikawa Pro (Kuttsukiboshi, Magical Chocolate) akan menyutradarai seri ini, dengan naskah yang juga ditangani bersama oleh MOLICE, Tsukasa, Onaka Takeshi, dan Natural-Rain sendiri. Aku masih belum tahu banyak, tapi kelihatannya seri ini akan lebih menonjolkan kualitas penceritaan dibandingkan aspek presentasi. Secara konten, mungkin seri ini juga akan menjadi kejutan.

Hajimete no Gal (NAZ)

Hashiba Junichi adalah siswa SMA yang tidak keren tapi ingin bisa menjalin hubungan dengan perempuan. Didorong teman-temannya, Jun berlutut dan menyatakan cinta pada Yame Yukana, teman sekelasnya yang seorang gyaru. Di luar dugaan, pernyataan cintanya diterima. Jun lalu mendapati dirinya di wilayah asing karena pembawaan Yame yang cantik dan modis.

Fukukawa Hiroyuki (Okusama wa Seitokaicho, Sin Strange Plus) akan menyutradarai dengan naskah yang ditangani Momose Yuiichirou. Seri ini diangkat dari manga komedi romantis karya Ueno Meguru. Musiknya ditangani Yashikin dari MAGES. Secara pribadi, aku tak merasa ceritanya berkesan. Tapi di sisi lain, karena ini diproduksi oleh studio dan staf relatif minor, aku juga berharap hasilnya tak jelek. Terlepas dari itu, meski caranya enggak biasa, nuansanya akan agak dewasa. Kurasa ini anime fanservice paling menonjol di musim ini.

Knight’s & Magic (8-Bit)

Seorang programmer berbakat tewas sepulang kerja dan mendapati diri terlahir di dunia fantasi. Dirinya kini adalah Ernesti Echevarria, seorang anak lelaki berwajah cantik. Mengandalkan pengetahuan otakunya tentang mecha dari dunia sebelumnya, ia bercita-cita membangun Silhouette Knight-nya sendiri, jenis mecha yang ternyata benar-benar ada di dunia ini. Bersama dua sahabat masa kecilnya, Adi dan Kidd, mereka bergabung ke akademi di mana para ksatria dididik.

Diangkat dari seri novel karya Amazake-no Hisago, ini seri yang lebih diperuntukkan bagi para otaku robot raksasa. Meski ini termasuk seri isekai, ada banyak bahasan teknis di dalamnya, jadi ceritanya mungkin agak susah dimasuki. Tapi nuansa dunianya keren dan mecha-mechanya menarik. Sutradara veteran Yamamoto Yusuke (NHK ni Youkoso!, Walkure Romanze) akan menanganinya. Naskahnya ditangani oleh Yokote Michiko. Musiknya dibuat oleh Kouda Masato (Konosuba, Junketsu no Maria). Kesan awalnya lebih kuat dari dugaan. Terlepas dari hasilnya, kurasa ini seri yang akan aku perhatikan.

Kakegurui – Compulsive Gambler (MAPPA)

Akademi Swasta Hyakkaou adalah sekolah untuk orang-orang kaya raya dengan kurikulum yang tak biasa. Sebagai tempat mendidik calon orang-orang berkuasa, sekolah ini meyakini bukan kemampuan atletis atau kepintaran yang membuatmu unggul, melainkan kemampuan membaca lawan serta kemampuan membuat kesepakatan. Keterampilan ini diasah tak lain di meja judi. Namun, saat siswi baru bernama Jabami Yumeko hadir, para siswa Hyakkaou mendapat pelajaran tentang seperti apa judi sesungguhnya.

Disutradarai Hayashi Yuichiro (PES: Peace Eco Smile, Garo the Animation) dan dipenai Kobayashi Yasuko (Shakugan no Shana, Attack on Titan), ini seri bertema judi dengan nuansa agak berbahaya. Ceritanya diangkat dari seri manga karya Kawamoto Homura dan Naomura Tooru. Kurasa, ini seri yang lebih cocok buat dewasa, tapi bukan sekedar karena mengangkat judi sebagai tema… Pastinya, nuansanya jauh berbeda dari manga judi Kaiji yang tenar itu. Berhubung MAPPA yang produksi, kualitas teknisnya diyakini bakal bagus.

Mahoujin Guru Guru (Production I.G.)

Di dunia yang dilanda demam pahlawan sesudah keluarnya pengumuman untuk mengumpulkan pahlawan demi menghadapi Raja Iblis, seorang bocah bernama Nike separuh dipaksa kedua orangtuanya untuk ikut berangkat dan menjadi pahlawan. Sesuai tradisi, sebelum berangkat, Nike berkunjung ke rumah penyihir tua di tepi hutan di kampungnya. Di sana, dia berjumpa dengan anak perempuan bernama Kukuri, keturunan terakhir dari suku Migumigu yang bisa menggunakan lingkaran sihir. Dari sana, perjalanan mereka berdua dimulai.

Dikenal juga dengan judul Magical Circle, ini produksi ulang dari seri manga komedi karangan Eto Hiroyuki yang populer di dekade 1990an. Mengklarifikasi, seri ini adalah pembuatan ulang dan bukan sekuel dari seri sebelumnya. Ceritanya dikenal karena banyak memparodikan elemen-elemen RPG di zaman itu. Ikehata Hiroshi (Akiba’s Trip: The Animation) akan berperan sebagai sutradara seri. Okui Hisaaki (Hacka Doll the Animation) yang akan menangani naskah. Musiknya sendiri akan ditangani TECHNOBOYS PULCRAFT GREEN-FUND. Dengan gaya gambarnya yang manis dan ceritanya yang sederhana, aku benar-benar berharap hasilnya bagus.

Netsuzou Trap – NTR- (Creators in Pack)

Yuma dan Hotaru adalah sepasang gadis yang telah bersahabat sejak anak-anak. Ketika Yuma mendapat pacar untuk pertama kali, ia mengundang Hotaru dan pacar Hotaru untuk kencan ganda demi menghadapi rasa gugupnya. Hotaru lalu menawarkan diri pada Yuma sebagai “teman latihan.” Pada saat itu, mereka menyadari kalau mereka lebih tertarik dengan satu sama lain dibandingkan pacar masing-masing.

Hirasawa Hisayoshi (OZMAFIA!!, Miss Bernard said.) akan menyutradarai. Uchibori Yuuichi bersama WORDS in STEREO akan menangani naskah. Ini seri yuri yang didasarkan manga karya Kodama Naoko. Visualnya termasuk menarik, dan secara teknis kelihatannya akan solid. Kalau tak salah, ini seri pertama keluaran Creators in Pack yang berdurasi standar? Maaf, selebihnya aku kurang tahu. Berhubung kudengar ini jenis yuri yang lebih ditujukan buat cowok, mungkin ada hal-hal tak nyaman tentangnya. Sudah diklarifikasi per episodenya berjumlah 10 menit.

Isekai Shokudou (SILVER LINK)

Restoran Youshoku no Nekoya, yang berada di lantai bawah tanah suatu bangunan tertentu di sudut distrik perbelanjaan dekat perkantoran, biasanya melayani pegawai kantoran sebagai pelanggan. Tapi setiap hari Sabtu, Nekoya buka hanya untuk pelanggan-pelanggan khusus. Bagi para pekerja kantoran, masakan yang Nekoya sediakan tidak asing. Tapi bagi para pelanggan khusus—yang berasal dari dunia lain—kesemuanya adalah hidangan yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya.

Juga dikenal dengan judul Restaurant to Another World, ini seri bertema masakan yang cocok dilihat pada saat sedang ingin lapar. Ceritanya setahuku berkembang dengan datangnya pelanggan-pelanggan tetap. Tapi maaf, selebihnya aku juga belum tahu banyak. Penyutradaraannya akan ditangani Jinbo Masato (Chaos;Child, Prisma Illya) yang sekalian juga akan menangani naskah. Penggambaran interior ruangannya lumayan berkesan.

The Reflection (Studio DEEN)

Suatu insiden yang kini dikenang sebagai The Reflection Event memenuhi dunia dengan asap hitam dan menutup sinar mentari. Banyak orang kehilangan nyawa. Tapi mereka yang bertahan hidup memperoleh kekuatan-kekuatan super. Sebagian di antara mereka menjadi pahlawan, sementara sebagian lagi menjadi penjahat. Xon adalah pahlawan misterius dengan identitas tak dketahui yang selalu muncul secara tiba-tiba. Eleanor Everts, perempuan dengan kemampuan teleportasi jarak pendek dan keahlian mengumpulkan informasi, memliki ketertarikan kuat terhadap Xon. Karenanya, ia berusaha mengumpulkan sebanyak informasi yang bisa diperoleh tentangnya.

Seri ini adalah karya kolaborasi antara Stan Lee (ya, yang pembuat komik Marvel itu), perusahaan Pow! Entertainment, Studio DEEN, serta Nagahama Hiroshi (Mushi-Shi, Aku no Hana) yang akan berperan sebagai sutradara. Sohtome Koichiro akan membantu sebagai sutradara seri. Naskah akan ditangani oleh Suzuki Yasuyuki (Naruto, Yu-Gi-Oh! Zexal). Musisi Inggris Trevor Horn yang akan menangani musik. Aku cukup skeptis di awal. Tapi kemudian kusadari ada beberapa hal tentang premisnya yang benar-benar menarik. Ini akan tayang di saluran NHK.

Shoukoku no Altair (MAPPA)

Dua negara Turkiye Devleti dan Kekaisaran Balt-Rhein telah lama saling bertentangan. Sampai suatu ketika, seorang menteri kekaisaran terbunuh, dan dua negara tersebut akhirnya terancam akan terjerumus ke dalam perang besar. Ketika para jendral Turkiye menuntut perang, seorang pasha muda bernama Mahmut menyadari persekongkolan di balik pembunuhan tersebut.

Dikenal juga dengan judul Altair: A Record of Battles, ini diangkat dari manga berjudul sama bertema militer, politik, dan kenegaraan karangan Katou Kotono. Staf veteran Furuhashi Kazuhiro (Gundam Unicorn, GetBackers) akan menyutradarai seri ini. Komposisi seri akan ditangani oleh Takagi Noboru (Baccano!, Durarara!!). Ini seri yang mungkin awalnya susah dimasuki karena latar Turki-nya yang asing. Tapi begitu kau paham seluk-beluknya, ini seri yang beneran rame. Aku harap seri ini akan jadi kejutan.

Vatican Kiseki Chousakan (J.C. Staff)

Roberto Nicholas dan Josef Kou Hiraga adalah pasangan ahli arsip dan ilmuwan yang bekerja sebagai penyelidik mukjizat untuk Vatikan. Bersama, keduanya berkeliling dunia untuk menyelidiki keaslian dari berbagai klaim mukjizat. Pekerjaan mereka mempertemukan mereka dengan berbagai orang di berbagai pelosok, dan menghadapkan pada peristiwa-peristiwa ganjil yang menguji iman.

Juga dikenal dengan judul Vatican Miracle Examiner, ini seri misteri horor bermotif keagamaan yang diangkat dari seri novel karya Fujiki Rin. Yonetani Yoshitomo (Shokugeki no Souma, Yuusha Ou Gaogaigar) akan menyutradarai. Minakami Seishi (Kamisama Memochou, Toaru Kagaku no Railgun) akan menangani naskah. Aku masih kurang tahu banyak tentang seri ini. Tapi mengenal studionya, kualitasnya bisa diharapkan solid.

Youkai Apato no Yuuga no Nichijou (Shin-Ei Animation)

Inaba Yuushi, remaja 16 tahun yang kehilangan orangtuanya tiga tahun sebelumnya, berkeinginan hidup mandiri. Namun asrama sekolah yang hendak ia tinggali malah hancur dalam kebakaran. Akhirnya, Yuushi menemukan apartemen murah dengan harga sewa 25.000 yen. Sayangnya, Yuushi terlambat mengetahui bahwa apartemennya dihantui makhluk-makhluk supernatural.

Diangkat dari seri light novel karya Kouzuki Hinowa, ini seri yang sudah cukup lama tamat, tapi belum lama ini dicetak ulang. Dengan demkian, adaptasi animenya mungkin bisa diharapkan punya cerita tuntas. Hashimoto Mitsuo yang akan menyutradarai dengan Yamada Yasunori menangani komposisi seri. Secara teknis, seri ini mungkin tak menonjol. Tapi ada banyak karakter cowok menarik di dalamnya yang menjadi daya tarik lebih.

Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e (Lerche)

SMA Koudo Ikusei adalah sekolah ternama dengan berbagai fasilitas canggih. Hampir 100% siswanya melanjutkan ke universitas atau diterima di tempat kerja. Mereka bebas memakai aksesoris atau memakai gaya rambut apapun. Tapi nyatanya, hanya para siswa teratas saja yang mendapat perlakuan baik. Ayanokouji Kiyotaka masuk ke kelas D, yang disebut-sebut adalah kelas buangan. Di sana, ia bertemu sepasang gadis Horikita Suzune dan Kushida Kikyou, yang kemudian mengubah situasi Kiyotaka.

Dikenal juga sebagai Welcome to the Classroom of Superior Ability Doctrine atau Yo Jitsu atau Classroom of the Elite, seri ini diangkat dari seri light novel karangan Kinugasa Syohgo dan ilustrasi buatan Tomose Shunsaku. Kishi Seiji (Ansatsu Kyoushitsu)  akan menyutradarai dengan naskah ditangani Akashiro Aoi (Fuuka). Singkat cerita, premisnya mirip BakaTest, yakni soal persaingan akademis antar kelas, hanya saja bernuansa lebih serius dan tanpa makhluk-makhluk panggilan ajaib. Aku masih belum tahu banyak tentangnya, tapi visual dan desain karakternya menarik.

Satu lagi anime yang ditunggu adalah Katsugeki: Touken Ranbu produksi ufotable. Belum ada info soal ceritanya, tapi kualitas presentasinya benar-benar menjanjikan. Touken Ranbu umumnya digemari wanita, tapi adegan-adegan aksi di anime ini bisa juga menarik pemirsa pria. Meski sama-sama didasarkan permainan online keluaran DMM (tentang pedang-pedang bersejarah Jepang yang dipersonifikasi dalam bentuk pria tampan), anime ini tak berhubungan dengan seri Touken Ranbu: Hanamaru yang keluar belum lama ini. (Hanamaru kudengar akan memperoleh sekuelnya sendiri tahun depan.)

Dogakobo akan memproduksi anime keseharian Hina Logi: From Luck & Logic. Seri ini merupakan lepasan dari proyek multimedia Luck & Logic kembangan Bushiroad. Anime Luck & Logic sebelumnya kurang menonjol. Tapi kualitas lepasannya ini kelihatan benar-benar solid.

Anime band Tenshi no 3P! atau Here Comes the Three Angels dari project no. 9 juga akhirnya tayang. Remaja SMA pembolos bernama Mekui Kyou sebenarnya adalah pencipta lagu-lagu Vocaloid. Suatu hari, tiga gadis SD kelas lima mendatanginya untuk membantu mereka sukses dengan band. Apa? Kau bilang ini kayaknya mirip Ro-Kyu-Bu? Itu pasti cuma perasaanmu!

Akan ada seri yaoi Hitorijime My Hero yang diproduksi Encourage Films. Ceritanya tentang seorang remaja berandalan yang merasakan suatu hubungan dengan guru SMA-nya. …Aku tak yakin apa aku akan memperhatikan ini. Tapi gelagatnya sejauh ini cukup solid.

Gamers!, yang diangkat dari seri novel komedi romantis(?)karangan Aoi Sekina (pengarang Seitokai no Ichizon), juga akan hadir. Okamoto Manabu memulai debutnya sebagai sutradara di sini. Produksinya dilakukan PINE JAM. Naskahnya buatku mencolok karena ditangani Uchida Hiroki, yang mempenai Schwarzesmarken. Ceritanya seputar kehidupan remaja penyendiri Amano Keita, dan remaja-remaja lain seusianya, selaku penggemar game, baik yang mengakuinya atau tidak.

Seri baru Princess Principal juga nanti ada. Produksinya melalui kerjasama Studio 3Hz dan ACTAS. Ini seri orisinal bertema aksi spionase yang berlatar di London pada abad ke-19 alternatif. Di dunia ini, London dikisahkan adalah kota di Kerajaan Albion yang terbagi dua karena adanya sebuah tembok besar. Ceritanya berfokus pada lima gadis yang bersekolah di sekolah ternama Queen’s Mayfair, yang memiliki identitas ganda sebagai mata-mata. Desain para karakternya menarik. Berhubung Okouchi Ichiro (Code Geass, Guilty Crown, Kotetsujou no Kabaneri) yang menangani naskahnya, seri ini setidaknya mungkin akan seru. Musiknya akan ditangani Kajiura Yuki (Fate/Zero). Sutradaranya adalah Tachibana Masaki (Barakamon).

Diomedea juga akan memproduksi Ahogaru: Clueless Girl yang diangkat dari seri manga komedi karya Hiroyuki (Doujin Work, Mangaka-san to Assitant-san to). Ceritanya tentang seorang gadis remaja bernama Yoshiko yang… kurang cerdas, dan soal bagaimana Takkun, teman cowoknya sejak kecil, jadi kerepotan harus mengurusinya.

Untuk para penggemar teka-teki, Kaito x Ansa dari pencipta Nazotokine juga akan diproduksi. Studio animasi Tengu Kobou yang akan memproduksinya. Agak berbeda dari sebelumnya, yang akan ditonjolkan adalah karakter-karakter lelaki tampan dalam sosok Aen Kaito dan Anshin Ansa.

Seri drama romansa berlatar convenience store Konbini Kareshi juga akan diproduksi Studio Pierrot. Meski menonjolkan karakter-karakter cowok, kesannya lumayan mengingatkan akan Niji-iro Days dengan banyaknya karakter cewek yang hubungannya terjalin. Mungkin ini seri baru yang akan aku perhatikan.

Untuk kalian yang sulit menyatakan cinta, manga romansa 4-kotak karya Wakabayashi Toshiya, Tsuredure Children, juga keluar adaptasi animenya. Studio Gokumi yang memproduksi. Ada banyak tokoh dan ceritanya beragam. Meski kurang menonjol, ini termasuk menarik. Kaneko Hiraku yang akan menyutradarai.

Selebihnya, seri-seri anime lama yang akan lanjut meliputi:

  • Senki Zessho Symphogear AXZ (Season 4), kelanjutan dari seri aksi mecha musume dengan kombinasi elemen musik yang masih juga populer. Dalam tahun-tahun terakhir, jumlah penggemar waralaba ini secara konsisten bertambah.
  • Saiyuki Reload Blast (Season 4), sekuel mengejutkan dari Gensoumaden Saiyuki tentang perjalanan Genjo Sanzou dan kawan-kawannya ke barat. Produksinya kali ini akan dilakukan Platinum Vision. Para seiyuu veteran yang berperan dalam musim-musim sebelumnya kudengar juga akan kembali. Musim kali ini kayaknya akan berhubungan dengan inkarnasi masa lampau Sanzo dan kawan-kawannya.
  • Owarimonogatari (Season 2), paruh kedua yang sudah ditunggu dari musim penutup seri Monogatari karya Nisio Isin, yang melanjutkan teka-teki seputar hubungan antara Araragi Koyomi dan Oshino Ougi. Masih oleh studio SHAFT. Update: kudengar ini akan berformat beberapa episode TV spesial.
  • NEW GAME!! (Season 2), kelanjutan suka duka produksi game di perusahaan Eagle Jump yang seluruh karyawannya perempuan. Doga Kobo masih memproduksi. Musim pertamanya lebih sukses dari dugaan.
  • Jigoku Shoujo Yoinotogi (Season 4), seri horor tentang gadis misterius yang menangani situs web untuk layanan jasa balas dendam, juga akan hadir. Ini kembali diproduksi Studio DEEN. Ini termasuk judul baru yang kabarnya dinanti.

Untuk seri-seri anime pendek, seri tenis gadungan Teekyu (Season 9) juga akan ada. Seri horor pendek Yami Shibai juga kudengar akan lanjut, kuharap musim kali ini bisa menunjukkan peningkatan kualitas. Nora to Oujo to Noraneko Heart juga kudengar akan tayang, yang mengisahkan hubungan seseorang dengan kucing liar (walau kudengar ada ratu nerakanya juga?) diangkat dari game dewasa produski Harukaze. Intinya tentang seseorang bernama Nora yang berjumpa putri kegelapan bernama Patricia, yang karena suatu alasan, akhirnya diubah jadi seekor kucing hitam.

…Kalau tak salah, Mobile Suit Gundam: Twilight Axis juga akan mulai tayang secara bulanan menggantikan Gundam Thunderbolt. Ceritanya berlatar sesudah Gundam Unicorn dan akan menghubungkan ke zaman Gundam F91. Tapi jujur saja, formatnya yang tiga episode per menit benar-benar membingungkan.

Bagi kalian yang mencari anime romansa dewasa yang sejenis dengan anime biksu musim lalu, musim ini ada Skirt no Naka wa Kedamono Deshita. Produksinya dilakukan Magic Bus. Ceritanya tentang seorang gadis mungil yang didekati secara agresif oleh seorang perempuan dewasa yang cantik, yang ternyata sebenarnya adalah laki-laki.

Dari segi film layar lebar, yang menonjol antara lain:

  • Mahouka no Koukou no Rettousei: Hoshi no Youbu Shoujo yang diproduksi 8-Bit akan hadir. Berlatar di awal tahun ajaran baru, ceritanya berlatar sesudah seri TV-nya, tapi melompati beberapa bab cerita di novelnya yang belum pernah dianimasikan. Kudengar ini nanti akan diputar juga di Indonesia.
  • Sama halnya juga dengan film pertama dari trilogi baru Eureka Seven Hi-Evolution produksi BONES, yang merupakan penceritaan ulang dari seri TV-nya yang paling pertama ditambah bab prekuel baru. Kudengar ini juga kelak akan diputar di Indonesia.
  • Film layar lebar Seitokai Yakuindomo produksi GoHands juga akan ada. Aku ingin tahu seperti apa ceritanya.
  • Film layar lebar Fate/kaleid liner Prisma Illya: Sekka no Chikai juga akan ada. Langsung melanjutkan cerita dari season seri TV-nya yang terakhir, film ini agaknya akan memaparkan bab masa lalu yang mengungkapkan asal usul Miyu. Salah satu versi paling keren dari Emiya Shirou agaknya akan tampil di film ini.
  • Movie ketiga Nanoha, Magical Girl Lyrical Nanoha Reflection, juga akan tayang dengan diproduksi Seven Arcs.
  • Mary and the Witch’s Flower produksi studio Ponac.
  • Anime romansa remaja produksi SHAFT, Uchiage Hanabi, Shita Kara Miru ka? Yoko Kara Miru ka? juga akan keluar. Kalau tak salah, ini modernisasi dari drama TV berjudul sama dari dekade 90an dulu. Ceritanya berlangsung di seputar pelaksanaan suatu acara kembang api. Aku harap suatu saat kelak aku bisa menonton ini.

Sebagai catatan bawah, meski biasanya aku enggak menyebut ini karena ini produksi barat, kudengar adaptasi animasi dari Castlevania milik Konami akan keluar musim ini. Gelagatnya sejauh ini di luar dugaan bagus.

Tambahan, Musekinin Galaxy Tylor akan diproduksi oleh studio Seven. Ini semacam sekuel(?) dari seri komedi luar angkasa The Irresponsible Captain Tylor yang sempat menarik perhatian di tahun 1993, tentang Tylor yang memenangkan berbagai operasi militer semata-mata berkat keberuntungannya. Seri baru ini agaknya berlatar jauh di masa depan, ketika Kekaisaran sudah lama tumbang dan Aliansi Antar Planet telah hancur, dan mengetengahkan seorang keturunannya, saat dia menjumpai seorang gadis yang ternyata adalah penghancur alam semesta. Formatnya kudengar adalah anime pendek.

Tambahan lagi, Enmusubi Youko-chan, tentang roh rubah ahli perjodohan yang mempertemukan kembali para dewa dengan reinkarnasi kekasih-kekasih manusia mereka, juga mulai ditayangkan di Jepang musim ini. Sebenarnya, ini anime produksi Tiongkok yang diadaptasi dari suatu manhwa. Jumlah episodenya sudah lumayan banyak dan seri ini lumayan populer. Terus terang, seri ini adalah kasus langka.

Tambahan lain lagi, kudengar versi TV romansa fantasi Mahoutsukai no Yome juga tayang. Maaf. Ternyata ini untuk musim gugur nanti. Tapi buat yang mau tahu, ini akan melengkapi episode-episode OAD-nya dan membawa kita lebih jauh ke dunia ajaib yang dianimasikan Wit Studio. 

Kalau ada tambahan, akan aku kabar-kabari lagi.

(Sumber dari ANN dan Anime-Now)